Rabu, 23 Juli 2014

[Fanfic] FUTARI 'the other end' (DRAMAtical Murder)

the other end of fanfic FUTARI (DRAMAtical Murder) enjoy it~

FUTARI
Cast                : Aoba Seragaki, Sei

Fandom          : DRAMAtical Murder

Genre             : Family

Rate               : T

Author            : Lycoris


             “Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”

             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”

             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”

             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”

             “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”

             “Aoba mo.”

   Sei masih duduk terdiam di samping jendela kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi, pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.” Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini, minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.

Krek
Suara pintu terbuka.
Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah menunggu kepulangannya itu.
Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit basah itu.
Aoba melepaskan pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang pucat.
Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena Aoba sudah pulang.”
Belum sempat Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki itu pelukan hangat.
Sei hanya mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
Tak beberapa lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng, “aku menunggu Aoba Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang ayah, ibu dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.


Haruka Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka berdua.
Sei Seragaki, anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10 tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba, adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.

“Nah Sei, sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh darinya.
“Un, dan karena alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka, apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar besok.


Sei tengah duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan kata-katanya.
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah itu.
   “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum hangat, “Aoba mo.”
Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.


“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan yang mereka dapat.
“Buat permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.
“Fuuuh..” lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka tidak memegang bahunya.
“Bagaimana kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka mengikuti dari belakang.

Sei dan Aoba sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.
Pagi itu, menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei, kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.” Ujar Haruka.
Sei dan Aoba pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.
Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka berdua bersama.
“Kenapa anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei, perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik, kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
Allmate adalah seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus menyayanginya.” Haruka menambahi.
Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan matanya.
“Nah ! itu nama yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang namamu Ren. Yoroshiku i Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba. Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka, dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

13 tahun kemudian

21 April.

Sore itu Aoba masih mengantarkan barang-barang dari Heibon ke alamat yang di tuju. Ren setengah berlari di samping Aoba, sedangkan Aoba kesusahan dengan barang bawaan yang lumayan banyak hingga menutupi pandangannya. Itu adalah barang terakhir hari ini.
Sampai, segera Aoba memencet tombol rumah itu. Setelah seorang wanita paruh baya keluar dan menerima barang-barang yang lumayan berat, Aoba dan Ren segera undur diri.
Allmate biru itu Aoba taruh ke dalam tasnya dan ia matikan. Ia tahu Ren juga sudah sangat kelelahan karena seharian ini mengantarkan barang.
Langkah kakinya tiba-tiba menjadi berat ketika melewati sebuah toko bunga yang sudah tutup.
“Hhhh...” ia menghembuskan nafas dengan berat. Kedua kakinya tiba-tiba berat dan membuatnya harus berdiri mematung di depan toko yang tak terlalu besar itu.
Ia menengadah ke langit yang kini telah berubah warna menjadi hitam dengan beberapa bintang yang bisa ia lihat meskipun terhalang oleh bangunan-bangunan.
“Besok ya...” katanya lirih.
“Tunggu aku Nii-san...”
Aoba pun memaksakan kakinya untuk berjalan. Kedua maniknya telah menggantung embun yang telah siap menetes. Namun dengan segera ia mengelapnya dan segera pulang ke rumah.


Kamar yang berada di lantai 2 itu dibiarkan gelap. Angin malam masuk dengan bebasnya melalui beranda yang sengaja dibiarkan terbuka. Sebuah siluet menampakkan seseorang yang tengah menumpu badannya dengan kedua tangan di tepi beranda.
Aoba masih diam seraya pandangannya memandang kosong ke depan. Sunyi, hanya suara binatang malam yang terdengar. Aoba masih menikmati kesunyian yang tercipta. Lagi pula hampir setiap hari sepulang bekerja paruh waktu di Heibon ia juga seperti itu. Menciptakan sebuah kesunyian yang hanya boleh dia sendiri nikmati.
Mungkin jika peristiwa itu tak pernah terjadi, Aoba tak akan seperti sekarang. Jika dulu pribadi Aoba adalah seorang yang periang dengan segala kemanjaannya. Sekarang semua itu telah berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri di dalam kamarnya. Merasakan memori seseorang yang telah berbagi kehidupan dengannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan Aoba hanya tinggal setengah. Ia seperti setengah hidup dan setengah mati.
Jika saja Ren yang tak secara tiba-tiba menghampirinya, mungkin Aoba akan lebih dalam lagi menyelami kesunyiannya malam itu.
“Aoba, cepat tidur. Bukannya pagi-pagi Aoba harus kesana.” Ren berkata dengan nada seperti biasanya.
“Aa kau benar Ren. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk itu.” Segera ia menggendong Ren dan menutup pintu berandanya.
Malam itu Aoba tidur dengan setitik air mata yang mengalir.


Itterasai Aoba.” Ujar Tae di depan pintu.
Hai ittekimasu baa-chan, Ren.” Aoba menatap secara bergantian neneknya dan Ren.
“Sampaikan salam kami untuk Sei.” Tae berkata dengan nada lirih dan sedih.
Aoba hanya tersenyum kecut kemudian mulai berjalan meninggalkan Tae dan Ren.


