Minggu, 23 Desember 2012

“Karena kita tak pernah tahu kapan titik kejenuhan itu akan datang”


“Mungkin dengan ini yang bisa aku lakukan untuk mimpimu”
“Tak banyak memang, hanya tulisan, bukan perkataan”

“Karena kita tak pernah tahu kapan titik kejenuhan itu akan datang” 
          Perkenalkan namaku Yaiga. Dan aku lahir 20 tahun yang lalu. Aku bukanlah seorang rockstar atau musisi Jepang seperti yang aku idolakan dari dulu sampai sekarang. Aku hanyalah satu diantara jutaan orang yang ingin menjadi seperti mereka. Aku sangat mencintai, teramat mencintai malah dengan musik dan dengan kekasihku yang selalu menemaniku selama ini. Dia yang selalu menjadi penyemangatku disaat aku mulai terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Dia selalu bisa menghiburku dengan suara merdunya yang khas. Aku seakan tak bisa hidup tanpanya. Meskipun dia “tak hidup” sepertiku, tapi ia “hidup” melebihi diriku sendiri. Dialah yang menjadi satu-satunya temanku ketika aku benar-benar sendiri dan tak punya kawan yang bisa aku ajak untuk berbagi. 


          Dulu, dulu sekali, bersamanya kugantungkan mimpi-mimpiku. Mimpi yang ingin menjadi seperti mereka. Mimpi yang dengan yakinnya pasti bisa aku wujudkan, entah harus sampai berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menggapai mimpi itu. Tapi bersamanya menjadi terlihat lebih mudah untuk diraih. Dan masih kuingat kapan pertama kali aku bertemu dengannya dan mengenalnya lebih jauh. 7 september 2008, yaaaah waktu itu aku mengenalnya dan mulai tertarik dengannya. Aku tak akan pernah melupakannya. Dan sekarang jalan ini yang telah aku ambil, bersamanya, sampai kapan pun. 


            Tapi seiring berjalannya waktu, dan teramat banyak kejadian yang mulai menimpaku satu persatu, Keyakinan akan mimpiku itu mulai luntur, meskipun masih ingin sekali mewujudkannya, tapi apa daya, harapanku tak seperti dulu lagi. Secuil demi secuil mulai terkikis oleh kenyataan serta keadaan yang aku hadapi sekarang. Aku tak tahu lagi apakah mimpiku bersamanya akan terwujud atau tidak, aku mulai ragu-ragu untuk melangkah ke depan. Langkahku seakan semakin berat saat ini, aku tak kuat untuk berjalan apalagi berlari seperti dulu. Aku seperti sedang tersesat di tengah persimpangan jalan yang begitu banyaknya dan langkahku terseok-seok. 


            Dan sepertinya titik kejenuhan itu  mulai datang kepadaku. Bukannya aku malas untuk berjalan, tapi entahlah sepertinya ada beban berat yang sedang aku pikul sekarang. Kenyataan yang tak seperti aku harapkan dulu kini tergambar jelas di depan mataku. Aku ingin berhenti, berhenti sejenak. Aku hanya ingin beristirahat. Hingar bingar diluar sana tak banyak membantuku untuk berdiri lagi. Suara orang-orang yang mndukungku pun hanya kujadikan sebagai angin sore saja, berhembus untuk sesaat. 


            Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku sekarang ? aku seperti tak punya arah dan tujuan hidup lagi. Semuanya telah samar-samar, telah menjadi abu-abu yang dulunya putih bersih. Apakah aku harus menyerah sekarang ? apakah aku sudah jenuh dengan kekasihku itu ? atau apakah aku sudah jenuh dengan hidupku yang seperti ini ? seseorang disana yang mengertiku bantulah aku mencari jawaban dari semua pertanyaanku yang tak bisa kucari jawabannya ini sendiri. 


            Dan ketika aku sudah benar-benar lelah dan jengah, saat itulah akau harus menghilang untuk sementara dari hiruk pikuk kebisingan yang mengangguku ini. Karena memang kita tak pernah tahu kapan titik jenuh itu akan datang. 


            Tapi, hati kecilku selalu berkata “mimpimu itu lebih besar dari apapun, kamu lebih hebat dari semua kejenuhan ini, kamu lebih kuat dari kehidupan itu sendiri, dan kamu pasti bisa bertahan” Selalu, selalu kata-kata itu yang berbisik lirih dari hatiku yang terdalam, disaat aku sudah tak kuat lagi untuk berdiri, itulah oase ditengah padang kejenuhan dan keputus asaan.


            Baiklah, demi mimpiku dan demi semua orang yang telah mendorongku dari belakang, aku akan berusaha, tak akan berhenti sampai mimpiku itu bisa aku raih. Aku akan berteriak dari atas menara tertinggi itu. PASTI.
           



“Untuk seseorang disana,
Mungkin ini tak banyak membantumu, dan mungkin ini juga tak sesuai dengan isi hatimu
Tapi hanya ini yang bisa aku bantu
Karena mimpimu memang lebih kuat dari apapun di dunia ini
Berlari lah, meskipun kau akan terjatuh, kau pasti bisa untuk bangun kembali
Berjalanlah meskipun dengan bantuan tongkat yang akan menopang tubuhmu
Biarkan tubuhmu yang hancur daripada mimpimu yang hancur sia-sia
Karena aku tahu kau yang sebenarnya masih tertidur pulas di suatu tempat.”


OWARI
Banyuwangi, 23 Desember 2012.
21.30 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About