Genre : Tragedy / Friendship / Hurt
Rate : M
Disclaimer : Mereka (the GazettE) bukan milik saya, tapi fic ini baru punya saya
OOC
Summary :
Semua terdiam masih tak percaya dengan insiden Reita membanting bassnya tadi. Reita tak pernah sekali pun membanting bass kesayangannya itu, karena itu merupakan sebagian jiwanya. Dan sekarang ditambah Reita yang mulai berbicara, padahal sebelumnya ia tak pernah mengatakan apa-apa ketika mereka bertengkar. Sepertinya inilah batas kediaman Reita selama ini. Ruki, Uruha, dan Aoi hanya bisa terdiam.
“Seandainya
aku bisa memilih, aku akan memilih kita tak usah menjadi terkenal. Karena
dengan begitu aku masih bisa bersama teman-temanku.” Reita berkata lirih
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hening
Suasana
kembali hening, tak ada lagi yang mau berkomentar. Semuanya telah sibuk dengan
pikiran mereka masing-masing .
Memikirkan
kata-kata Reita dan keadaan mereka sekarang.
“Aku
keluar,, aku akan keluar dari band ini” Aoi berkata tiba-tiba lalu beranjak
dari tempat duduknya dan keluar dari studio.
“Aoi..”
Kai berdiri dan berusaha mencegah
“Tak
ada gunanya kau mencegahku Kai, aku akan tetap pada pendirianku “ Aoi berkata
tanpa menoleh kebelakang
“Aku
telah sampai pada batasku, aku telah memikirkan ini hampir setahun lamanya”
lanjutnya.
Aoi
pun berjalan keluar Studio, mereka berempat hanya bisa melihat punggungnya yang
terus menghilang seiring merenganggnya jarak diantara mereka.
“Jadi…….memang
inilah akhir dari the GazettE “ Ruki pun bicara lalu berjalan keluar studio.
Tak
ada yang berkomentar. Karena ini semua terlalu mendadak bagi mereka. Keputusan yang
tak pernah mereka inginkan sejak pertama kali mereka mendirikan band bernama
Gazette lalu berubah nama menjadi the GazettE. Cukup sekali mereka pernah
ditinggal Yune sang drummer pada saat itu, mereka tak ingin lagi. Tapi sekarang
sepertinya itu semua menjadi sia-sia belaka. Aoi telah mengambil keputusan dan
tinggal menyatakan diri secara resmi kepada pihak the GazettE. Dan mungkin yang
terburuknya the GazettE akan benar-benar BUBAR.
Tinggal
mereka bertiga, Reita, Kai, dan Uruha yang masih diam membatu.
“SIAL
!!! “ Reita meninju tembok disebelahnya. Ia menitihkan air mata disela
kekesalannya.
“Rei…..”Uruha
berkata pelan sambil melihat Reita
“Aku…aku
telah gagal” Kai pun terduduk di lantai sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya,
tatapan matanya kosong.
“Bukan
salahmu Kai, tapi ini salah kita semua” Uruha menjawab dengan lemah.
Hening
kembali tercipta. Dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga serta perlengkapan
band mereka. Tak ada yang berani bersuara lagi. Benar-benar kenyataan yang
menyakitkan. Sesak sangat sesak, semuanya sia-sia sekarang. Pengorbanan mereka
selama ini telah sia-sia.
Tiba-tiba
pintu studio terbuka. Mereka bertiga
berharap itu adalah Ruki dan Aoi yang datang, berharap Aoi berubah
pikiran dan berbaikan dengan Ruki. Namun itu hanyalah menjadi sebuah harapan
kosong bagi mereka bertiga, karena yang datang adalah manager the GazettE,
Kojiro Minami.
“Ada
apa ini, kenapa hanya kalian bertiga, kemana yang lain ? dan lagi kenapa bass
itu di lantai ?” orang itu berjalan ke dalam dan matanya langsung tertuju pada
bass hitam Reita yang menelungkup di lantai.
Tak
ada yang menjawab
“Yutaka,
katakan sesuatu padaku, apa yang sebenarnya terjadi !”perintahnya kenapa Kai
“Kita…..”
