Selasa, 22 April 2014

[Fanfic] FUTARI (DRAMAtical Murder)


For Aoba and Sei birthday (22 April).


Cast                 : Aoba Seragaki, Sei

Fandom           : DRAMAtical Murder

Genre              : Family, general

Rate                 : T

Author             : Lycoris


             “Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?”
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.”
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.”
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.”
             “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Niichan.”
             “Aoba mo.”


   Sei masih duduk terdiam di samping jendela kaca ruang tamu. Tangan kirinya menyangga dagu yang terus mengarah ke luar jendela. Sudah hampir 2 jam ia seperti itu. Memandang kosong ke dalam hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Meskipun Tae sudah memberitahunya agar segera pergi ke dalam kamar tidur, tapi anak laki-laki berumur 9 tahun itu masih tak beranjak sedikit pun.
“Mau sampai kapan kau menunggu adikmu, Sei-chan ?” tanya Tae sambil membereskan meja makan.
“Aoba...belum pulang.” Sei berkata lirih, ada nada kesedihan disitu.
Tae menghampiri anak laki-laki berambut hitam sebahu itu. Diletakkannya segelas coklat panas di depan meja tempatnya duduk.
“Sebentar lagi, pasti Aoba dan kedua orang tuamu sedang kehujanan makanya mereka telat pulang.” Tae mengelus puncak kepala Sei.
“Ini, minumlah.” Sei menatap mug berwarna putih dengan garis biru tua itu.
“Punya Aoba mana ?” dan Tae pun hanya bisa tersenyum melihat Sei. Sedikit pun ia tak pernah melupakan sang adik kembarnya itu.
“Kalau Aoba sudah datang nanti Baa-chan buatkan untuknya. Sekarang yang terpenting kau habiskan ini dulu.” Sei pun mengangguk.
Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas buatan neneknya itu, dan Tae pun segera meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti.

Krek
Suara pintu terbuka.
“Tadaima!” suara khas anak kecil itu pun langsung memecah keheningan rumah yang tak terlalu besar. Dengan setengah berlari anak laki-laki berambut biru itu memasuki rumah setelah melepas sepatunya yang basah dengan sembarang.
Raut wajah Sei pun berubah 180 derajat. Ia pun berdiri dari tempat duduknya. Menunggu sang adik yang sebentar lagi muncul dari balik pintu ruang tamu.
Yang di tunggu pun muncul. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri sang kakak yang sudah menunggu kepulangannya itu.
Okaeri Aoba.” Sei tersenyum.
Nii-chan !” Segera bocah dengan rambut panjang itu berlari ke arah Sei dan memeluk Sei.
“Aku sangat merindukan Nii-chan.” Aoba mengeratkan pelukannya.
“Aku juga sangat merindukan Aoba.” Balas Sei sambil mengelus rambut Aoba yang sedikit basah itu.
Aoba melepaskan pelukan kerinduan itu. Dilihatnya wajah Sei yang memang pucat.
Nii-chan baik-baik saja kan ?” Aoba membesarkan kedua matanya. Dan Sei hanya tersenyum, seperti biasa.
“Memang ada yang salah denganku ? Aku baik-baik saja Aoba, dan sekarang lebih baik karena Aoba sudah pulang.”
Belum sempat Aoba menjawab pernyataan Sei, Nine dan Haruka menghampiri mereka berdua.
“Aoba, kau harus mandi. Air hujan bisa membuatmu sakit.” Kata Haruka.
“Dan Sei, kau pasti merindukan kami kan ?” Nine menghampiri Sei dan memberikan anak laki-laki itu pelukan hangat.
Sei hanya mengangguk, ia membalas pelukan ayahnya itu.
“Aku juga ingin dipeluk bersama Nii-chan.” Aoba menggembungkan kedua pipinya karena melihat hanya Sei yang dipeluk oleh ayahnya.
Hai hai, kemari Aoba. Biar ayah memeluk kalian berdua.” Kemudian Nine meraih tubuh kecil Aoba dan memeluk mereka berdua. Haruka hanya tersenyum dan Tae tertawa kecil melihat kelakuan mereka.

