Title
: FLAME
Author : Lycoris
Language : Bahasa
Indonesia
Fandom : the
GazettE, SuG, Alice Nine, D=OUT, ViViD, Vistlip, ScReW, Miyavi, Royz
Genre
: Double F (Fantasy, Friendship), General, Supernatural
Chapter : 3
Rate
: Sementara masih M
Declaimers : hanya fic ini punya saya,
tokoh-tokohnya cuma pinjam
Warning
: typos, abal, melenceng, aneh, membingungkan, OOC
Chapter 3 “SENSE OF ‘YOU’ “
“Akhirnya kita keluar—...” Takeru merenggangkan kedua
tangannya. Disampingnya Ruki lagi-lagi hanya mendumel tidak jelas dengan
tingkah polah Takeru ini.
Sedangkan Hiroto dan Hikaru telah jalan di depan menuju
kantin sebelah utara SMG.
“Dasar kau ini setiap istirahat saja paling
bersemangat tapi kalau sudah di kelas saja pengeluh“ Ruki berkata pelan sambil melihat ke punggung Hikaru dan Hiroto
yang telah jauh di depan mereka.
“Nani ? apa kau berkata barusaan Ru ? “Takeru yang tadi
mendengar Ruki memandangnya.
Buru-buru Ruki berjalan ”ie, ayo cepatlah sebelum kursi
kantin terisi semua..”
Perasaan tadi ia mendengar Ruki berkata batinnya, ah
sudahlah ia pun sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Ruki yang
telah berhasil mengejar kedua teman di depannya.
Di sisi lain lorong yang sangat jarang bahkan tak dilewati
para siswa itu ada seseorang yang memperhatikan keduanya lebih tepatnya memperhatikan Ruki.
“Lagi-lagi kau memperhatikannya Ao..” suara seseorang yang
berada dibelakangnya.
Pemuda itu tak menoleh masih intens melihat Ruki yang
semakin menjauh. “Aku hanya masih ragu untuk menempatkannya ke Karasu bersama
denganmu Kai. Rasanya bakatnya itu belum ia asah dan aku takut malah menjadi
beban kalian.Tapi jika ia tak kumasukkan maka Karasu----” ia tak melanjutkannya.
Pemuda yang bernama Kai itu mendekatinya, dan matanya
tertuju ke handband berwarna merah yang melingkari lengan kirinya itu “Aku
tahu, meskipun kau menjadi Ketua Akai tapi sebenarnya hatimu masih berada di
Karasu kan Shiroyama Yuu..”
Yang ditanya malah sekarang berganti menyenderkan punggungnya
di tiang penyangga lorong yang menghubungkan gedung Utara dengan Gedung Timur
itu.
“Tak mungkin aku tak peduli dengan Karasu, aku sangat
mengkhawatirkan SMG sekarang. Bukan hanya sekarang Karasu sedang dalam tahap
lemah namun pionmu juga semakin sedikit sedangkan kau dan Reita harus bertahan.
Tapi kekuatan “mereka” semakin besar..” Pemuda yang bernama Shiroyama Yuu atau
yang lebih dikenal dengan Aoi itu mendesah.
Kai terdiam.
“Aku ingin mengganti posisi Akai yang hanya sebagai penjaga
menjadi seperti Karasu dan Naraku..”
Tatapan Aoi jauh sejauh keinginannya selama ini.
Belum sempat Kai berkata, tiga orang pengawal ketua atau
yang disebut dengan Alumina itu datang menghampiri mereka.
“Maaf Aoi-sama, sepertinya rapat jajaran Senior akan segera
dilangsungkan...” ucap salah satu mereka yang berambut coklat muda panjang yang
ia gerai ke bahu kirinya.
Kai tersenyum tipis, dan mengedipkan dagunya mengisyaratkan
Aoi untuk mengikuti para Alumina.
“Baiklah Yuh aku akan segera kesana, sekarang kalian bisa
istirahat” Aoi beranjak dari tempatnya tadi.
Kazuki, Reika, dan Yuh menunduk ke arah Kai, mereka diam
ditempat.
“.....”
Kai melihat ketiga Alumina itu dengan senyumnya “Reika, apa
persiapan Naraku sudah siap ?” ia sedikit mendekat untuk mempersempit jarak
diantara mereka berempat.
Reika menundukkan kepala “Sudah siap Kai-sama. Hanya
saja...”terbersit kekhawatiran di wajahnya.
Kai yang melihat gelagat itu menjadi sedikit khawatir namun
dengan ketenangan yg sudah menjadi ciri khasnya itu bertanya “ada apa Reika ?
apa ada yg kurang dan terjadi sesuatu ?”
“Naraku masih menunggu keputusan dari Aoi-sama dan Karasu
tentang anak yang bernama Matsumoto Takanori. Selain itu seperti pengamatan
Kouki-san dan Saga-san bahwa pergerakan mereka masih seperti 2 bulan yang lalu.
Mereka masih diam..” Reika masih menunduk.
Kai tersenyum lega, “Syukurlah, disaat seperti ini kita bisa
sedikit bernafas lega. Terus pantau mereka...”
Mereka diam.
“....”
“Oh ya Kazuki..” Kai memandang ke arah Kazuki
“Hai Kai-sama...” Kazuki menunduk.
“Sepertinya minggu depan kau akan dikirim lagi bersama
dengan Yuh dan Shou..” Kai tersenyum diakhir kalimatnya.
Yuh yang mendengar namanya disebut ikut tersenyum.
“Arigatou Kai-sama...” kata Yuh dan Kazuki bersamaan sambil
menunduk.
“Heii heii sudah kubilang jangan memanggilku dengan kata
itu. Aku tak menyukainya, panggil saja Kai. K-A-I “ Kai mengeja namanya disusul
dengan senyuman yang memperlihatkan dimplenya.
Reika, Yuh, dan Kazuki buru-buru membenarkan kata-katanya
“Hai..Kai”
Memang Kai adalah pemimpin Karasu yang paling ramah. Berbeda
dengan Reita yang dingin itu.
“Baiklah kalau begitu, sekarang kalian ikut denganku. Temani
aku makan” tanpa mendengar adanya persetujuan dari ketiga Alumina itu Kai sudah
berjalan.
Reika, Yuh, dan Kazuki memang sudah hafal betul terhadap
sikap dan sifat ketua mereka ini hanya mengikuti dari belakang.
Di kantin utara SMG
“Yattaa— akhirnya aku akan makan...”
Siapa lagi kalau bukan Takeru yang berisik. Ruki, Hikaru,
dan Hiroto hanya bisa berpura-pura tidak mendengarnya.
“Bisakah kau diam sebentar saja Take-chan..”Hikaru hampir
saja menyodorkan botol kecap ke mulut Takeru yang tak bisa diam itu.
Takeru yang melihatnya langsung menutup mulutnya ”Kau jahat
sekali Hikachu..”
Selagi mereka adu mulut pandangan Ruki tak sengaja menangkap
sosok pemuda dengan noseband yang melilit hidungnya di kejauhan yang sedang
membaca novel di bawah pohon tak jauh dari tempatnya duduk. Entah mengapa
lagi-lagi ia merasakan perasaan yang sama ketika ia berhadapan dengan Miyavi
tadi.
“Dia adalah salah satu siswa kelas A-1. Namanya Suzuki Akira
atau yang bisa dipanggil Reita...” Hiroto tiba-tiba nyeletuk begitu menyadari
pandangan Ruki ke arah Reita yang di dekatnya terdapat seorang pemuda lain.
Takeru dan Hikaru yang daritadi adu botol kecap itu
ikut-ikutan menyimak Hiroto.
“Kau sepertinya hafal semua nama orang populer
disini...”Takeru memandang Reita juga.
Hiroto yang memainkan minumannya itu menjawab “aku tahu dari
majalah SMG, dan dari kakak sepupuku...”
“Kakak sepupu ???” kata bertiga bersamaan setengah kaget dan
setengah berteriak.
“Diamlah, ini tempat umum tahu...” Hiroto menutup kedua
telinganya.
“Habisnya kau tak pernah bercerita soal itu..” kali ini
giliran Ruki.
“Memang kalian pernah bertanya ?” ia mulai melepaskan kedua
tangannya dari telinganya.
“Tidak sih...” Hikaru menatap Hiroto.
“Sekarang itu tidak penting, nanti akan aku kenalkan kalian
semua kepada kakakku, sekarang aku akan menjelaskan orang-orang penting bin
terkenal disini...” mata Hiroto menatap bergantian ketiga temannya.
Seolah menjadi murid Takeru, Ruki, dan Hikaru serius
menyimaknya.
Hiroto mulai menjelaskan sambil sesekali menatap Reita.
“Suzuki Akira atau Reita, peraih peringkat tertinggi ujian
masuk tahun lalu. Selama hampir setengah abad sekolah ini didirikan nilainya
yang paling tinggi diantara semua peringkat tertinggi yang pernah ada.”
“Sugoi...” ucap Takeru.
“Tentu saja ada dua kesempatan emas menghampirinya, ikut
menjadi jajaran Senior atau masuk ke kelas spesial. Dan seperti yang kita
ketahui dia memilih kelas spesial.”
“Sebenarnya apa bedanya kelas spesial itu dengan kelas-kelas
yang lain ? sepertinya itu kelas yang keren...”Hikaru menyela.
“Sebentar...” Hiroto meminum jus wortelnya.
Hiroto menatap ketiga temannya bergantian “Kelas A-1 atau
kelas spesial. Sepengetahuanku itu adalah kelas dimana bukan orang-orang
sembarangan yang bisa menempatinya. Dikelas itu hanya ada 10 orang. Dan bisa
diprediksi bahwa ke 10 orang itu merupakan orang-orang terhebat di SMG ini.
meskipun banyak juga yang beranggapan bahwa kelas spesial itu adalah kelas yang
dipenuhi orang-orang yang sombong, karena mereka sangat jarang terlihat berbaur
dengan yang lain.”
“Tapi anggapan itu juga tidak sepenuhnya benar, pemimpin
kelas itu Uke Yutaka atau Kai berusaha untuk berbaur dengan siswa yang lain dan
ia juga meminta para penghuni kelas A-1 untuk seperti itu. Dan predikat kelas
sombong pun berangsung-angsur hilang.”
Mereka bertiga mengangguk pelan.
“Lanjut soal Reita...” Hiroto memandang jauh ke arah pemuda
bernoseband itu.
“Di awal masuk dia langsung memperoleh nilai tertinggi satu
angkatan. Selain itu dia sudah 3 kali menjadi juara di berbagai kompetisi
bassist internasional. Tapi sayangnya dia tak begitu ramah kepada orang lain—“
“Dia juga menjadi ketua termuda di A-1..” tiba-tiba ada
seseorang yang menyaut penjelasan Hiroto
Mereka berempat pun menoleh, dan seorang pemuda dengan
rambut perak dengan highlight hitam tersenyum ke arah mereka.
“Subaru niisan..”celetuk Hiroto sedikit kaget. Dan ketiga
temannya masih bingung memperhatikan keduanya.
Pemuda yang bernama Subaru itu tersenyum lalu duduk
disamping Hiroto.
“Ah, perkenalkan namaku Subaru dan aku kakak sepupu Mpon
ini. Yoroshiku..”
“Yoroshiku” Ruki, Takeru, dan Hikaru mengangguk dan berkata
bersamaan.
“Kau ini muncul tiba-tiba, mengagetkanku saja..”Hiroto
sedikit bergeser.
Subaru yang membawa sekaleng minuman ringan itu tertawa ”hahaha
siapa suruh kau cerita kepada teman-temanmu tanpa mengajakku ikut serta. Ada
banyak hal yang belum kalian ketahui disini..”
“eh...” mereka berempat saling pandang.
Subaru yang mengetahui keadaan yang membuat bingung mereka
itu buru-buru ia mengibaskan tangannya di depan, “akan aku ceritakan, sudah
wajah kalian jangan bingung seperti itu, terlihat lucu”
“Ah iya pasti kau Ruki kan peraih peringkat tertinggi ujian
masuk...” Subaru menatap mata Ruki.
“Lalu kau Takeru peraih peringkat tertinggi ujian masuk
juga” matanya beralih melihat Takeru yang sedang memakan permen lollipopnya.