 “Kore Aoba...” ucap wanita pemilik toko bunga itu sambil memberikan beberapa bunga matahari permintaan Aoba.
“Sebuket bunga matahari seperti biasanya.” Tambahnya wanita yang kira-kira berumur 30an itu.
Aoba menerimanya dan memberikan beberapa lembar uang.
Sankyu, ja na..” belum sempat Aoba untuk pergi wanita pemilik toko bunga itu dengan sigap memegang bahu Aoba.
“Tunggu dulu Aoba. Tunggu sebentar disitu.” Ia pun mengambil beberapa tulip putih segar.
“Ini untukmu, tanjoubi omodetou.
Ia terdiam beberapa saat dan memandang bunga yang kini telah berada ditangannya.
Hai arigatou Hiza-san.” Aoba tersenyum dan beberapa saat kemudian ia meninggalkan toko bunga yang dulu sering sekali ia dan Sei kunjungi untuk membeli bibit bunga matahari. Dan beberapa bulan kemudian mereka berdua akan kembali untuk menjual biji-biji bunga matahari di tempat itu.
Itu dulu sekali sewaktu mereka masih kecil dan Sei masih bisa berjalan-jalan. Ya dulu, sebelum semuanya berubah.


Didekapnya sebuket bunga matahari dan beberapa bunga tulip yang baru saja ia beli. Udara pagi Midorijima memang segar apalagi jika sudah dekat dengan pantai seperti ini. Hampir setengah jam Aoba berjalan, hembusan angin pantai bisa ia rasakan.
Tak jauh lagi. Di lihatnya sebuah bukit yang sangat dekat  yang menjorok ke pantai. Itu adalah tempat tujuannya. Karena disana Sei sudah menunggu ke datangannya.


“Aku datang Nii-san.” Di lihatnya dengan tatapan sendu sebuah gundukan yang di atasnya sudah ditumbuhi rerumputan itu. Sebuah nisan dari kayu berwarna coklat tua dengan ukiran ‘Sei Seragaki’ terpampang jelas di depan Aoba.
Aoba berjongkok di depan makam yang merupakan satu-satunya yang ada disana.
Otanjoubi omedetou Nii-san.” Ucapnya parau yang disertai dengan sebuah senyuman getir. Ditaruhnya sebuket bunga matahari itu. Ia terdiam, lama. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang memanas. Di telannya ludah dengan berat. Masih terngiang ingatan 2 tahun yang lalu, ketika ia dengan jelas melihat sebuah kendi porselain yang berisikan abu Sei dikubur disana. Serasa sebagian hidupnya telah terkubur juga. Karena alasan itulah sikap dan sifat Aoba berubah.
Tiba-tiba saja kedua mata Aoba terasa sangat berat dan ia pun tertidur di samping makam Sei.

“Aoba...” suara lembut yang sangat ia rindukan itu membangunkan Aoba dari tidurnya.
Aoba masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Nii----Nii-san.” Aoba hanya bisa tergagap begitu melihat Sei berjongkok di depannya.
“Aku disini Aoba, apa Aoba merindukanku ?” Senyum yang sangat Aoba rindukan kini bisa ia lihat dengan jelas.
Segera Aoba bangun dari posisi tidurnya dan memeluk kakaknya tiba-tiba.
“Nii-san aku sangat merindukanmu, sangat dan sangat.” Air mata Aoba akhirnya keluar. Sei mengelus punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.
Selama beberapa saat mereka berpelukan. Aoba begitu menikmati pelukan hangat sang kakak. Sudah lama ia tak mendapat pelukan yang selalu bisa membuatnya tenang itu.
“Aoba, kau sehat kan ? Kau selalu makan masakan Baa-chan kan ? Ah iya apa Baa-chan baik-baik saja ? Dan Ren ?” Sei bertanya tanpa jeda. “Hehe gomen gomen aku bertanya banyak sekali pada Aoba.”
“Iie Nii-san, daijobu. Semuanya baik-baik saja. Nii-san bertanya apa saja pasti akan aku jawab.”
“Hai hai Aoba sangat baik.”
Aoba pun melepas pelukannya. Ia memandang Sei dengan setengah percaya setengah tidak. Sei yang meninggalkannya 2 tahun yang lalu telah berada di depannya. Tersenyum, bahkan memeluknya.
“Ini....nyata kan Nii-san ?”
“Hmm ?” Sei menatap Aoba. “Tak peduli ini nyata atau tidak, tak peduli jika ini mimpi atau bukan. Bukannya yang lebih penting kita bisa bertemu ?”
Aoba terdiam sejenak.”a-aaa....”
“Ne Aoba, apa Aoba kesepian ?”
“........”
Aoba tak berani menatap manik hitam Sei. Bahkan Sei tak bertanya pun harusnya ia sudah tau bahwa Aoba sangat kesepian. Sangat. Setelah di tinggalkan oleh kedua orang tua mereka kemudian Sei, apa Aoba tak kesepian ? Berkali-kali ia telah di tinggalkan oleh orang-orang yang sangat berharga untuknya.
Sei menatap sekitarnya yang semuanya serba putih itu.
“Kau tau Aoba, aku sangat beruntung menjadi kakakmu. Karena Aoba selalu menjagaku sampai saat itu. Tak ada yang lebih membahagiakanku dari pada itu. Itu sudah cukup bagiku Aoba. Mempunyai ikatan darah dengan Aoba dan selalu bersama Aoba. Aku.....bahagia Aoba, sangat bahagia.”
“Nii-san.....” ia berkata lirih diikuti oleh tatapan lembut Sei.
“Meskipun terbilang singkat kebersamaan kita tapi hari-hari yang kita jalani bersama sudah membuat hidupku yang singkat ini berharga dan bahagia. Aoba sudah membuatku tersenyum, dan sekarang masih banyak orang yang harus Aoba buat tersenyum juga. Ada Baa-chan serta Ren yang sangat membutuhkan Aoba.”
Air mata Aoba jatuh kembali  tanpa ia sadari. Ia terlalu terpuruk atas kehilangan kakaknya itu hingga ia melupakan orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang selalu mengkhawatirnya, orang-orang yang ingin Aoba tersenyum seperti dulu.
“Aoba mengerti kan ? Lagi pula ini bukan akhir Aoba, ini adalah awal. Karena....suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Pasti.”
“Nii-san, aku....aku juga sangat beruntung bisa menjadi adikmu. Berbagi semuanya dengan Nii-san. Dan....”Aoba memenggal perkataannya.
“Hmmn ?”  Sei menatap lekat-lekat adiknya. “Aoba, sepertinya aku harus pergi lagi sekarang.”
Aoba tak mengerti dengan apa yang Sei katakan. Hingga dengan perlahan tubuh Sei mulai menghilang.
“E—ehh ?? Nii-san aku.....aku, aku akan hidup untuk orang-orang yang ada disekitarku. Membuat mereka semua tersenyum !” ia tak bisa lagi membendung air mata itu. Semuanya jatuh.
Sei tersenyum hangat dan mengangguk pelan. Dan Aoba berusaha memeluk kakaknya itu sekali lagi. Meskipun perlahan ia mulai menghilang. Aoba hanya ingin memeluk Sei sekali lagi.
“Aku tau Aoba akan bisa berjalan kembali.” Sei menepuk halus kepala Aoba, meninggalkan rasa nyaman yang tak akan pernah Aoba rasakan kembali. “Aoba selamat tinggal.”
“Nii-saaaaaannnn.......”
Hilang, meninggalkan Aoba yang memeluk erat badannya sendiri. Dan ia pun tertidur kembali.


Semilir angin membuatnya terbangun. Di kedua pipinya terdapat bekas air mata. Masih sangat jelas semuanya, Sei yang selalu ia ridukan.
Ia pun tersadar, merasakan di tangan kanannya ia menggenggam sesuatu. Dilihatnya benda itu, dan ia pun tersenyum. Nyata, apa yang ia alami adalah kenyataan.
Sei yang selalu melihatnya dan Sei yang selalu ada di sebelahnya.
Nii-san, akan aku jaga ini seperti waktu itu. Dan aku akan membuat orang-orang yang ada si sekitarku tersenyum. Aku berjanji.”


Pemuda bersurai biru itu pun mulai beranjak dari tempat itu. Meninggalkan sebuket bunga matahari yang kini tengah bersender dengan nisan kayu.

“Aoba harus ingat, tak ada orang yang benar-benar sendiri di dunia ini. Begitu pula dengan Aoba.”


---OWARI---




terima kasih untuk lagu Tears by Ito Kanako. karena dengan lagu itu author akhirnya bisa cepet nyelesein ending untuk ini fanfic, meskipun harus absen 3 bulan.

Jumat, 11 Juli 2014

[Fanfic] BUTTON START (BORN)

Fanfic untuk ulang tahun Leader. Semoga ia mendatkan ulang tahun yang menakjubkan.


Author            : Lycoris

Fandom          : BORN

Cast               : Ray, Ryoga, TOMO, K, KIFUMI

Genre             : Friendship


“Jadi ?” sebuah pertanyaan dilemparkan kepada ketiga anak laki-laki yang duduk melingkari meja setelah hampir 15 menit mereka berdiskusi.
“Ha ? Apa ?” tanya salah satu yang berambut pirang itu kepada ketiga temannya.
“Haaahh.” Si rambut hitam yang bertubuh lebih kecil hanya menghembuskan nafas. Kebiasaan, katanya dalam hati. “Fokus Ryoga, fokus !” katanya dengan sedikit penekanan.
Yang punya nama Ryoga pun hanya mendengus kesal “Huuh aku sudah fokus, tapi Tomo yang memang tidak jelas.”
“Ha ? apa katamu ?” yang terlihat paling tinggi itu pun melotot ke anak laki-laki yang berada tepat di depannya.

Bletak
Sebuah jitakan dengan sempurna mengenai kepala Ryoga
It—itte na, kau jahat Tomo. Apa salahku ?!” rintih Ryoga sambil memegangi puncak kepalanya yang baru saja terkena jurus andalan Tomo.
Melihat kedua temannya melakukan rutinitas hariannya membuat salah satu dari mereka akhirnya angkat suara.
Maa sudahlah, kita kalau seperti ini terus tidak akan mendapatkan gitaris lagi.”
“Yang dikatakan Kifumi benar, berhentilah bertingkah seperti anak SMP.” Si rambut hitam itu pun membenarkan.
“Kifumi, K, kalian tau sendiri kan si dungu Ryoga ini memang selalu membuat masalah. Disaat kita serius membicarakan band kita, dia dengan enaknya hanya berkata ‘Ha ? Apa?” kedua mata Tomo mengintimidasi Ryoga. Dan yang dibicarakan hanya menggembungkan pipinya sambil menunduk, seperti biasanya.
Ryoga tak mau kalah, segera ia menatap lawan abadinya itu. “Tapi aku tadi memang tidak mendengar kau berkata dengan jelas. Sudah tau kedua telingaku sedang mendengarkan lagu.”
“Tapi kau harusnya sudah tau kalau kita sedang mengadakan rapat penting. Kau seharusnya melepas headsetmu itu Ryo-chan.” Tomo semakin menjadi. Dan Ryoga sudah berdiri dari kursinya, bila sudah seperti ini Kifumi dan K hanya bisa menghembuskan nafas berdua.
“Pertempuran dimulai....” ucap mereka berdua bersamaan, dan tak lama setelah itu adu mulut Tomo dan Ryoga pun dimulai.
“Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu !” Ryoga menggebrak meja, diikuti Tomo yang hanya tersenyum mengejek ke arah Ryoga.
“Tapi itu memang namamu kan Ryo----chan.” Tomo semakin merasa menang mengejek Ryoga yang memang dari dulu tak pernah suka dipanggil dengan Ryo-chan.
Ruangan kelas yang sudah sepi itu menjadi gaduh karena suara emosi Ryoga dan suara mengejek Tomo. Kifumi dan K lebih memilih membaca majalah musik yang mereka bawa sambil mendengarkan lagu dengan menggunakan headset. Ini adalah cara yang paling ampuh untuk ‘melarikan diri’ dari pertempuran sengit Tomo dan Ryoga.

