Jumat, 18 Oktober 2013

[DRABBLE] 相棒 (Aibou) !! (BORN)




Title                : 相棒 !! (Partner)
Author            : Lycoris
Fandom          : BORN
Cast                : Ray, K, Ryoga, TOMO, KIFUMI
Genre             : Friendship
Rate               : T
Warning!      : Ini hanya drabble yang berisikan kerinduan author kepada KIFUMI yang sebagian juga terinspirasi oleh wawancara BORN oleh Visulog yang menyinggung sedikit tentang dia dan sebagian lagi isi ameblo para member waktu KIFUMI hiatus.


Until KIFUMI comes back, we’ll do more and more – K in his ameblo


Masih di ruangan yang sama. Ruangan yang luasnya tak lebih dari 7 m x 6 m, dengan drum set yang terletak di tengah-tengah ruangan, beberapa gitar yang berjejer rapi, beberapa microfon, beberapa ampli, beberapa case gitar dan bass, serta sebuah bass. 

Ryoga masih duduk dengan kaki kanan yang berada di atas kaki kirinya. Beberapa kertas ia tumpuk menjadi satu dan pada kertas paling atas beberapa tulisan telah menghiasi. Sesekali ia menerawang ke atas atau beberapa kali ia membenturkan bolpoin ke kepalanya, membuat lirik lagu.

Tomo duduk tak jauh darinya. Di sofa berwarna coklat tua dan di tangannya sepasang stick drum acap kali ia mainkan, seolah-olah ia sedang memukul drumnya. 

K masih memakai headphonenya di kursi paling pojok di ruangan itu, mendengarkan beberapa lagu mereka yang terdapat di iPhonenya. Tangannya sesekali terlihat seakan sedang memainkan melody. 

Ray, si leader itu  sedang berkutat dengan macbooknya di meja yang tak jauh dari K berada. Ia tak sedang mengaransemen lagu karena ia tak sedang menenteng gitarnya. Yang ia lakukan justru beberapa foto mereka yang tersusun rapi di macbook silvernya. 

BORN > WE ARE

Klik

Ray tersenyum sendiri. Foto itu dari mereka masih memakai nama D&L lalu berganti ke Renny Amy dan sampai sekarang, BORN. Beberapa foto menunjukkan ketika yang difoto sedang tak sadar dan beberapa malah terlihat memalukan dan hanya mereka berlima sendiri yang tau tanpa pernah di share kepada para penggemar. Ada foto K yang sedang tidur topless sambil memeluk Ryoga, ada pula foto Tomo yang sedang kaget karena menerima kue ulang tahunnya, ada juga foto Ray yang sedang disiram air oleh teman-temannya di saat ulang tahunnya, dan ada foto Kifumi yang menutupi badannya karena ia tak memakai apa-apa. Kifumi, nama terakhir itu yang ia rindukan. Bukan Ray saja, melainkan mereka, Ryoga, K, dan Tomo. Ah iya bukan hanya keempat pemuda yang sudah lebih dari 6 tahun bersama yang merindukan Kifumi, tetapi juga manager, staff management, teman-teman sesama musisinya serta para fans. Mereka semua merindukan Kifumi.

Kifumi, setelah oneman live Devilish of the PUNK ia menyatakan diri hiatus. 

Meskipun hari ini adalah yang terakhir aku berdiri bersama kalian tapi aku berjanji aku akan segera kembali. Dan selama aku tak bersama kalian, tetaplah buat musik yang mencirikan itu kita, BORN. Aku akan sangat merindukan bermain musik dengan kalian.” Itu adalah kata-kata terakhir Kifumi sebelum ia benar-benar ‘menghilang’.

Ray masih tersenyum bahkan sekarang tertawa sendiri. Hal itu membuat Ryoga, K dan Tomo menoleh ke arahnya.

“Hei Ray, apa yang kau tertawakan ? sepertinya kau menikmati sekali.” Tomo menghentikan aktifitas memainkan stick drumnya dan menghampiri Ray.

Ray menoleh, “Ah tidak-tidak aku hanya sedang melihat foto-foto kita jaman dulu. Ternyata wajah kalian masih terlihat culun.” Katanya di tengah tawanya.

Kini Tomo telah duduk di samping Ray, menengok ke layar macbooknya. Terpampang foto ‘tanpa dosa’ mereka berlima yang sedang tak memakai baju dan hanya memakai celana dalam saja.

“Oee oee ini memalukan, dan kau ternyata yang menyimpan foto ini.” Tomo mendengus pelan.

“Tapi ini lucu Tomo, apalagi si Ryoga dan—Kifumi..” Ray seketika menghentikan tawanya dan menatap ke bass yang berada tepat di depannya.

Seketika mereka yang ada di ruangan itu diam.

“Ia benar-benar tanpa kabar ya.” K berkata dengan senyum simpul yang ia paksakan.
Ryoga menaruh kertas-kertas lirik itu di sebelahnya, “Ia telah membuat para fans khawatir, dan merindukannya.”

“Bukan hanya para fans kan ?” Ray menyela. “Tapi juga kita..” Ray melihat lagi foto setelahnya, Kifumi yang tersenyum ke arah kamera dengan beberapa kado di tangannya.

 “Ya kau benar, ia benar-benar membuat kita khawatir. Sudah lebih dari 6 bulan ia benar-benar tak pernah menenteng bassnya.” K berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah bass kuning Kifumi lalu memegangnya dengan pelan.

Ryoga menatap display iPhone hitamnya. Foto mereka berlima. “Dia memang benar-benar menyebalkan, membuat keputusan hiatus lalu sekarang tanpa kabar begitu.” Ryoga tersenyum. “Tapi kita yakin kan kalau ia akan kembali bukan ?” kedua manik coklat Ryoga kini berganti menatap ketiga teman-temannya bergantian.

Mereka bertiga sontak menatap balik Ryoga sambil tersenyum.
 “Tentu saja !” ujar K.

“Ia bukan orang yang akan meninggalkan musik begitu saja.” Ujar Tomo.

“Karena ia menaruh kepercayaan kepada kita untuk terus berkarya maka dari itu kita harus mempercayainya kalau ia akan cepat kembali !” Ray berkata mantap.

“Ahahaha oleh karena itu tak ada yang perlu di khawatirkan kan ? Meskipun ia tak memberi kabar kita tapi kepercayaan ini yang akan menjadi kunci kalau ia akan kembali kesini.” Ryoga berjalan ke arah teman-temannya.

Saa, kalau begitu ayo kita latihan !!” Ray memberi perintah ke ‘anak-anaknya’ dan diikuti senyum penuh semangat dari Ryoga, K dan Tomo.

Ready leader-sama !” K memberi hormat lalu mereka yang ada disitu pun tertawa.




Drrrtt drrrtt
iPhone Ray bergetar segera ia mengambilnya yang berada di atas meja. E-mail. Dilihatnya siapa yang mengirim e-mail.

KIFUMI.

Segera ia membuka isi e-mail itu.

From   : KIFUMI
Subjek : Oi !


Hei kalian semua ! apa kabar ? Aku tahu pasti kalian baik-baik saja kan ? Kapan hari aku ke Tokyo dan menengok konser kalian meskipun hanya sebentar hehehe, warui aku tidak memberi tahu kalian.
Maaf aku tak pernah memberi kabar kepada kalian. Bukannya aku tak ingin tapi aku hanya ingin melihat musik kita ketika aku tak ada, dan ternyata kalian tetap menjadi alasanku untuk cepat kembali. Terima kasih kalian masih mempercayaiku sebagai salah satu bagian dari BORN. Aku berjanji akan segera kembali. Dan ketika aku kembali aku akan selangkah lebih maju lagi. Tunggu aku aibou !!”

Ray menggenggam erat iPhonenya, sebuah senyum kebahagiaan tergambar. Segera ia mengirim e-mail kepada Ryoga, K dan Tomo.

“Kita akan tetap menunggunya kan ?! Karena kita akan cepat membawa Kifumi kembali !”

----OWARI----

*ps : 相棒 (Aibou) = partner

Senin, 07 Oktober 2013

[Fanfic] EGOIST (D=OUT)

Title                 : EGOIST
Fandom           : D=OUT
Pairing             : Reika X Ibuki
Genre              : Drama, Romance, a bit Violence, Shounen-Ai
Rate                : PG 15
Declaimer        : Mereka milik D=OUT author cuma memiliki ceritanya saja

-Lycoris-


Sakit. Pemuda manis itu mengerang tertahan. Merasakan sakit di punggungnya, karena beberapa menit yang lalu ia ‘dilempar’ dengan paksa di samping tempat tidurnya dan punggungnya membentur lemari kayu oleh pemuda lain yang kini menatapnya dengan intens. Ia tak berani membalas tatapan ‘kejam’ itu, yang bisa lakukan hanya mengalihkan pandangannya pada lantai di sampingnya. Tatapan itu lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang menjalar di punggungnya.
Ruangan itu sangat berantakan, semua yang tertata rapi di tempatnya sudah berceceran kemana-mana. Masih dapat ia lihat pula lantai berkeramik putih itu basah di beberapa sudut karena bekasnya. Baju yang ia pakai basah kutup karena hujan yang turun sangat deras malam itu dan ia dengan sengaja membiarkan dirinya terkena air hujan. Tapi ia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya yang menggigil.
Pemuda bermanik coklat itu sudah tak bisa lagi menangis untuk saat ini. Air matanya sudah mengering, hanya tersisa bekas di bawah matanya yang membengkak. Ia tak pernah menyangka bahwa pemuda di hadapannya yang sangat berharga untuknya tega melakukan hal itu kepadanya. Tapi ia sadar bahwa perbuatannya lah yang membuat pemuda berlesung pipi itu bertindak seperti itu.
Sebenarnya Reika, nama pemuda itu tak pernah bertindak kejam kepadanya sebelumnya. Namun bila kesabarannya telah habis dengan beringas ia akan membanting apa saja yang ada di depannya, termasuk dirinya yang sudah hidup serumah dengannya sejak 2 bulan yang lalu itu.
Awalnya ia tak pernah bermaksud membuat Reika marah hingga seperti ini. ia hanya ingin pergi sebentar, 3 hari. Namun masalahnya ia tak ijin terlebih dulu, dan dengan menggunakan adiknya Ken sebagai perantara untuk memberi tahu Reika. Hal itu yang membuat Reika marah besar kepadanya. Ken menyampaikan bahwa kakaknya ingin pergi yang Ken sendiri juga tidak tahu kemana.