“Dan kau Hikaru, guitarist yang pernah menempati peringkat
ketiga kontes guitarist se Jepang tahun lalu” gantian pandangannya beralih ke
Hikaru.
Mereka bertiga hanya tersenyum mendengar Subaru yang
mengenal mereka. Pasti Mpon yang sudah cerita, pikir mereka.
Tak berapa lama setelah itu makanan pesanan mereka pun
datang.
Sambil mereka makan makanan pesanan mereka tadi, Subaru
murid kelas B-3 itu mulai menceritakan apa saja yng tidak mereka ketahui
tentang SMG.
“Reita, orang yang misterius. Tak ada yang banyak diketahui
tentang dia, hanya segelintir orang yang bisa berbicara dengannya. Jika kalian
menjadi anggota Akai atau Naraku bahkan jika bisa masuk ke Karasu baru kalian
akan bisa mengenalnya..” Subaru memelankan suaranya begitu ia menyebut Akai, Naraku, dan Karasu.
Ruki, Hiroto, Takeru dan Hiroto saling pandang. Mereka
berempat tak tahu apa itu Akai, Naraku, dan Karasu.
Menyadari wajah cengo keempat adik angkatannya buru-buru Subaru bicara lagi namun dengan volume yang lebih kecil.
“Memang kalian pasti tak tahu apa itu Akai, Naraku dan
Karasu. Baiklah, Akai..” ia mengambil jeda.
“Akai adalah sebutan bagi jajaran Senior, Naraku sebutan
bagi kelas A-2, dan Karasu tentu saja sebutan bagi kelas spesial A-1.”
“Memang banyak yang tak mengetahuinya, karena memang hanya
orang-orang tertentu yang tahu. Dan jangan sembarangan menyebutkan nama itu.
Bisa dibilang itu adalah nama keramat disini. Sudahlah nanti kalian akan tahu
bila kalian masuk ke salah satunya.”
Subaru menyeruput tetes terakhir minuman ringannya.
Kali ini pandangan Ruki beralih kepada seorang pemuda yang
berada tak jauh dari Reita.
Subaru yang menyadarinya kembali bercerita.
“Reita, menjadi ketua termuda di Karasu karena ada sesuatu
hal yang hanya diketahui oleh ketiga nama yang aku sebut tadi. Selain Reita ada
Kai yang juga ketua Karasu. Ia 2 tahun diatas kalian. Dan kalian lihat
laki-laki yang sedang memakai earphone itu...” Subaru menunjuk dengan matanya.
Mereka berempat mengikuti arah tatapan Subaru.
“Itu adalah Tomo, dia anggota Karasu yang mungkin akan segera
diresmikan oleh Reita. Dan—” belum sempat Subaru meneruskan ceritanya, Kai
beserta para Alumina telah duduk 3 meja dari mereka.
Hiroto yang dapat melihat Kai dengan jelas itu langsung
mengerti mengapa Subaru tidak meneruskan ceritanya.
Takeru, Ruki, dan Hikaru yang duduk membelakangi Kai hanya
bisa kembali bingung.
“Itu Kai kan...” Hiroto menatap Subaru.
Subaru yang masih menatap Kai hanya bisa tersenyum lalu
menoleh ke Hiroto.
“Ya, Uke Yutaka atau Kai...”
Ketiga teman Hiroto menoleh ke belakang dan dilihatnya
seorang pemuda berambut panjang yang dikepang kuda ke belakang bersama ketiga
penjaga Ketua Senior yang tadi pagi mereka lihat sewaktu upacara penerimaan.
“Dialah ketua Karasu bersama Reita...” jelas Subaru.
Mereka bertiga hanya ber ‘oh’ bersama.
Dan tak lama kemudian muncullah orang-orang yang baru
pertama kali mereka lihat yang sedang berjalan menuju kantin utara ini.
Sepertinya kantin utara menjadi basecamp bagi orang-orang populer di SMG, pikir
Ruki.
“Kalian lihat mereka ?” Subaru mengarahkan pandangannya
kepada dua orang sosok pemuda yang sedang berjalan menuju tempat mereka berada.
