Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

POHON KURMA, DAN CAMEL

 
Angin padang pasir berhembus perlahan di sebuah mata air. Benar-benar mendatangkan rasa kantuk pada seekor unta kecil yang bernama Camel. Ia pun berjalan ke arah sebuah pohon kurma. Camel terperanjat, ia mendengar suara….
” Hai, unta kecil yang cantik. Kamu tidak bermain dengan teman-temanmu ?”
“Oh ! kamu siapa ?” Camel melihat ke sekelilingnya.
” Aku pohon kurma di dekatmu ini ?”
” Saya kira siapa. Teman-temanku di sebelah sana bersama ibu dan ayah mereka. Ayah Ibuku memperbolehkan aku bermain disini. Nanti teman-teman juga akan datang kesini. Apakah saya boleh tiduran disini sambil menunggu teman-temanku?” Kata Camel.
” Boleh saja, Camel yang cantik. Sebelum tidur maukah kamu mendengarkan cerita dariku ?”
” Mau sekali. Tentang apa ?”
” Tentang  padang pasir tempat kita tinggal ini tapi pada zaman dahulu…Cerita ini aku dengar dari Ibuku dan Ibuku mendengarnya dari nenek dan seterusnya. Maukah kau mendengarnya, Camel..?” Suara pohon kurma itu lembut sekali.
“Baiklah, saya sambil memejamkan mata, ya..?”
“Boleh. Begini ceritanya…dengarkan baik-baik. padang pasir ini dahuluuuu kala ditinggali oleh orang-orang yang gemar sekali berperang. Mereka berperilaku buruk. Jika ayahnya meninggal saat berperang maka anak laki-laki boleh menikahi ibunya. lalu karena mereka gemar berperang, maka mereka tidak suka kalau mempunyai anak perempuan. Anak perempuan atau bayi perempuan kadang mereka kubur hidup-hidup…”
” Aku tidak suka peperangan. Aku juga tidak suka bermusuhan dengan teman-temanku.”
” Kamu memang anak unta yang manis dan cinta damai, Camel..”
“Oh ya, kalau anak perempuannya dibunuh apakah ibunya tidak sedih ?”
“Tentu sedih sekali….”
Ketika sedang asyik mendengarkan cerita. datanglah teman-teman Camel.
” Hai, Camel. Kamu disini ternyata. Tadi aku cari di mata air pantas saja  tidak ada..”
“Ssssttt….teman-teman, sini ! Aku sedang mendengarkan cerita dari pohon kurma ini tentang orang-orang padang pasir yang gemar berperang.” Teman-teman Camel pun ikut duduk di dekat pohon kurma itu.
“Pohon kurma. Kami boleh ikut disini, kan?”
“Tentu saja. Mau dilanjutkan ceritanya..?”
” Yaaa…..” Jawab mereka hampir bersamaan.
“Nah, Tuhan Allah yang menciptakan kita juga tidak menyukai peperangan dan perilaku buruk. Maka kemudian pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 571 masehi atau tahun gajah lahirlah manusia yang sangat istimewa. Ia diberi nama Muhammad. Pada umur 40 tahun Ia diangkat oleh Allah menjadi seorang Rasul. ia mengajarkan manusia untuk menghormati perempuan. Anak-anak perempuan tidak lagi dibunuh. Bahkan Muhammad sendiri sayang sekali pada puterinya yang bernama Fatimah. Jika sang ayah meninggal, anak laki-laki tidak boleh menikahi ibunya. Ibu adalah tetap ibu. Beliau wajib kita hormati. Muhammad bahkan mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.”
” Muhammad itu mulia sekali. ya ?” Iya kan, Camel ?Muhammad itu……..Yach ! Camel tertidur…” Kata teman-teman Camel.
” He he he…. Camel dari tadi katanya memang sudah mengantuk. Sudahlah, kalian boleh bermain-main dulu sambil menunggu Camel bangun..” kata Pohon Kurma.
Akhirnya teman-teman Camel bermain di dekat mata air itu sambil menunggu Camel terbangun. Mereka mengucapkan terima kasih kepada pohon kurma yang telah menceritakan tentang kemuliaan perempuan dan keagungan Muhammad.

