Senin, 25 Maret 2013

[Lyric] Devilish Of The PUNK - BORN

netami urami ANO KO mezawari
tsurushi shoushi jisaku jien
GURARI memai AITSU urayami
mukachi munashii jiko keiji

I would like to laugh
kizamu nijuuyoji no THE shou TIME
I would like to shine
itsu made soko ni itai no?

subete nuide ore ni notte oyoide kure

Majesty of the tomorrow
omae no soba ni iru mou nakanaide ii
Majesty of the tomorrow
hitori de inotten na yo terashite yaru kara

You are required

Is it visible to hypocrisy?
I have shouted instinctively
Therefore answer instinctively
Don't escape

In fact, I am a weak and deplorable living being
But your smiling face supports me
Therefore, I would also like to make you laugh
Enjoy yourself by music thoroughly

subete nuide ore ni notte oyoide kure
uneru kodou sono hitomi ni nani ga mieru?

Majesty of the present
omae no soba ni iru namida kawaitemo
Majesty of the present
hitori de inotten na yo kibou mo mirai mo
Majesty of the present
KIMI ni furete kanjitai dakara koko ni iru


source : karaoke-lyrics.net

Minggu, 24 Maret 2013

[Lyric] 桜Color - GReeeeN (Kanji + Romaji + Indonesian trans)

KANJI 

「 桜の花が咲きました」 この街でも同じ色で
 まだ見慣れない景色の中 寂しさこらえ 笑ってみるよ

 初めての街 初めての春 この街でこれからを歩いてく
 君としばらく 逢えなくなるけど 目一杯 精一杯 駆け抜けてくんだ

桜color『今はさよなら』 あの日から 追い続けてる 
咲くのならばこの街で そう決めて見上げた桜

すれ違う人ごみの中 飲み込まれそうになるけど
不安隠し早足になる 弱さをこらえ顔を上げるよ

あの夕焼けも あの坂道も この街には一つも無いけれど
君もどこかで 想ってるんだろう 目一杯 夢一杯 もがいてみせるさ

桜color 『また逢う日まで』 今はまだ振り返らずに
あの日から 想うアリガトウ 咲き誇れ 互いの場所で

僕にも 君にも 進むべき瞬間(トキ)があって
迷いそうな時には 手を伸ばすから

自分らしく生きるってこと 探し続けてる途中です
過去と未来(あす)を「いつか」の日まで 現在(いま)は帰らない場所

桜color まだ見ぬ日々を 照らすから 見つけに行こう
僕らまだ 何年先も 笑い合える さあ もういこう

桜color『忘れないから』 今はまだ始まったばかり
咲くのならばこの街で そう決めて見上げた桜

また逢えるから
 

ROMAJI
"Sakura no hana ga sakimashita" kono machi demo onaji iro de
Mada minarenai keshiki no naka samishisa korae waratte miru yo

Hajimete no machi hajimete no haru kono machi de "kore kara" wo aruiteku
Kimi to shibaraku aenaku naru kedo me ippai seiippai kakenuketeku'n da

Sakura color "ima wa sayonara" ano hi kara oitsudzuketeru
Saku no naraba kono machi de sou kimete miageta sakura

Surechigau hitogomi no naka nomikomare sou ni naru kedo
Fuan kakushi hayaashi ni naru yowasa wo korae kao ageru yo

Ano yuuyake mo ano sakamichi mo kono machi ni wa hitotsu mo nai keredo
Kimi mo dokoka de omotteru'n darou me ippai yume ippai mogaite miseru sa

Sakura color "mata au hi made" ima wa mada furikaerazu ni
Ano hi kara omou arigatou sakihokore tagai no basho de

Boku ni mo kimi ni mo susumu beki toki ga atte
Mayoi sou na toki ni wa te wo nobasu kara

Jibun rashiku ikiru tte koto sagashi tsudzuketeru tochuu desu
Kako to asu wo "itsuka" no hi made
Ima wa kaeranai basho

Sakura color mada minu hibi wo terasu kara mitsuke ni ikou
Bokura nara nannen saki mo warai aeru saa mou ikou

Sakura color "wasurenai kara" ima wa mada hajimatta bakari
Saku no naraba kono machi de sou kimete miageta sakura

Mata aeru kara


INDONESIAN 

"bunga sakura yang mekar" di kota ini dengan warna yang sama
aku masih tak akrab dengan pemandangan ini, tapi aku bertahan di kesepian ini dengan tawa

pertama kali di kota ini dan musim semi, "dari sini" aku berjalan menyusuri kota ini
aku tak bisa bertemu denganmu dalam beberapa saat
tapi aku akan meneruskan untuk melihatmu dengan sepenuhku

warna bunga sakura "selamat tinggal untuk sekarang" dari hari itu, aku kan terus mengikutinya
jika kota ini akan mekar, aku memutuskan untuk melihat kembali bunga sakura yang mekar

ketika melewati orang-orang di tengah keramaian, aku berpikir bahwa aku akan tertelan
aku menyembunyikan kecemasanku, dan bertahan pada kelemahan-kelemahan yang ku miliki sejak dulu

senja itu, bukit itu, di kota ini tidak ada satu orang pun yang sepertimu di suatu tempat
aku berusaha dengan mataku yang lebar tapi aku terus melanjutkan visi dari impianku

warna sakura "kita masih bertemu kembali" sekarang aku tidak akan melihat ke belakang
mulai hari itu, aku berpikir bahwa aku harus maju dengan kemulian yang penuh satu dengan yang lain dan terima kasih

aku tak tahu, tapi ada waktu untukmu untuk pergi karena ketika kau tersesat, aku akan mengulurkan tanganku kepadamu

apakah kau bermaksud untuk hidup dengan jalanmu sendiri ? ini hanyalah cara untuk tetap mencari
entah bagaimana dan besok dan masa lalu
kau tak dapat kembali sekarang

warna bunga sakura yang masih tak terlihat, mari kita temukan warna yang terang itu
meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kita, mari kita pergi sekarang dan mengeluarkan senyuman

warna bunga sakura yang baru saja ku mulai dari sekarang "tak melupakan"nya
jika kota ini akan mekar, aku memutuskan untuk mencari lagi dalam bunga sakura yang mekar

kita masih akan bertemu





source kanji : note.chiebukuro.yahoo.co.jp
source romaji : makikawaii-jklyrics.blogspot.com

Sabtu, 23 Maret 2013

[Fanfic] FLAME (Chapter 4)


Title                : FLAME

Author            : Lycoris

Language        : Bahasa Indonesia 
 
Fandom          : the GazettE (Reita, Ruki, Aoi, Kai, Uruha), SuG (masih Takeru), Alice Nine (Hiroto, Shou, Saga, Tora, Nao), D=OUT (Hikaru, Ibuki, Reika, Kouki), ViViD (masih Reno), Vistlip (Yuh, Tohya, Umi, Tomo), ScReW (Byou, Kazuki), Miyavi, Royz (masih Subaru), L'Arc en Ciel (masih Tetsuya), BORN (masih Ray), Matenrou Opera (masih Yo)
 
Genre             : Double F (Fantasy, Friendship), General, Supernatural 

Chapter          : 4

Rate               : Semi M

Declaimers     : hanya fic ini punya saya, tokoh-tokohnya cuma pinjam

Warning         : typos, abal, melenceng, aneh, membingungkan, OOC





Chapter 4 “DECISION”


Para Pangeran itu berjalan menjauh dari kebisingan. Menuju tempat khusus yang hanya disediakan untuk mereka. Membuka jati diri siapa mereka sebenarnya.
Menjadi penjaga dan petarung Shirayumi Music Gakuen.

---------------------

Ruangan dilantai dasar gedung barat SMG itu gelap, hanya sebuah jendela kaca besar yang menjadi jalan bagi cahaya matahari siang itu.
Di dalamnya telah ada setidaknya 9 pemuda yang berkumpul.
Sofa berwarna merah marun itu telah diduduki oleh sang ketua tertinggi Karasu.
Dan di sekelilingnya ada para Alumina yang dengan tenang berdiri di dekat pintu, para ketua Naraku duduk disamping kiri sang ketua tertinggi.
Calon pion Karasu berdiri di sisi lain pintu. Seorang anggota Naraku berdiri tak jauh dari ketuanya. Dan ketua muda Karasu tengah duduk dengan kaki kanannya ditekuk dan kaki kirinya diselonjorkan di dekat jendela kaca memandang kosong dalam keheningan yang telah mereka ciptakan.

