Tampilkan postingan dengan label DRAMAtical Murder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DRAMAtical Murder. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

[Fanfic] I Found You On The Roof (chap. 1) - (DRAMAtical Murder)



Title                 : I Found You On The Roof

Pair                  : Clear X Aoba

Fandom           : DRAMAtical Murder

Genre              : Shounen-Ai, Angst

Author            : Lycoris


Kau tak akan tau bagaimana rasa kehilangan ketika kau sendiri belum mengalaminya


“Aoba-san........”

“Ngh...Clear...Clear...Clear !!”

“Aoba-san, jaga dirimu.....”

“Cleaaaaaarr !!”

Keringat mengucur deras, nafasnya memburu. Segera ia terbangun dari tempat tidur yang berukuran single itu. Hanya mimpi, batinnya. Tapi di mimpi itu terlihat sangat nyata sekali.
“Clear...” lirihnya sembari melihat ke samping kiri tempat tidurnya. Sebuah boneka jellyfish besar berwarna biru muda.
“Kenapa kau menghilang setelah perasaan ini kau berikan kepadaku.”


Seragaki Aoba, pemuda berusia 23 tahun dengan surai biru panjang dan manik coklat muda. Setiap hari ia bekerja part time di Heibon. Aoba –begitu panggilannya- adalah sosok pemuda yang ramah dan baik, yah jika bukan karena trio ‘pembuat onar’ yang hampir setiap hari mengunjungi tokonya dan membuatnya kesal bahkan bisa berteriak hingga terdengar di luar Heibon.
Namun sudah selama setengah tahun Aoba terlihat tak bersemangat, ada sesuatu yang sedang mengganjal hatinya. Memang ia masih seperti Aoba yang semua orang kenal namun ketika ia sendirian sosok ramah dan baik itu akan berganti dengan sosok yang pemurung dan pendiam. Sudah sering kali Tae –neneknya- mendapati Aoba yang tak fokus bila diajak bicara. Bukan berarti Tae tidak sadar dengan perubahan Aoba. Wanita tua berambut merah muda itu sadar benar dengan keadaan cucunya selama ini. Dan ia yakin karena apa, lebih tepatnya karena siapa ia menjadi seperti ini. Hanya sosok itu yang telah membuat Aoba menjadi pendiam, dan hanya sosok itu pula yang telah membuat raga Aoba terkadang tak bersama jiwanya.

“Aoba...” sapa Tae yang berhasil membuyarkan lamunan Aoba yang sekali lagi melanglang entah kemana.
“Ah..hai Obaa-chan. Ada apa ?” Aoba kembali ke kenyataan dan melihat ke arah Tae yang duduk di ujung meja makan.
Tae menghembuskan nafas pelan, ditatapnya segelas teh hijau yang setiap pagi menjadi teman minumnya. “Sampai kapan kau akan seperti ini ?”
“Eh ? maksud Obaa-chan ?” Aoba memandang Tae dengan tatapan tak mengerti.
“Wanita tua ini tau apa yang sedang ada di kepalamu selama lebih dari setengah tahun ini.”
Deg
Aoba menundukkan kepalanya. “Obaa-chan...” lirihnya.
“Maaf Obaa-chan. Tapi...kau tak perlu mengkhawatirkan aku yang seperti ini. Aku..aku tak apa-apa.”
Belum sempat Tae berkata lebih lanjut Aoba telah berdiri dari kursinya dan segera mengambil tas duffel berwarna putih biru yang tak jauh darinya dan mengalungkannya ke belakang.
Obaa-chan, aku berangkat.”
Tae hanya bisa memandang punggung cucunya yang semakin menjauh dari dapur dan menghilang di ujung pintu.
“Maaf Obaa-chan, aku hanya ingin menyimpan ini semua sendiri.” Lirih Aoba begitu ia menutup pintu rumanhnya.
“Clear....”
Segera ingatan tentang mimpinya semalam muncul kembali. Clear yang meninggalkan Aoba sendirian di atap rumahnya, tanpa menoleh sedikit pun. Membuka payung transparannya dan pergi entah kemana. Sekeras Aoba berteriak Clear tak menoleh sedikit pun. Mimpi yang hampir selalu sama, dan Aoba hanya bisa semakin merasakan nyeri yang tak tergambarkan di dadanya. Aoba menggelengkan kepala pelan, berusaha menepis mimpi (nyata) semalam. Ditatapnya langit biru pagi itu, sebentuk wajah imajiner tergambar dan pemuda manis itu hanya bisa tersenyum masam.