Tak beberapa lama akhirnya Haruka menyuruh Aoba untuk segera mandi. Bocah kecil itu hanya mengganngguk dan segera pergi ke kamar mandi bersama ayahnya, Nine.
“Sei, belum minum obat kan ?” Haruka bertanya kepada Sei yang kini duduk di kursinya tadi.
Sei menggeleng, “aku menunggu Aoba, Kaa-san. Tapi janji setelah ini aku akan meminum obatku dan segera tidur bersama Aoba.” Sei tersenyum lebar.
“Maafkan kami karena harus meninggalkanmu kemarin selama 2 hari kemarin.” Wajah Haruka terlihat menyesal, ia berjongkok di depan Sei dan mengelus rambutnya.
“Emm, daijobu. Memang kesehatanku kemarin yang sedang buruk, lagi pula yang terpenting sekarang Tou-san, Kaa-san dan Aoba sudah pulang kan.”
“Sei....arigatou karena Sei selalu bisa mengerti. Dan maafkan Kaa-san dan Tou-san yang jarang di rumah untuk Sei.” Haruka kemudian memeluk pelan badan kecil dan ramping Sei.
Sei menenggelamkan wajahnya di pundak Haruka. Ia hanya diam dan tersenyum simpul.

Haruka Seragaki, meskipun Sei dan Aoba bukanlah anak kandungnya bersama Nine tapi arti mereka berdua sudah lebih dari itu. Sejak pertama kali Tae membawa bayi Sei dan Aoba ke rumah, sejak itulah ia sudah menganggap mereka berdua adalah anak kembar mereka berdua. Kasih sayang yang mereka berikan juga tulus seperti orang tua kandung kepada anak kandung mereka. Malahan mungkin bisa dikatakan melebihi ikatan darah antar orang tua dengan anaknya. Ia begitu menyanyangi mereka berdua.
Sei Seragaki, anak laki-laki yang bersikap dewasa dibanding umurnya yang baru menginjak 10 tahun. Entah sejak kapan ia mulai mengerti bahwa ia yang harus menjaga Aoba, adiknya yang terkadang sangat manja itu. Sei selalu mengalah kepada Aoba, ia mengerti bahwa Aoba hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dan Sei tidak pernah mempermasalahkan itu, karena baginya Aoba adalah alasan ia bisa bertahan sampai sekarang. Sei memiliki penyakit sejak ia kecil, oleh karena itu ia sehari pun tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan yang dibuat oleh Tae, nenek angkat mereka. Sei selalu menjaga Aoba, dan Aoba yang sangat menyayangi serta harus melindungi Sei. Oleh karena itu mereka berdua tidak bisa dipisahkan.

“Nah Sei, sekarang kau cepat minum obatmu dan bersiap untuk tidur. Karena sebentar lagi Aoba akan menyusulmu, ne.” Haruka mencium puncak kepala Sei dan kemudian mengelusnya pelan.
Hai Kaa-san.” Sei segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam kamar tidur yang berada di lantai 2 rumah itu. Haruka memperhatikan punggung yang berbalut baju tidur panjang warna putih itu sampai ia hilang.
“Sei sangat dewasa, dan Aoba sekarang malah semakin manja dengannya.” Suara Tae membuat perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang, Tae berdiri tidak jauh darinya.
Un, dan karena alasan itu juga kenapa Aoba tidak ingin jauh dengan Sei lama-lama.”Haruka menghampiri ibunya.
“Ah iya Haruka, apa kau sudah memberikan mereka berdua kado ?” Tanya Tae.
Okaa-san tenang saja, aku dan Nine sudah menyiapkan kado yang sangat tepat untuk mereka berdua.” Haruka tersenyum penuh arti.
Saa, aku mau mandi dulu. Okaa-san cepatlah tidur, jangan terlalu kecapaian.” Haruka mencium pipi ibunya itu dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tae yang kini tengah penasaran dengan kado apa yang akan mereka berikan untuk ulang tahun si kembar besok.

