(Rencananya) bikin
fanfic dan bakal dipubblish tepat tanggal 16 Januari kemarin *udah lama woii*
tapi berhubung laptop waktu itu udah rusak sekitar 10 hari sebelumnya jadi si
Kuro (nama laptop author) *gak penting* gak bisa dipake dan baru masuk
bengkel(?) tgl 14. Udah bikin ff di laptop adek tapi laptopnya dipinjem
temennya sampe lama banget *mewek* ya udah nyerah deh sama ff yg ada disana.
Terus si kuro ternyata hampir 1 minggu di tempat servisan *banting abang2nya*
/plak. Ya udah akhirnya bikin ini ff waktu Kuro balik deh, dan baru selesai
hari ini (10 hari setelah ulang tahun Ibuki :’ ) Ah authornya kebanyakan curhat
yaak,
Saa
happy reading minna-sama, semoga ini menjadi awal yg baik setelah saya vakum 2
bulan bikin ff hakhakhak dan TANJOUBI OMEDETOU IBUKI YG KE-30 ~~
*****
Title : Cake, Candle,
Smile, Hope, and Tears
Cast : Ibuki
D=OUT, Kouki D=OUT
Genre : Shounen-Ai,
Romance, Angst
Rate : T
Author : Lycoris
Warning : Boys Love (MxM)
bagi yang tidak suka harap jangan membacanya, OOC, typo(s), dan sekali lagi
merasa kurang mendapatkan feel T_T
“Hhhhh...salju
lagi.” Ia mendongakkan kepalanya yang tanpa memakai apa-apa. Merasakan tiap
butiran putih yang dingin itu. Ia memejamkan mata, merasakan setiap butiran
kenangan yang mengalir seperti butiran salju yang turun malam itu. Semuanya
mengalir begitu saja, setiap atom kenangan yang tak pernah ia lupakan meskipun
toh sekarang sudah ada kenangan baru yang telah ia ciptakan. Tumpukan album
lama itu tak akan pernah berdebu dan memudar, malahan ia semakin kuat dengan
adanya album yang baru. Namun ia sadar posisinya sekarang, ia tak boleh
mencoretkan tinta hitam di albumnya yang baru, memberikan noda sedikit saja pun
ia tak menginginkannya. Album yang baru ini yang telah menariknya kembali ke
dunia dimana ia seharusnya berada. Tak menangisi album lamanya yang kini sudah
tak ada.
Tak terasa
mata indah yang terbingkai kaca mata berframe
hitam itu meneteskan bening asin yang jatuh menuruni pipi putihnya yang
mendingin.
Tes
Bening asin
itu berhasil jatuh ke trotoar tempatnya berdiri sekarang. Ia tak menghiraukan
udara yang semakin mendingin dan jalanan yang semakin sepi oleh kendaraan.
Hanya pohon bunga sakura yang kini hanya tinggal ranting dan dipenuhi kerlipan
cahaya warna warni lampu mainan yang menemaninya. Tak banyak orang berlalu
lalang disana.
“.....”
Pemuda manis
itu kemudian menundukkan kepalanya. Kedua tangan yang tak memakai sarung tangan
itu segera meraih hoodie dan memakainya di kepalanya yang semakin mendingin.
Dan ia pun tersenyum miris.
“Dulu...kau
yang sering memakaikan hoodie ini ketika salju turun.” Ia berkata lirih.
Dan pada detik
berikutnya ia berjalan menjauhi tempat itu menuju tempat hangat yang telah
menyambutnya di ujung jalan.
