Kamis, 15 Agustus 2013

[Fanfic] FLAME

Chapter 5 “THE SECRET”

Title                             : FLAME

Chapter                       : 5/?

Author                         : Lycoris

Fandom              : THE GAZETTE, Alice Nine, D=OUT, BORN, SuG, SCREW, ViViD, Vistlip, Matenrou Opera, Royz

Cast                             : banyak, ngetiknya lama jadi baca sendiri aja *oii

Rate                             : T

Genre                           : Supernatural, Friendship, School life (author rubah genrenya)

Warning                       : Typo(s) bertebaran, semakin abal, dan membuat mata mengantuk



“Panggil Matsumoto Takanori !”

-----------------

“Kau akan memilih apa Ru ? jajaran Senior atau kelas spesial ?” Hiroto membuyarkan lamunan Ruki.
Seketika Ruki yang sedang melanglangkan pikirannya sendiri itu terbangun.
“Eh ? apa apa apa ?”celinguknya seketika. Ketiga temannya hanya mendengus kesal.
“Kau ini kenapa, dari tadi pagi melamun, di kantin pun kau juga melamun, dan sekarang kau juga melamun Ru.” Hikaru menoleh menatap Ruki.
“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa” Ruki menatap gantian ketiga sahabatnya.
“Memang kami percaya ?!” kini Takeru bersikap serius.
“Kami tidak akan semudah itu percaya padamu Tuan Matsumoto...” Hiroto mengiyakan perkataan Takeru.
Hikaru dan Takeru mengangguk pelan, “Kita tak mudah untuk percaya untuk hal ini”
Ruki yang sebenarnya merasa aneh dan ada apa-apa itu tak mungkin cerita kepada ketiga sahabatnya ini. Karena ia sendiri pun bingung bagaimana mengatakannya. Lalu buru-buru ia memasang ekspresi yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Kan sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja. Kalian ini dari dulu selalu saja cerewet.” Ruki mengusap kepala Takeru, Hikaru, dan Hiroto bergantian dan tidak lupa senyum khasnya ia sematkan.
Dan kalau sudah begitu ketiga sahabatnya ini pasti diam. Meskipun sebenarnya pertanyaan mereka tadi belum mendapat jawaban yang memuaskan.

Suasana kembali normal, Ruki berusaha membuang jauh-jauh perasaan anehnya itu. Mereka kembali membicarakan hal-hal umum yang telah terjadi hari itu.
Kini senda gurau mereka berempat ikut memeriahkan suasana kelas yang memang belum ada guru yang masuk.
Tapi tiba-tiba di tengah keberisikan kelas sementara itu, pintu kelas tiba-tiba terbuka. Tentu saja semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Pasang demi pasang mata mulai mulai menatap ke arah pintu, mereka terdiam bahkan sekarang semuanya ikut terdiam. Semua kegiatan mereka hentikan, termasuk Ruki, Takeru, Hikaru dan Hiroto.

Hening...

Tap tap tap

Hanya suara langkah kaki yang terdengar memasuki ruangan itu.
Setidaknya ada 3 pemuda yang kini berjalan depan kelas.  Seorang di depan dan 2 orang lagi disampingnya agak dibelakang.
“Matsumoto Tananori...” panggil seorang pemuda yang berdiri paling depan yang dikenal dengan nama Reika itu. Ekspresinya datar tak bisa dikatakan dingin tapi juga tak bisa dikatakan ramah, pandangannya lurus ke depan. Tak menghiraukan beberapa bisik-bisik siswa perempuan yang jelas saja bisa ia dengar itu.
Sang empunya nama kini hanya bisa menelan ludah,jantungnya berdetak dengan kencang. Apa yang diinginkan para Alumina ini kepadanya, pikirnya. Hampir semua mata para penghuni kelas sementara itu memandangnya. Dengan berat ia mengacungkan tangan kanannya.
“Sa...saya..” ujarnya dengan sedikit bergetar.
Kini ketiga pasang mata Alumina memandangnya. Jarak mereka hanya 4 bangku namun dengan jelas Reika, Kazuki, dan Yuh bisa merasakan kekuatan anak baru ini.
“Ikutlah dengan kami, Reita memanggilmu !” perkataan yang berupa perintah yang Yuh lontarkan sontak membuat seisi kelas itu kaget. Reita, siswa tahun kedua SMG yang bisa dikatakan anak ajaib itu memanggil seorang Matsumoto Tanakori, yang memang benar ia adalah seorang peraih peringkat tertinggi ujian masuk tahun ini. Dan bisa dikatakan ini adalah sebuah perintah pertama yang Reita keluarkan. Sontak saja semuanya kaget, tapi tidak bagi Ruki. Kejadian siang tadi si kantin utara sudah memberikan arti lain, ia tahu bahwa Reita mengawasinya dan buktinya ini tadi, para Alumina sekarang sedang berdiri di depan kelasnya, mencarinya membawa perintah atas nama Reita.
Ia berdiri, tangan kanannya mengepal, detak jantungnya berusaha ia atur. Hampir semua mata kini melihatnya berjalan menuju para Alumina. Takeru, Hikaru, dan Hiroto seakan mengetahui jawaban atas kediaman Ruki sedari tadi, mereka pun hanya bisa terdiam, kedua bola mata mereka hanya bisa memandang punggung Ruki yang semakin mendekati ketiga pengawal yang terkenal itu.

Kini, jarak Ruki dengan Reika yang berdiri paling depan hanya sekitar 40 cm. “Ikuti kami.” ucap Reika datar.
Ruki hanya mengangguk pelan. Mereka akhirnya berjalan keluar kelas, dengan Reika paling depan diikuti Kazuki dan Yuh serta Ruki paling belakang dengan kepala yang ia tundukkan.
Sudah dipastikan semua mata yang memperhatikan mereka tak mereka pedulikan, sudah biasa seperti ini, itu bagi Alumina tapi tidak bagi Ruki, dan ia hanya bisa terus berjalan dalam diam dengan pandangan yang tak berani ia angkat.

--------------------------

Lorong itu bisa dikatakan gelap, tak banyak cahaya yang masuk karena tertutupi tiang tiang besar pondasi SMG serta tumbuhan yang merambat tinggi, sunyi dan sepi, tak ada seorang pun yang mereka jumpai sepanjang lorong itu. Ruki melihat sekitarnya, di dinding-dindingnya terdapat beberapa lumut yang mungkin memang sengaja dibiarkan tumbuh, dalam hati ia berpikir bagaimana mungkin lorong ini dibiarkan berlumut begitu saja mengingat bangunan di SMG adalah bangunan elit semua.

“Gedung barat merupakan gedung yang tertua disini, jadi jangan heran bila seperti ini.” Kazuki yang seakan mengatahui isi hati Ruki tiba-tiba berkata untuk menjawab pertanyaan Ruki meskipun Ruki hanya bertanya dalam hati.
Dengan buru-buru ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, “Aa--ah hai Senpai...” ia menunduk kembali.
Setelah melewati belokan terakhir akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu yang lumayan besar.
Ruki memperhatikan pintu besar yang terbuat dari kayu dan memiliki ukiran-ukiran sederhana berwarna coklat tua itu.
“Kita telah sampai.” Kata Reika singkat, dan tangan kanan Yuh telah memegang kenop pintu itu dan bersiap membuka. Entah kenapa jantung Ruki berdetak lebih cepat dari yang tadi, ia seakan bisa merasakan akan ada sesuatu yang besar yang akan ia lihat ketika pintu itu dibuka.

Klek

Yuh telah membuka pintu itu, Ruki masih belum bisa melihat apa-apa, karena ia terhalang oleh badan tinggi dan besar para Alumina, tapi satu yang ia bisa rasakan, aura yang sangat kuat yang kini berhasil membuat ia tercengang, padahal ia masih belum tahu untuk apa Reita memanggilnya dan membawanya ke tempat aneh ini.
“Silahkan, mereka sudah menunggumu.” Kazuki mempersilahkan Ruki masuk, tapi tunggu dulu, mereka ? mereka siapa ? bukannya tadi dia berkata yang memanggilnya adalah Reita. Kembali Ruki dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang berusaha ia dapatkan jawabannya. Dan tentu saja jawaban itu akan ia dapatkan sebentar lagi.
“Ha—hai.” Ruki sedikit menunduk ke para seniornya itu. Tangan Yuh berusaha membuka pintu lebih lebar.
Begitu ia berjalan masuk, hal pertama yang ia dapat adalah sebuah cahaya remang-remang yang masuk melalui jendela kaca besar yang terpampang lurus di depannya.
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar.
“Kami sudah menunggumu Matsumoto Takanori.” Spontan Ruki menoleh ke kiri, tepat ke arah ‘mereka’.

Deg

Apalagi ini, kenapa perasaan aneh ini semakin kuat, dan aura yang tak bisa terbaca oleh orang biasa kini telah dirasakan oleh Ruki. Seperti ada sesuatu yang akan keluar dari dirinya, perutnya terasa berat.
Kini semakin jelas, orang-orang yang tadi siang baru saja ia lihat telah duduk dan sebagian berdiri tengah memperhatikannya, dan-----Subaru, sepupu Hiroto juga berada di dalam ruangan besar itu tengah tersenyum simpul ke arahnya, Ruki hanya bisa tercengang. Pandangan Ruki mengarah  ke seseorang yang tengah  sibuk mengaduk cangkirnya dan menyeruput isinya. Namun ada satu orang yang belum pernah ia lihat secara langsung,  hanya ia pernah melihatnya di majalah SMG. Dan itu adalah Shiroyama Yuu, sang ketua jajaran Senior yang sangat jarang terlihat umum itu.
Dan orang yang memanggil Ruki tadi yang tepat berada di depan Aoi –begitu ia dipanggil- adalah Uke Yutaka atau yang biasa dipanggil Kai yang baru saja ia lihat tadi siang.