Keempatnya pun menoleh pelan.
“Mereka berdualah ketua A-2, Kouki dan Saga”
Pandangan mereka kembali ke sang pencerita.
“Kouki dan Saga cukup ramah, jadi jangan segan untuk menyapa
mereka...” seketiga ingatan Hikaru kembali ke 2 minggu yang lalu ketika ia
membaca surat kabar. Ada foto salah seorang diantaranya.
“Ah, aku tahu salah satu dari mereka.” ucap Hikaru setelah
ingat.
Kini gantian arah mata mereka ke sang guitarist itu.
“Sekitar 2 minggu yang lalu ketika aku tak sengaja membaca
surat kabar milik ayah, aku melihat foto salah satu diantara mereka. Sakamoto
Takeshi. Itu nama asli dia kan..” Hikaru menatap Subaru yang berapa tepat
didepannya.
Subaru mengangguk kecil.
“Memang berita apa Hikachu ?” Takeru bertanya.
Hikaru berusaha mengingatnya sambil menggaruk-garuk rambut
sampingnya, “Kalau tidak salah dia menjadi juara 1 di kompetisi bassist se-Asia
Timur.” Ucapnya sedikit ragu.
“Benar !” Subaru menanggapi pernyataan Hikaru denga mantap.
“Heee ?? Hebat “ Takeru membulatkan matanya.
Subaru hanya tersenyum simpul, “Masih banyak kompetisi-kompetisi
yang tak kalian ketahui namun besar di luar sana, dan sekolah ini hampir selalu
menjadi langganan juaranya.”
Tampak kekaguman terpancar ke wajah mereka, tapi tidak
dengan salah seorang diantara mereka.
“Akan kulanjutkan” Subaru menghela nafas, “Dan Kouki, raihan
prestasinya juga tak kalah dari Saga, namun ia kebanyakan dibalik layar, yap
dia menjadi penulis lagu dan komposer hampir 50 % dari semua lagu yang
dibawakan para vocalist SMG. Dan dia juga termasuk vocalist.”
Entah mengapa setiap kehadiran orang-orang itu perasaan Ruki
semakin aneh. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Takeru, Hiroto dan Hikaru yang dibuat kagum oleh cerita
Subaru itu tak menyadari kediaman Ruki.
Kini mata mereka bertiga beralih memperhatikan Saga dan
Kouki yang kini telah mengambil tempat duduk.
Mereka terlalu asyik mencuci mata, sedangkan Subaru menunduk
begitu matanya bertemu dengan mata Kouki yang telah duduk berjarak 2 meja
darinya. Hikaru dan yang lain tak menyadarinya. Dan sudah bisa ditebak kalau
Subaru bukanlah siswa sembarangan disini.
Reita, ia menyadari kalau anak itu ada didekatnya. Tapi
bukan Reita bila ia tak bisa menampakkan raut dingin dan misterius kepada semua
orang. Sebisa mungkin ia tetap menjaga identitasnya di depan umum. Biarkan saja
Ruki mengetahui semuanya jika waktunya sudah tiba. Sekarang Reita hanya ingin
“merasakan bakat” dari peraih peringkat tertinggi itu. Ia ingin mengukur
sebesar apa bakat yang tersembunyi yang telah terkubur selama 18 tahun itu.
Matanya terpejam sesaat, dihembuskannya nafasnya dengan
lirih. Ditutupnya novel setebal 359 halaman itu. Punggungnya yang menempel di
pohon rindang segera ia lepaskan. Beberapa saat kemudian kedua kakinya telah berhasil menopang
tubuhnya yang kekar. Tomo yang melihat Reita itu segera bangkit dan berjalan menghampirinya.
Satu anggukan telah menjadi isyarat bahwa Reita dan ia harus
meninggalkan tempat itu dan menuju ke ketua yang lain. Kai.
Kai yang tengah duduk berhadapan bersama Yuh, Kazuki, dan
Reika itu diam. Mereka tak ingin membicarakan hal-hal yang hanya mereka sendiri
yang tahu. Terlalu ramai oleh siswa biasa.
