Title : The Invisible Flowers
Language : Indonesia
Author : Lycoris
Fandom : the GazettE (Aoi main character), some OC
Rate : T
Genre : tragedy, family
Diclaimers : only this fanfic is mine
Warning : OOC, typos, abal, aneh, sedikit tak nyambung m(_ _)m
“Eh ??” lelaki itu masih tertegun.
Di tatapnya dengan canggung seikat bunga daisy berwarna
putih pemberian anak perempuan yang
kira-kira berusia 6 tahun itu.
Ia pun tersenyum penuh arti
“Emmm terima kasih ^ ^” katanya sambil berjongkok di depan anak itu
untuk menyamakan tingginya.
“Hai” dengan mantap ia mengangguk dan membalas senyumnya.
---------------------------------
1 jam yang lalu
Aku berjalan sendiri tanpa tahu aku akan kemana.
Aku hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah.
Tanpa tujuan.
Jenuh. Aku merasakan kejenuhan yang sangat mendalam.
Beberapa hari ini aku tak bisa membuat lagu, otakku mampet, benar-benar mampet.
Sama sekali tak ada inspirasi. Hanya mencoret-coret yang tak
jelas.
Kertas demi kertas ku robek, ku buang ke tempat sampah.
Gitar ku pun juga menjadi korban. Sudah tak terhitung berapa
kali senarnya putus gara-agara aku yang emosi karena tak bisa menghasilkan
apa-apa.
Hampir saja aku banting gitar listrik hitamku ini, mengingat
ia telah lebih dari 10 tahun menemaniku kuurungkan niatku tersebut.
Member yang lain pun menanyakan keadaanku setiap kali kami
bertemu.
Mereka khawatir kalau aku kenapa-napa. Wajahku pucat,
penampilanku pun acak-acakan. Permainanku gitarku pun berantakan.
Dan beberapa malam ini aku tak bisa tidur. Pikiranku
melayang-layang tanpa ada ujungnya.
Aku pun bingung sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan.
Selain itu deadline untuk membuat lagu baru tinggal 2 hari
lagi.
Dan aku ?? aku belum membuat apa-apa. Sama sekali.
Hanya coret-coretan tak bermakna yang ada.
Sepertinya aku yang sebagai composer bandku sendiri ini
sedang dalam masa-masa kosong.
Kosong dalam arti di otaknya sekarang tak ada yang berharga
sama sekali, hingga tak menghasilkan apa pun juga.
Dan sekarang, kakiku sudah bebas melangkah meskipun tak tahu
akan kemana.
Pagi-pagi aku sudah bersiap-siap, bukan ke studio seperti
biasa untuk latihan.
Melainkan menuju halte terdekat, dan naik ke bus yang aku
pun tak tahu kemana.
Seperti orang gila memang.
Dan mungkin sekarang ini aku memang bisa disebut orang gila.
Keadaanku yang seperti ini tentu berdampak pada member
member yang lain.
Aku yang tiba-tiba menghilang, tentu membuat seribu
pertanyaan menggantung di kepala mereka hingga aku memberikan jawaban yang
pasti.
Dalam pagi ini saja sudah ada 15 e-mail masuk.
4 dari Kai leader kami, 3 dari Uruha, 3 dari Reita, 2 dari
Ruki, dan 4 lainnya dari manager band kami.
Mereka menanyakan aku dimana, dan apakah aku baik-baik saja.
Hari ini aku absen latihan, aku sedang tak ingin berada di
studio saat ini.
Aku tak ingin bertemu dengan gitar-gitarku disana, tak ingin
bertemu kertas-kertas nod musik, file mentah lagu, dan lain-lain. Sama sekali
tak ingin.
Semalam aku memberi tahu mereka melalui e-mail bahwa hari
ini aku absen latihan. Dan aku tak mengatakan alasannya.
Oleh karena itu mereka sedang bingung mencariku sekarang.
Sudah seperti buronan saja, mereka ini tadi juga mendatangi
apartemenku, mencari-cariku.
Aku mengetahuinya dari isi e-mail Kai. Dan tentu saja aku
sudah pergi.
Aku membalas singkat e-mail dari Kai yang berisikan kalimat
yang terlihat cukup khawatir.
“Aku hanya sedang mencari tempat yang tenang, jangan
khawatir. Aku akan segera kembali jika aku sudah menemukannya”
Ku kirim e-mail singkat dariku dan tanpa jawaban yang
memuaskan hati mereka.
Terkirim.
Ku masukkan kembali iPhone-ku ke saku jaket hitam setelah
selesai mengetik.
Aku kembali berjalan dengan santainya.
Mungkin sudah sekitar hampir setengah jam aku berjalan tanpa
tujuan yang jelas ini,
aku memang sengaja tidak membawa mobil sport merahku yang
biasanya membawaku kemana-mana.
Di tengah keasyikanku melihat-lihat kiri kanan jalan setapak
dengan pemandangan hamparan bunga daisy putih, ungu, dan kuning, mataku yang
tertutup kaca mata hitam ini tiba-tiba saja tertuju pada seorang anak perempuan
yang kira-kira berusia 6 tahun, rambutnya yang panjang di kepang dua sangat
serasi dengan pipinya yang chubby itu, seperti Ruki kurasa.
Sekilas aku teringat oleh keponakanku yang ada di Mie.
Sudah hampir 6 bulan aku tak pulang ke kota dimana aku
dilahirkan dan dibesarkan itu sebelum aku menetap di Tokyo dan memulai karir
sebagai musisi.