Ruki masih diam kaku di depan pintu, hingga Kai yang tadi sibuk dengan cangkirnya menyuruhnya untuk mendekat “Kemarilah, sampai kapan kau akan berdiri diam disitu ?”
Ruki hanya menunduk, dan raut wajahnya tak terbaca, perasaannya semakin kacau sekarang. Namun ada seseorang yang Ruki cari-cari dari tadi, orang yang memanggilnya siapa lagi kalau bukan Reita, dimana dia ? pikirnya dalam hati. Namun belum sampai 5 langkah ia melangkah, ia bisa melihat sesosok pemuda yang ia cari-cari dari tadi, ya Reita. Sosok Reita yang sedang menyenderkan badannya di tembok di samping tempat duduk para ketua itu tetap saja tak memperhatikan Ruki, dengan tangan yang terlipat di dada ia sibuk melihat ke luar jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung selatan SMG.
Bukannya ia yang memanggilku, tetapi begitu aku disini ia sekalipun tidak menoleh bahkan melirik, dengus Ruki dalam hati namun ekspresi tetap saja ia buat datar atau yang lebih tepatnya takut.
Kini jarak semakin dekat, Ruki berhenti dan berdiri tepat di di depan para pangeran SMG itu.
“Hoe Reita, bukankah kau yang memanggilnya, jadi bersikaplah ramah dengannya atau paling tidak lihatlah seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi penyempurna kita.” Kai berbicara lantang memecah ketegangan yang Ruki rasakan.
'Haa ? penyempurna ? apa lagi ini ?' Ruki semakin tidak mengerti akan apa yang sebenarnya tengah ia hadapi, lagi dan lagi pertanyaan-pertanyaan aneh kini bertambah jumlahnya.
Reita pun memalingkan mukanya, tepat menatap manik Ruki.

Deg

Perasaan itu muncul kembali, perasaan yang sama ketika Reita melewatinya di kantin.
“Pasti ada yang aneh dengan perasaanmu kan.” Reita to the point.
“Bagaimana ia tahu ?” ujarnya dalam hati menanggapi apa yang baru saja Reita ucapkan.
“Itu wajar bagi seorang terpilih yang pertama kali merasakan ‘kami’. Tenanglah kami tidak akan melukai atau macam-macam denganmu.” Reika berkata sambil berjalan menghampiri Ruki.
“Hei Rei jangan buat takut anak baru itu.” Aoi menyela.
“Aku tidak membuatnya takut, aku hanya ingin mengenalkan siapa sebenarnya kita kepada anak ini.”
'Apa maksudnya ??' Ruki masih saja berdiri terdiam, dan kini Reita telah berdiri di depannya.
“Bukan Reita kalau dia tidak seperti itu, iya kan.” Kouki pun angkat bicara, diikuti cekikikan Kai, dan Saga.
“Diamlah kalian!” kata Reita tanpa menoleh.
Ruki hanya menunduk, melihat ke lantai keramik berwarna abu-abu tua itu. Sepertinya ia tengah mempersiapkan diri untuk melihat apa saja yang akan terjadi setelahnya.
 “Aku, atau yang lebih tepatnya kami, memanggilmu kesini bukan tanpa alasan. Ada banyak yang akan kami ceritakan kepadamu.” Reita memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Itu berarti ia sedang tidak main-main sekarang. Wajah Ruki mendongak, ekspresinya menunjukkan bahwa ia semakin tak mengerti dengan semua ini.

Ruangan  yang isinya terdiri dari ketiga Alumina, para jajaran Senior yang terkenal, sang ketua dan kedua muda Karasa, para ketua Naraku yang kini tersenyum simpul menatap Ruki, salah seorang anggota Naraku yang merupakan sepupu Hiroto, calon pion Reita, dan sanga ketua jajaran Senior yang sangat jarang terlihat di depan umum.  Sudah jelas bukan mereka bukanlah orang-orang yang biasa. Mereka sekarang –minus Ruki- bisa merasakan kekuatan yang sangat besar dari dalam anak baru itu. Sebuah kekuatan yang ‘hangat’ dan mereka juga tahu bahwa kekuatan itu belumlah keluar semua, masih sekitar 5%. Yaa 5% dari total kekuatan besar Ruki. 5% saja sudah seperti ini, apalagi kalau ia sudah mengeluarkan semuanya.
Anak baru itu memang ramalan yang telah terbukti benar.

Reita mengedarkan pandangannya. “Kau lihat..” Perkataan Reika sontak membuat Ruki ikut memperhatikan sekelilingnya, melihat para pangeran yang merupakan penjaga dan petarung yang kini sedang memperhatikan mereka berdua, hanya Aoi yang tak memperhatikan mereka berdua, ia tengah sibuk dengan sebuah cahaya putih yang keluar dari jemarinya.
Tunggu, cahaya putih ? bagaimana itu bisa terjadi ? Ruki hanya bisa tercengang, dan hampir tidak percaya dengan kedua matanya yang jelas-jelas bisa melihatnya. “Sesuai yang kau lihat, kami semua bukanlah orang-orang yang biasa.” Reita yang mengetahui akan apa reaksi Ruki kembali menatap Ruki.
“Go-gomen, tapi apa yang sebenarnya terjadi disini ??” akhirnya Ruki memberanikan diri membuka mulutnya.

Kai tersenyum, memperlihatnya dimplenya, ia pun ikut berdiri, berjalan menghampiri Ruki dan Reita yang 
berdiri tak jauh dari mereka.
“Kau tumben berbicara banyak Rei.” Kata Kai yang bisa merupakan sebuah ejekan kepada Reita.
Reita hanya bisa melirik ke arah Kai, tidak merespon perkataan ketuanya.
“Kau Matsumoto Tanakaori, sebentar lagi akan mengetahui apa sebenarnya Shirayumi Music Gakuen ini, dan siapa sebenarnya kami.” Ujar Kai yang kini telah berada cukup dekat dengan Ruki dan Reita.
“Ah dan maaf kami tidak memperkenalkan diri dengan baik.” Kai berkata dengan ramah membuat Ruki sedikit bisa tenang. Tapi meskipun tanpa memperkenalkan diri pun Ruki sudah tahu mereka semua. Sekarang siapa yang tidak tahu para senior yang terkenal sekaligus berbakat di SMG, pikir Ruki.
“Perkenalkan aku Uke Yutaka tapi panggillah aku dengan Kai, ketua dari kelas A-1 atau yang lebih rahasia..ketua Karasu.” Kai sedikit membungkuk memperkenalkan dirinya sendiri, Ruki menjadi sedikit canggung.
“Dan dia yang memanggilmu tadi, Suzuki Akira atau Reita. Penghuni kelas A-1 dan merupakan ketua muda Karasu, dan maaf jika tindakannya tadi tak membuatnya nyaman Matsumo—“
“Panggil saya dengan Ruki saja.” Potong Ruki. Tidak sopan memang tapi ia memang tidak terlalu suka jika ia dipanggil dengan Matsumoto.
“Baiklah, Ruki. Pertama-tama kau pasti bingung dan tak mengerti mengapa kau sekarang berada disini. Maafkan atas ketidak sopanan kami memanggilmu secara tiba-tiba.”
“Ti-tidak apa-apa.” Ruki berusaha mengatur bicaranya.
“Karena yang sudah kau lihat tadi dan yang sudah Reita katakan tadi, bahwa kami bukanlah orang-orang biasa.” Kai mulai menceritakan namun sekarang ia sudah berjalan-jalan di sekitar ruangan itu.
“Kau pasti juga melihat apa yang Aoi lakukan tadi bukan? Itu hanyalah sedikit clue dari apa yang akan kami katakan kepadamu.” Tatapan Kai lurus ke arah Ruki.
Ketua dengan rambut yang ia kepang kuda itu mendekat kembali ke arahnya, Ruki masih saja diam di tempat. Reita melipat kedua tangannya di dada.
“60 tahun yang lalu semuanya di mulai.” Kali ini nada bicara Kai mulai serius, tak ada senyuman yang menjadi ciri khasnya.
“Shirayumi Music Gakuen tentu saja belum ada. Hanya ada Karasu.” Ia mengambil jeda, membiarkan Ruki untuk mencerna perkataannya.
“Karasu, adalah sebuah perkumpulan dari para pemilik bakat istimewa yang sudah berdiri hampir 1 abad. Tak banyak orang yang percaya tentang bakat, malahan bagi sebagian orang itu hanya terdengar sebagai dongeng pengantar tidur.  Tapi asal diketahui saja, bakat itu ada, bahwa manusia dengan kekuatan itu ada. Dan bukan tanpa alasan Karasu didirikan. Karena bila pemilik bakat itu menggunakan kekuatan mereka tanpa kontrol maka hanya akan ada kekacauan. Oleh karena itu Karasu berdiri, melindungi, membimbing, dan mengontrol para pemilik bakat.” Kai memainkan jemarinya.
“Namun, 60 tahun yang lalu muncullah Kogurou. Mereka adalah orang-orang biasa yang merasa iri atas apa yang Karasu miliki, atas bakat yang tidak mereka miliki. Para anggota Karasu pun mengetahui niat dan maksud dari Kogurou dan oleh karena itu Naraku pun didirikan.”
“Naraku, pengawal Karasu. Sekumpulan orang-orang dengan bakat yang tak kalah hebat dengan Naraku, namun mereka bertugas untuk menjadi pengawal dan prajurit dan harus melindungi Karasu. Bisa dikatakan prajurit yang siap mati.” Kai memberi tekanan pada prajurit yang siap mati, Ruki kaget atas penjelasan Kai. Ia spontan menoleh ke arah Kouki dan Saga, namun mereka hanya tersenyum seolah tak ada apa-apa di balik kata itu.
“Tapi itu dulu, sekarang tidak. Sekarang Karasu dan Naraku sama-sama menjadi petarung, kami semua sederajat.” Tutur Saga dengan santainya.
Ruki pun hanya bisa menundukkan kepala dengan ragu-ragu.
“Kau tahu alasan lainnya kenapa Kogurou muncul ?” pertanyaan Kai membuat Ruki kembali berhadapan dengan Kai. Ruki kembali menggeleng. Tentu saja ia tak tahu. Ia hanya anak baru yang masih polos yang tidak tahu apa-apa kemudian harus mengalami semua ini, berhadapan dengan para pangeran SMG dan menemukan rahasia bahwa sekolah dambaannya itu menyembunyikan hal yang sangat besar. Dan sekarang ia disebut-sebut sebagai ‘penyempurna’ mereka. sudah cukup kebingungan untuk hari ini, batin Ruki.
“Karena bisa diketahui bahwa bakat dapat diturunkan kepada orang biasa, namun itu semua memerlukan pengorbanan. Kematian dari sang pemilik bakat.” Ruki menelan ludah dengan kalimat terakhir Kai.
“Bakat atau kekuatan yang dipaksa keluar akan membuat si pemilik mengalami Zero Drop. Dan hal itu yang membuat mereka meninggal. Dan itulah cara Kogurou mendapatkan kekuatan.” Kai mengedarkan pandangannya. Menatap ke Aoi.
“Itulah yang terjadi kepada Uruha...” Kai melemahkan suaranya, ia menunduk. Ruangan itu menjadi berkabung kembali.
“U-ruha ?” Ruki mengeja namanya.

