Fanfiction pertama dengan full cast member BORN. Judulnya sama dengan
lagu BORN sendiri.
DEMON
Author : Lycoris
Fandom : BORN
Cast : Ray, K,
Tomo, Ryoga, Kifumi
Genre : Supernatural,
Family, Friendship
Rate : semi M
Disclaimer : only this fic is mine,
not BORN members, don’t like don’t read.
Warning : OOC, typo(s), berantakan
ONE SHOT
*ps : Gomennasai Ray-san (┳◇┳)
Gelap, terpojok, terasing. Di
ruangan 3m X 4m itu sangat minim cahaya, hanya sebuah cahaya kecil yang masuk
melalui jendela berukuran 10cm x 6cm. Pengap, dan dingin. Jika saja ada alas
yang lebih baik maka penghuni ruangan itu tak akan sesengsara ini.
Tapi siapa yang butuh alas yang
hangat jika saja yang membutuhkannya sudah ‘mati’ ? Bukan mati dalam arti
sesungguhnya memang. Yang mati adalah jiwanya. Benar, jiwanya telah mati hampir
10 tahun yang lalu. Dan itu berarti sudah 10 tahun itu juga ia disekap di
ruangan kecil dan pengap itu.
Terlihat di sebelah kakinya yang
telah menghitam karena dekil sebuah piring yang terbuat dari melamin dan sebuah
gelas yang terbuat dari seng. Ia telah menghabiskan makanannya sekitar setengah
jam yang lalu meskipun sebenarnya ia tak tahu arti dari kata makan. Otaknya
telah berhenti berfungsi sejak 10 tahun itu juga.
Usianya baru menginjak 12 tahun
kala itu, dan sekarang di usianya yang telah menginjak 22 tahun ia masih tak
bisa mengingat kenapa ia bisa berada di ruangan yang bernama ‘penjara’ itu.
“Kau lihat ? Anak itu tak
menunjukkan perubahan sedikit pun semenjak pertama kali ia datang kesini Ryoga.”
Terdengar dengan jelas sebuah suara yang hampir saja putus asa.
Tepat di depan ‘penjara’ itu
terdapat sebuah ruangan atau yang lebih dikenal dengan laboratorium.
“Aku tak akan menyerah K ! Aku
akan membuktikannya, meskipun kita harus------“ pemuda yang lainnya menjawab
namun tak ia teruskan.
“Harus apa ?! harus terus menerus
menyiksanya seperti itu !? iyaa ?!!” Pemuda yang bernama K sudah kehabisan
kesabaran.
“Kau tak mengerti K !” Ryoga membentak.
“Kau yang tak mengerti ! apa kau
menginginkan ia mati seperti keluarganya 10 tahun yang lalu ?! itu yang kau dan
Tomo inginkan, huuh ?!!” Pemuda itu, K sudah kehilangan kesabaran, ia kemudian
mengambil sebuah kunci yang sedari tadi diam menggantung di sebelah pintu yang
terbuat dari besi itu.
Lawan bicaranya Ryoga hanya bisa
kaget dengan apa yang K lakukan. Ia akan mencegahnya, namun sebelum ia berhasil
K sudah keluar dari lab itu dan menuju ke ruangan dimana pemuda ‘gila’ itu
tersimpan.
“Kau akan menyesal K !” Ryoga
berteriak. K tak mempedulikannya ia sudah mantap akan membebaskan pemuda yang
menjadi ‘kunci’ dari kejadian mengenaskan 10 tahun yang lalu itu.
“Kau memang sudah gila, sama
seperti dia !” Ryoga pun meninju pintu besi di depannya, ia sangat kesal dengan
apa yang sudah teman 1 profesinya itu lakukan.
K menuju ke ruangan sempit dan
gelap itu.
“Haaah !!” ia membuang nafas
dengan kesal.
“Aku yakin keputusanku ini
benar.” Ia mulai membuka gembok pintu itu.
“Ray” begitu sebuah tulisan yang tertera di lempengan plat besi
yang telah menempel di pintu yang terbuat dari baja selama 10 tahun itu.
Begitu pintu baja itu terbuka,
terlihat seorang pemuda yang berusia 6 tahun lebih muda darinya sedang duduk di
pojokan ruangan. Tangannya terlihat sedang menulis sesuatu di tembok.
Penampilannya sangat kumuh dan kumal, ya karena hampir 10 tahun ia tak
menyentuh air alias mandi.
K menghampiri pemuda itu. Begitu
Ray menyadari ada seseorang yang masuk, ia segera mendekap erat lututnya,
pandangannya terlihat ketakukan, dengan reflek ia menggelengkan kepala.
“Tidak ! bukan ! pergi ! pergi !”
Ray berteriak histeris. K berusaha menenangkannya dengan cara mengajukan kedua
tangannya. Raut wajah K seakan mengatakan aku-tak-akan-menyakitimu.
“Tenang Ray, kau tak akan
tersakiti lagi, aku akan membuka rantai yang mengikat kaki sekaligus yang
mengikat hidupmu itu.” K berkata dengan sangat tenang dan pelan, agar Ray tidak
lebih histeris.
“Mati, mereka mati.
Merah.....sayap.....taring. Aku......aku takut.” Ray menutup wajahnya yang
kumal itu dengan kedua tangannya. Ia mulai meneteskan air mata. Kemudian K pun
ingat akan sesuatu yang ada di jas putihnya.
“Tenang Ray, kau ingat ini ?” K
pun mengambilnya dan mengeluarkan sebuah bola kaca bening yang didalamnya ada
sesuatu yang menyerupai salju.
Ray seketika terdiam, ia terpaku
dengan benda yang seukuran dengan bola kasti yang baru saja ditunjukkan oleh K.
Begitu melihat Ray terdiam, K bisa sedikit bernafas lega. Dugaannya tepat.
“Kau mengingat ini kan Ray, jadi
sekarang tenangkan dirimu dan aku akan membawamu keluar dari neraka ini.