Gadis kecil dengan sweeter berwarna putih tulang itu sedang duduk
di kursi panjang di pinggir jalan dan di tangannya ku lihat ia membawa beberapa
ikat bunga daisy putih yang aku rasa habis ia petik dari taman ini.
Tampak ia sedang mengayun-ayunkan kedua kaki kecilnya itu.
Lucu sekali. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
Sejurus kemudian tanpa kusadari ia mengetahui bahwa aku
sedang memperhatikannya. Jarak kami sekitar 10 meter.
Aku yang menyadarinya hanya bisa diam di tempat.
Ku lihat dengan wajah lugunya ia turun dari kursi berwarna
coklat tua yang terbuat dari kayu itu.
Ia dengan ringan berjalan ke arahku sambil membawa bunga
daisy-nya.
Gadis kecil dengan senyumnya itu menatapku, tentu saja
dengan mendongakkan wajahnya.
“Aku lihat paman sedang banyak fikiran ya” tanyanya
tiba-tiba dan langsung to the point.
Aku yang tak pernah menduga ia berkata seperti itu pun hanya
bisa tertegun.
Dalam hatiku “gadis kecil ini padahal baru beberapa detik
yang lalu aku melihatnya, dan sekarang dengan benar ia mengatakan bahwa aku
sedang banyak fikiran.”
Dengan tetap tersenyum dan tanpa menjawab pertanyaannya aku
bertanya “Siapa namamu ?”
“Hanaoka Mizuki” jawabnya mantap sambil tersenyum riang
memperlihatkan ke dua lesung pipinya, mirip seperti Kai.
“Umurmu ?” tanyaku lagi
Kulihat ia sedang berusaha menghitung dengan jari-jari
tangan kanannya.
“Emmmm 6 tahun” jawabnya polos.
“Kau padahal baru berusia 6 tahun tapi sudah bisa menebak
isi hatiku, kau hebat Hana-chan”
Aku memegang puncak kepalanya.
Ia hanya tertawa simpul sambil memperlihatkan gigi-gigi
susunya.
Aku pun mengajaknya duduk di bangku terdekat di pinggir
jalan setapak itu.
“Aku tahu paman” katanya setelah kami duduk berdua.
“Eh ?? “
“Paman adalah guitarist dari band kesukaan kakak
laki-lakiku, the GazettE, iya kan “
“Hei, kenapa kau bisa tahu “ kuusap lagi puncak kepalanya
dengan gemas.
“Setiap hari aku mendengarkan lagu-lagu dari band paman, dan
itu sangat indah. Meskipun kebanyakan aku tak tahu maksudnya, tapi aku
menyukainya. Dan aku sekarag juga mulai menyukainya”
Ia berkata dengan polosnya, dan tetap dengan senyum yang
menggemaskan itu.
“Aku senang kau menyukainya Hana-chan.” Ucapku sambil
melepas kaca mata hitam yang setia menemaniku.
Kedua matanya cokltanya itu menatapku.
“Tapi kenapa paman terlihat sangat banyak fikiran, dan
terlebih lagi paman disini sendirian.” Ia menanyakan hal yang kupikir tak
pernah ada di dalam pikiran anak-anak seusianya.
“Soal itu....entahlah sepertinya sekarang paman sedang tak
bisa membuat lagu yang indah lagi.” Ekspresiku kembali seperti ketika aku belum
bertemu dengan gadis ini.
“kenapa ? apa paman sedang capek ?” cercanya.
“sepertinya begitu” jawabku sambil
menatap ke dua mata coklatnya.
“Paman sedang bosan ya. Emmm biasanya aku juga seperti itu,
aku bosan karena setiap hari aku hanya berada di dalam rumah saja. Aku tak
boleh keluar rumah oleh ibu serta ayahku. Padahal aku ingin seperti anak-anak
yang lain, bisa bermain di luar” Ia berkata sambil menggembungkan pipinya.
Aku menjadi tertawa kecil melihatnya.
“yaah mungkin itu juga demi kebaikanmu makanya kau tidak
boleh keluar rumah”
“lalu dimana sekarang ibumu Hana-chan ?” tanyaku
Pandangannya berpaling ke arah kiri, menatap seorang wanita
paruh baya yang terlihat sedang sibuk dengan barang belanjaanya.
“itu ibuku, tadi ia sedang belanja tak jauh dari sini. Dan
ia memintaku menunggu disini.”
“lalu karena bosan aku memetik beberapa bunga daisy putih
ini” ia berkata sambil menunjukkan bunga yang masih kerabat dengan aster itu
kepadaku.
Aku tersenyum kembali melihat tingkah lugunya ini.
Kami mengobrol dengan santai, sudah tak terhitung berapa
kali aku tertawa geli melihat ekspresi wajahnya hingga aku melupakan masalah
yang sedang aku hadapi saat ini.
Tingkah lucu dan polosnya itu sangat menggemaskan,
sepertinya jika aku sudah menikah dan mempunyai anak nanti aku ingin anakku
seperti Hana ini.
“Baiklah paman, sepertinya ibuku mengajakku untuk pulang.”
Kulihat wanita paruh baya itu melambaikan tangan ke arahnya.
Aku beranjak dari tempat dudukku, dan membantu Hana turun
dari kursi yang cukup tinggi untuk anak seusianya.
Ia menatapku lekat-lekat.
“Ini...untuk paman” disodorkannya 3 tangkai bunga daisy
putih itu kepadaku.