Kai tak menjawab pertanyaan Ruki. Ia menatap ke arah pintu yang terbuka. Menunjukkan beberapa orang yang tak pernah Ruki kenal dan lihat sebelumnya.
“Yo, Ray, Tohya, Umi, K, dan Shin mereka adalah pion-pion kami.” Kata Kai begitu melihat ekspresi Ruki yang terlihat bingung. Kontan Ruki mengarahkan pandangannya ke arah pion-pion Reita itu.
Mereka ber-6 menundukkan kepala ke arah para pangeran SMG dan berjalan dengan tenang ke belakang para ketua Karasu.
“Uruha adalah pion terbaik dan terkuat kami.”Ray berkata tiba-tiba kemudian menundukkan kepala.
Seisi ruangan itu terdiam. Mengulang kembali kisah 2 bulan yang lalu.

“Ehem...”Kai berdehem mencoba mencairkan suasana yang kelam itu. Semuanya pun kembali fokus ke arah pembicaraan searah Kai dan Ruki.
“Albeiro, yang merupakan sumber kekuatan para anggota Karasu dan Naraku. Pernah  dicuri karena ada seorang anggota Karasu yang berkhianat. Tapi kemudian dengan usaha berat, Albeiro kembali. Namun tak utuh. Albeiro telah terpecah menjadi 10 bagian kristal. Dan beruntung kami mendapatkan 3 pecahan. Tapi itu juga tak bisa dikatakan beruntung karena 2 pecahan berada di tangan mereka, sedangkan 5 pecahan lagi tercecer ke ‘dimensi lain’ yang menjadi ‘ladang’ pertempuran antara Karasu dan Kogurou.”
“Dan saat ini kami sudah berhasil mengumpulkan 5 pecahan, meskipun pecahan kelima itu harus kami curi dari para Kogurou.”
“Pertempuran demi pertempuran telah dihadapi oleh para anggota Naraku yang tak sedikit mereka harus tewas. Namun jarang sekali kami mendapatkan hasil. Karena kebanyakan pecahan Albeiro itu palsu. Dan semakin lama kami mendapatkan pecahan itu, maka semakin melemah kekuatan para anggota Karasu serta Naraku.”

“Oleh karenanya sekolah ini didirikan oleh para anggota tua Karasu dan Naraku yang bertahan. Untuk mencari pemilik bakat yang tercecer di Jepang. Karena semenjak kejadian itu para anggota Karasu dan Naraku yang mencapai hampir 50 orang di seluruh Jepang memilih mundur dan hidup berbaur lagi dengan manusia yang lainnya. Menyembunyikan jati diri mereka sebenarnya. Dan lambat laun kami sadar, kami memerlukan pelindung untuk sekolah ini. Maka, para Dewan Tua itu sepakat membentuk Akai, sang penjaga.” Aoi menundukkan kepalanya sambil tersenyum, begitu pula para anggota Akai yang lain, tapi tentu saja minus Tora yang ia memang tak pernah tersenyum. Kai berjalan kembali ke kursinya.
“Dan mereka, Alumina. Mereka adalah penyeimbang antar dimensi dan penyeimbang kekuatan kami.” Seperti para anggota Akai lakukan, para Alumina menundukkan kepala dan tersenyum.

Reita tak tinggal diam, dengan tangan masih berada di sakunya ia menatap lambang yang menempel di tembok ruangan itu. Lambang itu berupa gambar perisai dengan kedua tombak yang menyilang di depannya, namun kedua tombak itu berbeda, yang satu berujung runcing dan satunya lagi berujung tumpul kemudian di sekelilingnya terdapat 3 gambar kobaran api.
Bisa dijelaskan bahwa perisai adalah Akai, tombak dengan ujung runcing adalah Karasu, tombak dengan ujung tumpul adalah Naraku dan 3 kobaran api adalah Alumina.

“Shirayumi Music Gakuen. Para Dewan Tua yang mendirikan sekolah inilah yang membuat sekolah ini terkenal dan besar, dengan sedikit bakat yang mereka keluarkan.” Tatapan Reita masih tak lepas dari lambang yang merupakan gambaran dari ‘peran’ mereka di sekolah itu.
“Dan kau tahu kenapa ujian masuk begitu ketat dan aneh bagi sebagian orang ?” Reita mengambil jeda, membiarkan Ruki mencerna kembali pertanyaannya, mengingat tentang ujian masuk yang baginya sangat berat dan memang sedikit aneh. “Karena para Dewan Tua bisa merasakan pemilik bakat jauh sebelum kalian menginginkan untuk bersekolah disini. Pasti sekarang kau sadar bukan, kenapa ujianmu dengan teman-temanmu yang ‘biasa’ itu berbeda.”
“Eh ? berbeda ?” Ruki bergumam dan ia baru tahu kalau ujiannya itu berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Reita tahu bahwa anak yang sedang menjadi pusat perhatian seluruh pemilik bakat di SMG itu baru mengetahuinya sekarang. “Karena ujian itu untuk membuka sedikit bakat para anak-anak istimewa.” Reita mempertajam kata-katanya.
Ruki sontak menoleh ke arah Reita yang masih terfokus pada lambang yang hanya ada di 3 ruangan itu.
“Tak banyak di antara kami semua yang berdiri disini memiliki bakat asli dan menyadarinya. Salah satunya adalah kau sendiri.”
“Hanya aku, Aoi, Uruha, Kouki, Saga, Tora, Ray, dan Kai yang sudah mengetahui bahwa kami istimewa sejak kami kecil. Dan yang lainnya sama sepertimu, tak menyadari dan harus mereka buka lebih dulu.” Reita memalingkan pandangannya ke nama-nama yang ia sebutkan tadi. “Sedangkan Reno, Subaru, dan Nao sang  Flame yang memberikannya. Awalnya mereka hanya orang-orang yang biasa.” Mereka bertiga yang disebutkan namanya hanya tersenyum ke arah Ruki.
'Flame?' tanya Ruki dalam hati.
“Ramalan tentang kedatangannmu telah kami dengar sejak pertama kali kami menginjakkan ke sekolah yang dipenuhi dengan rahasia ini. Kau adalah penyempurna kekuatan kami Matsumoto Takanori. Meskipun 2 bulan yang lalu kami telah kehilangan salah satu pemilik bakat terkuat, tapi kami yakin bakatmu masih tetep bisa menyempuranakan kami.” Reita menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menundukkan kepalanya.
“Oleh karenanya, tolong bergabunglah dengan kami sebagai petarung SMG dan sempurnakanlah kekuatan kami.” Pertama kali Reita mengucapkan kata ‘tolong’. Sebenarnya mereka semua yanga da di ruangan itu –kecuali Ruki- tak pernah menduga apa yang akan Reita katakan. Namun mereka hanya tersenyum dengan yang Reita lakukan. Karena mereka tahu, Reita tak pernah tak memikirkan nasib para pemilik bakat.
Dibalik sikapnya yang dingin ada sebuah rasa kepedulian serta tanggung jawab yang besar yang ia pikul.
“Ehh ?” Ruki bingung akan mengatakan apa. ini semua terlalu mendadak baginya, terlalu mengejutkan dan membingungkan.

“Go-gomen meskipun aku sebenarnya tidak begitu paham dengan apa terjadi, tapi...jika apa yang ada dalam diriku ini bisa membantu kalian semua, maka aku tak bisa tinggal diam. Aku akan bergabung dengan kalian.” Ucap Ruki malu-malu.
Ucapan Ruki itulah yang memberi para pemilik bakat kekuatan yang lebih besar.
“Arigatou, Ruki...” ucap Reita singkat dan kini ia berbalik badan.