One hours ago

Tok tok tok
Dengan sedikit ketakutan ia mengetuk pintu rumahnya. Debaran jantungnya berusaha ia tata dan otaknya sedang membayangkan kemungkinan terburuk tentang apa yang akan terjadi setelah ia pergi kemarin pagi tanpa adanya ijin dari sang pemilik rumah.
2 menit lebih ia menunggu di depan pintu. Bukan karena ia tak memiliki kunci rumah itu makanya ia masih berdiri dengan manis di depan pintu kayu bercat putih itu. Namun akan lebih ‘sopan’ bila ia mengetuknya dan mendapatkan respon dari sang empunya rumah. Tapi sepertinya orang yang sangat ia harapkan tak kunjung ke depan dan membuka pintu rumahnya. Padahal hari sudah mulai larut dan mendung terlihat berarak-arak pertanda akan turun hujan. Ia menatap sepeda motor besarnya dengan lesu. “Sepertinya ia marah.” Ia bergumam.
Namun tak berapa lama setelah itu, pintu kayu itu terbuka pelan menampakkan dengan perlahan sosok pemuda yang ia tunggu sedari tadi, Reika. Raut wajahnya dingin. Kedua matanya melihat Ibuki seakan tak pernah mengenal pemuda itu.
Dengan ragu-ragu Ibuki memberanikan diri membuka bibirnya yang mengatup itu. “Tadaima Reika.”
Reika tak langsung menjawab membuat Ibuki semakin gugup.
Gomennasai, aku...sudah pergi tanpa meminta ijin kepadamu lebih dulu.”
Reika masih terdiam, namun kedua mata yang menatap Ibuki itu seakan berkata ‘lalu ?’ Ibuki mengeratkan jemarinya pada tas selempang yang ia pegang.
“Aku tak bermaksud kabur dari rumah, gomen na Reika.” Ia menundukkan kepalanya pertanda ia menyesal, namun karena tak kunjung mendapat respon dari lawan bicaranya ia semakin kesal juga. Memang begitu lah Ibuki, ia bukan pemuda yang sabar menanti sesuatu.
Reika masih diam menatap gelagat Ibuki, ia menghembuskan nafas dengan berat. Kemudian tanpa Ibuki sadari, tangan kanan Reika telah menyeret tangan Ibuki masuk ke dalam rumah, dengan kekuatannya yang besar Reika sedikit mendorong Ibuki ke tembok ruang tamunya, memojokkan Ibuki yang masih terkaget atas perlakuan tiba-tiba Reika. Tubuh Reika menumpu pada lengan kanan yang ia tempelkan ke tembok, dengan wajah Ibuki yang berjarak sekitar 10 cm dari wajah Reika. Hembusan nafas Reika bisa dengan jelas Ibuki rasakan.
Sudah sering seperti ini. Biasanya perlakuan itu akan berakhir dengan ciuman lembut di bibir Ibuki, tapi tidak untuk situasi sekarang. Ibuki masih menduga-duga apa yang akan Reika lakukan setelah ini. Ibuki menelan ludah, mata Reika masih dingin namun lambat laut melunak.
“Kenapa kau pulang sekarang ? Bukannya kau ijin 3 hari menghilang, huuh.” Tatapan itu memang melunak tapi kata-kata tajam itu seakan menikam Ibuki.
Ibuki terdiam, bukannya ia tadi sudah meminta maaf kepada Reika dan jelas-jelas Ken sudah menceritakan kepada Reika bahwa ia akan pergi. Kenapa masih saja Reika bertanya. Memang itu lah sifat Ibuki, ia terlalu malu untuk meminta maaf untuk yang kedua kali dan menjelaskan untuk yang kedua kali pula.
Dengan kesal ia mendengus. “Bukannya aku sudah maaf atas kelakuanku.”
“Meminta maaf itu mudah, semua orang bisa melakukannya. Tapi aku butuh penjelasan darimu. Kenapa kau pergi tanpa pamit dariku ? Dan untuk apa kau pergi, hmm ?” Reika berusaha sebisa mungkin masih bertanya dengan halus namun serius.
Ibuki menggigit bibir bawahnya. “Aku tunggu jawabanmu Iki-chan..” Reika menatap mata Ibuki dengan serius, sedangkan yang di tatap sudah kehabisan kesabaran. Padahal seharusnya Reika yang sudah kesal sekarang bukan malah Ibuki.
“Bukankah Ken sudah memamitkannya kepadamu, dan Ken juga sudah menjelaskannya bukan ?! Aku pergi untuk membenahi diriku sendiri, untukmu dan kenapa kau malah menyuruhku untuk pulang sekarang ?! moodku sekarang sudah hilang !” nada bicara Ibuki sedikit meninggi namun ia masih bersikap acuh kepada pemuda yang ada di depannya, tanpa memikirkan perasaannya.
Reika menghembuskan nafasnya pelan, ia tersenyum. “Hmmm ya sudah kalau kau seperti itu, pergi saja dan kau tak usah repot-repot pulang.” Tiba-tiba Reika menonjok tembok samping Ibuki dengan tangan kirinya. Ibuki terperangah dengan tindakan Reika, ia tak pernah menduga pemuda yang selalu terlihat sabar dalam bertindak itu melakukan hal tersebut.
“Bukankah dari awal kau yang sudah menyuruhku untuk pergi.” Ucap Ibuki di tengah keterkejutannya.
Senyuman Reika tak luntur namun senyuman itu berbeda dari biasanya, ada rasa sakit di dalamnya. Hal itu yang yang membuat Ibuki terdiam dengan rasa bersalah yang semakin menumpuk, tapi ia tak pernah mau mengakuinya. Entah datangnya dari mana rasa sesak yang kini tengah Ibuki rasakan.
“Sekarang terserah kau saja, aku memberikan kebebasan kepadamu untuk pergi dan tak perlu lagi untuk kembali kepadaku. Menghilang saja sesukamu.”
Ibuki menunduk menahan genangan yang dengan sekali kedip akan menetes. Ia tak tahu kenapa rasanya sesakit ini melihat senyuman Reika. Ini pertama kalinya Ibuki melihat senyuman Reika yang seperti itu.
“Bayangkan saja bila kamu yang ada di posisiku. Pergi 3 hari, iya kalau pulang tapi kalau tidak ?!” Reika mengangkat dagu Ibuki menatap manik yang sudah akan meneteskan bening asin.
“Kalau aku berkata pulang aku pasti pulang.” Ibuki berkata lirih dan menampik tangan Reika, ia kembali menunduk menahan semua perasaannya yang bercampur aduk.
Reika kembali menghembuskan nafas, ia tak tahu harus bersikap bagaimana lagi untuk menghadapi pemuda manis di depannya. Apakah Ibuki tak tahu bahwa semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkannya. Berpuluh-puluh kali mencoba menghubunginya namun tak membuahkan hasil karena keitainya di matikan. Mungkin ada 10 pesan suara yang ia kirim untuk Ibuki, tapi sepertinya Ibuki campakkan. E-mail ? sudah tak terhitung berapa kali ia mengirim e-mail yang ia tahu sampai sekarang pun tak terbaca oleh Ibuki. Jika saja Ibuki mengerti walau sedikit saja kekhawatiran yang telah Reika rasakan. Reika sudah hampir di akhir batas kesabarannya, namun sekali lagi ia mencoba untuk mengerti. Ibuki memang seperti itu, dia bukanlah pemuda yang gampang menurut. Terbukti berkali-kali Ibuki meronta bila Reika tiba-tiba memeluknya dengan erat di tengah kegiatan asyiknya.
Dua bulan bukan waktu yang sebentar untuk merubah sikap dan sifat Ibuki yang keras kepala dan semaunya sendiri itu. Tapi dengan penuh pengertian layaknya seorang pasangan yang harus selalu mengarahkan pasangannya ke yang lebih baik maka dengan kesadaran penuh Reika selalu melakukannya. Ibuki bukannya tak mau menjadi seorang pasangan yang penurut, ia juga sudah berkali-kali berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah dan memberikan perhatian yang lebih kepada Reika. Namun karena keras kepalanya serta rasa gengsi yang dominan maka sering kali ia melanggar janjinya.
“Apa yang kau dapat dengan kepergiannmu itu huuh ? Apa kau tak pernah memikirkanku ? Apa kau tak memikirkan aku yang mengkhawatirkanmu ?! Apa yang ada di fikiranmu hanya keegoisanmu semata ?” ucapan Reika meninggi ia sudah hampir kehabisan kesabarannya menghadapi Ibuki.
“Aku...aku hanya mendapat kau yang marah-marah tak jelas kepadaku sekarang!”
“Oh tak jelas ya.” Reika tersenyum dengan keterpakasaan sekali lagi. “Gomen kalau aku sudah marah-marah tidak jelas kepadamu Iki-chan.”
Bisa Ibuki rasakan pipinya yang dingin itu dielus oleh jemari hangat Reika. Jika saja Ibuki menyingkirkan sifat keras kepalanya itu maka saat itu juga ia akan memeluk tubuh yang tegap itu. Yang Ibuki lakukan malah sebaliknya, ia membuang muka dengan kasar. “Aku tahu kau telah lelah dengan hubungan ini kan, kau lelah dengan aku yang seperti ini bukan ? Bilang saja jangan malah seperti ini.”
Reika menghentikan aktifitasnya, ia terdiam. Apakah malah ini yang Ibuki pikirkan, apa semua yang telah ia lakukan untuknya hanya berarti seperti ini ?
“Baiklah kalau kau menginginkan ini, kita berdua memang sudah lelah. Aku tahu semua yang aku lakukan hanya kau pandang dengan sebelah mata, dan aku juga tahu kalau semua yang aku lakukan tak pernah berarti, hanya seperti butiran debu yang hanya bisa mengganggumu. Dan artiku untukmu hanya seperti sekelebat bayangan yang hanya bisa membuntuti sosokmu tanpa bisa meraih hatimu. Semuanya memang harus kita sudahi, hubungan ini berat sebelah. Hanya aku yang mencoba mempertahankannya sedangkan kau malah mencoba untuk meruntuhkan pondasi yang telah aku buat. Kita memang berbeda Iki-chan, terima kasih sudah menahan perasaan lelah selama ini.” Reika menepuk kepala Ibuki dengan lembut meskipun sekarang hatinya hancur. Semua yang ia lakukan percuma, semuanya sia-sia. Jadi ini yang pada akhirnya ia dapatkan. Inilah akhir dari perjuangannya untuk Ibuki, ia yang berjuang sendiri mempertahankan hubungan ini dan pada akhirnya ia juga yang harus menanggung sakit yang terdalam.
Bisa Reika lihat Ibuki menunduk, dan detik berikutnya Reika membalikkan badan.
“Terima kasih untuk semuanya Rei, aku akan pulang ke rumahku sekarang.” Ibuki sudah berjalan melewati pintu namun lagi-lagi Reika yang dengan sigap itu menariknya, membuat kedua pasang mata mereka bertemu. “Sudah malam dan sebentar lagi hujan akan turun. Bermalamlah disini, gunakan kamar kita aku akan tidur di sofa depan tv.”
“Aku hanya tidak mau lebih merepotkanmu.” jawab Ibuki.
“Aku hanya mengkhawatirkanmu, itu saja.”
Ibuki sudah bersiap untuk melepaskan tangan Reika yang dengat kuat menahan tangannya. “Sudah tak ada yang perlu di khawatirkan sekarang.”
Reika, ia heran dengan jalan fikiran (mantan) pasangannya itu. “Terserah apa katamu.” Ia tetap menarik paksa Ibuki untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Kalau aku bilang tidak perlu ya tidak perlu, kenapa kau masih memaksaku juga !” Reika berbalik dan menatap Ibuki. Ck, kenapa malah jadi bertambah berat begini, batinnya.
“Teruskan saja sifatmu itu !” ia menatap tajam mata Ibuki. “Apakah harus aku yang setiap hari terus mengalah dan selalu mengejarmu ?! Apakah hanya aku yang terus-menerus berfikir bahwa suatu hari nanti kau akan merasakan apa yang selama ini aku rasakan ?!”
“Hentikan ! kita sudah tak ada hubungan apa-apa bukan !? jadi berhentilah memaksaku !” Ibuki tahu sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, tapi sepertinya hati dan bibirnya tidak pernah sejalan.
“Jujur, aku tak pernah bisa mengerti dengan jalan pikiranmu itu. Aku biarkan kau tapi dianggap aku tak peduli terhadapmu, dan ketika aku peduli tapi kau seperti ini. Sampai kapan kau mau mengerti diriku ?” Reika mendesah pelan. Semua yang ia rasakan selama ini ia curahkan, tapi sepertinya ini sudah terlambat. Selama 2 bulan mereka bersama ia belum tahu jalan pikiran Ibuki, selama itu juga ia harus mengalah. Jadi mungkin ini adalah batasnya, batasnya untuk selalu bersikap sabar di depannya. Reika melepaskan tangan Ibuki, tapi entah kenapa ini semua malah membuatnya ragu akan keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.
“Aku akan pulang.”ucap Ibuki singkat. Sebenarnya bukan Reika saja yang  merasa seperti itu, Ibuki juga mengalami perasaan yang sama. Tapi sekali lagi sifat keras kepalanya lebih dominan dari pada ia harus berkata ‘maaf’ dan ‘aku menyesal’.
Tanpa sepengetahuan Ibuki sebelumnya, Reika menarik tubuhnya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Dengan lembut pemuda bersurai coklat tua itu mengelus kepala Ibuki. “Mungkin ini untuk yang terakhir kali.” ia membisikkan kata-kata tepat di samping telinganya, “Aishiteru..”
Ibuki membeku, ‘yang terakhir’ jadi ini memang yang terakhir kali. Kedua bola mata Ibuki memanas, tapi genangan di matanya itu masih berusaha ia tahan agar tak jatuh di depan pemuda yang sangat ia cintai itu. Ibuki tak ingin terlihat lemah di depan Reika.
Reika melepas pelukannya, ia menepuk kepala Ibuki. “Ya sudah, pulanglah. Hati-hati.” Reika kemudian berbalik badan, meninggalkan Ibuki yang masih terdiam.
Sudah tak ada gunanya’ kemudian dengan berat Ibuki berjalan menuju sepeda motor besarnya, menggunakan helm dan membenarkan letak tasnya.
Reika sudah menutup pintu rumahnya. Hatinya sakit, perasaannya hancur. Jadi inikah yang namanya ‘patah hati’ ? Ia tak berani menatap Ibuki yang kini sudah bersiap akan pulang ke rumahnya sendiri. Tak berapa lama kemudian bisa ia dengar mesin sepeda motor menyala, dan semakin lama suara itu menjauh, menandakan ia telah pergi dari sana.
Reika sedikit membuka korden jendelanya, hujan mulai turun dan sepertinya akan semakin deras. Ia mengkhawatirkan Ibuki yang sendirian menerobos hujan. Walau bagaimana pun juga sebenarnya ia tak pernah rela bila harus berpisah. Hubungan ini terlalu singkat. Tidak seperti hubungan Reika dengan Rui dulu. Padahal perasaannya kepada Ibuki jauh lebih kuat dibanding dengan perasaanya kepada Rui. Tapi kenapa malah kepada Ibuki lah hubungannya dengan cepat berakhir ?
Tatapan matanya kosong, ia sangat lelah sekarang. Semalaman ia terjaga. Dengan langkah malas ia menuju kamar tidurnya. Biasanya dia akan menemukan Ibuki yang tidur duluan jika Reika pulang larut dari kerjanya. Dengan lembut ia akan mengelus wajah damai itu dan memberi ciuman selamat tidur di keningnya, tapi itu dulu. Sekarang yang ia lihat hanya ranjang berukuran queen size dengan dua bantal dan satu guling, tak ada sosok itu.
Reika membaringkan tubuhnya yang lelah di kasur itu, pandangannya kosong menatap langit-langit kamarnya yang berwarna pastel. Pikirannya tak bisa lepas dari pemuda yang memiliki bibir manis itu.
“Iki-chan...” ia bergumam. Kemudian kedua maniknya ia alihkan ke jendela kaca di sebelahnya. Hujan turun dengan sangat deras, petir sesekali terdengar. “Hhhh..” ia menghembuskan nafas dengan berat. ‘Aku harap dia tidak kenapa-napa.’ batinnya.