“……”
“Kita
memutuskan membubarkan the GazettE” ucap Kai tanpa melihat managernya
“APA
???? Kalian sedang tidak bercanda bukan ?! ini bukan saatnya kalian bercanda
seperti ini. GROAN of DIPLOSOMIA telah menanti. Semua sudah siap. Jadi
berhentilah kalian melakukan hal konyol seperti ini”
Tentu
saja sang manager yang telah bersama mereka sejak band itu pertama kali kali
berdiri mengira ini hanya sebuah lelucon, mereka terlihat baik-baik saja selama
ini. Jika ada konflik pun langsung diselesaikan, dan lagi mereka akan
mengadakan tour album terbaru mereka DIVISION. Semua telah siap, tinggal 1
minggu tour akan dimulai.
Tapi
kenyataannya ini semua bukanlah lelucon yang sering mereka buat. Inilah yang
ada. Kai telah mengatakan kalau the GazettE akan bubar.
“Maaf
mengatakan ini secara tiba-tiba Kojiro-san, disaat kita akan menjalani tour.
Tapi memang inilah yang ada, kami berlima sudah tak ada kecocokan. Dan
memutuskan untuk membubarkan the GazettE. Maafkan kami karena ini semua terlalu
mendadak, maafkan kami” Uruha menjelasakn dengan wajah tanpa ekspresi dan
membungkuk kepada sang manager.
“Kami
akan menjelaskan kepada semua staff the GazettE, serta PSC” lanjutnya
Sang
manager yang berusia 45 tahun itu pun tak bicara apa-apa, ini terlalu mengagetkan.
Tapi ia pun akhirnya mengerti, karena selama ini sebenarnya ia telah
menyadarinya. Mereka dingin, senyum mereka selalu dipaksakan ketika berada di
depan umum.
Jadi
inilah kesimpulannya. Dan telah diputuskan.
“Awalnya
aku hanya merasa ini mungkin hanya perasaanku saja, aku merasa kalian telah
berubah. Aku merasa kalian berbeda, tak seperti dulu. Aku seperti tak melihat
kalian yang dulu. Terlalu banyak diam. Aku tak bisa menyalahkan kalian
sepenuhnya, keputusan telah diambil, dan meskipun ini sangat menyakitkanku
secara pribadi, tapi apa boleh buat. Aku akan berbicara kenapa semua crew dan
PSC. Besok lusa kita akan mengadakan pers conference untuk mengumumkan ini semua.” Lanjut
sang manager dengan raut wajah kecewa dan beranjak dari disitu.
“Gomen…”semuanya
serentak berkata lalu membungkukkan badan.
Pintu
tertutup, dan kini tinggal mereka bertiga kembali.
Di tempat Aoi
Aoi
menuju parkiran mobilnya, fikirannya kalut sekarang. Bukankah ia telah
memutuskan hal yang selama ini telah membebaninya ? setidaknya sekarang ia
telah lega bukan. Tapi tidak, tentu saja tidak. Keputusan untuk hengkang adalah
keputusan yang paling berat dalam hidupnya, sejatinya ia tak ingin, tapi apa
boleh buat, ia sendiri juga tak tahu. Malahan yang terburuk band yang telah
merilis 6 album itu akan DISBAND. Itulah keputusan final diantara mereka semua.
Karna tak mungkin mereka mencari personil baru. Lebih baik mereka bubar
daripada melakukannya. Hampir sama dengan kisah X-JAPAN yang bubar pada tahun
1997 karena ditinggal hengkang oleh vocalistnya. Aoi dengan berat meninggalkan
kantor PSC yang sekaligus menjadi studio bagi band-band naungan mereka.
Dipacunya
mobil sport warna putih bergaris hitam itu, pikirannya kemana-mana, hingga tak
terasa air matanya menetes. Ia tak tahu kemana tujuannya selanjutnya, lalu iPhone
hitamnya bergetar, menunjukkan sebuah e-mail. Dari Kojiro Minami sang manager.
“Lusa
akan diadakan pers conference untuk mengumumkan bubarnya the GazettE. Aku harap kalian
berlima datang semua. Setidaknya berilah alasan kepada semuanya. Dan aku telah
berbicara dengan semua staff the GazettE serta pihak PSC.”
Begitulah
isi dari e-mail yang diterima Aoi dari sang manager.
“Sepertinya,
semuanya sudah tau” dalam hatinya.
Ia
terus menyetir mobilnya tak tahu kemana.
Di tempat
Ruki
Ia
membuka handphonenya, e-mail dari sang manager.
Sama
seperti yang Aoi terima, sepertinya memang e-mail itu dikirim ke mereka
berlima.
Dengan
perasaan yang berat ia membacanya, menyakitkan. Setelah membacanya Ruki
memasukkan handphonenya di saku jaketnya.