PERI HUJAN, ANGIN, DAN RAJA PETIR

Di suatu negeri yang terletak di atas awan, terdapat seorang peri hujan yang bernama Rania. Rania bertugas menurunkan hujan, dan ia bersahabat dengan Raja Petir. Raja Petir selalu menemani Rania dengan petirnya yang berkilat-kilat keperakan saat hujan turun.
Suatu hari, Rania harus menurunkan hujan di suatu desa yang kekeringan. Desa itu letaknya jauh di selatan, sehingga Rania harus mengendarai Angin untuk bisa sampai disana. Sudah menjadi kewajiban Rania untuk membawa sekeranjang butiran-butiran hujan yang akan diturunkan di desa itu.
Rania menunggu Raja Petir sembari duduk bersila diatas awan yang lembut. Aneh sekali, Raja Petir tak kunjung datang. Biasanya jika Rania akan berangkat menurunkan hujan, Raja Petirlah yang menjemputnya. Rania menunggu Raja Petir dengan sabar. Akhirnya ia bersiul memanggil Angin yang juga sahabatnya. Angin itu bernama Bayu.
“Ayo Rania, kau sudah siap pergi ke desa di selatan? Penduduk desa itu pasti sudah menunggu hujanmu.” Kata Bayu berbisik pada Rania. Bayu memang selalu berbisik, karena kekuatan suaranya yang sungguh luar biasa. Jika Bayu berteriak sedikit saja, angin kencang akan muncul akibat suaranya.
“Aku masih menunggu Raja Petir.” Jawab Rania.
“Baiklah, ayo kita jemput Raja Petir dirumahnya.” kata Bayu. Rania mengangguk setuju, dia langsung menaiki punggung Bayu.
Bayu segera terbang membawa Rania ke rumah Raja Petir. Sesampainya di rumah Raja Petir, mereka bertemu dengan Raja Petir Tua, ayah dari Raja Petir.
”Kalian mencari Raja Petir?” tanya lelaki tua dengan jenggot yang melambai hingga dadanya itu.
“Benar paman. Hari ini aku harus menurunkan hujan di selatan. Biasanya Raja Petir menemaniku.” Jawab Rania sopan.
“Baiklah, kupanggilkan Raja Petir, namun dia sedang bersedih.” Kata raja tua itu.
Rania menoleh pada Bayu dengan tatapan bingung. “Kenapa Raja Petir bersedih?” tanya Rania. Bayu hanya menggelengkan kepalanya, merasa sama bingungnya dengan Rania.
Setelah beberapa lama, Raja Petir keluar dari rumah bersama ayahnya. Raja Petir Tua membawa sekeranjang buah persik yang sangat lezat.
“Ini silakan dimakan.” Kata Raja Petir Tua sambil berjalan kembali memasuki rumah. Rania mengangguk dengan sopan, sementara Bayu sangat kegirangan, dia sangat menyukai buah persik. Langsung saja, dia memakan dua biji sekaligus. Rania tertawa melihat tingkah Bayu. Namun aneh, Raja Petir yang biasanya ceria, tampak sangat murung.
“Raja Petir, kau kenapa?” tanya Rania sambil duduk di sebelah Raja Petir. Raja Petir menunduk dengan sedih.
“Petirku dicuri.” jawabnya. Rania sangat terkejut. Bayu yang sedang mengunyah buah persik sampai tersedak dibuatnya.
“Kenapa bisa begitu?” teriak Banyu, seketika angin langsung bertiup kencang, menerbangkan beberapa tanaman milik Raja Petir Tua.
“Bayu! Jangan berteriak begitu! Lihat angin menjadi begitu kencang karena suaramu!” pekik Rania.
Bayu mengangguk dengan tersipu-sipu. “Maafkan aku, aku terlalu kaget mendengarnya.” ujar Bayu kembali berbisik. Seketika angin kencang itu menghilang.
“Kenapa petirmu bisa hilang?” tanya Rania. Raja Petir memandang Rania dengan sedih.
“Oh Rania, aku tak kan bisa menemanimu dengan petir lagi saat kau menurunkan hujan.” isaknya. Rania menepuk-nepuk pundak Raja Petir dengan lembut, menenangkannya.
“Tenanglah Raja Petir. Ceritakan pada kami.” Ujar Rania, Bayu mengangguk setuju disebelahnya.
“Semalam aku bertengkar dengan kakakku, Raja Guntur.” Raja Petir mengawali ceritanya sambil menatap Rania dan Bayu bergantian.