Aoba kemudian memasang headphone pink yang dengan setia menggantung di lehernya. Segera ia memilih lagu dari coilnya dan berjalan dengan santai menuju Heibon. Di tengah perjalannya menuju Heibon sesuatu bergerak-gerak dari dalam tasnya. Dengan pelan ia membuka zipper  tas itu dan di dapatinya sosok anjing kecil berwarna biru tua, Ren –begitu nama Allmatenya-.
“Aoba.” Sapa Ren dengan lidah pink yang menjulur.
“Ren, aku tak ingat telah menghidupkanmu.”
“Aoba tidak sengaja menekan tombol ketika sedang mengambil uang di dalam tas.” Ucap Ren datar dan Aoba mengingatnya.
“Ah iya, gomen Ren.” Ia tersenyum kepada Allmate yang sudah menemaninya sejak berumur 10 tahun itu.
“Aoba...”
Doushita Ren ?”
“Apa kau yakin kau baik-baik saja dengan semua ini ?” perkataan Ren sontak membuat Aoba berhenti berjalan.
“Ren...” Aoba menunduk. “Aku baik-baik saja Ren.....mungkin.”
Segera Aoba mematikan Ren. “Maaf Ren.” Dengan senyum yang dipaksakan ia kembali berjalan.

------------------

Hari ini masih sama saja dengan hari-hari kemarin. Aoba yang duduk di belakang meja kasir dengan sesekali memainkan game untuk mengusir kejenuhan. Heibon memang tak terlalu banyak pengunjung, kebanyakan mereka memesan barang via telepon dan beberapa waktu kemudian Aoba atau terkadang Haga-san yang mengantarkannya ke pemesan. Dan seperti biasa pula trio ‘pembuat onar’ muncul dan membuat Aoba naik pitam karena mereka berlarian di dalam tokonya.

Omae ra ! sudah kubilang berapa kali jangan berlarian di dalam toko !” teriaknya yang hanya disusul nada menjengkelkan dari Kio, Nao dan Mio.
Urusai na !”
“Aoba tidak asyik.”
“Orang dewasa memang menjengkelkan.”
Dan begitulah terjadi keributan di dalam Heibon sampai pada akhirnya mereka bertiga berlari keluar ketika Aoba sudah sangat marah dan berteriak kencang kepada mereka.

“Dasar anak-anak menyusahkan!”
Mungkin Aoba masih bisa mengalihkan rasa sakit hati serta kehilangan itu dengan aktifitas sehari-harinya. Namun tetap saja sosok pemuda berambut putih itu tak bisa hilang dari dalam fikirannya. Clear terlalu berat untuk dilupakan dengan mudah. Entah itu semua perkataannya, senyumannya, bahkan sentuhannya. Aoba tak bisa dan tak akan pernah bisa untuk menghapus segala memori begitu saja. Clear lah penyebab ini semua. Ia yang menyebabkan Aoba menjadi ‘gila’ seperti ini. Dulu ia yang memberikan semuanya kepada Aoba, dan kini setelah perasaan itu muncul Clear menghilang begitu saja. Meninggalkan sepucuk surat dan sebuah boneka jellyfish di beranda kamarnya. Dan sejak saat itu Aoba tak pernah bisa menemukan pemuda dengan gas mask yang terkadang ia pakai itu. Entah sudah berapa kali Aoba ke rumah Clear namun tak ada siapa-siapa disana. Entah sudah berapa puluh kali Aoba terdiam di beranda kamarnya di lantai 2, menunggu Clear. Dan entah sudah berapa kali Aoba mencari Clear di setiap sudut pulau Midorijima –tempatnya tinggal- dan ia tetap tak bisa menemukan Clear. Clear hanya bisa muncul di fikiran Aoba, ia hanya bisa muncul di khayalan serta memorinya. Ia tak pernah muncul lagi secara nyata di depannya.
Setiap malam ketika akan berangkat tidur tak lupa ia menyelipkan doa, berharap ia bisa bertemu dengan Clear walau pun itu semua hanya lewat mimpi. Dibacanya berulang-ulang kali sepucuk surat dari Clear yang sampai saat ini Aoba tak tahu apa maksudnya.

Di lembutnya angin yang berhembus. Ku temukan sebuah benda berharga yang tak ternilai harganya. Aku tahu suatu saat tangan ini tak akan bisa lagi merasakan kehangatan. Tapi aku percaya di atas sana ia akan selalu melihat bintang dan menunggunya untuk di genggam.”