Ibuki mengendarai sepeda motornya dengan sangat cepat, tak mempedulikan berkali-kali klakson mobil yang ditunjukkan sopirnya kepadanya. Bisa dibilang malam itu Ibuki berkendara dengan sangat ugal-ugalan. Ia tak mempedulikan hujan turun dengan sangat deras yang mengaburkan pandangan itu. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh percikan hujan pun tak ia indahkan, karena rasa sakit yang baru saja ia alami jauh lebih sakit dari apapun. Entah ia sadari atau tidak air mata itu jatuh begitu saja, deras sederas hujan malam itu. Ia tak pernah membayangkan tindakannya itulah yang menyebabkan ini semua berakhir dengan cepat.
Reika, pemuda bermanik hazel itu yang mampu menghipnotisnya. Ia adalah pria pertama yang berhasil merebut hati Ibuki. Meskipun Reika tak pernah memperlihatkan sikap perhatiannya di depan umum tapi ia bisa merasakan bahwa perasaan Reika kepadanya sangat lah kuat. Meskipun Ibuki menyadari bahwa sifatnya yang keras kepala itu telah banyak melukai hati Reika.
Sikap dan sifat Reika lah yang membuat Ibuki berangsur-angsur melunak, meskipun terkadang ia masih saja memberontak jika tiba-tiba Reika memberikan perlakuan ‘manis’ kepadanya. Ia masih merasa malu dan canggung, meskipun sebenarnya Ibuki juga menikmatinya.
Pemuda berambut sedikit bergelombang itu juga yang pertama menyentuh Ibuki. Meskipun pada awalnya Ibuki tak pernah mau melakukannya, mengingat mereka adalah sesama lelaki. Dalam hati ia masih sedikit menampik perasaannya kepada Reika. Mana mungkin mereka yang sama-sama pria bisa hidup bersama seperti sepasang pasangan ‘normal’ pada umumnya. Namun virus yang bernama cinta itu mampu mengalahkan semuanya, bahkan gender sekalipun. Perasaan itu perlahan muncul, tumbuh, dan berkembang.
Ibuki segera memutar arah sepeda motornya, kembali ke rumah bercat pastel itu. Ia menyadari perasaannya tak bisa berhenti sampai disitu, dan ia tahu bahwa yang akan menanggung sakit paling besar adalah Reika. Oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali dan meminta maaf. Tapi apakah ia akan secara gamblang mengungkapkan perasaannya. Bahkan berkata ‘daisuki’ pun itu sangat berat untuknya. Tak mau tahu lagi, ia semakin cepat menarik gas sepeda motornya itu meskipun kini ia sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.

