Chapter 5 “THE SECRET”
Title :
FLAME
Chapter : 5/?
Author :
Lycoris
Fandom : THE
GAZETTE, Alice Nine, D=OUT, BORN, SuG, SCREW, ViViD, Vistlip, Matenrou Opera,
Royz
Cast :
banyak, ngetiknya lama jadi baca sendiri aja *oii
Rate :
T
Genre :
Supernatural, Friendship, School life (author rubah genrenya)
Warning : Typo(s) bertebaran, semakin abal, dan membuat mata mengantuk
“Panggil Matsumoto Takanori !”
-----------------
“Kau akan memilih apa Ru ? jajaran
Senior atau kelas spesial ?” Hiroto membuyarkan lamunan Ruki.
Seketika Ruki yang sedang
melanglangkan pikirannya sendiri itu terbangun.
“Eh ? apa apa apa ?”celinguknya
seketika. Ketiga temannya hanya mendengus kesal.
“Kau ini kenapa, dari tadi pagi
melamun, di kantin pun kau juga melamun, dan sekarang kau juga melamun Ru.”
Hikaru menoleh menatap Ruki.
“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa”
Ruki menatap gantian ketiga sahabatnya.
“Memang kami percaya ?!” kini
Takeru bersikap serius.
“Kami tidak akan semudah itu
percaya padamu Tuan Matsumoto...” Hiroto mengiyakan perkataan Takeru.
Hikaru dan Takeru mengangguk
pelan, “Kita tak mudah untuk percaya untuk hal ini”
Ruki yang sebenarnya merasa aneh
dan ada apa-apa itu tak mungkin cerita kepada ketiga sahabatnya ini. Karena ia
sendiri pun bingung bagaimana mengatakannya. Lalu buru-buru ia memasang
ekspresi yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Kan sudah kubilang bahwa aku
baik-baik saja. Kalian ini dari dulu selalu saja cerewet.” Ruki mengusap kepala
Takeru, Hikaru, dan Hiroto bergantian dan tidak lupa senyum khasnya ia sematkan.
Dan kalau sudah begitu ketiga
sahabatnya ini pasti diam. Meskipun sebenarnya pertanyaan mereka tadi belum
mendapat jawaban yang memuaskan.
Suasana kembali normal, Ruki
berusaha membuang jauh-jauh perasaan anehnya itu. Mereka kembali membicarakan
hal-hal umum yang telah terjadi hari itu.
Kini senda gurau mereka berempat
ikut memeriahkan suasana kelas yang memang belum ada guru yang masuk.
Tapi tiba-tiba di tengah
keberisikan kelas sementara itu, pintu kelas tiba-tiba terbuka. Tentu saja
semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Pasang demi pasang mata mulai mulai
menatap ke arah pintu, mereka terdiam bahkan sekarang semuanya ikut terdiam.
Semua kegiatan mereka hentikan, termasuk Ruki, Takeru, Hikaru dan Hiroto.
Hening...
Tap tap tap
Hanya suara langkah kaki yang
terdengar memasuki ruangan itu.
Setidaknya ada 3 pemuda yang kini
berjalan depan kelas. Seorang di depan
dan 2 orang lagi disampingnya agak dibelakang.
“Matsumoto Tananori...” panggil
seorang pemuda yang berdiri paling depan yang dikenal dengan nama Reika itu.
Ekspresinya datar tak bisa dikatakan dingin tapi juga tak bisa dikatakan ramah,
pandangannya lurus ke depan. Tak menghiraukan beberapa bisik-bisik siswa
perempuan yang jelas saja bisa ia dengar itu.
Sang empunya nama kini hanya bisa
menelan ludah,jantungnya berdetak dengan kencang. Apa yang diinginkan para
Alumina ini kepadanya, pikirnya. Hampir semua mata para penghuni kelas
sementara itu memandangnya. Dengan berat ia mengacungkan tangan kanannya.
“Sa...saya..” ujarnya dengan
sedikit bergetar.
Kini ketiga pasang mata Alumina
memandangnya. Jarak mereka hanya 4 bangku namun dengan jelas Reika, Kazuki, dan
Yuh bisa merasakan kekuatan anak baru ini.
