For Aoba and Sei birthday (22 April).
Cast : Aoba
Seragaki, Sei
Fandom : DRAMAtical Murder
Genre : Family, general
Rate : T
Author : Lycoris
“Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”
“Aku
? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”
“Hei,
hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”
“Tadi
kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”
“Sou
sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”
“Aoba
mo.”
Sei masih duduk terdiam di samping jendela
kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar
jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan
yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar
segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu
masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai
kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum
pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri
anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di
depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi,
pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.”
Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini,
minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba
mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah
melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba
sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau
habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya
sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera
meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.
Krek
Suara pintu
terbuka.
“Tadaima!” suara
khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu
besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah
setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei
pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang
adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu
pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah
menunggu kepulangannya itu.
“Okaeri Aoba.”
Sei tersenyum.
“Nii-chan !”
Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat
merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga
sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit
basah itu.
Aoba melepaskan
pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang memang pucat.
“Nii-chan
baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum,
seperti biasa.
“Memang ada
yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena
Aoba sudah pulang.”
Belum sempat
Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau
harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau
pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki
itu pelukan hangat.
Sei hanya
mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin
dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat
hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
“Hai hai,
kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil
Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil
melihat kelakuan mereka.
Tak beberapa
lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya
mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum
minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng,
“aku menunggu Aoba, Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan
segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami
karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka
terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu.
Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting
sekarang Tou-san, Kaa-san dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou
karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di
rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei
menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.
Haruka
Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti
mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan
Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak
kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang
tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi
ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka
berdua.
Sei Seragaki,
anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10
tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba,
adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia
mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah
mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai
sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun
tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat
mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus
melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.
“Nah Sei,
sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi
Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian
mengelusnya pelan.
“Hai Kaa-san.”
Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada
di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur
panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat
dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat
perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh
darinya.
“Un, dan karena
alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka
menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka,
apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
“Okaa-san
tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka
berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
“Saa, aku mau
mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium
pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah
penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar
besok.
Sei tengah
duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh
dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik
ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
“Ne Nii-chan,
apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan
ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah
terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan
Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
“Aku ? Aku hanya
ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
“Hei, hadiah macam
apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei
berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan
kata-katanya.
“Tadi kau menanyakan
aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah
itu.
“Sou sou. Kau memang tak pernah berubah
Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum
hangat, “Aoba mo.”
“Saa, ayo kita
tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba
pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di
samping Aoba.
“Tapi aku lebih
capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau
ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada
di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya
sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
“Oyasumi
Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi
Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat
langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan
itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh
dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak
pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia
hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan
wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang
pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian
Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.
“Sei, Aoba !
Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua
anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata
yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna
putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan
beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang
hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan
yang mereka dapat.
“Buat
permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua
dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk
serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan
Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang
dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua
memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan
mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka
kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang
nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah
mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.
“Fuuuh..”
lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
“Nii-chan
tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
“Aoba mo,
tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua
pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
“Tou-san,
Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang
dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga
terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari
kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan
membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka
tidak memegang bahunya.
“Bagaimana
kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang
langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si
kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang
telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka
mengikuti dari belakang.
Sei dan Aoba
sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau
khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
“Nii-chan, ayo
kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua
pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua
pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima
dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah
dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan
kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.
Pagi itu,
menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun
dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine
teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang
ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan
oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae
pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan
membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba
semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini
hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni
?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di
lantai.
“Sei,
kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan,
sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun
dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka
hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah
yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa
yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.”
Ujar Haruka.
Sei dan Aoba
pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu
tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka
lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa
lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink
yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka
berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum
bahagia.
“Ohayou Sei,
Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka
berdua bersama.
“Kenapa
anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
“Tou-san,
ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka
hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun
menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei,
perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine
memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate
?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai
berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna
biru tuanya.
“Yoroshiku Sei,
Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih
tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
“Nii-chan~
allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di
ruangan itu.
Sei terkikik,
kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
“Allmate adalah
seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian
sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah
sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil
terus mengelus allmate itu.