Reika masih belum memejamkan mata ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu rumahnya. Dengan malas ia bangun dari kasurnya menuju ke depan. Sebelum memutar kunci ia mengintip dari balik jendela samping pintu. Ia mendengus pelan.
Tatapan Reika tak seperti tadi ketika pertama kali melihat Ibuki kembali dari perjalan antah berantahnya. Malas, itulah yang terbaca dari kedua bola mata indah itu. Ibuki basah kuyup dan sedikit menggigil. Tanpa ba bi bu Reika berjalan ke kamar mandi yang berdekatan dengan dapur itu. mengambil handuk yang menggantung di jemuran sebelah pintunya. Ibuki tak berani memandang Reika, sedari tadi ia hanya menunduk. Reika kembali dengan handuk di tangan, segera ia meletakkan handuk itu di kepala Ibuki. Ibuki tak beraksi dengan perlakuan Reika tadi meskipun ia menggigil.
Reika sudah malas menghadapinya, Ibuki yang kekanak-kanakan. Maka dari itu ia membiarkan Ibuki berdiri disitu entah sampai kapan. Ia sudah akan berbalik badan menuju dapur untuk membuatkan teh panas untuknya ketika tangan Ibuki dengan erat menggenggam pergelangan tangan kanan Reika, ia menoleh menatap sosok yang sangat ia cintai itu.
Plak !
Tanpa Reika sadari Ibuki telah berhasil menampar pipi kanan Reika. Yang ditambar terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Punggung Ibuki bergetar, ia mengenggam tangan yang baru saja ia gunakan untuk menampar itu. “Sampai kapan kau akan peka dengan perasaanku selama ini ?! Apa kau sadar bahwa aku menjadi seperti ini semua gara-garamu ?! Perasaan ini tumbuh karena semua perlakuanmu kepadaku, dan kini....kini kau tak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan ?! Lalu kepada siapa aku harus meluapkan perasaanku kalau bukan kepadamu huuh ?!”
Reika terdiam, memegangi pipinya yang sedikit memerah. Nafas Ibuki tersengal, “Aku tak pernah ingin berpisah denganmu ! harus berapa kali aku harus mengatakannya ?! Aku tak pernah ingin...” Ibuki akhirnya menangis. Dia meruntuki kebodohannya sendiri, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Dan tamparan itu, ia tak pernah menampar siapa pun tapi dengan apa yang baru saja terjadi, ia telah berani menampar Reika.
Reika menarik paksa tangan Ibuki dengan kasar menuju kamar tidurnya. Ia tak menghiraukan sensasi panas pipinya. Ibuki yang masih masih kuyup itu hanya bisa menurut dengan perlakuan kasar Reika.
Setelah sampai di kamar yang didominansi warna kuning pucat itu, dengan cepat ia melepas genggaman tangannya pada pergelangan Ibuki, meninggalkan warna sedikit merah. Ibuki tak mengerang atau pun apa, ia hanya menurut. Baginya sudah cukup jelas bahwa ia tak pernah ingin berpisah dengan Reika.
Reika menatap Ibuki yang terdiam itu “Jika kau memang tak pernah ingin berpisah denganku maka tunjukkan dengan sifat dan sikapmu. Bukan kau yang malah memberontak dan main hilang  begitu saja, dan pulang-pulang dengan menamparku seperti ini.” Reika melunak berusaha membuat Ibuki lebih tenang. “Perlakuanmu itu yang membuatku ragu apakah benar kau tak ingin berpisah dariku atau tidak. Sejujurnya aku hampir saja menyerah memperjuangkan hubungan ini.”
Ibuki menggigit bibir bawahnya, merasakan setiap perkataan yang Reika keluarkan. “Jika kau benar-benar mencintai orang itu, maka jagalah baik-baik dia bukan malah kau perlakukan semaumu sendiri. Ingat, dia punya hati.” Reika menunjuk ke dadanya sendiri.
“Aku sudah berusaha tapi dia tak pernah peka.” ucap Ibuki lirih, diikuti pandangan Reika yang berusaha menerobos ke dalam hatinya.
“Apakah hanya sebesar itu usahamu untuk mempertahankan sebuah hubungan agar berumur panjang ? Tak semua orang mengerti dengan apa yang kita rasakan, oleh karenanya diperlukan tindakan. Kau memang mencintainya dan tak ingin berpisah tapi jika kau hanya memendam perasaanmu dan memperlakukan dia dengan kasar, tak akan ada yang kau dapat. Hanya sakit hati.” Reika mengelus puncak kepala Ibuki.
“Selama kau menyanyangi orang itu maka tak akan ada yang berakhir jika kau mau mencoba, namun jika kau tak mau mencoba itu bukan cinta.” Reika tersenyum di akhir kalimatnya.
“Kalau aku tak menyayanginya kenapa aku kembali di hadapannya sekarang ?”
Reika mengambil nafas dan menghembuskannya dengan pelan, “Mungkin untuk menampar orang itu makanya dia kembali.” Ibuki tak bisa berkata apa-apa lagi, ia menyadari ia yang salah namun ia masih tak bisa harus mengakuinya secara terang-terangan.
“Sudah lah sekarang kau cepat mandi, akan aku siapkan air hangat untukmu setelah itu istirahatlah.” Reika beranjak dari tempatnya menuju ke dapur, namun baru saja ia akan melewati pintu Ibuki buru-buru mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja tak jauh darinya. “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, aku akan pulang sekarang.”
Sudah habis kesabaran Reika, ia sudah tak tahan lagi. Niatan baik darinya hanya mendapat respon yang seperti ini. Dengan sigap ia menarik lengan Ibuki kemudian dengan kuat ia membanting tubuh yang tak siap itu hingga membentur lemari samping tempat tidurnya. Belum sempat Ibuki mengeluh sakit yang luar biasa di punggungnya Reika telah bersuara dengan sangat keras.
“AKU LELAH BICARA DENGANMU ! SIFAT DAN SIKAPMU TAK ADA YANG BERUBAH ! TAK BISAKAH KAU MENGERTI PERASAANKU SELAMA INI ?! KAU KETERALUAN IBUKI !!”
Deg!
Ibuki ? Reika tak pernah memanggilnya dengan nama itu, karena sejak mereka menjalin hubungan itu Reika memanggilnya dengan ‘Iki-chan’. Bila Reika sudah memanggilnya dengan nama itu berarti memang Reika sudah kehilangan kendali dan ia sangat marah.
“Aku memintamu untuk berpikir bukan malah pergi ! berbeda dengan perlakuan baikku untukmu yang selalu kau respon dengan ‘sudah’ dan bila aku berhenti dan tak melakukan apa-apa kau hanya berkata ‘itu saja’ !” geramnya menatap Ibuki, kemudian dengan kasarnya ia membanting beberapa perabot kaca yang ada di atas meja tak jauh darinya, dan juga beberapa benda koleksinya juga tak luput dari ‘aksi’ bantingannya. Bahkan bass pemberian Ibuki di hari ulang tahun Reika itu pun menjadi sasaran. Mata Ibuki membulat sempurna menyaksikan Reika yang kini sudah tak bisa dikendalikan. Bulir-bulir asin itu mengalir dengan deras tak bisa ia tahan. Ia menangis bukan karena sakit di punggungnya, tapi lebih dari itu, menyaksikan Reika yang sudah kehilangan kendali.
Selama beberapa saat ia membiarkan Reika melakukan apa saja yang ia mau, membanting, menendang, bahkan meninju tembok. Ibuki hanya terisak tertahan, menutupi kedua telinganya dari suara berisik yang Reika timbulkan serta suara petir yang menggelegar di luar sana. Hanya memeluk kedua lututnya lah yang bisa ia lakukan sekarang.