“Eh ??” aku tak menyangka ia akan memberika bunga itu
kepadaku.
Aku masih tertegun.
“Emmm terima kasih Hana-chan” aku berkata sambil berjongkok
dan mengelus-elus puncak kepalanya lagi.
“Hai..”ia tersenyum manis.
Ku tatap 3 ikat bunga daisy putih itu.
“Kata ibuku bunga daisy putih ini melambangkan kemurnian,
kesucian, dan cinta. Aku harap dengan ini paman bisa menulisakan lagu yang
benar-benar murni dan penuh cinta dari hati paman” ucapnya polos.
Aku hanya mengumbar senyumku yang paling tulus untuknya.
“Paman, kalau paman sedang bosan coba saja cari hal yang
lain yang bisa melupakannya. Paman bisa melakukan hal lain yang paman sukai.
Dan paman juga bisa membuat lagu yang menggambarkan perasaan paman meskipun
paman sedang bosan dan jenuh ^ ^” ucapnya tiba-tiba yang membuatku tercengang
kembali.
Aku tersenyum kembali. Aku tak pernah menyangka anak sekecil
ini telah mengajarkanku hal yang kebanyakan tak terpikirkan oleh orang dewasa
sekalipun.
Hari ini Hana telah memberi dampak yang besar dalam diriku.
“Hana-chan, paman beruntung bisa bertemu dengan anak baik
sepertimu hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi ^ ^” aku berkata sebelum ia
pergi menuju ibunya yang sudah menunggunya di seberang taman.
“Aku juga senang bisa bertemu paman, orang yang aku kagumi.”
“Selamat tinggal paman, semoga paman cepat bangkit dan
membuat lagu yang indah lagi.” Ia berjalan menjauh sambil melambaikan tangan
kanannya dan tangan kirinya yang memegang 2 tangkai bunga daisy putih itu.
“Eh ya, tunggu dulu Hana-chan.” Dengan cepat aku menghampirinya.
Ia berhenti.
“ini untukmu, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku
untukmu karena sudah menemaniku hari ini dan menjadi penyemanagtku” aku
menyodorkan sebuah boneka beruang coklat kecil yang setiap hari memang aku bawa
karena ini adalah pemberian dari keponakanku.
Dan pasti dia tak akan keberatan jika aku memberikan pada
gadis kecil sebaik Hana.
“untukku ?? terima kasih banyak paman. Aku pasti akan
menjaganya dengan baik-baik dan akan selalu akan membawanya kemana pun aku
pergi.” Kulihat ia dengan sangat gembira menerimanya. Aku sangat senang.
“tapi mungkin kita tak akan bertemu lagi ^ ^” ia berkata
tiba-tiba meskipun dengan senyum di wajahnya tapi aku dapat merasakan kalau ada
sesuatu yang menyakitkan di dalam kata-katanya itu.
“eh ??”
Belum sempat aku berkata lagi ia telah menjauh.
“selamat tinggal paman Aoi” ia melambaikan kedua tangannya
dan berteriak kencang.
Aku membalas lambaian tangannya dan berteriak juga “selamat
tinggal Hana-chan.”
Ia berlari semakin jauh dan menghampiri ibunya.
Dan ibunya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke
padaku. Aku membalasnya.
Mereka berdua berjalan menjauh. Kulihat Hana membalikkan
badannya dan tersenyum ke arahku.
Lama kelamaan aku hanya bisa melihat punggung ibu dan anak
itu menghilang seiring merenggangnya jarak di antara kami.
Betapa beruntungnya orang-orang yang mengenalnya. Gadis
kecil dengan kata-kata lugunya yang mampu mebuatku semangat kembali.
Dan 3 tangkai bunga daisy putih pemberiannya ini menjadi
saksinya.
Hanaoka Mizuki.
Nama yang indah, seindah bunga pemberiannya. Akan selalu
kuingat nama itu sampai kapanpun.
Yooosssh !!
Aku telah terisi lagi. Inspirasiku tiba-tiba saja
menghampiriku kembali.
Hanya gara-gara seorang gadis kecil yang baru saja aku temui
disini.
Detik berikutnya aku meraih iPhone hitamnku dari balik saku
jaket.
Ku cari nama Kai, Reita, Ruki, dan Uruha.
Ku ketik tiap hurufnya.
“Aku sudah terisi !!! Yoosssh mari berjuang \(^o^)/ !!” ketikku kepada
mereka.
---------------------------
3 minggu kemudian
Aoi memenuhi janjinya.
Ia membuat lagu sesuai isi hatinya
saat itu.
Dan lagu yang ia buat pun diterima oleh member yang lain. Sekali
lagi kerja kerasnya terbayar sudah,
dan ini semua berkat seorang gadis kecil yang tak sengaja ia
temui di pinggir jalan setapak di sebuah taman yang bernama Hanaoka Mizuki.
Setelah bertemu dengannya dan berbicang-bincang sebentar ia
seperti menemukan inspirasinya. Gadis kecil itu seakan menjadi malaikat
penyelamat untuknya.
Jika bisa ia ingin sekali bertemu dengannya untuk
mengucapkan rasa terima kasih. Begitu pula dengan member yang lain.
Setelah kejadian itu mereka merasakan perubahan pada diri
Aoi.
Dan ketika mereka bertanya dengan antusias Aoi menceritakan
tentang pertemuan singkatnya dengan Hana. Malaikat yang mungkin dengan sengaja
Kami-sama kirimkan untuknya.
