Jumat, 18 Oktober 2013

[FANFIC] PAPER CRANES (BORN)



Title                 : PAPER CRANES
Author             : Lycoris
Fandom           : BORN
Cast                 : Ray, K, Tomo
Genre              : AU, Romance, Angst, Shounen-Ai
Rate                 : PG-13
Warning !        : OOC, typo(s), feel gak dapet 



“Aku memang bodoh, hanya menanti sebuah bayang-bayang semu”

Tahun pertama, 14 tahun
Aku masih duduk dengan kaki yang terlipat. Terkadang untuk mengusir kebosanan ku lempar beberapa batu kecil ke sungai itu, meninggalkan beberapa riak dan kemudian bunyi plung. Kuulangi terus menerus sampai aku bisa menemukan seseorang yang ku tunggu muncul di depannku. 
Namun ketika senja sudah datang tak kunjung ku temukan sosoknya. Apakah dia lupa, pikirku dengan masih berfikiran jernih. Karena tak mungkin dia melupakan janji ini begitu saja. Mengingat 2 tahun yang lalu kami membuatnya dan berjanji akan kembali lagi, disini, di tanggal ini, dan tahun ini.

Tapi..

Sepertinya dia melupakan begitu saja. Sebenarnya aku ingin memarahinya, itu jika ia benar-benar datang sekarang.Tapi nyatanya ia tak datang. Lalu aku mengambil sesuatu dari dalam tas punggung yang dari tadi pagi ku geletakkan begitu saja di sampingku. Sebuah kertas persegi berukuran 15cm x 15cm berwarna kuning. Segera ku tulis sesuatu di sana, setelah ku rasa cukup aku segera melipat kertas persegi itu menjadi sebuah bentuk yang sangat kami berdua sukai. Burung bangau.
Ku letakkan origami bangau kuning itu tepat di bawah pohon momiji yang kini berdaun orange itu. Ku lihat untuk yang terakhir kali sebelum aku pulang ke rumah.

“Hhh...” aku mendesah pelan.

“Kau benar-benar tak datang ya, padahal ini pertemuan pertama kita.”

Kemudian dengan langkah berat aku meninggalkan tempat itu, meninggalkan origami bangau kuning kecil itu sendirian.

Tahun kedua, 15 tahun
Aku terduduk kembali bersenderkan pohon momiji. Memandang ke arah sungai yang luas itu. Untuk membuang waktu ku kerjakan PR yang harus di kumpulkan lusa.

“Ah, aku memang bodoh dalam pelajaran matematika.” Dengusku kelas melihat berderet-deret angka yang membuat pusing otakku.
“Anak itu pasti dengan cepat menyelesaikan ini.” Aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Kembali aku membayangkan saat-saat dulu, ketika aku dan dia berada di satu sekolah dasar yang sama. Setiap hari selalu datang berdua dan pulang berdua pula. Rumah kami pun memang berdekatan. Jadi tak heran bila kami selalu kemana-mana berdua.

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Meskipun harus menguras otak akhirnya PR ku selesai. Meskipun aku tak yakin akan bisa meraih nilai 60.

Ku pandangi langit biru dengan awan yang berarak-arak. Angin sejuk berhembus dengan pelan, membuatku terkantuk-kantuk.

“Hoam..” aku menguap, memang di musim ini membuatku gampang sekali mengantuk. Apalagi aku yang dalam keadaan sedang berada di luar rumah dari pagi hingga sekarang.

‘Kau.....akan datang kan ?’

Ku rebahkan punggung ke rerumputan sekitar pohon momiji, mata coklatku masih memandang langit luas. Semakin lama mataku ini semakin berat, hingga aku pun terlelap.

Ketika ku terbangun, langit yang tadi kuingat masih biru telah berunah warna menjadi orange. Kuusap mataku beberapa kali, memandang sekeliling.

Dia.....tidak datang juga di tahun ini. Aku hanya bisa tersenyum.
Kembali, ku ambil kertas persegi dari dalam tasku. Kali ini berwarna biru cerah. Seperti tahun yang lalu aku menuliskan sesuatu disana, melipatnya menjadi origami bangau dan meninggalkannya di tempat biasanya.

Jaa na....”

Tahun ketiga, 16 tahun
Hampir saja aku ketinggalan kereta pagi ini karena semalam aku tidur telat. Tugas sebagai siswa baru memang sangat merepotkan. Apalagi hari ini aku (sengaja) bolos. Dengan mata yang masih berat aku turun dari kereta.
Ah, udara ini, suasana ini aku sangat merindukannya. Tak terasa tepat satu tahun yang lalu aku terakhir kesini. Dan sekarang aku kesini lagi, menunggunya di tempat itu.
Kubawa kedua kakiku melangkah ke tempat itu. Tempat dimana pohon momiji perkasa itu berada, di tepi sebuah sungai besar yang tak terlalu dalam –aku tahu karena dulu aku sangat sering bermain di sungai itu. Sekarang, aku yang sudah memasuki tahun pertama sekolah tingkat atas tak mungkin lagi bermain-main disana, padahal aku sangat merindukannya.

