“Mungkin dengan ini yang bisa aku
lakukan untuk mimpimu”
“Tak banyak memang, hanya tulisan,
bukan perkataan”
“Karena kita tak pernah tahu kapan titik kejenuhan itu akan datang”
Perkenalkan
namaku Yaiga. Dan aku lahir 20 tahun yang lalu. Aku bukanlah seorang rockstar
atau musisi Jepang seperti yang aku idolakan dari dulu sampai sekarang. Aku hanyalah
satu diantara jutaan orang yang ingin menjadi seperti mereka. Aku sangat
mencintai, teramat mencintai malah dengan musik dan dengan kekasihku yang
selalu menemaniku selama ini. Dia yang selalu menjadi penyemangatku disaat aku
mulai terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Dia selalu bisa menghiburku dengan
suara merdunya yang khas. Aku seakan tak bisa hidup tanpanya. Meskipun dia “tak
hidup” sepertiku, tapi ia “hidup” melebihi diriku sendiri. Dialah yang menjadi
satu-satunya temanku ketika aku benar-benar sendiri dan tak punya kawan yang
bisa aku ajak untuk berbagi.
Dulu,
dulu sekali, bersamanya kugantungkan mimpi-mimpiku. Mimpi yang ingin menjadi
seperti mereka. Mimpi yang dengan yakinnya pasti bisa aku wujudkan, entah harus
sampai berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menggapai mimpi itu. Tapi
bersamanya menjadi terlihat lebih mudah untuk diraih. Dan masih kuingat kapan pertama
kali aku bertemu dengannya dan mengenalnya lebih jauh. 7 september 2008, yaaaah
waktu itu aku mengenalnya dan mulai tertarik dengannya. Aku tak akan pernah
melupakannya. Dan sekarang jalan ini yang telah aku ambil, bersamanya, sampai
kapan pun.
Tapi
seiring berjalannya waktu, dan teramat banyak kejadian yang mulai menimpaku
satu persatu, Keyakinan akan mimpiku itu mulai luntur, meskipun masih ingin
sekali mewujudkannya, tapi apa daya, harapanku tak seperti dulu lagi. Secuil
demi secuil mulai terkikis oleh kenyataan serta keadaan yang aku hadapi
sekarang. Aku tak tahu lagi apakah mimpiku bersamanya akan terwujud atau tidak,
aku mulai ragu-ragu untuk melangkah ke depan. Langkahku seakan semakin berat
saat ini, aku tak kuat untuk berjalan apalagi berlari seperti dulu. Aku seperti
sedang tersesat di tengah persimpangan jalan yang begitu banyaknya dan
langkahku terseok-seok.
Dan
sepertinya titik kejenuhan itu mulai
datang kepadaku. Bukannya aku malas untuk berjalan, tapi entahlah sepertinya
ada beban berat yang sedang aku pikul sekarang. Kenyataan yang tak seperti aku
harapkan dulu kini tergambar jelas di depan mataku. Aku ingin berhenti,
berhenti sejenak. Aku hanya ingin beristirahat. Hingar bingar diluar sana tak
banyak membantuku untuk berdiri lagi. Suara orang-orang yang mndukungku pun
hanya kujadikan sebagai angin sore saja, berhembus untuk sesaat.
Sebenarnya
apa yang sedang terjadi denganku sekarang ? aku seperti tak punya arah dan
tujuan hidup lagi. Semuanya telah samar-samar, telah menjadi abu-abu yang
dulunya putih bersih. Apakah aku harus menyerah sekarang ? apakah aku sudah
jenuh dengan kekasihku itu ? atau apakah aku sudah jenuh dengan hidupku yang
seperti ini ? seseorang disana yang mengertiku bantulah aku mencari jawaban
dari semua pertanyaanku yang tak bisa kucari jawabannya ini sendiri.
Dan
ketika aku sudah benar-benar lelah dan jengah, saat itulah akau harus
menghilang untuk sementara dari hiruk pikuk kebisingan yang mengangguku ini.
Karena memang kita tak pernah tahu kapan titik jenuh itu akan datang.
Tapi,
hati kecilku selalu berkata “mimpimu itu lebih besar dari apapun, kamu lebih
hebat dari semua kejenuhan ini, kamu lebih kuat dari kehidupan itu sendiri, dan
kamu pasti bisa bertahan” Selalu, selalu kata-kata itu yang berbisik lirih dari
hatiku yang terdalam, disaat aku sudah tak kuat lagi untuk berdiri, itulah oase
ditengah padang kejenuhan dan keputus asaan.
Baiklah,
demi mimpiku dan demi semua orang yang telah mendorongku dari belakang, aku
akan berusaha, tak akan berhenti sampai mimpiku itu bisa aku raih. Aku akan
berteriak dari atas menara tertinggi itu. PASTI.
“Untuk seseorang disana,
Mungkin ini tak banyak membantumu,
dan mungkin ini juga tak sesuai dengan isi hatimu
Tapi hanya ini yang bisa aku bantu
Karena mimpimu memang lebih kuat
dari apapun di dunia ini
Berlari lah, meskipun kau akan
terjatuh, kau pasti bisa untuk bangun kembali
Berjalanlah meskipun dengan bantuan
tongkat yang akan menopang tubuhmu
Biarkan tubuhmu yang hancur
daripada mimpimu yang hancur sia-sia
Karena aku tahu kau yang sebenarnya
masih tertidur pulas di suatu tempat.”
OWARI
Banyuwangi, 23 Desember 2012.
21.30 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar