Minggu, 23 Desember 2012

“Karena kita tak pernah tahu kapan titik kejenuhan itu akan datang”


“Mungkin dengan ini yang bisa aku lakukan untuk mimpimu”
“Tak banyak memang, hanya tulisan, bukan perkataan”

“Karena kita tak pernah tahu kapan titik kejenuhan itu akan datang” 
          Perkenalkan namaku Yaiga. Dan aku lahir 20 tahun yang lalu. Aku bukanlah seorang rockstar atau musisi Jepang seperti yang aku idolakan dari dulu sampai sekarang. Aku hanyalah satu diantara jutaan orang yang ingin menjadi seperti mereka. Aku sangat mencintai, teramat mencintai malah dengan musik dan dengan kekasihku yang selalu menemaniku selama ini. Dia yang selalu menjadi penyemangatku disaat aku mulai terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Dia selalu bisa menghiburku dengan suara merdunya yang khas. Aku seakan tak bisa hidup tanpanya. Meskipun dia “tak hidup” sepertiku, tapi ia “hidup” melebihi diriku sendiri. Dialah yang menjadi satu-satunya temanku ketika aku benar-benar sendiri dan tak punya kawan yang bisa aku ajak untuk berbagi. 


          Dulu, dulu sekali, bersamanya kugantungkan mimpi-mimpiku. Mimpi yang ingin menjadi seperti mereka. Mimpi yang dengan yakinnya pasti bisa aku wujudkan, entah harus sampai berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menggapai mimpi itu. Tapi bersamanya menjadi terlihat lebih mudah untuk diraih. Dan masih kuingat kapan pertama kali aku bertemu dengannya dan mengenalnya lebih jauh. 7 september 2008, yaaaah waktu itu aku mengenalnya dan mulai tertarik dengannya. Aku tak akan pernah melupakannya. Dan sekarang jalan ini yang telah aku ambil, bersamanya, sampai kapan pun. 


            Tapi seiring berjalannya waktu, dan teramat banyak kejadian yang mulai menimpaku satu persatu, Keyakinan akan mimpiku itu mulai luntur, meskipun masih ingin sekali mewujudkannya, tapi apa daya, harapanku tak seperti dulu lagi. Secuil demi secuil mulai terkikis oleh kenyataan serta keadaan yang aku hadapi sekarang. Aku tak tahu lagi apakah mimpiku bersamanya akan terwujud atau tidak, aku mulai ragu-ragu untuk melangkah ke depan. Langkahku seakan semakin berat saat ini, aku tak kuat untuk berjalan apalagi berlari seperti dulu. Aku seperti sedang tersesat di tengah persimpangan jalan yang begitu banyaknya dan langkahku terseok-seok. 


            Dan sepertinya titik kejenuhan itu  mulai datang kepadaku. Bukannya aku malas untuk berjalan, tapi entahlah sepertinya ada beban berat yang sedang aku pikul sekarang. Kenyataan yang tak seperti aku harapkan dulu kini tergambar jelas di depan mataku. Aku ingin berhenti, berhenti sejenak. Aku hanya ingin beristirahat. Hingar bingar diluar sana tak banyak membantuku untuk berdiri lagi. Suara orang-orang yang mndukungku pun hanya kujadikan sebagai angin sore saja, berhembus untuk sesaat. 


            Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku sekarang ? aku seperti tak punya arah dan tujuan hidup lagi. Semuanya telah samar-samar, telah menjadi abu-abu yang dulunya putih bersih. Apakah aku harus menyerah sekarang ? apakah aku sudah jenuh dengan kekasihku itu ? atau apakah aku sudah jenuh dengan hidupku yang seperti ini ? seseorang disana yang mengertiku bantulah aku mencari jawaban dari semua pertanyaanku yang tak bisa kucari jawabannya ini sendiri. 


            Dan ketika aku sudah benar-benar lelah dan jengah, saat itulah akau harus menghilang untuk sementara dari hiruk pikuk kebisingan yang mengangguku ini. Karena memang kita tak pernah tahu kapan titik jenuh itu akan datang. 


            Tapi, hati kecilku selalu berkata “mimpimu itu lebih besar dari apapun, kamu lebih hebat dari semua kejenuhan ini, kamu lebih kuat dari kehidupan itu sendiri, dan kamu pasti bisa bertahan” Selalu, selalu kata-kata itu yang berbisik lirih dari hatiku yang terdalam, disaat aku sudah tak kuat lagi untuk berdiri, itulah oase ditengah padang kejenuhan dan keputus asaan.


            Baiklah, demi mimpiku dan demi semua orang yang telah mendorongku dari belakang, aku akan berusaha, tak akan berhenti sampai mimpiku itu bisa aku raih. Aku akan berteriak dari atas menara tertinggi itu. PASTI.
           



“Untuk seseorang disana,
Mungkin ini tak banyak membantumu, dan mungkin ini juga tak sesuai dengan isi hatimu
Tapi hanya ini yang bisa aku bantu
Karena mimpimu memang lebih kuat dari apapun di dunia ini
Berlari lah, meskipun kau akan terjatuh, kau pasti bisa untuk bangun kembali
Berjalanlah meskipun dengan bantuan tongkat yang akan menopang tubuhmu
Biarkan tubuhmu yang hancur daripada mimpimu yang hancur sia-sia
Karena aku tahu kau yang sebenarnya masih tertidur pulas di suatu tempat.”


OWARI
Banyuwangi, 23 Desember 2012.
21.30 WIB.

Kamis, 20 Desember 2012

ALICE NINE @SUNDOWN FESTIVAL 2012

 
Alice Nine - Rainbows

Alice Nine - Blue Planet

Alice Nine - Tsubasa

Alice Nine - Shunkashuutou


source : youtube
credit : imaginenetwork.tv

Selasa, 18 Desember 2012

REITA

"I'm basically expressionless. But if you look into my eyes, you'd understand what I'm trying to convey. you have to be sharp too. I might look at the fans when Ruki's singing. If our eyes meet during that time, then. Welcome to my world." - REITA



Minggu, 09 Desember 2012

[Download] 雪の音 (Yuki no Ne) - GReeeeN

Tracklist :
1. 雪の音
 
 
source : http://itj4.livejournal.com
credit : j-mp3

[Lyric] Yuki no Ne (雪の音) - GReeeeN (Kanji + Romaji + English Lyric)

Artist : GReeeeN
Release Date : 19.12.2012

KANJI

どうしてなの、寒い夜は、あなたを思い胸がしめつける、
伝わるか
­­な伝えきれるかな 
まだ今日も言えないけれど 
ため息ひとつ白く染まる何気ない横顔いつもいる
行き場のない恋心­­は、はずかしがってわからなくて遠回りしてるの!