“Ikutlah dengan kami, Reita
memanggilmu !” perkataan yang berupa perintah yang Yuh lontarkan sontak membuat
seisi kelas itu kaget. Reita, siswa tahun kedua SMG yang bisa dikatakan anak
ajaib itu memanggil seorang Matsumoto Tanakori, yang memang benar ia adalah
seorang peraih peringkat tertinggi ujian masuk tahun ini. Dan bisa dikatakan
ini adalah sebuah perintah pertama yang Reita keluarkan. Sontak saja semuanya
kaget, tapi tidak bagi Ruki. Kejadian siang tadi si kantin utara sudah
memberikan arti lain, ia tahu bahwa Reita mengawasinya dan buktinya ini tadi,
para Alumina sekarang sedang berdiri di depan kelasnya, mencarinya membawa
perintah atas nama Reita.
Ia berdiri, tangan kanannya
mengepal, detak jantungnya berusaha ia atur. Hampir semua mata kini melihatnya
berjalan menuju para Alumina. Takeru, Hikaru, dan Hiroto seakan mengetahui
jawaban atas kediaman Ruki sedari tadi, mereka pun hanya bisa terdiam, kedua
bola mata mereka hanya bisa memandang punggung Ruki yang semakin mendekati
ketiga pengawal yang terkenal itu.
Kini, jarak Ruki dengan Reika
yang berdiri paling depan hanya sekitar 40 cm. “Ikuti kami.” ucap Reika datar.
Ruki hanya mengangguk pelan. Mereka
akhirnya berjalan keluar kelas, dengan Reika paling depan diikuti Kazuki dan
Yuh serta Ruki paling belakang dengan kepala yang ia tundukkan.
Sudah dipastikan semua mata yang memperhatikan
mereka tak mereka pedulikan, sudah biasa seperti ini, itu bagi Alumina tapi tidak
bagi Ruki, dan ia hanya bisa terus berjalan dalam diam dengan pandangan yang
tak berani ia angkat.
--------------------------
Lorong itu bisa dikatakan gelap,
tak banyak cahaya yang masuk karena tertutupi tiang tiang besar pondasi SMG
serta tumbuhan yang merambat tinggi, sunyi dan sepi, tak ada seorang pun yang
mereka jumpai sepanjang lorong itu. Ruki melihat sekitarnya, di
dinding-dindingnya terdapat beberapa lumut yang mungkin memang sengaja dibiarkan
tumbuh, dalam hati ia berpikir bagaimana mungkin lorong ini dibiarkan berlumut
begitu saja mengingat bangunan di SMG adalah bangunan elit semua.
“Gedung barat merupakan gedung
yang tertua disini, jadi jangan heran bila seperti ini.” Kazuki yang seakan
mengatahui isi hati Ruki tiba-tiba berkata untuk menjawab pertanyaan Ruki
meskipun Ruki hanya bertanya dalam hati.
Dengan buru-buru ia mengalihkan
pandangannya kembali ke depan, “Aa--ah hai Senpai...” ia menunduk kembali.
Setelah melewati belokan terakhir
akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu yang lumayan besar.
Ruki memperhatikan pintu besar
yang terbuat dari kayu dan memiliki ukiran-ukiran sederhana berwarna coklat tua
itu.
“Kita telah sampai.” Kata Reika
singkat, dan tangan kanan Yuh telah memegang kenop pintu itu dan bersiap
membuka. Entah kenapa jantung Ruki berdetak lebih cepat dari yang tadi, ia
seakan bisa merasakan akan ada sesuatu yang besar yang akan ia lihat ketika
pintu itu dibuka.
Klek
Yuh telah membuka pintu itu, Ruki
masih belum bisa melihat apa-apa, karena ia terhalang oleh badan tinggi dan
besar para Alumina, tapi satu yang ia bisa rasakan, aura yang sangat kuat yang
kini berhasil membuat ia tercengang, padahal ia masih belum tahu untuk apa
Reita memanggilnya dan membawanya ke tempat aneh ini.
