Title :
PAPER CRANES
Author :
Lycoris
Fandom :
BORN
Cast :
Ray, K, Tomo
Genre :
AU, Romance, Angst, Shounen-Ai
Rate :
PG-13
Warning ! :
OOC, typo(s), feel gak dapet
“Aku memang bodoh, hanya menanti sebuah bayang-bayang semu”
Tahun pertama, 14
tahun
Aku masih duduk dengan kaki yang terlipat. Terkadang untuk
mengusir kebosanan ku lempar beberapa batu kecil ke sungai itu, meninggalkan
beberapa riak dan kemudian bunyi plung. Kuulangi terus menerus sampai
aku bisa menemukan seseorang yang ku tunggu muncul di depannku.
Namun ketika senja sudah datang tak kunjung ku temukan
sosoknya. Apakah dia lupa, pikirku dengan masih berfikiran jernih. Karena tak
mungkin dia melupakan janji ini begitu saja. Mengingat 2 tahun yang lalu kami
membuatnya dan berjanji akan kembali lagi, disini, di tanggal ini, dan tahun
ini.
Tapi..
Sepertinya dia melupakan begitu saja. Sebenarnya aku ingin
memarahinya, itu jika ia benar-benar datang sekarang.Tapi nyatanya ia tak
datang. Lalu aku mengambil sesuatu dari dalam tas punggung yang dari tadi pagi
ku geletakkan begitu saja di sampingku. Sebuah kertas persegi berukuran 15cm x
15cm berwarna kuning. Segera ku tulis sesuatu di sana, setelah ku rasa cukup
aku segera melipat kertas persegi itu menjadi sebuah bentuk yang sangat kami
berdua sukai. Burung bangau.
Ku letakkan origami bangau kuning itu tepat di bawah pohon
momiji yang kini berdaun orange itu.
Ku lihat untuk yang terakhir kali sebelum aku pulang ke rumah.
“Hhh...” aku mendesah pelan.
“Kau benar-benar tak datang ya, padahal ini pertemuan
pertama kita.”
Kemudian dengan langkah berat aku meninggalkan tempat itu,
meninggalkan origami bangau kuning kecil itu sendirian.
Tahun kedua, 15 tahun
Aku terduduk kembali bersenderkan pohon momiji. Memandang ke
arah sungai yang luas itu. Untuk membuang waktu ku kerjakan PR yang harus di
kumpulkan lusa.
“Ah, aku memang bodoh dalam pelajaran matematika.” Dengusku
kelas melihat berderet-deret angka yang membuat pusing otakku.
“Anak itu pasti dengan cepat menyelesaikan ini.” Aku
tersenyum sendiri mengingatnya.
Kembali aku membayangkan saat-saat dulu, ketika aku dan dia
berada di satu sekolah dasar yang sama. Setiap hari selalu datang berdua dan
pulang berdua pula. Rumah kami pun memang berdekatan. Jadi tak heran bila kami
selalu kemana-mana berdua.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Meskipun harus
menguras otak akhirnya PR ku selesai. Meskipun aku tak yakin akan bisa meraih
nilai 60.
Ku pandangi langit biru dengan awan yang berarak-arak. Angin
sejuk berhembus dengan pelan, membuatku terkantuk-kantuk.
“Hoam..” aku menguap, memang di musim ini membuatku gampang
sekali mengantuk. Apalagi aku yang dalam keadaan sedang berada di luar rumah
dari pagi hingga sekarang.
‘Kau.....akan datang
kan ?’
Ku rebahkan punggung ke rerumputan sekitar pohon momiji,
mata coklatku masih memandang langit luas. Semakin lama mataku ini semakin
berat, hingga aku pun terlelap.
Ketika ku terbangun, langit yang tadi kuingat masih biru
telah berunah warna menjadi orange.
Kuusap mataku beberapa kali, memandang sekeliling.
Dia.....tidak datang juga di tahun ini. Aku hanya bisa
tersenyum.
Kembali, ku ambil kertas persegi dari dalam tasku. Kali ini
berwarna biru cerah. Seperti tahun yang lalu aku menuliskan sesuatu disana,
melipatnya menjadi origami bangau dan meninggalkannya di tempat biasanya.
“Jaa na....”
Tahun ketiga, 16
tahun
Hampir saja aku ketinggalan kereta pagi ini karena semalam
aku tidur telat. Tugas sebagai siswa baru memang sangat merepotkan. Apalagi
hari ini aku (sengaja) bolos. Dengan mata yang masih berat aku turun dari
kereta.
Ah, udara ini, suasana ini aku sangat merindukannya. Tak
terasa tepat satu tahun yang lalu aku terakhir kesini. Dan sekarang aku kesini
lagi, menunggunya di tempat itu.
Kubawa kedua kakiku melangkah ke tempat itu. Tempat dimana
pohon momiji perkasa itu berada, di tepi sebuah sungai besar yang tak terlalu
dalam –aku tahu karena dulu aku sangat sering bermain di sungai itu. Sekarang,
aku yang sudah memasuki tahun pertama sekolah tingkat atas tak mungkin lagi bermain-main
disana, padahal aku sangat merindukannya.
Tak memerlukan waktu yang lama, hanya memerlukan sekitar 15
menit sampai akhirnya aku sampai kembali di tempat itu.
“Ohisashiburi....”
aku berkata lirih dan tersenyum. Berjalan menuju pohon momiji yang kini daunnya
berwarna orange keemasan.
Lagi. Aku hanya duduk-duduk dan melemparkan kerikil-kerikil
ke arah sungai. Menikmati beberapa lembar daun pohon momiji yang jatuh karena
tertiup angin.
Aku sudah duduk disini lebih dari 3 jam. Aku terlalu
menikmati kesendirian yang telah kau ciptakan ini. Mendengarkan alunan musik yang
alam ciptakan. Aaah, coba saja dia ada di sampingku sekarang.
Aku tertegun. Apa...yang barusan aku katakan.
14.26. itu yang
jamku perlihatkan. Sepertinya ia tak datang lagi. Dan aku hanya bisa tersenyum.
Kubaca kembali komik yang sedari tadi menemanimu mengusir kejenuhan hingga tak
terasa aku sudah membaca 6 komik dan 1 novel berukuran sedang.
17.28
“Kau tak datang lagi ya.”
Ku tinggalkan origami bangau berwarna merah itu di tempat
biasanya.
Tahun keempat, 17
tahun
Tahun keduaku di SMA. Dan tahun keempatku mengunjungi tempat
ini. Masih pohon yang sama dan sungai yang sama. Bahkan ukiran inisial nama itu
pun masih ada.
Ku letakkan tas sembarangan, ku keluarkan selembar foto yang
selalu diam di samping tempat tidurku. Namun entah kenapa hari ini aku ingin
membawanya. Dia yang selalu tersenyum dengan segala kediamannya, dan aku yang
tersenyum dengan segala keceriannku. Kita memang dua orang anak yang berbeda
yang di pertemukan oleh takdir.
Aku masih menunggunya. Masih berharap ia akan muncul dan
menepati janji kita. Tapi, sepertinya dia tak datang lagi. Aku hanya bisa
tersenyum.
Matahari mulai tenggelam, beristirahat setelah menjalankan
tugasnya. ‘Pekerjaan’ rutinku tiap tahun sebelum aku pulang pun telah aku
kerjakan. Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau tua itu di bawah
pohon momiji.
‘Aku tak pernah lelah
menunggumu, aku pun tak tahu alasannya.’
Tahun kelima, 18
tahun
Aku kesini lagi, ke tempat dengan pohon momiji yang sedang
berdaun orange. Di musim gugur
seperti ini sungai di depanku serasa kristal, membiaskan sinar matahari. Aku
masih berandai-andai apakah ia akan datang atau tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya.
Tentang masa sekolahku yang sudah berakhir. Dan aku juga ingin mendengar
ceritanya tentang masa-masa sekolahnya. Tapi sepertinya bukan itu saja, aku
ingin mendengar semua ceritanya ketika aku dan dia tak bersama. Aku sangat
ingin.
Tapi.....
Seperti biasa aku hanya duduk bersender pohon momiji dan
kini sambil memandangi foto-foto teman SMAku. Jika saja kau satu sekolah
denganku.
Kembali ku letakkan origami burung bangau berwarna biru tua
itu di tempat biasanya.
Tahun keenam, 19
tahun
Menjadi mahasiswa tak semudah yang ku bayangkan. Tugas
disana sini hingga aku hampir saja lupa dengan hari ini. Gomennasai. Tapi aku telah disini sekarang, seperti enam tahun yang
lalu.
Sepertinya sekarang aku lebih rajin dari dulu. Kubuka
kembali buku tugas yang harus aku selesaikan. Di bawah kanopi pohon momiji
dengan khusyuk aku mengerjakan tugasku.
“Heii...tunggu aku !.”
Ku dongakkan kepalaku. Ah aku melihat dua orang anak kecil sedang
berlarian berdua. Itu mengingatkanku pada kita. Aku hanya bisa tersenyum.
Matahari telah beranjak turun, dan awan telah berubah
menjadi orange. Senja telah datang.
Ternyata di tahun keenam ini kau tak datang lagi.
Sudah selesai, origami bangau berwarna merah muda kini telah
diam di bawah pohon momiji.
Tahun ketujuh, 20
tahun
“Iya bu, nanti akan ku bawakan. Tapi seperti biasa aku akan
pulang telat.”
“Jaa na..”
Klik
Kutaruh kembali keitaiku
ke saku jaketku. Tak biasanya ibu menelfonku ketika aku sedang disini. Sekarang
ia menjadi terbiasa, di tanggal ini aku pasti berangkat pagi-pagi sekali dan
pulang larut malam.