Tak memerlukan waktu yang lama, hanya memerlukan sekitar 15 menit sampai akhirnya aku sampai kembali di tempat itu.

Ohisashiburi....” aku berkata lirih dan tersenyum. Berjalan menuju pohon momiji yang kini daunnya berwarna orange keemasan.


Lagi. Aku hanya duduk-duduk dan melemparkan kerikil-kerikil ke arah sungai. Menikmati beberapa lembar daun pohon momiji yang jatuh karena tertiup angin.

Aku sudah duduk disini lebih dari 3 jam. Aku terlalu menikmati kesendirian yang telah kau ciptakan ini. Mendengarkan alunan musik yang alam ciptakan. Aaah, coba saja dia ada di sampingku sekarang.
Aku tertegun. Apa...yang barusan aku katakan.


14.26. itu yang jamku perlihatkan. Sepertinya ia tak datang lagi. Dan aku hanya bisa tersenyum. Kubaca kembali komik yang sedari tadi menemanimu mengusir kejenuhan hingga tak terasa aku sudah membaca 6 komik dan 1 novel berukuran sedang.

17.28
“Kau tak datang lagi ya.”

Ku tinggalkan origami bangau berwarna merah itu di tempat biasanya.

Tahun keempat, 17 tahun
Tahun keduaku di SMA. Dan tahun keempatku mengunjungi tempat ini. Masih pohon yang sama dan sungai yang sama. Bahkan ukiran inisial nama itu pun masih ada.
Ku letakkan tas sembarangan, ku keluarkan selembar foto yang selalu diam di samping tempat tidurku. Namun entah kenapa hari ini aku ingin membawanya. Dia yang selalu tersenyum dengan segala kediamannya, dan aku yang tersenyum dengan segala keceriannku. Kita memang dua orang anak yang berbeda yang di pertemukan oleh takdir.

Aku masih menunggunya. Masih berharap ia akan muncul dan menepati janji kita. Tapi, sepertinya dia tak datang lagi. Aku hanya bisa tersenyum.

Matahari mulai tenggelam, beristirahat setelah menjalankan tugasnya. ‘Pekerjaan’ rutinku tiap tahun sebelum aku pulang pun telah aku kerjakan. Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau tua itu di bawah pohon momiji.

Aku tak pernah lelah menunggumu, aku pun tak tahu alasannya.’

Tahun kelima, 18 tahun
Aku kesini lagi, ke tempat dengan pohon momiji yang sedang berdaun orange. Di musim gugur seperti ini sungai di depanku serasa kristal, membiaskan sinar matahari. Aku masih berandai-andai apakah ia akan datang atau tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Tentang masa sekolahku yang sudah berakhir. Dan aku juga ingin mendengar ceritanya tentang masa-masa sekolahnya. Tapi sepertinya bukan itu saja, aku ingin mendengar semua ceritanya ketika aku dan dia tak bersama. Aku sangat ingin.

Tapi.....

Seperti biasa aku hanya duduk bersender pohon momiji dan kini sambil memandangi foto-foto teman SMAku. Jika saja kau satu sekolah denganku.


Kembali ku letakkan origami burung bangau berwarna biru tua itu di tempat biasanya.

Tahun keenam, 19 tahun
Menjadi mahasiswa tak semudah yang ku bayangkan. Tugas disana sini hingga aku hampir saja lupa dengan hari ini. Gomennasai. Tapi aku telah disini sekarang, seperti enam tahun yang lalu.
Sepertinya sekarang aku lebih rajin dari dulu. Kubuka kembali buku tugas yang harus aku selesaikan. Di bawah kanopi pohon momiji dengan khusyuk aku mengerjakan tugasku.

“Heii...tunggu aku !.”

Ku dongakkan kepalaku. Ah aku melihat dua orang anak kecil sedang berlarian berdua. Itu mengingatkanku pada kita. Aku hanya bisa tersenyum.


Matahari telah beranjak turun, dan awan telah berubah menjadi orange. Senja telah datang. Ternyata di tahun keenam ini kau tak datang lagi.

 Sudah selesai, origami bangau berwarna merah muda kini telah diam di bawah pohon momiji.

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Iya bu, nanti akan ku bawakan. Tapi seperti biasa aku akan pulang telat.”