“Silahkan, mereka sudah
menunggumu.” Kazuki mempersilahkan Ruki masuk, tapi tunggu dulu, mereka ?
mereka siapa ? bukannya tadi dia berkata yang memanggilnya adalah Reita. Kembali
Ruki dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang berusaha ia dapatkan jawabannya. Dan
tentu saja jawaban itu akan ia dapatkan sebentar lagi.
“Ha—hai.” Ruki sedikit menunduk
ke para seniornya itu. Tangan Yuh berusaha membuka pintu lebih lebar.
Begitu ia berjalan masuk, hal
pertama yang ia dapat adalah sebuah cahaya remang-remang yang masuk melalui jendela
kaca besar yang terpampang lurus di depannya.
Tiba-tiba sebuah suara berat
terdengar.
“Kami sudah menunggumu Matsumoto
Takanori.” Spontan Ruki menoleh ke kiri, tepat ke arah ‘mereka’.
Deg
Apalagi ini, kenapa perasaan aneh
ini semakin kuat, dan aura yang tak bisa terbaca oleh orang biasa kini telah
dirasakan oleh Ruki. Seperti ada sesuatu yang akan keluar dari dirinya,
perutnya terasa berat.
Kini semakin jelas, orang-orang
yang tadi siang baru saja ia lihat telah duduk dan sebagian berdiri tengah memperhatikannya,
dan-----Subaru, sepupu Hiroto juga berada di dalam ruangan besar itu tengah
tersenyum simpul ke arahnya, Ruki hanya bisa tercengang. Pandangan Ruki
mengarah ke seseorang yang tengah sibuk mengaduk cangkirnya dan menyeruput
isinya. Namun ada satu orang yang belum pernah ia lihat secara langsung, hanya ia pernah melihatnya di majalah SMG. Dan
itu adalah Shiroyama Yuu, sang ketua jajaran Senior yang sangat jarang terlihat
umum itu.
Dan orang yang memanggil Ruki
tadi yang tepat berada di depan Aoi –begitu ia dipanggil- adalah Uke Yutaka
atau yang biasa dipanggil Kai yang baru saja ia lihat tadi siang.
Ruki masih diam kaku di depan
pintu, hingga Kai yang tadi sibuk dengan cangkirnya menyuruhnya untuk mendekat “Kemarilah,
sampai kapan kau akan berdiri diam disitu ?”
Ruki hanya menunduk, dan raut
wajahnya tak terbaca, perasaannya semakin kacau sekarang. Namun ada seseorang
yang Ruki cari-cari dari tadi, orang yang memanggilnya siapa lagi kalau bukan
Reita, dimana dia ? pikirnya dalam hati. Namun belum sampai 5 langkah ia
melangkah, ia bisa melihat sesosok pemuda yang ia cari-cari dari tadi, ya
Reita. Sosok Reita yang sedang menyenderkan badannya di tembok di samping
tempat duduk para ketua itu tetap saja tak memperhatikan Ruki, dengan tangan
yang terlipat di dada ia sibuk melihat ke luar jendela kaca yang memperlihatkan
pemandangan gedung selatan SMG.
Bukannya ia yang memanggilku,
tetapi begitu aku disini ia sekalipun tidak menoleh bahkan melirik, dengus Ruki
dalam hati namun ekspresi tetap saja ia buat datar atau yang lebih tepatnya
takut.
Kini jarak semakin dekat, Ruki
berhenti dan berdiri tepat di di depan para pangeran SMG itu.
“Hoe Reita, bukankah kau yang
memanggilnya, jadi bersikaplah ramah dengannya atau paling tidak lihatlah
seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi penyempurna kita.” Kai berbicara
lantang memecah ketegangan yang Ruki rasakan.
'Haa ? penyempurna ? apa lagi ini ?' Ruki semakin tidak mengerti
akan apa yang sebenarnya tengah ia hadapi, lagi dan lagi pertanyaan-pertanyaan
aneh kini bertambah jumlahnya.
Reita pun memalingkan mukanya,
tepat menatap manik Ruki.
Deg
Perasaan itu muncul kembali,
perasaan yang sama ketika Reita melewatinya di kantin.
“Pasti ada yang aneh dengan
perasaanmu kan.” Reita to the point.
“Bagaimana ia tahu ?” ujarnya dalam hati menanggapi apa yang baru
saja Reita ucapkan.