Ia
berjalan dengan air muka sendu, berjalan menuju taman yang dekat dengan kantor
PSC. Taman rindang dengan air mancur ditengahnya ini adalah tempat mereka
berlima biasa berkumpul jika selesai latihan. Mereka berlima sering
menghabiskan waktu disana. Tepat di kursi panjang yang menghadap air mancur, di
bawah pohon sakura. Sangat manis ketika mengenangnya, mengenang saat-saat
mereka bersama.
Pria bertubuh paling mungil diantara teman-temannya ini pun
tersenyum ketir. Kedua matanya menjelajah taman yang tak terlalu luas itu. Ia
lalu mengambil duduk di kursi panjang berwarna coklat tempat mereka berlima
dulu sering duduk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitamnya,
sunyi, sepi, dan dingin, karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Ia pun
menenggelamkan sebagian wajahnya ke dalam jaket yang memiliki leher panjang
itu. Dan untuk yang pertama kali ia sendirian di tempat itu, benar-benar
sendiri.
2 hari kemudian
Hari
yang paling tak mereka inginkan pun datang. Pagi yang cerah, tetapi hari itu
adalah hari paling suram sepanjang hidup bagi kelima pria yang sekarang sudah
berada di dalam kantor PSC.
Sama
seperti kemarin-kemarin, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Kai
adalah orang yang terlihat paling terpukul, wajahnya sangat terlihat payah dan
lelah, karena 2 hari ini ia tak tidur sama sekali. Reita berdiri sambil
menyandarkan punggungnya di tembok berwallpapper biru muda itu, dilipatnya
kedua tangan di dadanya. Di depannya terdapat sofa memanjang berwarna coklat
muda yang sedang diduduki oleh Uruha yang paling kiri, Aoi disebelah kanannya,
serta Kai di sebelah Aoi. Sementara Ruki ia duduk di sofa kecil di pojokkan
ruangan itu. Raut wajah mereka sama semua. KOSONG. Ruangan berukuran sedang itu
pun sangat miskin suara.
KLEK
Pintu
terbuka, dilihatnya manager setia mereka, dengan raut wajah yang tak kalah
kosongnya memasuki ruangan itu.
“Ayo,
semuanya sudah menunggu” perintahnya dengan lesu.
“Hai…”
mereka berlima menjawab dengan lirih bersamaan sambil berjalan mengekor di
belakang sang manager.
Mereka
berjalan dalam diam. Ruangan pers conference tak terlalu jauh dari tempat mereka tadi.
Dan
ketika mereka memasuki ruangan..
Tap
tap tap tap
Jepret
jepret jepret
Jepretan
dan blitz kamera langsung menghujani mereka begitu mengatahui incaran berita
mereka memasuki ruangan. Semuanya telah berkumpul di ruangan yang lumayan besar
itu, wartawan, cameramen, fotografer. Peliput berita mulai dari majalah music, surat
kabar, televisi, bahkan wartawan lepas pun tak luput ada disitu, bahkan ada
beberapa wartawan live siaran disana. Karena bagi mereka ini adalah berita yang
besar, sangat jarang PSC khususnya the GazettE mengadakan pers conference. Apalagi
pengumumannya baru 2 hari yang lalu, tentu saja mereka bertanya-tanya, maka tak
heran banyak sekali wartawan yang datang di acara tersebut.
Reita,
Kai, Ruki, Uruha, Aoi serta manager mereka pun duduk berurutan.
Di
sebelah mereka telah duduk beberapa petinggi PSC.
Pers
conference pun dimulai. Dibuka oleh manager the GazettE.
Semua
diam memperhatikan.
“Selamat
siang rekan-rekan wartawan semua, maaf jika ini semua terlalu mendadak. Disini
kami selaku pihak PSC dan the GazettE akan mengumumkan beberapa hal penting
yang mungkin akan mengejutkan rekan-rekan semua”
Beberapa
wartawan pun berkasak-kusuk.
“Apakah
ini menyangkut konser tour mereka? “ seorang wartawan laki-laki berkacamata
mengacungkan tangan lalu langsung bertanya.
“Iyaa,
ini juga menyangkut tour konser mereka” jawab sang manager
“Baiklah,
mungkin akan lebih jelasnya akan disampaikan oleh Kai-san selaku leader dari
the Gazette”
Kai
dengan wajah yang dipaksakan pun mulai mengumpulkan kekuatannya untuk
mengatakan semuanya..