“Raja Guntur mengatakan, seharusnya ialah yang memiliki petir, karena ia lebih tua dariku. dia mendorongku berkali-kali. Sebenarnya aku berniat menyambarnya dengan petirku, tapi aku tak ingin menyakiti kakakku sendiri. Namun, Raja Guntur malah menyerangku terus menerus. Dengan gesit dia berhasil merebut petirku dan membawanya pergi.” Raja Petir kembali tertunduk sedih.
Petir milik Raja Petir berbentuk seperti kilat dan berwarna perak. Petir itulah yang menyebabkan adanya kilat yang menyambar-nyambar diiringi suara gemuruh yang kencang. Raja Guntur hanya bisa membuat suara gemuruh tanpa diiringi kilat yang menyambar. Karena itulah Raja Guntur merasa iri pada Raja Petir.
“Apa ayahmu tidak membantumu?” bisik Bayu. Raja Petir menjawab dengan suara yang lirih.
“Ayah sudah tua. Dia sudah tidak memiliki kekuatan apapun lagi. Kekuatan petir dan guntur sudah diwariskannya padaku dan kakakku. saat akan menengahi perkelahian kami, Raja Guntur mendorong ayahku sampai terpelanting.”
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa prihatin. “Kalau begitu, kita cari raja Guntur, lalu mengambil kembali petirmu darinya.” ujar Rania seraya berdiri.
“Tunggulah disini, aku harus menurunkan hujan di selatan. Nanti aku akan kembali kesini bersama Bayu.” janji Rania.
“Aku ikut Rania. Aku harus mengambil petir itu darinya. Raja Guntur semalam juga mengancamku, dia akan mengikutimu menurunkan hujan, lalu akan membuat hujanmu menjadi badai yang penuh dengan kilatan petir dan gelegar guntur.” Kata Raja Petir sambil ikut berdiri. Rania terperanjat, tak mampu berkata-kata.
“Tega sekali kakakmu itu.” dengus Bayu kesal.
Rania mengangguk pasrah, meskipun dalam hati ia tidak mau ada pertengkaran antara Raja Petir dan Raja Guntur. Pertengkaran mereka, apalagi saat hujan turun, bisa mengakibatkan badai yang sangat dahsyat. Apalagi ada Bayu yang mudah terpancing amarah, keadaan bisa sangat berbahaya, tidak hanya bagi desa di selatan itu, tapi juga bagi Negeri Awan.
Setelah berpamitan pada Raja Petir Tua, mereka bertiga menuju desa selatan. Raja Petir mengendarai awan kelabunya, sementara Rania menaiki punggung Bayu. Tidak ada satupun yang berbicara seperti biasanya. Ketiganya merasa cemas mengenai apa yang akan dilakukan Raja Guntur. Rania melirik isi keranjangnya. Isinya berupa butiran-butiran hujan yang seperti embun. Dia berharap, semoga butiran itu tidak diperlukannya untuk menyerang Raja Guntur. Rania memang mempunyai kekuatan bisa mengubah butiran hujannya menjadi kristal-kristal tajam untuk menyerang siapa saja yang bermaksud jahat padanya. Kristal-kristal itu juga sangat beracun, siapa saja yang terkena akan terluka parah, bahkan mati.
Sesampainya di desa selatan, Rania mulai menurunkan butiran hujannya satu persatu. Penduduk desa selatan bersorak kegirangan, hujan akhirnya turun. Mula-mula gerimis lalu berubah semakin deras. Sesekali Bayu bersiul meniupkan angin semilir membuat hujan menjadi semakin indah.
Namun, penduduk desa itu juga heran, tidak ada gemuruh guntur dan petir yang mengiringi hujan kali ini.
Raja Petir melihat Rania dan Bayu dengan sedih. Dia tidak bisa mengiringi hujan Rania dengan petirnya. Tiba-tiba kilat menyambar-nyambar dengan hebatnya diiringi suara gemuruh yang menggelegar. Raja Guntur menghampiri mereka menaiki awan hitamnya.
Raja Guntur tertawa-tawa sambil menyambarkan petirnya ke segala arah. Dibawah sana, penduduk desa mulai ketakutan karena hujan ini terasa begitu menyeramkan. Hujan yang tidak seperti biasanya karena diiringi dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan liar. Sebentar lagi pasti badai dahsyat!
“Hentikan kakak! Kembalikan petir itu padaku!” teriak Raja Petir sembari menghampiri kakaknya.