Braak
Kali ini Ryoga menggebrak meja dengan sangat keras, membuat Tomo kali ini diam dan membenarkan posisi duduknya. Kifumi dan K melepas headset mereka masing-masing dan duduk menghadap Ryoga.
Ryoga akan berkata serius, batin mereka bertiga.
“Kali ini akan aku cari gitaris yang benar-benar pas untuk kita.” Ujar Ryoga mantap menatap ketiga temannya.
“Kau yakin ?” Kifumi bertanya.
“Ini kesempatan terakhirmu Ryoga.” K menambahi.
Ryoga diam sejenak, “....yakin, sangat yakin!”
Tomo pun berdiri. “Baiklah kau yang mencari, tapi kali ini jangan salah lagi. Aku sudah lelah jika harus berganti-ganti gitaris baru dalam waktu satu minggu ini. Total sudah ada 3 gitaris yang kau bawa dan mereka berantakan semua.” Diambilnya tas miliknya dan Tomo bersiap pergi.
“Aku tak akan mengecewakan kalian, tapi berikan aku waktu 3 hari.”
Tomo yang sudah akan keluar kelas itu pun segera membalikkan badannya dan menatap tajam Ryoga.
“Tiga hari ? itu terlalu lama.”
“Tapi aku yakin ‘dia’ orang yang tepat, aku berani bertaruh.” Kedua manik Ryoga menatap yakin ke arah Tomo.
             Tomo pun memunggungi Ryoga dan mulai mengambil langkah. “2 hari tidak lebih.” Ucapnya sampai pada akhirnya ia hilang dari kelas itu.
            Ryoga tersenyum, “aku tak akan mengecewakanmu lagi.” Sedangkan Kifumi dan K hanya bisa diam menatap keduanya.
       Sore itu entah kenapa Ryoga bisa sedikit puas, meskipun gitaris yang mereka berempat belum ditemukan tapi dalam diri Ryoga ia sudah yakin bahwa anak laki-laki itu adalah jawabannya.



             “Tidak, terima kasih !” ditutupnya dengan kasar buku tebal yang disampulnya tertulis “Chemistry” itu.
                “Ayolah, kau satu-satunya orang yang pas menjadi rhytm gitaris kami.” Mohon anak laki-laki yang tak lain adalah Ryoga.
                “Sudah ku katakan aku tak tertarik bergabung dengan band.” Segera anak laki-laki itu membereskan buku-buku yang baru ia baca di sudut meja. Penjaga perpustakaan akan sangat marah jika buku-buku itu berantakan.
                Ryoga tak mau kalah, karena kali ini ia tak akan salah pilih orang lagi. “Lalu tempo hari yang kau lakukan di studio musik kelas 3 apa ?” Ryoga setengah berteriak dan langsung mendapat tatapan horror dari anak-anak lain yang berada di perpustakaan, tapi Ryoga tak mempedulikannya. Karena baginya sekarang yang jauh lebih penting adalah anak laki-laki yang berada di depannya.
              Tanpa menunggu aba-aba anak laki-laki yang tingginya tak lebih dari Ryoga itu pun menggeret paksa lengan Ryoga, yang terpenting mereka berdua keluar dari perpustaan.
                 Setelah di rasa aman ia pun melepaskan tangan Ryoga dan langsung menatap tajam mata Ryoga.
            “Dengar, sekali lagi aku tegaskan, aku sama sekali tak tertarik bergabung dengan band apalagi denganmu, dan aku tak mengerti dengan apa yang kau bicarakan. Jadi berhentilah memaksaku untuk ikut denganmu.” Anak laki-laki itu berkata dengan sangat jelas, sengaja agar Ryoga mengerti dan tak menganggunya lagi. Tapi bukan Ryoga jika ia berenti hanya karena itu.
              “Aku mendengarnya, aku mendengarkanmu memainkan gitar di studio kelas 3 tempo hari, bukannya sudah ku katakan tadi huh ?”
Deg
“Ray, itu namamu kan. Permainanmu sangat keren. Apa kau akan menyia-nyiakannya ? dan aku mengajakmu karena selera musik kita sama.” Ryoga berkata serius dan hanya diikuti kediaman Ray.
“......”
“Aku tak akan berhenti untuk membujukmu Ray, pastikan itu.” Ryoga pun beranjak meninggalkan Ray seiring dengan bel sekolah yang telah berbunyi, menandakan waktu untuk istirahat telah usai.
Ray masih diam di depan tangga, perkataan Ryoga masih terngiang di kepalanya. Sangat jarang ada orang yang mengakui permainan gitar Ray karena ia memang hampir tak pernah menunjukkannya di depan umum. Anak laki-laki berambut coklat gelap itu lebih memilih sendirian ketika memainkan gitar. Dan sepertinya ia ‘ketahuan’ memainkan gitar di studio musik milik kelas 3 sore itu, padahal ia sudah memastikan tidak ada orang di sekolah saat jam itu.
Fikirannya tak fokus ketika ia memasuki kelasnya bahkan ketika mata pelajaran dimulai pun ia yang duduk di samping jendela hanya menatap kosong buku Kimia miliknya.
“Apa kau akan menyia-nyiakannya ?”
“Aku tak akan berhenti untuk membujukmu Ray, pastikan itu.”
Kata-kata anak laki-laki yang tak dikenalnya masih saja berputar-putar di kepalanya.
“Apa benar ini bukti bahwa aku menginginkan bergabung dengan band anak itu ?” ia bergumam sendiri.
“Aaaaa itu tidak mungkin, aku sudah berjanji akan menjadi guru bukan menjadi anak band !” tak sadar Ray berteriak di dalam kelas. Kontan saja seisi kelas plus seorang guru perempuan paruh baya memelototinya.
“Ray-san apa kau tidak ingin mengikuti pelajaranku ? kalau tidak ingin jangan berteriak lebih baik kau keluar dari kelas.” Perkataan guru Kimia kontan saja membuat wajah Ray merah padam menahan malu dan teman-teman sekelasnya hanya tertawa mengejeknya.
Summimasen, summimasen...” Ray menunduk dalam-dalam dan menahan malu.