“Selamat
siang, maaf menganggu waktu rekan-rekan wartawan semua. Disini saya selaku
leader dari the GazettE ingin mengumumkan hal yang mungkin akan mengejutkan
semua pihak..” Kai berhenti sebentar, sepertinya ia tak kuat. Tapi Reita yang
ada disebelah kanan Kai pun memegang bahu Kai untuk memberikan kekuatan
untuknya.
Semuanya
diam, ingin menyimak setiap kata-kata yang akan keluar dari bibir pria yang
mempunyai lesung pipi itu.
“Kami,
the GazettE setelah melakukan pembicaraan yang cukup lama dan beberapa
pertimbangan dari pihak member….”
“……..dengan
sangat menyesal kami memutuskan bahwa hanya sampai tahun ke 10 ini the GazettE
berkarya…“
Tentu
saja pernyataan Kai tadi sontak membuat semua mata para pemburu berita disitu
kaget. Pasalnya 5 hari lagi akan diadakan tour konser mereka. Dan mereka baru
saja merilis album baru. Bahkan tak ada tanda-tanda perpecahan di band
tersebut.
“…terima
kasih untuk semua pihak yang telah mendukung kami selama ini, kami tak akan
pernah menjadi seperti ini jika tanpa kalian. Terima kasih untuk segala
dukungan yang telah kalian curahkan untuk kami semua. Dan kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya karena telah mengecewakan kalian atas keputusan yang kami
ambil ini…”
Kai
tak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya seakan tercekik, kedua
matanya pun hampir saja meneteskan air mata. Ia telah kehabisan kata-kata.
Semua
wartawan pun tak ada yang bisa berkata-kata karena mereka tentu saja tak pernah
menyangka ini semua. Mereka saling berpandangan satu dengan yang lainnya.
“….alasan
kami membubarkan the GazettE adalah karena sudah tak ada lagi kecocokan dalam
bermusik, dan salah satu dari kami berlima memang ingin mengundurkan diri.
Jadi, daripada kami harus berganti personil, lebih baik kami membubarkan band
ini. Semoga kalian semua bisa menerimanya..” Reita pun menyambung pernyataan Kai
dengan hati hancur.
Wartawan
pun mulai ada yang berani bertanya, beberapa ada yang mengacungkan tangan.
Manager the GazettE pun mempersilahkan seorang wartawan wanita untuk mengajukan
pertanyaan.
“Saya
ingin bertanya, siapakah yang ingin mngundurkan diri ? dan kenapa ini sangat
mendadak, sedangkan GROAN of DIPLOSOMIA 5 hari lagi…”
Uruha
pun menjawab
“Masalah
siapa yang memutuskan mengundurkan diri, ini adalah privasi kami. Kami tak
ingin ada pihak yang berpikiran bahwa ini semua adalah salahnya, kami tidak
menginginkan hal yang buruk terjadi padanya. Dan mengapa ini sangat mendadak
karena sebenarnya perpecahan sudah sering terjadi diantara kami, dan karena
alasan karena tak ingin lebih mengecewakan semuanya, kami memilih sekarang
untuk mengumumkannya. Serta soal tour album baru kami, dari lubuk hati yang
paling dalam kami sangat sangat menyesal, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya
untuk semua orang yang telah menunggu kami untuk konser. Terima kasih…” jawab
Uruha dengan nada yang tegas tapi terasa sekali ia juga kecewa dengan keputusan
yang mereka ambil.
“Lalu,
mengapa kalian tidak mencari personil yang baru saja ?” Tanya seorang wartawan
lainnya
DEG
“…..”
Belum
ada yang berani menjawab.
“….dulu,
saya, Reita, dan Uruha pernah mengatakan bahwa inilah band terakhir kami, dan karena
alasan itulah kami lebih baik membubarkannya” Ruki pun tiba-tiba menjawab
“Dan
entahlah, rasanya memang sangat aneh jika kami membubarkannya hanya kerena
masalah yang sepele bagi sebagian orang. Tapi…jika kalian berada dalam posisi
kami, kalian akan mengerti mengapa kami melakukan ini..” lanjut Ruki
Ya,
memang alasan itulah yang ada. Sangat sulit menjelaskan kepada publik tentang
pembubaran the GazettE, hanya mereka yang tahu, hanya yang pernah mengalaminya
yang mengetahui bagaimana rasanya.
“Jadi apakah masing-masing dari kalian akan
membentuk band lain ?” Tanya seorang wartawan lagi.
“TIDAK”
dengan tegas dan serentak mereka semua menjawab.
