the other end of fanfic FUTARI (DRAMAtical Murder) enjoy it~
FUTARI
Cast : Aoba
Seragaki, Sei
Fandom : DRAMAtical Murder
Genre : Family
Rate : T
Author : Lycoris
“Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”
“Aku
? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”
“Hei,
hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”
“Tadi
kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”
“Sou
sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”
“Aoba
mo.”
Sei masih duduk terdiam di samping jendela
kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar
jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan
yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar
segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu
masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai
kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum
pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri
anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di
depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi,
pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.”
Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini,
minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba
mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah
melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba
sudah datang nanti Baa-chan buatkan
untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya
sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera
meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.
Krek
Suara pintu
terbuka.
“Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun
langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah
berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas
sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei
pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang
adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu
pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah
menunggu kepulangannya itu.
“Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
“Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut
panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat
merindukan Nii-chan.” Aoba
mengeratkan pelukannya.
“Aku juga
sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit
basah itu.
Aoba melepaskan
pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang pucat.
“Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba
membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada
yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena
Aoba sudah pulang.”
Belum sempat
Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau
harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau
pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki
itu pelukan hangat.
Sei hanya
mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin
dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba
menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh
ayahnya.
“Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk
kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka
berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
Tak beberapa
lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya
mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum
minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng,
“aku menunggu Aoba Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera
tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami
karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka
terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang
sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang ayah, ibu dan Aoba sudah
pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa
mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk
Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei
menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.
Haruka
Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti
mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan
Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak
kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang
tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi
ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka
berdua.
Sei Seragaki,
anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10
tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba,
adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia
mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah
mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai
sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun
tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat
mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus
melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.
“Nah Sei,
sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi
Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka
mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
“Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari
duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu.
Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu
sampai ia hilang.
“Sei sangat
dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat
perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh
darinya.
“Un, dan karena
alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka
menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka,
apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
“Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah
menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh
arti.
“Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu
kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan
Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk
ulang tahun si kembar besok.
Sei tengah
duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh
dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik
ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
“Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di
ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah
terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan
Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
“Aku ? Aku hanya
ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
“Hei, hadiah macam
apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei
berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan
kata-katanya.
“Tadi kau menanyakan
aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah
itu.
“Sou
sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.”
Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum
hangat, “Aoba mo.”
“Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan
kena omelan Baa-chan kalau belum
tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini
sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih
capek kalau harus mendengarkan Baa-chan
mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau
ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada
di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya
sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
“Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan
matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung
memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya.
Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan.
Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang
sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak
pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia
hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei
memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti
Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah
laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.
“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak
Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke
alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini
mereka berdua melihat sebuah tart
berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart
dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan
mereka.
Dua anak yang
hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan
yang mereka dapat.
“Buat
permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua
dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya
mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih
dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga
orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua
memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan
mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka
kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang
nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah
mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.
“Fuuuh..”
lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
“Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba
meringis ke arah Sei.
“Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei
tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua
pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
“Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou
gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah
membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga
terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari
kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan
membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka
tidak memegang bahunya.
“Bagaimana
kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang
langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si
kembar flaternal itu turun dari
ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil
membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka
mengikuti dari belakang.
Sei dan Aoba
sudah duduk berdampingan di depan tart
yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
“Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak
Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua
pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima
dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah
dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan
kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.
Pagi itu,
menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun
dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine
teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang
ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan
oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae
pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan
membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba
semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini
hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat
duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei,
kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan
tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun
dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan
Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan
hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau
dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.”
Ujar Haruka.
Sei dan Aoba
pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu
tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka
lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa
lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink
yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka
berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum
bahagia.
“Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar
mereka berdua bersama.
“Kenapa
anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
“Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih
tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka
hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun
menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei,
perkenalkan ini adalah allmate yang
memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada
mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai
berani menyentuh allmate anjing itu.
Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
“Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali
bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso
yoroshiku.”
Aoba yang masih
tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
“Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah
seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik,
kemudian ia mengambil allmate itu dan
memanggkunya.
“Allmate adalah seperti robot yang bisa
berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang
kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud
mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih
berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia
pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga
harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus
menyayanginya.” Haruka menambahi.
“Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.”
Ucap mereka berdua.
“Jaga dia
baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua
mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang
kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua
terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana
kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan
matanya.
“Nah ! itu nama
yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang
namamu Ren. Yoroshiku i Ren.” Aoba
pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba
tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari
duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat
kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali
dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu
pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
“Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei
berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan
di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang
ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba
memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu
adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan
untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah
gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai
tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
“Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja
menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku
hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba.
Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka,
dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja
menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang
sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
13 tahun kemudian
21 April.
Sore itu Aoba
masih mengantarkan barang-barang dari Heibon ke alamat yang di tuju. Ren
setengah berlari di samping Aoba, sedangkan Aoba kesusahan dengan barang bawaan
yang lumayan banyak hingga menutupi pandangannya. Itu adalah barang terakhir
hari ini.
Sampai, segera
Aoba memencet tombol rumah itu. Setelah seorang wanita paruh baya keluar dan
menerima barang-barang yang lumayan berat, Aoba dan Ren segera undur diri.
Allmate biru itu Aoba taruh ke dalam
tasnya dan ia matikan. Ia tahu Ren juga sudah sangat kelelahan karena seharian
ini mengantarkan barang.
Langkah kakinya
tiba-tiba menjadi berat ketika melewati sebuah toko bunga yang sudah tutup.
“Hhhh...” ia
menghembuskan nafas dengan berat. Kedua kakinya tiba-tiba berat dan membuatnya
harus berdiri mematung di depan toko yang tak terlalu besar itu.
Ia menengadah
ke langit yang kini telah berubah warna menjadi hitam dengan beberapa bintang
yang bisa ia lihat meskipun terhalang oleh bangunan-bangunan.
“Besok ya...”
katanya lirih.
“Tunggu aku Nii-san...”
Aoba pun
memaksakan kakinya untuk berjalan. Kedua maniknya telah menggantung embun yang
telah siap menetes. Namun dengan segera ia mengelapnya dan segera pulang ke
rumah.
Kamar yang
berada di lantai 2 itu dibiarkan gelap. Angin malam masuk dengan bebasnya
melalui beranda yang sengaja dibiarkan terbuka. Sebuah siluet menampakkan
seseorang yang tengah menumpu badannya dengan kedua tangan di tepi beranda.
Aoba masih diam
seraya pandangannya memandang kosong ke depan. Sunyi, hanya suara binatang
malam yang terdengar. Aoba masih menikmati kesunyian yang tercipta. Lagi pula
hampir setiap hari sepulang bekerja paruh waktu di Heibon ia juga seperti itu.
Menciptakan sebuah kesunyian yang hanya boleh dia sendiri nikmati.
Mungkin jika
peristiwa itu tak pernah terjadi, Aoba tak akan seperti sekarang. Jika dulu
pribadi Aoba adalah seorang yang periang dengan segala kemanjaannya. Sekarang
semua itu telah berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri di
dalam kamarnya. Merasakan memori seseorang yang telah berbagi kehidupan
dengannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan Aoba hanya tinggal
setengah. Ia seperti setengah hidup dan setengah mati.
Jika saja Ren
yang tak secara tiba-tiba menghampirinya, mungkin Aoba akan lebih dalam lagi
menyelami kesunyiannya malam itu.
“Aoba, cepat
tidur. Bukannya pagi-pagi Aoba harus kesana.” Ren berkata dengan nada seperti
biasanya.
“Aa kau benar
Ren. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk itu.” Segera ia menggendong Ren
dan menutup pintu berandanya.
Malam itu Aoba
tidur dengan setitik air mata yang mengalir.
“Itterasai Aoba.” Ujar Tae di depan
pintu.
“Hai ittekimasu baa-chan, Ren.” Aoba
menatap secara bergantian neneknya dan Ren.
“Sampaikan
salam kami untuk Sei.” Tae berkata dengan nada lirih dan sedih.
Aoba hanya
tersenyum kecut kemudian mulai berjalan meninggalkan Tae dan Ren.
“Kore
Aoba...” ucap wanita pemilik toko bunga itu sambil memberikan beberapa bunga
matahari permintaan Aoba.
“Sebuket bunga
matahari seperti biasanya.” Tambahnya wanita yang kira-kira berumur 30an itu.
Aoba menerimanya
dan memberikan beberapa lembar uang.