Siang itu Ryoga kembali mencari Ray, dengan tekad yang melebihi kemarin dengan penuh percaya diri ia menghampiri kelas Ray 2-1.
“Permisi, apa Ray ada ?” teriaknya ke seantero kelas yang langsung saja ditatap penghuni kelas termasuk Ray yang sedang menikmati roti sambil membaca bukunya.
“Hkkkk.” Ray tersedak, rotinya tersendat di tenggorokannya, segera ia mengambil air mineral yang ada di depannya dan diminumnya hingga roti itu meluncur dari kerongkongannya.
“Haahh anak itu lagi.” Ia mendengus kesal. Sedangkan Ryoga dengan santai berjalan menghampiri Ray dengan wajah ‘sok kenalnya’.
“Yosh Ray-chan...” sapa Ryoga dan ia pun langsung duduk di depan tempat duduk Ray.
“Hhhaah ? Apa-apaan kau memanggilku Ray-chan ! aku mengenalmu saja tidak.” Ray pun melanjutkan membaca buku catatannya. Sudah cukup kesialan yang anak ini berikan kemarin.
“Haha maaf aku lupa memberi tahu siapa namaku. Ryoga, kelas 2-4. Wajar bila kau tak mengenalku, kelasku dipenuhi oleh anak-anak bandel yang tidak seperti kelasmu ini yang dipenuhi anak-anak pintar semua.” Ryoga mengedarkan pandangannya menatap ke anak-anak yang sedang membaca bukunya meskipun ini jam istirahat, sangat berbeda dengan kelasnya.
“Sudah aku katakan aku tak ingin bergabung.” Acuh Ray sambil membalik halaman berikutnya. Tiba-tiba Ryoga merebut buku catatan yang Ray pegang.
“Apa semua anak pintar mengesalkan huh ?” tanpa menunggu persetujuan Ray, Ryoga berdiri dan menarik lengan Ray.
“Woi lepaskan aku !” Ray memberontak. Namun sial sepertinya tenaga Ryoga lebih besar darinya. Adegan itu hanya bisa disaksikan para mata dan mereka hanya diam sambil sesekali berbisik-bisik.
Sudah cukup gara-gara Ryoga kemarin Ray menahan malu dan sekarang gara-gara Ryoga pula ia menjadi bahan tontonan gratis. Ray hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan wajahnya.

Sampai, Ryoga melepaskan tangannya dari lengan Ray. Sedikit meninggalkan bekas merah disana. Ray hampir saja protes kalau saja ia tak menyadari bahwa ia sekarang ada di mana.

“Studio 3”

Ray terdiam beberapa saat hingga melupakan Ryoga yang kini tengah tersenyum.
“Sore itu aku kembali ke sekolah karena pensilku satu-satunya tertinggal di dalam kelas. Pensil itu sangat berharga, karena dengannya aku bisa membuat lagu yang kami berempat mainkan.” Ryoga menyenderkan punggungnya ke tembok dan menatap pemandangan dari lantai 2 itu.
Ray masih tak terdiam, kali ini ia sedikit melunak dan berusaha mendengarkan cerita Ryoga.
“Kau tau aku adalah vokalis bandku, Tomo ia drummer, Kifumi seorang bassis dan K ia adalah leader gitaris. Aku dan Tomo adalah teman masa kecil, sedangkan Kifumi dan K aku mengenalnya ketika memasuki bangku SMA. Bersama mereka bulan lalu band kami terbentuk meskipun kami merasa kami masih kurang. Yaah kami kurang seorang rhytm gitaris.” Ryoga memberi jeda. Angin siang itu membuat beberapa helai rambutnya terangkat.
“Sebulan ini aku yang bertugas mencari seorang gitaris karena mereka merasa bahwa aku yang memang akan lebih banyak bekerja dengannya. Dan seminggu belakangan kami sudah bergonta ganti 3 orang karena permainan mereka sangat buruk.”
“Lalu sore itu tanpa sengaja aku mendengarkan suara gitar dari dalam sini karena penasaran aku pun mengintipnya, dan----itu kau Ray. Kau sangat hebat, permainan yang kau ciptakan sesaat membuatku terdiam. Dan saat itu pula aku tanpa sadar berkata ‘ini dia yang kami cari’.” Ryoga menoleh ke arah Ray.
“Tapi dulu beberapa orang bilang permainan gitarku berisik, makanya aku tak pernah memainkannya di depan orang banyak.” Ray akhirnya bersuara setelah mendengar cerita Ryoga.
Ryoga tersenyum lalu menghampiri Ray, “itu pula yang orang lain bilang kepadaku, Tomo, Kifumi dam K. Tapi itulah aliran musik kami, dan kau, kau adalah orang yg tepat. Denganmu, kita akan membuat musik yang orang lain bisa mengakui dan menikmatinya. Dengan permainan gitarmu, suaraku, dentuman bass Kifumi, hentakan pedal Tomo serta alunan nyaring gitar K aku yakin kita akan menjadi band yang hebat suatu saat lagi.”
Kali ini Ray tak bisa berkata apa-apa, apa yang Ryoga katakan memang benar. Ray kecil dulu sangat menginginkan menjadi musisi rock oleh karenanya ia belajar sendiri memainkan gitar akustik dan gitar listrik meskipun banyak orang-orang yang memaki permainan berisiknya. Oleh karena itu ia menghentikan mimpinya dan membuat mimpi baru. Tapi kini di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki sebayanya yang dengan senang hati mengajaknya untuk bergabung dalam band. Menggali kembali cita-cita yang pernah kandas. Ray ragu apakah ia akan menerimanya atau tidak.
“Aku tidak tau Ryoga.”
Ryoga menatap intens Ray, “kau hanya belum yakin itu saja.” Di tepuknya bahu kanan Ray.
“Besok saat jam istirahat kami akan menunggumu disini, jika kau datang berarti kau menerima tawaranku dan kembali membuat mimpimu. Namun jika kau tak datang maka kau selamanya akan mengubur mimpimu itu.” Setelah mengatakan hal itu Ryoga pun berlalu meninggalkan Ray yang masih dibuat bimbang dengan mimpinya.