Aku kembali lagi kesini, di tahun ketujuh di umurku yang
sudah menginjak kepala 2. Tak terasa sudah selama ini mengenalnya. Kenangan
yang tersimpan dalam dan terbungkus dengan manis. Aku tersenyum mengingatnya.
Kureggangkan badanku, ku lemparkan beberapa kerikil ke sungai
yang membentang di depanku. Suasana ini tak pernah berubah, masih sama ketika
pertama kali aku kesini.
Kulihat jam yang melingkar di tangan kananku. “Saatnya untuk
pulang, kau tak kesini lagi.” Ucapku dengan nada datar. Kuambil kertas persegi
berwarna putih dari dalam tasku. Segera ku tulis sesuatu disana.
Origami burung bangau putih itu diam di bawah pohon momiji.
Tahun kedelapan, 21
tahun
Kutulis sesuatu di tepian sungai itu. Ranting kayu yang ku
temukan beberapa menit yang lalu rupanya telah menarik perhatianku. Untuk
membunuh waktu, ku putuskan untuk mengambilnya dan ku putuskan untuk menulis
sesuatu.
Ruisai no hana
Aku kembali lagi ke tempat ini. Tapi sepertinya sekarang aku
merasakan apa itu ‘sakit’. Ternyata begitu menyesakkan menunggu seseorang yang
kau tak tahu apakah ia akan datang atau tidak. Dan yang bisa kau lakukan
hanyalah menunggu, menunggu, dan menunggu.
Burung dari kertas berwarna orange duduk sendirian di atas batu di bawah pohon momiji.
Tahun kesembilan, 22
tahun
Ternyata aku masih saja setia datang kesini setiap tahun. Mungkin
sekarang sudah menjadi ‘tradisi’ setiap tahun. Bangun pagi-pagi sekali, ke
stasiun, naik kereta paling pagi, lalu berhenti di tempat ini.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut coklat tuaku. Ku
rapatkan jaket biru tua yang selalu setia menemaniku selama di musim gugur ini.
Angin musim gugur mulai mendingin memang. Kulihat beberapa daun momiji
berjatuhan dan ada beberapa yang tertiup angin pergi entah kemana. Jika saja
aku bisa seperti mereka.
Masih bisa ku lihat guratan hasil ‘pekerjaan’ kami berdua
waktu itu.
RK
Guratan itu akan terus ada selama pohon momiji perkasa ini
berdiri dengan gagah di sini.
‘Sepertinya waktu yang
memang tak pernah memihakku.’
Kali ini origami burung bangau berwarna coklat muda yang ku
buat. Tak pernah lupa aku selalu menuliskan sesuatu di dalamnya.
“Sampai jumpa tahun depan.” Kataku lirih dan berjalan
menjauh.
Tahun kesepuluh, 23
tahun
Aku sengaja ijin dari tempat kerjaku. Beberapa bulan yang
lalu aku lulus kuliah dan sekitar 2 minggu yang lalu aku mulai bekerja di sebuah
perusahaan game. Kakiku menginjak
tanah ini lagi. Musim gugur kesepuluh yang ku habiskan di tempat ini.
Badanku ku tidurkan di rerumputan di bawah pohon momiji.
Rasanya nikmat sekali, memandang langit luas. Hanya saja masih ada yang kurang.
‘Ne Ray, ingatlah ini
adalah tempat kita. Dan 2 tahun dari sekarang kita akan bertemu lagi disini.
Jangan lupa.’
Aku tersenyum getir mengingat perkataannya yang terakhir
sebelum kami berdua berpisah.
“Aku tak pernah lupa, tapi kau yang lupa.” Aku bangun
terduduk. Kemudian tanganku merogoh sesuatu dari dalam tas. Sebuah kertas
persegi berwarna ungu.
Segera tanganku bergerak menulis sesuatu, “Aku mulai
terbiasa menunggu sosokmu yang aku tak tahu akan muncul atau tidak.”
Aku berjalan menjauhi origami burung bangau ungu yang kini
bersenderkan pohon momiji.
Tahun kesebelas, 24
tahun
Masih di tanggal yang sama seperti sebelas tahun yang lalu. Aku
berdiri bersenderkan pohon momiji sambil melihat ke hamparan sungai yang
mengalir dengan tenang. Bisa ku lihat beberapa ikan berenang bebas dan beberapa
lagi bersembunyi di bebatuan hitam.
Ku rasakan hembusan angin musim gugur yang menerpa wajahku. Aku
selalu menikmati kesendirian ini. Mungkin sekarang aku sudah terbiasa
bertemankan kesepian dan beberapa kesunyian.
“Kau tak sadar telah mengajariku apa arti kesepian..” aku
berkata lirih sambil melihat sebuah perahu kertas yang sedari tadi aku pegang.
“Aku tak pernah meminta lebih kepadamu, aku hanya ingin
melihat wajahmu yang sekarang. Itu saja.”