Mereka yang berada di ruangan yang itu hanya berteman kesunyian. Semuanya masih diam, sedang menunggu orang penting lainnya untuk mulai memutuskan.


-----------------


“Kenapa kau buru-buru Aoi ? bukankah biasanya kau paling tenang dalam memutuskan sesuatu “ suara berat itu membuyarkan kediaman ruangan berukuran 20 m x 25 m itu.

Si empunya nama hanya memandang kosong ke sebuah foto yang terpampang di salah satu sudut ruangan. 

Sudah 3 menit kediaman menyelimuti mereka, rapat para Akai.
Aoi sang ketua sebelumnya telah memutuskan bahwa Ruki akan masuk ke Karasu.
Keputusan yang terburu-buru, karena biasanya pemutusan itu dilakukan 4 hari setelah upacara penerimaan. Tapi yang dilakukan sang ketua yang sangat jarang muncul di hadapan umum ini sebaliknya. Beberapa jam setelah upacara penerimaan ia mengadakan rapat dengan para Akai dan telah diputuskan bahwa si peraih peringkat tertinggi ujian masuk akan masuk ke Karasu, BESOK.

“Sebenarnya apa yang menyebabkanmu buru-buru seperti ini  ? “ sebuah pertanyaan lagi menyerangnya yang berasal dari wakil ketua 2 Nao.

Yang ditanyai belum menjawab lagi, ia mengerti mengapa para anggotanya begitu heran dengan keputusannya. Ia tahu akan apa yang akan terjadi setelah ini, ia sudah mengetahuinya sejak anak bernama Matsumoto Takanori itu masuk ke SMG yang penuh dengan prestasi ini namun menyimpan banyak sekali rahasia.

Ia mendesah perlahan.
Diruangan itu ia duduk paling ujung, di kanan kirinya para anggota Akai yang telah siap dengan jawaban yang akan terlontar dari mulutnya.

“.........”

“Mereka, telah bergerak...” ucapnya lamban.

“Eeeh ?? “ semuanya memasang ekspresi kaget.

“Tapi tapi tapi kan....” Tora sang wakil ketua yang tadi bertanya itu masih tak percaya dengan apa yang Aoi katakan.

Aoi meliriknya yang berada tepat disebelah kanannya.
“Pasti kalian semua berfikir bahwa mereka masih belum bergerak kan sejak kekalahan mereka beberapa bulan yang lalu..” kali ini Aoi berdiri lalu berjalan menuju ke sebuah foto yang tak jauh darinya.

Ia memegang figura berukuran sedang yang tergeletak menyender ke tembok. Beberapa yang ada disitu langsung menunduk.

“Pembalasan, tentu saja. Mereka yang telah mengambil Uruha masih belum membuat mereka  puas atas apa yang telah kita lakukan dengan mengambil kepingan ke-5..”

Aoi menatap lekat pada sebuah potret yang memperlihatkan seorang pemuda dengan rambut sebahu dengan senyumnya yang khas itu. 

“karena tak mungkin seterusnya bunga akan selalu bersama tangkainya, dan tak selamanya sang penjaga akan selalu melindungi kerajaannya”

Kata-kata itu terus terulang dikepalanya begitu ia menatap potret itu.
Dan seketika ingatan Aoi kembali ke masa beberapa bulan yang lalu.


Flashback

“Karena tak mungkin seterusnya bunga akan selalu bersama tangkainya, dan tak selamanya sang penjaga akan selalu melindungi kerajaannya” kata-kata itu terucap begitu saja dibibir Uruha. Aoi yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya karena email yang terus datang itu menatap sahabatnya sejak berumur 5 tahun itu yang duduk tepat disampingnya.

“Apa maksudmu Uru ? “tanya Aoi tak mengerti.

Uruha membalas tatapan Aoi sambil tersenyum, “Ah bukan apa-apa Ao”

“Kau aneh hari ini, apa kau sakit atau sedang memikirkan sesuatu ? “tanya Aoi lagi karena tak lega dengan jawaban Uruha.

Kini sorot mata Uruha segera ia alihkan ke salju yang mulai turun, ia mengeluarkan tangannya yg putih itu dan mengadahkan ke atas menyentuh butiran dingin putih bersih yang tengah jatuh.

“Aku hanya ingin kau terus melindungi orang-orang yang berharga bagimu, dan aku juga sebaliknya. Melindungi SMG, mereka, dan kau...” sorot matanya memandang ke langit malam.

“.....”

“Apa kau pernah merasa bahwa bakat kita ini adalah kutukan ?” Uruha berkata tanpa memandang Aoi.

Dan Aoi yang tak menduga pertanyaan Uruha kini hanya menatap jalanan.
Uruha tahu Aoi hanya akan terdiam, “Sebenarnya aku tak pernah mau menginginkan bakat ini, kekuatan ini. Sampai sekarang pun kalau boleh memilih aku ingin menjadi orang biasa, hidup seperti orang kebanyakan, bermain musik dengan kalian tanpa harus memikirkan pertarungan itu...” ia mendesah panjang memperlihatkan nafasnya yang kini berwarna putih karena dingin.

“Tapi sepertinya takdir berkata lain, kita diharuskan seperti ini. Bakat ini telah memilih kita sebagai tuannya. Dan aku ? kau tahu kan tanpa kau, aku tak akan mungkin bisa mengendalikan bakat ini Aoi 

Uruha tersenyum kecut.

“........”

Aoi memandang sendu jalanan. Ia tahu, ia sangat tahu. Sebagai ketua Akai sekaligus pemilik bakat ia tahu semuanya. Perasaan terdalam semua pemilik bakat yang tak pernah menginginkan itu semua. Apalagi Uruha, ia adalah salah satu pemegang bakat terkuat. Namun tanpa Aoi bakat itu akan membahayakan orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu Aoi selalu berada di sisi Uruha, sebisa mungkin ia mengawal Uruha, bahkan jika ia akan memasuki pintu dimensi itu sekalipun.                

“.......”

Keheningan telah mereka ciptakan.

“Bukankah aku sudah berjanji padamu Uru....” Uruha pun menoleh ke Aoi.
Aoi tersenyum simpul sambil menatap manik mata Uruha, “Bahwa aku akan selalu melindungumu, dan menjagamu. Sampai kau bisa mengendalikan kekuatan itu.”

Uruha menghela nafasnya lagi dan kali ini ia tersenyum mantap.

“Terima kasih Aoi untuk semuanya “ ujarnya dalam hati.

“Hei kalian sampai kapan terus berada disini, sebentar lagi salju akan turun dengan lebat. Ayo cepat pergi dari sini sebelum kalian menggigil” kedua sosok pemuda yang tadi diseberang jalan itu telah mendekat dan membawa payung dimasing-masing tangannya.
Uruha dan Aoi yang duduk-duduk di kursi panjang ditepi taman kota itu menatap kedua ketua Karasu  itu.

Uruha berdiri. “Dan sampai kapan kalian berdua selalu mengkhawatirkan kami” kini tangan Uruha telah mengambil payung yang masih menelungkup dari tangan Kai.

“Sampai kalian berdua mendengarkan kami..” ucap Reita yang kini memberikan payung kepada Aoi.

“Ini hanya salju, bukan mereka” Aoi beranjak berdiri. Dibukanya payung berukuran sedang berwarna putih itu.

“Hei, hei jangan bahas itu untuk saat ini, bukankah hari ini kita akan bersenang-senang” Uruha mulai berjalan dan meninggalkan ketiga sahabatnya itu.

Kai menyusul Uruha, membiarkan Reita dan Aoi yang masih dibelakang mereka.

“Sudahlah Uru, mereka berdua kan sama-sama pemikir meskipun keliatan diluarnya dingin. 
 Hahahaha” Kai tertawa dan menepuk pelan bahu Uruha.

Yang dibicarakan hanya menatap kedua sosok didepannya dengan jengkel.
“Sudahlah, ayo cepat kalian berdua. Sebelum kedai ramen itu tutup.” Uruha membalikkan badannya ke arah Reita dan Aoi.

“Baik, baik...” Reita mendengus pelan dan mulai berjalan ke arah mereka berdua.