“Itu wajar bagi seorang terpilih
yang pertama kali merasakan ‘kami’. Tenanglah kami tidak akan melukai atau
macam-macam denganmu.” Reika berkata sambil berjalan menghampiri Ruki.
“Hei Rei jangan buat takut anak
baru itu.” Aoi menyela.
“Aku tidak membuatnya takut, aku
hanya ingin mengenalkan siapa sebenarnya kita kepada anak ini.”
'Apa maksudnya ??' Ruki masih saja berdiri terdiam, dan kini Reita
telah berdiri di depannya.
“Bukan Reita kalau dia tidak
seperti itu, iya kan.” Kouki pun angkat bicara, diikuti cekikikan Kai, dan
Saga.
“Diamlah kalian!” kata Reita
tanpa menoleh.
Ruki hanya menunduk, melihat ke
lantai keramik berwarna abu-abu tua itu. Sepertinya ia tengah mempersiapkan
diri untuk melihat apa saja yang akan terjadi setelahnya.
“Aku, atau yang lebih tepatnya kami,
memanggilmu kesini bukan tanpa alasan. Ada banyak yang akan kami ceritakan
kepadamu.” Reita memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Itu berarti ia
sedang tidak main-main sekarang. Wajah Ruki mendongak, ekspresinya menunjukkan
bahwa ia semakin tak mengerti dengan semua ini.
Ruangan yang isinya terdiri dari ketiga Alumina, para
jajaran Senior yang terkenal, sang ketua dan kedua muda Karasa, para ketua
Naraku yang kini tersenyum simpul menatap Ruki, salah seorang anggota Naraku
yang merupakan sepupu Hiroto, calon pion Reita, dan sanga ketua jajaran Senior
yang sangat jarang terlihat di depan umum.
Sudah jelas bukan mereka bukanlah orang-orang yang biasa. Mereka
sekarang –minus Ruki- bisa merasakan kekuatan yang sangat besar dari dalam anak
baru itu. Sebuah kekuatan yang ‘hangat’ dan mereka juga tahu bahwa kekuatan itu
belumlah keluar semua, masih sekitar 5%. Yaa 5% dari total kekuatan besar Ruki.
5% saja sudah seperti ini, apalagi kalau ia sudah mengeluarkan semuanya.
Anak baru itu memang ramalan yang
telah terbukti benar.
Reita mengedarkan pandangannya.
“Kau lihat..” Perkataan Reika sontak membuat Ruki ikut memperhatikan
sekelilingnya, melihat para pangeran yang merupakan penjaga dan petarung yang
kini sedang memperhatikan mereka berdua, hanya Aoi yang tak memperhatikan
mereka berdua, ia tengah sibuk dengan sebuah cahaya putih yang keluar dari
jemarinya.
Tunggu, cahaya putih ? bagaimana
itu bisa terjadi ? Ruki hanya bisa tercengang, dan hampir tidak percaya dengan
kedua matanya yang jelas-jelas bisa melihatnya. “Sesuai yang kau lihat, kami
semua bukanlah orang-orang yang biasa.” Reita yang mengetahui akan apa reaksi
Ruki kembali menatap Ruki.
“Go-gomen, tapi apa yang
sebenarnya terjadi disini ??” akhirnya Ruki memberanikan diri membuka mulutnya.
Kai tersenyum, memperlihatnya
dimplenya, ia pun ikut berdiri, berjalan menghampiri Ruki dan Reita yang
berdiri tak jauh dari mereka.
“Kau tumben berbicara banyak
Rei.” Kata Kai yang bisa merupakan sebuah ejekan kepada Reita.
Reita hanya bisa melirik ke arah
Kai, tidak merespon perkataan ketuanya.
“Kau Matsumoto Tanakaori,
sebentar lagi akan mengetahui apa sebenarnya Shirayumi Music Gakuen ini, dan
siapa sebenarnya kami.” Ujar Kai yang kini telah berada cukup dekat dengan Ruki
dan Reita.