今目と目があってきづいた、
ずっとこのまま時が止まれば、
離れず­­に、逸らさずに、見つめられるのに、
この街に雪が舞い降りて、あなたのぬくもりが暖かくて、
触れた手­­を溶かさずに、このままずっと・・・それぞれ

どーしてなの、また明日も会えること分かっているのにね、
それぞ­­れの思い確かめ合う、なんてとてもこわくてできない。 
窓に映る、街の光、それぞれが恋を語り合って
「あたしも今日は」みんなみんな、
「受け止めて」って
「愛してる」って伝え合える日だから、


今手と手があってきづいた、あなたも誰にも見えないように
強く強­­く私の手握りかえした 
いつも気づかないふりをしてた 本当はこんなに大好きなの 
うれしくて、幸せと、わかってるのに。
この勇気が降り止むまでは ふたりきりで・・・ 降り止む

ほら聞こえる 静かな雪が 二人の声を消していく魔法
途切れる声、聞き返す振りして、
あなたの事ずっと見ていた・・・

特別な今日だけは、雪よやまないで!
あなたに片寄せて、冬のせいにできるよ。

Silent Night

目と目あってきづいた、ずっとこのまま時が止まれば
離れずにそら­­さずに、見つめられるのに、
この街に雪が舞い降りて、あなたの­ぬ­くもりが暖かくて、
触れた手を溶かさずにこのままずっとずっ­と、

今手と手があってきづいた、あなたも誰にも見えないように
強く強く私の手握りかえした 
いつも気づかないふりをしてた 本当はこんなに大好きなの 
うれしくて、幸せと、わかってるのに。

雪の魔法よ解けないで、もう少しこのままで、そうしていくつもの­­冬をあなたのそばで・・・

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ROMAJI

Dōshite na no, samui yoru wa, anata o omoi mune ga shimetsukeru,
Tsutawaru ka ­­na tsutae kireru ka na
Mada kyō mo ienai keredo
Tameiki hitotsu shiroku somaru nanigenai yokogao itsumo iru
Ikiba no nai koigokoro wa, hazukashi gatte wakaranakute tōmawari shi teru no!

Ima-me to me ga atte kidzuita,
Zutto kono mama toki ga tomareba,
Hanarezu ni, sorasazu ni, mitsumerareru no ni,
Kono machi ni yuki ga maiorite, anata no nukumori ga atatakakute,
Fureta te o tokasazu ni, konomama zutto sorezore

Do-shite na no, mataashita mo aeru koto wakatte irunoni ne,
Sorezore no omoi tashikameau, nante totemo kowakute dekinai.
Mado ni utsuru,-gai no hikari, sorezore ga koi o katariatte
"Atashi mo kyō wa" min'na min'na,
"Uketomete" tte
"Itoshiteru" tte tsutae aeru hidakara,

Ima te to te ga atte kidzuita, anata mo darenimo mienai yō ni
Tsuyoku tsuyo ­­ ku watashi no te nigiri ka e shita
Itsumo kidzukanai furi o shi teta hontō wa kon'nani daisukina no
Ureshikute, shiawase to, waka~tsu terunoni.
Kono yūki ga ori yamu made wa futari kiri de ori yamu

Hora kikoeru shizukana yuki ga futari no koe o keshite iku mahō
Togireru koe, kikikaesu furi shite,
Anata no koto zutto mite ita

Tokubetsuna kyōdakeha, yuki yo yamanaide!
Anata ni katayosete, fuyu no sei ni dekiru yo.

Silent Night

Me to meatte kidzuita, zutto kono mama toki ga tomareba
Hanarezu ni sorasazu ni, mitsume rareru no ni,
Kono machi ni yuki ga maiorite, anata no nukumori ga atatakakute,
Fureta te o tokasazu ni kono mama zuttozutto,

Ima te to te ga atte kidzuita, anata mo darenimo mienai yō ni
Tsuyoku tsuyoku watashi no te nigiri ka e shita
Itsumo kidzukanai furi o shi teta hontō wa kon'nani daisukina no
Ureshikute, shiawase to, wakatterunoni.

Yuki no mahō yo hodokenai de, mōsukoshi konomama de, sōshite ikutsu mo no fuyu o anata no soba de

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ENGLISH 

Why is it that, when I think of you in the cold nights, my heart tightens
Will I convey my feelings to you, or would I not be able to
I want to tell you today as well but
Your casual face seen from the side that leaves my breath tainted in white is always there
My awakening love that has nowhere to go, starts acting shy, and starts getting confused and makes a detour

Right now our I realized that both our eyes met
And if only time stays stuck on this moment forever
We'd be able to stare at each other, without letting go, without averting our eyes
In this town the snow flutters down upon us, your warmth is so warm that,
I want to stay like this, where your hand that I touch doesn't melt mine

Why is it that, I understand that we'll see each other tomorrow as well and
We'll confirm our various mutual feelings, but I'm so scared that I can't
The light of the town, shined through the window as we spoke of various things about love
"Me as well, today" everyone everyone
"I'll take everything in" they say
Because today is the day where they convey "I love you"

Right now I realize that both our hands have met, in a way that no one sees it
You strongly strongly strongly grabbed my and back
I always pretended that I didn't notice, even though the truth is that
I happily understood I love you so much
It'll always be just the two of us, until this courage of mine stops raining inside of me

Hey I can hear it, the quiet snow, their magic that erases both our voices
Pretending to listen to your broken voice
I was always looking, at you.