  Lagi. Kesepian itu muncul memenuhi setiap rongga tulang-tulangnya serta setiap tetes darahnya. Saraf-saraf otaknya tak mampu berpikir lagi jika rasa itu muncul kembali. Bukan hanya Aoba yang merasakan, melainkan hampir semua orang yang dekat dengannya. Meskipun mereka tak merasakan perasaan kehilangan akan Clear layaknya Aoba, namun yang mereka rasakan justru perubahan drastis sikap dan sifat Aoba.
Aoba menjadi lebih pendiam, Aoba menjadi sering melamun, Aoba menjadi tak bersemangat, Aoba sudah tak seperti dulu, serta bla bla bla. Bukan hanya Tae dan Ren yang selalu menanyakan keadaan Aoba melainkan juga Haga-san, Koujaku, Mizuki, Yoshie-san serta terkadang Noiz yang terkadang mampir ke Heibon hanya untuk sekedar mengucapkan ‘hi’ kepada Aoba. Bukan berarti Aoba selalu diam ketika menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mereka, ia selalu dan  selalu mengelak. Ia tak ingin berbagi dengan orang lain tentang kesepiannya, yaah meskipun sekarang secara tidak langsung orang-orang di sekitarnya telah merasakan dampak dari kesepian Aoba.

“Hhhh..” Aoba menghembuskan nafas pelan. Ia kembali duduk di balik meja kasir setelah ‘insiden’ hariannya itu. Pikirannya kembali melayang entah kemana, meninggalkan kenyataan di dunia yang ia pijak sekarang. Jika saja Aoba tak pernah bertemu dengan Clear hari itu maka ia tak akan pernah seperti ini. Namun ia menyadari bahwa jika ia tak pernah bertemu dengan Clear mungkin sampai sekarang ia tak akan memiliki perasaan menggilitik namun menyakitkan seperti ini.

“Bukankah semua yang terjadi memiliki alasan tersendiri. Dan alasanku ada disini adalah untuk ada di samping Aoba-san. Melindungi Aoba-san, serta selalu membuat Aoba-san tersenyum.”

Tiba-tiba saja kata-kata dari Clear itu muncul begitu saja di kepalanya. Pernyataan yang waktu itu membuat Aoba merona sendiri. Apalagi Clear memasang wajah serius ketika mengucapnya –biasanya Clear terlihat seperti anak-anak untuk Aoba-. Kau pembohong Clear, batin Aoba. Kata-kata Clear sudah seperti angin yang hanya lewat begitu saja. Pada awalnya memang menyejukkan dan membuat nyaman, namun pada akhirnya ia hilang dan meninggalkan rasa panas.

“Aoba...” ujar seseorang yang kini sudah berada di depan meja kasir. Aoba tak menyadari keberadaan sosok itu sampai orang itu menyapa Aoba dengan keras. Segera pikiran yang sedari tadi pergi entah kemana kembali ke dunia dimana ia berada.
Aoba menoleh dengan cepat. Sosok yang sangat familiar.
“Ngh...Koujaku.”
Koujaku, teman masa kecil Aoba kini telah berdiri dengan tegap di depan Aoba. Raut wajah Koujaku masih sama dengan beberapa bulan yang lalu, mengkhawatirkan Aoba. Koujaku bukan tak ingin bertanya namun sepertinya ia sudah tahu dengan jawaban apa yang akan ia dengar dari bibir pemuda dengan tinggi 175 cm itu ‘Aku baik-baik saja Koujaku.’ atau ‘Kau seperti wanita tua saja, cerewet.’ Oleh karena itu ia sudah tak ingin bertanya lagi. Tapi dalam hatinya ia tetap tak tega melihat Aoba menderita seperti ini. Koujaku bukannya tak peka, ia mengetahui pasti ini semua berhubungan dengan Clear. Pemuda dengan scraft kuning itu memang baru sebentar ia kenal, namun ia menyadari keberadaan Clear telah membuat perasaan lain pada diri Aoba, bahkan Koujaku berani bertaruh bahwa Clear juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Aoba rasakan.
Aoba memandang heran Koujaku, “Koujaku, tak seperti kau kesini di waktu kerja seperti ini ? Ada apa ?”
“Ah tidak, aku hanya mampir sebentar dan ingin memastikan keadaanmu.”
Aoba membulatkan mata, “eh ? keadaanku ?”
Raut muka Koujaku seperti biasanya, datar namun di mata terdapat suatu kekhawatiran. Ia tak menjawab, hanya tatapan itu yang seolah menjawab pertanyaan Aoba.
“Haaah...kau ini apa-apaan sih. Aku baik seperti kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi.”
Tidak Koujaku, aku tidak sedang baik-baik saja. Entah hari ini, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Aku tak pernah baik-baik saja.’
“Aoba....” Koujaku berkata lembut. “Kau tahu, aku sudah mengenalmu ketika kita masih kecil. Aku sudah tidak bisa menganggapmu sebagai sekedar teman atau sahabat. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri, jadi apa yang sedang kau sembunyikan pun aku bisa mengetahuinya dengan melihat kedua matamu.” Perkataan Koujaku tersebut membuat Aoba terdiam mematung.
Melihat respon Aoba yang hanya terdiam itu membuat Koujaku semakin yakin dengan apa yang ia rasakan selama ini.
“Ini semua..pasti ada hubungannya dengan Clear kan ?” pertanyaan Koujaku secara to the point itu membuat Aoba langsung mendongakkan wajahnya ke manik ruby Koujaku, namun Aoba hanya terdiam dan tak mampu mengeluarkan suara yang ia tahan.
Koujaku menghela nafas “hhhh...aku tahu semuanya Ao—“