“Ah dan maaf kami tidak memperkenalkan
diri dengan baik.” Kai berkata dengan ramah membuat Ruki sedikit bisa tenang. Tapi
meskipun tanpa memperkenalkan diri pun Ruki sudah tahu mereka semua. Sekarang
siapa yang tidak tahu para senior yang terkenal sekaligus berbakat di SMG,
pikir Ruki.
“Perkenalkan aku Uke Yutaka tapi
panggillah aku dengan Kai, ketua dari kelas A-1 atau yang lebih rahasia..ketua
Karasu.” Kai sedikit membungkuk memperkenalkan dirinya sendiri, Ruki menjadi
sedikit canggung.
“Dan dia yang memanggilmu tadi,
Suzuki Akira atau Reita. Penghuni kelas A-1 dan merupakan ketua muda Karasu,
dan maaf jika tindakannya tadi tak membuatnya nyaman Matsumo—“
“Panggil saya dengan Ruki saja.”
Potong Ruki. Tidak sopan memang tapi ia memang tidak terlalu suka jika ia
dipanggil dengan Matsumoto.
“Baiklah, Ruki. Pertama-tama kau
pasti bingung dan tak mengerti mengapa kau sekarang berada disini. Maafkan atas
ketidak sopanan kami memanggilmu secara tiba-tiba.”
“Ti-tidak apa-apa.” Ruki berusaha
mengatur bicaranya.
“Karena yang sudah kau lihat tadi
dan yang sudah Reita katakan tadi, bahwa kami bukanlah orang-orang biasa.” Kai
mulai menceritakan namun sekarang ia sudah berjalan-jalan di sekitar ruangan
itu.
“Kau pasti juga melihat apa yang
Aoi lakukan tadi bukan? Itu hanyalah sedikit clue dari apa yang akan kami katakan kepadamu.” Tatapan Kai lurus
ke arah Ruki.
Ketua dengan rambut yang ia
kepang kuda itu mendekat kembali ke arahnya, Ruki masih saja diam di tempat.
Reita melipat kedua tangannya di dada.
“60 tahun yang lalu semuanya di
mulai.” Kali ini nada bicara Kai mulai serius, tak ada senyuman yang menjadi
ciri khasnya.
“Shirayumi Music Gakuen tentu
saja belum ada. Hanya ada Karasu.” Ia mengambil jeda, membiarkan Ruki untuk
mencerna perkataannya.
“Karasu, adalah sebuah
perkumpulan dari para pemilik bakat istimewa yang sudah berdiri hampir 1 abad. Tak
banyak orang yang percaya tentang bakat, malahan bagi sebagian orang itu hanya
terdengar sebagai dongeng pengantar tidur.
Tapi asal diketahui saja, bakat itu ada, bahwa manusia dengan kekuatan
itu ada. Dan bukan tanpa alasan Karasu didirikan. Karena bila pemilik bakat itu
menggunakan kekuatan mereka tanpa kontrol maka hanya akan ada kekacauan. Oleh
karena itu Karasu berdiri, melindungi, membimbing, dan mengontrol para pemilik
bakat.” Kai memainkan jemarinya.
“Namun, 60 tahun yang lalu
muncullah Kogurou. Mereka adalah orang-orang biasa yang merasa iri atas apa
yang Karasu miliki, atas bakat yang tidak mereka miliki. Para anggota Karasu
pun mengetahui niat dan maksud dari Kogurou dan oleh karena itu Naraku pun
didirikan.”
“Naraku, pengawal Karasu.
Sekumpulan orang-orang dengan bakat yang tak kalah hebat dengan Naraku, namun
mereka bertugas untuk menjadi pengawal dan prajurit dan harus melindungi
Karasu. Bisa dikatakan prajurit yang siap mati.” Kai memberi tekanan pada
prajurit yang siap mati, Ruki kaget atas penjelasan Kai. Ia spontan menoleh ke
arah Kouki dan Saga, namun mereka hanya tersenyum seolah tak ada apa-apa di
balik kata itu.
“Tapi itu dulu, sekarang tidak.
Sekarang Karasu dan Naraku sama-sama menjadi petarung, kami semua sederajat.”
Tutur Saga dengan santainya.
Ruki pun hanya bisa menundukkan
kepala dengan ragu-ragu.