Oleh karena itu Kai, Ruki, Reita, dan Uruha juga ingin
bertemu dengan Hana.
Proses rekaman sudah selesai seming
gu yang lalu.
Shooting untuk PV terbarunya juga baru selesai kemarin.
Tinggal menunggu tanggal di releasenya single terbaru mereka
itu.
Dan di booklet yang selalu ada di setiap CD mereka itu tak lupa
Aoi menulisakn tentang gadis kecil yang telah membangkitkan semangatnya.
5 hari lagi, single terbaru mereka itu akan di release.
Sebuah live pun juga sudah disiapkan. Hanya terpaut 2 hari
setelah perilisannya mereka akan mengadakan live di Shibuya O-EAST.
---------------------------------------------------
Hari perilisan single baru kami pun tiba.
Kami berlima mengadakan pres con mengenai single baru ini.
Kai berkata bahwa lagu ini aku yang menulis dan aku juga
yang menjadi composernya.
Memang itulah pekerjaanku, aku sangat menikmati
menjadi seorang composer dari bandku sendiri.
Kami senang dengan sambutan masyarakat, sangat baik. Mereka
menerima lagu kami. Dalam 3 hari single kami telah menduduki peringkat ke-2
Oricon Chart.
Seperti mendapatkan angin segar dan semangat yang lebih kami
berjanji akan membuat live yang sangat fantastis.
Karena semuanya sudah bekerja
keras untuk hari ini.
Beberapa jam sebelum live di Shibuya O-EAST
Seorang wanita paruh baya mencariku.
Begitu kata salah
seorang staff yang baru saja menelponku.
Wanita itu sangat ingin bertemu denganku.
Dan ia menyebut
Hanaoka Mizuki.
Segera saja setelah mendengar nama yang selalu ingin ku
temui wujudnya itu aku dengan terburu-buru menemuinya.
Dan untung saja saat itu aku sudah selesai di make-up
tinggal menunggu check sound terakhir saja.
Setengah berlari aku menuju ke sebuah ruangan yang dimana
wanita itu menungguku.
Clek
Ku buka pintu ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Entahlah aku merasakan ada sesuatu yang tak beres yang terjadi dengan Hana
sehingga ibunya jauh-jauh mencariku di sini.
Aku melangkahkan kaki, segera saja setelah itu wanita itu
menatap ke arah pintu.
“Aoi-san” wajah itu, wanita itu adalah ibu dari Hana.
Ia terlihat sangat gugup dan wajahnya menyiratkan ketakutan
yang luar biasa.
“Mizuki-san” aku menundukkan kepalaku
Ia segera berdiri menghampiriku.
“Maaf aku menganggu Aoi-san yang sedang sibuk sekarang”
“Tak apa Mizuki-san. Ada apa ? apa yang membuat Anda kemari ?“
aku menyelidik, aku sangat khawatir sekarang.
“Hana, ini menyangkut Hana” dengan wajah yang sendu dan nada
yang berat ia mengatakannya.
Sudah kuduga, ini pasti menyangkut Hana. Tak mungkin ia
datang jauh-jauh kalauntak terjadi sesuatu pada anaknya itu.
“Ada apa dengan Hana ?? ia baik-baik saja kan ? “
Kulihat ia meremas tasnya.
“Tidak Aoi-san Hana tidak sedang baik-baik saja.” Ia
tertunduk dari suaranya terlihat jelas ia menangis.
Aku yang merasa ada yang tak beres ini semakin khawatir di
buatnya.
“Hana kenapa Mizuki-san ? kenapa dia ?” aku yang semakin
penasaran ini mendekati ibu Hana.
“Aku tak bisa memberi tahu disini Aoi-san. Dan meskipun ini
terdengar memaksa, tolong ikut aku sekarang. Hana tak jauh dari sini dan ia
sangat membutuhkanmu sekarang” ia memandangku dengan tatapan memohon.
Dan tak mungkin aku tak akan menolaknya.
Dengan anggukan kecil aku mengiyakan.
Segera setelahnya aku yang semakin di buat penasaran ini
berlari menuju ruangan make-up untuk mengambil tasku yang ada kunci mobiku di
dalamnya.
Reita, Ruki, Kai, dan Uruha yang sedang duduk-dudk di sofa
itu pun menatapku dengan heran.
“Aoi, ada apa ? kenapa kau terburu-buru ?” Reita bertanya.
Dengan sangat terburu-buru aku menjawabnya sambil
mencari-cari kunci mobilku di dalam tas berwarna coklat tua milikku.
“Ibunya Hana kemari dan ia memberi tahuku bahwa terjadi
sesuatu kepada Hana. Dan sekarang aku harus ikut dengannya.”
Tanganku mencari-cari kunci dan belum menemukannya.
“Ck, sial dimana sih kunci mobilku !” aku mengaduk-ngaduk
semua tas yang aku bawa dan tak lupa di baju yang aku pakai tadi.
“Tenang Aoi, tenang. Ceritakan dengan pelan-pelan.” Kai
menasehatiku sambil membantuku mencari kunciku itu.
“Aku tak bisa tenang sekarang, perasaanku tak enak, ada
sesuatu yang sedang terjadi padanya sekarang !! “ aku sedikit membentak.
“Kau tak akan mendapatkan apa-apa kalau kau tak tenang
seperti itu.” Ruki menimpali pembicaraanku.