“Kalau memang ini semua tentang Clear, apa yang akan kau lakukan Koujaku ?” Aoba menundukkan kepalanya dan menatap lantai keramik berwarna coklat itu. “Dia....seenaknya saja memberiku ‘ini’ dan sekarang ia menghilang begitu saja. Lalu bagaimana aku bisa seperti biasanya ?!” Rasa sakit itu akhirnya Aoba keluarkan. Punggung Aoba sedikit bergetar dan Koujaku hanya bisa mengelus punggung itu dengan perlahan.

**chapter 1 END**



Doakan akan ada chapter berikutnya *eh

Rabu, 23 Juli 2014

[Fanfic] FUTARI 'the other end' (DRAMAtical Murder)

the other end of fanfic FUTARI (DRAMAtical Murder) enjoy it~

FUTARI
Cast                : Aoba Seragaki, Sei

Fandom          : DRAMAtical Murder

Genre             : Family

Rate               : T

Author            : Lycoris


             “Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”

             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”

             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”

             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”

             “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”

             “Aoba mo.”

   Sei masih duduk terdiam di samping jendela kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi, pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.” Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini, minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.

Krek
Suara pintu terbuka.
Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah menunggu kepulangannya itu.
Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit basah itu.
Aoba melepaskan pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang pucat.
Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena Aoba sudah pulang.”
Belum sempat Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki itu pelukan hangat.
Sei hanya mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
Tak beberapa lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng, “aku menunggu Aoba Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang ayah, ibu dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.


Haruka Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka berdua.
Sei Seragaki, anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10 tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba, adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.

“Nah Sei, sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh darinya.
“Un, dan karena alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka, apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar besok.


Sei tengah duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan kata-katanya.
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah itu.
   “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum hangat, “Aoba mo.”
Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.


“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan yang mereka dapat.
“Buat permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.
“Fuuuh..” lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka tidak memegang bahunya.
“Bagaimana kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka mengikuti dari belakang.

Sei dan Aoba sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.
Pagi itu, menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei, kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.” Ujar Haruka.
Sei dan Aoba pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.
Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka berdua bersama.
“Kenapa anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei, perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik, kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
Allmate adalah seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus menyayanginya.” Haruka menambahi.
Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan matanya.
“Nah ! itu nama yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang namamu Ren. Yoroshiku i Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba. Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka, dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

13 tahun kemudian

21 April.

Sore itu Aoba masih mengantarkan barang-barang dari Heibon ke alamat yang di tuju. Ren setengah berlari di samping Aoba, sedangkan Aoba kesusahan dengan barang bawaan yang lumayan banyak hingga menutupi pandangannya. Itu adalah barang terakhir hari ini.
Sampai, segera Aoba memencet tombol rumah itu. Setelah seorang wanita paruh baya keluar dan menerima barang-barang yang lumayan berat, Aoba dan Ren segera undur diri.
Allmate biru itu Aoba taruh ke dalam tasnya dan ia matikan. Ia tahu Ren juga sudah sangat kelelahan karena seharian ini mengantarkan barang.
Langkah kakinya tiba-tiba menjadi berat ketika melewati sebuah toko bunga yang sudah tutup.
“Hhhh...” ia menghembuskan nafas dengan berat. Kedua kakinya tiba-tiba berat dan membuatnya harus berdiri mematung di depan toko yang tak terlalu besar itu.
Ia menengadah ke langit yang kini telah berubah warna menjadi hitam dengan beberapa bintang yang bisa ia lihat meskipun terhalang oleh bangunan-bangunan.
“Besok ya...” katanya lirih.
“Tunggu aku Nii-san...”
Aoba pun memaksakan kakinya untuk berjalan. Kedua maniknya telah menggantung embun yang telah siap menetes. Namun dengan segera ia mengelapnya dan segera pulang ke rumah.


Kamar yang berada di lantai 2 itu dibiarkan gelap. Angin malam masuk dengan bebasnya melalui beranda yang sengaja dibiarkan terbuka. Sebuah siluet menampakkan seseorang yang tengah menumpu badannya dengan kedua tangan di tepi beranda.
Aoba masih diam seraya pandangannya memandang kosong ke depan. Sunyi, hanya suara binatang malam yang terdengar. Aoba masih menikmati kesunyian yang tercipta. Lagi pula hampir setiap hari sepulang bekerja paruh waktu di Heibon ia juga seperti itu. Menciptakan sebuah kesunyian yang hanya boleh dia sendiri nikmati.
Mungkin jika peristiwa itu tak pernah terjadi, Aoba tak akan seperti sekarang. Jika dulu pribadi Aoba adalah seorang yang periang dengan segala kemanjaannya. Sekarang semua itu telah berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri di dalam kamarnya. Merasakan memori seseorang yang telah berbagi kehidupan dengannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan Aoba hanya tinggal setengah. Ia seperti setengah hidup dan setengah mati.
Jika saja Ren yang tak secara tiba-tiba menghampirinya, mungkin Aoba akan lebih dalam lagi menyelami kesunyiannya malam itu.
“Aoba, cepat tidur. Bukannya pagi-pagi Aoba harus kesana.” Ren berkata dengan nada seperti biasanya.
“Aa kau benar Ren. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk itu.” Segera ia menggendong Ren dan menutup pintu berandanya.
Malam itu Aoba tidur dengan setitik air mata yang mengalir.


Itterasai Aoba.” Ujar Tae di depan pintu.
Hai ittekimasu baa-chan, Ren.” Aoba menatap secara bergantian neneknya dan Ren.
“Sampaikan salam kami untuk Sei.” Tae berkata dengan nada lirih dan sedih.
Aoba hanya tersenyum kecut kemudian mulai berjalan meninggalkan Tae dan Ren.


 “Kore Aoba...” ucap wanita pemilik toko bunga itu sambil memberikan beberapa bunga matahari permintaan Aoba.
“Sebuket bunga matahari seperti biasanya.” Tambahnya wanita yang kira-kira berumur 30an itu.
Aoba menerimanya dan memberikan beberapa lembar uang.
Sankyu, ja na..” belum sempat Aoba untuk pergi wanita pemilik toko bunga itu dengan sigap memegang bahu Aoba.
“Tunggu dulu Aoba. Tunggu sebentar disitu.” Ia pun mengambil beberapa tulip putih segar.
“Ini untukmu, tanjoubi omodetou.
Ia terdiam beberapa saat dan memandang bunga yang kini telah berada ditangannya.
Hai arigatou Hiza-san.” Aoba tersenyum dan beberapa saat kemudian ia meninggalkan toko bunga yang dulu sering sekali ia dan Sei kunjungi untuk membeli bibit bunga matahari. Dan beberapa bulan kemudian mereka berdua akan kembali untuk menjual biji-biji bunga matahari di tempat itu.
Itu dulu sekali sewaktu mereka masih kecil dan Sei masih bisa berjalan-jalan. Ya dulu, sebelum semuanya berubah.


Didekapnya sebuket bunga matahari dan beberapa bunga tulip yang baru saja ia beli. Udara pagi Midorijima memang segar apalagi jika sudah dekat dengan pantai seperti ini. Hampir setengah jam Aoba berjalan, hembusan angin pantai bisa ia rasakan.
Tak jauh lagi. Di lihatnya sebuah bukit yang sangat dekat  yang menjorok ke pantai. Itu adalah tempat tujuannya. Karena disana Sei sudah menunggu ke datangannya.


“Aku datang Nii-san.” Di lihatnya dengan tatapan sendu sebuah gundukan yang di atasnya sudah ditumbuhi rerumputan itu. Sebuah nisan dari kayu berwarna coklat tua dengan ukiran ‘Sei Seragaki’ terpampang jelas di depan Aoba.
Aoba berjongkok di depan makam yang merupakan satu-satunya yang ada disana.
Otanjoubi omedetou Nii-san.” Ucapnya parau yang disertai dengan sebuah senyuman getir. Ditaruhnya sebuket bunga matahari itu. Ia terdiam, lama. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang memanas. Di telannya ludah dengan berat. Masih terngiang ingatan 2 tahun yang lalu, ketika ia dengan jelas melihat sebuah kendi porselain yang berisikan abu Sei dikubur disana. Serasa sebagian hidupnya telah terkubur juga. Karena alasan itulah sikap dan sifat Aoba berubah.
Tiba-tiba saja kedua mata Aoba terasa sangat berat dan ia pun tertidur di samping makam Sei.