“Kau yakin dia akan datang ?” Kifumi berjongkok sambil memainkan tali sepatunya.
“Un aku yakin dia pasti datang, aku bisa melihatnya dari kedua matanya.”
Bletak
Sebuah jitakan kembali mendarat dengan sempurna di kepalanya dan pelakunya siapa lagi kalau bukan Tomo.
“Jangan yakin dulu sebelum hal itu benar-benar terjadi.” Tanpa rasa berdosa Tomo kemudian berdiri di samping K di depan pintu studio yang kosong itu.
Itte— yang ini benar-benar sakit !” Ryoga berteriak ke arah Tomo.
Mereka berempat pun hanya bisa menunggu. 5 menit 10 menit hingga waktu istirahat pun hampir berakhir.
Ryoga sama sekali tak ada tampang keresahan, karena ia yakin Ray akan datang, pasti.
“Oi Ryoga mau sampai kapan kita menunggu, sepertinya dia tak akan datang, 2 menit lagi waktu istirahat akan habis.” K melihat ke jam tangannya.
“Sebentar lagi, dia pasti da—“
“Maaf aku terlambat, aku harus ke ruang guru tadi.” Ray berlari menghampiri mereka berempat.
Datang, ya Ray si anak laki-laki yang mereka berempat tunggu pun akhirnya datang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di tutupnya album foto itu. Namun ada sebuah senyuman manis terukir di wajah pria berambut merah itu. 9 tahun yang lalu dia dan keempat temannya memulai semuanya. Keempat anak kelas 2 SMA yang mencoba meniti tangga menuju mimpi mereka. Segala keringat, air mata, dan tawa terbayar sudah. Meskipun belum seperti yang mereka inginkan tapi mimpi itu toh memperlihatkan nyatanya. Musik mereka diakui dan dinikmati semua orang, itu yang membuat mereka tersenyum puas atas kerja keras selama ini. Meskipun harus berganti nama 3 kali tapi mereka masihlah sama, Ryoga yang masih sama, Tomo yang masih sama, K yang masih sama dan Ray yang masih sama. Hanya Kifumi yang kini memiliki jalan lain, jalan meskipun berbeda tapi mimpi dan harapan yang masih sama. Meskipun mereka tak berlima seperti saat Ray datang di depan studio musik kelas 3 tapi yang mereka yakini masih sama.
“Kau yang akan menjadi leader kami Ray. Karena kami lihat kau yang paling pintar di antara kita berlima.”
Perkataan Ryoga yang memang sedikit ‘nyeleneh’ itulah yang menjadikan Ray menjadi seorang Leader sampai sekarang.
Ray tak bisa memungkiri bahwa sekarang mereka tak bisa lagi kembali di hari itu. Hari ini dan esok lah yang harus ia hadapi sekarang. Mungkin suatu saat mereka berempat akan mengambil jalan seperti Kifumi, tapi yang terpenting saat ini ia, Ryoga, Tomo dan K lakukan adalah membuat musik yang bisa disampaikan kepada semua orang. Karena melalui musik lah mereka berbicara.
“Hoaam..” Ray menguap. Di lihatnya jam dinding yang menempel di dinding abu-abunya, pantas saja ia sudah mengantuk, jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Kebiasaan buruknya, ia baru bisa tidur di atas jam 2 pagi. Hal serupa juga terjadi pada rekan-rekan musisinya.
Ia pun beranjak ke kamar tidurnya. Baru saja ia akan membuka pintu kamar tidurnya, bel apatonya berbunyi.
“Ck siapa yang bertamu di jam seperti ini.” Dengan malas ia pun berjalan ke depan pintu.
Krek
Pintu pun ia buka.
Otanjoubi Omedetou Leader-chan !!” serempak Ryoga, Tomo, K dan— Kifumi mengagetkan Ray dengan ucapan ulang tahunnya.
Sebuah kue tart putih dengan tulisan ‘tanjoubi omedetou Leader’ beserta beberapa lilin kecil yang menyala berada di kedua tangan Ryoga. Tak lupa dua buah konfeti yang masing-masing di bawa oleh Tomo dan K yang berhasil membuat Ray terkaget. Serta tak lupa pula beberapa bir yang berada di dalam kantong plastik yang Kifumi bawa.
Ray masih terdiam di depan pintunya dan hanya disertai tatapan bengong keempat temannya.
Ne Ray, daijobu ?” Tomo mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Ray.
“U—un aku tidak apa-apa.....Arigatou minna.” Ray tersenyum dengan sebutir air mata yang jatuh dari manik coklat tuanya.