Bagaimana ?” tawar K kepada Ray yang kini mulai menurut padanya.
Ray mengangguk kecil. “Baiklah
aku akan mengeluarkanmu dari sini, dan ingat kau jangan berteriak-teriak.” Kini
K telah melepaskan rantai yang selama 10 tahun ini mengikat Ray dengan tujuan
agar pemuda itu tak merusak ruangan itu. Karena dulu sebelum ia ‘diborgol’ ia
telah berhasil menghancurkan ranjang dan meja yang ada di ruangan itu. Itulah
sebabnya tak ada apa-apa lagi disana dan sejak saat itu Ray harus diborgol kaki
kanannya.
“Baiklah Ray, sekarang ikutlah
denganku.” K memberikan tangannya kepada Ray. Ray menatap dengan ragu, namun
pada akhirnya tangan yang menghitam karena kotoran itu meraih tangan K.
K mengangguk sambil tersenyum.
“Bagus Ray, aku akan membuktikan bahwa kau tak bersalah atas kejadian itu.” K
berkata lirih di bagian terakhir perkataannya.
Mereka berdua pun berjalan
meninggalkan ‘penjara’ itu. Ray yang memang sudah hanpir 10 tahun tak pernah
melihat cahaya terang itu pun menutup matanya dengan tangan kirinya begitu ia
keluar dari sana. Cahaya lampu-lampu di lorong itu memang sangat terang bagi
Ray.
“Sekarang kita berdua kan menuju
ke rumahku, lalu aku akan membersihkan badanmu itu.” K masih menggandeng Ray,ia
hanya bisa menurut. Kini mereka berjalan menjauh dari sana, tanpa mereka sadari
ternyata Ryoga masih intens memperhatikan mereka berdua dari balik jendela
kaca.
“Apa yang
telah kau lakukan K, kau tak tahu resiko apa yang telah kau perbuat.”
******
Kini Ray telah bersih, badan yang
menghitam karena berbagai macam kotoran itu telah bersih, memperlihatkan badan
putih Ray. Dan rambut yang memanjang dan gimbal itu telah K potong, menyisakan
rambut yang tipis dengan panjang yang tak sampai di bahunya itu. Kuku-kuku
hitam dan panjang Ray juga telah dipotong oleh K. Baju kumal Ray telah berganti
dengan kaos lengan panjang hitam yang ia lipat sampai di sikunya, celana jeans
milik K pun juga terlihat cocok dan pas untuk Ray. Ray yang baru yang ada di
depan K.
“Nah, begini lebih baik. Sekarang
kau harus makan Ray.” K membalikkan badannya dan bermaksud menuju dapur untuk
menyiapkan makanan untuk Ray. Tapi Ray dengan sigap memegang pergelangan tangan
K. K yang kaget itu kemudian melihat wajah Ray.
“Ja-ngan pergi. Aku..tak mau
sendirian lagi. Ta-kut.” Ucap Ray terbata, raut wajahnya memang datar, matanya
menatap kosong, namun bisa rasakan bahwa mata itu terlihat ketakutan. K yang
melihat itu pun mengerti, sangat berat memang untuk lepas dari kenangan kelam
10 tahun yang telah membelenggu Ray. Dengan raut penuh pengertian K pun
berjongkok di depan Ray yang duduk di kasur tempat tidur K.
“Kalau begitu, tetaplah disini
bersamaku. Dan aku berjanji kau tak akan pernah sendirian lagi.” K mengusap
puncak kepala Ray. Entah apa yang Ray sekarang rasakan, mungkin jika jiwa itu
masih ada maka kehangatan yang akan ia rasakan.
“Ayo, kita ke bawah. Kau harus
makan sekarang, aku tahu pasti tidak pernah enak makan makanan yang dipenuhi
dengan obat-obatan itu.” ekspresi K langsung lesu begitu ia mengingat dengan
apa yang Ryoga dan Tomo berikan untuk Ray.
Pemilik mata hitam bening itu
mengangguk pelan, meskipun raut wajahnya datar dan tak terbaca. K tahu pemuda
itu telah ‘hilang’, seakan hanya mayat hidup yang ada di depannya. Tapi ia
yakin bahwa pelan-pelan ia akan membawa jiwa Ray yang hilang itu kembali dan menceritakan
‘semuanya’.
Mereka berdua telah berjalan
menuju ruang makan dan menyatu dengan dapur itu. Di rumahnya itu, K memang hidup sendirian, oleh karenanya ia senang Ray kini tinggal bersamanya.
Karena sejak awal ia bekerja di
tempat yang dikatakan sebagai lab pertahanan dan percobaan milik Tomo -9 tahun
yang lalu- ia tak pernah setuju bahwa Ray harus dikurung. Ia merasa Ray hanya
‘korban’ yang harus diobati, bukan malah disiksa seperti itu, memasukkannya ke
penjara yang pengap, kecil, dan gelap. Sudah cukup 9 tahun pula ia bersabar
melihat keadaan Ray yang diperlakukan semena-mena oleh Ryoga dan Tomo yang
dengan tujuan untuk menelitinya.
Meneliti apa, jika yang mereka
lakukan hanya memberikannya obat-obatan aneh yang mereka campur dengan makanan
dan minuman Ray. Bayangkan saja setiap hari 3 kali ia harus memakan dan meminum
obat-obatan yang berbeda, dengan harapan mereka akan memperoleh ‘jawaban’ atas
apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Bodoh! begitu pikir K.
Tapi sekarang Ray telah
bersamanya, meskipun ia juga tahu bahwa ia akan siap menanggung semuanya jika
saja apa yang Ryoga dan Tomo ‘katakan’ adalah benar.
“Apa..ini ?” perkataan terbata
Ray membuat K kembali ke realita. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah
yang Ray maksud.
“Oh, ini sumpit Ray, kau harus
makan dengan menggunakan ini, seperti ini.” K mempraktekkan bagaimana
menggunakan sumpit.