Kemudian aku berjalan ke tepian sungai dan berjongkok. Ku
taruh perahu kertas itu di atas air sungai dan melihatnya hanyut terbawa arus
yang pelan.
“Jika kau tahu kalau aku masih menunggumu di sini.” Ku
tinggalkan bangau berwarna emas itu di tempat biasanya dan kedua kakiku sudah
ku perintah untuk berjalan menjauhi tempat itu.
Tahun kedua belas, 25
tahun
Tahun ini aku sengaja datang sangat pagi. Pukul 06.16 aku
telah sampai disini. Ternyata anginnya lebih segar jam segini. Entah kenapa aku
sangat tak berniat memakai jaket hari ini. Aku hanya memakai kaos panjang
berwarna hitam dan celana jeans biru
serta sebuah boots coklat yang baru
aku beli seminggu yang lalu dari hasil kerjaku.
Aku jadi ingat kau dari dulu kau sangat menginginkan sepatu boots berwarna coklat. Jadi, apakah kau
sudah mengabulkan keinginanmu itu ? Aku tertsenyum sendiri jadinya. Banyak hal
yang sekarang tak ku ketahui tentangmu.
Ku renggangkan kedua tanganku sejauh-jauhnya, merasakan
angin pagi yang menyejukkan. Ku tutup kedua mataku dan aku tak tahu kenapa aku
tersenyum.
Ku pasang headset
berwarna putih di telingaku. Sambil duduk bersenderkan pohon momiji dan melihat
ke arah sungai aku sesekali menyanyikan sebuah lagu lama. Rasanya damai sekali.
Tapi tetap perasaan ini tak pernah damai. Selalu ada yang kurang. Dan
kekurangan ini yang sedang aku cari-cari selama 12 tahun aku menunggunya
disini.
Doshaburi demo
kamawanai to
Subunure demo
kamawanai to
Shibuki ageru kimi ga
kieteku
Rojiura de wa asa ga
hayai kara
Ima no uchi ni kimi wo
tsukamae
Ikanai de ikanai de
Sou iu yo
Dan lagu itu pun masih terus aku ulang-ulang. Rasanya...menyakitkan.
Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau muda itu
sendirian.
Tahun ketiga belas,
26 tahun
Sesaat aku berpikir jika kau dan aku memang tak pernah di
takdirkan untuk saling bertemu. Lalu apa arti dari pertemanan kita selama ini ?
Apa arti dari janji yang kita sematkan dengan jari kelingking itu ?
Apakah reinkarnasi itu benar-benar ada ? Dan kalau memang
kita tak pernah di takdirkan untuk bertemu di kehidupan ini apakah di kehidupan
yang lalu atau di kehidupan yang akan datang kita selalu bersama ?
Ku tatap akar pohon momiji itu.
“Kau kuat ya menopang pohon besar ini selama berpuluh-puluh
tahun. Dan kau kuat terhadap musim yang silih berganti.”
“.....”
“Apakah aku juga sekuat dirimu ?”
Aku tak pernah lelah menunggunya dan membuat origami burung
bangau ini. Kali ini ku tinggalkan burung bangau berwarna ungu muda.
Tahun keempat belas,
27 tahun
Aku lelah.
Daun orange momiji
jatuh dan menutupi origami burung bangau biru tua yang duduk bersenderkan akar
pohon.
Tahun kelima belas,
28 tahun
Lagi. Aku kesini lagi. Bukankah tepat setahun yang lalu aku
sudah memutuskan untuk tidak kesini lagi ? Perasaan ini terlalu sakit. Hanya
menunggu seseorang yang 17 tahun yang lalu memberikan janji akan datang setiap
tahun kesini. Tapi apa yang aku dapat ? Aku sama sekali tak pernah mendapati
sosoknya berdiri di tepi sungai ini dan tersenyum ke arahku. Hanya pohon momiji
dan sungai yang mengalir tepat di depanku berdiri sekarang.
Aku ingin menangis tapi aku tak tahu kenapa aku tak pernah
bisa. Yang ku lakukan malah sebaliknya. Aku selalu tersenyum ketika tahu bahwa
penantianku selalu sia-sia. Aku hanya tersenyum ketika aku menaruh sebuah pesan
yang aku sampai sekarang tak tahu siapa yang membacanya. Aku hanya tersenyum
ketika mengingat masa kecil kami dan mengingat janji yang kami buat.
Kekuatan untuk menangis itu tak pernah ada, bahkan hanya
untuk meneteskan air mata pun tak pernah ada.
“Ternyata aku sudah sangat bahagia hanya dengan menunggu
bayang-bayang semumu. Dan aku tak tahu seberapa kuatnya aku untuk terus
menunggumu.”
Kutempatkan origami burung bangau berwarna coklat tua itu di
tempat biasanya.
Tahun keenam belas,
29 tahun
“Kau tak akan pernah datang kan ?” gumamku lirih sambil meraba guratan inisial nama yang terpatri di
pohon momiji.