Dan bukan Kai kalau dia tak bisa merasakan Ruki, begitu pula
denga para Alumina yang bersamanya itu
meskipun dalam tahap kecil. Karena tentu saja hanya pemilik bakat tertinggi dan
terkuat yang bisa merasakan bakat lain yang berada disekeliling mereka, dan
dalam kasus ini Kai bisa merasakan betapa kuatnya bakat yang ada dalam diri
Ruki.
Mereka masing-masing memesan segelas cappucino dingin.
Keempat orang itu mencoba berbaur dengan keramaian, membicarakan hal-hal umum
di SMG untuk menutupi siapa sebenarnya mereka. Seperti biasanya.
Namun kehadiran mereka tentu saja menjadi perasaan lain yang
kini tengah Ruki rasakan. Dan mereka memang sengaja melakukannya, tak ingin
mereka tutupi.
Saga yang duduk berhadapan dengan Kouki memandang ke
sembarang tempat. Ditopangnya dagu runcingnya itu, matanya bertemu dengan mata
Shou yang tengah berjalan menghampirinya dan Kouki.
Kouki masih menatap intens punggung seseorang yang duduk
berjarak 2 meja darinya. Siapa lagi kalau bukan Ruki. Anak itu terlalu menarik
baginya, sehingga kedua matanya tak bisa lepas darinya. Saga yang melihatnya
buru-buru menyodorkan segelas besar milk shake. Ia hanya berusaha membuatnya terlihat
tak mencurigakan.
“Hentikan pandanganmu, bisa-bisa orang-orang biasa disini
melihat pandangan anehmu itu..” Saga yang duduk beradu punggung dengan Ruki
meliriknya dengan ekor matanya.
Dengan santai agar tak menimbulkan kesan aneh pada
siswa-siswa yang lain yang sedang melihatnya Kouki beralih menatap milk shake
pemberian Saga. “Kau sadar kan bukan hanya aku saja yang “memandangnya” seperti
itu..”
Kini kedua mata Saga menatap Reita yang sedang berjalan ke
arah kantin.
Kouki mengaduk-ngaduk minumannya “Ada Reita, Kai, ketiga
Alumina, dan mungkin Shou...” dagu Kouki terangkat begitu Shou telah duduk
disamping Saga.
Dengan tenang Shou melirik Kouki. “aku bisa merasakannya
meskipun itu kecil, sepertinya orang tua itu benar tentang seorang yang akan
datang untuk menyempurnakan kita setelah Uruha pergi...” ia menundukkan kepala
menatap sneaker putih biru miliknya.
Uruha, mendengar nama itu Kouki dan Saga terdiam.
“Para Akai tengah rapat sekarang, mungkin akan segera
diputuskan sekarang...” suara Kai membuat Reita yang telah berdiri disampingnya
itu menatap mata Kai yang tengah duduk itu.
Mengerti dengan apa yang dibicarakan segera Reita menatap ke
depan dan berjalan menjauh dari tempat
itu.
Kai yang mengerti isyarat itu segera berdiri disusul para
Alumina dan Tomo yang berjalan di belakangnya.
Kouki yang tadi menatap Kazuki di kejauhan menganggukkan
dagunya.
Ia beranjak, Saga dan Shou yang sudah hafal isyarat itu ikut
beranjak dan mengekor jauh dibelakang Reita.
Anak itu, Ruki melihatnya. Melihat kedua bola mata hazel
Reita bertemu dengan kedua matanya. Entah desir apa yang bergejolak di dadanya,
sangat kuat namun aneh. Dan ketika Reita
berjalan melewatinya perasaan itu semakin kuat dan kuat, rasanya akan ada yang
meluap. Dan Ruki hanya bisa duduk diam mematung dengan itu semua.
Reita melewatinya, ia sudah menatap Ruki sejak ia berada
disebelah Kai. Ia memang merencanakan sesuatu terhadap anak itu. Bukan sesuatu
yang negatif tetapi sesuatu yang ingin Ruki menyadarinya. Menyadari bakatnya
yang diturunkan sejak ia dilahirkan. Ekor mata Reita melirik Ruki begitu ia
berjalan tepat disampingnya. Dan begitu pula dengan apa yang Ruki rasakan,
perasaan kuat bergejolak di dadanya.