“Aku rasa ia memang raga yang kosong. Semuanya telah hilang karena
kejadian itu dan obat-obatan sialan dari Ryoga dan Tomo.” K hanya berkata
dalam hati. Ia mengutuk apa yang sudah teman-temannya lakukan kepada Ray.
“Kau bisa ?” K melihat usaha Ray
untuk menggunakan sumpit yang berkali-kali terjatuh. Karena selama di penjara
itu Ray makan dengan menggunakan tangannya.
“Kalau begitu aku akan
mengambilkan makanan untukmu Ray, coba terus sampai kau bisa.” K tersenyum
simpul melihat Ray yang sedikit demi sedikit mulai ‘mengumpulkan’ jiwanya itu.
Mereka
pun akhirnya makan, dengan Ray yang masih kesulitan mengunakan sumpit. K hanya
tertawa kecil melihat usaha Ray. Dalam dirinya K yakin bahwa Ray akan mengingat
semuanya, sedikit demi sedikit.
*******
“Bodoh !! apa yang sebenarnya K
lakukan !” tak henti-hentinya ia marah. Sudah hampir ia membanting apa saja
yang ada di lab itu, jika saja Ryoga tak mencegahnya.
“Apa ia tak tahu jika Ray
berbahaya !?” ia kini hanya meremas rambutnya dengan kesal.
“Kuso !!”
Ryoga yang sedari tadi hanya
berdiri di sampingnya hanya bisa melihatnya. Ia sudah lelah menahannya agar tak
membanting barang-barang yang rentan dan sangat berharga di lab itu.
“Tenangkan dirimu Tomo, bukan kau saja yang
marah akan apa yang K lakukan, tapi aku juga. Aku sudah mencegahnya kemarin,
tapi apa daya, ia sudah bertekat bulat akan menjaga Ray di rumahnya.” Ryoga
menghela nafas.
“Haaaa ??!! di rumahnya ? K kau memang
sudah gila, lalu untuk apa selama ini kita menelitinya kalau pada akhirnya kau
melepaskannya !!” Tomo meninju meja yang di atasnya terdapat sebuah foto yang
memperlihatkan 2 orang anak laki-laki yang berusia sekitar 10 tahun dan sekitar
17 tahun bersama dengan keluarganya yang tengah tersenyum bahagia.
Seketika
ia melunak. “Maafkan aku Kifumi, aku tak bisa menjaganya.” Tomo berkata lirih.
Ryoga
hanya menatap nanar Tomo, ia ingin marah mengingat apa yang telah K lakukan
kemarin. Tapi ia tahu itu semua tak akan ada hasilnya, mengingat Ray telah
bersamanya. Ryoga menghampiri Tomo yang masih tertunduk dengan mengempalkan
tangannya itu.
Ia
kemudian mengelus pelan bahu Tomo. “Sebentar lagi akan terbongkar Tomo, semoga
kita benar dan kita masih mempunyao waktu untuk K.”
Tomo
hanya terdiam dan memejamkan matanya. “Iya, kau benar.”
*******
1 minggu kemudian
Ray sudah lebih baik sekarang, ia
sudah terbiasa makan dengan sumpit, ia juga sudah bisa mandi sendiri –tidak
seperti di awal-awal K yang harus memandikannya- sekarang, dan yang lebih
penting Ray sudah bisa memanggil nama K. K seperti mendapatkan adik baru,
dengan alasan itu ia semakin yakin bahwa apa yang yang Ryoga dan Tomo yakini
selama ini adalah salah.
Selama Ray di rumahnya, ia tak
pernah masuk kerja lagi. Karena ia yakin Ryoga dan Tomo akan ‘menghajarnya’
karena tindakannya itu. pasti Ryoga dan Tomo tengah sangat marah padanya. Itu
dibuktikan dengan email-email yang dikirim oleh mereka berdua kepada K yang
berisikan bahwa ia telah melakukan hal bodoh dan harus mengembalikan Ray ke lab
secepatnya. Tapi K tidak ambil pusing, ia akan membuktikan bahwa Ray tidaklah
berbahaya seperti yang mereka berdua katakan.
“Kau sudah bangun Ray ?” K yang
berada di dapur untuk memasak makanan itu membalikkan badan begitu ia melihat
suara langkah kaki mendekatinya. Ray tak menjawab, hanya anggukan kecil yang ia
berikan.
“Duduklah, makanan akan segera
siap, lalu aku akan mengajakmu ke dermaga setelahnya.” K menuangkan masakannya
ke wadah dan memberikannya tepat di depan Ray.
“Der-ma-ga ?” ucap Ray masih
terbata.
“Benar, aku yakin kau akan menyukainya.”
K melepas apronnya, ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Ray.
Ekspresi Ray masih sama seperti kemarin-kemarin,
masih tidak berubah. Tapi K yakin ada sesuatu di dalam diri Ray yang berubah.
Mereka pun menyelesaikan sarapan. K pun kemudian mencuci piringnya, Ray masih terdiam duduk di meja makan.
“K-san....” Ray memanggil K
dengan lirih, namun K masih dapat mendengarnya dan menghentikan kegiatannya.
“Nande Ray ?” K memperhatikan
Ray, menunggu apa yang akan keluar dari bibirnya.
“Aku...ini...sebenarnya apa ?”
Deg
“Apa yang kau maksudkan Ray ? kau
adalah manusia sama sepertiku tentu saja.” K sedikit kaget dengan pertanyaan
Ray yang ia rasa Ray yang sekarang tak mungkin menanyakan pertanyaan itu
melihat kondisinya yang seperti ini. K merasa ada yang aneh sekarang, tunggu
dulu, bukan berarti bahwa apa yang Ryoga dan Tomo asumsikan selama ini benar.
Buru-buru ia menampik hal itu. ia
menatap Ray yang masih tanpa ekspresi itu, tatapan matanya masih kosong, tapi
tak mungkin pertanyaan itu keluar dari mata yang kosong itu bukan.