Sei tengah duduk di atas ranjangnya ketika Aoba masuk ke dalam kamar. Segera Sei menoleh dan Aoba menghampirinya. Kemudian tanpa menunggu aba-aba lagi Aoba segera naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Sei.
Ne Nii-chan, apa yang ingin kau dapat di ulang tahunmu besok ?” tanya Aoba sambil memainkan ujung piyama biru mudanya.
Sei setengah terkaget, tidak biasanya Aoba menanyakan tentang hadiah ulang tahun. tapi bukan Sei jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
             “Aku ? Aku hanya ingin Aoba terus bahagia.” Jawab Sei lembut dan singkat.
             “Hei, hadiah macam apa itu ? Bukannya aku sudah bahagia, denganmu disini.” Aoba segera
memutar badannya. Kini ia dan Sei berhadap-hadapan. Bisa Aoba lihat bahwa kedua mata kakaknya
mengatakan yang sebenarnya. Sei memang tak pernah bercanda dengan kata-katanya.
             “Tadi kau menanyakan aku ingin hadiah apa, ya itu hadiah yg aku inginkan.” Sei mengacak asal
rambut Aoba yang setengah basah itu.
   “Sou sou. Kau memang tak pernah berubah Nii-chan.” Aoba cemberut dan membenarkan rambutnya yang berantakan itu.
Sei tersenyum hangat, “Aoba mo.
Saa, ayo kita tidur. Nanti kita akan kena omelan Baa-chan kalau belum tidur. Lagi pula Aoba pasti capek bukan.” Sei membenarkan posisinya yang kini sudah terbaring di samping Aoba.
“Tapi aku lebih capek kalau harus mendengarkan Baa-chan mengomel sih.” Aoba terkikik pelan.
“Haha dasar kau ini.” Sei pun menyelimuti mereka berdua dan Aoba yang mematikan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Gelap, hanya sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela yang terlihat.
Oyasumi Nii-chan.” Aoba memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.
“Um, oyasumi Aoba.” Sei tidak langsung memejamkan matanya. Ia masih terjaga dan kini melihat langit-langit kamarnya. Besok umurnya dan umur Aoba akan menjadi 10, tapi bukan itu yang ia pikirkan. Melainkan ia memikirkan jika ia tidak akan pernah sembuh dari penyakit yang sejak lahir sudah ia idap.
Sei tidak pernah menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ini sudah jalan yang harus ia hadapi. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda begitu pula dengan dia.
Sei memperhatikan wajah Aoba yang tertidur, ia tak pernah berubah. Masih seperti Aoba yang pertama kali ia lihat di saat mereka dilahrkan di sebuah laboratorium. Kemudian Sei ingat akan sesuatu, ia pun beranjak dari ranjangnya.



“Sei, Aoba ! Tanjoubi Omedetou !!” suara serentak Nine, Haruka dan Tae terpaksa membuat dua anak yang tadi masih berpetualang ke alam mimpi untuk terbangun. Dengan mata yang dipaksakan untuk terbuka, kini mereka berdua melihat sebuah tart berwarna putih dan biru muda dengan beberapa strawberry yang menutupi atas tart dan beberapa lilin kecil yang sengaja di tancapkan telah berada di depan mereka.
Dua anak yang hari itu bertambah umur langsung duduk dan tersenyum bahagia dengan kejutan yang mereka dapat.
“Buat permohonan dan tiup lilin itu bersama-sama.” Tae berkata kepada mereka berdua dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedua cucunya bertambah usia.
“Un.” Keduanya mengangguk serempak dan saling berhadapan. Aoba memegang kedua tangan Sei lebih dulu, dan Sei pun membalasnya. Kini kedua tangan mereka saling terikat. Ketiga orang dewasa yang memperhatikan mereka tersenyum melihat tingkah Sei dan Aoba.
Mereka berdua memejamkan kedua mata, membuat keinginan di dalam hati. Berharap keinginan mereka terkabul ketika mereka membuka mata dan mulai meniup lilin-lilin itu.
Sei membuka kedua manik hitamnya lebih dulu, kemudian disusul Aoba. Nine yang memegang nampan tart itu pun sedikit mencondongkan nampan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Mereka berdua saling tatap dan menggangguk bersama.