“Kau tahu alasan lainnya kenapa
Kogurou muncul ?” pertanyaan Kai membuat Ruki kembali berhadapan dengan Kai.
Ruki kembali menggeleng. Tentu saja ia tak tahu. Ia hanya anak baru yang masih
polos yang tidak tahu apa-apa kemudian harus mengalami semua ini, berhadapan
dengan para pangeran SMG dan menemukan rahasia bahwa sekolah dambaannya itu
menyembunyikan hal yang sangat besar. Dan sekarang ia disebut-sebut sebagai
‘penyempurna’ mereka. sudah cukup kebingungan untuk hari ini, batin Ruki.
“Karena bisa diketahui bahwa bakat
dapat diturunkan kepada orang biasa, namun itu semua memerlukan pengorbanan.
Kematian dari sang pemilik bakat.” Ruki menelan ludah dengan kalimat terakhir
Kai.
“Bakat atau kekuatan yang dipaksa
keluar akan membuat si pemilik mengalami Zero
Drop. Dan hal itu yang membuat mereka meninggal. Dan itulah cara Kogurou
mendapatkan kekuatan.” Kai mengedarkan pandangannya. Menatap ke Aoi.
“Itulah yang terjadi kepada
Uruha...” Kai melemahkan suaranya, ia menunduk. Ruangan itu menjadi berkabung
kembali.
“U-ruha ?” Ruki mengeja namanya.
Kai tak menjawab pertanyaan Ruki.
Ia menatap ke arah pintu yang terbuka. Menunjukkan beberapa orang yang tak
pernah Ruki kenal dan lihat sebelumnya.
“Yo, Ray, Tohya, Umi, K, dan Shin
mereka adalah pion-pion kami.” Kata Kai begitu melihat ekspresi Ruki yang
terlihat bingung. Kontan Ruki mengarahkan pandangannya ke arah pion-pion Reita
itu.
Mereka ber-6 menundukkan kepala
ke arah para pangeran SMG dan berjalan dengan tenang ke belakang para ketua
Karasu.
“Uruha adalah pion terbaik dan
terkuat kami.”Ray berkata tiba-tiba kemudian menundukkan kepala.
Seisi ruangan itu terdiam.
Mengulang kembali kisah 2 bulan yang lalu.
“Ehem...”Kai berdehem mencoba
mencairkan suasana yang kelam itu. Semuanya pun kembali fokus ke arah
pembicaraan searah Kai dan Ruki.
“Albeiro, yang merupakan sumber
kekuatan para anggota Karasu dan Naraku. Pernah dicuri karena ada seorang anggota Karasu yang
berkhianat. Tapi kemudian dengan usaha berat, Albeiro kembali. Namun tak utuh.
Albeiro telah terpecah menjadi 10 bagian kristal. Dan beruntung kami
mendapatkan 3 pecahan. Tapi itu juga tak bisa dikatakan beruntung karena 2 pecahan
berada di tangan mereka, sedangkan 5 pecahan lagi tercecer ke ‘dimensi lain’
yang menjadi ‘ladang’ pertempuran antara Karasu dan Kogurou.”
“Dan saat ini kami sudah berhasil
mengumpulkan 5 pecahan, meskipun pecahan kelima itu harus kami curi dari para
Kogurou.”
“Pertempuran demi pertempuran
telah dihadapi oleh para anggota Naraku yang tak sedikit mereka harus tewas.
Namun jarang sekali kami mendapatkan hasil. Karena kebanyakan pecahan Albeiro
itu palsu. Dan semakin lama kami mendapatkan pecahan itu, maka semakin melemah
kekuatan para anggota Karasu serta Naraku.”
“Oleh karenanya sekolah ini
didirikan oleh para anggota tua Karasu dan Naraku yang bertahan. Untuk mencari
pemilik bakat yang tercecer di Jepang. Karena semenjak kejadian itu para
anggota Karasu dan Naraku yang mencapai hampir 50 orang di seluruh Jepang
memilih mundur dan hidup berbaur lagi dengan manusia yang lainnya.