 Dan hari itu mereka berlima larut dalam pesta kecil yang sengaja Ryoga, Tomo, K dan Kifumi siapkan. Kifumi yang jauh-jauh datang dari kota tempat tinggalnya malam itu bercerita tentang apa saja yang ia lakukan. Ryoga bernyanyi tak jelas karena efek bir, Tomo beberapa kali melemparkan pernyataan kepada Ray tentang masa-masa SMA mereka dulu dan hanya disambut tawa lebar dari teman-temannya yang lain, sedangkan K ia berhasil membuat Ray malu hari itu. Ray di foto dengan memakai pakaian perempuan yang sengaja K siapkan, dan tak lupa beberapa make-up tebal hasil perbuatan Kifumi dan Tomo. Sebuah acara kecil namun sangat berkesan bagi Ray, setiap tahun yang berbeda namun makna yang sama. Sebuah cerita baru yang siap ia masukkan ke dalam buku album kenangan yang ia simpan di memorinya. 


---OWARI---




Hwaaa iya tau ini sudah telat satu hari, tapi karena kemarin memang tidak bisa online buat posting jadinya memang di posting sekarang. Maaf untuk segala kegaringannya karena memang cuma sehari bikinnya dan langsung jadi *inspirasi minggu2 ini hilang entah kemana*.
dan sekali lagi,

HAPPY BIRTHDAY Ray !!!


Selasa, 22 April 2014

[Fanfic] FUTARI (DRAMAtical Murder)


For Aoba and Sei birthday (22 April).


Cast                 : Aoba Seragaki, Sei

Fandom           : DRAMAtical Murder

Genre              : Family, general

Rate                 : T

Author             : Lycoris


             “Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”
             “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”
             “Aoba mo.”


   Sei masih duduk terdiam di samping jendela kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi, pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.” Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini, minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.

Krek
Suara pintu terbuka.
“Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah menunggu kepulangannya itu.
Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit basah itu.
Aoba melepaskan pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang memang pucat.
Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena Aoba sudah pulang.”
Belum sempat Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki itu pelukan hangat.
Sei hanya mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.

Tak beberapa lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng, “aku menunggu Aoba, Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang Tou-san, Kaa-san dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.

Haruka Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka berdua.
Sei Seragaki, anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10 tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba, adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.

“Nah Sei, sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh darinya.
Un, dan karena alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka, apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar besok.

Sei tengah duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan kata-katanya.
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah itu.
   “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum hangat, “Aoba mo.
Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.



“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan yang mereka dapat.
“Buat permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.

“Fuuuh..” lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
“Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
“Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka tidak memegang bahunya.
“Bagaimana kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka mengikuti dari belakang.

Sei dan Aoba sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.

Pagi itu, menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei, kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.” Ujar Haruka.
Sei dan Aoba pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.
Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka berdua bersama.
“Kenapa anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei, perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik, kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
“Allmate adalah seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus menyayanginya.” Haruka menambahi.
Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan matanya.
“Nah ! itu nama yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang namamu Ren. Yoroshiku Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba. Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka, dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
13 tahun kemudian

Aoba masih sibuk mengantar barang-barang Heibon di sekitar Midorijima. Ren, berjalan di depan Aoba, tak biasa karena biasanya Ren selalu masuk ke dalam tas duffel yang Aoba selempangkan.
Sudah sekitar pukul 5 sore tapi ia belum selesai melakukan pekerjaan paruh waktunya, pasti Sei dan Tae tengah menunggunya sekarang.
Yabai, sepertinya aku harus cepat-cepat.” Aoba pun akhirnya berlari untuk mengantarkan barang yang terakhir dan Ren pun terpaksa harus berlari juga untuk menyusul Aoba yang sudah hampir 13 tahun menemaninya.