“Sankyu, ja na..” belum sempat Aoba untuk
pergi wanita pemilik toko bunga itu dengan sigap memegang bahu Aoba.
“Tunggu dulu
Aoba. Tunggu sebentar disitu.” Ia pun mengambil beberapa tulip putih segar.
“Ini untukmu, tanjoubi omodetou.”
Ia terdiam
beberapa saat dan memandang bunga yang kini telah berada ditangannya.
“Hai arigatou Hiza-san.” Aoba tersenyum dan beberapa saat kemudian ia meninggalkan
toko bunga yang dulu sering sekali ia dan Sei kunjungi untuk membeli bibit
bunga matahari. Dan beberapa bulan kemudian mereka berdua akan kembali untuk
menjual biji-biji bunga matahari di tempat itu.
Itu dulu sekali
sewaktu mereka masih kecil dan Sei masih bisa berjalan-jalan. Ya dulu, sebelum
semuanya berubah.
Didekapnya
sebuket bunga matahari dan beberapa bunga tulip yang baru saja ia beli. Udara
pagi Midorijima memang segar apalagi jika sudah dekat dengan pantai seperti
ini. Hampir setengah jam Aoba berjalan, hembusan angin pantai bisa ia rasakan.
Tak jauh lagi.
Di lihatnya sebuah bukit yang sangat dekat yang menjorok ke pantai. Itu adalah tempat
tujuannya. Karena disana Sei sudah menunggu ke datangannya.
“Aku datang Nii-san.” Di lihatnya dengan tatapan
sendu sebuah gundukan yang di atasnya sudah ditumbuhi rerumputan itu. Sebuah
nisan dari kayu berwarna coklat tua dengan ukiran ‘Sei Seragaki’ terpampang
jelas di depan Aoba.
Aoba berjongkok
di depan makam yang merupakan satu-satunya yang ada disana.
“Otanjoubi omedetou Nii-san.” Ucapnya
parau yang disertai dengan sebuah senyuman getir. Ditaruhnya sebuket bunga
matahari itu. Ia terdiam, lama. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya
yang memanas. Di telannya ludah dengan berat. Masih terngiang ingatan 2 tahun
yang lalu, ketika ia dengan jelas melihat sebuah kendi porselain yang berisikan
abu Sei dikubur disana. Serasa sebagian hidupnya telah terkubur juga. Karena
alasan itulah sikap dan sifat Aoba berubah.
Tiba-tiba saja
kedua mata Aoba terasa sangat berat dan ia pun tertidur di samping makam Sei.
“Aoba...” suara lembut yang sangat ia
rindukan itu membangunkan Aoba dari tidurnya.
Aoba masih tak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
“Nii----Nii-san.” Aoba hanya bisa tergagap
begitu melihat Sei berjongkok di depannya.
“Aku disini Aoba, apa Aoba merindukanku ?”
Senyum yang sangat Aoba rindukan kini bisa ia lihat dengan jelas.
Segera Aoba bangun dari posisi tidurnya dan
memeluk kakaknya tiba-tiba.
“Nii-san aku sangat merindukanmu, sangat dan
sangat.” Air mata Aoba akhirnya keluar. Sei mengelus punggung sang adik dengan
penuh kasih sayang.
Selama beberapa saat mereka berpelukan. Aoba
begitu menikmati pelukan hangat sang kakak. Sudah lama ia tak mendapat pelukan
yang selalu bisa membuatnya tenang itu.
“Aoba, kau sehat kan ? Kau selalu makan
masakan Baa-chan kan ? Ah iya apa Baa-chan baik-baik saja ? Dan Ren ?” Sei
bertanya tanpa jeda. “Hehe gomen gomen aku bertanya banyak sekali pada Aoba.”
“Iie Nii-san, daijobu. Semuanya baik-baik
saja. Nii-san bertanya apa saja pasti akan aku jawab.”
“Hai hai Aoba sangat baik.”
Aoba pun melepas pelukannya. Ia memandang
Sei dengan setengah percaya setengah tidak. Sei yang meninggalkannya 2 tahun
yang lalu telah berada di depannya. Tersenyum, bahkan memeluknya.
“Ini....nyata kan Nii-san ?”
“Hmm ?” Sei menatap Aoba. “Tak peduli ini
nyata atau tidak, tak peduli jika ini mimpi atau bukan. Bukannya yang lebih
penting kita bisa bertemu ?”
Aoba terdiam sejenak.”a-aaa....”
