Jumat, 25 Januari 2013

[Lyric] IN THE MIDDLE OF CHAOS - the GazettE (Romaji + Indonesian)

Romaji

The little freedom which I know 
All which I should keep 
It maybe lost someday 
Anyone is the same 
I stood in this stage and have noticed it 
Am I who sings there truth? 
It is wrong! I am here

Let's deliver nonfiction 
A song like misfortune pride 
I vomit original pain 
The only means to prove oneself

I have a beloved person and a family 
Nothing is different from you 
Look as one human being 
I have a lot of hateful guys 
Nothing is different from you 
Look as one human being

Honor and position aren't important 
Do you remember it?
It becomes motherfucker

Let's deliver nonfiction 
A song like misfortune pride 
I vomit original pain 
The only means to prove oneself

The little freedom which I know 
The dream which I should keep 
It may be lost someday 
I stood in this stage and have noticed it 
Am I who sings there truth? 
It is wrong! I am here 
No one can be saved with lie

Let's deliver nonfiction 
A song like misfortune pride 
I vomit original pain 
To ascertain each other's wound 
Let's deliver all of me 
A song like misfortune pride In the middle of chaos 
The only means to prove oneself


Indonesian

sedikit kebebasan yang aku tahu
semua yang harus aku jaga
yang mungkin akan hilang suatu hari nanti
semua orang itu sama
aku berdiri di panggung ini dan menyadarinya
apakah aku yang menyanyikan kebenaran disana ?
salah ! aku disini

mari berikan nonfiksi ini
lagu seperti kebanggaan atas ketidak beruntungan
aku memuntahkan rasa nyeri yang asli
satu-satunya arti untuk membuktikan diri

aku mempunyai orang yang aku sayangi dan keluarga
tak berbeda denganmu
terlihat seperti seorang manusia
aku mempunyai banyak orang yang penuh dengan kebencian
tak berbeda denganmu
terlihat seperti seorang manusia
kemuliaan dan posisi tidaklah penting
apakah kau ingat ?
telah menjadi bajingan

mari kita sampaikan nonfiksi ini
lagu seperti kebanggaan atas ketidak beruntungan
aku memuntahkan rasa nyeri yang asli
satu-satunya arti untuk membuktikan diri

sedikit kebebasan yang aku tahu
mimpi yang seharusnya aku jaga
yang mungkin akan hilang suatu hari nanti
aku berdiri di panggung ini dan menyadarinya
apakah aku yang menyanyikan kebenaran disana ?
ini salah ! aku disini
tak ada orang yang akan selamat dengan kebohongan
mari kita sampaikan nonfiksi ini

lagu seperti kebanggaan atas ketidak beruntungan
aku memuntahkan rasa nyeri yang asli
untuk memastikan luka masing-masing
mari berikan semua milikku
lagu seperti kebanggaan atas ketidak beruntungan di tengah kekacauan
satu-satunya arti untuk membuktikan diri

 
credit romaji : metrolyric.com

Selasa, 22 Januari 2013

Senja, Oak, dan Piringan Kenangan




 
Kini hanya suaranya yang semakin melemah yang terdengar. 

Ia masih duduk dengan merangkul kedua lututnya.

Rambut coklatnya menari bersama dengan angin yang berhembus perlahan.

Ia sendirian di padang itu, di padang hijau dengan pohon oak di tengahnya.

Tempat itu, tempat penuh dengan kenangan.

Mungkin pohon oak yang tetap setia berdiri disitu pun tahu bahwa lelaki itu kini sendirian.

Tak ada lagi tawa renyah dari orang yang selalu bersamanya.

Angin menerbangkan beberapa helai daunnya yang menguning.

Mengalunkan kesunyian yang mendalam. Menyanyikan sebuah lagu duka yang tak akan pernah ada obatnya.

Lelaki itu masih berada di dalam dunianya yang kini terasa semakin dingin.

Senandung kebahagiaan yang hampir setiap hari ia mainkan bersama sahabatnya itu kini hanya akan menjadi sebuah kenangan, sebuah piringan hitam masa lalu yang tersimpan dan akan di putarnya bila ia sendiri.

Dan kini ia akan memutar piringan kenangan itu sendiri.

Mendengarkan lagu yang malah membuatnya menangis sejadi-jadinya.

Takdir yang bersalah, ia menyalahkannya.

Kenapa kau pertemukan kami, hingga terjadilah sebuah ikatan yang tak bisa orang putuskan dengan mudahnya.

Hingga, kau putuskan begitu saja, apa yang sebenarnya kau pikirkan.

Suara hatinya menjerit tertahan.

Ia pun berdiri, mengumpulkan setiap atom kekuatannya.

Dihampirinya pohon oak penuh kenangan itu.

Jemari tangan kanannya mencoba meraba sebuah guratan yang bertulisakn R/R di kulit pohon tuanya.

Semakin sakit. Padahal tak ada jarum di situ.

Tapi yang ia rasakan lebih dari itu. Seakan sebuah pedang sedang menari di dalam hatinya.

Menusuk dengan lembutnya sampai tak terasa.

Air matanya masih menetes tak tertahan, ia mencoba tersenyum melihat guratan itu.

Ia meremas dada kirinya. Sakit. Tapi bukan sakit yang sejak 15 tahun yang lalu ia alami karena penyakit jantung itu. Bukan. Melainkan ia tak bisa mencegah satu-satunya sahabat terbaiknya itu dengan rela memberikan jantungnya untuk pemuda itu.

Ia masih belum bisa menerimanya. Dan mungkin ia tak akan pernah bisa.

“Kenapa kau tak membiarkan aku yang mati ??
Aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum meskipun aku hanya bisa melihatnya dari langit.
Aku sudah terlalu banyak membuatnya menangis untukku.
Dan saat itu aku ingin mengganti air matanya dengan tawa, dengan senyumnya setiap hari.”

Masih terisak, matanya telah sembab oleh bulir-bulir bening asin itu.

Seandainya bisa, ingin diputarnya waktu.

Kembali ke jam itu, mencegahnya menggantikan 'peran' yang seharusnya pemuda itu mainkan.

Tapi tentu saja itu menjadi hal yang mustahil.