“Fuuuh..” lilin-lilin kecil itu pun satu persatu padam.
“Nii-chan tanjoubi omedetou.” Aoba meringis ke arah Sei.
“Aoba mo, tanjoubi omedetou.” Sei tersenyum lebar ke arah Aoba.
Mereka berdua pun melihat ke arah Nine, Haruka dan Tae.
Tou-san, Kaa-san, Baa-chan, arigatou gozaimasu.” Serentak mereka berkata kepada 3 orang dewasa yang telah membesarkan mereka selama ini.
Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap raut yang terpancar dari kedua bocah kembar itu. Tak terasa sudah selama ini mereka bertiga merawat dan membesarkan Sei dan Aoba. Tae hampir saja meneteskan air mata jika saja Haruka tidak memegang bahunya.
“Bagaimana kalau kita potong kue ini dan kita memakannya bersama-sama.” Ujar Haruka yang langsung mendapat anggukan dari keduanya.
Segera si kembar flaternal itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti sang ayah yang telah berjalan lebih dulu sambil membawa nampan yang terisikan tart.
Tae dan Haruka mengikuti dari belakang.

Sei dan Aoba sudah duduk berdampingan di depan tart yang siap mereka potong berdua. Pisau khusus untuk tart pun telah Aoba pegang.
Nii-chan, ayo kita potong berdua.” Ajak Aoba yang mendapat senyum mantap Sei. Mereka berdua pun memotong tart itu bersama-sama.
Mereka berdua pun serempak memberikan potongan pertama kepada sang nenek. Tae pun menerima dengan terharu. Kemudian potongan kedua dan ketiga mereka berikan kepada ayah dan ibu mereka, dengan Aoba yang memberikan kepada Nine dan Sei yang memberikan kepada Haruka. Mereka pun menyuapkan bersama-sama.