Snow, please don't stop falling on this one and only special day
I can blame my approaching you, on the winter

Silent night

Right now our I realized that both our eyes met
And if only time stays stuck on this moment forever
We'd be able to stare at each other, without letting go, without averting our eyes
In this town the snow flutters down upon us, your warmth is so warm that,
I want to stay like this, where your hand that I touch doesn't melt mine

Right now I realize that both our hands have met, in a way that no one sees it
You strongly strongly strongly grabbed my and back
I always pretended that I didn't notice, even though the truth is that
I happily understood I love you so much
It'll always be just the two of us, until this courage of mine stops raining inside of me

Don't you remove this spell the snow has put on us, let's continue a little more like this, and just like that, I'll spend a number of winters, by your side


source : http://www.languagebymusic.com

[Lyric] Orange (オレンジ) - GReeeeN (Romaji Lyric + English Translation + Indonesia Translation)

Artist             : GReeeeN
Release Date : 25 April 2012
Single            : Orange (オレンジ)

ROMAJI

Hitotsu futatsu to hoshi ga dete kita
Yuuyake ano hi no kaerimichi de
Narabi aruita nanigenai hi to
Sora-iro onaji-iro kasaneta kimi wo omotte

Hajimari wa nantonaku de kimi no koe mo shiranakute
Onaji kaerimichi de sukoshi mae aruiteta yo ne
Yuuyake somaru senaka ga furikaeri me ga atta toki
Akaku someta hoho wo sora no iro no sei ni shita

Ame ga agatta koutei no sumi de
ORENJI no senaka watashi wo mattete kureta tte
Kidzuita hi kara

Aa wakannai yo nankai mo kimi wo oikake kakedashita
Ai na no kai? Koi na no kai? Dore mo wakaranai kanjou
Aa tomerannai kore nan dai? Aseru kono mune no kodou ga
Kimi ni kikoe sou de chikadzukenai
Doushiyou mo nai kurai kimi ga suki nanda

Sore kara no kaerimichi wa futari de narande aruita
Egao nakigao subete ORENJI-IRO ni somete

Ano hi miageta yuuyake no naka de
Hitotsu hikaru hoshi ga kimi to no omoi wo tsunaida to
Kidzuita hi kara

Aa wakannai yo nankai mo kimi wo oikake kakedashita
Ai na no kai? Koi na no kai? Dore mo wakaranai kanjou
Aa tomerannai kore nan dai? Aseru kono mune no kodou ga
Kimi ni kikoe sou de chikadzukenai
Doushiyou mo nai kurai kimi ga suki nanda

Hitotsu futatsu to hoshi ga dete kita
Kono machi ano sora mienai kedo
Kimi to no omoi tsunageta hoshi wa
Kawaranai yo doko ni ite mo mieru darou
Ano hi no you ni

Aa wakannai yo nankai mo kimi wo oikake kakedashita
Ai na no kai? Koi na no kai? Dore mo wakaranai kanjou
Aa tomerannai kore nan dai? Aseru kono mune no kodou ga
Kimi ni kikoeteta no? Sonna kurai
Chikaku ni itai no ni kono toki mo

Aa kimi ga suki kimi ga suki
Ano hi miageta hoshi wo kyou mo
Yuuyake iro no naka mitsuketa yo
Doushiyou mo nai kurai
Komiageru ORENJI
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ENGLISH TRANSLATION

One, Two, The stars came out
after the sunset on our way to home, that day
we walked casually and the sun is still there
but you're thinking the same things even with
the same sky color, the blue sky

Somehow it's beginning to know you,without hearing your voice
I was walking in the same way from your home, somehow it's like a
little while ago where we met our eyes, and I feel during sunset
and you blamed the colors of the sky, where you had a red cheeks

I went up in the corner of the schoolyard during rain
because I realized that was I waiting for at my
back is Orange

Ah I don't know how may times should I keep chasing you
Is this love? Do you love it? Do I know any of these feelings?
Ah this does not stop? here in my heart
My heart keeps on rushing for you
Why I'm so hopeless? I like you so much

From here on, we're walking on our way home, walking like a couple
Changing crying face to a smile, just like color Orange

That day, we looked up at the sunset
Just with one shining star with you, we connected our feelings
and I realized that

Ah I don't know how may times should I keep chasing you
Is this love? Do you love it? Do I know any of these feelings?
Ah this does not stop? here in my heart
My heart keeps on rushing for you
Why I'm so hopeless? I like you so much

One, Two, The stars came out
this town, I don't see any sky
But with you, our feelings are connected with this star
no matter what, still it does not change, we'll be visible
from this day on

Ah I don't know how may times should I keep chasing you
Is this love? Do you love it? Do I know any of these feelings?
Ah this does not stop? here in my heart
About that, did you heart that?
from this moment, we'll be too close

Ah I love you I love you
That day, just looked up at the stars
cause I found a sunset color with you
Even if I'm so hopeless
I still surge on like Orange

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

INDONESIA TRANSLATION

Satu dua, bintang-bintang pun nampak
setelah matahari tenggelam dalam perjalanan pulang hari itu
kita berjalan seperti biasanya dan matahari masih ada disana
tapi kau berpikir hal yang sama 
bahkan dengan warna yang sama dengan langit, langit biru

entah bagaimana aku mulai mengenalmu, tanpa mendengar suaramu
aku sedang berjalan searah dengan jalan rumahmu
entah itu seperti beberapa saat yang lalu ketika mata kita saling bertatap, dan aku merasakan senja
dan kau menyalahkan warna langit, yang sama dengan warna merah pipimu

aku pergi ke pojok lapangan sekolah selama hujan
karena aku menyadari bahwa yang menungguku kembali
adalah orange

ah aku tak tahu berapa lama aku harus tetap mengejarmu
apakah ini cinta ? apakah kau mencintainya ? apakah aku tahu perasaan ini ?
ah ini tak bisa berhenti ? disini dihatiku
hatiku tetap berlari mengejarmu
mengapa aku begitu putus asa ? aku sangat menyukaimu

dari sini, kita berjalan menuju rumah kita, berjalan seperti layaknya seorang pasangan
mengubah tangis menjadi senyuman, seperti warna Orange

ah aku tak tahu berapa lama aku harus tetap mengejarmu
apakah ini cinta ? apakah kau mencintainya ? apakah aku tahu perasaan ini ?
ah ini tak bisa berhenti ? disini dihatiku
hatiku tetap berkari mengejarmu
mengapa aku begitu putus asa ? aku sangat menyukaimu

satu dua, bintang-bintang pun nampak
kota ini, aku tak melihat langit
tapi denganmu, perasaan kita terhubung dengan bintang ini
tak peduli apapun, masih tak berubah, kita akan terlihat
mulai hari ini

ah aku tak tahu berapa lama aku harus tetap mengejarmu
apakah ini cinta ? apakah kau mencintainya ? apakah aku tahu perasaan ini ?
ah ini tak bisa berhenti ? disini dihatiku
tentang itu, apakah kau hati itu ?
mulai saat ini, kita akan dekat

ah aku mencintaimu aku mencintaimu
hari itu, hanya menatap kearah bintang-bintang
karena aku menemukan warna senja denganmu
bahkan jika aku putus asa
aku masih akan berusaha seperti Orange


source [Romaji & English] : http://makikawaii-jklyrics.blogspot.com

Rabu, 05 Desember 2012

Remember From Photos (part 1)

hari ini, 05 Desember 2012
secara tak sengaja aku membuka foto-foto lama di facebook.
dan memang, kebanyakan foto masa putih abu-abu, terus aku susuri lalu......kutemukan foto kita kawan.
potret-potret penuh keceriaan dari terpancar dari raut wajah kita semua. kutelusuri satu persatu, betapa kita bahagia waktu itu. setiap momen tak pernah terlewat, melalui benda yang disebut kamera kita mengabadikannya.