Garis takdir tangan Tuhan telah terukir dengan sempurna semenjak ia belum di lahirkan di dunia yang semakin membuatnya sesak itu.

Senja membuat sepasang mata hazelnya terbuka perlahan.

Ditatapnya jauh ke garis horizon.

Menyemburatkan warna jingganya, warna kenangannya.....





OWARI



Bandung,
22 Januari 2013.
0:09 WIB





KAZE HIKARI13



source pic : http://ayayawae.files.wordpress.com/2011/11/oak-horizons.jpg

Sabtu, 19 Januari 2013

[Fanfic] THE INVISIBLE FLOWERS

Title                 : The Invisible Flowers

Language          : Indonesia

Author              : Lycoris

Fandom            : the GazettE (Aoi main character), some OC

Rate                 : T

Genre               : tragedy, family

Diclaimers        : only this fanfic is mine

Warning           : OOC, typos, abal, aneh, sedikit tak nyambung m(_ _)m





“Eh ??” lelaki itu masih tertegun.

Di tatapnya dengan canggung seikat bunga daisy berwarna putih  pemberian anak perempuan yang kira-kira berusia 6 tahun itu.

Ia pun tersenyum penuh arti  “Emmm terima kasih ^ ^” katanya sambil berjongkok di depan anak itu untuk menyamakan tingginya.

“Hai” dengan mantap ia mengangguk dan membalas senyumnya.



---------------------------------






1 jam yang lalu



Aku berjalan sendiri tanpa tahu aku akan kemana.
Aku hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah.
Tanpa tujuan. 

Jenuh. Aku merasakan kejenuhan yang sangat mendalam.
Beberapa hari ini aku tak bisa membuat lagu, otakku  mampet, benar-benar mampet.
Sama sekali tak ada inspirasi. Hanya mencoret-coret yang tak jelas.
Kertas demi kertas ku robek, ku buang ke tempat sampah.

Gitar ku pun juga menjadi korban. Sudah tak terhitung berapa kali senarnya putus gara-agara aku yang emosi karena tak bisa menghasilkan apa-apa.

Hampir saja aku banting gitar listrik hitamku ini, mengingat ia telah lebih dari 10 tahun menemaniku kuurungkan niatku tersebut.



Member yang lain pun menanyakan keadaanku setiap kali kami bertemu.
Mereka khawatir kalau aku kenapa-napa. Wajahku pucat, penampilanku pun acak-acakan. Permainanku gitarku pun berantakan.
Dan beberapa malam ini aku tak bisa tidur. Pikiranku melayang-layang tanpa ada ujungnya.

Aku pun bingung sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan.
Selain itu deadline untuk membuat lagu baru tinggal 2 hari lagi.
Dan aku ?? aku belum membuat apa-apa. Sama sekali.
Hanya coret-coretan tak bermakna yang ada.
Sepertinya aku yang sebagai composer bandku sendiri ini sedang dalam masa-masa kosong.

Kosong dalam arti di otaknya sekarang tak ada yang berharga sama sekali, hingga tak menghasilkan apa pun juga.


Dan sekarang, kakiku sudah bebas melangkah meskipun tak tahu akan kemana.

Pagi-pagi aku sudah bersiap-siap, bukan ke studio seperti biasa untuk latihan.
Melainkan menuju halte terdekat, dan naik ke bus yang aku pun tak tahu kemana.

Seperti orang gila memang.
Dan mungkin sekarang ini aku memang bisa disebut orang gila.

Keadaanku yang seperti ini tentu berdampak pada member member yang lain.
Aku yang tiba-tiba menghilang, tentu membuat seribu pertanyaan menggantung di kepala mereka hingga aku memberikan jawaban yang pasti.

Dalam pagi ini saja sudah ada 15 e-mail masuk.

4 dari Kai leader kami, 3 dari Uruha, 3 dari Reita, 2 dari Ruki, dan 4 lainnya dari manager band kami.
Mereka menanyakan aku dimana, dan apakah aku baik-baik saja.
Hari ini aku absen latihan, aku sedang tak ingin berada di studio saat ini. 

Aku tak ingin bertemu dengan gitar-gitarku disana, tak ingin bertemu kertas-kertas nod musik, file mentah lagu, dan lain-lain. Sama sekali tak ingin.

Semalam aku memberi tahu mereka melalui e-mail bahwa hari ini aku absen latihan. Dan aku tak mengatakan alasannya.

Oleh karena itu mereka sedang bingung mencariku sekarang.
Sudah seperti buronan saja, mereka ini tadi juga mendatangi apartemenku, mencari-cariku.
Aku mengetahuinya dari isi e-mail Kai. Dan tentu saja aku sudah pergi.

Aku membalas singkat e-mail dari Kai yang berisikan kalimat yang terlihat cukup khawatir.

“Aku hanya sedang mencari tempat yang tenang, jangan khawatir. Aku akan segera kembali jika aku sudah menemukannya”

Ku kirim e-mail singkat dariku dan tanpa jawaban yang memuaskan hati mereka.
Terkirim.
Ku masukkan kembali iPhone-ku ke saku jaket hitam setelah selesai mengetik.
Aku kembali berjalan dengan santainya.


Mungkin sudah sekitar hampir setengah jam aku berjalan tanpa tujuan yang jelas ini,
aku memang sengaja tidak membawa mobil sport merahku yang biasanya membawaku kemana-mana.

Di tengah keasyikanku melihat-lihat kiri kanan jalan setapak dengan pemandangan hamparan bunga daisy putih, ungu, dan kuning, mataku yang tertutup kaca mata hitam ini tiba-tiba saja tertuju pada seorang anak perempuan yang kira-kira berusia 6 tahun, rambutnya yang panjang di kepang dua sangat serasi dengan pipinya yang chubby itu, seperti Ruki kurasa.

Sekilas aku teringat oleh keponakanku yang ada di Mie.
Sudah hampir 6 bulan aku tak pulang ke kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan itu sebelum aku menetap di Tokyo dan memulai karir sebagai musisi.

Gadis kecil dengan sweeter berwarna putih tulang itu sedang duduk di kursi panjang di pinggir jalan dan di tangannya ku lihat ia membawa beberapa ikat bunga daisy putih yang aku rasa habis ia petik dari taman ini.