Nafas Reika memburu, wajahnya memerah menahan amarah. Ia tak pernah semarah ini sebelumnya, ia tak pernah sesakit ini sebelumnya. Ibuki benar-benar telah membuatnya hilang kendali, Reika lama kini muncul kembali.
Kedua mata tajamnya menatap sosok yang meringkuk lemah itu. Ia tahu Ibuki tadi menangis meskipun pelan, meskipun sekarang sudah tak bisa ia lihat air mata itu jatuh. Hanya bengkak di bawah mata yang kini tersisa. Setelah di rasa ia sedikit tenang dihampirinya tubuh yang lebih kecil darinya itu. Reika berjongkok menyetarakan tingginya dengan Ibuki, “sekarang terserah padamu, mau melanjutkan hubungan ini atau tidak. Jika kau masih bisa menahan rasa lelah ini aku bisa terima, tapi  aku sudah tak bisa memilih, aku angkat tangan.” ucapnya dingin yang disambut dengan tatapan tak terbaca oleh Ibuki.
“Percuma saja bila kau sudah menyerah, hanya keterpaksaan dan rasa sakit bila harus dipertahankan.” ujarnya pelan dengan senyuman yang menunjukkan kesedihan.
Reika tak berpaling, ditatapnya terus mata coklat yang kini telah memerah itu. “Aku tak pernah berniat membuat hubungan ini dengan sebuah keterpaksaan, tapi jika kau memilih untuk tetap mempertahankannya namun sifatmu itu tak kau rubah..maka tak ada pilihan lain.”
Ibuki kembali membeku dengan perkataan Reika. “Tak akan ada hubungan yang akan bertahan lama dengan keterpaksaan.”
“Oleh karena itu, rubahlah sifatmu !” Reika membentak kembali, Ibuki membuang muka. Digigitnya kembali bibir bawahnya. Reika menjadi merasa bersalah lagi, tak seharusnya ia membentak Ibuki kembali.
Nee..” Reika meraih dagu Ibuki, membawa Ibuki berpaling menatap mata Reika. “Aku hanya ingin kau berubah, untuk hubungan kita ini...”
Mata Ibuki memanas kembali, dengan halus ia menampik tangan Reika, “Gomen Rei, aku sudah mencobanya dan aku telah gagal. Aku hanya takut membuatmu lebih sakit dari ini. Aku...aku tak pantas untukmu.”
Tes..
Setetes air mata jatuh kembali melewati pipi Ibuki yang dingin. Dengan halus Reika meraih pipi itu dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang, seperti biasanya. “Kau tahu, tak ada yang tak pantas untuk seseorang, semuanya pantas. Hanya bagaimana membuat diri kita pantas untuk orang itu dengan sikap kita.”
Hangat, ucapan Reika memang selalu hangat, dan caranya memperhatikannya itulah yang Ibuki rindukan. Ibuki tak yakin akan mendapatkan sosok layaknya Reika atau tidak jika ia harus mengakhiri sampai disini. Perasaannya tak boleh berhenti hanya sampai disini, ia ingin perasaan itu semakin jauh dan semakin dalam. Tapi...apakah ia sanggup ?
Aku...aku sudah gagal Rei.” Ibuki tersenyum kecut.
Reika menghentikan aktifitasnya, namun tangan yang hangat itu masih memegang pipi Ibuki. “Apa yang kau coba hmm ? menunggumu yang hujan-hujanan seperti tadi, baru kau mau jujur ? menunggu dikejar ?”
Yamette Rei..” Ibuki mengalihkan wajahnya lagi. “Aku..aku sudah gagal menjadi orang yang baik untuk seseorang yang aku sayangi, aku gagal.”
Reika membawa pandangannya ke sembarang arah, “Coba sekali lagi, sebelum orang itu benar-benar tak peduli denganmu.” Ibuki membulatkan kedua matanya tanpa bisa Reika lihat.
Apakah ini tanda bahwa Reika memberinya kesempatan kedua ? memperbaiki semuanya sebelum terlambat ? Namun bisakah ia benar-benar berubah ?
‘Selama kau menyanyangi orang itu maka tak akan ada yang berakhir jika kau mau mencoba, namun jika kau tak mau mencoba itu bukan cinta’ kata-kata Reika beberapa saat yang lalu itu seketika saja memenuhi pikiran Ibuki. Benar, perkataan Reika tadi benar, selama ia mencoba pasti hubungan itu tak akan berakhir.
“Rei..” Ibuki memegang kedua tangan Reika, membuat Reika yang tadi tidak fokus itu kembali ke realita dan menatap manik coklat Ibuki.
“Tolong, bimbing aku agar perasaanku padamu ini semakin kuat dan dalam. Tolong ajari aku bagaimana membuat perasaanku tersampaikan dengan perbuatan. Tolong ajari aku untuk membuat bunga yang telah mekar di dalam hatiku ini menjadi banyak. Tolong ajari aku untuk  bisa mencintaimu dengan mata, telinga, hidung, tangan, fikiran, dan perasaanku. Tolong aku....Rei.” Ibuki berkata lirih namun bisa Reika rasakan ada kesungguhan di setiap perkataannya.
Belum sempat Reika menjawab, Ibuki memeluknya. “Da..daisuki Reika.”
Reika terkaget, memang ini bukanlah pertama kali Ibuki mengucapkannya, tapi ada yang lain. Sesuatu yang terasa hangat dan nyaman ketika ia mendengarnya. Ia tersenyum, membelai rambut yang setengah basah itu dengan halus.
Suki da Iki-chan.” Ucapan itulah yang membuat Ibuki mengeluarkan air mata kembali, tapi ini air mata bahagia. Dia berjanji akan merubah semua sifat dan sikapnya kepada Reika.
Reika yang bisa mendengar Ibuki menangis itu semakin mempererat pelukannya. “Yosh yosh...sudahlah untuk apa kau menangis, baka.” Reika mengejek Ibuki yang membuat Ibuki segera melepaskan pelukannya.
“Yang kau panggil baka ini menangis karenamu, bodoh.” Ibuki sedikit memajukan bibirnya. Reika yang melihatnya hanya terkikik pelan.
“Apa yang lucu..” Ibuki mencubit pipi Reika. Membuat Reika menghentikan cekikikannya. “Warui warui...
Kemudian tangan Ibuki yang masih mencubit pipinya itu ia genggam. Manik Reika menatap manik Ibuki, membuatnya sedikit merona. “Mungkin ini terdengar klise untuk sebagian orang dan bahkan untukmu. Tapi...aku bahagia bisa bersamamu lagi dan yang terpenting kau mau berubah.” Reika mengakhiri ucapannya dengan senyum khasnya. Hal ini yang membuat Ibuki semakin merona dan membuang wajahnya.
“Hei..jangan kau buang wajah manismu itu ketika kau sedang malu.” Goda Reika yang kontan membuat Ibuki memandang wajah puas Reika.
Mo...kau memang menyebalkan !” Ibuki bersiap berdiri, namun Reika yang masih memegang tangan Ibuki itu menariknya hingga membuat Ibuki jatuh tepat di atas pangkuan Reika.
“Padahal aku belum memberikan hukuman padamu. Kau mau main pergi lagi.” Reika memeluk Ibuki dari belakang. Ibuki yang antara kaget dan malu hanya bisa mendengus. “Lepaskan Rei, aku mau mandi. Aku basah kuyup. Dan hukuman apa, aku sudah mendapat hukuman darimu.”
Reika menaikkan sebelah alisnya, “Aku belum memberikan apa-apa kepadamu baka.”
Ibuki menghembuskan nafas, percuma ia mencoba melepaskan pelukan Reika. “Memangnya dengan kau membantingku tadi tidak menyebabkan sakit di punggungku huuh ? itu hukuman yang secara sadar atau tidak yang sudah kau berikan untukku.”
Segera setelah Ibuki berkata, tanpa Ibuki sadari Reika sedikit mengangkat baju bagian belakang Ibuki. Ada bekas memar disana, membuat Reika merasa bersalah. “Gomen Iki-chan. Aku tak bermaksud melakukan itu terhadapmu, tapi aku akan mengobatinya.”
Belum sempat Ibuki berkata, bisa Ibuki rasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh punggung itu.
Reika mencium punggung yang memar Ibuki, yang sontak membuatnya bergidik antara kaget, malu, dan menikmatinya.
Chotto..apa yang kau lakukan ??” Ibuki dengan sekuat tenaga berhasil berbalik badan, menatap Reika.
“Apakah kurang ? tapi memang bukan sampai disitu saja aku akan mengobatinya kok, jadi kau jangan cemas. Nee Iki-chan..”
Senyum itu lagi, senyum yang Ibuki benci dan takuti. Itu bukan senyuman yang selalu membuat Ibuki merona, tapi lebih ke seringai. Bila Reika sudah seperti itu, ia akan bertindak ‘lebih’ kepadanya.
Ibuki sedikit memundurkan badannya, tapi ternyata Reika sudah menduganya. Dengan kuat kedua lengan Reika mengikat badan Ibuki, sehingga Ibuki tak bisa bergerak macam-macam. Tapi bukankah Reika yang sekarang macam-macam. Ibuki hanya bisa menelan ludahnya, inilah dia the real Reika.
Reika mendekatkan wajahnya kepada Ibuki, dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Ibuki ” “Diamlah, aku akan ‘mengobatimu’..”

----OWARI----











Kamis, 15 Agustus 2013

[Fanfic] FLAME

Chapter 5 “THE SECRET”

Title                             : FLAME

Chapter                       : 5/?

Author                         : Lycoris

Fandom              : THE GAZETTE, Alice Nine, D=OUT, BORN, SuG, SCREW, ViViD, Vistlip, Matenrou Opera, Royz

Cast                             : banyak, ngetiknya lama jadi baca sendiri aja *oii

Rate                             : T

Genre                           : Supernatural, Friendship, School life (author rubah genrenya)

Warning                       : Typo(s) bertebaran, semakin abal, dan membuat mata mengantuk



“Panggil Matsumoto Takanori !”

-----------------

“Kau akan memilih apa Ru ? jajaran Senior atau kelas spesial ?” Hiroto membuyarkan lamunan Ruki.
Seketika Ruki yang sedang melanglangkan pikirannya sendiri itu terbangun.
“Eh ? apa apa apa ?”celinguknya seketika. Ketiga temannya hanya mendengus kesal.
“Kau ini kenapa, dari tadi pagi melamun, di kantin pun kau juga melamun, dan sekarang kau juga melamun Ru.” Hikaru menoleh menatap Ruki.
“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa” Ruki menatap gantian ketiga sahabatnya.
“Memang kami percaya ?!” kini Takeru bersikap serius.
“Kami tidak akan semudah itu percaya padamu Tuan Matsumoto...” Hiroto mengiyakan perkataan Takeru.
Hikaru dan Takeru mengangguk pelan, “Kita tak mudah untuk percaya untuk hal ini”
Ruki yang sebenarnya merasa aneh dan ada apa-apa itu tak mungkin cerita kepada ketiga sahabatnya ini. Karena ia sendiri pun bingung bagaimana mengatakannya. Lalu buru-buru ia memasang ekspresi yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Kan sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja. Kalian ini dari dulu selalu saja cerewet.” Ruki mengusap kepala Takeru, Hikaru, dan Hiroto bergantian dan tidak lupa senyum khasnya ia sematkan.
Dan kalau sudah begitu ketiga sahabatnya ini pasti diam. Meskipun sebenarnya pertanyaan mereka tadi belum mendapat jawaban yang memuaskan.