“Kalau begitu selamat datang di Shirayumi Music Gakuen yang sebenarnya...” ucap Shou tiba-tiba yang langsung di sambut dengan gaya khas masing-masing yang ada disitu. Aoi dan Kai mengangkat cangkir mereka ke arah Ruki dan tersenyum. Reita, meskipun Ruki tak bisa melihatnya namun ada senyuman kecil yang tergambar dan itu bisa dilihat oleh Ray dan Yo. Saga dan Kouki melakukan toss berdua. Para Alumina –Yuh, Kazuki, Reika- menundukkan kepala ke arah Ruki. Para Akai –Ibuki, Nao, Byou, Tora, dan Reno- yang berdiri di belakang ketuanya juga tersenyum ke arah Ruki, dalam hati mereka mengatakan hal yang sama ‘arigatou Ruki’. Subaru yang memang sudah mengenal Ruki dan pernah mengobrol dengannya itu memberikan jempolnya ke Ruki. Ruki memberikan senyum manisnya. Dan para pion Reita dan Kai – Shin, K, Tohya, Umi- dan seorang calon pion yang akan segera diangkat, Tomo memberikan senyuman serta tatapan yang sekan berkata selamat-bergabung-dengan-kami.

Dari situ pertanyaan-pertanyaan Ruki telah terjawab. Ruki, sang penyempurna telah datang. Seorang anak yang telah teramalkan. Bakat yang akan segera di bangkitkan. Tanpa ia sadari tembok yang telah membelenggu bakatnya itu satu persatu mulai runtuh. Dan Ruki telah menerima takdirnya. Namun ada satu hal yang belum ia ketahui.  Kogurou bukanlah sekumpulan orang-orang tanpa bakat, yang hanya bisa merebut kekuatan dari lawannya. Mereka sekarang telah berubah. Pemilik bakat yang tersisihkan, yang memutuskan untuk bergabung dengan Kogurou dan ingin mengalahkan para anak-anak pemilik bakat di Shirayumi Music Gakuen dan merebut Albeiro demi kepentingan egois mereka.

----------------

“Cih, mereka meremehkan kita rupanya.”
“Tenang saja. Akan kita buktikan bahwa kita lebih kuat sekarang.”
“Meskipun begitu, kalian berhati-hatilah. Sepertinya mereka mempunyai pion yang baru. Sungguh menarik.”
“Tapi, seberapa banyaknya pion mereka yang baru dan seberapa kuatnya mereka sekarang, hal itu tak akan merubah bahwa kita memiliki kekuatan Uruha, sang pemilik bakat terkuat dari Karasu.”

--------Chapter 05 End-------


  
Hyaaaaah author tahu ini sudah hampir 5 bulan *bener gak sih*
Awalnya udah gak ada ide, tetapi karena ada salah seorang readers yang sangat baik hati nge'add fb author dan meminta author untuk nerusin
maka dengan keyakinan penuh(?) author terusin
sankyu ya buat Miko ^w^)/
dan GOMEN mungkin semakin aneh ini cerita
tapi inilah imajinasi author
hontou ni arigatou buat yang udah menanti *emang ada*
sampai jumpa di chapter 6 yang enggak tahu kapan selesainya *oii

[Fanfic] LYCORIS (Epilog)

LYCORIS (Epilog)


“Kau yakin akan melakukannya ?” Ikuma sedikit khawatir dengan Ken yang kini telah menenteng gitar akustik milik kakaknya yang kini telah tiada.
“Bukan masalah aku yakin atau tidak, yang terpenting aku sekarang ingin melakukan ini.....untuknya” Ken merendahkan suara di kalimat terakhirnya. Dan kini Ken telah berjalan menuju panggung yang ada di barnya itu.

Ikuma hanya berharap bahwa Ken akan baik-baik saja.
“Tak ada yang perlu kau cemaskan darinya, kau lihat ia kini telah dewasa.” Reika menepuk bahu Ikuma dari samping. Kedua bola matanya menatap Ken yang tengah berdiri di depan para fans mereka. Bukan hanya fans, melainkan orang-orang yang mengenal Ken dan kakaknya Ibuki, hadir disana.
Tanpa menoleh Ikuma hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, kau benar Reika-san.”

'Benar Ken, kakakmu sekarang pasti bahagia dan bangga jika ia bisa melihatmu sekarang. Kau yang kini berdiri dengan kakimu sendiri.'


AND. Tanpa Ken, mereka akhirnya memutuskan untuk bubar. Pukulan telak bagi Ken, karena ia adalah penyebabnya. Namun berkali-kali Kili, Ikuma, Peco, dan Kaji mengatakan ini bukanlah salahnya. Itu semua adalah keputusan bersama. Karena bila tak ada Ken, maka tak akan ada AND, band yang telah mereka besarkan bersama.
Sekitar 6 bulan setelah kematian Ibuki dan sekitar 2 bulan AND bubar, Ken mendirikan sebuah bar. Bukan tanpa alasan kenapa ia akhirnya mendirikan bar dengan hasil ‘pekerjaannya’ dulu sebagai seorang bassist di AND. Ia masih mencintai musik, maka dari itu bar dengan konsep bisa bertemu dengan para musisi itu ia dirikan. Hampir setiap hari beberapa temannya –yang merupakan musisi- selalu mengisi hiburan disana dengan membawakan beberapa lagu. Mimpi Ken menjadi musisi mungkin tak bisa lagi ia capai, namun dengan apa yang ia lakukan sekarang paling tidak kini ia bisa sedikit dekat dengan mimpinya dulu dan masih bisa bertemu dengan semua orang yang telah mendukungnya selama ini. Baik para fans atau pun teman-teman sesama musisinya.

Malam itu adalah ulang tahun sang kakak, Ibuki. Ken yang sudah 8 bulan tak pernah berdiri lagi di atas panggung itu pun memutuskan ingin membawakan sebuah lagu yang ia persembahkan untuk kakaknya. Dan kini ia sudah berdiri di depan teman-temannya.
Di sampingnya terdapat beberapa teman-temannya yang akan menemaninya. Ada K yang menemaninya memainkan gitar, Chiyu yang akan menemaninya dengan bassnya,  dan Shinpei yang akan menemaninya pada drum yang berada di belakang mereka.

Ken memakai baju kasual, kaos hitam yang dilapisi oleh blazer hitam dan celana jeans biru. Rambut coklat tuanya yang tak begitu panjang ia acak sembarangan.
Sudah lama ia tak berdiri di atas panggung, membuatnya sedikit grogi. Namun demi sang kakak yang kini telah meninggalkannya ia tenangkan pikirannya.
Ken berada di tengah, duduk di kursi yang telah disediakan. Di sampingnya terdapat K dan Chiyu yang duduk juga. Mereka tersenyum ke arah Ken, menguatkannya.
Bisa Ken lihat di beberapa bangku yang disediakan beberapa teman-temannya.

'Nii-san, ini untukmu. Tanjoubi omedetou, aku tahu kau telah bahagia di sana, dan semoga lagu ini sampai kepadamu.'

Mereka terdiam. Menatap intents Ken yang membenarkan letak stand microfonnya.
“Terima kasih untuk semua yang telah datang malam ini. Bagiku kalian adalah alasan kenapa aku bisa di atas panggung lagi seperti sekarang, meskipun hanya 1 lagu tapi aku merasa aku kembali lagi ke dunia yang sudah membesarkan namaku dan yang telah menjadi mimpiku selama ini.” Ken tersenyum, mengedarkan pandangannya.

“Untuk kakakku yang telah mengajariku semuanya, untuk semua cinta kasihnya, dan untuk pelajaran yang tak pernah aku dapat jika aku tak bertemu dengannya, aku tahu kau telah bahagia disana. Ibuki Nii-san Otanjoubi Omedetou.”

Hening.

Ken mulai memetik senar gitar akustik kakaknya.

....................
Furikaereba itsudatte
Kawaranu kimi no egao ga atta
Arukitsukare tachidomaru hi mo
Chiisa na yorokobi no hi mo
(Sometimes, If I turn and look back
To where your unchanging smile was,
Both on the day when I stood
Still after walking to exhaustion and on the day of that small delight

Kono ryoute ni kakaekirenai
Ai wo oshiete kureta
(When you tought me a love
That couldn’t be carried in my two hands alone)

Ah atatakaku sotto yasashiku
Yomigaeru kaze wa
Mada ano hi no mama no
Mabushisa de
Fukinukete yuku yo
(Ah, still that warmly
So tenderly reawakened breeze
Keeps on blowing through
With the same kind of radiance it
Had on that day)

Uragiru koto no tsumibukasa wo
Shinjiaeru koto no tsuyosa wo
Kazoekirenu hiru to yoru wo
Mune ni shimatteyukou
(The depth of guilt of that which betrays,
The strength of belief in each other
The countless noons and nights
I take these things into my heart before I go)

Wakare to deai no michi wo
Kizu tsukinagara bokura wa
Aruteiyuku n’ da ne
(On the road of meetings and partings,
While we’re being hurt
We keep on walking, don’t we ?)

Ah atatakaku sotto yasashiku
Yomigaeru kaze wa
Ima hitori sora wo mitsumeteru
Boku ni hohoendeiru
Mada ano hi no mama no
Mabushisa de
Te wo futteiru
Kimi wa everlasting memory
(Ah, now that warmly,
so tenderly reawakened breeze
Keeps gazing at the lonely sky
And smiling down on me
Still with the same radiance it
Had on that day
I keep maving my hand
At the everlasting memory of you)

Tak terasa setetes air mata jatuh tepat di akhir nyanyiannya. Mereka yang ada di dalam bar itu terdiam, hanyut dalam suara nyanyiian dan musik yang Ken beserta teman-temannya bawakan.
Ken memang tak sebaik Ikuma dalam hal bernyanyi, namun seluruh perasaan yang ia curahkan melalui lagu itu yang membuatnya bisa menghipnotis semua yang ada di sana dan ia yakin perasaannya tersampaikan. Dan air mata itu yang menjadi saksinya.