Menyembunyikan jati diri mereka sebenarnya. Dan lambat laun kami sadar, kami
memerlukan pelindung untuk sekolah ini. Maka, para Dewan Tua itu sepakat
membentuk Akai, sang penjaga.” Aoi menundukkan kepalanya sambil tersenyum,
begitu pula para anggota Akai yang lain, tapi tentu saja minus Tora yang ia
memang tak pernah tersenyum. Kai berjalan kembali ke kursinya.
“Dan mereka, Alumina. Mereka
adalah penyeimbang antar dimensi dan penyeimbang kekuatan kami.” Seperti para
anggota Akai lakukan, para Alumina menundukkan kepala dan tersenyum.
Reita tak tinggal diam, dengan
tangan masih berada di sakunya ia menatap lambang yang menempel di tembok
ruangan itu. Lambang itu berupa gambar perisai dengan kedua tombak yang
menyilang di depannya, namun kedua tombak itu berbeda, yang satu berujung
runcing dan satunya lagi berujung tumpul kemudian di sekelilingnya terdapat 3
gambar kobaran api.
Bisa dijelaskan bahwa perisai
adalah Akai, tombak dengan ujung runcing adalah Karasu, tombak dengan ujung
tumpul adalah Naraku dan 3 kobaran api adalah Alumina.
“Shirayumi Music Gakuen. Para
Dewan Tua yang mendirikan sekolah inilah yang membuat sekolah ini terkenal dan
besar, dengan sedikit bakat yang mereka keluarkan.” Tatapan Reita masih tak
lepas dari lambang yang merupakan gambaran dari ‘peran’ mereka di sekolah itu.
“Dan kau tahu kenapa ujian masuk
begitu ketat dan aneh bagi sebagian orang ?” Reita mengambil jeda, membiarkan
Ruki mencerna kembali pertanyaannya, mengingat tentang ujian masuk yang baginya
sangat berat dan memang sedikit aneh. “Karena para Dewan Tua bisa merasakan
pemilik bakat jauh sebelum kalian menginginkan untuk bersekolah disini. Pasti
sekarang kau sadar bukan, kenapa ujianmu dengan teman-temanmu yang ‘biasa’ itu
berbeda.”
“Eh ? berbeda ?” Ruki bergumam
dan ia baru tahu kalau ujiannya itu berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Reita tahu bahwa anak yang sedang
menjadi pusat perhatian seluruh pemilik bakat di SMG itu baru mengetahuinya
sekarang. “Karena ujian itu untuk membuka sedikit bakat para anak-anak istimewa.”
Reita mempertajam kata-katanya.
Ruki sontak menoleh ke arah Reita
yang masih terfokus pada lambang yang hanya ada di 3 ruangan itu.
“Tak banyak di antara kami semua
yang berdiri disini memiliki bakat asli dan menyadarinya. Salah satunya adalah
kau sendiri.”
“Hanya aku, Aoi, Uruha, Kouki,
Saga, Tora, Ray, dan Kai yang sudah mengetahui bahwa kami istimewa sejak kami
kecil. Dan yang lainnya sama sepertimu, tak menyadari dan harus mereka buka
lebih dulu.” Reita memalingkan pandangannya ke nama-nama yang ia sebutkan tadi.
“Sedangkan Reno, Subaru, dan Nao sang Flame yang memberikannya. Awalnya mereka hanya
orang-orang yang biasa.” Mereka bertiga yang disebutkan namanya hanya tersenyum
ke arah Ruki.
'Flame?' tanya Ruki dalam hati.
“Ramalan tentang kedatangannmu
telah kami dengar sejak pertama kali kami menginjakkan ke sekolah yang dipenuhi
dengan rahasia ini. Kau adalah penyempurna kekuatan kami Matsumoto Takanori.
Meskipun 2 bulan yang lalu kami telah kehilangan salah satu pemilik bakat
terkuat, tapi kami yakin bakatmu masih tetep bisa menyempuranakan kami.” Reita
menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menundukkan kepalanya.
“Oleh karenanya, tolong
bergabunglah dengan kami sebagai petarung SMG dan sempurnakanlah kekuatan
kami.” Pertama kali Reita mengucapkan kata ‘tolong’. Sebenarnya mereka semua
yanga da di ruangan itu –kecuali Ruki- tak pernah menduga apa yang akan Reita
katakan. Namun mereka hanya tersenyum dengan yang Reita lakukan. Karena mereka
tahu, Reita tak pernah tak memikirkan nasib para pemilik bakat.