Jaa na..”
Klik

Kutaruh kembali keitaiku ke saku jaketku. Tak biasanya ibu menelfonku ketika aku sedang disini. Sekarang ia menjadi terbiasa, di tanggal ini aku pasti berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.
Aku kembali lagi kesini, di tahun ketujuh di umurku yang sudah menginjak kepala 2. Tak terasa sudah selama ini mengenalnya. Kenangan yang tersimpan dalam dan terbungkus dengan manis. Aku tersenyum mengingatnya.
Kureggangkan badanku, ku lemparkan beberapa kerikil ke sungai yang membentang di depanku. Suasana ini tak pernah berubah, masih sama ketika pertama kali aku kesini.

Kulihat jam yang melingkar di tangan kananku. “Saatnya untuk pulang, kau tak kesini lagi.” Ucapku dengan nada datar. Kuambil kertas persegi berwarna putih dari dalam tasku. Segera ku tulis sesuatu disana.

Origami burung bangau putih itu diam di bawah pohon momiji.

Tahun kedelapan, 21 tahun
Kutulis sesuatu di tepian sungai itu. Ranting kayu yang ku temukan beberapa menit yang lalu rupanya telah menarik perhatianku. Untuk membunuh waktu, ku putuskan untuk mengambilnya dan ku putuskan untuk menulis sesuatu.

Ruisai no hana

Aku kembali lagi ke tempat ini. Tapi sepertinya sekarang aku merasakan apa itu ‘sakit’. Ternyata begitu menyesakkan menunggu seseorang yang kau tak tahu apakah ia akan datang atau tidak. Dan yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu, menunggu, dan menunggu.

Burung dari kertas berwarna orange duduk sendirian di atas batu di bawah pohon momiji.

Tahun kesembilan, 22 tahun
Ternyata aku masih saja setia datang kesini setiap tahun. Mungkin sekarang sudah menjadi ‘tradisi’ setiap tahun. Bangun pagi-pagi sekali, ke stasiun, naik kereta paling pagi, lalu berhenti di tempat ini.

Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut coklat tuaku. Ku rapatkan jaket biru tua yang selalu setia menemaniku selama di musim gugur ini. Angin musim gugur mulai mendingin memang. Kulihat beberapa daun momiji berjatuhan dan ada beberapa yang tertiup angin pergi entah kemana. Jika saja aku bisa seperti mereka.

Masih bisa ku lihat guratan hasil ‘pekerjaan’ kami berdua waktu itu.

RK

Guratan itu akan terus ada selama pohon momiji perkasa ini berdiri dengan gagah di sini. 

‘Sepertinya waktu yang memang tak pernah memihakku.’

Kali ini origami burung bangau berwarna coklat muda yang ku buat. Tak pernah lupa aku selalu menuliskan sesuatu di dalamnya.

“Sampai jumpa tahun depan.” Kataku lirih dan berjalan menjauh.

Tahun kesepuluh, 23 tahun
Aku sengaja ijin dari tempat kerjaku. Beberapa bulan yang lalu aku lulus kuliah dan sekitar 2 minggu yang lalu aku mulai bekerja di sebuah perusahaan game. Kakiku menginjak tanah ini lagi. Musim gugur kesepuluh yang ku habiskan di tempat ini.

Badanku ku tidurkan di rerumputan di bawah pohon momiji. Rasanya nikmat sekali, memandang langit luas. Hanya saja masih ada yang kurang.

‘Ne Ray, ingatlah ini adalah tempat kita. Dan 2 tahun dari sekarang kita akan bertemu lagi disini. Jangan lupa.’

Aku tersenyum getir mengingat perkataannya yang terakhir sebelum kami berdua berpisah.
“Aku tak pernah lupa, tapi kau yang lupa.” Aku bangun terduduk. Kemudian tanganku merogoh sesuatu dari dalam tas. Sebuah kertas persegi berwarna ungu.

Segera tanganku bergerak menulis sesuatu, “Aku mulai terbiasa menunggu sosokmu yang aku tak tahu akan muncul atau tidak.”

Aku berjalan menjauhi origami burung bangau ungu yang kini bersenderkan pohon momiji.

Tahun kesebelas, 24 tahun
Masih di tanggal yang sama seperti sebelas tahun yang lalu. Aku berdiri bersenderkan pohon momiji sambil melihat ke hamparan sungai yang mengalir dengan tenang. Bisa ku lihat beberapa ikan berenang bebas dan beberapa lagi bersembunyi di bebatuan hitam.
Ku rasakan hembusan angin musim gugur yang menerpa wajahku. Aku selalu menikmati kesendirian ini. Mungkin sekarang aku sudah terbiasa bertemankan kesepian dan beberapa kesunyian.