“Minggir kau! Petir ini milikku sekarang. Aku jauh lebih kuat daripada kau!” ujar Raja Guntur sombong sambil terus menyambarkan petirnya dengan liar.
“Hentikan Raja Guntur! Kembalikan petir itu!’ kata Bayu marah, lalu meniupkan angin besar yang menghantam Raja Guntur, membuatnya terpelanting dari awan hitamnya. Raja Guntur menjadi marah, dia membalas Bayu dengan menyambarkan petir ke tubuh Bayu, membuat Bayu terjengkang.
Rania berlari menghampiri Bayu yang tergeletak pingsan, dan dari sudut matanya ia bisa melihat Raja Guntur menyerang Raja Petir. Berkali-kali Raja Petir tersambar oleh petirnya, dan akhirnya Raja Petir roboh diatas awan kelabunya. Amarah Rania meluap. dihampirinya Raja Guntur yang tertawa melihat saudaranya terluka.
“Kau Raja Guntur jahat! Hentikan semuanya!’ pekik Rania.
“Kau cuma peri hujan, kau berani menantangku?” tanya Raja Guntur sambil berjalan mendekati Rania dengan sombongnya.
Rania memejamkan matanya berkonsentrasi. Mendadak butiran hujan di keranjangnya melayang, berubah menjadi kristal-kristal tajam.
“Dasar bodoh kau! Kristal-kristal kecilmu itu akan hancur tersambar petirku.” ledek Raja Guntur mengacungkan petir kearah Rania. Raja Guntur tidak tahu bahwa kristal-kristal Rania itu mengandung racun yang bisa melukainya.
“Kembalikan petir itu, aku tak kan menyakitimu. Kita bisa menjadi teman.” bujuk Rania. Rania tidak ingin berperang melawan Raja Guntur yang merupakan kakak dari sahabatnya.
Raja Guntur menyerang Rania dengan petirnya. Rania melompat menghindar dengan gesit. Rania mengibaskan tangan, kristal-kristalnya langsung menyerang Raja Guntur. Kristal-kristal itu berterbangan menghujani raja Guntur. Raja Guntur kewalahan dibuatnya. Kristal-kristal itu menyengatnya, menggores-gores badan Raja Guntur dan menimbulkan luka di seluruh badannya. Raja Guntur akhirnya jatuh terduduk dan petir terlempar jatuh dari tangannya. Rania memungut petir itu, lalu menghampiri Raja Guntur yang sedang kesakitan. Rupanya ia terluka parah.
“Maafkan aku.. Jangan sakiti aku.. Aku hanya ingin lebih hebat dari adikku..” isak Raja Guntur.
“Kau mau berjanji tidak akan menyakiti adikmu lagi?” tanya Rania. Kristal-kristalnya sudah menghilang, kembali menjadi butiran hujan.
“Iya, aku berjanji..” ujar Raja Guntur lirih. Rania mengusapkan tangannya pada Raja Guntur, lalu berkonsentrasi sambil memejamkan matanya. Dalam sekejap, Raja Guntur sudah kembali sehat seperti sedia kala.
Raja Guntur membantu Rania membaringkan Bayu dan Raja Petir di atas awan hitamnya yang besar.
Rania tidak bisa menyembuhkan luka Bayu dan Raja Petir. Dia hanya bisa menyembuhkan luka yang diakibatkan oleh Kristal Hujannya. Mereka harus dibawa kembali ke Negeri Awan. Setelah diobati oleh Tabib Pelangi, Raja Petir dan Bayu kembali sehat.
Setelah itu, Raja Guntur meminta maaf kepada Raja Petir, dan akhirnya mereka berempat menjadi sahabat. Saat Rania akan menurunkan hujan, Raja Guntur membuat gemuruh pertanda hujan akan datang. Sedangkan Bayu dan Raja Petir mengiringi hujan Rania dengan angin dan petir seperti biasanya. Hujan menjadi semakin indah berkat

PUTRI MAWAR DAN PAWANG HUJAN

Pada zaman dahulu di negeri mimpi, hiduplah seorang Puteri bernama Mawar. Wajahnya sangat cantik, dan dia begitu menyukai puisi. Suatu ketika, di luar istana, hujan sangatlah lebat, ditambah dengan gemuruh dan halilintar yang begitu dahsyat, Puteri Mawar berdiri di balik jendela. Puteri Mawar begitu gelisah, karena hujan yang datang telah lama mengguyuri seluruh Negeri Mimpi. Sang Raja, ayah Puteri Mawar, begitu gelisahnya memikirkan hujan yang berkepanjangan itu. Didatangkanlah banyak pawang hujan ke negerinya, namun hujan yang turun, tak juga reda. Dan Puteri Mawarpun ikut mersakan kegundahan yang sama dengan sang Raja.