Seperti malam-malam biasa, bila tidak ada “tugas” keempat pemuda yang berbeda kelas itu selalu menyempatkan keluar bersama. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui mereka adalah sahabat. Kerena memang Kai, Reita, Aoi, dan Uruha hampir tak pernah terlihat berempat. Kai dan Reita selalu terlihat berdua karena merupakan ketua A-1 dan Aoi yang ketua jajaran Senior hampir selalu terlihat berdua dengan Uruha yang merupan teman sekelas di B-1 serta Uruha yang menempati jajaran Senior.

Reita dan Aoi yang dingin itu selalu melunak bila sudah bersama Uruha. Entahlah Uruha memang seperti sosok kakak bagi mereka berdua, ia begitu menjaga keduanya serta Kai tentu saja. Ia hanya ingin melindungi orang-orang yang berharga dalam hidupnya terutama ketiga sahabatnya ini.
Dan malam ini mereka berempat memutuskan untuk makan dan beristirahat dari segala “kegiatan” berat yang hampir setiap hari harus mereka hadapi karena garis takdir itu.

Empat  sahabat itu pun berjalan bersama menuju kedai ramen langgana mereka  tanpa beban.
.
.
.
.
(2 bulan yang lalu)

Hari itu tepat sehari sebelum Uruha pergi ia masih bermain gitar bersama dengan Aoi tepat setelah pelajaran yang biasa mereka terima selayaknya murid kebanyakan. Bersama dengan Reita dan Kai, mereka berempat bermain musik bersama dan bernyanyi bersama, tak ada latihan seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berempat menginginkan hari itu full dengan musik.

Tapi tak disangka, ternyata gerbang dimensi  yang tak pernah terprediksi kapan terbukanya itu  telah terbuka dan mengharuskan mereka untuk masuk dan mendapatkan keping ke-6 Albeiro.
Dan sore itu ketika Uruha memutuskan untuk masuk Aoi masih ingat percakapn diantara mereka berdua.

Percakapan terakhirnya.

“Jangan kau pasang wajah dingin itu Aoi, atau juniormu akan lari ketakutan. Dan jika aku tak berada disampingmu lagi ku harap kau akan selalu memainkan gitarmu ini...” ucapnya saat itu.

Aoi yang kaget dengan pernyataan Uruha yang tak biasa itu menatap tajam Uruha “Apa maksudmu Uru ? jangan bilang seolah-olah kau tak akan kembali lagi. Dan ingat aku paling tidak suka itu !”
Uruha hanya tersenyum tanpa arti. Tentu saja Aoi menjadi sangat khawatir.

“Kau jangan pergi, biarkan Kifumi yang menggantikanmu” cegah Aoi yang khawatir karena gelagat aneh Uruha kepadanya.

Uruha memandang Aoi dalam, “Aku akan kembali, aku berjanji padamu Shiroyama Yuu sang Ketua Akai” ia tersenyum hangat seperti biasanya kepada Aoi yg raut wajahnya sangat jelas menampakkan kekhawatiran.

“Tapi Uru....” belum sempat Aoi berkata Uruha telah keluar dari ruangan Akai dan menuju ke ruang 
rahasia yang hanya para penjaga dan petarung SMG yang mengetahuinya.

“Jangan berkata seolah-olah kau bisa menepatinya Uru” Aoi berkata pelan dengan kepalanya yg tertunduk.

Ia tahu ada yang tak biasa dalam diri Uruha. Perasaanya yang kuat itu tak mungkin membohonginya.
Tapi ia hanya bisa berdoa agar para pion Reita dan Kai kembali dengan membawa kepingan ke-6 dan terutama kembali dengan selamat.
Ia berjalan mengikuti Uruha yang kini tak terlihat lagi.




Aoi masih duduk di atas kursinya, memantau para Akai yang “berjaga” di sisi-sisi SMG.

Deg.

Tangannya bergetar hebat, detak jantungnya telah berpacu dengan cepat seakan ia baru saja lari berkilo kilo meter jauhnya. Kepalanya berputar-putar. Ia pun terjatuh dari kursi berwarna hitam itu.

“Uruuuu----“ ia mendesah perlahan.

Segera ia mengumpulkan tenaganya, berlari menuju ruang rahasia itu.
Perasaan itu “Kau berbohong padaku Takashima Kouyou !!” suara Aoi dalam hati di tengah larinya.
Bahkan ketika tembok kokoh sudah berada di depannya ia masih berlari. Ia memejamkan mata merapalkan mantra, berusaha membuka tembok yang dibaliknya terdapat ruangan rahasia mereka.

Braaakk

Kini nafasnya yang tak beraturan yang bersuara.
Sunyi. Kedua mata coklatnya spontan tertuju ke depan, menyaksikan pemandangan yang telah terpampang di depannya. Ia berjalan dengan gontai menuju para Karasu dan Naraku yang tengah tertunduk. Tetes asin itu telah keluar tanpa Aoi sadari. Sosok itu, tubuh itu, ia menginginkan apa yang dilihatnya tak nyata, dan tak pernah ada. Bahwa sosok tubuh yang telah terbaring dingin yang berada di tengah lingkaran itu adalah sahabatnya, Uruha.

Ia mendekatinya.Kedua mata Uruha tertutup, tak dapat dirasakan bahwa jantungnya masih berdetak. Tubuhnya penuh dengan luka. Kedua mata Aoi langsung menuju ke sebuah luka menganga terukir jelas di dada Uruha.

“Uruha !!!” ia menjerit tertahan. Aoi jatuh terduduk di depan tubuh kaku Uruha, segera ia memeluk raga Uruha yang telah terpisah dari rohnya itu. Tak mempedulikan bajunya yang kini telah bercampur dengan darah Uruha.

“Bukankah kau berjanji untuk kembali Uru....” lirihnya di tengah tangisannya. Air matanya tak bisa ia hentikan. Sahabat yang telah dijaganya sejak kecil itu telah pergi meninggalkan dirinya dan mereka semua.

Kai dan Reita yang merupakan sahabat mereka hanya bisa memalingkan wajahnya tak ingin melihat 
sebuah adegan yang menyayat hati itu. Air mata telah jatuh sedari tadi. Reita meninju tembok disampingnya. Ia meringsut duduk dengan wajahnya yang ia topang dengan tangan kirinya itu. Ia meremas rambutnya yang blond. 

Kai hampir meraih bahu Aoi dengan tangan kanannya, namun ia urungkan. Ia ingin membiarkan Aoi melepaskan semuanya.  Kai tahu bahwa Uruha lah yang menjadi penyemangat hidup Aoi selama ini, dan Uruha pula lah mengapa Aoi mau menjadi ketua Akai. Dan berkat Uruha juga lah Aoi menerima dengan lapang dada tugas sebagai pemilik bakat. Begitu besar pengaruh Uruha bagi hidup Aoi. Dan sekarang Uruha telah pergi meninggalkannya, ia tak tahu apa yang akan terjadi kepada Aoi setelah ini.

Ketua tertinggi Karasu itu berjalan mendekati Reita yang masih mengeluarkan air mata namun berusaha ia tutupi. Ia menyenderkan kepalanya ke tembok di samping ketua muda. Matanya menerawang jauh.

“Kita gagal melindungi Uruha” Kai berkata pelan sambil memandang Aoi yang masih menangis memeluk Uruha.

Reita terdiam, pandangannya kosong. Dan ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Kai. Sepanjang hidupnya ini adalah sebuah kegagalan yang terbesar, gagal melindungi sahabatnya.

Tohya, Yo, dan Umi yang kembali dari dimensi itu setelah Ray kembali dengan mayat Uruha hanya  bisa duduk terkulai lemas dan shock. Terutama Ray, ia tak pernah menyangka bahwa Uruha meninggal dalam pertarungan itu. Karena sudah jelas di antara mereka berlima yang masuk, Uruha lah yang terkuat. Namun sepertinya musuh yang dihadapi Uruha bukan Kogurou yang sembarangan hingga pion terkuat itu harus kehilangan nyawanya.

Kini mereka semua hanya diam membeku begitu mengetahui bahwa Uruha telah meninggal dalam pertarungan. Dan luka di tubuh mereka pun tak mereka hiraukan. Karena yang lebih penting mereka telah kehilangan salah satu pemilik bakat terkuat Karasu. Pion terkuat Reita dan Kai telah hancur.