“Jadi...yang ku lakukan selama ini adalah hal yang bodoh.”
Entah datangnya dari mana perasaan sesak ini yang seakan meremat hatiku.
Tes
Air mata ? kuusap dengan punggung tanganku air mata itu. Ini
adalah air mata pertama yang menetes sejak 16 tahun aku menunggunya disini. Aku
tersenyum getir tapi sekaligus aku merasa lega. Akhirnya selama 19 tahun ini
aku bisa menangisinya.
.
.
.
Ini adalah origami terakhirku. Burung bangau berwarna
abu-abu.
“K.....selamat tinggal.” Aku melangkah pergi meskipun dengan
berat hati.
Dari awal sebenarnya aku telah merasa kalau ini akan
sia-sia. Penantian tanpa ujung yang hanya akan menggoreskan luka lebih dalam.
Tapi meskipun begitu aku tetap saja pergi ke tempat ini setiap tahun. Duduk di
bawah pohon momiji, melemparkan beberapa kerikil ke sungai, merebahkan punggung
di rerumputan, menulis sesuatu di kertas persegi warna-warni, melipatnya
menjadi origami burung bangau dan meninggalkannya begitu saja.
Kegiatan yang kuulang-ulang. Tak ada warna lain, hanya
monoton. Tapi entah mengapa setiap aku kesini perasaan ini menjadi hangat dan
terasa manis. Sesuatu yang sebenarnya menyakitkan tapi aku begitu menikmatinya.
Jadi ini yang di namakan ‘cinta’.
08.13
Aku telah sampai di stasiun. Harus berjalan lagi sekitar 15
menit baru aku sampai ke tempat itu. Aku tak mengerti kenapa aku kesini lagi.
Padahal baru semalam aku sampai rumah dan mengistirahatkan badan serta
pikiranku.
Tapi pagi-pagi sekali aku telah berpamitan kepada orang
rumah dan sekarang aku telah turun dari kereta.
Aku...disini lagi.
Hampir sampai. Bisa ku lihat sekitar 30 m dari tempatku
sekarang dedaunan pohon momiji yang masih sama seperti kemarin. Aku semakin
mendekat. Hingga—ku lihat sebuah sosok yang kini membelakangiku, berjongkok
mengambil origami bangau abu-abuku.
Apakah itu K ?
Aku tak yakin tapi aku tak tahu kenapa detak jantung ini
semakin cepat. Kakiku meminta berlari. Segera aku menghampiri sosok yang
mungkin itu K. Tapi kenapa baru sekarang ? Kenapa baru sekarang ia muncul di
depanku ? Kenapa di saat aku telah memutuskan untuk tak menunggunya lagi ?
Jarak kami semakin dekat. Aku terdiam menatap punggungnya.
Tapi apakah sosok itu adalah K ? apakah itu memang punggungnya ? Aku terdiam di
tempatku, jarak kami hanya sekitar 5 langkah. Hingga ia menyadari keberadaanku
dan berbalik.
Dia—
Sosok itu— memiliki mata berwarna coklat tua dan rambut yang
berwarna hitam. Ia lebih tinggi dariku, sosok yang sangat familiar.
Tapi—ia bukan K.
Aku jatuh terduduk, kepalaku tertunduk memandang kosong
tanah coklat.
“Ray...” ku dengar ia memanggil namaku dengan nada
keterkejutan. Punggungku bergetar pelan.
“Memang bukan, ku kira kau adalah dia, Tomo.” Aku masih
menunduk, suaraku parau. Aku ingin menangis tapi air mata ini tak keluar. Hanya
dada yang semakin sesak, jauh lebih sesak dari kemarin.
Tomo, sepupu K. Aku mengenalnya karena dulu ia sering
berkunjung ke rumah K. Dan kami sering bermain bersama.
“Jadi memang bukan K
yang datang. Dan aku rasa ia memang
tak akan pernah datang.” aku berkata dalam hati dan meremas pelan dadaku.
Sakit.
Aku dan Tomo duduk di atas rerumputan di tepi sungai. Bisa
ku rasakan ia tahu semuanya. Tentang aku, K dan janji kami. Tapi Tomo tak
berkata sepatah kata pun. Ia hanya memandang sendu hamparan sungai. Hingga aku
yang pada akhirnya membuka suara.
“K...dimana dia ?” kataku lirih.
Bisa ku lihat dari sudut mataku ia semakin menunduk.
“Aku mengerti bila ia tak mau menemuiku. Tapi, yang tak aku
mengerti, kenapa ia membuat janji yang bahkan ia sendiri tak bisa menepatinya ?”
suaraku parau. “Aku—sakit Tomo, benar-benar sakit.” Ku paksakan senyum ini dan
memandang jauh ke seberang sungai.
“Ray..” ku dengar ia mulai berbicara. Aku menoleh dan ku
dapati kedua bola matanya menggambarkan kesedihan.