“Aku harus mencari sendiri pawang yang bisa menghentikan hujan yang telah hampir tigabulan melanda ini”, fikir Puteri Mawar. “Tapi, bagaimana caranya ya…”. setelah lama berfikir, dan tidak juga menemukan jalan keluar, akhirnya Puteri Mawar memutuskan diri untuk pergi ke negeri tetangga, yaitu Negeri Sunyi. Puteri Mawarpun meminta izin kepada Raja, dan diapun pergi dengan membawa banyak pengawal, dengan mengendaarai kereta kuda.
Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang tertidur di sebuah saung sawah. Puteri mawarpun turun dari kereta, menghampiri lelaki itu.
“Permisi, Kang…”, sapa Puteri Mawar. Dan lelaki itu serentak bangun dari tidurnya.
“Iya, ada apa ya…”, jawab lelaki itu dengan mata yang merem-melek, dengan hati yang kaget, dan dengan rasa jatuh cinta.
“Saya Puteri Mawar, Anak Bungsu dari Raja Negeri Mimpi.” Puteri Mawar dengan sopan dan penuh rendah hati, memperkenalkan diri. “Saya mau tanya, apakah saya sudah berada di wilayah Negeri Sunyi?”
“Oh, Iya, sudah…”, dengan was-was dan sedikit ketakutan karena melihat begitu banyak orang yang mengawal Puteri Mawar, Lelaki itu menjawab. “Ada yang bisa saya bantu…?”
“Saya ingin bertemu dengan Pawang Hujan di negeri ini. Apa kamu bisa menolong saya?”
“Saya dengar di Negeri Tuan Puteri tengah dilanda hujan yang berkepanjangan ya… “, tanya Lelaki itu.
“Benar, oleh karena itulah Saya pergi jauh-jauh ke sini, mencari pawang hujan yang bisa menghentikan hujan di negeri saya. Apa kamu bisa membantu?”
Lelaki itu, karena sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Puteri Mawar, dia pun langsung menjawab “Iya, saya bisa bantu. Tuan Puteri tak harus pusing-pusing lagi mencari pawang hujan…”, kata lelaki itu dengan penuh percaya diri, “Tuan Puteri telah menemukan orang yang tepat untuk menghentikan hujan di negeri Tuan Puteri”, dengan berani dia menawarkan diri. Padahal lelaki itu sebenarnya bukan pawang hujan, dia hanya penyair, ya, penyair yang punya keyakinan bahwa; apapun yang kita inginkan, jika dicapai dengan penuh keyakinan dan percaya diri, maka keinginan itu pasti akan terwujud.
“owh, betapa beruntungnya saya bertemu dengan kamu, kalau begitu, marilah ikut ke negeri saya, dan jika memang kamu bisa, tolong hentikan hujan yang tak henti mengguyur negeri kami”, dengan rasa bahagia, Puteri Mawar mengajak lelaki itu untuk pergi ke negerinya.
“Baik, Tuan Puteri…”, dengan tanpa keraguan lelaki itu mengiyakan.
Setelah masuk ke wilayah negeri mimpi, dikenalkanlah penyair yang mengaku sebagai pawang hujan itu, kepada Raja, ayah Puteri Mawar.
“Ayahanda, inilah orang yang akan menghentikan hujan berkepanjangan di negeri kita…”
“Hmm, anak muda, apa kamu yakin bisa menghentikan hujan ini?”
“Saya yakin, Tuan Raja…”
“Baiklah, kapan kamu mau mulai?”
“Sekarang, Tuan Raja, saat ini juga!!”, dengan penuh keyakinan. “Tapi, Tuan Raja…”
“Tapi apa, Pawang Hujan…”
“Kalau saya boleh tahu, imbalan apakah yang akan Tuan Raja berikan andai saya bisa menghentikan hujan ini?”