Suasana di ruangan itu kelam dan sunyi. Saga dan Kouki yang telah merapalkan mantra-mantra untuk menutup gerbang dimensi menunduk lemah. Mereka terdiam di tempat. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Hanya isakan kecil Aoi yang terdengar.

Tak ada yang menoleh begitu tembok yang ternyata pintu rahasia itu terbuka, memunculkan beberapa sosok yang familiar bagi mereka.
Ibuki, Byou, Reno, Nao, dan Tora memasuki ruangan itu. Dan dibelakang mereka salah satu orang yang berpengaruh di SMG berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuah kain berwarna putih pucat.

Semua yang ada di ruangan itu menunduk begitu tahu siapa yang datang.
Pria paruh baya itu berjalan menghampiri Aoi yang kini air matanya telah berhenti. Dipegangnya bahu kanan Aoi. “Kita tak pernah bisa memprediksi kapan kematian itu akan datang, dan ketika ia sudah datang ia tak pernah mengenal kata permisi....” ujarnya.

Aoi  menatap wajah Uruha, ia sudah sedikit tenang.

“Tak ada yang menginginkan takdir seperti kita ini, tidak ada. Namun kita tak pernah bisa melawan apa yang telah digariskan. Uruha telah melaksanakan takdirnya dengan sangat baik, sekarang ia telah tenang, tak ada lagi kecemasan akan pertarungan yang hanya akan membuat sebuah luka pada diri yang melakukannya. Kau tahu itu kan Aoi..”

Aoi masih diam. Kedua tangannya yang tadi memeluk Uruha segera ia kendorkan dan melepaskan pelukannya. Dengan perlahan ia menidurkan jiwa kosong itu ke lantai yang penuh dengan gambar-gambar dan tulisan mantra-mantra dengan bahasa kuno itu.

“Suatu saat kita akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Uruha dan teman-temanku yang 
telah lebih dulu tidak ada. Tapi sebelum Dewa Kematian itu datang kita harus memberikan sesuatu yang berharga yang berguna untuk orang banyak..” Pria paruh baya itu menatap jasad Uruha.

“Kematian telah menunggu kita semua tapi dengan waktu yang berbeda, begitu kan Tetsuya Sensei ?” Aoi menunduk lemah.

Tetsuya hanya mengangguk pelan. Kemudian kain putih pucat yang sedari ia pegang ia berikan ke Aoi.  Aoi menerimannya, kemudian ia membentangkan kain putuh itu, lalu ia tutupkan ke tubuh Uruha.

“Kau adalah Karasu hebat, kau adalah Akai yang kuat, dan kau adalah sahabatku yang berharga. Kematianmu tak akan pernah sia-sia. Beristiratlah dengan tenang Takashima Kouyou..” ia menutupi kepala Uruha. Kini tubuh itu telah tertutupi dengan sempurna. Kembali tetesan kecil itu terjatuh dari mata Aoi.

Aoi dan Tetsuya kemudian berdiri.
Reita dan Kai menghampiri mereka, Yo, Ray, Umi, dan Tohya mengikuti ketua mereka dari belakang. Kouki dan Saga telah berjalan menuju Aoi dan Tetsuya.
Dan para Akai yang sedari tadi hanya menunduk diam itu juga mengikuti mereka.
Mereka semua membuat lingkaran, melingkari tubuh Uruha. Membuat jarak sekitar 40cm dari kiri kanannya. Tetsuya yang merupakan Dewan Tua atau yang disebut Diversource itu berada tepat di atas kepala Uruha. Para Alumina telah berdiri berjejer di belakang Tetsuya. Reika yang berada tepat di belakang Tetsuya kemudian meletakkan tangan kanannya di bahu Tetsuya, Yuh dan Kazuki yang masing-masing berada di kanan kiri Reika memegang bahu Reika. Mereka memejamkan mata.
Sedangkan yang lain mendongakkan kepala dan memejamkan mata.

Mantra-mantra perlahan telah keluar dari mulut Tetsuya, tangannya ia ulurkan ke depan, tepat di atas kepala Uruha.
Kemudian sebuah cahaya putih atau yang lebih menyerupai kabut itu mengelilingi mereka semua. Tubuh Uruha telah tertutup oleh kabut itu. Mereka tak berkutik. Semakin lama mantra yang diucapkan Tetsuya semakin terdengar dengan jelas. Dan detik berikutnya kabut yang menyelimuti mereka menghilang dengan cepat.
Begitu kabut itu menghilang semua mata yang ada disitu terbuka.

“Dengan begini, tak akan ada yang ingat akan keberadaan Uruha. Semua kenangan tentangnya telah terhapus. Ia seakan tak pernah ada di dunia ini. Kecuali ingatan kalian.”






Aoi telah kembali dari lamunannya, namun kejadian 2 bulan itu akan terus membekas untuk selamanya.
Ia memutar tubuhnya, kedua kakinya telah membawanya kembali duduk di kursinya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
“Keputusanku sudah bulat, aku harus mengambil resiko. Meskipun kalian sulit menerima ini karena aku yang buru-buru tapi tak ada jalan, aku tak ingin kejadian itu terulang kembali..” ekspresi Aoi tegas namun ada raut kesedihan yang tergambar di matanya.

“Dan aku harap kau tidak berdebat lagi dengan Reita, Byou” Aoi beralih menatap Byou yang kini mengangguk dengan berat.” Karena ini jelaslah yang terbaik. Waktu kita tak banyak. Dan aku harap kalian juga tak keberatan dengan keputusanku” kemudian Aoi terdiam.
Ruangan Akai senyap kembali.

“Jika sang Raja sudah memutuskan maka para penasehat tak mungkin bisa melawan bukan.” Reno yang sedari tadi diam itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

“Bukankah sudah menjadi janji kita bahwa kita akan mematuhi apa pun perintah Raja, karena Raja tahu mana yang terbaik untuk rakyatnya.” Ibuki menimpali perkataan Reno.

“Dan Raja tak akan pernah membiarkan prajuritnya kalah.” kali ini Tora yang berbicara dengan mantap menatap Aoi.

Kini semua mata tertuju kepada Aoi, tatapan tegas terpancar dari mata para penjaga gerbang.
Aoi menghembuskan nafas lega, ia tersenyum simpul ke arah mereka. Kenangan perih itu seketika menjadi sebuah kekuatan besar untuk memenangkan pertarungan yg sudah terjadi selama hampir setengah abad lebih itu.

“Kau lihat Uru, aku akan berusaha melindungi semua orang yang berharga untukku. Dan aku harap anak itubisa menggantikan peranmu dengan sempurna”   Aoi berkata dalam hati.

Aoi beserta rombongan Akai kini berjalan menuju ruangan dimana para Karasu dan Naraku tengah berkumpul.
Subaru yang tengah berada di depan pintu itu membukakan pintu begitu Aoi dan para Akai mendekat. Ia menundukkan kepalanya.

Klek

Terdengar engsel pintu bergeser dari luar. Kai, Saga, Kouki, dan Shou melirik ke arah pintu, meskipun sebenarnya mereka sudah tahu siapa yang datang.
Yuh, Kazuki, dan Reika menundukkan kepala begitu Aoi berjalan ke dalam. Di belakangnya ada Nao, Tora, Ibuki, Byou, dan Reno yang kini menundukkan kepala begitu mereka melihat Kai.

Reita, masih memandang ke luar jendela.“Jadi, ia akan berdiri sebagai pion Karasu kan.” ujarnya tanpa menoleh.

Aoi yang kini telah duduk berseberangan dengan Saga dan Kouki itu menjawab dengan tenang, “Tanpa aku berkata pun sepertinya kau juga sudah tahu Rei..”
Reita terdiam.

“Jadi ?” Kai menatap Aoi.

“Besok. Aku tak ingin membuang waktu lagi.” Ucap Aoi menatap Kai, Kouki, dan Saga bergantian. 
Ia kemudian mengambil duduk di depan Saga dan Kouki.

“Mereka telah bergerak. Aku bisa pastikan itu.” lanjutnya.
Saga dan Kouki saling berpandangan. “Bukankah mereka masih belum ada pergerakan Ao..” Kouki ambil suara.