K segera menghampiri Ray, ia
merogoh saku celana jeansnya. “Kau ingat ini kan ?” K menyodorkan benda itu
kepada Ray.
Manik hitam bening Ray pun
terfokus pada benda yang pernah K tunjukkan kepada Ray sewaktu di penjara itu.
Ray mengangguk, tatapannya masih terfokus. Ada semacam kilat kenangan yang bisa
K lihat di mata Ray.
“Kalau kau masih bisa
mengingatnya, berarti kau manusia Ray, benar begitu bukan?” K memberikan
senyumnya untuk Ray dan untuk dirinya sendiri. Ia memang yakin, bahwa Ray
adalah benar-benar ‘manusia’.
“Kau baru boleh memilikinya jika
kau mulai ingat satu persatu, bagaimana ?” K memberikan tawaran kepada Ray yang
masih terfokus pada bola kaca bening dengan salju tiruan di dalamnya itu.
Ia tahu bahwa Ray yang sekarang
masih belum mengerti perkataan K. Tapi K tak menyerah, ia akan terus berusaha
agar jiwa Ray kembali sepenuhnya ke raganya.
“I-ingat ?” Ray berkata
tiba-tiba. K tersentak.
“Iya Ray, bagaimana, kau mau kan
?” dengan halus K mengulang pertanyaannya.
Ray hanya mengangguk, dan itu
sudah cukup membuat K senang. Dan bola kaca itu pun kembali K masukkan ke dalam
sakunya.
“Yosh, baiklah sekarang kita akan
ke dermaga, aku akan mengambilkan jaketmu. Kau tunggu disini.” K meninggalkan
Ray.
Tanpa K
sadari raut wajah Ray telah berubah. Tatapan mata yang kosong itu telah
berganti dengan tatapan tajam dan seringai yang selama ini telah tersimpan jauh
dalam jiwanya.
*******
Ruangan dengan dominansi warna
putih itu begitu semakin sibuk. Di dalamnya terdapat 2 orang yang kini tengah
sibuk dengan sebuah buku, bukan buku tentang science yang seharusnya menjadi
makanan wajib mereka, melainkan buku tua yang menuliskan sejarah hampir 2 abad
silam.
Tomo dan Ryoga tengah serius membaca buku yang tak diyakini ditulis oleh siapa dan bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak. Tapi 1 yang mereka yakini, bahwa isi yang terdapat dalam buku setebal 7 cm itu mengisahkan tentang DEMON.
Ya, Demon. Sebangsa makhluk iblis
yang memiliki sayap seperti kelelawar, memiliki tanduk yang panjang dan runcing
yang mampu menyobek apa saja, gigi-gigi taring yang tajamnya melebihi singa,
serta mereka sangat senang dengan yang namanya darah dan jantung, terutama
darah dan jantung segar manusia.
Bukan tanpa maksud akhirnya
mereka mau saja membaca buku tanpa literatur yang jelas itu. Tapi karena
kegemaran Demon yang memburu darah manusia dengan cara merasuki jiwa seorang
anak kemudian membunuh semua anggota keluarganya dengan cara yang sangat kejam
dan tragis. Para anak kecil yang ‘kerasukan’ Demon itu akan menusuk dengan
kuku-kukunya yang runcing tepat di jantung korbannya, kemudian dengan seringai
kepuasan mereka akan mengambil jantung yang masih berdetak itu dari sang raga.
Jerit kesakitan akan membuat seringai kepuasan itu bertambah, raga yang telah
tanpa jantung itu tentu saja akan mati seketika. Dan jantung yang berlumuran
dengan darah dan masih berdetak itu akan langsung dimakanannya dengan rakus.
Tidak sampai disitu saja manusia yang telah mati dan berlumuran darah itu masih
sangat berguna untukknya. Darahnya, darah segar yang masih mengalir itulah yang
menjadi makanan kedua untuknya. Dengan taring-taring tajamnya ia akan menusuk
leher sang korban dan akan menghisap habis darahnya. Kemudian yang tersisa
adalah tubuh tanpa jantung dan darah, mengering dan tentu saja mengenaskan.
Sang anak yang sebenarnya tidak
sadar dengan apa yang dilakukannya kemudian akan kehilangan jiwanya, sudah bisa
disamakan dengan orang yang gila yang tak mampu mengingat dirinya sendiri,
orang lain dan apa yang telah terjadi. Bukan hanya itu saja, ada 1 hal lagi
yang lebih berbahaya. Setelah Demon keluar dari si anak, ia akan meninggalkan
‘bibit’. Bibit yang akan akan tumbuh menjadi generasi Demon berikutnya, dan begitulah
cara mereka untuk beregenasi.
Dugaan Tomo dan Ryoga benar.
Kejadian 10 tahun silam itu sangat mirip bahkan bisa dikatakan itu adalah perbuatan
Demon, dan Demon yang dimaksud siapa lagi kalau bukan Ray.
10 tahun yang lalu, disebuah rumah yang tak terlalu jauh dari keramaian
kota Tokyo, ada seorang anak laki-laki yang hanya duduk di pojokan ruang tamu,
pandangannya kosong ia hanya bermain-main dengan bola kaca bening. Di sekitar
anak itu noda darah berceceran, semuanya berantakan, dan di depannya terdapat 3
sosok tubuh yang mengering tergeletak begitu saja dan yang lebih mengejutkan
lagi jantung dari ketiga mayat itu tidak ada. Tak diketahui apa yang sebenarnya
terjadi dengan keluarga kecil itu, mana mungkin ada anak kecil yang mampu
melakukan hal kejam sekaligus tragis apalagi kepada keluarganya sendiri.
Terlebih lagi jantung mereka hilang dan darah yang telah terhisab habis.
Kasus itu pun ditutupi dari masyarakat, pihak kepolisian serta ahli
forensik dibuat kebingungan dengan kasus itu. Namun tidak oleh Tomo, ia adalah
sahabat Kifumi kakak lelaki Ray. Tomo yang saat itu sedang belajar di salah
satu Perguruan Tinggi terkenal di Jepang tak bisa membiarkan kasus itu
mengendap begitu saja, ia tak bisa terima dengan kematian Kifumi beserta kedua orang tuanya.