“Hangan khawatir, Pawang Hujan, jika kamu berhasil menghentikan hujan ini, maka aku akan mengabulkan apapun permintaanmu”
“Apapaun, Tuan Raja?”
“Ya, apapun!!!”
Sementara itu, angin dan halilintar serta gemuruh guntur di luar istana kerajaan, kian mengencang, kilatan-kilatan menghiasi langit selayak pesta kembang api. Si Pawang Hujan mulai melakukan aksinya. Puteri Mawar terus menerus memerhatikan si Pawang Hujan, sepertinya dia hanyut, dan hampir saja jatuh cinta. Pawang Hujan lalu menuju pintu depan istana, sembari menatap ke langit, dia mulai membacakan mantra hujan;
Hujan,
Langit melahirkanmu
Langit pula yang akan menguburmu
Maka jika aku menawarimu melebur
Larutlah dengan tanah
Hujan,
Tak usahlah kau lama bertamu
Hingga tak lagi ada siang dan malam
Cukupkan, dan pergilah
Hujan,
Jika aku menawarimu satu detakkan
Kau pilih detakkan yang mana
Ambillah langkah
Dan tak ada pilihan lain
Hujan,
Telah kau banjiri segenap tubuh negeri ini
Telah berapa keringat yang kau kucurkan
Apa kau juga akan membunuh dirimu sendiri
Sementara itu, Puteri Mawar begitu terpesona dengan setiap bait mantra. Puteri tak sadar, bahwa sebenarnya yang dibacakan Pawang Hujan itu adalah puisi. Ya, sedang Puteri Mawar begitu menyukai puisi. Puteri Mawar hanyut, dan Pawang Hujan itu terus saja membacakan mantranya.
Hujan,
Lihatlah sekuntum mawar di taman mimpi
Wajahnya pucat, mengharap sapa matahari
Apa kau tak sayang
Rupanya Pawang Hujan melihat keterpesonaan Puteri Mawar pada Mantra yang dibacakannya. Karenanya dia menambahkan kata “Mawar” pada mantranya. Puteri Mawar kian hanyut.
Hujan,
Aku katakan padamu bahwa mawar itu begitu semerbak
Hingga jiwaku diharumkannya dengan rekahan senyum yang menggila
Apa kau juga tak faham betapa inginku menyuntingya
Hujan,
Berhentilah melapadz rintik, peluklah hari-hari
Biarkan matahari menyala dalam hati
Tiba-tiba hujan mulai terlihat reda secara perlahan, guntur dan halilintar pun mulai menghilang. Betapa girang hati Raja dan puteri Mawar. Pawang Hujan semakin percaya diri. Dipilihnya diksi yang benar-benar terpilih untuk melanjutkan Mantra Hujannya.
Hujan,
Jika kau teduhkan jiwa dengan gerakmu
Maka berikan ketenangan di wajah mawar
Usirlah murung
Jangan lagi kau biarkan hati bertarung
Hujan,
Kembalilah
Hujanpun berhenti, betapa bangga hati si Penyair. Keyakinannya akan syair bisa menghentikan hujan itu, benar-benar nyata. Langit mulai terang, awan beranjak perlahan membuka pintu langit. Terlihat biru, seperti wajah mawar yang kegirangan karena tiada lagi gelap. Raja tepuk tangan, dengan sumringah dan hati gembira, disalaminya Pawang Hujan.
“Kau hebat, Anak muda!”
Pawang Hujan itu hanya tersenyum. Sembari menatap Puteri Mawar yang sedari tadi merunduk karena terpukau dengan Mantra Hujan, Pawang Hujan itu berkata kepada sang Raja;
“Tuan Raja, sesuai dengan perjanjian kita, maka aku akan meminta imbalannya.”
“Silahkan, anak muda, kamu boleh meminta apapun! Kamu mau apa, emas dan berlian? Tanah? Harta dan kekayaan apapun terserahmu, anak muda!!”
“Nikahkan aku dengan Tuan Puteri Mawar!!”
“Kamu mau menikah dengan puteriku?” setengah kaget, Raja menjawab.
“Ya!!”
“Baiklah, akan aku nikahkan kau dengan puteriku hari ini juga. Puteriku, apa ananda bersedia menikah dengan Pawang Hujan…”
Dengan tersipu malu dan hati girang tiada terkira, puteri menjawab; “Aku bersedia, Ayahanda…”
Menikahlah Pawang*Hujan dan Puteri Mawar. Dengan pesta besar-besaran yang dirayakan oleh seluruh warga negeri mimpi. Negeri itu lalu makmur, semakmur hati Puteri Mawar. Mereka hidup bahagia, dan Negeri Mimpi kembali terang, seterang matahari dan bulan purnama saat Pawang Hujan dan Puteri Mawar berbulan madu.