Tampak ia sedang mengayun-ayunkan kedua kaki kecilnya itu.
Lucu sekali. Aku tersenyum melihat tingkahnya.


Sejurus kemudian tanpa kusadari ia mengetahui bahwa aku sedang memperhatikannya. Jarak kami sekitar 10 meter.
Aku yang menyadarinya hanya bisa diam di tempat.

Ku lihat dengan wajah lugunya ia turun dari kursi berwarna coklat tua yang terbuat dari kayu itu.
Ia dengan ringan berjalan ke arahku sambil membawa bunga daisy-nya.


Gadis kecil dengan senyumnya itu menatapku, tentu saja dengan mendongakkan wajahnya.


“Aku lihat paman sedang banyak fikiran ya” tanyanya tiba-tiba dan langsung to the point.
Aku yang tak pernah menduga ia berkata seperti itu pun hanya bisa tertegun.

Dalam hatiku “gadis kecil ini padahal baru beberapa detik yang lalu aku melihatnya, dan sekarang dengan benar ia mengatakan bahwa aku sedang banyak fikiran.”

Dengan tetap tersenyum dan tanpa menjawab pertanyaannya aku bertanya “Siapa namamu ?”


“Hanaoka Mizuki” jawabnya mantap sambil tersenyum riang memperlihatkan ke dua lesung pipinya, mirip seperti Kai.


“Umurmu ?” tanyaku lagi


Kulihat ia sedang berusaha menghitung dengan jari-jari tangan kanannya.


“Emmmm 6 tahun” jawabnya polos.


“Kau padahal baru berusia 6 tahun tapi sudah bisa menebak isi hatiku, kau hebat Hana-chan”
Aku memegang puncak kepalanya.

Ia hanya tertawa simpul sambil memperlihatkan gigi-gigi susunya.
Aku pun mengajaknya duduk di bangku terdekat di pinggir jalan setapak itu.


“Aku tahu paman” katanya setelah kami duduk berdua.


“Eh ?? “


“Paman adalah guitarist dari band kesukaan kakak laki-lakiku, the GazettE, iya kan “


“Hei, kenapa kau bisa tahu “ kuusap lagi puncak kepalanya dengan gemas.


“Setiap hari aku mendengarkan lagu-lagu dari band paman, dan itu sangat indah. Meskipun kebanyakan aku tak tahu maksudnya, tapi aku menyukainya. Dan aku sekarag juga mulai menyukainya”
Ia berkata dengan polosnya, dan tetap dengan senyum yang menggemaskan itu.


“Aku senang kau menyukainya Hana-chan.” Ucapku sambil melepas kaca mata hitam yang setia menemaniku.

Kedua matanya cokltanya itu menatapku.


“Tapi kenapa paman terlihat sangat banyak fikiran, dan terlebih lagi paman disini sendirian.” Ia menanyakan hal yang kupikir tak pernah ada di dalam pikiran anak-anak seusianya.


“Soal itu....entahlah sepertinya sekarang paman sedang tak bisa membuat lagu yang indah lagi.” Ekspresiku kembali seperti ketika aku belum bertemu dengan gadis ini.


“kenapa ? apa paman sedang capek ?” cercanya.

“sepertinya begitu” jawabku sambil menatap ke dua mata coklatnya.

“Paman sedang bosan ya. Emmm biasanya aku juga seperti itu, aku bosan karena setiap hari aku hanya berada di dalam rumah saja. Aku tak boleh keluar rumah oleh ibu serta ayahku. Padahal aku ingin seperti anak-anak yang lain, bisa bermain di luar” Ia berkata sambil menggembungkan pipinya.

Aku menjadi tertawa kecil melihatnya.

“yaah mungkin itu juga demi kebaikanmu makanya kau tidak boleh keluar rumah” 

“lalu dimana sekarang ibumu Hana-chan ?” tanyaku

Pandangannya berpaling ke arah kiri, menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang sibuk dengan barang belanjaanya.

“itu ibuku, tadi ia sedang belanja tak jauh dari sini. Dan ia memintaku menunggu disini.”

“lalu karena bosan aku memetik beberapa bunga daisy putih ini” ia berkata sambil menunjukkan bunga yang masih kerabat dengan aster itu kepadaku.

Aku tersenyum kembali melihat tingkah lugunya ini.

Kami mengobrol dengan santai, sudah tak terhitung berapa kali aku tertawa geli melihat ekspresi wajahnya hingga aku melupakan masalah yang sedang aku hadapi saat ini.

Tingkah lucu dan polosnya itu sangat menggemaskan, sepertinya jika aku sudah menikah dan mempunyai anak nanti aku ingin anakku seperti Hana ini.





“Baiklah paman, sepertinya ibuku mengajakku untuk pulang.” Kulihat wanita paruh baya itu melambaikan tangan ke arahnya.


Aku beranjak dari tempat dudukku, dan membantu Hana turun dari kursi yang cukup tinggi untuk anak seusianya.
Ia menatapku lekat-lekat.


“Ini...untuk paman” disodorkannya 3 tangkai bunga daisy putih itu kepadaku.


“Eh ??” aku tak menyangka ia akan memberika bunga itu kepadaku.
Aku masih tertegun.

“Emmm terima kasih Hana-chan” aku berkata sambil berjongkok dan mengelus-elus puncak kepalanya lagi.

“Hai..”ia tersenyum manis.


Ku tatap 3 ikat bunga daisy putih itu.


“Kata ibuku bunga daisy putih ini melambangkan kemurnian, kesucian, dan cinta. Aku harap dengan ini paman bisa menulisakan lagu yang benar-benar murni dan penuh cinta dari hati paman” ucapnya polos.


Aku hanya mengumbar senyumku yang paling tulus untuknya.


“Paman, kalau paman sedang bosan coba saja cari hal yang lain yang bisa melupakannya. Paman bisa melakukan hal lain yang paman sukai. Dan paman juga bisa membuat lagu yang menggambarkan perasaan paman meskipun paman sedang bosan dan jenuh ^ ^” ucapnya tiba-tiba yang membuatku tercengang kembali.

Aku tersenyum kembali. Aku tak pernah menyangka anak sekecil ini telah mengajarkanku hal yang kebanyakan tak terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun.
Hari ini Hana telah memberi dampak yang besar dalam diriku.


“Hana-chan, paman beruntung bisa bertemu dengan anak baik sepertimu hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi ^ ^” aku berkata sebelum ia pergi menuju ibunya yang sudah menunggunya di seberang taman.


“Aku juga senang bisa bertemu paman, orang yang aku kagumi.”

“Selamat tinggal paman, semoga paman cepat bangkit dan membuat lagu yang indah lagi.” Ia berjalan menjauh sambil melambaikan tangan kanannya dan tangan kirinya yang memegang 2 tangkai bunga daisy putih itu.

“Eh ya, tunggu dulu Hana-chan.” Dengan cepat aku menghampirinya.

Ia berhenti.

“ini untukmu, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku untukmu karena sudah menemaniku hari ini dan menjadi penyemanagtku” aku menyodorkan sebuah boneka beruang coklat kecil yang setiap hari memang aku bawa karena ini adalah pemberian dari keponakanku.
Dan pasti dia tak akan keberatan jika aku memberikan pada gadis kecil sebaik Hana.

“untukku ?? terima kasih banyak paman. Aku pasti akan menjaganya dengan baik-baik dan akan selalu akan membawanya kemana pun aku pergi.” Kulihat ia dengan sangat gembira menerimanya. Aku sangat senang.


“tapi mungkin kita tak akan bertemu lagi ^ ^” ia berkata tiba-tiba meskipun dengan senyum di wajahnya tapi aku dapat merasakan kalau ada sesuatu yang menyakitkan di dalam kata-katanya itu.


“eh ??”


Belum sempat aku berkata lagi ia telah menjauh.

“selamat tinggal paman Aoi” ia melambaikan kedua tangannya dan berteriak kencang.

Aku membalas lambaian tangannya dan berteriak juga “selamat tinggal Hana-chan.”


Ia berlari semakin jauh dan menghampiri ibunya.
Dan ibunya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke padaku. Aku membalasnya.

Mereka berdua berjalan menjauh. Kulihat Hana membalikkan badannya dan tersenyum ke arahku. 

Lama kelamaan aku hanya bisa melihat punggung ibu dan anak itu menghilang seiring merenggangnya jarak di antara kami.


Betapa beruntungnya orang-orang yang mengenalnya. Gadis kecil dengan kata-kata lugunya yang mampu mebuatku semangat kembali.
Dan 3 tangkai bunga daisy putih pemberiannya ini menjadi saksinya.
Hanaoka Mizuki.
Nama yang indah, seindah bunga pemberiannya. Akan selalu kuingat nama itu sampai kapanpun.


Yooosssh !!

Aku telah terisi lagi. Inspirasiku tiba-tiba saja menghampiriku kembali.

Hanya gara-gara seorang gadis kecil yang baru saja aku temui disini.
Detik berikutnya aku meraih iPhone hitamnku dari balik saku jaket.
Ku cari nama Kai, Reita, Ruki, dan Uruha.

Ku ketik tiap hurufnya.

“Aku sudah terisi !!! Yoosssh mari berjuang \(^o^)/  !!” ketikku kepada mereka.




---------------------------








3 minggu kemudian


Aoi memenuhi janjinya. 
Ia membuat lagu sesuai isi hatinya saat itu.
Dan lagu yang ia buat pun diterima oleh member yang lain. Sekali lagi kerja kerasnya terbayar sudah,
dan ini semua berkat seorang gadis kecil yang tak sengaja ia temui di pinggir jalan setapak di sebuah taman yang bernama Hanaoka Mizuki.

Setelah bertemu dengannya dan berbicang-bincang sebentar ia seperti menemukan inspirasinya. Gadis kecil itu seakan menjadi malaikat penyelamat untuknya.
Jika bisa ia ingin sekali bertemu dengannya untuk mengucapkan rasa terima kasih. Begitu pula dengan member yang lain.


Setelah kejadian itu mereka merasakan perubahan pada diri Aoi.
Dan ketika mereka bertanya dengan antusias Aoi menceritakan tentang pertemuan singkatnya dengan Hana. Malaikat yang mungkin dengan sengaja Kami-sama kirimkan untuknya.
Oleh karena itu Kai, Ruki, Reita, dan Uruha juga ingin bertemu dengan Hana.

Proses rekaman sudah selesai seming
gu yang lalu.
Shooting untuk PV terbarunya juga baru selesai kemarin.
Tinggal menunggu tanggal di releasenya single terbaru mereka itu.


Dan di booklet yang selalu ada di setiap CD mereka itu tak lupa Aoi menulisakn tentang gadis kecil yang telah membangkitkan semangatnya.


5 hari lagi, single terbaru mereka itu akan di release.

Sebuah live pun juga sudah disiapkan. Hanya terpaut 2 hari setelah perilisannya mereka akan mengadakan live di Shibuya O-EAST.



---------------------------------------------------

Hari perilisan single baru kami pun tiba.
Kami berlima mengadakan pres con mengenai single baru ini.
Kai berkata bahwa lagu ini aku yang menulis dan aku juga yang menjadi composernya. 

Memang itulah pekerjaanku, aku sangat menikmati menjadi seorang composer dari bandku sendiri.


Kami senang dengan sambutan masyarakat, sangat baik. Mereka menerima lagu kami. Dalam 3 hari single kami telah menduduki peringkat ke-2 Oricon Chart.

Seperti mendapatkan angin segar dan semangat yang lebih kami berjanji akan membuat live yang sangat fantastis. 
Karena semuanya sudah bekerja keras untuk hari ini.




Beberapa jam sebelum live di Shibuya O-EAST


Seorang wanita paruh baya mencariku. 
Begitu kata salah seorang staff yang baru saja menelponku.
Wanita itu sangat ingin bertemu denganku. 
Dan ia menyebut Hanaoka Mizuki.

Segera saja setelah mendengar nama yang selalu ingin ku temui wujudnya itu aku dengan terburu-buru menemuinya.
Dan untung saja saat itu aku sudah selesai di make-up tinggal menunggu check sound terakhir saja.