“Ne Aoba, apa Aoba kesepian ?”
“........”
Aoba tak berani menatap manik hitam Sei.
Bahkan Sei tak bertanya pun harusnya ia sudah tau bahwa Aoba sangat kesepian.
Sangat. Setelah di tinggalkan oleh kedua orang tua mereka kemudian Sei, apa
Aoba tak kesepian ? Berkali-kali ia telah di tinggalkan oleh orang-orang yang
sangat berharga untuknya.
Sei menatap sekitarnya yang semuanya serba
putih itu.
“Kau tau Aoba, aku sangat beruntung menjadi
kakakmu. Karena Aoba selalu menjagaku sampai saat itu. Tak ada yang lebih
membahagiakanku dari pada itu. Itu sudah cukup bagiku Aoba. Mempunyai ikatan
darah dengan Aoba dan selalu bersama Aoba. Aku.....bahagia Aoba, sangat
bahagia.”
“Nii-san.....” ia berkata lirih diikuti oleh
tatapan lembut Sei.
“Meskipun terbilang singkat kebersamaan kita
tapi hari-hari yang kita jalani bersama sudah membuat hidupku yang singkat ini
berharga dan bahagia. Aoba sudah membuatku tersenyum, dan sekarang masih banyak
orang yang harus Aoba buat tersenyum juga. Ada Baa-chan serta Ren yang sangat
membutuhkan Aoba.”
Air mata Aoba jatuh kembali tanpa ia sadari. Ia terlalu terpuruk atas
kehilangan kakaknya itu hingga ia melupakan orang-orang disekitarnya.
Orang-orang yang selalu mengkhawatirnya, orang-orang yang ingin Aoba tersenyum
seperti dulu.
“Aoba mengerti kan ? Lagi pula ini bukan
akhir Aoba, ini adalah awal. Karena....suatu saat nanti kita akan bertemu
kembali. Pasti.”
“Nii-san, aku....aku juga sangat beruntung
bisa menjadi adikmu. Berbagi semuanya dengan Nii-san. Dan....”Aoba memenggal
perkataannya.
“Hmmn ?”
Sei menatap lekat-lekat adiknya. “Aoba, sepertinya aku harus pergi lagi
sekarang.”
Aoba tak mengerti dengan apa yang Sei
katakan. Hingga dengan perlahan tubuh Sei mulai menghilang.
“E—ehh ?? Nii-san aku.....aku, aku akan hidup
untuk orang-orang yang ada disekitarku. Membuat mereka semua tersenyum !” ia
tak bisa lagi membendung air mata itu. Semuanya jatuh.
Sei tersenyum hangat dan mengangguk pelan.
Dan Aoba berusaha memeluk kakaknya itu sekali lagi. Meskipun perlahan ia mulai
menghilang. Aoba hanya ingin memeluk Sei sekali lagi.
“Aku tau Aoba akan bisa berjalan kembali.”
Sei menepuk halus kepala Aoba, meninggalkan rasa nyaman yang tak akan pernah
Aoba rasakan kembali. “Aoba selamat tinggal.”
“Nii-saaaaaannnn.......”
Hilang, meninggalkan Aoba yang memeluk erat
badannya sendiri. Dan ia pun tertidur kembali.
Semilir angin
membuatnya terbangun. Di kedua pipinya terdapat bekas air mata. Masih sangat
jelas semuanya, Sei yang selalu ia ridukan.
Ia pun
tersadar, merasakan di tangan kanannya ia menggenggam sesuatu. Dilihatnya benda
itu, dan ia pun tersenyum. Nyata, apa yang ia alami adalah kenyataan.
Sei yang selalu
melihatnya dan Sei yang selalu ada di sebelahnya.
“Nii-san, akan aku jaga ini seperti waktu
itu. Dan aku akan membuat orang-orang yang ada si sekitarku tersenyum. Aku
berjanji.”
Pemuda bersurai
biru itu pun mulai beranjak dari tempat itu. Meninggalkan sebuket bunga
matahari yang kini tengah bersender dengan nisan kayu.
“Aoba harus ingat, tak ada orang yang
benar-benar sendiri di dunia ini. Begitu pula dengan Aoba.”
---OWARI---
terima kasih untuk lagu Tears by Ito Kanako. karena dengan lagu itu author akhirnya bisa cepet nyelesein ending untuk ini fanfic, meskipun harus absen 3 bulan.