Minggu, 18 November 2012

WE BORN TOGETHER, WE RISE TOGETHER (chap 2)

Language          : Bahasa Indonesia
Character          : the GazettE and some OC
Genre               : Tragedy / Friendship / Hurt
Rate                 : M
Disclaimer         : Mereka (the GazettE) bukan milik saya, tapi fic ini baru punya saya
OOC


Summary :

Semua terdiam masih tak percaya dengan insiden Reita membanting bassnya tadi. Reita tak pernah sekali pun membanting bass kesayangannya itu, karena itu merupakan sebagian jiwanya. Dan sekarang ditambah Reita yang mulai berbicara, padahal sebelumnya ia tak pernah mengatakan apa-apa ketika mereka  bertengkar. Sepertinya inilah batas kediaman Reita selama ini. Ruki, Uruha, dan Aoi hanya bisa terdiam.


“Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih kita tak usah menjadi terkenal. Karena dengan begitu aku masih bisa bersama teman-temanku.” Reita berkata lirih

------------------------------------------------------------------------------------------------------
 




Hening
Suasana kembali hening, tak ada lagi yang mau berkomentar. Semuanya telah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing .
Memikirkan kata-kata Reita dan keadaan mereka sekarang.

“Aku keluar,, aku akan keluar dari band ini” Aoi berkata tiba-tiba lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari studio.

“Aoi..” Kai berdiri dan berusaha mencegah

“Tak ada gunanya kau mencegahku Kai, aku akan tetap pada pendirianku “ Aoi berkata tanpa menoleh kebelakang

“Aku telah sampai pada batasku, aku telah memikirkan ini hampir setahun lamanya” lanjutnya.

Aoi pun berjalan keluar Studio, mereka berempat hanya bisa melihat punggungnya yang terus menghilang seiring merenganggnya jarak diantara mereka.

“Jadi…….memang inilah akhir dari the GazettE “ Ruki pun bicara lalu berjalan keluar studio.

Tak ada yang berkomentar. Karena ini semua terlalu mendadak bagi mereka. Keputusan yang tak pernah mereka inginkan sejak pertama kali mereka mendirikan band bernama Gazette lalu berubah nama menjadi the GazettE. Cukup sekali mereka pernah ditinggal Yune sang drummer pada saat itu, mereka tak ingin lagi. Tapi sekarang sepertinya itu semua menjadi sia-sia belaka. Aoi telah mengambil keputusan dan tinggal menyatakan diri secara resmi kepada pihak the GazettE. Dan mungkin yang terburuknya the GazettE akan benar-benar BUBAR.
Tinggal mereka bertiga, Reita, Kai, dan Uruha yang masih diam membatu.

“SIAL !!! “ Reita meninju tembok disebelahnya. Ia menitihkan air mata disela kekesalannya.

“Rei…..”Uruha berkata pelan sambil melihat Reita

“Aku…aku telah gagal” Kai pun terduduk di lantai sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya, tatapan matanya kosong.

“Bukan salahmu Kai, tapi ini salah kita semua” Uruha menjawab dengan lemah.

Hening kembali tercipta. Dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga serta perlengkapan band mereka. Tak ada yang berani bersuara lagi. Benar-benar kenyataan yang menyakitkan. Sesak sangat sesak, semuanya sia-sia sekarang. Pengorbanan mereka selama ini telah sia-sia.

Tiba-tiba pintu studio terbuka. Mereka bertiga  berharap itu adalah Ruki dan Aoi yang datang, berharap Aoi berubah pikiran dan berbaikan dengan Ruki. Namun itu hanyalah menjadi sebuah harapan kosong bagi mereka bertiga, karena yang datang adalah manager the GazettE, Kojiro Minami.

“Ada apa ini, kenapa hanya kalian bertiga, kemana yang lain ? dan lagi kenapa bass itu di lantai ?” orang itu berjalan ke dalam dan matanya langsung tertuju pada bass hitam Reita yang menelungkup di lantai.

Tak ada yang menjawab

“Yutaka, katakan sesuatu padaku, apa yang sebenarnya terjadi !”perintahnya kenapa Kai

“Kita…..”