Dibalik sikapnya yang dingin ada
sebuah rasa kepedulian serta tanggung jawab yang besar yang ia pikul.
“Ehh ?” Ruki bingung akan
mengatakan apa. ini semua terlalu mendadak baginya, terlalu mengejutkan dan
membingungkan.
“Go-gomen meskipun aku sebenarnya
tidak begitu paham dengan apa terjadi, tapi...jika apa yang ada dalam diriku
ini bisa membantu kalian semua, maka aku tak bisa tinggal diam. Aku akan
bergabung dengan kalian.” Ucap Ruki malu-malu.
Ucapan Ruki itulah yang memberi
para pemilik bakat kekuatan yang lebih besar.
“Arigatou, Ruki...” ucap Reita
singkat dan kini ia berbalik badan.
“Kalau begitu selamat datang di Shirayumi Music
Gakuen yang sebenarnya...” ucap Shou tiba-tiba yang langsung di sambut dengan
gaya khas masing-masing yang ada disitu. Aoi dan Kai mengangkat cangkir mereka
ke arah Ruki dan tersenyum. Reita, meskipun Ruki tak bisa melihatnya namun ada
senyuman kecil yang tergambar dan itu bisa dilihat oleh Ray dan Yo. Saga dan
Kouki melakukan toss berdua. Para Alumina –Yuh, Kazuki, Reika- menundukkan
kepala ke arah Ruki. Para Akai –Ibuki, Nao, Byou, Tora, dan Reno- yang berdiri
di belakang ketuanya juga tersenyum ke arah Ruki, dalam hati mereka mengatakan
hal yang sama ‘arigatou Ruki’. Subaru yang memang sudah mengenal Ruki dan
pernah mengobrol dengannya itu memberikan jempolnya ke Ruki. Ruki memberikan
senyum manisnya. Dan para pion Reita dan Kai – Shin, K, Tohya, Umi- dan seorang
calon pion yang akan segera diangkat, Tomo memberikan senyuman serta tatapan
yang sekan berkata selamat-bergabung-dengan-kami.
Dari situ pertanyaan-pertanyaan
Ruki telah terjawab. Ruki, sang penyempurna telah datang. Seorang anak yang
telah teramalkan. Bakat yang akan segera di bangkitkan. Tanpa ia sadari tembok
yang telah membelenggu bakatnya itu satu persatu mulai runtuh. Dan Ruki telah
menerima takdirnya. Namun ada satu hal yang belum ia ketahui. Kogurou bukanlah sekumpulan orang-orang tanpa
bakat, yang hanya bisa merebut kekuatan dari lawannya. Mereka sekarang telah
berubah. Pemilik bakat yang tersisihkan, yang memutuskan untuk
bergabung dengan Kogurou dan ingin mengalahkan para anak-anak pemilik bakat di
Shirayumi Music Gakuen dan merebut Albeiro demi kepentingan egois mereka.
----------------
“Cih, mereka meremehkan kita
rupanya.”
“Tenang saja. Akan kita buktikan
bahwa kita lebih kuat sekarang.”
“Meskipun begitu, kalian
berhati-hatilah. Sepertinya mereka mempunyai pion yang baru. Sungguh menarik.”
“Tapi, seberapa banyaknya pion
mereka yang baru dan seberapa kuatnya mereka sekarang, hal itu tak akan merubah
bahwa kita memiliki kekuatan Uruha, sang pemilik bakat terkuat dari Karasu.”
--------Chapter 05 End-------
Hyaaaaah author tahu ini sudah hampir 5 bulan *bener gak sih*
Awalnya udah gak ada ide, tetapi karena ada salah seorang readers yang sangat baik hati nge'add fb author dan meminta author untuk nerusin
maka dengan keyakinan penuh(?) author terusin
sankyu ya buat Miko ^w^)/
dan GOMEN mungkin semakin aneh ini cerita
tapi inilah imajinasi author
hontou ni arigatou buat yang udah menanti *emang ada*
sampai jumpa di chapter 6 yang enggak tahu kapan selesainya *oii