“Ini..” Uruha melemparkan kunci dengan gantungan berbentuk
gelas bir itu kepadaku.
Dengan sigap aku menangkapnya.
“Terima kasih Uru..” segera setelah mendaptkannya aku
bergegas ke luar.
“Hei, tunggu. “ Kai mencegahku.
“Ada apa lagi Kai ? waktuku tak banyak “
“Jika kau pergi maka kami juga akan ikut. Lagi pula kami
khawatir padamu. Live akan dimulai dalam 3 jam lagi. Jika terjadi sesuatu
padamu bagaimana kami bisa menjelaskan kepada semuanya.”
Kai berkata sambil menghampiriku dan memakai jaket hitam
yang menjadi Goods kami kali ini.
“Benar, kita semua akan ikut” Reita beranjak dari sofa
diikuti Ruki dan Uruha.
“Kalian..terima kasih” aku tersenyum kepada mereka.
Mereka sangat perhatian dan peduli kepadamu. Oleh karena hal
inilah aku sangat betah berada di band ini.
“Yooosh ayoo kita berangkat !!”Uruha menepuk bahuku.
“Eh tunggu dulu, aku akan berkata kepada Jin-san kalau kita
akan keluar sebentar.” Kai berlari menuju ruangan para staff.
“Baiklah Kai, kami akan menunggumu. Dan usahakan cepat” aku
berkata setengah berteriak karena Kai sudah meluncur menuju ruangan para staff
yang berada tak jauh dari ruangan kami sekarang.
Perasaanku tak bisa tenang, aku sangat khawatir dengan apa
yang sedang terjadi kepada Hana.
Tak lama leader kami itu kembali.
“Kita diijinkan keluar, tapi dengan syarat maksimal setengah
jam sebelum live dimulai kita harus kembali” ucapan Kai melegakanku.
“Baiklah, ayoo”
Aku memimpin berjalan di depan. Setengah berlari lebih
tepatnya.
Dan kami pun telah sampai di parkiran dimana mobilku berada.
Aku menghampiri Mizuki-san, ibu dari Hana.
“maaf membuat Anda menunggu Mizuki-san”
“Tak apa Aoi-san. Tapi kenapa yang lain ada disini ? apakah
mereka akan ikut ?” ia bertanya sambil memandang heran ke arah keempat kawanku
ini.
Dan yang ditanyakan pun hanya tersenyum.
“Kami tak bisa membiarkan si gurame ini pergi sendirian
Mizuki-san” Kai menjawab pertanyaan ibunya Hana.
Belum sempat wanita
paruh baya ini berkata, aku sudah masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin.
“Mari Mizuki-san, kita temui Hana” aku mengajak Mizuki-san
masuk diikuti oleh member lain yang berdesakan duduk di belakang.
“Hai...” ia pun duduk di sampingku.
Aku pun mulai menjalankan mobil merahku ini.
Perjalanan menuju tempat Hana terasa sangat jauh bagiku.
Isi perutku seakan mau keluar karena perasaan khawatir yang
mendalam ini.
Mizuki-san menunjukkan arah-arahnya. Dan aku yang semakin
tak sabar menemui Hana mengemudi dengan cepat.
Sekitar 10 menit kami telah sampai.
Kami pun sampai, tapi...
Sebuah rumah sakit ? tempat yang tak pernah aku duga, aku
bertanya – tanya dalam hati.
Mungkinkah Hana disini ? tapi kenapa ?
“Aoi-san kau akan mengetahuinya sebentar lagi.” Mizuki-san
memanduku memasuki rumah sakit dengan wajah yang semakin khawatir.
Tentu saja orang-orang yang ada disitu menatap heran kami.
Kami yang memang sudah memakai make-up ini menjadi perhatian
mereka.
Kami tak peduli yang jelas aku ingin segera menemui malaikat
penyelamatku itu.
Setiap langkah kakiku terasa semakin berat. Masih dengan
ribuan pertanyaan berputar-putar di atas kepalaku dan ingin segera mendapatkan
jawaban.
ICU
Kubaca tulisan yang tertampang di atas.
“sudah sampai, Hana disini” Mizuki-san berkata dan ia
membuka pintu yang tertutup itu.
Sama sekali tak pernah aku duga, ICU ??
Hana apa yang sebenarnya terjadi padamu ?
Belum sempat aku menanyakannya, kedua mataku langsung
tertuju pada seorang gadis kecil yang sangat familiar di memoriku sedang
tergeletak tak berdaya dengan selang infus dan tabung oksigen di dalamnya.
“Hana-chan.....” pekikku pelan.
Tenggorokanku seakan tercekik, mataku membulat dan tak tahu
apa yang harus aku katakan.
Jantungku berdegub dengan cepatnya.
Kedua kakiku seakan tak mau di gerakkan. Aku membeku melihat
pemandangan di depanku ini.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ??
1 bulan yang lalu aku bertemu dengannya.
Masih terngiang jelas wajahnya yang ceria beserta senyum yang
tak pernah lepas dari bibir simpulnya itu.
“Hana menderita pembekuan pada kelenjar otaknya. Selama 3
tahun ini ia bergulat dengan penyakit ini. “ Mizuki-san berkata dengan air mata yang mulai menetes.
“Ia selalu kesakitan bila tiba-tiba penyakitnya ini kambuh.
Aku telah berusaha mati-matian untuk menyembuhkannya. “
Ia berenti berkata-kata.
Aku masih tercengang. Dengan langkah berat aku berusaha
mendekatinya.