“……”

“Kita memutuskan membubarkan the GazettE” ucap Kai tanpa melihat managernya

“APA ???? Kalian sedang tidak bercanda bukan ?! ini bukan saatnya kalian bercanda seperti ini. GROAN of DIPLOSOMIA telah menanti. Semua sudah siap. Jadi berhentilah kalian melakukan hal konyol seperti ini”

Tentu saja sang manager yang telah bersama mereka sejak band itu pertama kali kali berdiri mengira ini hanya sebuah lelucon, mereka terlihat baik-baik saja selama ini. Jika ada konflik pun langsung diselesaikan, dan lagi mereka akan mengadakan tour album terbaru mereka DIVISION. Semua telah siap, tinggal 1 minggu tour akan dimulai.
Tapi kenyataannya ini semua bukanlah lelucon yang sering mereka buat. Inilah yang ada. Kai telah mengatakan kalau the GazettE akan bubar.

“Maaf mengatakan ini secara tiba-tiba Kojiro-san, disaat kita akan menjalani tour. Tapi memang inilah yang ada, kami berlima sudah tak ada kecocokan. Dan memutuskan untuk membubarkan the GazettE. Maafkan kami karena ini semua terlalu mendadak, maafkan kami” Uruha menjelasakn dengan wajah tanpa ekspresi dan membungkuk kepada sang manager.

“Kami akan menjelaskan kepada semua staff the GazettE, serta PSC” lanjutnya

Sang manager yang berusia 45 tahun itu pun tak bicara apa-apa, ini terlalu mengagetkan. Tapi ia pun akhirnya mengerti, karena selama ini sebenarnya ia telah menyadarinya. Mereka dingin, senyum mereka selalu dipaksakan ketika berada di depan umum.
Jadi inilah kesimpulannya. Dan telah diputuskan. 

“Awalnya aku hanya merasa ini mungkin hanya perasaanku saja, aku merasa kalian telah berubah. Aku merasa kalian berbeda, tak seperti dulu. Aku seperti tak melihat kalian yang dulu. Terlalu banyak diam. Aku tak bisa menyalahkan kalian sepenuhnya, keputusan telah diambil, dan meskipun ini sangat menyakitkanku secara pribadi, tapi apa boleh buat. Aku akan berbicara kenapa semua crew dan PSC. Besok lusa kita akan mengadakan pers conference untuk mengumumkan ini semua.” Lanjut sang manager dengan raut wajah kecewa dan beranjak dari disitu.

“Gomen…”semuanya serentak berkata lalu membungkukkan badan.

Pintu tertutup, dan kini tinggal mereka bertiga kembali.


Di tempat Aoi

Aoi menuju parkiran mobilnya, fikirannya kalut sekarang. Bukankah ia telah memutuskan hal yang selama ini telah membebaninya ? setidaknya sekarang ia telah lega bukan. Tapi tidak, tentu saja tidak. Keputusan untuk hengkang adalah keputusan yang paling berat dalam hidupnya, sejatinya ia tak ingin, tapi apa boleh buat, ia sendiri juga tak tahu. Malahan yang terburuk band yang telah merilis 6 album itu akan DISBAND. Itulah keputusan final diantara mereka semua. Karna tak mungkin mereka mencari personil baru. Lebih baik mereka bubar daripada melakukannya. Hampir sama dengan kisah X-JAPAN yang bubar pada tahun 1997 karena ditinggal hengkang oleh vocalistnya. Aoi dengan berat meninggalkan kantor PSC yang sekaligus menjadi studio bagi band-band naungan mereka.
Dipacunya mobil sport warna putih bergaris hitam itu, pikirannya kemana-mana, hingga tak terasa air matanya menetes. Ia tak tahu kemana tujuannya selanjutnya, lalu iPhone hitamnya bergetar, menunjukkan sebuah e-mail. Dari Kojiro Minami sang manager.

“Lusa akan diadakan pers conference untuk mengumumkan bubarnya the GazettE. Aku harap kalian berlima datang semua. Setidaknya berilah alasan kepada semuanya. Dan aku telah berbicara dengan semua staff the GazettE serta pihak PSC.”

Begitulah isi dari e-mail yang diterima Aoi dari sang manager.

“Sepertinya, semuanya sudah tau” dalam hatinya.
Ia terus menyetir mobilnya tak tahu kemana.




Di tempat Ruki

Ia membuka handphonenya, e-mail dari sang manager.
Sama seperti yang Aoi terima, sepertinya memang e-mail itu dikirim ke mereka berlima.
Dengan perasaan yang berat ia membacanya, menyakitkan. Setelah membacanya Ruki memasukkan handphonenya di saku jaketnya.