jujur saja, sangat lama aku tak melihat foto-foto kita, terutama ketika kelas XI. ketika kita begitu sangat menikmati masa-masa indah SMA. Yaaaaa...kelas XI, kita seperti merasa bebas, inilah masa sekolah yang sebenarnya.
banyak kejadian yang terjadi, setiap peristiwa begitu sangat berharga, baik kejadian di kelas, maupun di luar kelas. tawa lepas kita yang membahana di seluruh penjuru kelas.
dan memang benar kata orang, masa terindah adalah masa abu-abu, masa emas ketika kita menginjak bangku pendidikan.
dan untukku sendiri aku begitu sangat merindukan ketika masih mengikuti organisasi, karena aku memang tak jago di pelajaran jadi pikiranku aku tuangkan di organisasi.

lucu memang, lalu ini tadi aku menemukan apa yang aku cari. foto kita ketika masih aktif di Satwika Pandu Dharma. 2 tahun mengikutinya berdampak aku tak mudah melupakannya.
apalagi foto anak-anak Tatib (hahahaha), aku yang memang anak tatib yang menjadi orang paling tak disukai adik kelas :D. berempat menjadi tandem yang selalu menjadi sie paling rajin diantara sie-sie yang lain.
ini tadi aku melihat foto-foto kita berempat ketika menjadi tatib di hari terakhir kita ketika masih aktif di Pramuka.
masih ingatkah kalian ketika kita akan masuk kelas untuk memeriksa kelengkapan adik-adik kelas, kita selalu tertawa dulu lalu dengan sekali hembusan nafas yang keras kita langsung masuk ke dalam kelas, memasang tampang yang kita rasa cukup menakutkan bagi mereka :D
Kita berempat berdiri di depan kelas, memeriksa absensi, melihat ke sekeliling kelas, menjelajahi setiap anak yang ada di situ, lalu ketika sang koordinator memerintahkan kita untuk memeriksa mereka, kita bertiga langsung bergerak. dan jika ada yang tak lengkap kita suruh kedepan kelas lalu menyuruh mereka ke Green Land.

aaaah...Green Land, lapangan kecil di belakang sekolah yang memiliki sejuta kenangan bagi kita.
Green Land, hari pertama MOS dan aku terlambat, terpaksa harus berdiri di panggung Green Land, dilihat oleh banyak orang :D
Dan Green Land juga kita biasa menghabiskan waktu bersama ketika tak ada pelajaran ketika masih kelas X. Eh ya ketika kita kelas XI dan XII pun kita masih menggunakan Green Land sebagai tempat untuk olahraga.

Ah iya, hal yang paling aku suka,,,berteriak di Green Land sambil "memarahi" adik-adik kelas yang tak lengkap ketika mengikuti latian pramuka, benar-benar menyenangkan (hahahaha)

Dan tak pernah kita rasakan masa keemasan sekolah kita pun berakhir, 3 tahun yang sangat dan sangat menyenangkan. setiap kejadian adalah pengalaman yang tak pernah terlupa. ulangan, remidi, ulangan remidi, tugas, tugas, dan tugas.
dan sepertinya remidi selalu melekat denganku apalagi matematika sama fisika, selalu tak pernah berjodoh, tapi aku bersyukur karena dengan itu aku bisa merasakan betapa asam manisnya masa-masa itu.

Tangis kita waktu itu, masih ingatkan kalian, kita pernah menangis bersama-sama. kita menangis karena masa indah itu akan berakhir dengan cepat. hanya foto, pengalaman, kenangan, serta ilmu yang menjadi oleh-oleh untuk kita, serta persahabatan yang kan selalu kita ingat sampai kita tua kelak.

apa yang akan terjadi kepada kita 20 tahun kelak ?? ketika kita temu kangen, aku ingin melihat kalian dengan keluarga kecil kalian.
mengingat kembali masa itu, dan kita hanya bisa tertawa ketika mengingatkan.


terima kasih masa-masa indah putih abu-abuku dan semua yang ada di dalamnya
bagaikan kotak kecil yang mampu mengeluarkan banyak sekali harta berharga dari dalamnya.

dan foto-foto ini akan terus mengingatkanku kepada kalian semua...

[Single] D=OUT : Chuukyori Renai (Tokyo Ban) (14.11.2012)

 

 Tracklist
01. Chuukyori Renai
02. Juliana
03. Chuukyori Renai ~Yamanotesen-hen~
04. Chuukyori Renai (Karaoke)


source : edohsama

[Mini-Album] GALEYD : EYE WILL...(04.12.2012)



Tracklist
01. -will-
02. Mebius Trip
03. Calling Angel
04. Eyes of Insanity
05. Hysteria
06. Messaiah


source : edohsama

[Maxi-Single] Matenrou Opera - Innovational Symphonia (2012.12.05)



 Tracklist:
      1- Innovational Symphonia
                2- あの日のままの世界線に向かって (Ano hi no mama no sekaisen ni mukatte)
  3- Freesia
4- RUSH!




source : edohsama.blogspot.com

Minggu, 02 Desember 2012

untuk sementara lagi tidak bisa buat bikin terusan fanfic the GazettE,
Microsoftnya lagi ngambek =3=
gomen ne......m(_  _)m
tapi kalau dah bisa, pasti langsung di terusin kok ^ ^"

Sabtu, 01 Desember 2012

Just Rain and.....








diambil dari jendela kamar asrama ^ ^"
I love RAIN <3

WAY TO NIRMANA TRIMATRA SEDOTAN


step 1 pembuatan nirmana trimatra sedotan


step 2, dah jadi 2 :D


 suasana kamar asrama yang sangat dan sangat berantakan gegara ni tugas, dan harus ngelembur sampek jam 2 pagi