Pagi itu, menjadi pagi yang sangat berkesan bagi si kembar. Usia yang menjadi 10 tahun dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua. Di tengah kebahagiaan itu Nine teringat sesuatu. Dengan memberi tanda ‘tunggu sebentar’ ia meninggalkan yang ada di meja makan itu. Membuat Sei dan Aoba terheran apa yang sedang di lakukan oleh ayah mereka.
Haruka dan Tae pun hanya tersenyum penuh arti. Tak beberapa lama, Nine pun kembali dengan membawa sesuatu. Sebuah tas duffel yang terlihat ada isinya. Sei dan Aoba semakin bingung, namun pada akhirnya mereka paham akan apa yang Nine bawa.
“Sei, Aoba, ini hadiah dari kami untuk kalian.” Ujar Nine kepada keduanya.
“Eee hontou ni ?” Aoba turun dari tempat duduknya dan menghampiri ayahnya yang jongkok di lantai.
“Sei, kemarilah. Buka bersama Aoba.” Kata Nine.
“Iya Nii-chan, sini.” Aoba melambaikan tangannya, tanda agar Sei mendekat.
Sei pun turun dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. “Tou-san, ini apa?” tanya Sei.
Nine, dan Haruka hanya bisa tersenyum. Sedangkan Tae sebenarnya ia juga penasaran dengan hadiah yang dibaawa oleh Nine. Karena Tae sendiri sebenarnya juga tidak tau dengan apa yang anak beserta menantunya berikan.
“Cepat buka.” Ujar Haruka.
Sei dan Aoba pun membuka isi tas berwarna putih biru itu bersama-sama.
“....”
Sesuatu tiba-tiba menyembul. Berwarna biru tua dengan bulu-bulu halus yang bisa mereka lihat. Kedua bentuk yang menyerupai telinga pun bergerak-gerak. Seekor anjing.
Tak beberapa lama kedua manik yang serupa dengan bulu itu pun terbuka. Dengan lidah pink yang menjulur. Sei dan Aoba masih diam tak percaya dengan kado yang mereka berdua terima. Tetapi sesaat kemudian mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.
Ohayou Sei, Aoba.”
“...”
“...”
“he ????” ujar mereka berdua bersama.
“Kenapa anjingnya bisa berbicara ?” Aoba sedikit takut dengan anjing itu.
Tou-san, ini......” reaksi Sei lebih tenang dibanding dengan Aoba yang terkaget.
Nine dan Haruka hanya tertawa, sedangkan Tae juga masih terkaget. Setelah puas tertawa Nine pun menarik nafasnya dan menjelaskan.
“Aoba, Sei, perkenalkan ini adalah allmate yang memiliki bentuk anjing.” Nine memperkenalkan hadiah tak biasa itu kepada mereka.
“.....allmate ?” Aoba masih heran.
Sei pun mulai berani menyentuh allmate anjing itu. Ia mengusap-ngusap bulu halus berwarna biru tuanya.
Yoroshiku Sei, Aoba.” Ia kembali bersuara dan dibalas oleh Sei. “Kochirakoso yoroshiku.”
Aoba yang masih tak mengerti malah dibuat semakin bingung.
Nii-chan~ allmate itu apa ?” Aoba sudah seperti orang yang paling tak tahu apa-apa di ruangan itu.
Sei terkikik, kemudian ia mengambil allmate itu dan memanggkunya.
“Allmate adalah seperti robot yang bisa berbicara, mereka memiliki kecerdasan dan kepribadian sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Dan yang terpenting mereka bisa bertingkah sesuai dengan wujud mereka. Apa kau mengerti Aoba ?” Sei menjelaskan sambil terus mengelus allmate itu.
Aoba masih berpikir sejenak. “Aaa wakatta.” Ia pun mulai berani mengusap perut allmate itu.
“Tapi kita juga harus memperlakukan mereka seperti hewan yang sesungguhnya. Kita harus menyayanginya.” Haruka menambahi.
Arigatou Tou-san, Kaa-san, Baa-chan.” Ucap mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik.” Ujar Nine.
Mereka berdua mengangguk mantap. “Un ! pasti !”
“Sekarang kalian harus memberinya nama.” Kata Tae sambil meminum tehnya.
Mereka berdua terlihat berpikir.
“......”
“Bagaimana kalau Ren.” Celetuk Sei, Aoba pun langsung menoleh ke Sei dan membulatkan matanya.
“Nah ! itu nama yang paling tepat untuk dia.” Aoba pun mengangkat allmate itu. “Mulai sekarang namamu Ren. Yoroshiku Ren.” Aoba pun menempelkan wajahnya ke badan Ren.
Ketika Aoba tengah asyik dengan Ren, Sei pun teringat akan sesuatu. Segera ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari ke kamar. Mereka yang ada disitu pun hanya dibuat kaget, karena tak biasanya Sei seperti itu.
Sei pun kembali dengan tangan yang ia sembunyikan ke belakang. Aoba yang menggendong Ren itu pun memperhatikan gelagat Sei yang tak biasa.
Nii-chan, doushita no ?” heran Aoba. Sei berjalan mendekat ke arah Aoba. Ren yang tadinya digendong Aoba pun ia turunkan di lantai.
“Aoba....kore...” Sei pun memperlihatkan apa yang ia sembunyikan tadi di balik punggungnya.
Aoba memperhatikan apa yang berada di tangan Sei. Sebuah gambar yang ia yakini itu adalah gambarnya yang sedang bergandengan tangan dengan Sei. Bisa dikatakan untuk anak seusia Sei itu adalah gambar yang sangat bagus.
Itu adalah gambar yang Sei gambar semalam, dengan menggunakan crayon miliknya sampai tengah malam ia membuat gambar itu untuk hadiah Aoba.
“....”
Nii-chan, arigatou.” Aoba hampir saja menangis jika saja Sei tidak memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya.
“Maaf Aoba aku hanya bisa memberikan itu untukmu.” Sei pun melepaskan pelukannya dengan Aoba. Aoba menggeleng, “ini adalah hadiah yang paling berharga Nii-chan. Arigatou, aku menyayangimu Nii-chan. Aku berjanji akan terus ada untuk Nii-chan dan akan terus menjaga Nii-chan.”
Nine, Haruka, dan Tae terharu melihat adegan itu. 2 orang anak laki-laki yang baru saja menginjak umur 10 tahun tapi saling menyanyangi sampai seperti itu. Aoba yang sangat manja dan Sei yang sangat menyayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
13 tahun kemudian