Ia berjalan dengan air muka sendu, berjalan menuju taman yang dekat dengan kantor PSC. Taman rindang dengan air mancur ditengahnya ini adalah tempat mereka berlima biasa berkumpul jika selesai latihan. Mereka berlima sering menghabiskan waktu disana. Tepat di kursi panjang yang menghadap air mancur, di bawah pohon sakura. Sangat manis ketika mengenangnya, mengenang saat-saat mereka bersama. 
Pria bertubuh paling mungil diantara teman-temannya ini pun tersenyum ketir. Kedua matanya menjelajah taman yang tak terlalu luas itu. Ia lalu mengambil duduk di kursi panjang berwarna coklat tempat mereka berlima dulu sering duduk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitamnya, sunyi, sepi, dan dingin, karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Ia pun menenggelamkan sebagian wajahnya ke dalam jaket yang memiliki leher panjang itu. Dan untuk yang pertama kali ia sendirian di tempat itu, benar-benar sendiri.



2 hari kemudian

Hari yang paling tak mereka inginkan pun datang. Pagi yang cerah, tetapi hari itu adalah hari paling suram sepanjang hidup bagi kelima pria yang sekarang sudah berada di dalam kantor PSC.

Sama seperti kemarin-kemarin, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Kai adalah orang yang terlihat paling terpukul, wajahnya sangat terlihat payah dan lelah, karena 2 hari ini ia tak tidur sama sekali. Reita berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok berwallpapper biru muda itu, dilipatnya kedua tangan di dadanya. Di depannya terdapat sofa memanjang berwarna coklat muda yang sedang diduduki oleh Uruha yang paling kiri, Aoi disebelah kanannya, serta Kai di sebelah Aoi. Sementara Ruki ia duduk di sofa kecil di pojokkan ruangan itu. Raut wajah mereka sama semua. KOSONG. Ruangan berukuran sedang itu pun sangat miskin suara.

KLEK

Pintu terbuka, dilihatnya manager setia mereka, dengan raut wajah yang tak kalah kosongnya memasuki ruangan itu.

“Ayo, semuanya sudah menunggu” perintahnya dengan lesu.

“Hai…” mereka berlima menjawab dengan lirih bersamaan sambil berjalan mengekor di belakang sang manager. 

Mereka berjalan dalam diam. Ruangan pers conference tak terlalu jauh dari tempat mereka tadi.
Dan ketika mereka memasuki ruangan..

Tap tap tap tap

Jepret jepret jepret

Jepretan dan blitz kamera langsung menghujani mereka begitu mengatahui incaran berita mereka memasuki ruangan. Semuanya telah berkumpul di ruangan yang lumayan besar itu, wartawan, cameramen, fotografer. Peliput berita mulai dari majalah music, surat kabar, televisi, bahkan wartawan lepas pun tak luput ada disitu, bahkan ada beberapa wartawan live siaran disana. Karena bagi mereka ini adalah berita yang besar, sangat jarang PSC khususnya the GazettE mengadakan pers conference. Apalagi pengumumannya baru 2 hari yang lalu, tentu saja mereka bertanya-tanya, maka tak heran banyak sekali wartawan yang datang di acara tersebut.

Reita, Kai, Ruki, Uruha, Aoi serta manager mereka pun duduk berurutan.
Di sebelah mereka telah duduk beberapa petinggi PSC. 

Pers conference pun dimulai. Dibuka oleh manager the GazettE.

Semua diam memperhatikan.

“Selamat siang rekan-rekan wartawan semua, maaf jika ini semua terlalu mendadak. Disini kami selaku pihak PSC dan the GazettE akan mengumumkan beberapa hal penting yang mungkin akan mengejutkan rekan-rekan semua”

Beberapa wartawan pun berkasak-kusuk. 

“Apakah ini menyangkut konser tour mereka? “ seorang wartawan laki-laki berkacamata mengacungkan tangan lalu langsung bertanya.

“Iyaa, ini juga menyangkut tour konser mereka” jawab sang manager

“Baiklah, mungkin akan lebih jelasnya akan disampaikan oleh Kai-san selaku leader dari the Gazette” 

Kai dengan wajah yang dipaksakan pun mulai mengumpulkan kekuatannya untuk mengatakan semuanya..