Suasana kembali normal, Ruki berusaha membuang jauh-jauh perasaan anehnya itu. Mereka kembali membicarakan hal-hal umum yang telah terjadi hari itu.
Kini senda gurau mereka berempat ikut memeriahkan suasana kelas yang memang belum ada guru yang masuk.
Tapi tiba-tiba di tengah keberisikan kelas sementara itu, pintu kelas tiba-tiba terbuka. Tentu saja semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Pasang demi pasang mata mulai mulai menatap ke arah pintu, mereka terdiam bahkan sekarang semuanya ikut terdiam. Semua kegiatan mereka hentikan, termasuk Ruki, Takeru, Hikaru dan Hiroto.

Hening...

Tap tap tap

Hanya suara langkah kaki yang terdengar memasuki ruangan itu.
Setidaknya ada 3 pemuda yang kini berjalan depan kelas.  Seorang di depan dan 2 orang lagi disampingnya agak dibelakang.
“Matsumoto Tananori...” panggil seorang pemuda yang berdiri paling depan yang dikenal dengan nama Reika itu. Ekspresinya datar tak bisa dikatakan dingin tapi juga tak bisa dikatakan ramah, pandangannya lurus ke depan. Tak menghiraukan beberapa bisik-bisik siswa perempuan yang jelas saja bisa ia dengar itu.
Sang empunya nama kini hanya bisa menelan ludah,jantungnya berdetak dengan kencang. Apa yang diinginkan para Alumina ini kepadanya, pikirnya. Hampir semua mata para penghuni kelas sementara itu memandangnya. Dengan berat ia mengacungkan tangan kanannya.
“Sa...saya..” ujarnya dengan sedikit bergetar.
Kini ketiga pasang mata Alumina memandangnya. Jarak mereka hanya 4 bangku namun dengan jelas Reika, Kazuki, dan Yuh bisa merasakan kekuatan anak baru ini.
“Ikutlah dengan kami, Reita memanggilmu !” perkataan yang berupa perintah yang Yuh lontarkan sontak membuat seisi kelas itu kaget. Reita, siswa tahun kedua SMG yang bisa dikatakan anak ajaib itu memanggil seorang Matsumoto Tanakori, yang memang benar ia adalah seorang peraih peringkat tertinggi ujian masuk tahun ini. Dan bisa dikatakan ini adalah sebuah perintah pertama yang Reita keluarkan. Sontak saja semuanya kaget, tapi tidak bagi Ruki. Kejadian siang tadi si kantin utara sudah memberikan arti lain, ia tahu bahwa Reita mengawasinya dan buktinya ini tadi, para Alumina sekarang sedang berdiri di depan kelasnya, mencarinya membawa perintah atas nama Reita.
Ia berdiri, tangan kanannya mengepal, detak jantungnya berusaha ia atur. Hampir semua mata kini melihatnya berjalan menuju para Alumina. Takeru, Hikaru, dan Hiroto seakan mengetahui jawaban atas kediaman Ruki sedari tadi, mereka pun hanya bisa terdiam, kedua bola mata mereka hanya bisa memandang punggung Ruki yang semakin mendekati ketiga pengawal yang terkenal itu.

Kini, jarak Ruki dengan Reika yang berdiri paling depan hanya sekitar 40 cm. “Ikuti kami.” ucap Reika datar.
Ruki hanya mengangguk pelan. Mereka akhirnya berjalan keluar kelas, dengan Reika paling depan diikuti Kazuki dan Yuh serta Ruki paling belakang dengan kepala yang ia tundukkan.
Sudah dipastikan semua mata yang memperhatikan mereka tak mereka pedulikan, sudah biasa seperti ini, itu bagi Alumina tapi tidak bagi Ruki, dan ia hanya bisa terus berjalan dalam diam dengan pandangan yang tak berani ia angkat.

--------------------------

Lorong itu bisa dikatakan gelap, tak banyak cahaya yang masuk karena tertutupi tiang tiang besar pondasi SMG serta tumbuhan yang merambat tinggi, sunyi dan sepi, tak ada seorang pun yang mereka jumpai sepanjang lorong itu. Ruki melihat sekitarnya, di dinding-dindingnya terdapat beberapa lumut yang mungkin memang sengaja dibiarkan tumbuh, dalam hati ia berpikir bagaimana mungkin lorong ini dibiarkan berlumut begitu saja mengingat bangunan di SMG adalah bangunan elit semua.

“Gedung barat merupakan gedung yang tertua disini, jadi jangan heran bila seperti ini.” Kazuki yang seakan mengatahui isi hati Ruki tiba-tiba berkata untuk menjawab pertanyaan Ruki meskipun Ruki hanya bertanya dalam hati.
Dengan buru-buru ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, “Aa--ah hai Senpai...” ia menunduk kembali.
Setelah melewati belokan terakhir akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu yang lumayan besar.
Ruki memperhatikan pintu besar yang terbuat dari kayu dan memiliki ukiran-ukiran sederhana berwarna coklat tua itu.
“Kita telah sampai.” Kata Reika singkat, dan tangan kanan Yuh telah memegang kenop pintu itu dan bersiap membuka. Entah kenapa jantung Ruki berdetak lebih cepat dari yang tadi, ia seakan bisa merasakan akan ada sesuatu yang besar yang akan ia lihat ketika pintu itu dibuka.

Klek

Yuh telah membuka pintu itu, Ruki masih belum bisa melihat apa-apa, karena ia terhalang oleh badan tinggi dan besar para Alumina, tapi satu yang ia bisa rasakan, aura yang sangat kuat yang kini berhasil membuat ia tercengang, padahal ia masih belum tahu untuk apa Reita memanggilnya dan membawanya ke tempat aneh ini.
“Silahkan, mereka sudah menunggumu.” Kazuki mempersilahkan Ruki masuk, tapi tunggu dulu, mereka ? mereka siapa ? bukannya tadi dia berkata yang memanggilnya adalah Reita. Kembali Ruki dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang berusaha ia dapatkan jawabannya. Dan tentu saja jawaban itu akan ia dapatkan sebentar lagi.
“Ha—hai.” Ruki sedikit menunduk ke para seniornya itu. Tangan Yuh berusaha membuka pintu lebih lebar.
Begitu ia berjalan masuk, hal pertama yang ia dapat adalah sebuah cahaya remang-remang yang masuk melalui jendela kaca besar yang terpampang lurus di depannya.
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar.
“Kami sudah menunggumu Matsumoto Takanori.” Spontan Ruki menoleh ke kiri, tepat ke arah ‘mereka’.

Deg

Apalagi ini, kenapa perasaan aneh ini semakin kuat, dan aura yang tak bisa terbaca oleh orang biasa kini telah dirasakan oleh Ruki. Seperti ada sesuatu yang akan keluar dari dirinya, perutnya terasa berat.
Kini semakin jelas, orang-orang yang tadi siang baru saja ia lihat telah duduk dan sebagian berdiri tengah memperhatikannya, dan-----Subaru, sepupu Hiroto juga berada di dalam ruangan besar itu tengah tersenyum simpul ke arahnya, Ruki hanya bisa tercengang. Pandangan Ruki mengarah  ke seseorang yang tengah  sibuk mengaduk cangkirnya dan menyeruput isinya. Namun ada satu orang yang belum pernah ia lihat secara langsung,  hanya ia pernah melihatnya di majalah SMG. Dan itu adalah Shiroyama Yuu, sang ketua jajaran Senior yang sangat jarang terlihat umum itu.
Dan orang yang memanggil Ruki tadi yang tepat berada di depan Aoi –begitu ia dipanggil- adalah Uke Yutaka atau yang biasa dipanggil Kai yang baru saja ia lihat tadi siang.

Ruki masih diam kaku di depan pintu, hingga Kai yang tadi sibuk dengan cangkirnya menyuruhnya untuk mendekat “Kemarilah, sampai kapan kau akan berdiri diam disitu ?”
Ruki hanya menunduk, dan raut wajahnya tak terbaca, perasaannya semakin kacau sekarang. Namun ada seseorang yang Ruki cari-cari dari tadi, orang yang memanggilnya siapa lagi kalau bukan Reita, dimana dia ? pikirnya dalam hati. Namun belum sampai 5 langkah ia melangkah, ia bisa melihat sesosok pemuda yang ia cari-cari dari tadi, ya Reita. Sosok Reita yang sedang menyenderkan badannya di tembok di samping tempat duduk para ketua itu tetap saja tak memperhatikan Ruki, dengan tangan yang terlipat di dada ia sibuk melihat ke luar jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung selatan SMG.
Bukannya ia yang memanggilku, tetapi begitu aku disini ia sekalipun tidak menoleh bahkan melirik, dengus Ruki dalam hati namun ekspresi tetap saja ia buat datar atau yang lebih tepatnya takut.
Kini jarak semakin dekat, Ruki berhenti dan berdiri tepat di di depan para pangeran SMG itu.
“Hoe Reita, bukankah kau yang memanggilnya, jadi bersikaplah ramah dengannya atau paling tidak lihatlah seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi penyempurna kita.” Kai berbicara lantang memecah ketegangan yang Ruki rasakan.
'Haa ? penyempurna ? apa lagi ini ?' Ruki semakin tidak mengerti akan apa yang sebenarnya tengah ia hadapi, lagi dan lagi pertanyaan-pertanyaan aneh kini bertambah jumlahnya.
Reita pun memalingkan mukanya, tepat menatap manik Ruki.