Mereka
yang ada disitu pun dibuat terkejut kembali dengan perkataan mereka berlima.
Karena jelas saja Reita, Ruki, serta Uruha tidak akan mungkin membentuk band
lagi, sesuai janji mereka. Lalu Kai dan Aoi ada alasan tersendiri bagi mereka
mengapa mereka tak ingin bekerja dalam band lagi.
“….”
“Karena
saya merasa the GazettE adalah segalanya, dan saya tak mungkin bisa mendirikan
band yang baru lagi. Saya mungkin tak akan bisa kalau harus mengulanginya dari
awal bersama band lain.” Kai menjawab dengan lugas tapi dengan berat.
Ia
pun mengingat waktu ia bergabung dengan Gazette setelah band itu ditinggal oleh
Yune, drummer mereka saat itu. Waktu itu Ruki yang mengajaknya untuk bergabung.
Flash
back
“Kai-kun, apakah kau sudah memutuskan band
mana selanjutnya?” tanya Ruki pada waktu itu kepada Kai.
“Disini….Gazette”
Kai menjawab dengan spontan.
Entah
mengapa ia merasa kalau Gazette lah band yang tepat untuk dia, setelah Kai
keluar dari Mareydi†Creia.
End of flash
back
“Lalu
apa rencana kalian semua setelah ini ?”
“Entahlah,
kami tidak tahu. Yang jelas kami sudah memutuskan jalan mana yang akan kami
tempuh masing-masing…” Kai menjawab.
Begitulah
sesi pres con yang mereka adakan. Aoi pun hanya diam, ia tak berani menjawab,
ia tak ingin mengatakan apa-apa saat ini. Dan Uruha yang merupakan teman
terdekat Aoi hanya bisa meliriknya dengan sudut matanya. Pertanyaan demi pertanyaan menyerbu mereka
terkait dengan keputusan yang mereka ambil.
Semua
yang ada disitu tampak kecewa sekali. Begitu pula pihak PSC yang 2 hari lalu
diberitahu oleh manager the GazettE, mereka tampak terkejut dan marah atas rencana
yang mereka ambil. Tapi apa boleh buat, lagi-lagi keputusan telah diambil. Tak
ada yang bisa merubah.
Pers
conference pun selesai, semuanya keluar ruangan dengan kekecewaan di wajah mereka.
Semuanya.
Berita
pun langsung menyebar ke seluruh Jepang, bahkan seluruh dunia. Surat kabar,
internet, televisi semuanya hangat membicarakan disbandnya the GazettE. Efeknya
bukan hanya fans di Jepang saja, tapi juga di seluruh dunia. Mereka seakan
tidak percaya dengan apa yang terjadi. Baru saja mereka senang karena the
GazettE baru saja mengeluarkan album ke-6 mereka dan akan mengadakan tour
konser. Tapi yang terjadi setelahnya sangat mengejutkan semua pihak, tak ada
yang menyangka bahwa terjadi perpecahan di antara mereka berlima, sudah tak ada
lagi kecocokan bahkan ada yang ingin keluar. Tak ada angin dan tak ada hujan.
Bisa dibayangkan betapa terkejutnya dan kecewanya mereka semua.
Bahkan
band-band lain di Jepang terutama yang 1 management di PSC juga tak menyangka,
semuanya terlihat baik-baik saja. Padahal mereka sangat sibuk di tahun 2012
ini, konser The Decade, pembuatan album baru, dll.
Begitulah
yang ada….
Beberapa saat
setelah pers conference
Kai,
Uruha, Reita, Aoi, dan Uruha berada dalam ruangan manager PSC bersama Kojiro
Minami dan Masashiro Jin manager PSC.
“Mungkin
ini adalah harapanku bersama semua orang yang mendukung kalian selama ini.”
Ucap Jin kepada mereka berlima
“….tapi
aku sangat menginginkan ini akan terwujud entah kapan suatu hari nanti. Aku
menginginkan kalian berubah pikiran dan membentuk the GazettE bersama lagi.
Kalian berlima…”
“dan
aku, bukan semua orang disini akan menyambut kalian dengan tangan terbuka.
Semoga kalian berubah pikiran” lanjutnya sambil memandang ke mata mereka
berlima.
Mereka
masih diam, tak athu apa yang harus di katakan.
“Entahlah
Masashiro-san, kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. “ terang Kai.