“Aoba...” suara lembut yang sangat ia rindukan itu membangunkan Aoba dari tidurnya.
Aoba masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Nii----Nii-san.” Aoba hanya bisa tergagap begitu melihat Sei berjongkok di depannya.
“Aku disini Aoba, apa Aoba merindukanku ?” Senyum yang sangat Aoba rindukan kini bisa ia lihat dengan jelas.
Segera Aoba bangun dari posisi tidurnya dan memeluk kakaknya tiba-tiba.
“Nii-san aku sangat merindukanmu, sangat dan sangat.” Air mata Aoba akhirnya keluar. Sei mengelus punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.
Selama beberapa saat mereka berpelukan. Aoba begitu menikmati pelukan hangat sang kakak. Sudah lama ia tak mendapat pelukan yang selalu bisa membuatnya tenang itu.
“Aoba, kau sehat kan ? Kau selalu makan masakan Baa-chan kan ? Ah iya apa Baa-chan baik-baik saja ? Dan Ren ?” Sei bertanya tanpa jeda. “Hehe gomen gomen aku bertanya banyak sekali pada Aoba.”
“Iie Nii-san, daijobu. Semuanya baik-baik saja. Nii-san bertanya apa saja pasti akan aku jawab.”
“Hai hai Aoba sangat baik.”
Aoba pun melepas pelukannya. Ia memandang Sei dengan setengah percaya setengah tidak. Sei yang meninggalkannya 2 tahun yang lalu telah berada di depannya. Tersenyum, bahkan memeluknya.
“Ini....nyata kan Nii-san ?”
“Hmm ?” Sei menatap Aoba. “Tak peduli ini nyata atau tidak, tak peduli jika ini mimpi atau bukan. Bukannya yang lebih penting kita bisa bertemu ?”
Aoba terdiam sejenak.”a-aaa....”
“Ne Aoba, apa Aoba kesepian ?”
“........”
Aoba tak berani menatap manik hitam Sei. Bahkan Sei tak bertanya pun harusnya ia sudah tau bahwa Aoba sangat kesepian. Sangat. Setelah di tinggalkan oleh kedua orang tua mereka kemudian Sei, apa Aoba tak kesepian ? Berkali-kali ia telah di tinggalkan oleh orang-orang yang sangat berharga untuknya.
Sei menatap sekitarnya yang semuanya serba putih itu.
“Kau tau Aoba, aku sangat beruntung menjadi kakakmu. Karena Aoba selalu menjagaku sampai saat itu. Tak ada yang lebih membahagiakanku dari pada itu. Itu sudah cukup bagiku Aoba. Mempunyai ikatan darah dengan Aoba dan selalu bersama Aoba. Aku.....bahagia Aoba, sangat bahagia.”
“Nii-san.....” ia berkata lirih diikuti oleh tatapan lembut Sei.
“Meskipun terbilang singkat kebersamaan kita tapi hari-hari yang kita jalani bersama sudah membuat hidupku yang singkat ini berharga dan bahagia. Aoba sudah membuatku tersenyum, dan sekarang masih banyak orang yang harus Aoba buat tersenyum juga. Ada Baa-chan serta Ren yang sangat membutuhkan Aoba.”
Air mata Aoba jatuh kembali  tanpa ia sadari. Ia terlalu terpuruk atas kehilangan kakaknya itu hingga ia melupakan orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang selalu mengkhawatirnya, orang-orang yang ingin Aoba tersenyum seperti dulu.
“Aoba mengerti kan ? Lagi pula ini bukan akhir Aoba, ini adalah awal. Karena....suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Pasti.”
“Nii-san, aku....aku juga sangat beruntung bisa menjadi adikmu. Berbagi semuanya dengan Nii-san. Dan....”Aoba memenggal perkataannya.
“Hmmn ?”  Sei menatap lekat-lekat adiknya. “Aoba, sepertinya aku harus pergi lagi sekarang.”
Aoba tak mengerti dengan apa yang Sei katakan. Hingga dengan perlahan tubuh Sei mulai menghilang.
“E—ehh ?? Nii-san aku.....aku, aku akan hidup untuk orang-orang yang ada disekitarku. Membuat mereka semua tersenyum !” ia tak bisa lagi membendung air mata itu. Semuanya jatuh.
Sei tersenyum hangat dan mengangguk pelan. Dan Aoba berusaha memeluk kakaknya itu sekali lagi. Meskipun perlahan ia mulai menghilang. Aoba hanya ingin memeluk Sei sekali lagi.
“Aku tau Aoba akan bisa berjalan kembali.” Sei menepuk halus kepala Aoba, meninggalkan rasa nyaman yang tak akan pernah Aoba rasakan kembali. “Aoba selamat tinggal.”
“Nii-saaaaaannnn.......”
Hilang, meninggalkan Aoba yang memeluk erat badannya sendiri. Dan ia pun tertidur kembali.


Semilir angin membuatnya terbangun. Di kedua pipinya terdapat bekas air mata. Masih sangat jelas semuanya, Sei yang selalu ia ridukan.
Ia pun tersadar, merasakan di tangan kanannya ia menggenggam sesuatu. Dilihatnya benda itu, dan ia pun tersenyum. Nyata, apa yang ia alami adalah kenyataan.
Sei yang selalu melihatnya dan Sei yang selalu ada di sebelahnya.
Nii-san, akan aku jaga ini seperti waktu itu. Dan aku akan membuat orang-orang yang ada si sekitarku tersenyum. Aku berjanji.”