Dengan tekat tinggi ia akan memecahkan kasus tragis itu. Dengan alasan bahwa
ia adalah keluarga Ray, Tomo pun membawa Ray ke tempatnya dan mengurungnya. Ia
yakin Ray adalah kunci dari semuanya. Hingga Tomo bertemu dengan Ryoga dan K
setaun kemudian. Mereka bertiga pun sepakat untuk menyembunyikan Ray dari luar
dan akan terus menelitinya hingga menemukan titik cerah.
Namun lambat laun, K tak bisa terima juga dengan perlakuan Tomo dan
Ryoga terhadap Ray dengan cara memasukkan berbagai macam obat-obatan dengan
maksud ingatan Ray akan kembali dan membeberkan semuanya. Tapi K meyakini Ray
hanya trauma karena melihat kejadian yang menimpa keluarganya. Oleh sebab
itulah K pun membawa dengan paksa Ray pergi dari tempat terkutuk itu.
Dengan raut yang masih tercengang
mereka berdua saling bertatapan, satu hal yang mereka takutkan. K dalam bahaya.
“Demon akan bangkit jika mereka melihat atau merasakan darah dari orang
terdekatnya.” Begitu kalimat yang tertera dari buku kuno yang telah mereka
baca.
“K KAU BODOH !!” Tomo meruntuki
perbuatan nekat K, dengan tergesa-gesa keluar dari lab disusul oleh Ryoga yang
berlari dengan membawa buku kuno itu. Mereka berdua harus mencari K. Memberi
tahu semuanya.
“Sial ! K tidak mengangkatnya!”
Ryoga dengan paksa memasukkan keita’nya ke saku. Ia terus berlari di belakang
Tomo. Tak ada waktu sekarang, semakin cepat ia dan Tomo mencapai tempat K,
semakin cepat ia bisa mencegah Ray untuk ‘bangkit’.
Mereka berdua pun telah sampai di
tempat parkir dimana mobil Tomo terparkir. Dengan tergesa-gesa mereka masuk ke
dalamnya, Tomo yang menyetir.
“Kumohon, jangan sampai semuanya terulang
kembali dan memakan lebih banyak korban.” Tomo berdoa dalam hatinya sambil
memacu kencang mobil hitamnya.
*******
Di tempat lain, sekitar 50 km
dari Tomo dan Ryoga, K dan Ray telah berada di dermaga.
K memberhentikan mobilnya tak
jauh dari dermaga. Ray hanya diam, sesekali kedua iris hitamnya melihat-lihat
ke sekelilingnya. Mungkin tempat ini asing baginya. Sedari tadi K mencuri
pandang kepada Ray, ingin mengetahui apa yang Ray lihat, mungkin saja dengan
begitu ia bisa mengingat kembali.
“Kita sudah sampai Ray,
turunlah.” Perintah K lembut kepada Ray yang masih duduk manis di samping
kemudi.
Tanpa suara Ray turun dari mobil
biru tua K. Pandangan Ray menjelajah ke tempat yang sangat dekat dengan laut
itu, ia bisa melihat beberapa kapal besar dan beberapa kapal kecil nelayan. Di
sekitarnya ia juga bisa melihat beberapa burung camar yang dengan bebas terbang
di sekitar kapal-kapal yang baru saja mengangkut ikan.
“Kau menyukainya ?” K menghampiri
Ray tanpa melepaskan pandangan ke horizon yang membentang luas di depan mereka.
Ray hanya mengangguk tanpa
bersuara. Tiba-tiba saja Ray berjalan, tangannya ke atas, seakan ingin
menggapai sesuatu. K memperhatikan tingkah Ray, mungkin aneh memang, tapi K
membiarkannya.
Ray berjalan semakin cepat menuju
ke sisi dermaga, dan K yang masih diam di belakangnya pun berteriak.
“Hei Ray,
kau mau kemana ? jangan jauh-jauh dariku!”
Seolah Ray tak mendengarkan apa
yang K katakan ia semakin jauh. K yang kuatir pun setengah berlari mengejar
Ray. “Kau mau kemana Ray ?” K berkata lirih.
Ray pun berhenti tepat di depan
sebuah perahu kecil yang tertambat. Ia memandangnya.
“Nande Ray ? apa ada sesuatu yang
kau ingat dengan perahu ini ?” tanya K begitu ia telah berada di samping Ray.
Ray masih dengan diamnya
memandang perahu itu.
“Nii-san....” ujar Ray pelan yang
tentu saja membuat K kaget.
“Ki-fu-mi Nii-san...” ujar Ray
sekali lagi dengan mata yang sayu.
“Ray ? kau mengingat nama kakakmu
?” K setengah tidak percaya, namun ia senang sekarang karena pelan-pelan Ray
akhirnya dapat mengingat.
“Aku rasa kau memang memiliki
kenangan di tempat ini dan perahu ini dengan kakakmu Ray. Dan aku senang kau
sedikit demi sedikit bisa mengingat.” K tersenyum senang.
Ray pun memandang K. “Do-ko ?
Kifumi-Nii-san ?” tanyanya dengan terbata yang seketika membuat K tersentak dan
tak mampu menjawabnya.
“Doko ? Doko ? Kifumi-Nii-san ??”
suara Ray semakin keras.
K tak mampu membalas tatapan Ray.
Tunggu ? tatapan Ray, tatapan kosong itu telah melunak yang di dalamnya bisa K
lihat dan bisa K rasakan, kesendirian.
“Go-gomennasai Ray.” Hanya itu
yang mampu K katakan. Karena tak mungkin K mengatakan bahwa Kifumi telah
meninggal dengan cara yang sangat tragis yang kemungkinan Ray adalah
satu-satunya pelakunya.