****
Setelah ia
memutar kunci pintu apatonya, direbahkannya badan yang letih di sofa berwarna
coklat tua setelah seharian berada di bar milik adiknya. Tak lupa kacamata yang
setiap hari ia pakai ketika berada di luar ia lepas. Meskipun kerjanya hanya
duduk sambil memangku gitar akustik coklat mudanya tapi tentu saja itu
melelahkan. Setiap lagu yang berhasil ia bawakan bersama beberapa temannya
selalu mendapatkan tepuk tangan yang meriah, dan itu yang membuat ia tak bisa
berhenti. Apalagi awal tahun seperti ini, tentu saja bar milik adiknya sedang
ramai-ramainya. Ia tak pernah mengeluh sebenarnya. Namun sang adik yang berbeda
usia 6 tahun darinya bukannya tak peduli dengan kakaknya yang hampir setiap
hari kesana dan memberikan hiburan. Sudah tak terhitung Ken, begitu nama
adiknya menyuruhnya untuk istirahat saja di apatonya. Mengingat kesehatannya
yang sebenarnya semakin menurun akibat terlalu seringnya ia pulang larut malam
di musim dingin seperti ini.
Tapi selalu
saja alasan “Aku mencintai gitar Ken kau tau itu kan” menjadi ucapan wajibnya
ketika ia harus menghadapi nasehat Ken.
“Hhkk—“ ia
merentangkan kedua tangan dan kakinya. Hari ini sangat melelahkan, hingga kedua
matanya sudah berat dan menginginkan untuk dipejamkan. Dan detik berikutnya ia sudah
tidak sadar dan sebagian nyawanya sudah ke alam mimpi. Hingga ia tak menyadari keitai hitam yang masih berada di saku
celananya bergetar. Membuat seseorang di seberang sana khawatir.
*****
“Nomor yang
Anda tuju sedang tidak bisa menerima panggilan. Silahkan tinggalkan pesan
setelah bunyi—“ bukan suara itu yang ia inginkan. Dengan setengah kesal dan
setengah khawatir ia memencet tombol merah dan memasukkan keitainya kembali ke saku mantelnya.
“Ck, kau
kemana saja Ibuki ?” katanya khawatir. Dengan segera ia mempecepat langkah
kakinya untuk segera ke tempat yang menjadi satu-satunya tujuan Ibuki,
apatonya.
Ibuki, nama
pemuda yang telah membuatnya khawatir selama hampir 1 minggu ini. Betapa tidak,
s
Selama itu ia sangat jarang sekali bisa dihubungi. Bukan berarti ia tak pernah
mencoba menghampirinya ke apato yang berjarak sekitar 15 km dari apato
miliknya. Tapi selalu keadaan kosong yang ia dapatkan. Dan memang hanya malam
hari lah pemuda dengan tinggi 182 cm itu bisa menemui Ibuki. Karena pagi hingga
malam ia harus bekerja di studio miliknya, mengontrol band-band naungannya
untuk recording dan berlatih setiap
hari.
“Hari ini akan
aku coba lagi, semoga kau disana.” Ucapnya lirih dan dengan membawa sekotak
sedang cake strawberry.
Tak membutuhkan
waktu yang lama pergi ke tempat Ibuki dengan menggunakan bus malam. Kouki
segera turun dari bus yang berhenti tepat di depan apato Ibuki. Dengan udara
dingin yang semakin menusuk hingga ke tulang, ia merapatkan mantel dan syal
biru tua pemberian Ibuki sebagai kado natal kemarin. Dan bisa dipastikan syal
itu selalu Kouki pakai setiap hari. Karena menurutnya semua benda yang Ibuki
berikan kepadanya adalah benda-benda yang berharga dan akan terus ia pakai.
Kamar Ibuki
berada di lantai 10, tepat berada di sebelah lift. Kouki sudah memegang kenop
pintunya dan sudah bersiap memasukkan kunci duplikat. Bukan berarti Kouki tak
mendapatkan ijin dari sang empunya apato, justru Ibuki yang dengan tulus
memberikannya kepada Kouki. Berharap kalau ada apa-apa Kouki bisa langsung
masuk ke dalam apatonya. Dan itu yang membuat Kouki semakin menyanyangi Ibuki,
Ibuki memberikan kepercayaannya kepada Kouki.
Tapi ternyata
kunci itu tidak bisa dimasukkan. Aneh, apa mungkin Ibuki sudah di dalam ?
pikirnya. Kemudian dengan perasaan penasaran Kouki menekan memutar kenop pintu
dan mendorongnya. Terang. Berarti benar Ibuki di rumah. Karena beberapa hari
ini ketika Kouki ke tempat Ibuki ruangan itu selalu gelap. Menandakan sang
pemilik belum pulang. Sedikit perasaan lega terpancar dari senyumannya. Namun
ia juga masih sedikit ragu apakah Ibuki di ruangannya.