Aoba masih
berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate
itu.
“Tapi kita juga
harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus
menyayanginya.” Haruka menambahi.
“Arigatou
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia
baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua
mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian
harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua
terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana
kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan
matanya.
“Nah ! itu nama
yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang
namamu Ren. Yoroshiku Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba
tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari
duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat
kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali
dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu
pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
“Nii-chan,
doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya
digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...”
Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba
memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu
adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan
untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah
gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai
tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
“Nii-chan,
arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan
menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku
hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba.
Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou,
aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan
terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka,
dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja
menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang
sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
13 tahun kemudian
Aoba masih
sibuk mengantar barang-barang Heibon di sekitar Midorijima. Ren, berjalan di
depan Aoba, tak biasa karena biasanya Ren selalu masuk ke dalam tas duffel yang
Aoba selempangkan.
Sudah sekitar
pukul 5 sore tapi ia belum selesai melakukan pekerjaan paruh waktunya, pasti
Sei dan Tae tengah menunggunya sekarang.
“Yabai,
sepertinya aku harus cepat-cepat.” Aoba pun akhirnya berlari untuk mengantarkan
barang yang terakhir dan Ren pun terpaksa harus berlari juga untuk menyusul
Aoba yang sudah hampir 13 tahun menemaninya.
“Aoba telat
pulang lagi sepertinya.” Ujar laki-laki berambut hitam sebahu lirih. Ia masih sibuk
menata makanan yang baru saja ia masak. Itu adalah pekerjaannya sehari-hari,
karena sangat tidak mungkin ia untuk bekerja terlalu keras yang dapat
menyebabkan kondisi badannya memburuk.
Sei, yang ia
lakukan sehari-hari adalah membuat boneka-boneka kecil pesanan orang-orang
sekitar Midorijima. Selain itu ia yang biasanya menyiapkan makanan untuknya,
Aoba dan Tae. Sebenarnya jika bisa ia ingin sekali bekerja diluar seperti
adiknya dan neneknya, bahkan sampai melakukan perjalanan seperti kedua orang
tuanya. Tapi sepertinya kondisi badannya yang harus terus menerus tergantung
dengan obat menyebabkan ia tak bisa melakukan hal-hal itu.
Pemilik suara lembut
itu hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah, dan jika ia keluar pun ia tak
boleh terlalu lama. Tapi meskipun ia seperti itu, setidaknya ia tidak berdiam
diri begitu saja, menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Sei masih bisa
beraktifitas meskipun tidak terlalu berat.
Dan hari itu,
seperti biasanya, makanan sudah tersiap di atas meja makan. Tinggal menunggu
Aoba dan Tae pulang. Tapi sepertinya lagi-lagi ia harus menunggu Aoba, ia telat
lagi untuk pulang. Heibon memang sedang ramai-ramainya sekarang, itu yang Aoba
katakan tempo hari kepadanya.
“Tadaima.”
terdengar suara wanita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi di ujung pintu.
Itu Tae, siapa lagi. Sei pun segera berjalan ke depan untuk menyambut
nenenknya.
“Okaerinasai
baa-chan.” Sei membalas Tae dan mengulurkan tangannya, membantu Tae. Dan
seperti biasa pula Tae akan menolak, karena baginya ia belum begitu lemah untuk
berjalan, mengingat ia yang setiap haru juga harus berjalan untuk sampai ke
laboratorium tempatnya bekerja meskipun itu hanya berjarak sekitar 2 blok dari
rumah mereka.
“Apa Aoba belum
pulang ?” tanya Tae sambil duduk di atas meja makan.
“Belum. Ia
telat pulang lagi sepertinya.” Sei pun menaruh segelas teh kegemaran Tae.
“Arigatou Sei.”
Sei pun mengangguk pelan.
Tae pun menyeruput
pelan teh buatan cucunya itu. Kemudian ada suara pintu digeser.
“Tadaimaaaa.”
Suara yang sangat familiar, Aoba.
“Okaerinasai.”
Jawab Sei yang kini menyambut Aoba layaknya apa yang ia lakukan kepada Tae.