“Itu hanya siasat mereka saja untuk mengelabui kita. Dan begitu kita lengah mereka akan melenggang masuk dan mengambil kepingan-kepingan Albeiro yang dengan susah payah telah kita dapatkan” Aoi mendesah pelan.

“Jadi mataku telah digelapkan oleh kabut hitam mereka” Kouki bergumam.

“Sekarang bukan saatnya menyesali itu semua. Aku tak akan membiarkan akan ada lagi orang yang bernasib sama dengan Uruha.” Aoi merapatkan kedua tangannya.

Suasana di dalam ruangan itu menjadi semakin kuat. Berkumpulnya para pemilik bakat tertinggi telah membuat siapa saja yang berada disekelilingnya bisa merasakan kekuatan yang luar biasa, seakan saling beradu dalam diam. Namun kekuatan itu belumlah cukup untuk mereka , para petarung dan penjaga gerbang masih menunggu sang penyempurna untuk menjadikan benteng di balik nama Shirayumi Music Gakuen semakin kuat, dan mendapatkan apa yang telah dinanti selama ini..
Kai memandang Reita yang masih terduduk di dekat jendela yang besar itu.


Reita menolehkan kepalanya, “Panggil Matsumoto Takanori !”


----Chapter 4 END----
  
dan author pun lupa kalo ada Yo, Ray sama Tetsuya -___-
udah ditambahin kok di fandom (itu fandom apa cast ya /eh )
untuk cast emang sengaja banyak soalnya pengen ngeluarin para jrocker XD
tapi kayaknya gak semua personilnya keluar lho
hayoooo untuk Uruha udah author tampilin kan,
dan lagi-lagi ank Gazetto ada yang mati
ya udah deh ini aja, chapter 5 on going kok
makasih buat yg udah baca meskipun sider alias silent reader -___-

byee byeee  

Rabu, 20 Maret 2013

No longer exist

Kutajamkan kembali telinga ini
sayup sayup terdengar disana
suara parau nan serak yang menggema jauh
dan....langkah kaki ?


itu bukan sosok yang selalu menganggu alam bawah sadarku
bukan sosok yang membawa payung di bawah hujan hari itu
bukan sosok yang dengan lembutnya tersenyum dalam hujan
bukan sosok yang selalu membawa kehangatan dalam irama sayu musik tetesan hujan


hanya tetesan hujan
jatuh dan membekas ke tanah yang basah
mencekram nadi kepiluan akan kesepian
memeras setiap tetes air yang jatuh yang tak disengaja


tatapan kosong tanpa arti
tak ada maksud dalam mendung di hari yang mendingin
hanya bias samar yang terpancar dari tengahnya
mencoba memelukku dalam ketenangan di tengah hujan


tipis dan samar
selamat tinggal
hanya jemari-jemari yang melambai ringan
dan menutupi yang jatuh bersama tetesan di tengah hujan
 

Rabu, 13 Maret 2013

Udah lama gak curhat di blog sendiri,
dan kali ini saya mau curhat soal hal yang sangat penting yang terjadi setelah konser the GazettE Final MELT kemarin tanggal 10 Maret !!
sebagian pasti udah tau kan beritanya soal apa
tapi tetep sejak denger tu berita sampek sekarang rasanyaa~~ aaaarrrrrggghhh >//////<


oke, dimulai dari pengumuman perilisan DVD konser mereka kemarin, the GazettE LIVE TOUR12-13 FINAL MELT Live at 03.10 SAITAMA SUPER ARENA di tanggal 26 Juni
nabuung nabuuung nabuuuung mulai sekarang !!



lalu perilisan single terbaru mereka setelah single Remember The Urge 2 tahun lalu FADELESS di bulan Agustus belum dikonfirmasai tanggal perilisannya.


dan ini yang ditunggu tunggu !
Album ke-7 the GazettE dengan judul BEAUTIFUL DEFORMITY siap meluncur pada bulan Oktober, dan ini berjarak 14 bulan dari album ke-6 mereka DIVISION, dan sebuah tour nasional telah menanti mereka dengan judul LIVE TOUR 13 ‘BEAUTIFUL DEFORMITY’ MAGNIFICENT MALFORMED BOX dan tour mereka dimulai tanggal 2 November di Yokosuka dan akan berakhir tanggal 28 December di Sendai dengan total 23 show !!






sudah pasti saya langsung pengen beli semua rilisan mereka yg akan datang !! tapi ya gak mungkin lah, meskipun gitu nabung nabung nabung buat beli salah satu diantaranya *semoga dan amin* o(>/////<)o
dan sudah tentu berharap Album mereka itu dirilis kembali di Indonesia !! *amiiiiiiiiiiinnn*
 

lalu mereka yang bakal ke Rusia di bulan Agustus dalam rangka KUBANA Festival !!

terus kapan mereka ngadain World Tour dan Indonesia masuk diantaranya ????!!
dan ini masih jadi pertanyaan terbesar buat semua fans mereka.
dan kayaknya saya dan para Sixth Guns yang lain harus lebih banyak berdoa buat mereka. 

baiklah, cukup disini curhatan saya
sampai jumpa di curhatan yang lainnya 
byee byeee ^w^)/



Jumat, 08 Maret 2013

[Fanfic] FLAME (Chapter 3)



Title                : FLAME

Author            : Lycoris

Language        : Bahasa Indonesia 

Fandom          : the GazettE, SuG, Alice Nine, D=OUT, ViViD, Vistlip, ScReW, Miyavi, Royz

Genre             : Double F (Fantasy, Friendship), General, Supernatural

Chapter          : 3

Rate               : Sementara masih M

Declaimers     : hanya fic ini punya saya, tokoh-tokohnya cuma pinjam

Warning         : typos, abal, melenceng, aneh, membingungkan, OOC





Chapter 3 “SENSE OF ‘YOU’ “

“Akhirnya kita keluar—...” Takeru merenggangkan kedua tangannya. Disampingnya Ruki lagi-lagi hanya mendumel tidak jelas dengan tingkah polah Takeru ini.

Sedangkan Hiroto dan Hikaru telah jalan di depan menuju kantin sebelah utara SMG.

“Dasar kau ini setiap istirahat saja paling bersemangat tapi kalau sudah di kelas saja pengeluh“ Ruki berkata pelan sambil melihat ke punggung Hikaru dan Hiroto yang telah jauh di depan mereka.

“Nani ? apa kau berkata barusaan Ru ? “Takeru yang tadi mendengar Ruki memandangnya.

Buru-buru Ruki berjalan ”ie, ayo cepatlah sebelum kursi kantin terisi semua..”

Perasaan tadi ia mendengar Ruki berkata batinnya, ah sudahlah ia pun sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Ruki yang telah berhasil mengejar kedua teman di depannya.

 


Di sisi lain lorong yang sangat jarang bahkan tak dilewati para siswa itu ada seseorang yang memperhatikan keduanya  lebih tepatnya memperhatikan Ruki.

“Lagi-lagi kau memperhatikannya Ao..” suara seseorang yang berada dibelakangnya.

Pemuda itu tak menoleh masih intens melihat Ruki yang semakin menjauh. “Aku hanya masih ragu untuk menempatkannya ke Karasu bersama denganmu Kai. Rasanya bakatnya itu belum ia asah dan aku takut malah menjadi beban kalian.Tapi jika ia tak kumasukkan maka Karasu----” ia tak melanjutkannya.

Pemuda yang bernama Kai itu mendekatinya, dan matanya tertuju ke handband berwarna merah yang melingkari lengan kirinya itu “Aku tahu, meskipun kau menjadi Ketua Akai tapi sebenarnya hatimu masih berada di Karasu kan Shiroyama Yuu..”

Yang ditanya malah sekarang berganti menyenderkan punggungnya di tiang penyangga lorong yang menghubungkan gedung Utara dengan Gedung Timur itu.

“Tak mungkin aku tak peduli dengan Karasu, aku sangat mengkhawatirkan SMG sekarang. Bukan hanya sekarang Karasu sedang dalam tahap lemah namun pionmu juga semakin sedikit sedangkan kau dan Reita harus bertahan. Tapi kekuatan “mereka” semakin besar..” Pemuda yang bernama Shiroyama Yuu atau yang lebih dikenal dengan Aoi itu mendesah.

Kai terdiam.

“Aku ingin mengganti posisi Akai yang hanya sebagai penjaga menjadi seperti Karasu dan Naraku..”
Tatapan Aoi jauh sejauh keinginannya selama ini.