Setengah berlari aku menuju ke sebuah ruangan yang dimana wanita itu menungguku.


Clek

Ku buka pintu ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Entahlah aku merasakan ada sesuatu yang tak beres yang terjadi dengan Hana sehingga ibunya jauh-jauh mencariku di sini.

Aku melangkahkan kaki, segera saja setelah itu wanita itu menatap ke arah pintu.

“Aoi-san” wajah itu, wanita itu adalah ibu dari Hana.
Ia terlihat sangat gugup dan wajahnya menyiratkan ketakutan yang luar biasa.

“Mizuki-san” aku menundukkan kepalaku

Ia segera berdiri menghampiriku.

“Maaf aku menganggu Aoi-san yang sedang sibuk sekarang” 

“Tak apa Mizuki-san. Ada apa ? apa yang membuat Anda kemari ?“ aku menyelidik, aku sangat khawatir sekarang.

“Hana, ini menyangkut Hana” dengan wajah yang sendu dan nada yang berat ia mengatakannya.
Sudah kuduga, ini pasti menyangkut Hana. Tak mungkin ia datang jauh-jauh kalauntak terjadi sesuatu pada anaknya itu.

“Ada apa dengan Hana ?? ia baik-baik saja kan ? “

Kulihat ia meremas tasnya.

“Tidak Aoi-san Hana tidak sedang baik-baik saja.” Ia tertunduk dari suaranya terlihat jelas ia menangis.

Aku yang merasa ada yang tak beres ini semakin khawatir di buatnya.

“Hana kenapa Mizuki-san ? kenapa dia ?” aku yang semakin penasaran ini mendekati ibu Hana.


“Aku tak bisa memberi tahu disini Aoi-san. Dan meskipun ini terdengar memaksa, tolong ikut aku sekarang. Hana tak jauh dari sini dan ia sangat membutuhkanmu sekarang” ia memandangku dengan tatapan memohon.
 
Dan tak mungkin aku tak akan menolaknya.
Dengan anggukan kecil aku mengiyakan.


Segera setelahnya aku yang semakin di buat penasaran ini berlari menuju ruangan make-up untuk mengambil tasku yang ada kunci mobiku di dalamnya.


Reita, Ruki, Kai, dan Uruha yang sedang duduk-dudk di sofa itu pun menatapku dengan heran.

“Aoi, ada apa ? kenapa kau terburu-buru ?” Reita bertanya.

Dengan sangat terburu-buru aku menjawabnya sambil mencari-cari kunci mobilku di dalam tas berwarna coklat tua milikku.

“Ibunya Hana kemari dan ia memberi tahuku bahwa terjadi sesuatu kepada Hana. Dan sekarang aku harus ikut dengannya.”

Tanganku mencari-cari kunci dan belum menemukannya.

“Ck, sial dimana sih kunci mobilku !” aku mengaduk-ngaduk semua tas yang aku bawa dan tak lupa di baju yang aku pakai tadi.

“Tenang Aoi, tenang. Ceritakan dengan pelan-pelan.” Kai menasehatiku sambil membantuku mencari kunciku itu.

“Aku tak bisa tenang sekarang, perasaanku tak enak, ada sesuatu yang sedang terjadi padanya sekarang !! “ aku sedikit membentak.

“Kau tak akan mendapatkan apa-apa kalau kau tak tenang seperti itu.” Ruki menimpali pembicaraanku.



“Ini..” Uruha melemparkan kunci dengan gantungan berbentuk gelas bir itu kepadaku.
Dengan sigap aku menangkapnya.

“Terima kasih Uru..” segera setelah mendaptkannya aku bergegas ke luar.

“Hei, tunggu. “ Kai mencegahku.

“Ada apa lagi Kai ? waktuku tak banyak “

“Jika kau pergi maka kami juga akan ikut. Lagi pula kami khawatir padamu. Live akan dimulai dalam 3 jam lagi. Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana kami bisa menjelaskan kepada semuanya.” 

Kai berkata sambil menghampiriku dan memakai jaket hitam yang menjadi Goods kami kali ini.

“Benar, kita semua akan ikut” Reita beranjak dari sofa diikuti Ruki dan Uruha.

“Kalian..terima kasih” aku tersenyum kepada mereka.

Mereka sangat perhatian dan peduli kepadamu. Oleh karena hal inilah aku sangat betah berada di band ini.

“Yooosh ayoo kita berangkat !!”Uruha menepuk bahuku.

“Eh tunggu dulu, aku akan berkata kepada Jin-san kalau kita akan keluar sebentar.” Kai berlari menuju ruangan para staff.

“Baiklah Kai, kami akan menunggumu. Dan usahakan cepat” aku berkata setengah berteriak karena Kai sudah meluncur menuju ruangan para staff yang berada tak jauh dari ruangan kami sekarang.


Perasaanku tak bisa tenang, aku sangat khawatir dengan apa yang sedang terjadi kepada Hana.
Tak lama leader kami itu kembali.


“Kita diijinkan keluar, tapi dengan syarat maksimal setengah jam sebelum live dimulai kita harus kembali” ucapan Kai melegakanku.

“Baiklah, ayoo”
Aku memimpin berjalan di depan. Setengah berlari lebih tepatnya.

Dan kami pun telah sampai di parkiran dimana mobilku berada.
Aku menghampiri Mizuki-san, ibu dari Hana.

“maaf membuat Anda menunggu Mizuki-san”

“Tak apa Aoi-san. Tapi kenapa yang lain ada disini ? apakah mereka akan ikut ?” ia bertanya sambil memandang heran ke arah keempat kawanku ini.

Dan yang ditanyakan pun hanya tersenyum.

“Kami tak bisa membiarkan si gurame ini pergi sendirian Mizuki-san” Kai menjawab pertanyaan ibunya Hana.

Belum sempat  wanita paruh baya ini berkata, aku sudah masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin.

“Mari Mizuki-san, kita temui Hana” aku mengajak Mizuki-san masuk diikuti oleh member lain yang berdesakan duduk di belakang.
 
“Hai...” ia pun duduk di sampingku.



Aku pun mulai menjalankan mobil merahku ini.