“Kau tak sadar telah mengajariku apa arti kesepian..” aku berkata lirih sambil melihat sebuah perahu kertas yang sedari tadi aku pegang.
“Aku tak pernah meminta lebih kepadamu, aku hanya ingin melihat wajahmu yang sekarang. Itu saja.”

Kemudian aku berjalan ke tepian sungai dan berjongkok. Ku taruh perahu kertas itu di atas air sungai dan melihatnya hanyut terbawa arus yang pelan.

“Jika kau tahu kalau aku masih menunggumu di sini.” Ku tinggalkan bangau berwarna emas itu di tempat biasanya dan kedua kakiku sudah ku perintah untuk berjalan menjauhi tempat itu.

Tahun kedua belas, 25 tahun
Tahun ini aku sengaja datang sangat pagi. Pukul 06.16 aku telah sampai disini. Ternyata anginnya lebih segar jam segini. Entah kenapa aku sangat tak berniat memakai jaket hari ini. Aku hanya memakai kaos panjang berwarna hitam dan celana jeans biru serta sebuah boots coklat yang baru aku beli seminggu yang lalu dari hasil kerjaku.
Aku jadi ingat kau dari dulu kau sangat menginginkan sepatu boots berwarna coklat. Jadi, apakah kau sudah mengabulkan keinginanmu itu ? Aku tertsenyum sendiri jadinya. Banyak hal yang sekarang tak ku ketahui tentangmu.

Ku renggangkan kedua tanganku sejauh-jauhnya, merasakan angin pagi yang menyejukkan. Ku tutup kedua mataku dan aku tak tahu kenapa aku tersenyum.  

Ku pasang headset berwarna putih di telingaku. Sambil duduk bersenderkan pohon momiji dan melihat ke arah sungai aku sesekali menyanyikan sebuah lagu lama. Rasanya damai sekali. Tapi tetap perasaan ini tak pernah damai. Selalu ada yang kurang. Dan kekurangan ini yang sedang aku cari-cari selama 12 tahun aku menunggunya disini.

Doshaburi demo kamawanai to
Subunure demo kamawanai to
Shibuki ageru kimi ga kieteku
Rojiura de wa asa ga hayai kara
Ima no uchi ni kimi wo tsukamae
Ikanai de   ikanai de
Sou iu yo

Dan lagu itu pun masih terus aku ulang-ulang. Rasanya...menyakitkan.

Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau muda itu sendirian.

Tahun ketiga belas, 26 tahun
Sesaat aku berpikir jika kau dan aku memang tak pernah di takdirkan untuk saling bertemu. Lalu apa arti dari pertemanan kita selama ini ? Apa arti dari janji yang kita sematkan dengan jari kelingking itu ?
Apakah reinkarnasi itu benar-benar ada ? Dan kalau memang kita tak pernah di takdirkan untuk bertemu di kehidupan ini apakah di kehidupan yang lalu atau di kehidupan yang akan datang kita selalu bersama ?

Ku tatap akar pohon momiji itu.
“Kau kuat ya menopang pohon besar ini selama berpuluh-puluh tahun. Dan kau kuat terhadap musim yang silih berganti.”
“.....”
“Apakah aku juga sekuat dirimu ?”

Aku tak pernah lelah menunggunya dan membuat origami burung bangau ini. Kali ini ku tinggalkan burung bangau berwarna ungu muda.

Tahun keempat belas, 27 tahun
Aku lelah.



Daun orange momiji jatuh dan menutupi origami burung bangau biru tua yang duduk bersenderkan akar pohon.

Tahun kelima belas, 28 tahun
Lagi. Aku kesini lagi. Bukankah tepat setahun yang lalu aku sudah memutuskan untuk tidak kesini lagi ? Perasaan ini terlalu sakit. Hanya menunggu seseorang yang 17 tahun yang lalu memberikan janji akan datang setiap tahun kesini. Tapi apa yang aku dapat ? Aku sama sekali tak pernah mendapati sosoknya berdiri di tepi sungai ini dan tersenyum ke arahku. Hanya pohon momiji dan sungai yang mengalir tepat di depanku berdiri sekarang.

Aku ingin menangis tapi aku tak tahu kenapa aku tak pernah bisa. Yang ku lakukan malah sebaliknya. Aku selalu tersenyum ketika tahu bahwa penantianku selalu sia-sia. Aku hanya tersenyum ketika aku menaruh sebuah pesan yang aku sampai sekarang tak tahu siapa yang membacanya. Aku hanya tersenyum ketika mengingat masa kecil kami dan mengingat janji yang kami buat.

Kekuatan untuk menangis itu tak pernah ada, bahkan hanya untuk meneteskan air mata pun tak pernah ada.
“Ternyata aku sudah sangat bahagia hanya dengan menunggu bayang-bayang semumu. Dan aku tak tahu seberapa kuatnya aku untuk terus menunggumu.”