IMPIAN SANG ULAT KECIL

” hahahaha sudah jelek hhjau, kaki nya banyak lagi, hahahahahaha…..” terdengar celoteh anak-anak binatang disuatu pagi yang cerah di tengah hutan.

“…dan ….dan coba lihat cara dia makan….rakus sekali…hahahahahaha” kembali terdengar suara tawa dari anak-anak binatang di hutan. Jena sang ulat hijau kecil hanya berdiri di bawah sebuah daun yang cukup rindang, ia memandangi anak-anak binatang lain dan bergumam “lihat saja nanti kalau aku sudah menjadi kupu-kupu…mereka akan terpesona pada bentuk baruku” kembali Jena dengan telaten memakan daun-daunan muda untuk membuat badannya tumbuh besar.
” lihat itu si Jena makan lagi dia hahahaha minta ampun rakusnya …..” seru seekor anak katak….dan yang lain pun tertawa terbahak - bahak …Jena tidak peduli ejekan dan cemoohan mereka dia tetap berusaha makan dedaunan sebanyak-banyaknya.
“musim panas segera tibaaaa….musim panas segera tibaaaa….” seekor gagak dewasa terbang mengitari hutan dan berteriak bahwa musim panas segera tiba…
Uli si ulat dewasa berkata “hai teman-teman inilah saatnya ….inilah saatnya kita tunjukan pada hutan jati diri kita yang sebenarnya, betapa indahnya bentuk kita nanti”……uli berseru pada teman-teman, Jena mendengarkan dengan seksama percakapan ulat-ulat dewasa tentang impian yang sama dengan dirinya.
Musim panaspun tiba, terik paman matahari membakar semua dedaunan perlahan tapi pasti daun-daun berguguran, Jena tampak sibuk dengan kegiatannya sehari-hari memakan dedaunan demi dapat tumbuh dewasa, satu persatu ulat dewasa mulai mencari tempat khusus untuk membuat sebuah kantung yang berasal dari benang yang mereka ciptakan sendiri dari sari-sari makanan mereka, termasuk juga uli seekor ulat dewasa yang sangat gagah mulai mencari tempat terbaik untuk mulai membuat kantungnya sendiri.
Jena memperhatikan cara mereka memintal sedikit demi sedikit benang sutra yang keluar dari sungut mereka, dengan hati-hati mereka memintal kantung-kantung kepompong agar selama mereka bersemedi mereka tidak terganggu cuaca apapun, baik panas maupun hujan tidak akan dapat mengganggu mereka.
Jena kembali di ejek oleh seekor anak burung pipit “hahahaha Jena sudah menyerah saja, kamu tidak akan besar seperti mereka, daun-daun sudah mulai kering, lebih baik kamu masuk saja ke dalam mulutku dan jadilah makan siangku..” pipit mengejek sambil tertawa-tawa.
Jena tampak murung dan bersedih dia melihat dedaunan mulai berguguran satu persatu, dengan tergesa-gesa ia melahap dedaunan yang masih tersisa, tetapi dia tidak bisa melawan musim, akhirnya dedaunanpun habis jatuh berguguran.
Jena dengan impiannya tetap yakin bahwa suatu hari ia bisa membuat kepompongnya sendiri dan bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Pagi hari yang cerah, Jena berjalan kesana kemari mencari dedaunan segar tapi kemanapun ia pergi yang ada hanyalah hamparan luas dedaunan kering, iya berlari keujung hutan dekat sebuah kolam mungkin ada pohon yang belum rontok daunnya, tetapi malang yang ia temui adalah sebuah pohon kering dan air kolampun hilang entah kemana.
tubuhnya semakin kurus karena harus berlari kesana kemari mencari daun segar untuk dimakan, segala jerih payahnya selama ini hilang karena harus terpakai untuk mencari dedaunan, berhari-hari Jena tidak makan.
Datang seekor burung gelatik mencari makan, dia melihat seekor ulat sedang bersembunyi dibalik dedaunan, dia dengan cepat menyergapnya..