Tapi tak mungkin Ray yang
melakukannya, ia yakin itu. oleh karena itu buru-buru K menampik pikiran itu.
Dengan halus K menarik lengan Ray.
“Ayo Ray, kita jangan lama-lama
disini. Aku akan menunjukkan hal lainnya.” Dengan berat K menggandeng tangan
Ray yang bisa K rasakan bahwa Ray masih ingin di tempat itu.
Meskipun K merasa senang bahwa
kini Ray kini bisa mengingat walau sedikit, namun di dalam hatinya ia juga
merasa sedih dan menyesal. Karena jika Ray ingat semuanya, maka ia akan
bertanya lebih intens dimana kakaknya dan kedua orangnya serta apa yang telah
terjadi selama ini, dan K belum siap akan hal itu.
Oleh karenanya hanya dengan
membawa Ray ke tempat lain lah yang mungkin akan membuat Ray sedikit lupa. Tapi
bukankah K sendiri menginginkan Ray ingat semuanya ? K diambang kebimbangan
sekarang, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Sambil
terus berjalan menggandeng tangan Ray dengan tangan kirinya, K menundukkan
kepala dan mengacak dengan kesal rambutnya.
*******
“Kuso !!” teriak Tomo kesal
begitu ia tahu bahwa K sedang tidak berada di dalam rumah.
Tomo dan Ryoga kini memang telah
sampai di depan rumah K. Tapi begitu mereka tak melihat mobil K terparkir tentu
saja mereka sudah bisa menebak bahwa K sedang keluar bersama Ray.
Nama terakhir itulah yang membuat
mereka berdua waswas. Apalagi keita milik K tidak bisa dihubungi oleh Ryoga
sedari tadi. Kekesalan dan kekhawatiran mereka bertambah.
“Apa kau tahu tempat apa yang
kemungkinan K datangi dengan membawa Ray bersamanya ?” Ryoga mencoba berbicara
sekalem mungkin kepada Tomo agar Tomo tidak semakin emosi.
Tomo memutar matanya. “K yang
sangat menyukai laut itu tak akan jauh-jauh dengan tempat yang berhubungan
dengan laut.”
“Dermaga ! aku yakin ia disana.”
Ucapan Ryoga yang mengagetkan Tomo itu seketika menjadi jalan terang untuk
menemukan K dan Ray.
“Baiklah, jangan membuang waktu
lagi !” Tomo bergegas masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi.
Ryoga yang masih membawa buku kuno itu pun dengan cepat membuka pintu mobil dan
duduk disamping Tomo.
Seakan mereka dikejar oleh
sesuatu, dengan kencang ia meninggalkan kediaman K dan bergegas menuju tempat
yang mereka tuju, dermaga.
*******
“Seorang anak manusia yang telah tertanami bibit dari Demon, ia tak
akan bisa disembuhkan. Karena begitu bibit itu telah berada di dalam raganya,
jiwa sang anak akan hilang dan berganti jiwa dari Demon. Dalam 10 tahun bibit
itu akan tumbuh, menjadi jiwa yang baru, menjadi Demon yang baru. Namun dalam
beberapa kasus tak banyak bibit Demon yang akan menjadi Demon, kebanyakan
mereka akan mati karena lemahnya raga manusia.”
******
K dan Ray telah berada di depan
mobil, namun Ray masih diam saja, ia tak ingin bergerak.
“Kenapa Ray ?” tanyanya dengan
tatapan bingung.
Ray memegang dadanya, sakit dan
panas itu yang ia rasakan. K semakin bingung, ia kemudian menghampiri Ray.
Semakin panas dan semakin sakit, Ray tak pernah mengalami rasa yang sesakit
ini. seakan jantung Ray dibakar dan diremat oleh seseorang.
Ray merintih kesakitan, ia jatuh
terduduk.
“Ray ! Ray ! Daijoubu Ray ?” K
semakin kuatir.
Ray tak menggubrisnya, ia
mengerang semakin keras. K tak tahu harus berbuat apa. Satu yang ada di
pikirannya saat ini, hanya Ryoga dan Tomo yang bisa menolongnya.
“Tidak, aku tak membutuhkan mereka berdua. Tapi aku juga tidak bisa
membiarkan Ray seperti ini, selama 9 tahun ini aku tak pernah melihatnya
kesakitan seperti ini.”
K semakin bingung, ia berusaha
tenang tapi mana mungkin ia tenang disaat genting seperti ini. Namun kemudian
ia teringat akan obat yang ia bawa di dalam tasnya untuk berjaga-jaga, mungkin
saja itu berguna, pikirnya.
“Sebentar Ray, tahanlah.”
Buru-buru K masuk ke dalam mobilnya, ia mencari tasnya dan mengaduk-ngaduk
isinya untuk mencari sesuatu, namun sial gunting yang ada di tasnya tanpa
sengaja melukai jarinya. “Itte—“ pekiknya pelan, ia segera menarik tangannya.
Beberapa tetes darah keluar dari jari yang terluka itu.
“Sialan, kenapa disaat yang
seperti ini juga.” Kemudian ia menghisab darah yang keluar untuk menghentikan
pendarahannya.
Ray, ia bisa merasakannya. Bau
ini, bau darah. Bibit Demon dalam Ray mulai terbangun. Mata sayu dan kosong itu
telah berubah, menajam. Iris hitam bening itu berubah, merah dan hitam. Bibir
yang mengerang menahan kesakitan itu, kin berubah menjadi seringai yang
mengerikan. Jemari di tangan Ray menguat dan kuku yang putih dan bersih itu pun
kini telah memanjang dan menghitam.
Jiwa Demon telah menguasai Ray
meskipun belum sempurna. ‘Ray’ yang 10 tahun lalu telah menghabisi keluarganya
itu kembali.
K menemukan obatnya, segera
mungkin ia menghampiri Ray yang berada di sebelah mobilnya. “Ray, minumlah
in----“ K diam membeku di tempatnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia
seolah tak percaya bahwa sosok yang berjongkok di depannya itu adalah Ray,
orang yang telah tinggal dengannya 1 minggu ini. Ray yang kini ia lihat adalah
perwujudan dari Demon tanpa sayap dan tanduk.