Perjalanan menuju tempat Hana terasa sangat jauh bagiku.
Isi perutku seakan mau keluar karena perasaan khawatir yang mendalam ini.


Mizuki-san menunjukkan arah-arahnya. Dan aku yang semakin tak sabar menemui Hana mengemudi dengan cepat.






Sekitar 10 menit kami telah sampai.




Kami pun sampai, tapi...





Sebuah rumah sakit ? tempat yang tak pernah aku duga, aku bertanya – tanya dalam hati.
Mungkinkah Hana disini ? tapi kenapa ?

“Aoi-san kau akan mengetahuinya sebentar lagi.” Mizuki-san memanduku memasuki rumah sakit dengan wajah yang semakin khawatir.

Tentu saja orang-orang yang ada disitu menatap heran kami.
Kami yang memang sudah memakai make-up ini menjadi perhatian mereka.
Kami tak peduli yang jelas aku ingin segera menemui malaikat penyelamatku itu.


Setiap langkah kakiku terasa semakin berat. Masih dengan ribuan pertanyaan berputar-putar di atas kepalaku dan ingin segera mendapatkan jawaban.



ICU

Kubaca tulisan yang tertampang di atas.

“sudah sampai, Hana disini” Mizuki-san berkata dan ia membuka pintu yang tertutup itu.
Sama sekali tak pernah aku duga, ICU ??


Hana apa yang sebenarnya terjadi padamu ?


Belum sempat aku menanyakannya, kedua mataku langsung tertuju pada seorang gadis kecil yang sangat familiar di memoriku sedang tergeletak tak berdaya dengan selang infus dan tabung oksigen di dalamnya.


“Hana-chan.....” pekikku pelan.

Tenggorokanku seakan tercekik, mataku membulat dan tak tahu apa yang harus aku katakan.
Jantungku berdegub dengan cepatnya.
Kedua kakiku seakan tak mau di gerakkan. Aku membeku melihat pemandangan di depanku ini.


Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ??
1 bulan yang lalu aku bertemu dengannya.

Masih terngiang jelas wajahnya yang ceria beserta senyum yang tak pernah lepas dari bibir simpulnya itu.



“Hana menderita pembekuan pada kelenjar otaknya. Selama 3 tahun ini ia bergulat dengan penyakit ini. “ Mizuki-san berkata dengan air mata yang mulai menetes.


“Ia selalu kesakitan bila tiba-tiba penyakitnya ini kambuh. Aku telah berusaha mati-matian untuk menyembuhkannya. “
Ia berenti berkata-kata.


Aku masih tercengang. Dengan langkah berat aku berusaha mendekatinya.

Kulihat bunga daisy putih dengan anggun berada di dalam vase di samping tempat tidurnya.

“Hana-chan....” aku berkata lirih di sampingnya, menggenggam tangan kanannya dengan kedua tanganku.

Air mataku jatuh tak bisa kutahan. Dan kekhawatiranku terjawab sudah.

Tapi kenapa ? 


“Berkali-kali ia menjalani pengobatan. Dan hal itu tak membuahkan hasil. Hana harus bergulat dengan penyakitnya ini selama 3 tahun terakhir. Aku merasa telah gagal menjadi orang tua” Mizuki-san terisak.

Kai yang berada di sampingnya merangkul bahu wanita dengan rambut yang diikat kebelakang itu.
Kai mencoba menenangkannya.


“Tak pernah ada orang yang gagal menjadi orang tua. Meskipun kita tak tahu apa yang akan terjadi pada anak kita kelak, yang jelas kita sudah memberikan yang terbaik untukya. Kita telah berusaha dengan keras.” Ku dengar Kai mengucapkan kata-kata yang ditunjukkan oleh Mizuki-san.


“Hana sangat mengidolakanmu Aoi-san. Ia selalu berharap ingin bertemu denganmu suatu saat nanti sebelum ia meninggal.”


Aku masih menggenggam erat tangan kecil itu.


“Karena ia tahu kalau umurnya tak akan lama lagi, setiap hari ia berkata padaku kalau ia harus bertemu denganmu. Dan ketika ia selalu membicarakannya aku sebagai ibunya ini harus berusaha apa pun caranya untuk bisa mempertemukan Hana denganmu”


“Hingga suatu hari ketika aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan sebentar di taman dekat rumah, aku melihat Hana berbicara dengan sesorang. Dan aku menyadari bahwa seseorang itu adalah orang yang sangat Hana idolakan. Yaah itu kau Aoi-san. 1 bulan yang lalu.”
Mizuki-san mulai bisa mengatur nada perasaannya.


“Aku sangat bahagia, doa Hana di jawab oleh Kami-sama. Aku sangat bersyukur saat itu.”


Mungkin memang sudah Kami-sama gariskan bahwa aku akan bertemu dengan Hana.
Kejenuhanku beberapa waktu itu, aku yang pergi tanpa memberi tahu yang lain, aku yang tak tahu akan kemana itu adalah cara agar aku bisa bertemu dengan Hana.


“....”


“Setelah bertemu denganmu itu ia menceritakan semuanya. Ia tak bisa berhenti mengoceh, aku sangat senang melihat wajah bahagianya setelah ia bertemu denganmu hari itu. Bahkan boneka yang kau berikan selalu ia bawa kemana pun ia pergi”


Aku melihat di tangan kirinya, boneka itu ia pegang. Aku semakin dibuatnya menangis.


“Sampai-sampai ia berkata jika pada hari itu juga setelah ia bertemu dengan idolanya , Kami-sama memanggilnya ia telah siap. Keinginannya telah terpenuhi.”
Mizuki-san menangis kembali.


Aku yang tak bisa berkata-kata ini lagi hanya bisa terus menatap lekat-lekat wajah pucatnya itu.


“Dia....anak yang baik, kau sangat beruntung menjadi ibunya Mizuki-san.”

“Sebelum bertemu dengannya hari itu aku merasa seperti orang gila, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tak bertemu dengannya saat itu. Mungkin hari ini tak akan datang jika aku tak bertemu dengan Hana-chan.”


“Lagu kami yang baru pun itu semua berkat Aoi yang bertemu dengan Hana-chan.” Ku dengar Reita berbicara.