Riuh tepuk tangan terdengar, Ken tersenyum puas. Ia bisa melihat Ikuma beserta teman-temannya yang lain tersenyum bangga ke arahnya.
Memang hanya ini yang bisa ia berikan untuk Ibuki. Selain bunga lycoris merah yang tadi pagi ia bawa ketika mengunjungi makamnya. Namun ia tahu kado terbaik yang diinginkan sang kakak adalah membuat diri Ken sendiri bahagia.

Malam itu Ken menghabiskan waktu di barnya seperti biasa beserta teman-temannya. Namun ada perasaan lain yang ia rasakan ketika ia tadi berada di atas panggung dan menyanyikan lagu untuk Ibuki. Rasa hangat yang menjalar seperti ketika ia bersama sang kakak. Ken semakin menyadari, membuat orang lain bahagia karenanya lah yang membuat perasaan hangat itu muncul kembali.
Dan ia telah berjanji, ia akan membuat orang-orang yang ada disekelilingnya bahagia, karena seperti itulah yang kakaknya dan ia inginkan. Jawaban kenapa ia ada di dunia.

----OWARI----


*song : Kimi ga Iru by Galla (Ost Initial D second stage)

[Fanfic] LYCORIS (AND -Eccentric Agent-, D=OUT)

LYCORIS

Title                 : Lycoris

Fandom           : AND –Eccentric Agent- , D=OUT

Cast                 : Ken (AND), Ikuma (AND), Ibuki (D=OUT)

Genre               : Angst, Family

Rate                 : T

Author             : Lycoris

Disclaimer         : Only this fic is mine, not the characters.

Warning           : Fanfic abal kesekian yang saya tulis, typo(s), kayaknya tidak dapet feelnya *pundung*

ONE SHOT FANFICTION

Douzo~~

Dalam keheningan langit senja dan bunga lycoris merah yang diam di sampingnya.
-Lycoris-

“Jadi ? “ ia akhirnya bersuara.
“....”
Hening kembali. Dan pemuda itu pun berdiri kemudian memunggunginya.
“Berakhir.” satu kata yang sederhana namun memiliki arti yang sangat menyakitkan.
“.....”
Sunyi kembali, hanya hembusan angin sore yang membuat dedaunan menari bersamanya. Langit senja telah berubah menjadi orange, bayangan pemuda tinggi itu mengarah ke barat. Ia masih tak ingin menoleh kepada pemuda lain yang kini tertunduk sambil menahan segala emosi. Ia rela bila harus dipukul tepat di wajahnya. Tapi rasa sakit yang akan ia derita lebih berat dari dia dan mereka.

“Maafkan aku, aku tahu ini adalah keputusan egois, tapi aku tak punya pilihan lain. Maafkan aku” pemuda yang berdiri itu menggenggam erat jemarinya, ia tak pernah tega untuk mengatakan kata itu. Tapi tak ada pilihan lain, ia harus mengatakannya meskipun itu menyakitkan dirinya sendiri, menyakitkan lawan bicaranya sekarang serta semua orang yang telah mengenal dan mendukungnya selama ini.
Ia menunduk, rasa sakit atas perkatannya itu sangat dalam. Mimpinya harus ia sudahi sekarang.
“.....” pemuda yang lain itu masih saja menutup erat mulutnya. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak terduga.
“Aku akan keluar Ikuma, aku sudah menyerah. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Saatnya aku berfokus pada kakakku yang sekarang semakin melemah dan tak berdaya. Kau tahu itu kan?” Pemuda tinggi itu mengusap air mata yang baru saja keluar dari kedua mata abu-abunya.
Ikuma, pemuda yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk merespon.

“Maafkan aku, maafkan aku. Tolong sampaikan ucapan maafku pada semuanya. Aku tak tega jika harus mengucapkannya langsung pada Kaji, Peco, Kili dan semuanya. Aku mohon.” Ia masih tak menoleh, setetes demi setes air mata kini turun perlahan.
“Ken.....” panggil Ikuma lemah.
Ken, nama pemuda itu, ia kini terisak pelan, sangat cengeng jika dikatakan ia adalah seorang lelaki yang kini sudah berumur 23 tahun. Tapi inilah dia, tak ada manusia yang tak pernah menangis bukan, meskipun ia adalah seorang lelaki.

Ikuma pun berdiri dari duduknya, memegang bahu Ken dari belakang. “Jaga kakakmu, kau memang harus ada untuk dia sekarang. Sekarang dia yang lebih membutuhkanmu.” Ken sontak menoleh ke belakang, didapatinya Ikuma yang telah mengeluarkan air mata namun sebuah senyuman hangat mengembang di wajahnya.
“Aku yakin teman-teman 1 band kita akan mengerti dan para fans...aku rasa meskipun berat mereka akan mengerti juga. Jadi....” Ikuma masih tersenyum. “Titip salam untuk kakakmu, dan aku harap kau akan baik-baik saja.”
Ken memaksakan senyumnya, ini adalah perpisahan kesekian kali  yang harus ia alami.

Dulu ketika ia masih berumur 3 tahun, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ibu yang telah melahirkannya harus pergi untuk selamanya. Kemudian ketika ia memiliki kebahagiaan lain, tak beberapa setelahnya harus terambil juga. Kala ia berumur 12 tahun ia harus bisa hidup mandiri bersama sang kakak yang saat itu berumur 18 tahun. Kedua orang tua mereka –orang tua angkat Ken- meninggalkan mereka berdua sendirian. Kakaknya, meskipun bukan kakak kandungnya tapi ia begitu menyayangi Ken yang sejak kecil telah hidup bersama dengannya dan kedua orang tuanya. Hingga karena kejadian itu kakaknya harus berhenti sekolah dan memendam dalam-dalam keinginannya untuk kuliah.
Ken yang sejak usia belia memang telah jatuh cinta kepada musik memutuskan untuk menjadi musisi, meskipun dengan berat ia mengatakan keinginannya kepada kakaknya karena takut kakaknya yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya itu akan marah besar dan tak mengijinkannya, namun tanpa diduga sang kakak mengijinkan Ken, bahkan berpesan untuk bersungguh-sungguh agar bandnya menjadi besar. Pesan dari kakaknya itulah yang selama 5 tahun ini ia pegang, dan ia berhasil mewujudkannya. Menjadikan AND –Eccentric Agent- begitu nama bandnya, besar dan dikenal. Namun tanpa Ken sadari sang kakak yang bekerja sebagai karyawan di salah satu restoran cepat saji menderita sebuah penyakit yang telah menginjak stadium akhir.

Tepatnya 2 bulan yang lalu ia mengetahuinya, sang kakak yang tak ingin membuat Ken khawatir sengaja tak pernah memberitahunya. Sebuah pukulan yang sangat besar dalam hidup Ken yang selama ini telah berusaha ia tata kembali.
Hingga Ken mengetahuinya sendiri dan dengan itu ia memutuskan untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya itu.

“Terima kasih Ikuma, sampaikan salamku kepada semuanya.” Ken pun berjalan menjauh dari Ikuma.
“Tunggu Ken! “cegah Ikuma. Ken pun berhenti dan berbalik, Ikuma segera menghampirinya.
“Ini.” Ikuma menyodorkan sesuatu. Sebuah foto. Foto mereka berlima ketika mereka sedang befoto di sebuah photo box.
“Aku rasa kau akan membutuhkan ini, dan karena kau adalah bagian dari keluarga yang bernama AND.” Ikuma bisa melihat air mata Ken jatuh kembali.
“Sayonara Ken...” ia memegang puncak kepala Ken dan mengacak-ngacak rambutnya.

Sore itu, Ken resmi keluar dari bandnya. Hembusan angin serta langit yang telah menguning menjadi saksi betapa sakit dan berat hatinya untuk meninggalkan teman-temannya serta mimpi terbesarnya.

-----------------------

“Tadaima...” suara berat Ken memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar itu.
“Okaeri..” terdengar dari dalam dapur sebuah suara yang bisa dibilang semakin melemah menyambutnya.
Ken pun segera bergegas menuju dapur dan mendapati kakaknya yang kini tengah duduk di depan meja makan yang di depannya telah terhidang makanan sederhana.
“Nii-san, sudah kubilang kau jangan melakukan hal-hal yang berat.” Raut wajah Ken sangat khawatir, ia menghampiri kakaknya yang terlihat semakin tak berdaya.
Sang kakak hanya tersenyum simpul.
“Ini tidaklah berat Ken, bukannya aku yang selalu menyiapkan makan malam untukmu jika kau ada di rumah.”

Ken kemudian terdiam, seketika ia teringat kejadian yang ia alami tadi sore, namun sepertinya ia tak tahu harus berkata dari mana. Dirasa sangat berat jika ia harus mengatakan bahwa ia telah keluar dari AND ditengah kondisi kakaknya yang semakin memburuk.
Sang kakak hanya memandang Ken dengan tatapan sayu namun penuh perhatian.
“Ada apa Ken ? apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku ?” sang kakak yang berbeda umur 6 tahun dari Ken tentu saja bisa membaca isi kepala dari adiknya itu.
Ken semakin menunduk, ia memang selalu gagal bila menyembunyikan sesuatu, tak pernah bisa. Sang kakak seakan-akan tahu semua isi hati dan isi kepalanya.

Kursi yang tepat berada di samping tempat duduk kakaknya ia ajukan, pemuda yang lebih tinggi dari kakaknya itu pun duduk tepat di samping kakaknya. Masih terdiam, kakaknya menunggu sang adik untuk mengatakan sesuatu dari bibirnya.
10 detik, 20 detik, 30 detik, hingga-----3 menit kediaman masih menyelimuti mereka berdua yang harus hidup tanpa orang tua itu.
Ken merapatkan kedua tangannya di atas meja. Pertarungan di hatinya sedang terjadi, apakah ia akan mengatakan bahwa ia telah keluar dari AND atau tidak, apakah ini malah akan memperburuk kondisi kakaknya atau tidak.