“Ini...punyamu kan ?” ku lihat ia menyodorkan sebuah kotak
dari kayu berwarna hitam dengan ukiran yang indah. Aku ambil kotak berukuran
sedang itu.
“Bukalah.” Perintahnya dengan nada rendah.
Perlahan ku buka kotak kayu hitam itu. Betapa terkejutnya
aku mendapati isi dari kotak itu adalah kertas-kertas bekas origami burung
bangau yang ku buat. Semuanya sudah tak berbentuk origami, hanya berupa
lembaran kertas persegi yang berwarna-warni.
Tahun pertama, 14 tahun
“K, apa kau tak ingat janji kita ? Kau tahu,
aku rela bangun pagi-pagi dan menanti kereta sendirian di stasiun hanya untuk
ingin bertemu denganmu setelah kita berpisah 2 tahun. Tapi yang ku dapati kau
tak ada K. Kau kemana K ? Aku merindukannmu.”
Tahun kedua, 15 tahun
“Kau tak datang lagi. Tapi entah mengapa aku
tetap setia menunggumu disini. Karena aku yakin kau tak pernah melupakan janji
kita hari itu. Aku merindukanmu.”
Tahun ketiga, 16 tahun
“Hooe, K no baka ! sekarang aku telah masuk
ke SMA. Dan aku heran kenapa aku masih saja menunggumu seperti orang gila
disini. Awas kau K jika kita bertemu aku akan menghajarmu lalu aku minta kau
untuk membelikanku komik yang banyak :p. Hei, aku merindukanmu.”
Tahun keempat, 17 tahun
“Kau tahu K, aku masih saja mengingat masa
kecil kita berdua. Dan terkadang aku masih berpikir kenapa kita beranjak dewasa
dan harus berpisah seperti ini. Aku merindukanmu.”
Tahun kelima, 18 tahun
“Lagi. Ini tahun kelima aku menunggumu
seharian disini, dan seperti tahun-tahun lalu kau tidak datang. Sebenarnya apa
yang sedang kau lakukan K ? Aku merindukanmu.”
Tahun keenam, 19 tahun
“Aku telah menjadi mahasiswa sekarang K.
Letak universitasku juga cukup jauh dari rumah. Dan itu berarti semakin jauh
pula jarakku ke sini. Kau tak datang lagi ya ? Aku merindukanmu.”
Tahun ketujuh, 20 tahun
“Ini tahun ke tujuh aku menunggumu disini.
Aku juga tidak tahu kenapa aku masih saja setia menunggumu di tempat ini dan
berharap kau akan muncul di depanku. Sepertinya aku masih saja percaya pada
janji kita 9 tahun yang lalu. Dan kepercayaanku itu yang membuatku terus dan
terus menunggumu. Aku merindukanmu.”
Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika saja aku tak pernah datang ke tempat
ini, apakah rasanya tetap akan sesakit ini ketika menunggumu selama lebih dari
10 tahun ? Aku merindukanmu.”
Tahun kesembilan, 22 tahun
“Rasanya begitu menyenangkan bisa kesini.
Namun...sekaligus menyakitkan. Tak pernah mendapatimu berdiri bersenderkan
pohon momiji di tepi sungai ini sambil menungguku. Aku merindukanmu.”
Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Aku telah bekerja sekarang K. Setiap syaraf
otakku berisikan pekerjannku. Tapi.....kenapa masih ada kau ? Aku
merindukanmu.”
Tahun kesebelas, 24 tahun
“Apakah kau masih mengingatku K ? Aku
merindukanmu.”
Tahun kedua belas, 25 tahun
“Sudah berapa banyak musim yang terlewat
tanpamu ? bahkan aku lelah untuk menghitungnya. Apakah aku boleh memintamu
untuk datang dan menepati janji kita ? Aku merindukanmu.”
Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya air sungai dan daun orange dari pohon
momiji yang selama ini setia menemaniku. Aku merindukanmu.”
Tahun keempat belas, 27 tahun
“Rasanya kepercayaanku ini perlahan luntur,
menantimu dalam bayangan kehampaan. Kau jalan yang tak berujung K. Aku mencoba
untuk mengikuti jalanmu, selalu terjatuh di lubang yang sama, sakit. Tapi
kenapa aku masih tetap berjalan ? bahkan berlari. Kau tak bisa ku kejar lagi,
maaf. Aku sangat merindukanmu.”
Tahun kelima belas, 28 tahun
“Ku tertawakan diriku sendiri hari ini K.
Tahun lalu aku berkata bahwa aku sudah tak bisa mengejarmu lagi. Tapi mengapa
aku masih tetap ke tempat ini ? Aku sangat sangat merindukanmu.”
Kubaca satu persatu. Ini memang milikku. Dan origami yang
kemarin baru aku buat pun masih rapi. Tomo menyodorkan origami abu-abuku dan ku
buka sendiri.
Tahun keenam belas, 29 tahun
“16 tahun. Tidak ! 19 tahun aku menunggumu.