Kutempatkan origami burung bangau berwarna coklat tua itu di tempat biasanya.

Tahun keenam belas, 29 tahun
“Kau tak akan pernah datang kan ?gumamku lirih sambil meraba guratan inisial nama yang terpatri di pohon momiji.

“Jadi...yang ku lakukan selama ini adalah hal yang bodoh.” Entah datangnya dari mana perasaan sesak ini yang seakan meremat hatiku.  

Tes

Air mata ? kuusap dengan punggung tanganku air mata itu. Ini adalah air mata pertama yang menetes sejak 16 tahun aku menunggunya disini. Aku tersenyum getir tapi sekaligus aku merasa lega. Akhirnya selama 19 tahun ini aku bisa menangisinya.
.
.
.
Ini adalah origami terakhirku. Burung bangau berwarna abu-abu.
“K.....selamat tinggal.” Aku melangkah pergi meskipun dengan berat hati.

Dari awal sebenarnya aku telah merasa kalau ini akan sia-sia. Penantian tanpa ujung yang hanya akan menggoreskan luka lebih dalam. Tapi meskipun begitu aku tetap saja pergi ke tempat ini setiap tahun. Duduk di bawah pohon momiji, melemparkan beberapa kerikil ke sungai, merebahkan punggung di rerumputan, menulis sesuatu di kertas persegi warna-warni, melipatnya menjadi origami burung bangau dan meninggalkannya begitu saja.

Kegiatan yang kuulang-ulang. Tak ada warna lain, hanya monoton. Tapi entah mengapa setiap aku kesini perasaan ini menjadi hangat dan terasa manis. Sesuatu yang sebenarnya menyakitkan tapi aku begitu menikmatinya.

Jadi ini yang di namakan ‘cinta’.





08.13
Aku telah sampai di stasiun. Harus berjalan lagi sekitar 15 menit baru aku sampai ke tempat itu. Aku tak mengerti kenapa aku kesini lagi. Padahal baru semalam aku sampai rumah dan mengistirahatkan badan serta pikiranku.

Tapi pagi-pagi sekali aku telah berpamitan kepada orang rumah dan sekarang aku telah turun dari kereta.
Aku...disini lagi.


Hampir sampai. Bisa ku lihat sekitar 30 m dari tempatku sekarang dedaunan pohon momiji yang masih sama seperti kemarin. Aku semakin mendekat. Hingga—ku lihat sebuah sosok yang kini membelakangiku, berjongkok mengambil origami bangau abu-abuku.
Apakah itu K ?
Aku tak yakin tapi aku tak tahu kenapa detak jantung ini semakin cepat. Kakiku meminta berlari. Segera aku menghampiri sosok yang mungkin itu K. Tapi kenapa baru sekarang ? Kenapa baru sekarang ia muncul di depanku ? Kenapa di saat aku telah memutuskan untuk tak menunggunya lagi ?
Jarak kami semakin dekat. Aku terdiam menatap punggungnya. Tapi apakah sosok itu adalah K ? apakah itu memang punggungnya ? Aku terdiam di tempatku, jarak kami hanya sekitar 5 langkah. Hingga ia menyadari keberadaanku dan berbalik.

Dia—

Sosok itu— memiliki mata berwarna coklat tua dan rambut yang berwarna hitam. Ia lebih tinggi dariku, sosok yang sangat familiar.

Tapi—ia bukan K.

Aku jatuh terduduk, kepalaku tertunduk memandang kosong tanah coklat.

“Ray...” ku dengar ia memanggil namaku dengan nada keterkejutan. Punggungku bergetar pelan.
“Memang bukan, ku kira kau adalah dia, Tomo.” Aku masih menunduk, suaraku parau. Aku ingin menangis tapi air mata ini tak keluar. Hanya dada yang semakin sesak, jauh lebih sesak dari kemarin.

Tomo, sepupu K. Aku mengenalnya karena dulu ia sering berkunjung ke rumah K. Dan kami sering bermain bersama.
Jadi memang bukan K yang datang. Dan aku rasa ia memang tak akan pernah datang.” aku berkata dalam hati dan meremas pelan dadaku. Sakit.

Aku dan Tomo duduk di atas rerumputan di tepi sungai. Bisa ku rasakan ia tahu semuanya. Tentang aku, K dan janji kami. Tapi Tomo tak berkata sepatah kata pun. Ia hanya memandang sendu hamparan sungai. Hingga aku yang pada akhirnya membuka suara.

“K...dimana dia ?” kataku lirih.
Bisa ku lihat dari sudut mataku ia semakin menunduk.
“Aku mengerti bila ia tak mau menemuiku. Tapi, yang tak aku mengerti, kenapa ia membuat janji yang bahkan ia sendiri tak bisa menepatinya ?” suaraku parau. “Aku—sakit Tomo, benar-benar sakit.” Ku paksakan senyum ini dan memandang jauh ke seberang sungai.