“Hhhh..” terdengar kakaknya menghembuskan nafas pelan. Seketika Ken menoleh dengan berat.
Kini kedua mata abu-abu Ken bertemu dengan mata hazel milik kakaknya. Tatapan penuh kesakitan, ia tahu sang kakak telah menyimpan penyakitnya selama hampir 2 tahun ini dan rasa sakit yang telah ia simpan sendiri selama itu. Tatapan penuh kesepian, karena Ken yang jarang berada di rumah lantaran disibukkan oleh tour keliling Jepang bersama bandnya, dulu, dan meninggalkan kakaknya sendirian. Tatapan penuh kasih sayang yang ditunjukkan kakaknya hanya untuk dirinya, satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Serta tatapan penuh pengertian, yang sejak dulu, sejak ia masih kecil ketika sang kakak harus berkali-kali mengalah untuk sang adik hanya untuk sebuah mainan dan sebuah kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Begitu banyak arti dalam tatapan mata sang kakak, dan itu malah membuat Ken semakin merasa bersalah dan bingung. Pergulatan di hatinya semakin hebat, layaknya sebuah pertarungan yang semakin lama semakin kuat, tak ada yang mau mengalah.

“Kalau kau tidak cepat mengatakannya, maka makan malam kita akan tertunda Ken, kau akan sakit nanti.”
Selalu. Kakaknya selalu mengkhawatirkan dirinya melebihi dirinya sendiri, dan Ken benci hal itu. padahal ia tahu bahwa kondisi kakaknya yang harus lebih ia prioritaskan sendiri, namun tetap saja ia selalu memprioritaskan kondisi Ken.
“Ibuki Nii-san, bukan aku yang harus kau khawatirkan saat ini, tapi dirimu sendiri.” Ken menatap lekat sang kakak yang bernama Ibuki itu.
Namun itulah Ibuki, ia tak pernah ‘melihat’ kondisinya sendiri, yang paling utama adiknya, tentu saja.
Ibuki tersenyum simpul, senyum yang sebenarnya Ken benci. Karena dibalik senyum simpul itu tersimpan berton-ton beban yang harus ia angkat sendiri.
“Sudahlah, aku tidak apa-apa. kau jangan seperti orang tua yang cerewet kepada anak kecil.” Ck, entah harus bagaimana lagi Ken harus berbuat agar sang kakak yang sebenarnya egois akan kesehatannya sendiri itu mengerti bahwa Ken sangat mengkhawatirkannya.
Ken mendengus, kini raut wajahnya seperti anak kecil yang tak didengarkan ucapannya. Bila hal itu sudah terjadi, Ibuki hanya mencubit pipi kanan Ken, dan Ken akan semakin kesal. Namun dibalik itu Ken bisa melihat kakaknya tersenyum lepas, senyum yang tak pernah berubah sejak ia pertama kali bertatap muka dengannya.

Flashback

“Ibuki, ini adalah adikmu. Sekarang kau memiliki teman bermain di rumah.” Ibuki menatap anak lelaki yang berumur 3 tahun yang berperawakan kecil itu dari balik kaki ayahnya. Ibuki kecil yang saat itu berumur 9 tahun hanya menatap Ken kecil dengan tatapan bingung. Namun kemudian ketika sang ayah mengatakan bahwa Ibuki tak akan pernah merasa sendirian lagi, seketika sebuah senyuman yang mampu membuat hangat semua orang yang melihatnya tergambar di wajah manisnya.
“Hai...” Ibuki tersenyum riang. Ken kecil yang bersembunyi dibalik kaki sang ayah mulai berani menampakkan badannya.
Wajahnya manis, dengan iris mata abu-abu dan rambut hitam yang terlihat acak-acakan karena perjalanan panjang. Ken kecil menatap Ibuki dengan perasaan malu, bingung dan takut menjadi satu.
Namun ketika Ibuki tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman seketika perasaan itu hilang “Perkenalkan, namaku Matsuhita Ibuki, kau bisa memanggilku dengan Ibuki Nii-san mengingat kau sekarang menjadi adikku, dan aku telah menjadi kakakmu, atau cukup dengan Nii-san juga, tidak masalah. Yoroshiku.” Ucapan renyah Ibuki serta senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya membuat Ken kecil menyodorkan tangannya juga.
“Aku....aku Kenichi.....“ ia tak melanjutkan.
Ibuki memiringkan kepalanya, seketika ia menceletuk. “Matsuhita Kenichi, tentu saja, karena kau sekarang adalah keluarga kami. Iya kan Ayah.” Ibuki menoleh ke ayahnya. Ayahnya kontan kaget dengan reaksi langsung Ibuki yang begitu senang menyambut anggota baru keluarganya.

Sang ayah tersenyum bangga sekaligus terharu, ia hanya mengangguk.
Kemudian dengan cepat Ibuki menggeret tangan Ken kecil yang masih sangat polos untuk mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia harus tinggal dengan keluarga kecil itu.
“Karena menurutku Kenichi terlalu kepanjangan, maka kau akan aku panggil dengan Ken saja, bagaimana ?” Ibuki berkata dengan tetap mengajak Ken masuk kedalam rumahnya.
Ken kecil kaget, karena selama ini ia selalu dipanggil dengan Kenichi. Namun dalam hati bocah itu sangat bahagia, karena ia merasa bahwa ia telah menemukan seorang kakak yang sangat sayang kepadanya.
“Emm..” ia mengangguk dengan pasti, membuat Ibuki semakin senang.
Kemudian sampailah mereka di lantai 2, tepat di depan kamar Ibuki. Tangan kecil Ken telah Ibuki lepaskan. Ibuki berjongkok tepat di depan Ken yang tingginya tak lebih dari seperutnya.
“Nah Ken, kau harus memilih. Kau mau tidur denganku di kamar tidurku ini, apa kau mau tidur sendiri di sebelah kamarku ?”
Ken kecil menatap mata Ibuki.
“Aku mau tidul belsama Ibuki.....” ia terlihat masih berat untuk mengatakan kata ‘Nii-san’. Ibuki menunggu Ken untuk mengucapkan kata-kata yang memang ia ingin dengar.
“Iyaa ?”
“Nii-san.” Ucap Ken lirih hampir tak terdengar, namun masih mampu Ibuki tangkap. Seketika senyuman Ibuki semakin mengembang.

Dalam hati akhirnya ia mendapatkan adik yang akan selalu menemaninya. Ia tak akan pernah kesepian lagi sekarang bila harus ditinggalkan oleh ayah dan ibunya bekerja hingga berhari-hari di luar kota.
Ibuki kecil tak pernah menanyakan asal-usul Ken sebab yang terpenting ia sekarang adalah adiknya. Sedangkan Ken sendiri merasa sangat bahagia karena akhirnya ia menemukan keluarga yang utuh dan sangat sayang padanya. Memori kelam masa lalu itu seakan mengilang perlahan sejak ia masuk menjadi salah satu anggota keluarga Matsuhita.

Setiap hari Ibuki yang dulunya selalu menyembunyikan kesepian di hatinya dengan sebuah senyum yang selalu ia paksakan, mulai saat itu berubah menjadi senyuman lepas, berkat Ken.
Semua kebahagiaan Ibuki memang bersumber dari Ken, apapun yang Ibuki lakukan hanyalah untuk kebahagiaan Ken. Bagi Ken sendiri ia juga telah berjanji bahwa ia akan terus menjaga senyuman sang kakak.

Namun tak selamanya hidup ini akan bahagia. Begitulah yang Ken dan Ibuki alami. Ken yang saat itu masih berusia 12 tahun dan Ibuki yang berusia 18 tahun dan akan mengikuti tes masuk Universitas pilihannya, harus dihadapkan oleh kenyataan yang pahit.
Kedua orang tua mereka tewas karena kecelakaan pesawat, dan tentu saja sekali lagi Ken harus kehilangan orang tuanya. Bagi Ibuki itu adalah mimpi terburuk dalam kisah nyatanya. Mimpi-mimpi Ibuki yang ingin kuliah itu pun harus ia pendam dalam-dalam. Ia harus bekerja, melanjutkan hidupnya dan hidup Ken.
Tak pernah sekalipun Ibuki menampakkan raut kesedihan untuk Ken, karena ia telah berjanji akan membuat Ken selalu bahagia dan berusaha  agar Ken terus melanjutkan pendidikannya. Bagian inilah yang Ken benci dari kakaknya. Kakaknya selalu berusaha untuk terlihat kuat didepannya, padahal ia tahu kakaknya telah menanggung beban yang sangat berat.
Sebisa mungkin ia terus menepati janjinya yang terdahulu, menjaga senyuman hangat kakaknya. Karena bagi Ken itulah harta kakaknya yang paling berharga.