Kouki
mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terdapat 2 sofa untuk satu
orang dan sebuah sofa panjang yang membelakanginya. Kouki mulai masuk dengan
tak lupa menutup pintu itu pelan.
Ia mulai
memanggil nama Ibuki, “Ibu—“ belum sempat ia meneruskan. Kedua mata tajamnya
menatap sesosok tubuh lemah yang terlihat sangat kelelahan tertidur pulas.
Sosok yang sangat ia rindukan, sosok yang telah membuatnya selama 1 minggu
terakhir ini khawatir sekaligus kesal. Namun semua itu hilang setelah ia melihatnya
yang sedang menjelajahi alam mimpi. Kouki tersenyum, dihampirinya sosok yang
lebih kecil darinya. Ia berjongkok di depan sofa tempat Ibuki tidur. Dengan
seksama ia melihat wajah Ibuki serta setiap tarikan serta hembusan nafasnya.
Disibakkannya rambut Ibuki yang menutupi sebagian muka Ibuki. Manis, itu yang
selalu Kouki lihat darinya. Perlahan ia mengelus pipi Ibuki dengan jari tangan
kanannya.
“Kau kemana
saja baka ?” ucapnya lirih namun
penuh dengan perhatian.
Selama
beberapa saat ia masih memandang wajah pulas itu tanpa berani membangunkannya.
Kouki tau Ibuki pasti melakukan kegiatan yang telah menyita tenaganya selama
satu minggu ini. Tapi yang ia heran, kenapa Ibuki tak pernah memberikannya
kabar ? meskipun itu hanya sebuah e-mail
yang menunjukkan dimana ia berada.
“Baka, kau tau tak tahu ya aku sangat
mengkhawatirkanmu. Kau ini tetap tak berubah, melakukan sesuatu tanpa pernah
bilang kepada orang lain.”
Kemudian
dengan lembut ia meraih tangan Ibuki dan menariknya dengan pelan. Kouki
memposisikan tubuhnya setengah berjongkok di depan Ibuki dan kemudian membopong
Ibuki menuju kamar yang tak jauh dari ruang tamu itu. Dengan pelan Kouki
membaringkan Ibuki ke ranjang berbeludru pastel polos. Kouki tak lupa mencopot
mantel Ibuki dan segera menyelimuti Ibuki agar tak kedinginan.
“Oyasumi.” Ucapnya lembut dan disertai
kecupan di kening Ibuki. Dengan pelan Kouki berjalan menjauhi kamar tidur Ibuki
dengan tak lupa mematikan lampunya dan menutup pintu. Pemuda dengan tindikan di
bawah bibirnya itu pun teringat kepada sekotak cake strawberry yang ia beli di toko cake favorit mereka berdua. Diambilnya kotak itu yang berada di
atas meja depan sofa Ibuki tadi tertidur.
“Akhirnya,
bukan aku lagi yang harus memakannya.” Kouki berjalan membawa sekotak cake itu ke dapur kecil milik Ibuki dan
memasukkannya ke dalam lemari pendingin.
Setelah di
rasa cukup, Kouki merapikan pakaiannya. Di lihatnya jam yang sudah menunjukkan
pukul 00:17 dari jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
“Sudah larut,
aku harus pulang. Lagi pula kurasa ia akan baik-baik saja besok.” Ia berkata
sendiri dan sesuatu hampir terlupa. Segera ia mengambil kertas yang memang
sengaja Ibuki sediakan di atas meja ruang tamunya. Kouki menuliskan sesuatu
disana dan menempelkannya di pintu lemari pendingin dengan magnet berbentuk bebek
kuning pemberian Kouki. Setelah dirasa pekerjaannya selesai ia segera beranjak
dari tempat itu. Tak lupa ia mengunci pintunya kembali. Dengan perasaan lega ia
berjalan menuju lift.
