Fandom
: BORN
Cast : Ray, Ryoga, K, Tomo (BORN) & Original Character
Genre :
idk (?)
Author :
Lycoris
“Jika saja surga itu ada, apa kau bisa menemaniku ?”
Ray tergopoh berjalan menuju tangga di depannya. Cahaya
terang itu akan segera ia capai, tapi beban yang harus ia bawa tak mudah
untuknya berjalan ke atas, ditambah lagi sebuah timah panas yang telah berhasil
menembus paha kanannya. Ia sudah tidak memperhatikan darah yang terus mengalir
menuruni celana jeans hitamnya. Belum lagi sekujur badan yang babak belur, luka
goresan ada dimana-mana. Mata kanannya sembab membiru. Rasa sakit pun
sepertinya sudah tidak ia rasakan. Karena ada yang lebih sakit lagi, hatinya.
Meskipun begitu seakan air matanya telah mengering, rasa
sakit itu telah membentuk semacam benteng yang telah berdiri dengan kokohnya
menutupi hatinya. Sudah tak terhitung berapa orang yang ia sayangi telah pergi
meninggalkannya.
Dengan wajah datar ia menatap kedua manik yang telah terpejam
damai di gendongan tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Pengecut huuh ?! Hanya seorang pengecut yang hidup karena
dilindungi oleh seorang perempuan. Hahahah Ray kau pengecut!” Ucap pria berambut
hitam itu dengan mata menyipit.
“Ah...bukan hanya itu, tapi kau telah membiarkan orang yang
kau cintai mati di depanmu. Untuk melindungimu. Sungguh menyedihkan.” Timpal
seorang pria lain yang duduk di atas meja.
Ray hampir tidak bisa mendengarkan kata-kata kedua orang
yang tidak jauh darinya itu. Semuanya seakan berhenti, semua indranya berhenti
bekerja. 5 detik yang lalu masih membekas di ingatannya. Maki, gadis itu
menghalangi timah panas yang diluncurkan Ryoga dan K kepada Ray.
“Jika saja surga itu ada, apa kau bisa menemaniku ?”
Maki masih bisa berkata di tengah rasa sakit yang telah dia
derita. Darah segar tanpa henti keluar dari dada dan perut kanannya.
“Hen—hentikan Maki, ja-jangan kau berbicara lagi...” Ray
terisak meilhat gadis yang sudah bersamanya sejak kecil itu tengah meregang
nyawa.
“Ne Ray hhhkk ka-takan hhkk kau---akan menemaniku kan
uhukk” darah keluar dari mulutnya. Nafasnya telah tersendat.
“A—aku akan menemanimu, aku---berjanji....”
Dan nafas denyut nadi gadis itu pun berhenti.
“Ryoga ! K ! akan ku buat kalian menyesal !!” teriak Ray
dengan tatapan membunuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pemuda itu, Ray, berjalan
dengan memegang katana yang berlumuran darah, meninggalkan 2 tubuh kaku
yang tergeletak di lantai. Bau anyir menyerbak ke seisi ruangan tua berukuran
4x5m itu.
Cukup, cukup sudah. Semuanya telah selesai. Ya semuanya. Bahkan
hidup yang ia perbaiki juga telah selesai. Satu-satunya orang yang membuatnya
terus hidup itu pun telah pergi.
Maki, adalah gadis yang telah berhasil membuat Ray bangun
dari mimpi buruknya. Tapi sekarang gadis itu pula yang telah membuatnya
tenggelam lagi di mimpi paling buruk hidupnya. Ah bukan, yang ia hadapi adalah
sebuah kenyataan. Kenyataan yang memang telah terjadi. Meninggalkan Ray yang
tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
.
.
.
.
.
Ray membuka kedua matanya, angin yang berhembus pelan
menarikan beberapa helai rambut coklatnya. Di tatapnya batu nisan dari pualam
itu. Sekitar 5 menit ia terdiam, sebelum pada akhirnya kedua orang berjas hitam
menepuk punggungnya. Ray menoleh dan mengangguk. Ditatapnya foto yang berada di
depan nisan untuk yang terakhir kali.
“Tunggulah, sebentar lagi aku akan menemanimu...” ucapnya
pelan disertai senyum paling tulusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tomo berjalan di antara deretan pemakanan, kanan kiri
yang ia lihat hanyalah batu-batu nisan dan aroma dupa yang bercampur dengan
wanginya bunga.
Sejenak kemudian dia berhenti di depan empat deretan nisan.
Ryoga-K-Maki- Ray.
Ia menghela nafas pelan. “Ah teganya kalian meninggalkanku
sendirian disini.” Ia berjongkok sambil memberikan satu tangkai bunga aster
pada masing-masing makam.
“Meskipun aku tahu, kalian adalah musuh abadi, tapi kalian
berempat tetap temanku. Sungguh lucu membayangkan kalian yang saling bunuh
padahal dulu begitu dekat.” Tomo mengambil jeda di kalimatnya. “Aku harap
disana kalian tidak saling menodongkan senjata ya haha..” ia tertawa pelan.
Setelah berdoa dan membakar dupa di masing-masing makam ia
berdoa sebentar dan berdiri.
“Aku pulang. Pada kunjungan berikutnya aku akan membawa
istri dan anakku yang sebentar lagi akan lahir. Baiklah, jyaa~ “
OWARI