“Ray..” ku dengar ia mulai berbicara. Aku menoleh dan ku dapati kedua bola matanya menggambarkan kesedihan.
“Ini...punyamu kan ?” ku lihat ia menyodorkan sebuah kotak dari kayu berwarna hitam dengan ukiran yang indah. Aku ambil kotak berukuran sedang itu.
“Bukalah.” Perintahnya dengan nada rendah.

Perlahan ku buka kotak kayu hitam itu. Betapa terkejutnya aku mendapati isi dari kotak itu adalah kertas-kertas bekas origami burung bangau yang ku buat. Semuanya sudah tak berbentuk origami, hanya berupa lembaran kertas persegi yang berwarna-warni.


Tahun pertama, 14 tahun
“K, apa kau tak ingat janji kita ? Kau tahu, aku rela bangun pagi-pagi dan menanti kereta sendirian di stasiun hanya untuk ingin bertemu denganmu setelah kita berpisah 2 tahun. Tapi yang ku dapati kau tak ada K. Kau kemana K ? Aku merindukannmu.”

Tahun kedua, 15 tahun
“Kau tak datang lagi. Tapi entah mengapa aku tetap setia menunggumu disini. Karena aku yakin kau tak pernah melupakan janji kita hari itu. Aku merindukanmu.”

Tahun ketiga, 16 tahun
“Hooe, K no baka ! sekarang aku telah masuk ke SMA. Dan aku heran kenapa aku masih saja menunggumu seperti orang gila disini. Awas kau K jika kita bertemu aku akan menghajarmu lalu aku minta kau untuk membelikanku komik yang banyak :p. Hei, aku merindukanmu.”

Tahun keempat, 17 tahun
“Kau tahu K, aku masih saja mengingat masa kecil kita berdua. Dan terkadang aku masih berpikir kenapa kita beranjak dewasa dan harus berpisah seperti ini. Aku merindukanmu.”

Tahun kelima, 18 tahun
“Lagi. Ini tahun kelima aku menunggumu seharian disini, dan seperti tahun-tahun lalu kau tidak datang. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan K ? Aku merindukanmu.”

Tahun keenam, 19 tahun
“Aku telah menjadi mahasiswa sekarang K. Letak universitasku juga cukup jauh dari rumah. Dan itu berarti semakin jauh pula jarakku ke sini. Kau tak datang lagi ya ? Aku merindukanmu.”

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Ini tahun ke tujuh aku menunggumu disini. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih saja setia menunggumu di tempat ini dan berharap kau akan muncul di depanku. Sepertinya aku masih saja percaya pada janji kita 9 tahun yang lalu. Dan kepercayaanku itu yang membuatku terus dan terus menunggumu. Aku merindukanmu.”

Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika saja aku tak pernah datang ke tempat ini, apakah rasanya tetap akan sesakit ini ketika menunggumu selama lebih dari 10 tahun ? Aku merindukanmu.”

Tahun kesembilan, 22 tahun
“Rasanya begitu menyenangkan bisa kesini. Namun...sekaligus menyakitkan. Tak pernah mendapatimu berdiri bersenderkan pohon momiji di tepi sungai ini sambil menungguku. Aku merindukanmu.”

Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Aku telah bekerja sekarang K. Setiap syaraf otakku berisikan pekerjannku. Tapi.....kenapa masih ada kau ? Aku merindukanmu.”

Tahun kesebelas, 24 tahun
“Apakah kau masih mengingatku K ? Aku merindukanmu.”

Tahun kedua belas, 25 tahun
“Sudah berapa banyak musim yang terlewat tanpamu ? bahkan aku lelah untuk menghitungnya. Apakah aku boleh memintamu untuk datang dan menepati janji kita ? Aku merindukanmu.”

Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya air sungai dan daun orange dari pohon momiji yang selama ini setia menemaniku. Aku merindukanmu.”

Tahun keempat belas, 27 tahun
“Rasanya kepercayaanku ini perlahan luntur, menantimu dalam bayangan kehampaan. Kau jalan yang tak berujung K. Aku mencoba untuk mengikuti jalanmu, selalu terjatuh di lubang yang sama, sakit. Tapi kenapa aku masih tetap berjalan ? bahkan berlari. Kau tak bisa ku kejar lagi, maaf. Aku sangat merindukanmu.”

Tahun kelima belas, 28 tahun
“Ku tertawakan diriku sendiri hari ini K. Tahun lalu aku berkata bahwa aku sudah tak bisa mengejarmu lagi. Tapi mengapa aku masih tetap ke tempat ini ? Aku sangat sangat merindukanmu.”