Ray yang sekarang tak bisa
dikatakan bahwa ia adalah manusia menatap K. Darah, ia haus akan darah dan
lapar akan jantung manusia. K mundur beberapa langkah, ia menjatuhkan obatnya.
Raut wajahnya bisa dibaca bahwa ia sekarang di antara ketakutan, tak percaya,
dan kesedihan.
”Ryoga, Tomo kalian benar.” K tersenyum pilu, tak terasa air mata
telah menetes.
*******
“Tak bisakah kau lebih cepat Tomo
?!” Ryoga membentak. Jarak menuju dermaga memang tak bisa dikatakan dekat.
“Diamlah, aku juga ingin segera
sampai ! perasaanku tidak enak soal K dan Ray !” Tomo tak kalah emosi.
Ryoga mengacak rambutnya, ia
membuka buku kuno tebal itu sekali lagi. Dan ia menemukan sesuatu.
“Tikam tepat di jantung dan ulu hatinya dengan menggunakan pecahan kaca.”
Ryoga membaca 1 kalimat itu
dengan keras sehingga Tomo bisa mendengarnya. Mereka menemukan bagaimana cara
untuk membunuh Demon, tapi itu berarti mereka juga membunuh Ray, pemuda yang
sebenarnya tak bersalah apapun.
Ryoga menutup bukunya, ia
menunduk. “Kenapa anak itu yang harus menanggung semuanya..” ucapnya lirih.
Tomo menghembuskan nafasnya.
“Inilah takdir, dan itu berarti aku tak bisa menepati janjiku kepadanya.”
“Apapun yang terjadi, tolong jagalah Ray, Tomo. Entah apa yang akan
terjadi besok, aku hanya merasa bahwa setelah ini aku akan sangat
merepotkanmu.”
Ia memandang nanar jalanan,
memacu mobilnya dengan sangat kencang. Namun pikirannya tak pernah lepas dari masa
lalu.
“Maafkan aku Kifumi, aku memang tak bisa menjaga adikmu dengan baik.”
*******
“Ray !! kau masih Ray !” K
berteriak kepada sosok itu, ia terpojok. Ray terus berjalan menghampirinya.
“Ssshhhhh....” hanya desahan
menakutkan yang ia keluarkan.
K menelan ludah. Ray benar-benar
hilang sekarang. Namun tidak dengan apa yang K percayai, Ray masih hidup di
dalam Demon itu. K tak menyerah meskipun ia tahu pada akhirnya ia akan mati
juga.
“Ray, sadarlah ! kau masih
mengingat ini bukan?!” dengan tergesa-gesa dan gugup K mengeluarkan bola bening
yang menyimpan banyak sekali kenangan Ray.
K memegang benda itu, ia yakin
Ray akan mengingatnya kembali.
“Bukanlah aku telah berjanji kepadamu
bahwa aku akan memberikannya jika kau bisa mengingat kembali?! Jadi kembalilah
Ray !!”
“Onegai...” ia menyodorkan bola
bening itu kepada Ray yang kini hanya
berjarak 5 langkah darinya.
Sedikit namun ia yakin Ray mengenali
bola bening itu. Pandangan itu melunak. K yakin sangat yakin sekarang bahwa Ray
mengingatnya. K sedikit tersenyum lega.
Namun....
Crashh...
Kejadian
itu begitu cepat, tak sampai 1 detik. Mata itu kembali berbicara kepuasan,
bibir itu kembali menyringaikan kemenangan, dan jiwa itu kembali mentertawakan
betapa bodohnya manusia.
*******
Ryoga dan K semakin mempercepat
laju kendaraannya. Di tikungan terakhir menuju tempat terparkirnya K dan Ray
mereka merasakan sesuatu. Sesuatu yang gelap dan sebuah perasaan ketakutan.
Semakin mendekat, semakin pekat
sepekat tinta hitam. Dan apa yang mereka saksikan di depannya tak pernah mereka
bayangkan sebelumnya.
“K..........!!!” pekik mereka
bersamaan.
Crashh...
Ray dengan cepatnya menusuk tepat
di jantung K dengan kukunya yang tajam. Bisa dilihat oleh Ryoga dan Tomo wajah
kekagetan K dengan serangan tak terduga Ray. Bisa mereka lihat juga bola kaca bening
itu terjatuh begitu saja. Darah segar menetes dari sang luka.
Senyum kesedihan, ketakutan, dan
kekecewaan tergambar di bibir K. Dan mimik itu, K seperti mengatakan sesuatu
kepada Ray.
“A-ku-se-la-lu-mem-per-ca-ya-i-mu-Ray”
“BUKANKAH SUDAH KUBILANG K !!”
Teriak Tomo dari dalam mobilnya yang kini telah bersiap untuk turun, namun
dicegah oleh Ryoga.
“Apa kau mau bunuh diri juga
seperti K, huuh !? lihat anak itu, wujudnya sudah hampir sempurna !”
Tomo terdiam membeku. Benar, Ray
bukan lagi manusia. Bibit Demon telah tumbuh, wujudnya hampir sempurna. “Lalu
apa yang harus kita lakukan ?! duduk manis disini melihat K yang sudah seperti
itu ?!!” Tomo emosi, bukan emosi yang ia tunjukkan kepada teman disampingnya,
namun emosi terhadap dirinya sendiri. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.
Dengan raut yang bercampur mereka
hanya bisa diam dan menyaksikan pemandangan yang tak pernah ingin mereka lihat
itu.
Kejadian
yang hampir sama dengan 10 tahun yang lalu kini tergambar jelas kembali.
*******
Deg..
Sesak dan panas, tercekik. Ray
yang belum sempurna perwujudannya itu melepaskan badan yang sudah tak bernyawa
K. Ia memegangi jantungnya. Seperti ada yang meledak dalam dirinya.
“Aaaarrrgggg.....” ia meraung
dengan keras.