“Selamat siang, maaf menganggu waktu rekan-rekan wartawan semua. Disini saya selaku leader dari the GazettE ingin mengumumkan hal yang mungkin akan mengejutkan semua pihak..” Kai berhenti sebentar, sepertinya ia tak kuat. Tapi Reita yang ada disebelah kanan Kai pun memegang bahu Kai untuk memberikan kekuatan untuknya.

Semuanya diam, ingin menyimak setiap kata-kata yang akan keluar dari bibir pria yang mempunyai lesung pipi itu.

“Kami, the GazettE setelah melakukan pembicaraan yang cukup lama dan beberapa pertimbangan dari pihak member….”

“……..dengan sangat menyesal kami memutuskan bahwa hanya sampai tahun ke 10 ini the GazettE berkarya…“ 

Tentu saja pernyataan Kai tadi sontak membuat semua mata para pemburu berita disitu kaget. Pasalnya 5 hari lagi akan diadakan tour konser mereka. Dan mereka baru saja merilis album baru. Bahkan tak ada tanda-tanda perpecahan di band tersebut.

“…terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung kami selama ini, kami tak akan pernah menjadi seperti ini jika tanpa kalian. Terima kasih untuk segala dukungan yang telah kalian curahkan untuk kami semua. Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengecewakan kalian atas keputusan yang kami ambil ini…” 

Kai tak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya seakan tercekik, kedua matanya pun hampir saja meneteskan air mata. Ia telah kehabisan kata-kata.
Semua wartawan pun tak ada yang bisa berkata-kata karena mereka tentu saja tak pernah menyangka ini semua. Mereka saling berpandangan satu dengan yang lainnya.

“….alasan kami membubarkan the GazettE adalah karena sudah tak ada lagi kecocokan dalam bermusik, dan salah satu dari kami berlima memang ingin mengundurkan diri. Jadi, daripada kami harus berganti personil, lebih baik kami membubarkan band ini. Semoga kalian semua bisa menerimanya..” Reita pun menyambung pernyataan Kai dengan hati hancur.

Wartawan pun mulai ada yang berani bertanya, beberapa ada yang mengacungkan tangan. Manager the GazettE pun mempersilahkan seorang wartawan wanita untuk mengajukan pertanyaan.

“Saya ingin bertanya, siapakah yang ingin mngundurkan diri ? dan kenapa ini sangat mendadak, sedangkan GROAN of DIPLOSOMIA 5 hari lagi…” 

Uruha pun menjawab
“Masalah siapa yang memutuskan mengundurkan diri, ini adalah privasi kami. Kami tak ingin ada pihak yang berpikiran bahwa ini semua adalah salahnya, kami tidak menginginkan hal yang buruk terjadi padanya. Dan mengapa ini sangat mendadak karena sebenarnya perpecahan sudah sering terjadi diantara kami, dan karena alasan karena tak ingin lebih mengecewakan semuanya, kami memilih sekarang untuk mengumumkannya. Serta soal tour album baru kami, dari lubuk hati yang paling dalam kami sangat sangat menyesal, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya untuk semua orang yang telah menunggu kami untuk konser. Terima kasih…” jawab Uruha dengan nada yang tegas tapi terasa sekali ia juga kecewa dengan keputusan yang mereka ambil. 

“Lalu, mengapa kalian tidak mencari personil yang baru saja ?” Tanya seorang wartawan lainnya

DEG

“…..”

Belum ada yang berani menjawab.

“….dulu, saya, Reita, dan Uruha pernah mengatakan bahwa inilah band terakhir kami, dan karena alasan itulah kami lebih baik membubarkannya” Ruki pun tiba-tiba menjawab

“Dan entahlah, rasanya memang sangat aneh jika kami membubarkannya hanya kerena masalah yang sepele bagi sebagian orang. Tapi…jika kalian berada dalam posisi kami, kalian akan mengerti mengapa kami melakukan ini..” lanjut Ruki

Ya, memang alasan itulah yang ada. Sangat sulit menjelaskan kepada publik tentang pembubaran the GazettE, hanya mereka yang tahu, hanya yang pernah mengalaminya yang mengetahui bagaimana rasanya.

 “Jadi apakah masing-masing dari kalian akan membentuk band lain ?” Tanya seorang wartawan lagi.