“Aoba telat pulang lagi sepertinya.” Ujar laki-laki berambut hitam sebahu lirih. Ia masih sibuk menata makanan yang baru saja ia masak. Itu adalah pekerjaannya sehari-hari, karena sangat tidak mungkin ia untuk bekerja terlalu keras yang dapat menyebabkan kondisi badannya memburuk.
Sei, yang ia lakukan sehari-hari adalah membuat boneka-boneka kecil pesanan orang-orang sekitar Midorijima. Selain itu ia yang biasanya menyiapkan makanan untuknya, Aoba dan Tae. Sebenarnya jika bisa ia ingin sekali bekerja diluar seperti adiknya dan neneknya, bahkan sampai melakukan perjalanan seperti kedua orang tuanya. Tapi sepertinya kondisi badannya yang harus terus menerus tergantung dengan obat menyebabkan ia tak bisa melakukan hal-hal itu.
Pemilik suara lembut itu hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah, dan jika ia keluar pun ia tak boleh terlalu lama. Tapi meskipun ia seperti itu, setidaknya ia tidak berdiam diri begitu saja, menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Sei masih bisa beraktifitas meskipun tidak terlalu berat.
Dan hari itu, seperti biasanya, makanan sudah tersiap di atas meja makan. Tinggal menunggu Aoba dan Tae pulang. Tapi sepertinya lagi-lagi ia harus menunggu Aoba, ia telat lagi untuk pulang. Heibon memang sedang ramai-ramainya sekarang, itu yang Aoba katakan tempo hari kepadanya.
Tadaima.” terdengar suara wanita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi di ujung pintu. Itu Tae, siapa lagi. Sei pun segera berjalan ke depan untuk menyambut nenenknya.
Okaerinasai baa-chan.” Sei membalas Tae dan mengulurkan tangannya, membantu Tae. Dan seperti biasa pula Tae akan menolak, karena baginya ia belum begitu lemah untuk berjalan, mengingat ia yang setiap haru juga harus berjalan untuk sampai ke laboratorium tempatnya bekerja meskipun itu hanya berjarak sekitar 2 blok dari rumah mereka.
“Apa Aoba belum pulang ?” tanya Tae sambil duduk di atas meja makan.
“Belum. Ia telat pulang lagi sepertinya.” Sei pun menaruh segelas teh kegemaran Tae.
Arigatou Sei.” Sei pun mengangguk pelan.
Tae pun menyeruput pelan teh buatan cucunya itu. Kemudian ada suara pintu digeser.
Tadaimaaaa.” Suara yang sangat familiar, Aoba.
Okaerinasai.” Jawab Sei yang kini menyambut Aoba layaknya apa yang ia lakukan kepada Tae. Sudah menjadi kebiasaannya seperti itu.
Nii-chan gomen aku terlambat lagi.” Aoba dan Sei segera berjalan bersama ke ruang makan.
“Heibon sedang ramai jadi maklum saja Aoba selalu pulang telat.” Sei menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Tae, Aoba berada di sampingnya.
Aoba pun menaruh tasnya di kursi sebelahnya, ia kemudian membuka zipper tas itu.
“Sei, Tae konbanwa.” Ujar allmate berwarna biru tua itu.
Konbanwa Ren, apa kau lelah hari ini ?” tanya Sei kepada Ren.
“Tidak juga karena beberapa kali Aoba mematikanku.” Jawabnya seperti biasa.
“Hmmm baguslah, tolong jaga terus Aoba ya.” Sei tersenyum ke arah Ren, Ren hanya menjawab ‘haa’.
Aoba pun mematikan Ren, ia berjalan ke washtafel dan mencuci tangannya.
Saa mari kita makan.” Ucapnya.
“Um..”
Itadakimasu.
               

         Sei membuka jendela beranda kamarnya sekaligus kamar Aoba itu. Meskipun mereka bukan lagi anak kecil tapi Aoba sendiri yang tidak menginginkan mereka untuk pisah kamar. Sekamar berdua, sama seperti dulu.
        Aoba selesai mandi ketika ia melihat Sei sendirian di beranda kamarnya sambil menatap langit malam. Dan ia pun jadi teringat benda yang ia beli ketika mengantarkan barang tadi. Hadiah untuk Sei. Pemilik rambut biru panjang itu pun mengambil benda di dalam tas duffelnya, ketemu.
          Ia pun menghampiri Sei, Sei menoleh mendapati Aoba yang kini disampingnya.
        “Katakan padaku Nii-san, hadiah apa yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu besok ?” pertanyaan yang selalu sama setiap tahun. dan Aoba sendiri juga tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Sei.
        “Aku hanya menginginkan Aoba untuk selalu bahagia.”
        Pasti itu yang akan kakaknya katakan.
       “Aku hanya ingin Aoba untuk selalu bahagia.” Ujar Sei lembut.
       Aoba hanya menghembuskan nafasnya pelan, benar dugaannya. Kemudian ia meraih bahu Sei, mereka berdua pun berhadapan.
       “Kau tau Nii-san aku sudah bahagia sejak kita selalu bersama. Dan aku sudah sangat bahagia berada di dekatmu seperti ini. Aku tak masalah jika Nii-san dan yang lain masih menyebutku manja atau apa. Hanya saja aku memang tidak bisa jauh darimu Nii-san. Mungkin kini saatnya aku yang akan membahagiakan Nii-san.” Aoba pun menaruh benda yang sedari tadi ia kantongi ke telapak tangan kanan Sei. Sebuah kristal setengah lingkaran yang di dalamnya terdapat salju-salju yang bertebaran bila kita menggoyangkannya.
Sei hanya terheran dengan apa yang diberikan oleh adiknya itu.
Nii-san itu seperti salju, lembut, dingin tapi membuatku selalu nyaman. Oleh karena itu aku tak pernah bisa jauh dari Nii-san dan aku juga tak ingin jauh dari Nii-san.”
“....”
Saa, tanjoubi omedetou Sei Seragaki.” Aoba tersenyum lebar. Sei pun meneteskan air matanya.
Tanjoubi omedetou Aoba Seragaki.” Balas Sei yang kemudian mereka saling memeluk satu dengan yang lainnya.

***END***



*pojok author*
Tau tau fanficnya tidak terarah, ini gara2 bikinnya cuma semalam. Dan memang awalnya bukan konsep ini yang dibuat, tapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya bikin yang ini saja, yang konsep satunya buat besok-besok saja (?). Dan di DMMd ini author sangat menyukai Sei yaah meskipun ia muncul paling akhir terus mati :') Tapi tetap kecintaan author dengannya tidak berubah malah semakin bertambah (?).

HAPPY BIRTHDAY AOBA, SEI and REN !!


About