Aku benar-benar menyerah sekarang K. Kau yang menang. Sudah tak terhitung
berapa banyak aku memanggil namamu di musim gugur ini. Sudah tak terhitung
berapa banyak riak air yang menemaniku selama ini. Sudah tak terhitung berapa
banyak daun momiji yang berguguran. Sudah tak terhitung berapa banyak musim
gugur yang ku lewati tanpa pernah absen untuk mengunjungi tempat ini hanya
untuk ingin menemukan sosokmu yang duduk sambil tersenyum ke arahku. Dan sudah
tak terhitung berapa banyak aku merindukanmu. Sekarang, aku yang akan pergi K.
Terima kasih untuk penantian panjang tanpa ujung ini.”
Jadi selama ini—
Masih dengan perasaan yang bercampur aduk, Tomo kemudian
memberikanku kotak yang lain. Kali ini berwarna coklat tua dengan motif yang
sama dan ukuran yang sama.
“Bukalah Ray, itu...milik K.” Ucap Tomo dengan lesu. Bisa ku
rasakan ada nada berat di balik perkataannya.
‘Milik K ?’
Dengan berat hati ku buka kotak kayu berukuran sedang itu.
Mataku membulat sempuna. Origami bangau berbagai warna.
Bagaimana bisa bukankah K tak pernah datang, bagaimana ia bisa membuat origami
burung yang jumlahnya pun sama seperti tahun dimana aku terus menunggunya, 16
tahun.
“Ja-jangan katakan kalau K—“ suaraku bergetar.
Tomo berkata dengan berat, “Bacalah..”
Ku buka satu persatu lipatan origami burung bangau itu. Ini
semua tulisan K. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi buru-buru ku baca tulisan
yang tersembunyi di balik lipatan origami itu.
Tahun pertama, 14 tahun
“Aku membaca ‘surat’ kecilmu ini Ray. Aku
ingat, sangat ingat malah. Aku juga merindukanmu.”
Tahun kedua, 15 tahun
“Aku datang Ray, tapi sepertinya kita memang
tak bisa bertemu. Aku...aku bahagia kau masih menungguku untuk datang. Aku juga
merindukanmu.”
Tahun ketiga, 16 tahun
“Hei Ray, selamat ya kau sudah SMA sekarang.
Bagaimana, apakah semakin menyenangkan ? Kau bukan orang yang satu-satunya gila
Ray, tapi aku juga sama gilanya denganmu. Tapi..kita tak bisa bertemu kan Ray,
jadi aku tak bisa membelikanmu komik. Aku juga merindukanmu.”
Tahun keempat, 17 tahun
“Bukan hanya kau yang mengingatnya, aku
juga. Aku selalu mengingatnya, mengingat kita. Aku juga merindukanmu.”
Tahun kelima, 18 tahun
“Aku tahu kau selalu menungguku setiap tahun.
Aku ? yang sedang ku lakukan adalah selalu memikirkanmu. Aku juga
merindukanmu.”
Tahun keenam, 19 tahun
“Akhirnya mimpimu menjadi kenyataan Ray,
selamat ya. Tapi meskipun jauh, kau tetap datang kesini setiap tahun kan ? Aku
juga merindukanmu.”
Tahun ketujuh, 20 tahun
“Jika bisa akan kulakukan itu. Aku juga
ingin berdiri di depanmu lalu...memelukmu. Aku juga merindukanmu.”
Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika kita tak pernah bertemu, apakah
perasaan sakit ini masih sama ? Aku bahagia memiliki kesempatan bertemu
denganmu Ray. Aku juga merindukanmu.”
Tahun kesembilan, 22 tahun
“Aku sudah tak bisa lagi bersender di pohon
momiji itu Ray. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Aku juga
merindukanmu.”
Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Selamat, akhirnya kau bisa bekerja
sekarang. Aku harap kau nyaman di sana. Seluruh syaraf tubuhku hanya berisikan
kau, seluruh nafas yang tersisa hanya ingin memanggil namamu. Aku juga
merindukanmu.”
Tahun kesebelas, 24 tahun
“Aku tak pernah melupakanmu, tak akan
pernah. Aku juga merindukanmu.”
Tahun kedua belas, 25 tahun
“Tak terhitung kerinduan ini, bahkan semua
musim selama aku hidup pun tak akan cukup untuk menghitungnya. Sampai detak
jantung ini berhenti pun aku tak akan pernah bisa melupakanmu dan melupakan
janji kita. Maaf Ray kau tak boleh mengharapkanku untuk bisa menepati janji
kita. Aku juga merindukanmu.”
Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya menatap origami bangau beserta
tulisan tanganmu lah yang membuatku terus hidup sampai sekarang. Aku juga
merindukanmu.”
Tahun keempat belas, 27 tahun
“Aku hanya jalan yang tak bisa kau lalui
Ray. Meskipun sebenarnya aku ingin menjadi jalan yang bisa membawamu kepada
harapanmu, tapi aku tak di takdirkan untuk itu. Aku hanya bisa menjadi bayangan
di bawah sinarmu yang terang. Maafkan aku Ray, maafkan aku. Aku juga sangat
merindukanmu.”