 

hasil akhir taraaaaa~~~~

WAY TO NIRMANA DWIMATRA XDD


hasil dari coret-coret abstrak pas lagi ngerjain gradasi warna :D


hasil dari kerja keras ngerjain nirmana dwimatra komposisi hitam putih :D

Minggu, 18 November 2012

WE BORN TOGETHER, WE RISE TOGETHER (chap 2)

Language          : Bahasa Indonesia
Character          : the GazettE and some OC
Genre               : Tragedy / Friendship / Hurt
Rate                 : M
Disclaimer         : Mereka (the GazettE) bukan milik saya, tapi fic ini baru punya saya
OOC


Summary :

Semua terdiam masih tak percaya dengan insiden Reita membanting bassnya tadi. Reita tak pernah sekali pun membanting bass kesayangannya itu, karena itu merupakan sebagian jiwanya. Dan sekarang ditambah Reita yang mulai berbicara, padahal sebelumnya ia tak pernah mengatakan apa-apa ketika mereka  bertengkar. Sepertinya inilah batas kediaman Reita selama ini. Ruki, Uruha, dan Aoi hanya bisa terdiam.


“Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih kita tak usah menjadi terkenal. Karena dengan begitu aku masih bisa bersama teman-temanku.” Reita berkata lirih

------------------------------------------------------------------------------------------------------
 




Hening
Suasana kembali hening, tak ada lagi yang mau berkomentar. Semuanya telah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing .
Memikirkan kata-kata Reita dan keadaan mereka sekarang.

“Aku keluar,, aku akan keluar dari band ini” Aoi berkata tiba-tiba lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari studio.

“Aoi..” Kai berdiri dan berusaha mencegah

“Tak ada gunanya kau mencegahku Kai, aku akan tetap pada pendirianku “ Aoi berkata tanpa menoleh kebelakang

“Aku telah sampai pada batasku, aku telah memikirkan ini hampir setahun lamanya” lanjutnya.

Aoi pun berjalan keluar Studio, mereka berempat hanya bisa melihat punggungnya yang terus menghilang seiring merenganggnya jarak diantara mereka.

“Jadi…….memang inilah akhir dari the GazettE “ Ruki pun bicara lalu berjalan keluar studio.

Tak ada yang berkomentar. Karena ini semua terlalu mendadak bagi mereka. Keputusan yang tak pernah mereka inginkan sejak pertama kali mereka mendirikan band bernama Gazette lalu berubah nama menjadi the GazettE. Cukup sekali mereka pernah ditinggal Yune sang drummer pada saat itu, mereka tak ingin lagi. Tapi sekarang sepertinya itu semua menjadi sia-sia belaka. Aoi telah mengambil keputusan dan tinggal menyatakan diri secara resmi kepada pihak the GazettE. Dan mungkin yang terburuknya the GazettE akan benar-benar BUBAR.
Tinggal mereka bertiga, Reita, Kai, dan Uruha yang masih diam membatu.

“SIAL !!! “ Reita meninju tembok disebelahnya. Ia menitihkan air mata disela kekesalannya.

“Rei…..”Uruha berkata pelan sambil melihat Reita

“Aku…aku telah gagal” Kai pun terduduk di lantai sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya, tatapan matanya kosong.

“Bukan salahmu Kai, tapi ini salah kita semua” Uruha menjawab dengan lemah.

Hening kembali tercipta. Dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga serta perlengkapan band mereka. Tak ada yang berani bersuara lagi. Benar-benar kenyataan yang menyakitkan. Sesak sangat sesak, semuanya sia-sia sekarang. Pengorbanan mereka selama ini telah sia-sia.

Tiba-tiba pintu studio terbuka. Mereka bertiga  berharap itu adalah Ruki dan Aoi yang datang, berharap Aoi berubah pikiran dan berbaikan dengan Ruki. Namun itu hanyalah menjadi sebuah harapan kosong bagi mereka bertiga, karena yang datang adalah manager the GazettE, Kojiro Minami.

“Ada apa ini, kenapa hanya kalian bertiga, kemana yang lain ? dan lagi kenapa bass itu di lantai ?” orang itu berjalan ke dalam dan matanya langsung tertuju pada bass hitam Reita yang menelungkup di lantai.

Tak ada yang menjawab

“Yutaka, katakan sesuatu padaku, apa yang sebenarnya terjadi !”perintahnya kenapa Kai

“Kita…..”

“……”

“Kita memutuskan membubarkan the GazettE” ucap Kai tanpa melihat managernya

“APA ???? Kalian sedang tidak bercanda bukan ?! ini bukan saatnya kalian bercanda seperti ini. GROAN of DIPLOSOMIA telah menanti. Semua sudah siap. Jadi berhentilah kalian melakukan hal konyol seperti ini”

Tentu saja sang manager yang telah bersama mereka sejak band itu pertama kali kali berdiri mengira ini hanya sebuah lelucon, mereka terlihat baik-baik saja selama ini. Jika ada konflik pun langsung diselesaikan, dan lagi mereka akan mengadakan tour album terbaru mereka DIVISION. Semua telah siap, tinggal 1 minggu tour akan dimulai.
Tapi kenyataannya ini semua bukanlah lelucon yang sering mereka buat. Inilah yang ada. Kai telah mengatakan kalau the GazettE akan bubar.

“Maaf mengatakan ini secara tiba-tiba Kojiro-san, disaat kita akan menjalani tour. Tapi memang inilah yang ada, kami berlima sudah tak ada kecocokan. Dan memutuskan untuk membubarkan the GazettE. Maafkan kami karena ini semua terlalu mendadak, maafkan kami” Uruha menjelasakn dengan wajah tanpa ekspresi dan membungkuk kepada sang manager.

“Kami akan menjelaskan kepada semua staff the GazettE, serta PSC” lanjutnya

Sang manager yang berusia 45 tahun itu pun tak bicara apa-apa, ini terlalu mengagetkan. Tapi ia pun akhirnya mengerti, karena selama ini sebenarnya ia telah menyadarinya. Mereka dingin, senyum mereka selalu dipaksakan ketika berada di depan umum.
Jadi inilah kesimpulannya. Dan telah diputuskan. 

“Awalnya aku hanya merasa ini mungkin hanya perasaanku saja, aku merasa kalian telah berubah. Aku merasa kalian berbeda, tak seperti dulu. Aku seperti tak melihat kalian yang dulu. Terlalu banyak diam. Aku tak bisa menyalahkan kalian sepenuhnya, keputusan telah diambil, dan meskipun ini sangat menyakitkanku secara pribadi, tapi apa boleh buat. Aku akan berbicara kenapa semua crew dan PSC. Besok lusa kita akan mengadakan pers conference untuk mengumumkan ini semua.” Lanjut sang manager dengan raut wajah kecewa dan beranjak dari disitu.