Kubaca satu persatu. Ini memang milikku. Dan origami yang kemarin baru aku buat pun masih rapi. Tomo menyodorkan origami abu-abuku dan ku buka sendiri.

Tahun keenam belas, 29 tahun
“16 tahun. Tidak ! 19 tahun aku menunggumu. Aku benar-benar menyerah sekarang K. Kau yang menang. Sudah tak terhitung berapa banyak aku memanggil namamu di musim gugur ini. Sudah tak terhitung berapa banyak riak air yang menemaniku selama ini. Sudah tak terhitung berapa banyak daun momiji yang berguguran. Sudah tak terhitung berapa banyak musim gugur yang ku lewati tanpa pernah absen untuk mengunjungi tempat ini hanya untuk ingin menemukan sosokmu yang duduk sambil tersenyum ke arahku. Dan sudah tak terhitung berapa banyak aku merindukanmu. Sekarang, aku yang akan pergi K. Terima kasih untuk penantian panjang tanpa ujung ini.”

 Jadi selama ini—
Masih dengan perasaan yang bercampur aduk, Tomo kemudian memberikanku kotak yang lain. Kali ini berwarna coklat tua dengan motif yang sama dan ukuran yang sama.

“Bukalah Ray, itu...milik K.” Ucap Tomo dengan lesu. Bisa ku rasakan ada nada berat di balik perkataannya.

‘Milik K ?’

Dengan berat hati ku buka kotak kayu berukuran sedang itu.
Mataku membulat sempuna. Origami bangau berbagai warna. Bagaimana bisa bukankah K tak pernah datang, bagaimana ia bisa membuat origami burung yang jumlahnya pun sama seperti tahun dimana aku terus menunggunya, 16 tahun.
“Ja-jangan katakan kalau K—“ suaraku bergetar.
Tomo berkata dengan berat, “Bacalah..”
Ku buka satu persatu lipatan origami burung bangau itu. Ini semua tulisan K. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi buru-buru ku baca tulisan yang tersembunyi di balik lipatan origami itu.


Tahun pertama, 14 tahun
Aku membaca ‘surat’ kecilmu ini Ray. Aku ingat, sangat ingat malah. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedua, 15 tahun
“Aku datang Ray, tapi sepertinya kita memang tak bisa bertemu. Aku...aku bahagia kau masih menungguku untuk datang. Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketiga, 16 tahun
“Hei Ray, selamat ya kau sudah SMA sekarang. Bagaimana, apakah semakin menyenangkan ? Kau bukan orang yang satu-satunya gila Ray, tapi aku juga sama gilanya denganmu. Tapi..kita tak bisa bertemu kan Ray, jadi aku tak bisa membelikanmu komik. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keempat, 17 tahun
“Bukan hanya kau yang mengingatnya, aku juga. Aku selalu mengingatnya, mengingat kita. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kelima, 18 tahun
Aku tahu kau selalu menungguku setiap tahun. Aku ? yang sedang ku lakukan adalah selalu memikirkanmu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keenam, 19 tahun
“Akhirnya mimpimu menjadi kenyataan Ray, selamat ya. Tapi meskipun jauh, kau tetap datang kesini setiap tahun kan ? Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Jika bisa akan kulakukan itu. Aku juga ingin berdiri di depanmu lalu...memelukmu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika kita tak pernah bertemu, apakah perasaan sakit ini masih sama ? Aku bahagia memiliki kesempatan bertemu denganmu Ray. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesembilan, 22 tahun
“Aku sudah tak bisa lagi bersender di pohon momiji itu Ray. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Selamat, akhirnya kau bisa bekerja sekarang. Aku harap kau nyaman di sana. Seluruh syaraf tubuhku hanya berisikan kau, seluruh nafas yang tersisa hanya ingin memanggil namamu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesebelas, 24 tahun
“Aku tak pernah melupakanmu, tak akan pernah. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedua belas, 25 tahun
Tak terhitung kerinduan ini, bahkan semua musim selama aku hidup pun tak akan cukup untuk menghitungnya. Sampai detak jantung ini berhenti pun aku tak akan pernah bisa melupakanmu dan melupakan janji kita. Maaf Ray kau tak boleh mengharapkanku untuk bisa menepati janji kita. Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya menatap origami bangau beserta tulisan tanganmu lah yang membuatku terus hidup sampai sekarang. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keempat belas, 27 tahun
“Aku hanya jalan yang tak bisa kau lalui Ray. Meskipun sebenarnya aku ingin menjadi jalan yang bisa membawamu kepada harapanmu, tapi aku tak di takdirkan untuk itu. Aku hanya bisa menjadi bayangan di bawah sinarmu yang terang. Maafkan aku Ray, maafkan aku. Aku juga sangat merindukanmu.”