Aoba masih sibuk mengantar barang-barang Heibon di sekitar Midorijima. Ren, berjalan di depan Aoba, tak biasa karena biasanya Ren selalu masuk ke dalam tas duffel yang Aoba selempangkan.
Sudah sekitar pukul 5 sore tapi ia belum selesai melakukan pekerjaan paruh waktunya, pasti Sei dan Tae tengah menunggunya sekarang.
Yabai, sepertinya aku harus cepat-cepat.” Aoba pun akhirnya berlari untuk mengantarkan barang yang terakhir dan Ren pun terpaksa harus berlari juga untuk menyusul Aoba yang sudah hampir 13 tahun menemaninya.

“Aoba telat pulang lagi sepertinya.” Ujar laki-laki berambut hitam sebahu lirih. Ia masih sibuk menata makanan yang baru saja ia masak. Itu adalah pekerjaannya sehari-hari, karena sangat tidak mungkin ia untuk bekerja terlalu keras yang dapat menyebabkan kondisi badannya memburuk.
Sei, yang ia lakukan sehari-hari adalah membuat boneka-boneka kecil pesanan orang-orang sekitar Midorijima. Selain itu ia yang biasanya menyiapkan makanan untuknya, Aoba dan Tae. Sebenarnya jika bisa ia ingin sekali bekerja diluar seperti adiknya dan neneknya, bahkan sampai melakukan perjalanan seperti kedua orang tuanya. Tapi sepertinya kondisi badannya yang harus terus menerus tergantung dengan obat menyebabkan ia tak bisa melakukan hal-hal itu.
Pemilik suara lembut itu hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah, dan jika ia keluar pun ia tak boleh terlalu lama. Tapi meskipun ia seperti itu, setidaknya ia tidak berdiam diri begitu saja, menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Sei masih bisa beraktifitas meskipun tidak terlalu berat.
Dan hari itu, seperti biasanya, makanan sudah tersiap di atas meja makan. Tinggal menunggu Aoba dan Tae pulang. Tapi sepertinya lagi-lagi ia harus menunggu Aoba, ia telat lagi untuk pulang. Heibon memang sedang ramai-ramainya sekarang, itu yang Aoba katakan tempo hari kepadanya.
Tadaima.” terdengar suara wanita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi di ujung pintu. Itu Tae, siapa lagi. Sei pun segera berjalan ke depan untuk menyambut nenenknya.
Okaerinasai baa-chan.” Sei membalas Tae dan mengulurkan tangannya, membantu Tae. Dan seperti biasa pula Tae akan menolak, karena baginya ia belum begitu lemah untuk berjalan, mengingat ia yang setiap haru juga harus berjalan untuk sampai ke laboratorium tempatnya bekerja meskipun itu hanya berjarak sekitar 2 blok dari rumah mereka.
“Apa Aoba belum pulang ?” tanya Tae sambil duduk di atas meja makan.
“Belum. Ia telat pulang lagi sepertinya.” Sei pun menaruh segelas teh kegemaran Tae.
Arigatou Sei.” Sei pun mengangguk pelan.
Tae pun menyeruput pelan teh buatan cucunya itu. Kemudian ada suara pintu digeser.
Tadaimaaaa.” Suara yang sangat familiar, Aoba.
Okaerinasai.” Jawab Sei yang kini menyambut Aoba layaknya apa yang ia lakukan kepada Tae. Sudah menjadi kebiasaannya seperti itu.
Nii-chan gomen aku terlambat lagi.” Aoba dan Sei segera berjalan bersama ke ruang makan.
“Heibon sedang ramai jadi maklum saja Aoba selalu pulang telat.” Sei menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Tae, Aoba berada di sampingnya.
Aoba pun menaruh tasnya di kursi sebelahnya, ia kemudian membuka zipper tas itu.
“Sei, Tae konbanwa.” Ujar allmate berwarna biru tua itu.
Konbanwa Ren, apa kau lelah hari ini ?” tanya Sei kepada Ren.
“Tidak juga karena beberapa kali Aoba mematikanku.” Jawabnya seperti biasa.
“Hmmm baguslah, tolong jaga terus Aoba ya.” Sei tersenyum ke arah Ren, Ren hanya menjawab ‘haa’.
Aoba pun mematikan Ren, ia berjalan ke washtafel dan mencuci tangannya.
Saa mari kita makan.” Ucapnya.
“Um..”
Itadakimasu.
               