“Gomen…”semuanya serentak berkata lalu membungkukkan badan.

Pintu tertutup, dan kini tinggal mereka bertiga kembali.


Di tempat Aoi

Aoi menuju parkiran mobilnya, fikirannya kalut sekarang. Bukankah ia telah memutuskan hal yang selama ini telah membebaninya ? setidaknya sekarang ia telah lega bukan. Tapi tidak, tentu saja tidak. Keputusan untuk hengkang adalah keputusan yang paling berat dalam hidupnya, sejatinya ia tak ingin, tapi apa boleh buat, ia sendiri juga tak tahu. Malahan yang terburuk band yang telah merilis 6 album itu akan DISBAND. Itulah keputusan final diantara mereka semua. Karna tak mungkin mereka mencari personil baru. Lebih baik mereka bubar daripada melakukannya. Hampir sama dengan kisah X-JAPAN yang bubar pada tahun 1997 karena ditinggal hengkang oleh vocalistnya. Aoi dengan berat meninggalkan kantor PSC yang sekaligus menjadi studio bagi band-band naungan mereka.
Dipacunya mobil sport warna putih bergaris hitam itu, pikirannya kemana-mana, hingga tak terasa air matanya menetes. Ia tak tahu kemana tujuannya selanjutnya, lalu iPhone hitamnya bergetar, menunjukkan sebuah e-mail. Dari Kojiro Minami sang manager.

“Lusa akan diadakan pers conference untuk mengumumkan bubarnya the GazettE. Aku harap kalian berlima datang semua. Setidaknya berilah alasan kepada semuanya. Dan aku telah berbicara dengan semua staff the GazettE serta pihak PSC.”

Begitulah isi dari e-mail yang diterima Aoi dari sang manager.

“Sepertinya, semuanya sudah tau” dalam hatinya.
Ia terus menyetir mobilnya tak tahu kemana.




Di tempat Ruki

Ia membuka handphonenya, e-mail dari sang manager.
Sama seperti yang Aoi terima, sepertinya memang e-mail itu dikirim ke mereka berlima.
Dengan perasaan yang berat ia membacanya, menyakitkan. Setelah membacanya Ruki memasukkan handphonenya di saku jaketnya.

Ia berjalan dengan air muka sendu, berjalan menuju taman yang dekat dengan kantor PSC. Taman rindang dengan air mancur ditengahnya ini adalah tempat mereka berlima biasa berkumpul jika selesai latihan. Mereka berlima sering menghabiskan waktu disana. Tepat di kursi panjang yang menghadap air mancur, di bawah pohon sakura. Sangat manis ketika mengenangnya, mengenang saat-saat mereka bersama. 
Pria bertubuh paling mungil diantara teman-temannya ini pun tersenyum ketir. Kedua matanya menjelajah taman yang tak terlalu luas itu. Ia lalu mengambil duduk di kursi panjang berwarna coklat tempat mereka berlima dulu sering duduk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitamnya, sunyi, sepi, dan dingin, karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Ia pun menenggelamkan sebagian wajahnya ke dalam jaket yang memiliki leher panjang itu. Dan untuk yang pertama kali ia sendirian di tempat itu, benar-benar sendiri.



2 hari kemudian

Hari yang paling tak mereka inginkan pun datang. Pagi yang cerah, tetapi hari itu adalah hari paling suram sepanjang hidup bagi kelima pria yang sekarang sudah berada di dalam kantor PSC.

Sama seperti kemarin-kemarin, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Kai adalah orang yang terlihat paling terpukul, wajahnya sangat terlihat payah dan lelah, karena 2 hari ini ia tak tidur sama sekali. Reita berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok berwallpapper biru muda itu, dilipatnya kedua tangan di dadanya. Di depannya terdapat sofa memanjang berwarna coklat muda yang sedang diduduki oleh Uruha yang paling kiri, Aoi disebelah kanannya, serta Kai di sebelah Aoi. Sementara Ruki ia duduk di sofa kecil di pojokkan ruangan itu. Raut wajah mereka sama semua. KOSONG. Ruangan berukuran sedang itu pun sangat miskin suara.

KLEK

Pintu terbuka, dilihatnya manager setia mereka, dengan raut wajah yang tak kalah kosongnya memasuki ruangan itu.

“Ayo, semuanya sudah menunggu” perintahnya dengan lesu.

“Hai…” mereka berlima menjawab dengan lirih bersamaan sambil berjalan mengekor di belakang sang manager. 

Mereka berjalan dalam diam. Ruangan pers conference tak terlalu jauh dari tempat mereka tadi.
Dan ketika mereka memasuki ruangan..

Tap tap tap tap

Jepret jepret jepret

Jepretan dan blitz kamera langsung menghujani mereka begitu mengatahui incaran berita mereka memasuki ruangan. Semuanya telah berkumpul di ruangan yang lumayan besar itu, wartawan, cameramen, fotografer. Peliput berita mulai dari majalah music, surat kabar, televisi, bahkan wartawan lepas pun tak luput ada disitu, bahkan ada beberapa wartawan live siaran disana. Karena bagi mereka ini adalah berita yang besar, sangat jarang PSC khususnya the GazettE mengadakan pers conference. Apalagi pengumumannya baru 2 hari yang lalu, tentu saja mereka bertanya-tanya, maka tak heran banyak sekali wartawan yang datang di acara tersebut.

Reita, Kai, Ruki, Uruha, Aoi serta manager mereka pun duduk berurutan.
Di sebelah mereka telah duduk beberapa petinggi PSC. 

Pers conference pun dimulai. Dibuka oleh manager the GazettE.

Semua diam memperhatikan.

“Selamat siang rekan-rekan wartawan semua, maaf jika ini semua terlalu mendadak. Disini kami selaku pihak PSC dan the GazettE akan mengumumkan beberapa hal penting yang mungkin akan mengejutkan rekan-rekan semua”

Beberapa wartawan pun berkasak-kusuk. 

“Apakah ini menyangkut konser tour mereka? “ seorang wartawan laki-laki berkacamata mengacungkan tangan lalu langsung bertanya.

“Iyaa, ini juga menyangkut tour konser mereka” jawab sang manager

“Baiklah, mungkin akan lebih jelasnya akan disampaikan oleh Kai-san selaku leader dari the Gazette” 

Kai dengan wajah yang dipaksakan pun mulai mengumpulkan kekuatannya untuk mengatakan semuanya..

