Jumat, 05 Juni 2015

[fanfic] HEAVEN (BORN)



Fandom         : BORN

Cast                : Ray, Ryoga, K, Tomo (BORN) & Original Character

Genre             : idk (?)


Author           : Lycoris

“Jika saja surga itu ada, apa kau bisa menemaniku ?”


Ray tergopoh berjalan menuju tangga di depannya. Cahaya terang itu akan segera ia capai, tapi beban yang harus ia bawa tak mudah untuknya berjalan ke atas, ditambah lagi sebuah timah panas yang telah berhasil menembus paha kanannya. Ia sudah tidak memperhatikan darah yang terus mengalir menuruni celana jeans hitamnya. Belum lagi sekujur badan yang babak belur, luka goresan ada dimana-mana. Mata kanannya sembab membiru. Rasa sakit pun sepertinya sudah tidak ia rasakan. Karena ada yang lebih sakit lagi, hatinya.

Meskipun begitu seakan air matanya telah mengering, rasa sakit itu telah membentuk semacam benteng yang telah berdiri dengan kokohnya menutupi hatinya. Sudah tak terhitung berapa orang yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya.

Dengan wajah datar ia menatap kedua manik yang telah terpejam damai di gendongan tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Pengecut huuh ?! Hanya seorang pengecut yang hidup karena dilindungi oleh seorang perempuan. Hahahah Ray kau pengecut!” Ucap pria berambut hitam itu dengan mata menyipit.

“Ah...bukan hanya itu, tapi kau telah membiarkan orang yang kau cintai mati di depanmu. Untuk melindungimu. Sungguh menyedihkan.” Timpal seorang pria lain yang duduk di atas meja.

Ray hampir tidak bisa mendengarkan kata-kata kedua orang yang tidak jauh darinya itu. Semuanya seakan berhenti, semua indranya berhenti bekerja. 5 detik yang lalu masih membekas di ingatannya. Maki, gadis itu menghalangi timah panas yang diluncurkan Ryoga dan K kepada Ray.




“Jika saja surga itu ada, apa kau bisa menemaniku ?”

Maki masih bisa berkata di tengah rasa sakit yang telah dia derita. Darah segar tanpa henti keluar dari dada dan perut kanannya.

“Hen—hentikan Maki, ja-jangan kau berbicara lagi...” Ray terisak meilhat gadis yang sudah bersamanya sejak kecil itu tengah meregang nyawa.

“Ne Ray hhhkk ka-takan hhkk kau---akan menemaniku kan uhukk” darah keluar dari mulutnya. Nafasnya telah tersendat.

“A—aku akan menemanimu, aku---berjanji....”

Dan nafas denyut nadi gadis itu pun berhenti.



“Ryoga ! K ! akan ku buat kalian menyesal !!” teriak Ray dengan tatapan membunuhnya.
.                                                                                                                                                                 
.
.
.
.
.
.
.
Pemuda itu, Ray, berjalan  dengan memegang katana yang berlumuran darah, meninggalkan 2 tubuh kaku yang tergeletak di lantai. Bau anyir menyerbak ke seisi ruangan tua berukuran 4x5m itu.

Cukup, cukup sudah. Semuanya telah selesai. Ya semuanya. Bahkan hidup yang ia perbaiki juga telah selesai. Satu-satunya orang yang membuatnya terus hidup itu pun telah pergi.

Maki, adalah gadis yang telah berhasil membuat Ray bangun dari mimpi buruknya. Tapi sekarang gadis itu pula yang telah membuatnya tenggelam lagi di mimpi paling buruk hidupnya. Ah bukan, yang ia hadapi adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang memang telah terjadi. Meninggalkan Ray yang tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
.
.
.
.
.
Ray membuka kedua matanya, angin yang berhembus pelan menarikan beberapa helai rambut coklatnya. Di tatapnya batu nisan dari pualam itu. Sekitar 5 menit ia terdiam, sebelum pada akhirnya kedua orang berjas hitam menepuk punggungnya. Ray menoleh dan mengangguk. Ditatapnya foto yang berada di depan nisan untuk yang terakhir kali.

“Tunggulah, sebentar lagi aku akan menemanimu...” ucapnya pelan disertai senyum paling tulusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tomo berjalan di antara deretan pemakanan, kanan kiri yang ia lihat hanyalah batu-batu nisan dan aroma dupa yang bercampur dengan wanginya bunga.

Sejenak kemudian dia berhenti di depan empat deretan nisan.
Ryoga-K-Maki- Ray.

Ia menghela nafas pelan. “Ah teganya kalian meninggalkanku sendirian disini.” Ia berjongkok sambil memberikan satu tangkai bunga aster pada masing-masing makam.

“Meskipun aku tahu, kalian adalah musuh abadi, tapi kalian berempat tetap temanku. Sungguh lucu membayangkan kalian yang saling bunuh padahal dulu begitu dekat.” Tomo mengambil jeda di kalimatnya. “Aku harap disana kalian tidak saling menodongkan senjata ya haha..” ia tertawa pelan.
Setelah berdoa dan membakar dupa di masing-masing makam ia berdoa sebentar dan berdiri.

“Aku pulang. Pada kunjungan berikutnya aku akan membawa istri dan anakku yang sebentar lagi akan lahir. Baiklah, jyaa~ “


OWARI




 Ini apa ? Apa ini ??? /hah
setelah sekian lama tidak menulis lagi di blog pada akhirnya iseng-iseng upload cerita gaje dan nggak penting ini. gara-gara mojok sama kipas angin di kantor dan di tengah kerjaan yang numpuk hahahaha /?
Entahlah, ini critanya apa, cuma gara2 dengerin lagunya ALSDEAD yg HEAVEN *dia masih bego ngasih judul, makanya judulnya itu aja padahal nggak ada kaitannya* /?







About