Di kantin utara SMG bukan hanya mereka penghuninyanya,
banyak siswa biasa yang sengaja berada
disana hanya sekedar untuk melihat para Pangeran berkumpul disitu. Karena
memang di kantin utara lah yang menjadi basecamp bagi Kai dkk. Dan menjadi
sesuatu yang langka para siswa biasa yang didominasi wanita itu bisa melihat
Reita disitu.
Meskipun baru beberapa detik pemilik rambut blond berada
disana, namun bagi mereka sudah memuaskan mata karena Reita hampir tak pernah
memunculkan dirinya, hampir sama dengan sang ketua Senior Aoi. Begitu para Pangeran
SMG meninggalkan kantin fangirls mereka seakan kecewa. Tapi begitu melihat
Reita yang berjalan di depan lalu disusul oleh Kai dan para Alumina beserta
Tomo dan tak jauh dibelakangnya ada Kouki beserta Saga dan Shou yang mengekor
semua orang yang ada disitu seakan melihat para model yang sedang berjalan di
catwalk. Bedanya yang ada didepan mereka adalah segerombolan pemuda yang
menjadi Pangeran di SMG.
Subaru yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung undur
diri begitu melihat Kouki beranjak dari kantin.
“Sepertinya aku harus pamit, aku ada urusan yang harus aku
selesaikan..” Subaru sudah berdiri dari kursinya.
Hiroto, Takeru, dan Hikaru menatap Subaru, sedangkan
Ruki...ia masih mematung.
“Lain kali aku akan menyambungnya...”
“Namun bila kalian ingin mengetahui lebih jauh rahasia apa
yang sekolah ini simpan masuklah kalian
ke jajaran Senior atau kalau beruntung
ke Naraku..” ia sedikit berbisik mengucapkannya dan itu yang membuat keenam
mata yang memperhatikannya hanya bingung.
Subaru telah berjalan menjauh dari mereka dan Ruki masih
berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia belum bisa menenangkan pergulatan
hatinya. Langsung saja pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab memenuhi
otaknya. Perasaan yang sama ketika ia maju tadi pagi sewaktu upacara penerimaan.
Seakan banyak pasang mata sedang memperhatikannya, tapi barusan yang terjadi
lebih besar lagi. Lebih banyak mata yang memperhatikannya dan desir aneh itu
semakin kuat pula.
Dan pandangan itu....sudah kedua kali untuk hari ini ia
mendapati pandangan aneh itu, yang pertama tadi ketika Miyavi menatap ke kedua
matanya. Lalu dengan baru saja yang terjadi, kedua mata dingin Reita
menatapnya. Dan tatapan dingin Reita itu seakan mampu merubuhkan dinding kokoh
yang secara tak sengaja telah Ruki bangun selama ini.
----Chapter 3 END----
*meregangkan tangan* Akhirnya chapter 3 author publish !!
banyak keraguan mau nge publish chapter 3 ini, soalnya setelah dibaca ulang kok aneh ya awalannya. tapi author sendiri suka bagian para Karasu Naraku muncul
huuawahahaha udah ngebayangin para Jrocker berjalan dengan gagah dan kerennya XD
soal Subaru dia memang anggota salah satu dari mereka kok tapi gak sekuat mereka-mereka yang lain ^ ^
dan tentang rambut Kai yg 'gak nurut' new look mereka, author lebih suka dia di PV Pledge makanya author diskripsiin dia rambutnya kayak gitu
Masih bingung soal inti cerita ini kayak gimana ?? jujur sebenarnya author juga bingung, udah dapet inti cerita sih namun masih harus disambungin sama chapter 1-3 ini dan mungkin di chapter 5 bakalan diketahui siapa lawan para pangeran SMG
dan Uruha----- ah ada di chapter 4 kok
Tapi kayaknya chapter 4 bakal lama nge publish soalnya tugas kuliah sudah mulai numpuk dan ide masih berenti di tengah jalan =_____=
Oke minna sankyu buat yang udah ngebaca fic gaje saya ini _ _)a
sampai jumpa di chapter 4 ^ ^)/