“Selamat siang, maaf menganggu waktu rekan-rekan wartawan semua. Disini saya selaku leader dari the GazettE ingin mengumumkan hal yang mungkin akan mengejutkan semua pihak..” Kai berhenti sebentar, sepertinya ia tak kuat. Tapi Reita yang ada disebelah kanan Kai pun memegang bahu Kai untuk memberikan kekuatan untuknya.

Semuanya diam, ingin menyimak setiap kata-kata yang akan keluar dari bibir pria yang mempunyai lesung pipi itu.

“Kami, the GazettE setelah melakukan pembicaraan yang cukup lama dan beberapa pertimbangan dari pihak member….”

“……..dengan sangat menyesal kami memutuskan bahwa hanya sampai tahun ke 10 ini the GazettE berkarya…“ 

Tentu saja pernyataan Kai tadi sontak membuat semua mata para pemburu berita disitu kaget. Pasalnya 5 hari lagi akan diadakan tour konser mereka. Dan mereka baru saja merilis album baru. Bahkan tak ada tanda-tanda perpecahan di band tersebut.

“…terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung kami selama ini, kami tak akan pernah menjadi seperti ini jika tanpa kalian. Terima kasih untuk segala dukungan yang telah kalian curahkan untuk kami semua. Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengecewakan kalian atas keputusan yang kami ambil ini…” 

Kai tak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya seakan tercekik, kedua matanya pun hampir saja meneteskan air mata. Ia telah kehabisan kata-kata.
Semua wartawan pun tak ada yang bisa berkata-kata karena mereka tentu saja tak pernah menyangka ini semua. Mereka saling berpandangan satu dengan yang lainnya.

“….alasan kami membubarkan the GazettE adalah karena sudah tak ada lagi kecocokan dalam bermusik, dan salah satu dari kami berlima memang ingin mengundurkan diri. Jadi, daripada kami harus berganti personil, lebih baik kami membubarkan band ini. Semoga kalian semua bisa menerimanya..” Reita pun menyambung pernyataan Kai dengan hati hancur.

Wartawan pun mulai ada yang berani bertanya, beberapa ada yang mengacungkan tangan. Manager the GazettE pun mempersilahkan seorang wartawan wanita untuk mengajukan pertanyaan.

“Saya ingin bertanya, siapakah yang ingin mngundurkan diri ? dan kenapa ini sangat mendadak, sedangkan GROAN of DIPLOSOMIA 5 hari lagi…” 

Uruha pun menjawab
“Masalah siapa yang memutuskan mengundurkan diri, ini adalah privasi kami. Kami tak ingin ada pihak yang berpikiran bahwa ini semua adalah salahnya, kami tidak menginginkan hal yang buruk terjadi padanya. Dan mengapa ini sangat mendadak karena sebenarnya perpecahan sudah sering terjadi diantara kami, dan karena alasan karena tak ingin lebih mengecewakan semuanya, kami memilih sekarang untuk mengumumkannya. Serta soal tour album baru kami, dari lubuk hati yang paling dalam kami sangat sangat menyesal, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya untuk semua orang yang telah menunggu kami untuk konser. Terima kasih…” jawab Uruha dengan nada yang tegas tapi terasa sekali ia juga kecewa dengan keputusan yang mereka ambil. 

“Lalu, mengapa kalian tidak mencari personil yang baru saja ?” Tanya seorang wartawan lainnya

DEG

“…..”

Belum ada yang berani menjawab.

“….dulu, saya, Reita, dan Uruha pernah mengatakan bahwa inilah band terakhir kami, dan karena alasan itulah kami lebih baik membubarkannya” Ruki pun tiba-tiba menjawab

“Dan entahlah, rasanya memang sangat aneh jika kami membubarkannya hanya kerena masalah yang sepele bagi sebagian orang. Tapi…jika kalian berada dalam posisi kami, kalian akan mengerti mengapa kami melakukan ini..” lanjut Ruki

Ya, memang alasan itulah yang ada. Sangat sulit menjelaskan kepada publik tentang pembubaran the GazettE, hanya mereka yang tahu, hanya yang pernah mengalaminya yang mengetahui bagaimana rasanya.

 “Jadi apakah masing-masing dari kalian akan membentuk band lain ?” Tanya seorang wartawan lagi.

“TIDAK” dengan tegas dan serentak mereka semua menjawab.

Mereka yang ada disitu pun dibuat terkejut kembali dengan perkataan mereka berlima. Karena jelas saja Reita, Ruki, serta Uruha tidak akan mungkin membentuk band lagi, sesuai janji mereka. Lalu Kai dan Aoi ada alasan tersendiri bagi mereka mengapa mereka tak ingin bekerja dalam band lagi.

“….”

“Karena saya merasa the GazettE adalah segalanya, dan saya tak mungkin bisa mendirikan band yang baru lagi. Saya mungkin tak akan bisa kalau harus mengulanginya dari awal bersama band lain.” Kai menjawab dengan lugas tapi dengan berat.

Ia pun mengingat waktu ia bergabung dengan Gazette setelah band itu ditinggal oleh Yune, drummer mereka saat itu. Waktu itu Ruki yang mengajaknya untuk bergabung.

 
Flash back

“Kai-kun, apakah kau sudah memutuskan band mana selanjutnya?” tanya Ruki pada waktu itu kepada Kai.

“Disini….Gazette” Kai menjawab dengan spontan. 

Entah mengapa ia merasa kalau Gazette lah band yang tepat untuk dia, setelah Kai keluar dari Mareydi†Creia.
 
End of flash back



“Lalu apa rencana kalian semua setelah ini ?” 

“Entahlah, kami tidak tahu. Yang jelas kami sudah memutuskan jalan mana yang akan kami tempuh masing-masing…” Kai menjawab.

Begitulah sesi pres con yang mereka adakan. Aoi pun hanya diam, ia tak berani menjawab, ia tak ingin mengatakan apa-apa saat ini. Dan Uruha yang merupakan teman terdekat Aoi hanya bisa meliriknya dengan sudut matanya.  Pertanyaan demi pertanyaan menyerbu mereka terkait dengan keputusan yang mereka ambil. 

Semua yang ada disitu tampak kecewa sekali. Begitu pula pihak PSC yang 2 hari lalu diberitahu oleh manager the GazettE, mereka tampak terkejut dan marah atas rencana yang mereka ambil. Tapi apa boleh buat, lagi-lagi keputusan telah diambil. Tak ada yang bisa merubah.