Belum sempat Kai berkata, tiga orang pengawal ketua atau yang disebut dengan Alumina itu datang menghampiri mereka.

“Maaf Aoi-sama, sepertinya rapat jajaran Senior akan segera dilangsungkan...” ucap salah satu mereka yang berambut coklat muda panjang yang ia gerai ke bahu kirinya.

Kai tersenyum tipis, dan mengedipkan dagunya mengisyaratkan Aoi untuk mengikuti para Alumina.

“Baiklah Yuh aku akan segera kesana, sekarang kalian bisa istirahat” Aoi beranjak dari tempatnya tadi.

Kazuki, Reika, dan Yuh menunduk ke arah Kai, mereka diam ditempat.

“.....”

Kai melihat ketiga Alumina itu dengan senyumnya “Reika, apa persiapan Naraku sudah siap ?” ia sedikit mendekat untuk mempersempit jarak diantara mereka berempat.

Reika menundukkan kepala “Sudah siap Kai-sama. Hanya saja...”terbersit kekhawatiran di wajahnya.
Kai yang melihat gelagat itu menjadi sedikit khawatir namun dengan ketenangan yg sudah menjadi ciri khasnya itu bertanya “ada apa Reika ? apa ada yg kurang dan terjadi sesuatu ?”

“Naraku masih menunggu keputusan dari Aoi-sama dan Karasu tentang anak yang bernama Matsumoto Takanori. Selain itu seperti pengamatan Kouki-san dan Saga-san bahwa pergerakan mereka masih seperti 2 bulan yang lalu. Mereka masih diam..” Reika masih menunduk.

Kai tersenyum lega, “Syukurlah, disaat seperti ini kita bisa sedikit bernafas lega. Terus pantau mereka...”

Mereka diam.

“....”

“Oh ya Kazuki..” Kai memandang ke arah Kazuki

“Hai Kai-sama...” Kazuki menunduk.

“Sepertinya minggu depan kau akan dikirim lagi bersama dengan Yuh dan Shou..” Kai tersenyum diakhir kalimatnya.

Yuh yang mendengar namanya disebut ikut tersenyum.

“Arigatou Kai-sama...” kata Yuh dan Kazuki bersamaan sambil menunduk.

“Heii heii sudah kubilang jangan memanggilku dengan kata itu. Aku tak menyukainya, panggil saja Kai. K-A-I “ Kai mengeja namanya disusul dengan senyuman yang memperlihatkan dimplenya.
Reika, Yuh, dan Kazuki buru-buru membenarkan kata-katanya “Hai..Kai”

Memang Kai adalah pemimpin Karasu yang paling ramah. Berbeda dengan Reita yang dingin itu.

“Baiklah kalau begitu, sekarang kalian ikut denganku. Temani aku makan” tanpa mendengar adanya persetujuan dari ketiga Alumina itu Kai sudah berjalan.

Reika, Yuh, dan Kazuki memang sudah hafal betul terhadap sikap dan sifat ketua mereka ini hanya mengikuti dari belakang.



Di kantin utara SMG

“Yattaa— akhirnya aku akan makan...”
Siapa lagi kalau bukan Takeru yang berisik. Ruki, Hikaru, dan Hiroto hanya bisa berpura-pura tidak mendengarnya.

“Bisakah kau diam sebentar saja Take-chan..”Hikaru hampir saja menyodorkan botol kecap ke mulut Takeru yang tak bisa diam itu.

Takeru yang melihatnya langsung menutup mulutnya ”Kau jahat sekali Hikachu..”

Selagi mereka adu mulut pandangan Ruki tak sengaja menangkap sosok pemuda dengan noseband yang melilit hidungnya di kejauhan yang sedang membaca novel di bawah pohon tak jauh dari tempatnya duduk. Entah mengapa lagi-lagi ia merasakan perasaan yang sama ketika ia berhadapan dengan Miyavi tadi.

“Dia adalah salah satu siswa kelas A-1. Namanya Suzuki Akira atau yang bisa dipanggil Reita...” Hiroto tiba-tiba nyeletuk begitu menyadari pandangan Ruki ke arah Reita yang di dekatnya terdapat seorang pemuda lain.

Takeru dan Hikaru yang daritadi adu botol kecap itu ikut-ikutan menyimak Hiroto.

“Kau sepertinya hafal semua nama orang populer disini...”Takeru memandang Reita juga.

Hiroto yang memainkan minumannya itu menjawab “aku tahu dari majalah SMG, dan dari kakak sepupuku...”

“Kakak sepupu ???” kata bertiga bersamaan setengah kaget dan setengah berteriak.

“Diamlah, ini tempat umum tahu...” Hiroto menutup kedua telinganya.

“Habisnya kau tak pernah bercerita soal itu..” kali ini giliran Ruki.

“Memang kalian pernah bertanya ?” ia mulai melepaskan kedua tangannya dari telinganya.

“Tidak sih...” Hikaru menatap  Hiroto.

“Sekarang itu tidak penting, nanti akan aku kenalkan kalian semua kepada kakakku, sekarang aku akan menjelaskan orang-orang penting bin terkenal disini...” mata Hiroto menatap bergantian ketiga temannya.

Seolah menjadi murid Takeru, Ruki, dan Hikaru serius menyimaknya.

Hiroto mulai menjelaskan sambil sesekali menatap Reita.

 “Suzuki Akira atau Reita, peraih peringkat tertinggi ujian masuk tahun lalu. Selama hampir setengah abad sekolah ini didirikan nilainya yang paling tinggi diantara semua peringkat tertinggi yang pernah ada.”

“Sugoi...” ucap Takeru.

“Tentu saja ada dua kesempatan emas menghampirinya, ikut menjadi jajaran Senior atau masuk ke kelas spesial. Dan seperti yang kita ketahui dia memilih kelas spesial.”

“Sebenarnya apa bedanya kelas spesial itu dengan kelas-kelas yang lain ? sepertinya itu kelas yang keren...”Hikaru menyela.

“Sebentar...” Hiroto meminum jus wortelnya.

Hiroto menatap ketiga temannya bergantian “Kelas A-1 atau kelas spesial. Sepengetahuanku itu adalah kelas dimana bukan orang-orang sembarangan yang bisa menempatinya. Dikelas itu hanya ada 10 orang. Dan bisa diprediksi bahwa ke 10 orang itu merupakan orang-orang terhebat di SMG ini. meskipun banyak juga yang beranggapan bahwa kelas spesial itu adalah kelas yang dipenuhi orang-orang yang sombong, karena mereka sangat jarang terlihat berbaur dengan yang lain.”

“Tapi anggapan itu juga tidak sepenuhnya benar, pemimpin kelas itu Uke Yutaka atau Kai berusaha untuk berbaur dengan siswa yang lain dan ia juga meminta para penghuni kelas A-1 untuk seperti itu. Dan predikat kelas sombong pun berangsung-angsur hilang.”

Mereka bertiga mengangguk pelan.

“Lanjut soal Reita...” Hiroto memandang jauh ke arah pemuda bernoseband itu.

“Di awal masuk dia langsung memperoleh nilai tertinggi satu angkatan. Selain itu dia sudah 3 kali menjadi juara di berbagai kompetisi bassist internasional. Tapi sayangnya dia tak begitu ramah kepada orang lain—“

“Dia juga menjadi ketua termuda di A-1..” tiba-tiba ada seseorang yang menyaut penjelasan Hiroto
Mereka berempat pun menoleh, dan seorang pemuda dengan rambut perak dengan highlight hitam  tersenyum ke arah mereka.

“Subaru niisan..”celetuk Hiroto sedikit kaget. Dan ketiga temannya masih bingung memperhatikan keduanya.

Pemuda yang bernama Subaru itu tersenyum lalu duduk disamping Hiroto.

“Ah, perkenalkan namaku Subaru dan aku kakak sepupu Mpon ini. Yoroshiku..”

“Yoroshiku” Ruki, Takeru, dan Hikaru mengangguk dan berkata bersamaan.

“Kau ini muncul tiba-tiba, mengagetkanku saja..”Hiroto sedikit bergeser.
Subaru yang membawa sekaleng minuman ringan itu tertawa ”hahaha siapa suruh kau cerita kepada teman-temanmu tanpa mengajakku ikut serta. Ada banyak hal yang belum kalian ketahui disini..”