Namun, suatu hari Ken yang memang sangat mencintai dunia musik ingin mengutarakan kepada Ibuki bahwa ia tak ingin kuliah, ia hanya ingin menjadi musisi dan menekuninya. Saat itu umurnya 16 tahun ketika ia ingin bergabung dengan band untuk yang pertama kali. Ken tak tahu apa reaksi yang akan Ibuki tunjukkan ketika ia mengatakan keinginannya itu.
Tanpa Ken duga, Ibuki yang sangat mengerti Ken sejak kecil serta bakat yang Ken miliki dalam bidang musik mengijinkannya.
“Untuk apa aku mencegahmu Ken Chan.” Ujar Ibuki saat itu yang sontak membuat Ken kaget sekaligus senang.
“Aku bukan ayahmu, aku adalah kakakmu. Sudah seharusnya kakak mendukung adiknya, tapi dalam hal yang positif tentunya. Dan aku menemukan sisi positif dari keinginanmu ini.” Ken tak pernah melupakan perkataannya kakaknya saat itu dengan sebuah senyum ketulusan yang terlukis indah di wajah kakaknya.
“Ibuki Nii-san.....arigatou!” Ken seketika memeluk Ibuki dengan erat, dan Ibuki hanya menepuk-nepuk kepala Ken dengan lembut.
“Aku tahu apa yang kau inginkan sejak dulu. Bukan karena aku tak bisa kuliah, aku mengharuskanmu untuk kuliah, itu bukan mimpimu.” Ken melepaskan pelukannya dan memandang Ibuki.
“Jadi....aku harap kau bisa membawa bandmu terkenal dan semua orang mengenalmu, mengenal Ken Chan.” Yaa, saat itu, saat dimana Ken telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk membawa namanya dan nama bandnya terkenal.
Saat itu pula, ia selalu memakai nama Ken Chan, nama panggilan sang kakak untuknya.

Bukan jalan yang mudah menjadikan band yang Ken naungi untuk terkenal, ia 3 kali berpindah band. AND adalah band yang ia bentuk bersama Ikuma, Kili, Peco, dan Kaji. Dengan band itu pula lah ia dikenal. Ia telah menepati harapan kakaknya.

Tak semua harapan sejalan dengan keinginan manusia, ada kalanya kita harus menyerah, namun bukan berarti kita kalah. Menyerah karena ada hal lain yang lebih penting dari sekedar mimpi pribadi.
“Kakakmu menderita leukimia tahap akhir Ken.” Perkataan berat seorang lelaki setengah baya yang disebut dokter itu kontan saja membuat Ken hampir kehilangan nafasnya.

Cobaan apa lagi yang Kami-sama berikan untuknya ? bukan, bukan untuk dirinya melainkan untuk kakaknya. Iya, kakaknya. Sang kakak yang harus mengalami kesepian sejak kecil sebelum ia bertemu dengan Ken, kemudian ia harus menghadapi bahwa kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya harus pergi sebelum ia bisa melanjutkan mimpinya untuk kuliah. Dan sekarang, ia harus menghadapi bahwa ia terkena penyakit yang bernama Leukimia itu.
Bukan berarti Ibuki baru tahu, ia sudah mengetahuinya sejak hampir 2 tahun yang lalu. Namun....sekali lagi ia menyembunyikan tentang hal itu dari Ken. Ia tak ingin membuat Ken menghentikan mimpinya menjadi seorang musisi hanya karena penyakit yang ia derita.
Ken yang saat itu berada di rumah sakit bersama sang kakak yang telah tergolek di atas tempat tidur hanya bisa menangis dalam diam.

Pukulan telak untuknya, ia hanya meninju tembok sampingnya.
“Sial !!” ia meruntuki dirinya sendiri.
“Apa lagi yang kau coba kau tutupi dariku Nii-san !?” ia masih menangis walau pelan. Ia selalu benci hal seperti ini, kakaknya telah menutupi kondisinya selama ini.
Ken tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia tak harus menjadi musisi maka ia akan bisa menjaga sang kakak hingga hal ini mungkin tak akan terjadi.
“Kuso !!!” sekali lagi ia meninju tembok di lorong tempat kakaknya di rawat. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Otaknya seakan tak mau bekerja, ia hanya bisa meremas rambutnya.
Malam itu, ia hanya berteman dalam kebingungan .

'Kau harus berpikir Ken, sudah cukup kakakmu mengalami berbagai macam hal-hal buruk. Kau harus berkorban, bukannya kau telah berjanji pada dirimu sendiri untuk selalu menjaganya dan membahagiakannya ? sekarang mungkin menjadi kesempatan terakhir yang kau miliki untuk bisa membalas semua yang telah kakakmu berikan kepadamu.'

Ken berdiri, segera ia menghampiri kakaknya yang kini sedang tertidur di dalam kamar yang serba putih itu. Langkah kakinya kini terasa semakin berat seakan ada sebuah batu yang sangat besar yang sedang ia panggul.
“Nii-san..” gumamnya lirih begitu ia telah sampai di samping kakaknya.
Ditatapnya wajah yang kini memucat itu. Damai, begitulah reaksi Ken melihat kakaknya tertidur sekarang. Jadi, seperti ini wajah kakaknya ketika tidur. Hampir 5 tahun ini, Ken tidak pernah melihat kakaknya tertidur. Karena ketika ia pulang, yang ia tahu kakaknya selalu menyambutnya meskipun itu sudah sangat larut bahkan bisa dikatakan pagi. Begitu tahu Ken telah tidur, barulah sang kakak menyusul ke dalam alam mimpi, dan ketika Ken membuka mata dari istirahatnya ia sudah melihat sarapan terhidang di meja makan dan tekah menemukan kakaknya telah bersiap-siap untuk bekerja.
Mengingat hal-hal itu hanya membuat Ken semakin bersalah kepada kakaknya. Kedua matanya telah mengatup rapat, dan terlihat bulir bening telah mengambang begitu ia membuka mata.
Tess.....ini adalah air mata kesekian yang Ken keluarkan malam ini. Punggung Ken gemetar, ia menggengam erat tangannya sendiri.
“Kini aku yang akan menjaga satu-satunya keluargaku. Aku berjanji padamu Nii-san.” Kedua tangan Ken kini menggenggam tangan kanan Ibuki dengan lembut.

End of flashback

Ibuki masih menatap intens mata Ken, ia tahu bahkan sangat tahu bahwa ada sesuatu yang tersimpan di balik mata ragu Ken.
Ken yang tak tahan akhirnya bersuara.
“Ano....”
“Emmm, iyaa ??” Ibuki menunggu adiknya bercerita.
Kau harus mengatakannya Ken, harus ! apapun yang terjadi kau harus tetap mengatkannya !”
“Ibuki Nii-san, aku-----aku telah memutuskan untuk keluar dari AND.” Hampir tak terdengar bagian dari perkataan Ken tersebut, dan jelas saja Ibuki sangat kaget. Namun bukan Ibuki namanya jika ia tak bisa bersikap tenang.
Ibuki menghembusakan nafas pelan, Ken tertuduk, tak berani menatap kedua manik hazel kakaknya.

'Aku tahu pasti Ibuki Nii-san kecewa terhadapku, Ken bodoh apa yang baru saja kau lakukan !'
Pergulatan hati Ken kembali terjadi, di satu sisi tadi ia harus mengatakan apa yang seharusnya terjadi dan di satu sisi ketika ia sudah mengatakannya kepada Ibuki, ia meruntuki dirinya sendiri.
Ketika Ken masih saja menunduk lesu, dan disangkanya tangan lembut kakaknya mengelus-ngelus puncak kepala Ken. Ken yang setengah kaget itu kemudian mengangkat wajahnya dan seketika itu juga manik coklat dan abu-abu bertemu. Tapi tak pernah ia sangka, sang kakak yang tak pernah ia lihat menangis –terakhir Ken melihat Ibuki menangis ketika ia mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal hampir 12 tahun yang lalu- itu meneteskan air mata, namun masih dengan senyum hangatnya, bukan, itu senyum kekecewaan. Iya, ken tahu bahwa sang kakak kini telah kecewa, Ken yakin akan hal itu.
“Ken.....kau tahu kenapa aku tak pernah bercerita tentang penyakit ini kepadamu ?” Ibuki menatap lembut adiknya yang kini hanya terdiam kaku.
“Karena...karena ini yang tak pernah aku inginkan.”
“Kau adalah harta terbesarku Ken, kau adalah harapanku.” Ibuki mengambil jeda, dada Ken semakin sesak.
'Kami-sama, rencana apa yang telah kau susun untuk kakakku ini ? kenapa bukan aku ?!' kesal Ken dalam hati.
“Sejak awal aku bertemu denganmu, aku telah berjanji akan menjagamu. Dan ketika ayah dan ibu meninggal pun keyakinanku untuk menjaga dan membuatmu bahagia ini semakin kuat. Aku ingin kau tetap menjaga mimpimu Ken chan, sampai kapanpun. Dan sekarang....aku merasa gagal.” Tetes demi tetes asin itu pun keluar begitu saja. Ibuki tak tahu kenapa, namun yang ia rasakan sekarang ia telah gagal menjadi seorang kakak yang ingin menjaga dan membahagiakan adiknya.
Ken memeluk Ibuki perlahan. Kini sekaranglah waktunya ia yang menjaga kakaknya.
“Nii-san, untuk apa aku bahagia jika aku melihatmu seperti ini, aku tak membutuhkan mimpiku itu Ibuki Nii-san, yang aku butuhkan hanya ingin melihatmu tersenyum dan sembuh, jadi ijinkan aku yang menjagamu sekarang.”

Malam itu sepertinya Ken dan Ibuki bertukar posisi. Ken yang akan menjaga kakaknya. Sang kakak meskipun dengan berat hati pun mencoba mengerti, karena sekarang kebahagian Ken adalah Ibuki.

----------------

2 bulan kemudian

“Dokter, tolong selamatkan kakakku.” Suara Ken parau, menahan air mata yang sudah ingin jatuh.
“Hanya keajaiban Ken yang bisa menyelamatkan kakakmu sekarang.” Ucap dokter dengan nada lemah seakan tak ingin mengatakan hal itu kepada Ken.
Ken tak menjawab, ia menggigit bibir atasnya. Diangkatnya wajahnya agar air mata itu tidak mengalir melalui pipinya yang putih.
“Maafkan aku Ken, tak ada yang bisa kuperbuat banyak sekarang.” Ia menghembuskan nafas dengan pelan, menepuk bahu Ken yang kini bersandar di tembok luar kamar kakaknya di rawat dan berjalan menjauh, meninggalkan Ken yang sendirian.