Deg

Perasaan itu muncul kembali, perasaan yang sama ketika Reita melewatinya di kantin.
“Pasti ada yang aneh dengan perasaanmu kan.” Reita to the point.
“Bagaimana ia tahu ?” ujarnya dalam hati menanggapi apa yang baru saja Reita ucapkan.
“Itu wajar bagi seorang terpilih yang pertama kali merasakan ‘kami’. Tenanglah kami tidak akan melukai atau macam-macam denganmu.” Reika berkata sambil berjalan menghampiri Ruki.
“Hei Rei jangan buat takut anak baru itu.” Aoi menyela.
“Aku tidak membuatnya takut, aku hanya ingin mengenalkan siapa sebenarnya kita kepada anak ini.”
'Apa maksudnya ??' Ruki masih saja berdiri terdiam, dan kini Reita telah berdiri di depannya.
“Bukan Reita kalau dia tidak seperti itu, iya kan.” Kouki pun angkat bicara, diikuti cekikikan Kai, dan Saga.
“Diamlah kalian!” kata Reita tanpa menoleh.
Ruki hanya menunduk, melihat ke lantai keramik berwarna abu-abu tua itu. Sepertinya ia tengah mempersiapkan diri untuk melihat apa saja yang akan terjadi setelahnya.
 “Aku, atau yang lebih tepatnya kami, memanggilmu kesini bukan tanpa alasan. Ada banyak yang akan kami ceritakan kepadamu.” Reita memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Itu berarti ia sedang tidak main-main sekarang. Wajah Ruki mendongak, ekspresinya menunjukkan bahwa ia semakin tak mengerti dengan semua ini.

Ruangan  yang isinya terdiri dari ketiga Alumina, para jajaran Senior yang terkenal, sang ketua dan kedua muda Karasa, para ketua Naraku yang kini tersenyum simpul menatap Ruki, salah seorang anggota Naraku yang merupakan sepupu Hiroto, calon pion Reita, dan sanga ketua jajaran Senior yang sangat jarang terlihat di depan umum.  Sudah jelas bukan mereka bukanlah orang-orang yang biasa. Mereka sekarang –minus Ruki- bisa merasakan kekuatan yang sangat besar dari dalam anak baru itu. Sebuah kekuatan yang ‘hangat’ dan mereka juga tahu bahwa kekuatan itu belumlah keluar semua, masih sekitar 5%. Yaa 5% dari total kekuatan besar Ruki. 5% saja sudah seperti ini, apalagi kalau ia sudah mengeluarkan semuanya.
Anak baru itu memang ramalan yang telah terbukti benar.

Reita mengedarkan pandangannya. “Kau lihat..” Perkataan Reika sontak membuat Ruki ikut memperhatikan sekelilingnya, melihat para pangeran yang merupakan penjaga dan petarung yang kini sedang memperhatikan mereka berdua, hanya Aoi yang tak memperhatikan mereka berdua, ia tengah sibuk dengan sebuah cahaya putih yang keluar dari jemarinya.
Tunggu, cahaya putih ? bagaimana itu bisa terjadi ? Ruki hanya bisa tercengang, dan hampir tidak percaya dengan kedua matanya yang jelas-jelas bisa melihatnya. “Sesuai yang kau lihat, kami semua bukanlah orang-orang yang biasa.” Reita yang mengetahui akan apa reaksi Ruki kembali menatap Ruki.
“Go-gomen, tapi apa yang sebenarnya terjadi disini ??” akhirnya Ruki memberanikan diri membuka mulutnya.

Kai tersenyum, memperlihatnya dimplenya, ia pun ikut berdiri, berjalan menghampiri Ruki dan Reita yang 
berdiri tak jauh dari mereka.
“Kau tumben berbicara banyak Rei.” Kata Kai yang bisa merupakan sebuah ejekan kepada Reita.
Reita hanya bisa melirik ke arah Kai, tidak merespon perkataan ketuanya.
“Kau Matsumoto Tanakaori, sebentar lagi akan mengetahui apa sebenarnya Shirayumi Music Gakuen ini, dan siapa sebenarnya kami.” Ujar Kai yang kini telah berada cukup dekat dengan Ruki dan Reita.
“Ah dan maaf kami tidak memperkenalkan diri dengan baik.” Kai berkata dengan ramah membuat Ruki sedikit bisa tenang. Tapi meskipun tanpa memperkenalkan diri pun Ruki sudah tahu mereka semua. Sekarang siapa yang tidak tahu para senior yang terkenal sekaligus berbakat di SMG, pikir Ruki.
“Perkenalkan aku Uke Yutaka tapi panggillah aku dengan Kai, ketua dari kelas A-1 atau yang lebih rahasia..ketua Karasu.” Kai sedikit membungkuk memperkenalkan dirinya sendiri, Ruki menjadi sedikit canggung.
“Dan dia yang memanggilmu tadi, Suzuki Akira atau Reita. Penghuni kelas A-1 dan merupakan ketua muda Karasu, dan maaf jika tindakannya tadi tak membuatnya nyaman Matsumo—“
“Panggil saya dengan Ruki saja.” Potong Ruki. Tidak sopan memang tapi ia memang tidak terlalu suka jika ia dipanggil dengan Matsumoto.
“Baiklah, Ruki. Pertama-tama kau pasti bingung dan tak mengerti mengapa kau sekarang berada disini. Maafkan atas ketidak sopanan kami memanggilmu secara tiba-tiba.”
“Ti-tidak apa-apa.” Ruki berusaha mengatur bicaranya.
“Karena yang sudah kau lihat tadi dan yang sudah Reita katakan tadi, bahwa kami bukanlah orang-orang biasa.” Kai mulai menceritakan namun sekarang ia sudah berjalan-jalan di sekitar ruangan itu.
“Kau pasti juga melihat apa yang Aoi lakukan tadi bukan? Itu hanyalah sedikit clue dari apa yang akan kami katakan kepadamu.” Tatapan Kai lurus ke arah Ruki.
Ketua dengan rambut yang ia kepang kuda itu mendekat kembali ke arahnya, Ruki masih saja diam di tempat. Reita melipat kedua tangannya di dada.
“60 tahun yang lalu semuanya di mulai.” Kali ini nada bicara Kai mulai serius, tak ada senyuman yang menjadi ciri khasnya.
“Shirayumi Music Gakuen tentu saja belum ada. Hanya ada Karasu.” Ia mengambil jeda, membiarkan Ruki untuk mencerna perkataannya.
“Karasu, adalah sebuah perkumpulan dari para pemilik bakat istimewa yang sudah berdiri hampir 1 abad. Tak banyak orang yang percaya tentang bakat, malahan bagi sebagian orang itu hanya terdengar sebagai dongeng pengantar tidur.  Tapi asal diketahui saja, bakat itu ada, bahwa manusia dengan kekuatan itu ada. Dan bukan tanpa alasan Karasu didirikan. Karena bila pemilik bakat itu menggunakan kekuatan mereka tanpa kontrol maka hanya akan ada kekacauan. Oleh karena itu Karasu berdiri, melindungi, membimbing, dan mengontrol para pemilik bakat.” Kai memainkan jemarinya.
“Namun, 60 tahun yang lalu muncullah Kogurou. Mereka adalah orang-orang biasa yang merasa iri atas apa yang Karasu miliki, atas bakat yang tidak mereka miliki. Para anggota Karasu pun mengetahui niat dan maksud dari Kogurou dan oleh karena itu Naraku pun didirikan.”
“Naraku, pengawal Karasu. Sekumpulan orang-orang dengan bakat yang tak kalah hebat dengan Naraku, namun mereka bertugas untuk menjadi pengawal dan prajurit dan harus melindungi Karasu. Bisa dikatakan prajurit yang siap mati.” Kai memberi tekanan pada prajurit yang siap mati, Ruki kaget atas penjelasan Kai. Ia spontan menoleh ke arah Kouki dan Saga, namun mereka hanya tersenyum seolah tak ada apa-apa di balik kata itu.
“Tapi itu dulu, sekarang tidak. Sekarang Karasu dan Naraku sama-sama menjadi petarung, kami semua sederajat.” Tutur Saga dengan santainya.
Ruki pun hanya bisa menundukkan kepala dengan ragu-ragu.
“Kau tahu alasan lainnya kenapa Kogurou muncul ?” pertanyaan Kai membuat Ruki kembali berhadapan dengan Kai. Ruki kembali menggeleng. Tentu saja ia tak tahu. Ia hanya anak baru yang masih polos yang tidak tahu apa-apa kemudian harus mengalami semua ini, berhadapan dengan para pangeran SMG dan menemukan rahasia bahwa sekolah dambaannya itu menyembunyikan hal yang sangat besar. Dan sekarang ia disebut-sebut sebagai ‘penyempurna’ mereka. sudah cukup kebingungan untuk hari ini, batin Ruki.
“Karena bisa diketahui bahwa bakat dapat diturunkan kepada orang biasa, namun itu semua memerlukan pengorbanan. Kematian dari sang pemilik bakat.” Ruki menelan ludah dengan kalimat terakhir Kai.
“Bakat atau kekuatan yang dipaksa keluar akan membuat si pemilik mengalami Zero Drop. Dan hal itu yang membuat mereka meninggal. Dan itulah cara Kogurou mendapatkan kekuatan.” Kai mengedarkan pandangannya. Menatap ke Aoi.
“Itulah yang terjadi kepada Uruha...” Kai melemahkan suaranya, ia menunduk. Ruangan itu menjadi berkabung kembali.
“U-ruha ?” Ruki mengeja namanya.

Kai tak menjawab pertanyaan Ruki. Ia menatap ke arah pintu yang terbuka. Menunjukkan beberapa orang yang tak pernah Ruki kenal dan lihat sebelumnya.
“Yo, Ray, Tohya, Umi, K, dan Shin mereka adalah pion-pion kami.” Kata Kai begitu melihat ekspresi Ruki yang terlihat bingung. Kontan Ruki mengarahkan pandangannya ke arah pion-pion Reita itu.
Mereka ber-6 menundukkan kepala ke arah para pangeran SMG dan berjalan dengan tenang ke belakang para ketua Karasu.
“Uruha adalah pion terbaik dan terkuat kami.”Ray berkata tiba-tiba kemudian menundukkan kepala.
Seisi ruangan itu terdiam. Mengulang kembali kisah 2 bulan yang lalu.