Tahun kelima belas, 28 tahun
“Aku...aku bahagia kau masih tetap
menungguku di tempat itu. Terima kasih Ray. Aku juga sangat sangat
merindukanmu.”.
Kedua bola mataku memanas dan satu persatu bening asin itu
meluncur tanpa bisa di hentikan. Aku memeluk erat kotak itu dengan erat. Hingga
Tomo menepuk punggungku pelan dan memberikanku sebuah origami berwarna putih.
“Ini adalah yang terakhir sebelum ia meninggal Ray, ia tak
menunggu origami darimu karena ia tahu ajalnya telah dekat, maka ini adalah
tulisan tangannya yang terakhir.”
“Meninggal ??” aku tertegun dengan ucapan Tomo. Seketika
dadaku semakin nyeri, seperti ada ribuan pedang yang menusuk tepat di dadamu
kemudian meremasnya sampai hancur.
Jadi ini kenyataan yang harus ku hadapi setelah lebih dari
19 tahun aku menunggunya. Ini semua tidak adil.
“Maafkan aku Ray. Maafkan aku.” Ku lihat Tomo mulai
meneteskan air mata.
Dengan sangat berat ku buka lipatan demi lipatan origami itu
dan ku baca tulisan terakhir K sebelum ia benar-benar menghilang dari dunia
ini.
Tahun keenam belas, 29 tahun
“Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk
muncul di depanmu selama 17 tahun ini. Aku hanyalah siput yang hanya bisa
bersembunyi, dan muncul ketika kau sudah tak ada. Mungkin aku akan menjadi lega
ketika kau membaca ini, karena ketika kau sudah membacanya kau tak akan perlu
ke tempat itu lagi. Ray, terima kasih telah menjadi alasanku untuk hidup selama
ini. Semoga kau selalu bahagia Ray.”
.
.
.
.
.
.
.
.
K, dia tenyata selalu datang. Setiap tahun ia datang, namun
ia selalu datang di hari setelah aku ke sana.
‘K tak ingin muncul di
depanmu bukan karena ia ingin. Tapi—ia hanya tak ingin membuatmu sedih ketika
ia sudah menghilang Ray. Oleh karena itu ia selalu datang setelah kau datang.
Dan soal origamimu itu, pada awalnya ia kaget karena lewat origami burung
itulah kau bercerita tentang apa yang kau rasakan. Tapi pada akhirnya ia
membalas ‘surat’ origami bangaumu, walaupun ia tak pernah berani meletakkan
origami ‘balasan’ itu di bawah pohon momiji. Ia sebenarnya menginginkan kau
untuk melupakannya, tapi setelah membaca setiap ‘surat’ origamimu ia menjadi
lebih bersemangat untuk hidup.’
‘Sejak kecil ia telah
menderita radang selaput otak. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pindah
bersama orang tuanya, ia menjalani pengobatan. Sudah tak bisa ku bayangkan
betapa ia sangat menderita ketika menjalani pengobatan demi pengobatan. Kau
adalah seseorang yang sangat berharga untuknya Ray, seseorang yang harus ia
lindungi. Tapi sepertinya takdir tak memperbolehkan K untuk bisa melindungimu.’
‘Tahun pertama sampai
dengan tahun kedelapan ia kesini, sendirian. Namun sehari sebelum ia kesini di
tahun kesembilan ia sudah tak bisa berjalan. Dengan susah payah ia membujuk
dokter dan kedua orang tuanya untuk bisa ke tempat ini. Hingga ia kesini
bersamaku dan ia harus memakai kursi roda. Di tahun-tahun berikutnya berjalan
seperti itu. K kesini bersamaku dan kursi rodanya, datang sehari setelah kau
datang, memandang pohon momiji ini, mengambil origami milikmu dan membalasnya.’
‘Ia ‘mati’ di tahun
keempat belas. Ia tak bisa apa-apa. Hanya tergolek lemah tak berdaya di
ranjangnya. Jadi aku yang kesini untuk menggantikan K. Mengambil origami
suratmu dan membawanya ke K. Lalu aku yang membacakan ‘surat’ itu kepadanya.
Mungkin ini yang di namakan dengan keajaiban, K yang tak bisa apa-apa kemudian
bisa menulis origami balasan untukmu. Hingga ia benar-benar meninggal di tahun
keenam belas, 2 bulan yang lalu.’
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tahun ketujuh belas, 30 tahun
“Aku sudah menikah K, 3 bulan yang lalu
dengan seorang gadis. Ia sangat baik, dan sifatnya sangat mirip denganmu.
Dia....yang sekarang akan kulindungi. K, selamat jalan. Aku akan terus merindukanmu.”
---OWARI---
*song : RAIN Ost. Kotonoha no Miwa