         Sei membuka jendela beranda kamarnya sekaligus kamar Aoba itu. Meskipun mereka bukan lagi anak kecil tapi Aoba sendiri yang tidak menginginkan mereka untuk pisah kamar. Sekamar berdua, sama seperti dulu.
        Aoba selesai mandi ketika ia melihat Sei sendirian di beranda kamarnya sambil menatap langit malam. Dan ia pun jadi teringat benda yang ia beli ketika mengantarkan barang tadi. Hadiah untuk Sei. Pemilik rambut biru panjang itu pun mengambil benda di dalam tas duffelnya, ketemu.
          Ia pun menghampiri Sei, Sei menoleh mendapati Aoba yang kini disampingnya.
        “Katakan padaku Nii-san, hadiah apa yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu besok ?” pertanyaan yang selalu sama setiap tahun. dan Aoba sendiri juga tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Sei.
        “Aku hanya menginginkan Aoba untuk selalu bahagia.”
        Pasti itu yang akan kakaknya katakan.
       “Aku hanya ingin Aoba untuk selalu bahagia.” Ujar Sei lembut.
       Aoba hanya menghembuskan nafasnya pelan, benar dugaannya. Kemudian ia meraih bahu Sei, mereka berdua pun berhadapan.
       “Kau tau Nii-san aku sudah bahagia sejak kita selalu bersama. Dan aku sudah sangat bahagia berada di dekatmu seperti ini. Aku tak masalah jika Nii-san dan yang lain masih menyebutku manja atau apa. Hanya saja aku memang tidak bisa jauh darimu Nii-san. Mungkin kini saatnya aku yang akan membahagiakan Nii-san.” Aoba pun menaruh benda yang sedari tadi ia kantongi ke telapak tangan kanan Sei. Sebuah kristal setengah lingkaran yang di dalamnya terdapat salju-salju yang bertebaran bila kita menggoyangkannya.
Sei hanya terheran dengan apa yang diberikan oleh adiknya itu.
Nii-san itu seperti salju, lembut, dingin tapi membuatku selalu nyaman. Oleh karena itu aku tak pernah bisa jauh dari Nii-san dan aku juga tak ingin jauh dari Nii-san.”
“....”
Saa, tanjoubi omedetou Sei Seragaki.” Aoba tersenyum lebar. Sei pun meneteskan air matanya.
Tanjoubi omedetou Aoba Seragaki.” Balas Sei yang kemudian mereka saling memeluk satu dengan yang lainnya.

***END***



*pojok author*
Tau tau fanficnya tidak terarah, ini gara2 bikinnya cuma semalam. Dan memang awalnya bukan konsep ini yang dibuat, tapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya bikin yang ini saja, yang konsep satunya buat besok-besok saja (?). Dan di DMMd ini author sangat menyukai Sei yaah meskipun ia muncul paling akhir terus mati :') Tapi tetap kecintaan author dengannya tidak berubah malah semakin bertambah (?).

HAPPY BIRTHDAY AOBA, SEI and REN !!


About