Pandangannya mengabur, ia
terjatuh terduduk di tanah.
Tangan yang memegangi jantung itu
berpindah memegangi tanduk yang mulai muncul. Seolah ingin mematahkannya. Namun
tangan yang lainnya berusaha mencegahnya dengan memegangi tangan itu. Seperti
dua sisi yang saling bertarung, antara ingin membunuh Demon yang ada dalam
dirinya dan ingin tetap bertahan.
Ya, jiwa manusia Ray masih ada.
Ia berusaha untuk membunuh Demon itu. Bukan tanpa perlawanan, Demon juga
berusaha mempertahankan keeksistensinya dalam raga Ray. Pergulatan kedua jiwa
yang berada dalam satu raga.
“Kau harus mati ! kau yang telah membunuh semua keluargaku ! kakakku,
ayah dan ibuku, dan K-san !! kau harus mati !!”
“Apa kau bodoh ?!! jika kau ingin aku mati maka kau juga akan mati Ray
atau yang bisa kusebut anak yang telah dikutuk.”
“Aku tak akan menyesal jika aku juga mati! Aku sudah lelah terkurung di
dasar hatiku sendiri, terselimuti jiwamu yang tak pernah diinginkan siapapun.”
“Hahahahaha aku sangat kasian kepadamu, masih saja bisa menyombongkan
diri di depanku. Lihatlah apa yang telah kau lakukan Ray ! dengan beringas kau
telah membunuh kakak yang sangat menyayangimu, kedua orang tua yang selalu ada
untukmu, dan hari ini kau telah membunuh orang yang paling mempercayaimu.”
“Oleh karena itu, aku pasti akan membunuhmu !!”
“Coba saja kalau kau bisa !”
“DENGAN PASTI AKU AKAN MELEYAPKANMU !!”
Kraak
Tanduk kanan itu telah terbagi
menjadi dua. Dengan cepat kemudian ia menusukkan tandukknya yang runcing
mengarah tepat ke jantungnya.
Craasshh
Darah segar mengucur. Ia terkulai
ke tanah dan bermandikan cairan merah kental.
Mata yang dwiwarna itu perlahan
berubah ke semula, hitam bening yang memancarkan kedamaian kepada siapa saja
yang bisa melihatnya. Seringai yang menyeramkan itu perlahan menjadi senyuman
kebahagiaan. Tangan yang berotot dan kuat serta kuku-kuku hitam tajam itu
perlahan kembali ke bentuknya semula. Sepasang tanduk itu telah menghilang.
Ray kembali menjadi manusia.
Diraihnya meskipun dengan rasa sakit yang tak tertahankan tangan K yang tak
jauh darinya. Ia tahu, ia mengingat semuanya. Ia yang telah membunuh semua
anggota keluarganya, ia juga yang telah membunuh orang yang paling
mempercayainya selama ini, K.
“K-san..arigatou...” detik itu
juga senyuman hangat Ray menjadi yang terakhir yang tergambar manis di
wajahnya.
Tangannya dan tangan K saling
tertambat. Rasa hangat menyelimuti detik terakhir nafasnya.
Tomo dan Ryoga tak bisa berkata
apa-apa melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka.
Dua jiwa yang berada dalam satu
raga yang saling memperebutkan kehidupan. Jarak 20 meter tidaklah menjadi penghalang
bagi mereka untuk menyaksikan semuanya. Mereka masih terdiam di dalam mobil
itu. Pengecut, itu yang pantas mereka berdua katakan pada diri mereka sendiri.
Untuk pertama kalinya mereka mempercayai perkataan K.
“K...kau memang benar.” Ucap Tomo
pelan dengan nada penyesalan.
*******
Raga yang telah tidur dengan
tenang beralaskan tanah. Tak ada kekhawatiran akan kehidupan. Mereka telah bebas
dan damai sekarang.
Di barisan pemakaman yang
berisikan tiga anggota keluarga itu kini bertambah menjadi lima.
Nisan dengan nama “Masayoshi Ray”
itu diapit oleh nisan yang telah berdiri tegak selama 10 tahun “Masayoshi
Kifumi” dan nisan yang masih baru “Yamazaki Kei”.
Sebuket bunga dan beberapa dupa
masing-masing menemani sang nisan. Sebuah doa terucap dari bibir kedua orang
yang berjongkok di depan makam mereka.
“Semoga kalian tenang disana.”
Ryoga berdiri.
“Ray, kau mempunyai 2 kakak
sekarang yang bisa menjagamu.” Ucap terakhir Tomo sembari meletakkan bola kaca bening
di depan nisan Ray. Tomo ikut berdiri, di tolehnya makam sahabat lamanya,
Kifumi.
“Mungkin memang hanya kau yang bisa menjaganya Kifumi.”
Mereka berdua beranjak
meninggalkan pemakaman yang berada di atas bukit itu. Dengan berat Tomo
melangkahkan kakinya, Ryoga telah duluan. Namun ia menoleh ke arah Tomo.
“Kau telah berhasil Tomo.”
Ujarnya kenapa Tomo dengan senyum yang tersungging hangat.
Tomo membalas senyuman Ryoga dan
mengangguk pelan.
------OWARI------
26-07-2013
Hyaaaaaaaahh antara senang kerena ff ini telah selesai, dan sedikit sedih karena leader sekaligus bias saya saya matikan(lagi).
Gomen kalau konfliknya tidak jelas dan bahasa yang berantakan juga _ _)
Dan tidak tau kenapa genrenya jadi supernatural begitu, dan menempatkan Ray menjadi tersangka di ff saya ini *pundung*
Lalu cuma menempatkan Kifumi jadi sampingan doank, hyaaa gomen Kifumi-san, aitakatta~
*Lycoris kangen sekali dengan Kifumi*
Baiklah arigatou buat yang sudah menyempatkan membaca fanfic abal milik saya ini *bows*