“Kami sangat berterima kasih pada Hana-chan” Ruki pun menambahi perkataan Reita.


Tapi aku tak pernah ingin bertemu dengannya untuk yang kedua kali dengan keadaannya yang seperti ini.
Aku ingin memberi tahunya secara langsung bahwa ini semua berkatnya.


Dan apa yang aku dapati sekarang sangat kontras dengan apa yang aku harapkan.





Kami terdiam.




Hingga,

Kurasakan tangan kanannya bergerak.
Aku kaget dan ku tatap kedua matanya yang bergerak-gerak ingin membuka.

“Hana-chan..” kulihat ia membuka matanya dengan perlahan.
Gadis kecil itu melirik ke arahku.


“Paman Aoi...” dengan berat ia mengatakan namaku.

“Iya Hana-chan, aku disini” aku mencoba tersenyum.

Kulihat ia juga mencoba untuk tersenyum.
Ia mengamati sekelilingnya. Dan matanya tertuju pada ibunya juga keempat temanku.


“Mereka....” ia berkata dengan lirih.

“Mereka disini juga Hana-chan, untuk menemuimu...” 

Aku menatap keempat kawanku itu, kulihat mereka tersenyum pahit.


“Kami disini untukmu Hana-chan, kami ingin berterima kasih kepadamu...” Uruha yang dari tadi diam berkata dengan senyum yang ia paksakan.
Matanya berkaca-kaca.


“Kau tahu, lagu baru kami, itu semua berkatmu. Itu lagu untukmu....” aku menatapnya lekat-lekat.

“Eh ?? Hontou ni ??”

Aku hanya mengangguk pelan. 

Lagu ini memang menceritakan tentang perasaan yang tak tahu akan kemana, mengambang. Hingga pada akhirnya ia menemukan seseorang yang memberinya kekuatan untuk bangkit.

Persis seperti yang Aoi alami saat itu. Dan seseorang itu adalah gadis kecil yang sekarang dengan tergeletak tak berdaya di depannya.


“Akhirnya paman Aoi bisa membuat lagu yang indah. Dan aku juga sudah mendengarkannya.” ia mencoba tersenyum.

“5 hari yang lalu kakak laki-lakiku mendapatkan CD itu dan mengajakku untuk mendengarkan bersama”

“Dan sekarang ia pasti akan cemburu aku bisa melihat semua idolanya disini bersamaku...” 

Aku yang mendengarkan celotehnya hanya bisa semakin dibuat mengeluarkan air mata.


“Kau anak yang hebat Hana-chan” kuelus puncak kepalanya seperti waktu itu.


“Aku....ingin berpamitan” 


Deg.

Seperti ada ribuan silet mengiris-ngiris hatiku.


“Aku bahagia bisa bertemu dengan paman Aoi dan paman-paman the GazettE yang lain...”
Ia tetap tersenyum, hatiku semakin pilu melihatnya.


"...."



“Mama...aku mencintaimu...”


Setelah berkata seperti itu aku merasakan tangannya melemah.

Matanya terpejam.

Tak ada denyut nadi yang kurasakan.



Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt





Hana,

ia telah pergi dengan senyuman yang tetap mengembang.
Gadis kecil yang memberikanku hal yang tak terduga itu telah pergi selamanya.

Kami semakin larut dalam kesedihan, tak bisa kuberhentikan air mata ini.
Aku terisak, dadaku nyeri sekali.
Ia benar-benar telah meninggalkanku dan semuanya.
Kami semua yang berada di ruangan itu terisak perlahan.


Aku melepasakan genggaman tanganku.


Dokter dan perawat yang baru saja memasuki ruangan itu pun berberi tahu kalau Hana sudah benat-benar pergi sekarang.

Kenyataan yang memang menyakitkan. Tapi dengan ini ia tak kan kesakitan lagi.


Perawat itu melepaskan semua selang yang masih ada di tubuh Hana.


Dan setelahnya dengan berat hati aku meraih kedua tangan kecilnya.
Meletakkan di depan dadanya. Beruang coklat itu dengan setia menemaninya.


Ku tutup dengan perlahan raganya yang telah ditinggal oleh rohnya dengan selimut putih. 
Hingga ia tak terlihat lagi.



Kau gadis yang hebat Hana, semoga di sana kau bahagia dan yang terpenting kau tak ada kesakitan lagi sekarang.



Selamat tinggal.






Segera setelahnya, kami yang masih dirundung duka berpamitan kepada Mizuki-san.
Ada sebuah live yang telah menunggu kami.
Dan kami berjanji akan menghadiri pemakaman malaikat penyelamatku ini.


Aku yang masih terguncang hanya bisa duduk diam disebelah kursi kemudi.
Kai yang menyetir.
Suasana menjadi leggang di dalam mobilku.
Tak ada yang berani memulai perkataan.
Aku masih belum bisa menata hatiku.

“Karena lagu kita itu untuk Hana, mari kita membawakannya dengan sempurna. Jangan membuat dia kecewa Aoi.”
Kai menatapku disertai senyuman yang terpatri di wajahnya.
Ia memang selalu bisa membuat kami semangat lagi.


“Kita akan membuatnya bahagia Aoi. Jadi tak ada alasan untuk kita tak maksimal hari ini. Ini semua demi Hana yang telah tenang di surga.” Ucap Ruki yang duduk tepat di belakangku itu sambil memegang bahuku.

Benar, aku harus bangkit. Karena ini untuk Hana. Aku tak ingin mengecewakannya.

“Em ! kalian benar, mari kita lakukan yang terbaik”
Tanganku menjulur kebelakang, diikuti Ruki, Uruha, Reita, dan Kai yang sedang menyetir.


Yooossh !!!




Tepat setengah jam sebelum live di mulai kami sampai.
Langsung saja kami berganti pakaian dan membetulkan make-up kami.


“Baik, 5 menit lagi” teriak salah seorang staff di depan pintu.


“Baik mari kita lakukan !!” ku dengar Reita berteriak memberikan kami semangat.


Kami berlima berjalan dari lorong ruang make-up menuju back stage.

Tak pernah lupa sebelum perform kami selalu saling merangkul.

“Gazetto ee !!“ teriak kami.


Satu persatu dari kami memasuki stage.