“eh...” mereka berempat saling pandang.
Subaru yang mengetahui keadaan yang membuat bingung mereka itu buru-buru ia mengibaskan tangannya di depan, “akan aku ceritakan, sudah wajah kalian jangan bingung seperti itu, terlihat lucu”

“Ah iya pasti kau Ruki kan peraih peringkat tertinggi ujian masuk...” Subaru menatap mata Ruki.

“Lalu kau Takeru peraih peringkat tertinggi ujian masuk juga” matanya beralih melihat Takeru yang sedang memakan permen lollipopnya.

“Dan kau Hikaru, guitarist yang pernah menempati peringkat ketiga kontes guitarist se Jepang tahun lalu” gantian pandangannya beralih ke Hikaru.

Mereka bertiga hanya tersenyum mendengar Subaru yang mengenal mereka. Pasti Mpon yang sudah cerita, pikir mereka.

Tak berapa lama setelah itu makanan pesanan mereka pun datang.
Sambil mereka makan makanan pesanan mereka tadi, Subaru murid kelas B-3 itu mulai menceritakan apa saja yng tidak mereka ketahui tentang SMG.

“Reita, orang yang misterius. Tak ada yang banyak diketahui tentang dia, hanya segelintir orang yang bisa berbicara dengannya. Jika kalian menjadi anggota Akai atau Naraku bahkan jika bisa masuk ke Karasu baru kalian akan bisa mengenalnya..” Subaru memelankan suaranya begitu ia menyebut Akai, Naraku, dan Karasu.

Ruki, Hiroto, Takeru dan Hiroto saling pandang. Mereka berempat tak tahu apa itu Akai, Naraku, dan Karasu.

Menyadari wajah cengo keempat adik angkatannya  buru-buru Subaru bicara lagi namun dengan volume yang lebih kecil.

“Memang kalian pasti tak tahu apa itu Akai, Naraku dan Karasu. Baiklah, Akai..” ia mengambil jeda.

“Akai adalah sebutan bagi jajaran Senior, Naraku sebutan bagi kelas A-2, dan Karasu tentu saja sebutan bagi kelas spesial A-1.”

“Memang banyak yang tak mengetahuinya, karena memang hanya orang-orang tertentu yang tahu. Dan jangan sembarangan menyebutkan nama itu. Bisa dibilang itu adalah nama keramat disini. Sudahlah nanti kalian akan tahu bila kalian masuk ke salah satunya.”

Subaru menyeruput tetes terakhir minuman ringannya.

Kali ini pandangan Ruki beralih kepada seorang pemuda yang berada tak jauh dari Reita.
Subaru yang menyadarinya kembali bercerita.

“Reita, menjadi ketua termuda di Karasu karena ada sesuatu hal yang hanya diketahui oleh ketiga nama yang aku sebut tadi. Selain Reita ada Kai yang juga ketua Karasu. Ia 2 tahun diatas kalian. Dan kalian lihat laki-laki yang sedang memakai earphone itu...” Subaru menunjuk dengan matanya.
Mereka berempat mengikuti arah tatapan Subaru.

“Itu adalah Tomo, dia anggota Karasu yang mungkin akan segera diresmikan oleh Reita. Dan—” belum sempat Subaru meneruskan ceritanya, Kai beserta para Alumina telah duduk 3 meja dari mereka.

Hiroto yang dapat melihat Kai dengan jelas itu langsung mengerti mengapa Subaru tidak meneruskan ceritanya.

Takeru, Ruki, dan Hikaru yang duduk membelakangi Kai hanya bisa kembali bingung.

“Itu Kai kan...” Hiroto menatap Subaru.
Subaru yang masih menatap Kai hanya bisa tersenyum lalu menoleh ke Hiroto.

“Ya, Uke Yutaka atau Kai...”

Ketiga teman Hiroto menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang pemuda berambut panjang yang dikepang kuda ke belakang bersama ketiga penjaga Ketua Senior yang tadi pagi mereka lihat sewaktu upacara penerimaan.

“Dialah ketua Karasu bersama Reita...” jelas Subaru.

Mereka bertiga hanya ber ‘oh’ bersama.

Dan tak lama kemudian muncullah orang-orang yang baru pertama kali mereka lihat yang sedang berjalan menuju kantin utara ini. Sepertinya kantin utara menjadi basecamp bagi orang-orang populer di SMG, pikir Ruki.

“Kalian lihat mereka ?” Subaru mengarahkan pandangannya kepada dua orang sosok pemuda yang sedang berjalan menuju tempat mereka berada.

Keempatnya pun menoleh pelan.

“Mereka berdualah ketua A-2, Kouki dan Saga”

Pandangan mereka kembali ke sang pencerita.

“Kouki dan Saga cukup ramah, jadi jangan segan untuk menyapa mereka...” seketiga ingatan Hikaru kembali ke 2 minggu yang lalu ketika ia membaca surat kabar. Ada foto salah seorang diantaranya.

“Ah, aku tahu salah satu dari mereka.” ucap Hikaru setelah ingat.
Kini gantian arah mata mereka ke sang guitarist itu.

“Sekitar 2 minggu yang lalu ketika aku tak sengaja membaca surat kabar milik ayah, aku melihat foto salah satu diantara mereka. Sakamoto Takeshi. Itu nama asli dia kan..” Hikaru menatap Subaru yang berapa tepat didepannya.

Subaru mengangguk kecil.

“Memang berita apa Hikachu ?” Takeru bertanya.

Hikaru berusaha mengingatnya sambil menggaruk-garuk rambut sampingnya, “Kalau tidak salah dia menjadi juara 1 di kompetisi bassist se-Asia Timur.” Ucapnya sedikit ragu.

“Benar !” Subaru menanggapi pernyataan Hikaru denga mantap.

“Heee ?? Hebat “ Takeru membulatkan matanya.

Subaru hanya tersenyum simpul, “Masih banyak kompetisi-kompetisi yang tak kalian ketahui namun besar di luar sana, dan sekolah ini hampir selalu menjadi langganan juaranya.”

Tampak kekaguman terpancar ke wajah mereka, tapi tidak dengan salah seorang diantara mereka.

“Akan kulanjutkan” Subaru menghela nafas, “Dan Kouki, raihan prestasinya juga tak kalah dari Saga, namun ia kebanyakan dibalik layar, yap dia menjadi penulis lagu dan komposer hampir 50 % dari semua lagu yang dibawakan para vocalist SMG. Dan dia juga termasuk vocalist.”




Entah mengapa setiap kehadiran orang-orang itu perasaan Ruki semakin aneh. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Takeru, Hiroto dan Hikaru yang dibuat kagum oleh cerita Subaru itu tak menyadari kediaman Ruki.
Kini mata mereka bertiga beralih memperhatikan Saga dan Kouki yang kini telah mengambil tempat duduk.
Mereka terlalu asyik mencuci mata, sedangkan Subaru menunduk begitu matanya bertemu dengan mata Kouki yang telah duduk berjarak 2 meja darinya. Hikaru dan yang lain tak menyadarinya. Dan sudah bisa ditebak kalau Subaru bukanlah siswa sembarangan disini.



 
Reita, ia menyadari kalau anak itu ada didekatnya. Tapi bukan Reita bila ia tak bisa menampakkan raut dingin dan misterius kepada semua orang. Sebisa mungkin ia tetap menjaga identitasnya di depan umum. Biarkan saja Ruki mengetahui semuanya jika waktunya sudah tiba. Sekarang Reita hanya ingin “merasakan bakat” dari peraih peringkat tertinggi itu. Ia ingin mengukur sebesar apa bakat yang tersembunyi yang telah terkubur selama 18 tahun itu.

Matanya terpejam sesaat, dihembuskannya nafasnya dengan lirih. Ditutupnya novel setebal 359 halaman itu. Punggungnya yang menempel di pohon rindang segera ia lepaskan. Beberapa saat kemudian  kedua kakinya telah berhasil menopang tubuhnya yang kekar. Tomo yang melihat Reita itu segera bangkit  dan berjalan menghampirinya.
Satu anggukan telah menjadi isyarat bahwa Reita dan ia harus meninggalkan tempat itu dan menuju ke ketua yang lain. Kai.