Kulihat bunga daisy putih dengan anggun berada di dalam vase
di samping tempat tidurnya.
“Hana-chan....” aku berkata lirih di sampingnya, menggenggam
tangan kanannya dengan kedua tanganku.
Air mataku jatuh tak bisa kutahan. Dan kekhawatiranku
terjawab sudah.
Tapi kenapa ?
“Berkali-kali ia menjalani pengobatan. Dan hal itu tak
membuahkan hasil. Hana harus bergulat dengan penyakitnya ini selama 3 tahun
terakhir. Aku merasa telah gagal menjadi orang tua” Mizuki-san terisak.
Kai yang berada di sampingnya merangkul bahu wanita dengan
rambut yang diikat kebelakang itu.
Kai mencoba menenangkannya.
“Tak pernah ada orang yang gagal menjadi orang tua. Meskipun
kita tak tahu apa yang akan terjadi pada anak kita kelak, yang jelas kita sudah
memberikan yang terbaik untukya. Kita telah berusaha dengan keras.” Ku dengar
Kai mengucapkan kata-kata yang ditunjukkan oleh Mizuki-san.
“Hana sangat mengidolakanmu Aoi-san. Ia selalu berharap
ingin bertemu denganmu suatu saat nanti sebelum ia meninggal.”
Aku masih menggenggam erat tangan kecil itu.
“Karena ia tahu kalau umurnya tak akan lama lagi, setiap
hari ia berkata padaku kalau ia harus bertemu denganmu. Dan ketika ia selalu
membicarakannya aku sebagai ibunya ini harus berusaha apa pun caranya untuk
bisa mempertemukan Hana denganmu”
“Hingga suatu hari ketika aku mengajaknya keluar untuk
jalan-jalan sebentar di taman dekat rumah, aku melihat Hana berbicara dengan
sesorang. Dan aku menyadari bahwa seseorang itu adalah orang yang sangat Hana
idolakan. Yaah itu kau Aoi-san. 1 bulan yang lalu.”
Mizuki-san mulai bisa mengatur nada perasaannya.
“Aku sangat bahagia, doa Hana di jawab oleh Kami-sama. Aku
sangat bersyukur saat itu.”
Mungkin memang sudah Kami-sama gariskan bahwa aku akan
bertemu dengan Hana.
Kejenuhanku beberapa waktu itu, aku yang pergi tanpa memberi
tahu yang lain, aku yang tak tahu akan kemana itu adalah cara agar aku bisa
bertemu dengan Hana.
“....”
“Setelah bertemu denganmu itu ia menceritakan semuanya. Ia
tak bisa berhenti mengoceh, aku sangat senang melihat wajah bahagianya setelah
ia bertemu denganmu hari itu. Bahkan boneka yang kau berikan selalu ia bawa
kemana pun ia pergi”
Aku melihat di tangan kirinya, boneka itu ia pegang. Aku
semakin dibuatnya menangis.
“Sampai-sampai ia berkata jika pada hari itu juga setelah ia
bertemu dengan idolanya , Kami-sama memanggilnya ia telah siap. Keinginannya
telah terpenuhi.”
Mizuki-san menangis kembali.
Aku yang tak bisa berkata-kata ini lagi hanya bisa terus
menatap lekat-lekat wajah pucatnya itu.
“Dia....anak yang baik, kau sangat beruntung menjadi ibunya
Mizuki-san.”
“Sebelum bertemu dengannya hari itu aku merasa seperti orang
gila, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tak bertemu dengannya
saat itu. Mungkin hari ini tak akan datang jika aku tak bertemu dengan
Hana-chan.”
“Lagu kami yang baru pun itu semua berkat Aoi yang bertemu
dengan Hana-chan.” Ku dengar Reita berbicara.
“Kami sangat berterima kasih pada Hana-chan” Ruki pun
menambahi perkataan Reita.
Tapi aku tak pernah ingin bertemu dengannya untuk yang kedua
kali dengan keadaannya yang seperti ini.
Aku ingin memberi tahunya secara langsung bahwa ini semua
berkatnya.
Dan apa yang aku dapati sekarang sangat kontras dengan apa
yang aku harapkan.
Kami terdiam.
Hingga,
Kurasakan tangan kanannya bergerak.
Aku kaget dan ku tatap kedua matanya yang bergerak-gerak
ingin membuka.
“Hana-chan..” kulihat ia membuka matanya dengan perlahan.
Gadis kecil itu melirik ke arahku.
“Paman Aoi...” dengan berat ia mengatakan namaku.
“Iya Hana-chan, aku disini” aku mencoba tersenyum.
Kulihat ia juga mencoba untuk tersenyum.
Ia mengamati sekelilingnya. Dan matanya tertuju pada ibunya
juga keempat temanku.
“Mereka....” ia berkata dengan lirih.
“Mereka disini juga Hana-chan, untuk menemuimu...”
Aku menatap keempat kawanku itu, kulihat mereka tersenyum
pahit.
“Kami disini untukmu Hana-chan, kami ingin berterima kasih
kepadamu...” Uruha yang dari tadi diam berkata dengan senyum yang ia paksakan.
Matanya berkaca-kaca.
“Kau tahu, lagu baru kami, itu semua berkatmu. Itu lagu
untukmu....” aku menatapnya lekat-lekat.
“Eh ?? Hontou ni ??”
Aku hanya mengangguk pelan.