Dan bening asin itu jatuh. Dengan sengaja dibenturkannya kepala belakangnya ke tembok kokoh itu. Bulir-bulir itu mengalir dengan deras tanpa bisa ia tahan. Segala perasaan tercurah melaluinya. Jika saja ia bisa menggantikan peran kakaknya.
Keadaan Ibuki memang berangsur membaik sejak Ken memutuskan untuk selalu berada di sisinya. Ken adalah alasan Ibuki hidup, bertarung melawan penyakitnya. Namun apa daya, jika tangan Tuhan sudah menggariskan semuanya, manusia tak ada yang bisa merubahnya.

ICU

Ditatapnya sosok yang terbaring, ringkih. Kedua mata hazel itu terpejam. Pucat, itu yang Ken dapat ketika ia mendekati sosok yang semakin melemah itu. Di tangan Ken terdapat 4 tangka bunga lycoris merah, bunga favorit kakaknya dan dirinya. Bunga dengan penuh kenangan bagi mereka berdua. Karena dulu kedua orang tua mereka selalu mengajak Ken dan Ibuki ke taman yang dipenuhi bunga lycoris merah yang berbunga. Bahkan ketika kedua orang tua mereka meninggal pun Ken dan Ibuki masih sering ke tempat itu, memetik beberapa bunga lycoris dan di pajangnya di ruang tamu.

Dengan pelan ia memasukkan bunga itu ke dalam vas bungan kaca yang terdapat di atas meja di sebelah sang kakak terbaring. Di pandangnya dengan sendu bunga itu. Selama beberapa detik Ken terdiam. Kemudian iris abu-abunya ia alihkan ke samping, tepat ke sosok lemah sang kakak.
Ken duduk tepat di sebelah Ibuki. Di genggamnya tangan kanan yang sangat lemah itu. Hanya memandang raut yang pucat, tanpa mengeluarkan kata-kata. Ia tahu hidup Ibuki tak akan lama lagi. Namun ia tetap tak menginginkannya, dalam hatinya ia yakin akan terjadi sebuah keajaiban yang akan memberikan Ibuki umur panjang.

Sore itu, awan hitam mulai menyelimuti Tokyo. Angin yang berhembus dengan dingin mengibarkan tirai putih di ruangan itu. Ken baru saja akan berdiri untuk menutup jendela, namun ia merasakan tangan sang kakak bergerak, menggenggam dengan lemah jemari Ken. Dengan kaget Ken duduk kembali, memandang Ibuki yang kedua matanya mulai terbuka.
Senyuman itu, dalam keadaan apapun senyuman itu tak pernah luntur.
“Ken----chan...” ucap lirih Ibuki yang langsung di respon Ken dengan anggukan, “Iya Nii-san, aku disini.”
“Aku...selalu merasa kau...kau adalah adik kandungku Ken.” Iris hazel itu menatap ke langit-langit kamar.
“Sejak pertama melihatmu ketika Ayah membawamu hari itu, entah kenapa aku merasa hangat.” Ibuki tersenyum getir mengingat hari pertama ketika ia melihat si kecil Ken yang pemalu.
Ken tak bersuara, ia menunduk digenggangamnya dengan erat jemari kakaknya. Embun telah berhasil menguasai kedua matanya. ‘Kumohon jangan menangis Ken’ kuatnya dalam hati.
“Dan...sejak saat itu aku berjanji untuk selalu berada di dekatmu, karena...aku tak menginginkan perasaan hangat yang tak pernah aku rasakan itu hilang Ken.” Ibuki menelan ludahnya dengan berat.
“Tapi, aku rasa Tuhan tak menginginkanku untuk lebih lama merasakan kehangatan itu.”

Tes

Air mata telah berhasil jatuh. Emosi itu meluap kembali. Ingin diusapnya air mata itu dengan punggung tangannya. Tapi sang kakak dengan cepat menahan tangan Ken. Ia mendongak, memandang Ibuki yang tengah tersenyum kepadanya.
“Maafkan aku Ken, maafkan kakakmu ini yang tak bisa memberimu kebahagiaan, maafkan---“
“Chigau !” Ken dengan cepat memotong perkataannya Ibuki. Di remasnya sprei putih itu, punggung Ken bergetar.
“Nii-san tak perlu meminta maaf. Aku...aku sudah sangat bahagia bisa hidup bersamamu dan berada di sampingmu. Meskipun....” Ken menggantung kata-katanya.
Mendung semakin berarak-arak, langit hitam yang berkuasa. Menutupi semburat jingga yang menggantung.
Terdiam selama beberapa saat, mereka berdua membiarkan kesunyian yang berkuasa.
“Jika....aku adalah alasan Nii-san untuk hidup, mengapa kau akan pergi ?! Lalu apa peranku selama ini gagal ? Apakah memang dari kecil aku harus hidup sendirian ? atau apakah aku memang tak pernah diinginkan ?!” Tanpa bisa menahan kembali, semuanya tertumpah bersama perasaannya selama ini.
Ia bukan marah kepada apa yang telah terjadi. Namun ia marah terhadap dirinya sendiri. Semua yang ada di sampingnya satu persatu menghilang. Meninggalkan ia sendirian.

Ibuki terdiam, dengan halus ia menepuk kepala Ken, seperti biasanya. Ditatapnya iris abu-abu yang memerah karena air mata.
“Tak ada yang tak diinginkan Ken. Takdir yang kelam, penyakit, kesendirian, dan kau. Semuanya mempunyai arti. Kalau kau tak diinginkan, lalu apa yang akan terjadi kepadaku bila kau tak pernah ada ?” Sinar mata yang semakin meredup itu membawa Ken terdiam.
“Kau telah membuatku hidup selama ini. Kau yang membuatku menyadari betapa aku sangat beruntung bisa hidup.”
“Nii-san...” ia memeluk Ibuki yang terbaring itu. dengan penuh rasa sayang, Ibuki menepuk lembut kepala Ken. Sejak dulu Ken sangat menyukai bila sang kakak melakukan hal itu, membuatnya menjadi tenang.
Tapi sekarang berbeda, mungkin itu adalah tepukan terakhir yang akan dilakukan kakaknya.

Ken menangis tertahan. Ia ingin selama mungkin memeluk tubuh lemah kakaknya, merasakan semua kehangatan yang telah menemaninya selama hampir 21 tahun bersama. Seandainya waktu bisa diputar, ia ingin kembali ke masa kanak-kanaknya dan tak pernah ingin menjadi dewasa.
“Kau telah dewasa sekarang Ken, kau telah menjadi kuat sekarang.”
Ibuki semakin melemah, ia tahu sebentar lagi Dewa Kematian akan menjemputnya. Di liriknya bunga lycoris yang diam dengan tenang di sampingnya. Segala memori yang telah tersimpan rapi di otaknya seakan muncul. Kedua orang tuanya, masa kecilnya, taman bunga lycoris, dan Ken. Ia tersenyum. Di elusnya dengan lembut punggung Ken.

“Aku pamit Ken...arigatou, sa..yo..nara...”

----------------

'Ibuki Nii-san, aku sangat dan sangat beruntung Tuhan mempertemukan kita berdua. Aku bahagia menjadi adikmu selama ini. Dan aku juga bahagia karena kau yang telah mengajariku semuanya. Seperti perkataanmu yang terakhir, tak ada yang tak diinginkan. Dan sekarang aku menyadari  kenapa aku ada. Aku ada karena ada kau Nii-san. Sepertinya Tuhan memang menciptakanku untuk bisa membuatmu menikmati hidup. Tapi maaf, selama ini aku belum bisa sepenuhnya membahagiakanmu. Tapi mulai sekarang aku berjanji aku yang akan membuat hidupku ini bahagia, demi kau. Dan aku yakin kau akan lebih bahagia di sana, karena bisa bertemu dengan ayah dan ibu. Eh ya tolong titip salam untuk ibuku, aku ingin kau menceritakan semua yang pernah kita lewati bersama kepada ibuku. Satu lagi, pasti para bidadari di sana terpesona karena senyummu, aku yakin itu dan sekarang aku sedang membayangkannya. Nii-san, tunggu aku sampai aku bisa menyusulmu disana. Sampai jumpa Nii-san, doaku selalu menyertaimu.'

Ia membuka kedua matanya, kedua tangannya masih saling merapat. Ia tersenyum, menatap nisan di depannya yang bertuliskan Matsuhita Ibuki.
Kini, salah satu tangannya mengambil beberapa tangkai bunga lycoris merah disampingnya. Menaruhnya di depan makam sang kakak. Itu bukan bunga lycoris yang terakhir untuk Ibuki, ia berjanji. Karena akan ada bunga-bunga lycoris lainnya yang akan ia bawakan untuk sang kakak. Kemudian ia berdiri. Angin lembut menarikan rambut coklat tuanya. Di lihatnya semburat jingga di ufuk barat.

'Lycoris, aku menyukainya Ken. Kau tahu kenapa ? karena Lycoris adalah bunga yang Ibu kenalkan pertama kepadaku, dan Lycoris adalah senja. Dan sudah kau ketahui bahwa warna langit senja selalu berhasil mencuri perhatianku, langit yang memberikan kedamaian bila kau memandangnya. Dan berkat tangan hebat Tuhan senja tak pernah sama Ken, ia selalu berbeda.'

“Iya Nii-san kau benar. Senja tak pernah sama.”

----OWARI----

Ps : Lycoris dalam bahasa Yunani berarti ‘senja’


About