Pemuda bersurai biru itu pun mulai beranjak dari tempat itu. Meninggalkan sebuket bunga matahari yang kini tengah bersender dengan nisan kayu.

“Aoba harus ingat, tak ada orang yang benar-benar sendiri di dunia ini. Begitu pula dengan Aoba.”


---OWARI---




terima kasih untuk lagu Tears by Ito Kanako. karena dengan lagu itu author akhirnya bisa cepet nyelesein ending untuk ini fanfic, meskipun harus absen 3 bulan.

Selasa, 22 April 2014

[Fanfic] FUTARI (DRAMAtical Murder)


For Aoba and Sei birthday (22 April).


Cast                 : Aoba Seragaki, Sei

Fandom           : DRAMAtical Murder

Genre              : Family, general

Rate                 : T

Author             : Lycoris


             “Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”
             “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”
             “Aoba mo.”


   Sei masih duduk terdiam di samping jendela kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi, pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.” Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini, minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.

Krek
Suara pintu terbuka.
“Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah menunggu kepulangannya itu.
Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit basah itu.
Aoba melepaskan pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang memang pucat.
Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena Aoba sudah pulang.”
Belum sempat Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki itu pelukan hangat.
Sei hanya mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.

Tak beberapa lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng, “aku menunggu Aoba, Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang Tou-san, Kaa-san dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.

Haruka Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka berdua.
Sei Seragaki, anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10 tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba, adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.

“Nah Sei, sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh darinya.
Un, dan karena alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka, apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar besok.

Sei tengah duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan kata-katanya.
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah itu.
   “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum hangat, “Aoba mo.
Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.



“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan yang mereka dapat.
“Buat permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.

“Fuuuh..” lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
“Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
“Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka tidak memegang bahunya.
“Bagaimana kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka mengikuti dari belakang.

Sei dan Aoba sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.

Pagi itu, menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei, kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.” Ujar Haruka.
Sei dan Aoba pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.
Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka berdua bersama.
“Kenapa anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei, perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik, kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
“Allmate adalah seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus menyayanginya.” Haruka menambahi.
Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan matanya.
“Nah ! itu nama yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang namamu Ren. Yoroshiku Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba. Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka, dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
13 tahun kemudian

Aoba masih sibuk mengantar barang-barang Heibon di sekitar Midorijima. Ren, berjalan di depan Aoba, tak biasa karena biasanya Ren selalu masuk ke dalam tas duffel yang Aoba selempangkan.
Sudah sekitar pukul 5 sore tapi ia belum selesai melakukan pekerjaan paruh waktunya, pasti Sei dan Tae tengah menunggunya sekarang.
Yabai, sepertinya aku harus cepat-cepat.” Aoba pun akhirnya berlari untuk mengantarkan barang yang terakhir dan Ren pun terpaksa harus berlari juga untuk menyusul Aoba yang sudah hampir 13 tahun menemaninya.

“Aoba telat pulang lagi sepertinya.” Ujar laki-laki berambut hitam sebahu lirih. Ia masih sibuk menata makanan yang baru saja ia masak. Itu adalah pekerjaannya sehari-hari, karena sangat tidak mungkin ia untuk bekerja terlalu keras yang dapat menyebabkan kondisi badannya memburuk.
Sei, yang ia lakukan sehari-hari adalah membuat boneka-boneka kecil pesanan orang-orang sekitar Midorijima. Selain itu ia yang biasanya menyiapkan makanan untuknya, Aoba dan Tae. Sebenarnya jika bisa ia ingin sekali bekerja diluar seperti adiknya dan neneknya, bahkan sampai melakukan perjalanan seperti kedua orang tuanya. Tapi sepertinya kondisi badannya yang harus terus menerus tergantung dengan obat menyebabkan ia tak bisa melakukan hal-hal itu.
Pemilik suara lembut itu hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah, dan jika ia keluar pun ia tak boleh terlalu lama. Tapi meskipun ia seperti itu, setidaknya ia tidak berdiam diri begitu saja, menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Sei masih bisa beraktifitas meskipun tidak terlalu berat.
Dan hari itu, seperti biasanya, makanan sudah tersiap di atas meja makan. Tinggal menunggu Aoba dan Tae pulang. Tapi sepertinya lagi-lagi ia harus menunggu Aoba, ia telat lagi untuk pulang. Heibon memang sedang ramai-ramainya sekarang, itu yang Aoba katakan tempo hari kepadanya.
Tadaima.” terdengar suara wanita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi di ujung pintu. Itu Tae, siapa lagi. Sei pun segera berjalan ke depan untuk menyambut nenenknya.
Okaerinasai baa-chan.” Sei membalas Tae dan mengulurkan tangannya, membantu Tae. Dan seperti biasa pula Tae akan menolak, karena baginya ia belum begitu lemah untuk berjalan, mengingat ia yang setiap haru juga harus berjalan untuk sampai ke laboratorium tempatnya bekerja meskipun itu hanya berjarak sekitar 2 blok dari rumah mereka.
“Apa Aoba belum pulang ?” tanya Tae sambil duduk di atas meja makan.
“Belum. Ia telat pulang lagi sepertinya.” Sei pun menaruh segelas teh kegemaran Tae.
Arigatou Sei.” Sei pun mengangguk pelan.
Tae pun menyeruput pelan teh buatan cucunya itu. Kemudian ada suara pintu digeser.
Tadaimaaaa.” Suara yang sangat familiar, Aoba.
Okaerinasai.” Jawab Sei yang kini menyambut Aoba layaknya apa yang ia lakukan kepada Tae. Sudah menjadi kebiasaannya seperti itu.
Nii-chan gomen aku terlambat lagi.” Aoba dan Sei segera berjalan bersama ke ruang makan.
“Heibon sedang ramai jadi maklum saja Aoba selalu pulang telat.” Sei menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Tae, Aoba berada di sampingnya.
Aoba pun menaruh tasnya di kursi sebelahnya, ia kemudian membuka zipper tas itu.
“Sei, Tae konbanwa.” Ujar allmate berwarna biru tua itu.
Konbanwa Ren, apa kau lelah hari ini ?” tanya Sei kepada Ren.
“Tidak juga karena beberapa kali Aoba mematikanku.” Jawabnya seperti biasa.
“Hmmm baguslah, tolong jaga terus Aoba ya.” Sei tersenyum ke arah Ren, Ren hanya menjawab ‘haa’.
Aoba pun mematikan Ren, ia berjalan ke washtafel dan mencuci tangannya.
Saa mari kita makan.” Ucapnya.
“Um..”
Itadakimasu.
               