Sudah menjadi kebiasaannya seperti itu.
“Nii-chan gomen
aku terlambat lagi.” Aoba dan Sei segera berjalan bersama ke ruang makan.
“Heibon sedang
ramai jadi maklum saja Aoba selalu pulang telat.” Sei menarik kursi dan duduk
berhadapan dengan Tae, Aoba berada di sampingnya.
Aoba pun
menaruh tasnya di kursi sebelahnya, ia kemudian membuka zipper tas itu.
“Sei, Tae
konbanwa.” Ujar allmate berwarna biru tua itu.
“Konbanwa Ren,
apa kau lelah hari ini ?” tanya Sei kepada Ren.
“Tidak juga
karena beberapa kali Aoba mematikanku.” Jawabnya seperti biasa.
“Hmmm baguslah,
tolong jaga terus Aoba ya.” Sei tersenyum ke arah Ren, Ren hanya menjawab
‘haa’.
Aoba pun
mematikan Ren, ia berjalan ke washtafel dan mencuci tangannya.
“Saa mari kita
makan.” Ucapnya.
“Um..”
“Itadakimasu.”
Sei
membuka jendela beranda kamarnya sekaligus kamar Aoba itu. Meskipun mereka
bukan lagi anak kecil tapi Aoba sendiri yang tidak menginginkan mereka untuk
pisah kamar. Sekamar berdua, sama seperti dulu.
Aoba
selesai mandi ketika ia melihat Sei sendirian di beranda kamarnya sambil
menatap langit malam. Dan ia pun jadi teringat benda yang ia beli ketika
mengantarkan barang tadi. Hadiah untuk Sei. Pemilik rambut biru panjang itu pun
mengambil benda di dalam tas duffelnya, ketemu.
Ia
pun menghampiri Sei, Sei menoleh mendapati Aoba yang kini disampingnya.
“Katakan
padaku Nii-san, hadiah apa yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu besok ?”
pertanyaan yang selalu sama setiap tahun. dan Aoba sendiri juga tahu jawaban
apa yang akan keluar dari bibir Sei.
“Aku hanya menginginkan Aoba untuk selalu
bahagia.”
Pasti itu
yang akan kakaknya katakan.
“Aku hanya
ingin Aoba untuk selalu bahagia.” Ujar Sei lembut.
Aoba hanya
menghembuskan nafasnya pelan, benar dugaannya. Kemudian ia meraih bahu Sei,
mereka berdua pun berhadapan.
“Kau tau
Nii-san aku sudah bahagia sejak kita selalu bersama. Dan aku sudah sangat
bahagia berada di dekatmu seperti ini. Aku tak masalah jika Nii-san dan yang
lain masih menyebutku manja atau apa. Hanya saja aku memang tidak bisa jauh
darimu Nii-san. Mungkin kini saatnya aku yang akan membahagiakan Nii-san.” Aoba
pun menaruh benda yang sedari tadi ia kantongi ke telapak tangan kanan Sei.
Sebuah kristal setengah lingkaran yang di dalamnya terdapat salju-salju yang
bertebaran bila kita menggoyangkannya.
Sei hanya
terheran dengan apa yang diberikan oleh adiknya itu.
“Nii-san itu
seperti salju, lembut, dingin tapi membuatku selalu nyaman. Oleh karena itu aku
tak pernah bisa jauh dari Nii-san dan aku juga tak ingin jauh dari Nii-san.”
“....”
“Saa,
tanjoubi omedetou Sei Seragaki.” Aoba tersenyum lebar. Sei pun meneteskan air
matanya.
“Tanjoubi
omedetou Aoba Seragaki.” Balas Sei yang kemudian mereka saling memeluk satu
dengan yang lainnya.
***END***
Tau tau fanficnya tidak terarah, ini gara2 bikinnya cuma semalam. Dan memang awalnya bukan konsep ini yang dibuat, tapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya bikin yang ini saja, yang konsep satunya buat besok-besok saja (?). Dan di DMMd ini author sangat menyukai Sei yaah meskipun ia muncul paling akhir terus mati :') Tapi tetap kecintaan author dengannya tidak berubah malah semakin bertambah (?).
HAPPY BIRTHDAY AOBA, SEI and REN !!