“TIDAK” dengan tegas dan serentak mereka semua menjawab.

Mereka yang ada disitu pun dibuat terkejut kembali dengan perkataan mereka berlima. Karena jelas saja Reita, Ruki, serta Uruha tidak akan mungkin membentuk band lagi, sesuai janji mereka. Lalu Kai dan Aoi ada alasan tersendiri bagi mereka mengapa mereka tak ingin bekerja dalam band lagi.

“….”

“Karena saya merasa the GazettE adalah segalanya, dan saya tak mungkin bisa mendirikan band yang baru lagi. Saya mungkin tak akan bisa kalau harus mengulanginya dari awal bersama band lain.” Kai menjawab dengan lugas tapi dengan berat.

Ia pun mengingat waktu ia bergabung dengan Gazette setelah band itu ditinggal oleh Yune, drummer mereka saat itu. Waktu itu Ruki yang mengajaknya untuk bergabung.

 
Flash back

“Kai-kun, apakah kau sudah memutuskan band mana selanjutnya?” tanya Ruki pada waktu itu kepada Kai.

“Disini….Gazette” Kai menjawab dengan spontan. 

Entah mengapa ia merasa kalau Gazette lah band yang tepat untuk dia, setelah Kai keluar dari Mareydi†Creia.
 
End of flash back



“Lalu apa rencana kalian semua setelah ini ?” 

“Entahlah, kami tidak tahu. Yang jelas kami sudah memutuskan jalan mana yang akan kami tempuh masing-masing…” Kai menjawab.

Begitulah sesi pres con yang mereka adakan. Aoi pun hanya diam, ia tak berani menjawab, ia tak ingin mengatakan apa-apa saat ini. Dan Uruha yang merupakan teman terdekat Aoi hanya bisa meliriknya dengan sudut matanya.  Pertanyaan demi pertanyaan menyerbu mereka terkait dengan keputusan yang mereka ambil. 

Semua yang ada disitu tampak kecewa sekali. Begitu pula pihak PSC yang 2 hari lalu diberitahu oleh manager the GazettE, mereka tampak terkejut dan marah atas rencana yang mereka ambil. Tapi apa boleh buat, lagi-lagi keputusan telah diambil. Tak ada yang bisa merubah.

Pers conference pun selesai, semuanya keluar ruangan dengan kekecewaan di wajah mereka. Semuanya.

Berita pun langsung menyebar ke seluruh Jepang, bahkan seluruh dunia. Surat kabar, internet, televisi semuanya hangat membicarakan disbandnya the GazettE. Efeknya bukan hanya fans di Jepang saja, tapi juga di seluruh dunia. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Baru saja mereka senang karena the GazettE baru saja mengeluarkan album ke-6 mereka dan akan mengadakan tour konser. Tapi yang terjadi setelahnya sangat mengejutkan semua pihak, tak ada yang menyangka bahwa terjadi perpecahan di antara mereka berlima, sudah tak ada lagi kecocokan bahkan ada yang ingin keluar. Tak ada angin dan tak ada hujan. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya dan kecewanya mereka semua.

Bahkan band-band lain di Jepang terutama yang 1 management di PSC juga tak menyangka, semuanya terlihat baik-baik saja. Padahal mereka sangat sibuk di tahun 2012 ini, konser The Decade, pembuatan album baru, dll.
Begitulah yang ada….



Beberapa saat setelah pers conference

Kai, Uruha, Reita, Aoi, dan Uruha berada dalam ruangan manager PSC bersama Kojiro Minami dan Masashiro Jin manager PSC.

“Mungkin ini adalah harapanku bersama semua orang yang mendukung kalian selama ini.” Ucap Jin kepada mereka berlima

“….tapi aku sangat menginginkan ini akan terwujud entah kapan suatu hari nanti. Aku menginginkan kalian berubah pikiran dan membentuk the GazettE bersama lagi. Kalian berlima…”

“dan aku, bukan semua orang disini akan menyambut kalian dengan tangan terbuka. Semoga kalian berubah pikiran” lanjutnya sambil memandang ke mata mereka berlima.
Mereka masih diam, tak athu apa yang harus di katakan.

“Entahlah Masashiro-san, kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. “ terang Kai.