Tahun kelima belas, 28 tahun
“Aku...aku bahagia kau masih tetap menungguku di tempat itu. Terima kasih Ray. Aku juga sangat sangat merindukanmu.”.

Kedua bola mataku memanas dan satu persatu bening asin itu meluncur tanpa bisa di hentikan. Aku memeluk erat kotak itu dengan erat. Hingga Tomo menepuk punggungku pelan dan memberikanku sebuah origami berwarna putih.

“Ini adalah yang terakhir sebelum ia meninggal Ray, ia tak menunggu origami darimu karena ia tahu ajalnya telah dekat, maka ini adalah tulisan tangannya yang terakhir.”
“Meninggal ??” aku tertegun dengan ucapan Tomo. Seketika dadaku semakin nyeri, seperti ada ribuan pedang yang menusuk tepat di dadamu kemudian meremasnya sampai hancur.

Jadi ini kenyataan yang harus ku hadapi setelah lebih dari 19 tahun aku menunggunya. Ini semua tidak adil.

“Maafkan aku Ray. Maafkan aku.” Ku lihat Tomo mulai meneteskan air mata.

Dengan sangat berat ku buka lipatan demi lipatan origami itu dan ku baca tulisan terakhir K sebelum ia benar-benar menghilang dari dunia ini.


Tahun keenam belas, 29 tahun
“Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk muncul di depanmu selama 17 tahun ini. Aku hanyalah siput yang hanya bisa bersembunyi, dan muncul ketika kau sudah tak ada. Mungkin aku akan menjadi lega ketika kau membaca ini, karena ketika kau sudah membacanya kau tak akan perlu ke tempat itu lagi. Ray, terima kasih telah menjadi alasanku untuk hidup selama ini.  Semoga kau selalu bahagia Ray.”
.
.
.
.
.
.
.
.
K, dia tenyata selalu datang. Setiap tahun ia datang, namun ia selalu datang di hari setelah aku ke sana.
‘K tak ingin muncul di depanmu bukan karena ia ingin. Tapi—ia hanya tak ingin membuatmu sedih ketika ia sudah menghilang Ray. Oleh karena itu ia selalu datang setelah kau datang. Dan soal origamimu itu, pada awalnya ia kaget karena lewat origami burung itulah kau bercerita tentang apa yang kau rasakan. Tapi pada akhirnya ia membalas ‘surat’ origami bangaumu, walaupun ia tak pernah berani meletakkan origami ‘balasan’ itu di bawah pohon momiji. Ia sebenarnya menginginkan kau untuk melupakannya, tapi setelah membaca setiap ‘surat’ origamimu ia menjadi lebih bersemangat untuk hidup.’

‘Sejak kecil ia telah menderita radang selaput otak. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pindah bersama orang tuanya, ia menjalani pengobatan. Sudah tak bisa ku bayangkan betapa ia sangat menderita ketika menjalani pengobatan demi pengobatan. Kau adalah seseorang yang sangat berharga untuknya Ray, seseorang yang harus ia lindungi. Tapi sepertinya takdir tak memperbolehkan K untuk bisa melindungimu.’

‘Tahun pertama sampai dengan tahun kedelapan ia kesini, sendirian. Namun sehari sebelum ia kesini di tahun kesembilan ia sudah tak bisa berjalan. Dengan susah payah ia membujuk dokter dan kedua orang tuanya untuk bisa ke tempat ini. Hingga ia kesini bersamaku dan ia harus memakai kursi roda. Di tahun-tahun berikutnya berjalan seperti itu. K kesini bersamaku dan kursi rodanya, datang sehari setelah kau datang, memandang pohon momiji ini, mengambil origami milikmu dan membalasnya.’

‘Ia ‘mati’ di tahun keempat belas. Ia tak bisa apa-apa. Hanya tergolek lemah tak berdaya di ranjangnya. Jadi aku yang kesini untuk menggantikan K. Mengambil origami suratmu dan membawanya ke K. Lalu aku yang membacakan ‘surat’ itu kepadanya. Mungkin ini yang di namakan dengan keajaiban, K yang tak bisa apa-apa kemudian bisa menulis origami balasan untukmu. Hingga ia benar-benar meninggal di tahun keenam belas, 2 bulan yang lalu.’
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tahun ketujuh belas, 30 tahun
“Aku sudah menikah K, 3 bulan yang lalu dengan seorang gadis. Ia sangat baik, dan sifatnya sangat mirip denganmu. Dia....yang sekarang akan kulindungi. K, selamat jalan. Aku akan terus  merindukanmu.”
---OWARI---



*song : RAIN Ost. Kotonoha no Miwa

About