Lagu ini memang menceritakan
tentang perasaan yang tak tahu akan kemana, mengambang. Hingga pada akhirnya ia
menemukan seseorang yang memberinya kekuatan untuk bangkit.
Persis seperti yang Aoi alami saat itu. Dan seseorang itu adalah gadis kecil yang sekarang dengan tergeletak tak berdaya di depannya.
“Akhirnya paman Aoi bisa membuat lagu yang indah. Dan aku
juga sudah mendengarkannya.” ia mencoba tersenyum.
“5 hari yang lalu kakak laki-lakiku mendapatkan CD itu dan
mengajakku untuk mendengarkan bersama”
“Dan sekarang ia pasti akan cemburu aku bisa melihat semua
idolanya disini bersamaku...”
Aku yang mendengarkan celotehnya hanya bisa semakin dibuat
mengeluarkan air mata.
“Kau anak yang hebat Hana-chan” kuelus puncak kepalanya
seperti waktu itu.
“Aku....ingin berpamitan”
Deg.
Seperti ada ribuan silet mengiris-ngiris hatiku.
“Aku bahagia bisa bertemu dengan paman Aoi dan paman-paman the
GazettE yang lain...”
Ia tetap tersenyum, hatiku semakin pilu melihatnya.
"...."
“Mama...aku mencintaimu...”
Setelah berkata seperti itu aku merasakan tangannya melemah.
Matanya terpejam.
Tak ada denyut nadi yang kurasakan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt
Hana,
ia telah pergi dengan senyuman yang tetap mengembang.
Gadis kecil yang memberikanku hal yang tak terduga itu telah
pergi selamanya.
Kami semakin larut dalam kesedihan, tak bisa kuberhentikan
air mata ini.
Aku terisak, dadaku nyeri sekali.
Ia benar-benar telah meninggalkanku dan semuanya.
Kami semua yang berada di ruangan itu terisak perlahan.
Aku melepasakan genggaman tanganku.
Dokter dan perawat yang baru saja memasuki ruangan itu pun
berberi tahu kalau Hana sudah benat-benar pergi sekarang.
Kenyataan yang memang menyakitkan. Tapi dengan ini ia tak
kan kesakitan lagi.
Perawat itu melepaskan semua selang yang masih ada di tubuh
Hana.
Dan setelahnya dengan berat hati aku meraih kedua tangan
kecilnya.
Meletakkan di depan dadanya. Beruang coklat itu dengan setia
menemaninya.
Ku tutup dengan perlahan raganya yang telah ditinggal oleh rohnya dengan selimut putih.
Hingga
ia tak terlihat lagi.
Kau gadis yang hebat Hana, semoga di sana kau bahagia dan
yang terpenting kau tak ada kesakitan lagi sekarang.
Selamat tinggal.
Segera setelahnya, kami yang masih dirundung duka berpamitan
kepada Mizuki-san.
Ada sebuah live yang telah menunggu kami.
Dan kami berjanji akan menghadiri pemakaman malaikat
penyelamatku ini.
Aku yang masih terguncang hanya bisa duduk diam disebelah
kursi kemudi.
Kai yang menyetir.
Suasana menjadi leggang di dalam mobilku.
Tak ada yang berani memulai perkataan.
Aku masih belum bisa menata hatiku.
“Karena lagu kita itu untuk Hana, mari kita membawakannya
dengan sempurna. Jangan membuat dia kecewa Aoi.”
Kai menatapku disertai senyuman yang terpatri di wajahnya.
Ia memang selalu bisa membuat kami semangat lagi.
“Kita akan membuatnya bahagia Aoi. Jadi tak ada alasan untuk
kita tak maksimal hari ini. Ini semua demi Hana yang telah tenang di surga.” Ucap
Ruki yang duduk tepat di belakangku itu sambil memegang bahuku.
Benar, aku harus bangkit. Karena ini untuk Hana. Aku tak
ingin mengecewakannya.
“Em ! kalian benar, mari kita lakukan yang terbaik”
Tanganku menjulur kebelakang, diikuti Ruki, Uruha, Reita,
dan Kai yang sedang menyetir.
Yooossh !!!
Tepat setengah jam sebelum live di mulai kami sampai.
Langsung saja kami berganti pakaian dan membetulkan make-up
kami.
“Baik, 5 menit lagi” teriak salah seorang staff di depan
pintu.
“Baik mari kita lakukan !!” ku dengar Reita berteriak
memberikan kami semangat.
Kami berlima berjalan dari lorong ruang make-up menuju back stage.
Tak pernah lupa sebelum perform kami selalu saling
merangkul.
“Gazetto ee !!“ teriak kami.
Satu persatu dari kami memasuki stage.
Dimulai dari Kai, Uruha, Reita, aku dan Ruki.
Live di mulai. Kulihat kursi-kursi terisi penuh.
Kami benar-benar berusaha memberikan yang terbaik.
Hingga lagu terbaru kami yang sengaja aku tunjukkan kepada Hana
akan kami bawakan.
Ruki memberikan micnya kepadaku.
Aku pun kaget, dan ia berkata “karena ini adalah lagu yang
berasal dari hati yang terdalam dari Aoi-san, maka aku ingin ia yang berbicara”
Suara teriakan penonton pun bergema di seluruh ruangan.
“Etto...aku ingin menceritakan sedikit tentang lagu ini.”
Aku mulai berbicara dengan hati-hati.
Penonton terdiam memperhatikan setiap kata yang keluar dari
mulutku.