“mungkin ucapan terima kasih saja tak akan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa Anda dan pihak PSC yang lain telah membantu kami selama ini, menjadikan kami dikenal semua orang. Terima kasih banyak dari lubuk hati kami yang paling dalam..” lanjut Kai dan yang lain hanya tersenyum ketir.

“dan kami mohon maaf atas semuanya yang telah terjadi ini selama ini, sekarang kami akan mulai berjalan sendiri-sendiri”

“sekali lagi kami mohon maaf..” semuanya pun membungkukkaan badan ke Jin.

Mereka berlima pun berjalan ke luar ruangan itu.

“ingatlah, PSC dan semuanya akan setia menunggu kalian kembali…” ujar Jin ketika hanya punggung mereka yang terlihat.

Langkah mereka pun terhenti, tapi tak ada yang menoleh dan menjawab.
Pintu pun tertutup, dan hanya ada Minami dan Jin yang tersisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di suatu tempat dengan air mancur di tengahnya, dedaunan yang mulai menguning dan berguguran, langit berwarna orange, dan terlihat tak banyak orang disana. Lima pria tengah berkumpul disitu, 2 orang duduk di kursi panjang di bawah pohon bunga sakura, yang satu berdiri memandangi air mancur, serta 2 yang lain duduk sembarangan di atas tanah.

“Aku berterima kasih kepada kalian semua, atas semua yang telah kita alami dan yang kita hadapi. Aku seperti menemukan keluarga baru yang bernama the GazettE, meskipun kini keluargaku itu harus berakhir..”Aoi pun mulai berbicara menatap mereka berempat yang tengah duduk.

“Maafkan keegoisanku ini, aku benar-benar minta maaf, dan terima kasih untuk semuanya. Aku tak bisa berkata apapun selain ini…”

“Aku pun selalu mengingat bagaimana kita mengawali ini semua, menyenangkan sekali jika kuingat semuanya, kita tertawa bersama, menangis bersama, kecewa bersama, dan marah bersama. Aku selalu merasa di sinilah tempatku, ketika bersama kalian dan berada di atas panggung mengekspresikan apa yang kita rasakan bersama dan melakukan yang kita inginkan bersama. Aku akan selalu mengingatnya, selalu…”Aoi mengakhiri kata-katanya dengan air mata yang terus mengalir.

Reita yang tengah duduk di tanah itu pun berdiri lalu memeluknya. Pelukan yang semakin membuatnya menangis. Uruha yang duduk di kursi pun berdiri dan menghampiri mereka, memegang bahu Aoi, teman dekatnya.

“Kita tak akan melupakannya, perjalana kita tak akan mungkin kita lupakan, meskipun ini harus berakhir. Tapi kenangan itu akan terus membekas di hati kita semua. Aku bahagia bisa mengenal kalian semua dan menjalani kehidupan bersama kalian…”Reita berkata dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.

Kai yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menunduk dan tak kuasa menahan air matanya untuk menetes untuk kesekian kali dalam 2 hari ini. Dan Ruki yang masih duduk di kursi coklat memandang mereka dengan perasaan bersalah, sangat bersalah. Ia tak ingin menangis, tapi apa daya, kedua bola matanya telah memerah dan air mata yang siap menetes. 

Mereka berada dalam keheningan yang dipenuhi air mata, air mata perpisahan. Tak ada perkataan yang mengalun dari mulut mereka berlima, hanya isakan lirih.
Tak akan ada lagi nama the GazettE, tak akan ada lagi teriakan para fans mereka di tengah aksi mereka di atas panggung, tak akan ada lagi nama Ruki, Reita, Aoi, Kai, dan Uruha. Yang ada hanyalah Matsumoto Takanori, Suzuki Akira, Shiroyama Yuu, Uke Yutaka, dan Takashima Kouyou. 

Kai dan Ruki pun mengahampiri mereka bertiga, saling berpelukan. Pelukan yang terakhir yang mereka lakukan berlima.


==TBC===




Maaf maaf bila konfliknya tidak jelas (=________=)a
paling bingung soal pers conferencenya, jadi di skip aja :D
lalu soal nama manager PSC dan the GazettE itu nama ngasal, soalnya nyari nama managernya gak dapet, malahan katanya Uruha manager the GazettE 
buat bagian perpisahan mereka yang mereka pelukan terinspirasi waktu liat the GazettE nangis sehabis konser di Tokyo Dome 
okeeee, jaa~~ ^o^)//

About