Dimulai dari Kai, Uruha, Reita, aku dan Ruki.


Live di mulai. Kulihat kursi-kursi terisi penuh.




Kami benar-benar berusaha memberikan yang terbaik.


Hingga lagu terbaru kami yang sengaja aku tunjukkan kepada Hana akan kami bawakan.

Ruki memberikan micnya kepadaku.

Aku pun kaget, dan ia berkata “karena ini adalah lagu yang berasal dari hati yang terdalam dari Aoi-san, maka aku ingin ia yang berbicara”


Suara teriakan penonton pun bergema di seluruh ruangan.


“Etto...aku ingin menceritakan sedikit tentang lagu ini.”
Aku mulai berbicara dengan hati-hati.

Penonton terdiam memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutku.


“Lagu ini sebenarnya untuk seorang gadis kecil yang berusia 6 tahun yang secara tak sengaja aku temui.”

“Emm jujur saja saat itu aku memang sengaja tak latihan dan kabur dari rumah, dan member yang lain mencari-cariku” aku tertawa di kalimatku yang terakhir ini.

Para penonton pun ikut tertawa. Sedangkan member yang lain hanya tersenyum.


Setelah itu mereka diam kembali, kulanjutkan perkataanku.


“Waktu itu aku melihatnya sedang duduk dan membawa beberapa ikat bunga daisy putih”
Sepertinya penonton yang berada di sini akhirnya mengerti kenapa di PV terbaru kami terdapat bunga daisy.


Di PV itu memang ada bagian yang memperlihatkan aku dan member yang lain melihat bunga daisy putih dan memungutnya.


“Aku mengobrol ringan dengannya, memang usianya baru 6 tahun,dan pertemuan yang singkat, tapi gadis kecil itu telah memberiku dampak yang besar. emmm..."


“oleh karena itu aku sengaja menuliskan lagu ini untuknya” aku dengan senyum terus menceritakan pertemuanku dengan Hana.


"............"


“Dan sekarang, malaikat penyelematku itu sudah tak bisa ku temui lagi. Ia telah pergi hari ini, pergi untuk selamanya karena suatu penyakit....” Tak sengaja aku meneteskan air mata lagi. Aku mengusapkan dengan punggung tanganku.


Ku lihat beberapa penonton kaget dan meneteskan air mata.


“Aku sangat berterima kasih padanya, dan jika kalian menyukai lagu kami ini berarti kalian juga berterima kasih padanya...” aku mengangguk perlahan.


Aku sudah selesai bicara.


Ruki yang berada di sampingku menepuk pundakku.

Ia yang beralih berbicara sekarang “Untuk kalian yang tetap setia mendukung kami sampai sekarang dan untuk gadis kecil yang telah menjadi inspirasi kami...” 



Musik dimulai,


Ruki menyanyikannya. 



Penonton dengan serius menyimak setiap lirik dan musik yang kami bawakan.




Hana, ini untukmu....



------------------------------



Segera setelah live, mereka berlima tanpa beristirat segera mengemudikan mobil hitam milik Reita menuju pemakaman Hana.

Pagi itu mereka semua melihat jasad Hana untuk yang terakhir kali sebelum ia dikremasi.
Ia memakai kimono putih bersih.

Serangkaian upacara pemakaman telah di lakukan.

Aoi tak kuasa menahan air mata saat guci abu Hana akan di tanam di dalam tanah untuk selamanya.


Hana, gadis kecil yang telah memberikan dampak yang besar dalam diri Aoi itu sudah pergi untuk selamanya.

Bunga daisy putih yang berada di sebelahnya makamnya itu bergerak-gerak seiring dengan angin yang berhembus.

Seakan ia bisa melihatnya, kelopaknya yang putih itu satu persatu jatuh dan tertiup angin yang berhembus perlahan.


Hana. Sebuah nama yang berarti bunga. 

Ia pergi bersama dengan kelopak putih bunga daisy yang telah terbang entah kemana.

Semua kenangan indah dengannya tak akan pernah terlupa.

Bunga daisy putih ini menjadi saksinya.

Dan Hana ia telah tenang sekarang, tidur dengan damai bersama-Nya.



















"Eh ?? "
Aoi mendapati seikat bunga daisy putih di samping tempat tidurnya pagi itu.


"Ini....."


Ini pasti darimu kan, Hana......






OWARI

Bandung, 19 Januari 2013




*Fanfic one shot spesial untuk ulang tahun Shiroyama Yuu a.k.a AOI yang ke-34 tahun yang jatuh tepat hari ini jam 22.00 WIB ^w^
Makin tua kau Om, tapi goyanganmu di panggung juga makin gila XDD

Padahal baru kepikiran tema fanficnya kemarin. Dan entah mengapa dari kemarin fanfic yang aku tulis berkaitan dengan bunga  f( ̄ー ̄ )

Hana:bunga. 
Sebenarnya Hana itu juga nama adik perempuan saya, dan memang sengaja di beri nama yang artinya “bunga” (kagak ada yang nanya). 

Makanya karakter pendukungnya di sini dinamain HANA.

Soal bunga daisy, tak sengaja googling tentang arti bunga dan warnanya. Dan ternyata bunga daisy itu indah banget maknanya apalagi yang putih. Dan jadi deh nyelipin bunga daisy.
Teruuuus soal single baru, karena gak menemukan lagu punya the GazettE yang sesuai dengan yang saya pikirkan, jadilah ngarang dengan bebas (hahahaha)

Baiklah terima kasih banyak buat yang sudah menyempatkan membaca fanfic abal dari saya ini ^ ^"
Komentar sangat diharapkan (kalau bisa)


Akhir kata 

OTANJOUBI OMEDETOU AOI~~
Semoga dengan bertambahnya umurmu, kau semakin produktif menciptakan lagu
Semakin sukses, dan terus menjadi guitarist yang hebat sepanjang masa
Cepat nikah, punya anak, jadi Ayah yang ROCK bangetヾ(^∇^)

Dan kami dengan setia menunggu kau beserta Kai, Ruki, Uruha, dan Reita datang ke Indonesia (doa para SIXTH GUNS se-Indonesia)




KAZE HIKARI13






About