“Lagu ini sebenarnya untuk seorang gadis kecil yang berusia
6 tahun yang secara tak sengaja aku temui.”
“Emm jujur saja saat itu aku memang sengaja tak latihan dan
kabur dari rumah, dan member yang lain mencari-cariku” aku tertawa di
kalimatku yang terakhir ini.
Para penonton pun ikut tertawa. Sedangkan member yang lain
hanya tersenyum.
Setelah itu mereka diam kembali, kulanjutkan perkataanku.
“Waktu itu aku melihatnya sedang duduk dan membawa beberapa
ikat bunga daisy putih”
Sepertinya penonton yang berada di sini akhirnya mengerti kenapa di PV terbaru kami terdapat bunga daisy.
Di PV itu memang ada
bagian yang memperlihatkan aku dan member yang lain melihat bunga daisy putih dan
memungutnya.
“Aku mengobrol ringan dengannya, memang usianya baru 6
tahun,dan pertemuan yang singkat, tapi gadis kecil itu telah memberiku dampak
yang besar. emmm..."
“oleh karena itu aku sengaja menuliskan lagu ini untuknya”
aku dengan senyum terus menceritakan pertemuanku dengan Hana.
"............"
“Dan sekarang, malaikat penyelematku itu sudah tak bisa ku
temui lagi. Ia telah pergi hari ini, pergi untuk selamanya karena suatu
penyakit....” Tak sengaja aku meneteskan air mata lagi. Aku mengusapkan dengan punggung tanganku.
Ku lihat beberapa penonton kaget dan meneteskan air mata.
“Aku sangat berterima kasih padanya, dan jika kalian menyukai
lagu kami ini berarti kalian juga berterima kasih padanya...” aku mengangguk
perlahan.
Aku sudah selesai bicara.
Ruki yang berada di sampingku menepuk pundakku.
Ia yang beralih berbicara sekarang “Untuk kalian yang tetap
setia mendukung kami sampai sekarang dan untuk gadis kecil yang telah menjadi
inspirasi kami...”
Musik dimulai,
Ruki menyanyikannya.
Penonton dengan serius menyimak setiap
lirik dan musik yang kami bawakan.
Hana, ini untukmu....
------------------------------
Segera setelah live, mereka berlima tanpa beristirat segera
mengemudikan mobil hitam milik Reita menuju pemakaman Hana.
Pagi itu mereka semua melihat jasad Hana untuk yang terakhir
kali sebelum ia dikremasi.
Ia memakai kimono putih bersih.
Serangkaian upacara pemakaman telah di lakukan.
Aoi tak kuasa menahan air mata saat guci abu Hana akan di
tanam di dalam tanah untuk selamanya.
Hana, gadis kecil yang telah memberikan dampak yang besar
dalam diri Aoi itu sudah pergi untuk selamanya.
Bunga daisy putih yang berada di sebelahnya makamnya itu
bergerak-gerak seiring dengan angin yang berhembus.
Seakan ia bisa melihatnya, kelopaknya yang putih itu satu
persatu jatuh dan tertiup angin yang berhembus perlahan.
Hana. Sebuah nama yang berarti bunga.
Ia pergi bersama dengan kelopak putih bunga daisy yang telah
terbang entah kemana.
Semua kenangan indah dengannya tak akan pernah terlupa.
Bunga daisy putih ini menjadi saksinya.
Dan Hana ia telah tenang sekarang, tidur dengan damai
bersama-Nya.
"Eh ?? "
Aoi mendapati seikat bunga daisy putih di samping tempat tidurnya pagi itu.
"Ini....."
Ini pasti darimu kan, Hana......
OWARI
Bandung, 19 Januari 2013
*Fanfic one shot spesial untuk ulang tahun Shiroyama Yuu a.k.a AOI
yang ke-34 tahun yang jatuh tepat hari ini jam 22.00 WIB ^w^
Makin tua kau Om, tapi goyanganmu di panggung juga makin
gila XDD
Padahal baru kepikiran tema fanficnya kemarin. Dan entah
mengapa dari kemarin fanfic yang aku tulis berkaitan dengan bunga f( ̄ー ̄ )
Hana:bunga.
Sebenarnya Hana itu juga nama adik perempuan
saya, dan memang sengaja di beri nama yang artinya “bunga” (kagak ada yang
nanya).
Makanya karakter pendukungnya di sini dinamain HANA.
Soal bunga daisy, tak sengaja googling tentang arti bunga
dan warnanya. Dan ternyata bunga daisy itu indah banget maknanya apalagi yang
putih. Dan jadi deh nyelipin bunga daisy.
Teruuuus soal single baru, karena gak menemukan lagu punya
the GazettE yang sesuai dengan yang saya pikirkan, jadilah ngarang dengan bebas
(hahahaha)
Baiklah terima kasih banyak buat yang sudah menyempatkan membaca
fanfic abal dari saya ini ^ ^"
Komentar sangat diharapkan (kalau bisa)
Akhir kata
OTANJOUBI OMEDETOU AOI~~
Semoga dengan bertambahnya umurmu, kau semakin produktif
menciptakan lagu
Semakin sukses, dan terus menjadi guitarist yang hebat
sepanjang masa
Cepat nikah, punya anak, jadi Ayah yang ROCK bangetヾ(^∇^)
Dan kami dengan setia menunggu kau beserta Kai, Ruki, Uruha,
dan Reita datang ke Indonesia (doa para SIXTH GUNS se-Indonesia)
KAZE HIKARI13