“Ehem...”Kai berdehem mencoba mencairkan suasana yang kelam itu. Semuanya pun kembali fokus ke arah pembicaraan searah Kai dan Ruki.
“Albeiro, yang merupakan sumber kekuatan para anggota Karasu dan Naraku. Pernah  dicuri karena ada seorang anggota Karasu yang berkhianat. Tapi kemudian dengan usaha berat, Albeiro kembali. Namun tak utuh. Albeiro telah terpecah menjadi 10 bagian kristal. Dan beruntung kami mendapatkan 3 pecahan. Tapi itu juga tak bisa dikatakan beruntung karena 2 pecahan berada di tangan mereka, sedangkan 5 pecahan lagi tercecer ke ‘dimensi lain’ yang menjadi ‘ladang’ pertempuran antara Karasu dan Kogurou.”
“Dan saat ini kami sudah berhasil mengumpulkan 5 pecahan, meskipun pecahan kelima itu harus kami curi dari para Kogurou.”
“Pertempuran demi pertempuran telah dihadapi oleh para anggota Naraku yang tak sedikit mereka harus tewas. Namun jarang sekali kami mendapatkan hasil. Karena kebanyakan pecahan Albeiro itu palsu. Dan semakin lama kami mendapatkan pecahan itu, maka semakin melemah kekuatan para anggota Karasu serta Naraku.”

“Oleh karenanya sekolah ini didirikan oleh para anggota tua Karasu dan Naraku yang bertahan. Untuk mencari pemilik bakat yang tercecer di Jepang. Karena semenjak kejadian itu para anggota Karasu dan Naraku yang mencapai hampir 50 orang di seluruh Jepang memilih mundur dan hidup berbaur lagi dengan manusia yang lainnya. Menyembunyikan jati diri mereka sebenarnya. Dan lambat laun kami sadar, kami memerlukan pelindung untuk sekolah ini. Maka, para Dewan Tua itu sepakat membentuk Akai, sang penjaga.” Aoi menundukkan kepalanya sambil tersenyum, begitu pula para anggota Akai yang lain, tapi tentu saja minus Tora yang ia memang tak pernah tersenyum. Kai berjalan kembali ke kursinya.
“Dan mereka, Alumina. Mereka adalah penyeimbang antar dimensi dan penyeimbang kekuatan kami.” Seperti para anggota Akai lakukan, para Alumina menundukkan kepala dan tersenyum.

Reita tak tinggal diam, dengan tangan masih berada di sakunya ia menatap lambang yang menempel di tembok ruangan itu. Lambang itu berupa gambar perisai dengan kedua tombak yang menyilang di depannya, namun kedua tombak itu berbeda, yang satu berujung runcing dan satunya lagi berujung tumpul kemudian di sekelilingnya terdapat 3 gambar kobaran api.
Bisa dijelaskan bahwa perisai adalah Akai, tombak dengan ujung runcing adalah Karasu, tombak dengan ujung tumpul adalah Naraku dan 3 kobaran api adalah Alumina.

“Shirayumi Music Gakuen. Para Dewan Tua yang mendirikan sekolah inilah yang membuat sekolah ini terkenal dan besar, dengan sedikit bakat yang mereka keluarkan.” Tatapan Reita masih tak lepas dari lambang yang merupakan gambaran dari ‘peran’ mereka di sekolah itu.
“Dan kau tahu kenapa ujian masuk begitu ketat dan aneh bagi sebagian orang ?” Reita mengambil jeda, membiarkan Ruki mencerna kembali pertanyaannya, mengingat tentang ujian masuk yang baginya sangat berat dan memang sedikit aneh. “Karena para Dewan Tua bisa merasakan pemilik bakat jauh sebelum kalian menginginkan untuk bersekolah disini. Pasti sekarang kau sadar bukan, kenapa ujianmu dengan teman-temanmu yang ‘biasa’ itu berbeda.”
“Eh ? berbeda ?” Ruki bergumam dan ia baru tahu kalau ujiannya itu berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Reita tahu bahwa anak yang sedang menjadi pusat perhatian seluruh pemilik bakat di SMG itu baru mengetahuinya sekarang. “Karena ujian itu untuk membuka sedikit bakat para anak-anak istimewa.” Reita mempertajam kata-katanya.
Ruki sontak menoleh ke arah Reita yang masih terfokus pada lambang yang hanya ada di 3 ruangan itu.
“Tak banyak di antara kami semua yang berdiri disini memiliki bakat asli dan menyadarinya. Salah satunya adalah kau sendiri.”
“Hanya aku, Aoi, Uruha, Kouki, Saga, Tora, Ray, dan Kai yang sudah mengetahui bahwa kami istimewa sejak kami kecil. Dan yang lainnya sama sepertimu, tak menyadari dan harus mereka buka lebih dulu.” Reita memalingkan pandangannya ke nama-nama yang ia sebutkan tadi. “Sedangkan Reno, Subaru, dan Nao sang  Flame yang memberikannya. Awalnya mereka hanya orang-orang yang biasa.” Mereka bertiga yang disebutkan namanya hanya tersenyum ke arah Ruki.
'Flame?' tanya Ruki dalam hati.
“Ramalan tentang kedatangannmu telah kami dengar sejak pertama kali kami menginjakkan ke sekolah yang dipenuhi dengan rahasia ini. Kau adalah penyempurna kekuatan kami Matsumoto Takanori. Meskipun 2 bulan yang lalu kami telah kehilangan salah satu pemilik bakat terkuat, tapi kami yakin bakatmu masih tetep bisa menyempuranakan kami.” Reita menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menundukkan kepalanya.
“Oleh karenanya, tolong bergabunglah dengan kami sebagai petarung SMG dan sempurnakanlah kekuatan kami.” Pertama kali Reita mengucapkan kata ‘tolong’. Sebenarnya mereka semua yanga da di ruangan itu –kecuali Ruki- tak pernah menduga apa yang akan Reita katakan. Namun mereka hanya tersenyum dengan yang Reita lakukan. Karena mereka tahu, Reita tak pernah tak memikirkan nasib para pemilik bakat.
Dibalik sikapnya yang dingin ada sebuah rasa kepedulian serta tanggung jawab yang besar yang ia pikul.
“Ehh ?” Ruki bingung akan mengatakan apa. ini semua terlalu mendadak baginya, terlalu mengejutkan dan membingungkan.

“Go-gomen meskipun aku sebenarnya tidak begitu paham dengan apa terjadi, tapi...jika apa yang ada dalam diriku ini bisa membantu kalian semua, maka aku tak bisa tinggal diam. Aku akan bergabung dengan kalian.” Ucap Ruki malu-malu.
Ucapan Ruki itulah yang memberi para pemilik bakat kekuatan yang lebih besar.
“Arigatou, Ruki...” ucap Reita singkat dan kini ia berbalik badan.

“Kalau begitu selamat datang di Shirayumi Music Gakuen yang sebenarnya...” ucap Shou tiba-tiba yang langsung di sambut dengan gaya khas masing-masing yang ada disitu. Aoi dan Kai mengangkat cangkir mereka ke arah Ruki dan tersenyum. Reita, meskipun Ruki tak bisa melihatnya namun ada senyuman kecil yang tergambar dan itu bisa dilihat oleh Ray dan Yo. Saga dan Kouki melakukan toss berdua. Para Alumina –Yuh, Kazuki, Reika- menundukkan kepala ke arah Ruki. Para Akai –Ibuki, Nao, Byou, Tora, dan Reno- yang berdiri di belakang ketuanya juga tersenyum ke arah Ruki, dalam hati mereka mengatakan hal yang sama ‘arigatou Ruki’. Subaru yang memang sudah mengenal Ruki dan pernah mengobrol dengannya itu memberikan jempolnya ke Ruki. Ruki memberikan senyum manisnya. Dan para pion Reita dan Kai – Shin, K, Tohya, Umi- dan seorang calon pion yang akan segera diangkat, Tomo memberikan senyuman serta tatapan yang sekan berkata selamat-bergabung-dengan-kami.

Dari situ pertanyaan-pertanyaan Ruki telah terjawab. Ruki, sang penyempurna telah datang. Seorang anak yang telah teramalkan. Bakat yang akan segera di bangkitkan. Tanpa ia sadari tembok yang telah membelenggu bakatnya itu satu persatu mulai runtuh. Dan Ruki telah menerima takdirnya. Namun ada satu hal yang belum ia ketahui.  Kogurou bukanlah sekumpulan orang-orang tanpa bakat, yang hanya bisa merebut kekuatan dari lawannya. Mereka sekarang telah berubah. Pemilik bakat yang tersisihkan, yang memutuskan untuk bergabung dengan Kogurou dan ingin mengalahkan para anak-anak pemilik bakat di Shirayumi Music Gakuen dan merebut Albeiro demi kepentingan egois mereka.

----------------

“Cih, mereka meremehkan kita rupanya.”
“Tenang saja. Akan kita buktikan bahwa kita lebih kuat sekarang.”
“Meskipun begitu, kalian berhati-hatilah. Sepertinya mereka mempunyai pion yang baru. Sungguh menarik.”
“Tapi, seberapa banyaknya pion mereka yang baru dan seberapa kuatnya mereka sekarang, hal itu tak akan merubah bahwa kita memiliki kekuatan Uruha, sang pemilik bakat terkuat dari Karasu.”

--------Chapter 05 End-------


  
Hyaaaaah author tahu ini sudah hampir 5 bulan *bener gak sih*
Awalnya udah gak ada ide, tetapi karena ada salah seorang readers yang sangat baik hati nge'add fb author dan meminta author untuk nerusin
maka dengan keyakinan penuh(?) author terusin
sankyu ya buat Miko ^w^)/
dan GOMEN mungkin semakin aneh ini cerita
tapi inilah imajinasi author
hontou ni arigatou buat yang udah menanti *emang ada*
sampai jumpa di chapter 6 yang enggak tahu kapan selesainya *oii

About