         Sei membuka jendela beranda kamarnya sekaligus kamar Aoba itu. Meskipun mereka bukan lagi anak kecil tapi Aoba sendiri yang tidak menginginkan mereka untuk pisah kamar. Sekamar berdua, sama seperti dulu.
        Aoba selesai mandi ketika ia melihat Sei sendirian di beranda kamarnya sambil menatap langit malam. Dan ia pun jadi teringat benda yang ia beli ketika mengantarkan barang tadi. Hadiah untuk Sei. Pemilik rambut biru panjang itu pun mengambil benda di dalam tas duffelnya, ketemu.
          Ia pun menghampiri Sei, Sei menoleh mendapati Aoba yang kini disampingnya.
        “Katakan padaku Nii-san, hadiah apa yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu besok ?” pertanyaan yang selalu sama setiap tahun. dan Aoba sendiri juga tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Sei.
        “Aku hanya menginginkan Aoba untuk selalu bahagia.”
        Pasti itu yang akan kakaknya katakan.
       “Aku hanya ingin Aoba untuk selalu bahagia.” Ujar Sei lembut.
       Aoba hanya menghembuskan nafasnya pelan, benar dugaannya. Kemudian ia meraih bahu Sei, mereka berdua pun berhadapan.
       “Kau tau Nii-san aku sudah bahagia sejak kita selalu bersama. Dan aku sudah sangat bahagia berada di dekatmu seperti ini. Aku tak masalah jika Nii-san dan yang lain masih menyebutku manja atau apa. Hanya saja aku memang tidak bisa jauh darimu Nii-san. Mungkin kini saatnya aku yang akan membahagiakan Nii-san.” Aoba pun menaruh benda yang sedari tadi ia kantongi ke telapak tangan kanan Sei. Sebuah kristal setengah lingkaran yang di dalamnya terdapat salju-salju yang bertebaran bila kita menggoyangkannya.
Sei hanya terheran dengan apa yang diberikan oleh adiknya itu.
Nii-san itu seperti salju, lembut, dingin tapi membuatku selalu nyaman. Oleh karena itu aku tak pernah bisa jauh dari Nii-san dan aku juga tak ingin jauh dari Nii-san.”
“....”
Saa, tanjoubi omedetou Sei Seragaki.” Aoba tersenyum lebar. Sei pun meneteskan air matanya.
Tanjoubi omedetou Aoba Seragaki.” Balas Sei yang kemudian mereka saling memeluk satu dengan yang lainnya.

***END***



*pojok author*
Tau tau fanficnya tidak terarah, ini gara2 bikinnya cuma semalam. Dan memang awalnya bukan konsep ini yang dibuat, tapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya bikin yang ini saja, yang konsep satunya buat besok-besok saja (?). Dan di DMMd ini author sangat menyukai Sei yaah meskipun ia muncul paling akhir terus mati :') Tapi tetap kecintaan author dengannya tidak berubah malah semakin bertambah (?).

HAPPY BIRTHDAY AOBA, SEI and REN !!


About