Kai yang tengah duduk berhadapan bersama Yuh, Kazuki, dan Reika itu diam. Mereka tak ingin membicarakan hal-hal yang hanya mereka sendiri yang tahu. Terlalu ramai oleh siswa biasa.
Dan bukan Kai kalau dia tak bisa merasakan Ruki, begitu pula denga  para Alumina yang bersamanya itu meskipun dalam tahap kecil. Karena tentu saja hanya pemilik bakat tertinggi dan terkuat yang bisa merasakan bakat lain yang berada disekeliling mereka, dan dalam kasus ini Kai bisa merasakan betapa kuatnya bakat yang ada dalam diri Ruki.

Mereka masing-masing memesan segelas cappucino dingin. Keempat orang itu mencoba berbaur dengan keramaian, membicarakan hal-hal umum di SMG untuk menutupi siapa sebenarnya mereka. Seperti biasanya.
Namun kehadiran mereka tentu saja menjadi perasaan lain yang kini tengah Ruki rasakan. Dan mereka memang sengaja melakukannya, tak ingin mereka tutupi.




Saga yang duduk berhadapan dengan Kouki memandang ke sembarang tempat. Ditopangnya dagu runcingnya itu, matanya bertemu dengan mata Shou yang tengah berjalan menghampirinya dan Kouki.

Kouki masih menatap intens punggung seseorang yang duduk berjarak 2 meja darinya. Siapa lagi kalau bukan Ruki. Anak itu terlalu menarik baginya, sehingga kedua matanya tak bisa lepas darinya. Saga yang melihatnya buru-buru menyodorkan segelas besar milk shake. Ia hanya berusaha membuatnya terlihat tak mencurigakan.

“Hentikan pandanganmu, bisa-bisa orang-orang biasa disini melihat pandangan anehmu itu..” Saga yang duduk beradu punggung dengan Ruki meliriknya dengan ekor matanya.

Dengan santai agar tak menimbulkan kesan aneh pada siswa-siswa yang lain yang sedang melihatnya Kouki beralih menatap milk shake pemberian Saga. “Kau sadar kan bukan hanya aku saja yang “memandangnya” seperti itu..”

Kini kedua mata Saga menatap Reita yang sedang berjalan ke arah kantin.

Kouki mengaduk-ngaduk minumannya “Ada Reita, Kai, ketiga Alumina, dan mungkin Shou...” dagu Kouki terangkat begitu Shou telah duduk disamping Saga.

Dengan tenang Shou melirik Kouki. “aku bisa merasakannya meskipun itu kecil, sepertinya orang tua itu benar tentang seorang yang akan datang untuk menyempurnakan kita setelah Uruha pergi...” ia menundukkan kepala menatap sneaker putih biru miliknya.

Uruha, mendengar nama itu Kouki dan Saga terdiam.




“Para Akai tengah rapat sekarang, mungkin akan segera diputuskan sekarang...” suara Kai membuat Reita yang telah berdiri disampingnya itu menatap mata Kai yang tengah duduk itu.

Mengerti dengan apa yang dibicarakan segera Reita menatap ke depan  dan berjalan menjauh dari tempat itu.

Kai yang mengerti isyarat itu segera berdiri disusul para Alumina dan Tomo yang berjalan di belakangnya.

Kouki yang tadi menatap Kazuki di kejauhan menganggukkan dagunya.
Ia beranjak, Saga dan Shou yang sudah hafal isyarat itu ikut beranjak dan mengekor jauh dibelakang Reita.




Anak itu, Ruki melihatnya. Melihat kedua bola mata hazel Reita bertemu dengan kedua matanya. Entah desir apa yang bergejolak di dadanya, sangat kuat namun aneh.  Dan ketika Reita berjalan melewatinya perasaan itu semakin kuat dan kuat, rasanya akan ada yang meluap. Dan Ruki hanya bisa duduk diam mematung dengan itu semua.



 
Reita melewatinya, ia sudah menatap Ruki sejak ia berada disebelah Kai. Ia memang merencanakan sesuatu terhadap anak itu. Bukan sesuatu yang negatif tetapi sesuatu yang ingin Ruki menyadarinya. Menyadari bakatnya yang diturunkan sejak ia dilahirkan. Ekor mata Reita melirik Ruki begitu ia berjalan tepat disampingnya. Dan begitu pula dengan apa yang Ruki rasakan, perasaan kuat bergejolak di dadanya.



Di kantin utara SMG bukan hanya mereka penghuninyanya, banyak siswa biasa yang  sengaja berada disana hanya sekedar untuk melihat para Pangeran berkumpul disitu. Karena memang di kantin utara lah yang menjadi basecamp bagi Kai dkk. Dan menjadi sesuatu yang langka para siswa biasa yang didominasi wanita itu bisa melihat Reita disitu.

Meskipun baru beberapa detik pemilik rambut blond berada disana, namun bagi mereka sudah memuaskan mata karena Reita hampir tak pernah memunculkan dirinya, hampir sama dengan sang ketua Senior Aoi. Begitu para Pangeran SMG meninggalkan kantin fangirls mereka seakan kecewa. Tapi begitu melihat Reita yang berjalan di depan lalu disusul oleh Kai dan para Alumina beserta Tomo dan tak jauh dibelakangnya ada Kouki beserta Saga dan Shou yang mengekor semua orang yang ada disitu seakan melihat para model yang sedang berjalan di catwalk. Bedanya yang ada didepan mereka adalah segerombolan pemuda yang menjadi Pangeran di SMG.


Subaru yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung undur diri begitu melihat Kouki beranjak dari kantin.

“Sepertinya aku harus pamit, aku ada urusan yang harus aku selesaikan..” Subaru sudah berdiri dari kursinya.

Hiroto, Takeru, dan Hikaru menatap Subaru, sedangkan Ruki...ia masih mematung.

“Lain kali aku akan menyambungnya...”

“Namun bila kalian ingin mengetahui lebih jauh rahasia apa yang sekolah ini simpan masuklah kalian 
ke jajaran Senior atau kalau beruntung ke Naraku..” ia sedikit berbisik mengucapkannya dan itu yang membuat keenam mata yang memperhatikannya hanya bingung.



Subaru telah berjalan menjauh dari mereka dan Ruki masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia belum bisa menenangkan pergulatan hatinya. Langsung saja pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab memenuhi otaknya. Perasaan yang sama ketika ia maju tadi pagi sewaktu upacara penerimaan. Seakan banyak pasang mata sedang memperhatikannya, tapi barusan yang terjadi lebih besar lagi. Lebih banyak mata yang memperhatikannya dan desir aneh itu semakin kuat pula.
Dan pandangan itu....sudah kedua kali untuk hari ini ia mendapati pandangan aneh itu, yang pertama tadi ketika Miyavi menatap ke kedua matanya. Lalu dengan baru saja yang terjadi, kedua mata dingin Reita menatapnya. Dan tatapan dingin Reita itu seakan mampu merubuhkan dinding kokoh yang secara tak sengaja telah Ruki bangun selama ini. 


----Chapter 3 END----




*meregangkan tangan* Akhirnya chapter 3 author publish !!
banyak keraguan mau nge publish chapter 3 ini, soalnya setelah dibaca ulang kok aneh ya awalannya. tapi author sendiri suka bagian para Karasu Naraku muncul
huuawahahaha udah ngebayangin para Jrocker berjalan dengan gagah dan kerennya XD
soal Subaru dia memang anggota salah satu dari mereka kok tapi gak sekuat mereka-mereka yang lain ^ ^ 
dan tentang rambut Kai yg 'gak nurut' new look mereka, author lebih suka dia di PV Pledge makanya author diskripsiin dia rambutnya kayak gitu
Masih bingung soal inti cerita ini kayak gimana ?? jujur sebenarnya author juga bingung, udah dapet inti cerita sih namun masih harus disambungin sama chapter 1-3 ini dan mungkin di chapter 5 bakalan diketahui siapa lawan para pangeran SMG
dan Uruha----- ah ada di chapter 4 kok
Tapi kayaknya chapter 4 bakal lama nge publish soalnya tugas kuliah sudah mulai numpuk dan ide masih berenti di tengah jalan =_____=

Oke minna sankyu buat yang udah ngebaca fic gaje saya ini _ _)a


sampai jumpa di chapter 4 ^ ^)/

About