Pers conference pun selesai, semuanya keluar ruangan dengan kekecewaan di wajah mereka. Semuanya.

Berita pun langsung menyebar ke seluruh Jepang, bahkan seluruh dunia. Surat kabar, internet, televisi semuanya hangat membicarakan disbandnya the GazettE. Efeknya bukan hanya fans di Jepang saja, tapi juga di seluruh dunia. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Baru saja mereka senang karena the GazettE baru saja mengeluarkan album ke-6 mereka dan akan mengadakan tour konser. Tapi yang terjadi setelahnya sangat mengejutkan semua pihak, tak ada yang menyangka bahwa terjadi perpecahan di antara mereka berlima, sudah tak ada lagi kecocokan bahkan ada yang ingin keluar. Tak ada angin dan tak ada hujan. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya dan kecewanya mereka semua.

Bahkan band-band lain di Jepang terutama yang 1 management di PSC juga tak menyangka, semuanya terlihat baik-baik saja. Padahal mereka sangat sibuk di tahun 2012 ini, konser The Decade, pembuatan album baru, dll.
Begitulah yang ada….



Beberapa saat setelah pers conference

Kai, Uruha, Reita, Aoi, dan Uruha berada dalam ruangan manager PSC bersama Kojiro Minami dan Masashiro Jin manager PSC.

“Mungkin ini adalah harapanku bersama semua orang yang mendukung kalian selama ini.” Ucap Jin kepada mereka berlima

“….tapi aku sangat menginginkan ini akan terwujud entah kapan suatu hari nanti. Aku menginginkan kalian berubah pikiran dan membentuk the GazettE bersama lagi. Kalian berlima…”

“dan aku, bukan semua orang disini akan menyambut kalian dengan tangan terbuka. Semoga kalian berubah pikiran” lanjutnya sambil memandang ke mata mereka berlima.
Mereka masih diam, tak athu apa yang harus di katakan.

“Entahlah Masashiro-san, kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. “ terang Kai.

“mungkin ucapan terima kasih saja tak akan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa Anda dan pihak PSC yang lain telah membantu kami selama ini, menjadikan kami dikenal semua orang. Terima kasih banyak dari lubuk hati kami yang paling dalam..” lanjut Kai dan yang lain hanya tersenyum ketir.

“dan kami mohon maaf atas semuanya yang telah terjadi ini selama ini, sekarang kami akan mulai berjalan sendiri-sendiri”

“sekali lagi kami mohon maaf..” semuanya pun membungkukkaan badan ke Jin.

Mereka berlima pun berjalan ke luar ruangan itu.

“ingatlah, PSC dan semuanya akan setia menunggu kalian kembali…” ujar Jin ketika hanya punggung mereka yang terlihat.

Langkah mereka pun terhenti, tapi tak ada yang menoleh dan menjawab.
Pintu pun tertutup, dan hanya ada Minami dan Jin yang tersisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di suatu tempat dengan air mancur di tengahnya, dedaunan yang mulai menguning dan berguguran, langit berwarna orange, dan terlihat tak banyak orang disana. Lima pria tengah berkumpul disitu, 2 orang duduk di kursi panjang di bawah pohon bunga sakura, yang satu berdiri memandangi air mancur, serta 2 yang lain duduk sembarangan di atas tanah.

“Aku berterima kasih kepada kalian semua, atas semua yang telah kita alami dan yang kita hadapi. Aku seperti menemukan keluarga baru yang bernama the GazettE, meskipun kini keluargaku itu harus berakhir..”Aoi pun mulai berbicara menatap mereka berempat yang tengah duduk.

“Maafkan keegoisanku ini, aku benar-benar minta maaf, dan terima kasih untuk semuanya. Aku tak bisa berkata apapun selain ini…”

“Aku pun selalu mengingat bagaimana kita mengawali ini semua, menyenangkan sekali jika kuingat semuanya, kita tertawa bersama, menangis bersama, kecewa bersama, dan marah bersama. Aku selalu merasa di sinilah tempatku, ketika bersama kalian dan berada di atas panggung mengekspresikan apa yang kita rasakan bersama dan melakukan yang kita inginkan bersama. Aku akan selalu mengingatnya, selalu…”Aoi mengakhiri kata-katanya dengan air mata yang terus mengalir.

Reita yang tengah duduk di tanah itu pun berdiri lalu memeluknya. Pelukan yang semakin membuatnya menangis. Uruha yang duduk di kursi pun berdiri dan menghampiri mereka, memegang bahu Aoi, teman dekatnya.

“Kita tak akan melupakannya, perjalana kita tak akan mungkin kita lupakan, meskipun ini harus berakhir. Tapi kenangan itu akan terus membekas di hati kita semua. Aku bahagia bisa mengenal kalian semua dan menjalani kehidupan bersama kalian…”Reita berkata dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.

Kai yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menunduk dan tak kuasa menahan air matanya untuk menetes untuk kesekian kali dalam 2 hari ini. Dan Ruki yang masih duduk di kursi coklat memandang mereka dengan perasaan bersalah, sangat bersalah. Ia tak ingin menangis, tapi apa daya, kedua bola matanya telah memerah dan air mata yang siap menetes. 

Mereka berada dalam keheningan yang dipenuhi air mata, air mata perpisahan. Tak ada perkataan yang mengalun dari mulut mereka berlima, hanya isakan lirih.
Tak akan ada lagi nama the GazettE, tak akan ada lagi teriakan para fans mereka di tengah aksi mereka di atas panggung, tak akan ada lagi nama Ruki, Reita, Aoi, Kai, dan Uruha. Yang ada hanyalah Matsumoto Takanori, Suzuki Akira, Shiroyama Yuu, Uke Yutaka, dan Takashima Kouyou. 

Kai dan Ruki pun mengahampiri mereka bertiga, saling berpelukan. Pelukan yang terakhir yang mereka lakukan berlima.


==TBC===




Maaf maaf bila konfliknya tidak jelas (=________=)a
paling bingung soal pers conferencenya, jadi di skip aja :D
lalu soal nama manager PSC dan the GazettE itu nama ngasal, soalnya nyari nama managernya gak dapet, malahan katanya Uruha manager the GazettE 
buat bagian perpisahan mereka yang mereka pelukan terinspirasi waktu liat the GazettE nangis sehabis konser di Tokyo Dome 
okeeee, jaa~~ ^o^)//

About