Jena berteriaak “aaaaaaaaaaa tidaaaaakkk jangan makan saya….saya mau tumbuh dewasa dan dapat terbang sepertimu wahai gelatik nan cantik”…..burung gelatik terperanjat dan mengurungkan niatnya.
Gelatik bertanya “kenapa kamu bodoh sekali ? apa mungkin seekor ulat seperti mu bisa terbang ? sayap saja kamu tidak punya ? “
Jena menjawab “aku bisa…yang harus aku lakukan adalah memakan daun sebanyak-banyaknya agar aku tumbuh dewasa dan dapat memintal kepompongku sendiri, dan aku harus bersemedi berbulan2 agar sayap ku dapat tumbuh”
Gelatik bertanya lagi “bagaimana mungkin ? kamu tidak punya tulang sayap bahkan kamu itu tidak bertulang..jangan mimpi kamu ulat”
Jena menjawab ” akan aku buktikan, kalau semua itu tidak terbukti maka aku rela kamu makan “
Gelatik “baik aku ingin lihat bagaimana caranya kamu menumbuhkan sayap, jika tidak bisa maka kamu milikku” diambilah Jena dengan hati-hati dan ditaruh diparuhnya, terbanglah gelatik menuju hutan yang lebih lebat dimana cahaya matahari tidak tembus ke dalam hutan dan dedaunan dapat tumbuh dengan leluasa, ditaruhnya Jena pada dahan pohon muda yang banyak tunasnya, dan berkata “nah ulat buktikan ucapanmu, makanlah sebanyak-banyaknya dan tumbuhlah dewasa”
Jena dengan gembira melahap semua daun yang ada dan tumbuh dewasa dengan cepat, Gelatik melihat kegigihan sang ulat dan takjub melihat ulat kecil tersebut dalam beberapa hari sudah tumbuh sangat besar, dalam hati Gelatik berkata “wah wah …..asik nih santapan lezat…..kalau dia tidak bisa membuktikan ucapannya maka akulah yang dapat rejeki nomplok”
Jena berkata “nah gelatik aku sudah tumbuh dewasa…aku siap memintal kepompongku, nanti tunggulan barang beberapa minggu, kalau tidak keluar juga maka makanlah aku”
Gelatik pun menunggu dengan sabar sambil melindungi si ulat dari incaran burung lain, gelatik bahkan bertengkar dengan beberapa burung yang ingin menyantap sang ulat yang dengan tekun memintal kepompongnya.
Singkatnya sang ulat sudah berada di kepompong dan mulai proses semedinya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu impiannya.
gelatik sambil menunggu mencari makanan apa saja yang bisa ia makan untuk mengisi perut kosongnya, sesekali dia mengintip apakan si ulat sudah mulai tumbuh sayapnya atau belum.
akhirnya waktu yang si ulat janjikan pun tiba, gelatik mengintip sekali lagi tetap saja belum tumbuh sayap. dan gelatik pun berkata pada ulat “hai ulat ….keluarlah sudah sampai batas waktu yang kau janjikan, mana bukti ucapanmu.?”
berkali kali gelatik berteriak tetap saja ulat tak keluar….akhirnya habis sudah kesabaran gelatik, dengan geram ia pun mulai matuki kepompong Jena….dan setelah berlubang gelatik mulai mencoba mematuki Jena, dan jenapun sudah mulai menggeliat-geliat dan terkaget karena ada burung yang mencoba memakannya.
Jena berteriak “heiii hentikan…..hentikan….tunggu aku keluar ….” lalu jena meraya keluar dengan kaki baru nya dan mulai keluar dari kepompong” tubuh Jena berubah total, sayapnya begitu cantik dan sekarang Jena memiliki kaki. dan mulai mengepakan sayapnya.
Jena berkata pada Gelatik “nah gelatik lihat aku buktikan bukan ? aku dapat terbang sepertimu..maukah kamu menjadi sahabatku ? ” gelatik takjub dan terkagum-kagum karena Jena ulat hijau yang lezat berubah menghitam dan memiliki sayap dan kaki seperti dia….
makan Jena sang kupu-kupu bersahabat dengan gelatik dah terbang bersama-sama.

*** : Tetaplah pada tujuan mula-mula, apapun yang terjadi, rintangan apapun yang menghadang, jangan ragu, karena jika kita mau maka kita bisa mencapai apa yang selalu kita cita-citakan.

About