“mungkin
ucapan terima kasih saja tak akan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa Anda
dan pihak PSC yang lain telah membantu kami selama ini, menjadikan kami dikenal
semua orang. Terima kasih banyak dari lubuk hati kami yang paling dalam..”
lanjut Kai dan yang lain hanya tersenyum ketir.
“dan
kami mohon maaf atas semuanya yang telah terjadi ini selama ini, sekarang kami
akan mulai berjalan sendiri-sendiri”
“sekali
lagi kami mohon maaf..” semuanya pun membungkukkaan badan ke Jin.
Mereka
berlima pun berjalan ke luar ruangan itu.
“ingatlah,
PSC dan semuanya akan setia menunggu kalian kembali…” ujar Jin ketika hanya
punggung mereka yang terlihat.
Langkah
mereka pun terhenti, tapi tak ada yang menoleh dan menjawab.
Pintu
pun tertutup, dan hanya ada Minami dan Jin yang tersisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di
suatu tempat dengan air mancur di tengahnya, dedaunan yang mulai menguning dan
berguguran, langit berwarna orange, dan terlihat tak banyak orang disana. Lima
pria tengah berkumpul disitu, 2 orang duduk di kursi panjang di bawah pohon
bunga sakura, yang satu berdiri memandangi air mancur, serta 2 yang lain duduk
sembarangan di atas tanah.
“Aku
berterima kasih kepada kalian semua, atas semua yang telah kita alami dan yang
kita hadapi. Aku seperti menemukan keluarga baru yang bernama the GazettE,
meskipun kini keluargaku itu harus berakhir..”Aoi pun mulai berbicara menatap
mereka berempat yang tengah duduk.
“Maafkan
keegoisanku ini, aku benar-benar minta maaf, dan terima kasih untuk semuanya.
Aku tak bisa berkata apapun selain ini…”
“Aku
pun selalu mengingat bagaimana kita mengawali ini semua, menyenangkan sekali
jika kuingat semuanya, kita tertawa bersama, menangis bersama, kecewa bersama,
dan marah bersama. Aku selalu merasa di sinilah tempatku, ketika bersama kalian
dan berada di atas panggung mengekspresikan apa yang kita rasakan bersama dan
melakukan yang kita inginkan bersama. Aku akan selalu mengingatnya, selalu…”Aoi
mengakhiri kata-katanya dengan air mata yang terus mengalir.
Reita
yang tengah duduk di tanah itu pun berdiri lalu memeluknya. Pelukan yang
semakin membuatnya menangis. Uruha yang duduk di kursi pun berdiri dan
menghampiri mereka, memegang bahu Aoi, teman dekatnya.
“Kita
tak akan melupakannya, perjalana kita tak akan mungkin kita lupakan, meskipun
ini harus berakhir. Tapi kenangan itu akan terus membekas di hati kita semua.
Aku bahagia bisa mengenal kalian semua dan menjalani kehidupan bersama
kalian…”Reita berkata dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.
Kai
yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menunduk dan tak kuasa menahan air
matanya untuk menetes untuk kesekian kali dalam 2 hari ini. Dan Ruki yang masih
duduk di kursi coklat memandang mereka dengan perasaan bersalah, sangat
bersalah. Ia tak ingin menangis, tapi apa daya, kedua bola matanya telah
memerah dan air mata yang siap menetes.
Mereka
berada dalam keheningan yang dipenuhi air mata, air mata perpisahan. Tak ada
perkataan yang mengalun dari mulut mereka berlima, hanya isakan lirih.
Tak
akan ada lagi nama the GazettE, tak akan ada lagi teriakan para fans mereka di
tengah aksi mereka di atas panggung, tak akan ada lagi nama Ruki, Reita, Aoi,
Kai, dan Uruha. Yang ada hanyalah Matsumoto Takanori, Suzuki Akira, Shiroyama
Yuu, Uke Yutaka, dan Takashima Kouyou.
Kai
dan Ruki pun mengahampiri mereka bertiga, saling berpelukan. Pelukan yang
terakhir yang mereka lakukan berlima.
==TBC===
Maaf maaf bila konfliknya tidak jelas (=________=)a
paling bingung soal pers conferencenya, jadi di skip aja :D
lalu soal nama manager PSC dan the GazettE itu nama ngasal, soalnya nyari nama managernya gak dapet, malahan katanya Uruha manager the GazettE
buat bagian perpisahan mereka yang mereka pelukan terinspirasi waktu liat the GazettE nangis sehabis konser di Tokyo Dome
okeeee, jaa~~ ^o^)//