Ternyata di
luar salju telah reda. Namun meninggalkan udara dingin yang lebih dingin dari
tadi. Dengan segera ia berjalan atau lebih tepatnya setengah berlari menuju halte
yang tak jauh dari sana. Tak memerlukan waktu lama, bus terakhir malam itu tiba
dan Kouki segera naik ke atasnya menuju apatonya sendiri.
*****
Sinar matahari
yang hangat mengintip dari celah-celah korden berwarna putih tipis di kamar
berukuran sedang yang di dalamnya terdapat seorang pemuda yang masih tertidur
dengan pulas sambil memeluk gulingnya. Namun rupanya sinar matahari itu cukup
bisa membuatnya terbangun. Dengan malas ia mengucek kedua bola matanya yang
masih lengket. Dalam keadaan yang nyawanya baru setengah Ibuki menatap
langit-langit kamarnya. Tunggu, kamar ? sejak kapan ia berada di dalam kamarnya
? bukankah terakhir kali ia ingat kalau dia sedang tertidur di sofa ruang tamu
? Lalu bagaimana ceritanya ia bisa berada di dalam kamarnya yang hangat ini ?
Toh tidak mungkin ia berjalan sendiri ketika ia tidur. Mengingat ia tak pernah melakukannya
selama ini.
Daripada ambil
pusing lebih lama lagi, ia segera duduk di tepi ranjangnya yang empuk.
Dilihatnya pula mantel coklat tuanya tergantung rapi di tempatnya. Berarti ia
tak mungkin berjalan sendiri semalam. Ah, bodoh biarkan saja, pikirnya. Di
tengoknya jam digital berbentuk persegi panjang yang berada di atas meja
sebelah tempat tidurnya.
07.15
Dengan langkah
sedikit berat, ia berjalan keluar kamarnya dan berniat mengambil sebotol air
mineral dingin di dapurnya. Letak dispenser yang bersebelahan dengan lemari
pendingin telah membuat kedua mata Ibuki terbuka lebar, nyawanya terkumpul
semua sekarang. Ia menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sangat ia kenal
menempel di pintu lemari pendinginnya.
“Aku yang membawamu ke kamar. Kau sudah membuatku
khawatir seminggu ini. Ah iya aku membawakanmu cake strawberry kesukaanmu,
makanlah. Dan jangan lupa hubungi aku setelah kau membaca Ini.”
Kouki
Ibuki
tersenyum. Ternyata Kouki semalam ke apatonya dan dengan susah payah membawanya
ke dalam kamar dan tak lupa juga ia mampir ke toko cake langganan Ibuki dan
membelikannya. Kouki sangat perhatian, pikirnya. Sangat berbeda dengannya yang
hampir satu minggu ini melupakannya. Bukan melupakan sebenarnya, namun ia tak
mau menganggu Kouki yang sekarang tengah di sibukkan dengan tugasnya sebagai kepala
record label yang cukup terkenal. Meskipun
usianya tergolong muda untuk mencapai ‘titel’ kepala, tapi tak mudah ia bisa
mencapai kesana. Dan Ibuki tau seberapa keras usahanya untuk bisa menjabat
sebagai kepala. Oleh karenanya Ibuki tak ingin terlalu tergantung dengan Kouki
dan membuatnya khawatir. Lagi pula sejak dulu Ibuki sudah bisa sendiri tanpa
merepotkan siapa pun. Dan untuk urusan kenapa sekarang ia hampir setiap hari ke
bar milik Ken karena ia sedang libur dari pekerjaannya sebagai kepala cabang
sebuah perusahaan alat musik, pekerjaan yang sangat ia harapkan sejak dulu.
Sesuatu yang berkutat dengan musik. Meskipun ia bukan musisi atau apa. Tapi sejak
remaja ia sudah mencintai gitar dan belajar memainkannya secara autodidak. Makanya
untuk mengisi waktu luang ia sekarang hampir setiap hari ke tempat Ken, adik
tirinya untuk sekedar memainkan beberapa lagu.
Namun
sepertinya ia memilih tempat yang salah. Karena ia semakin kecanduan untuk
pergi ke sana setiap hari. Dimulai dari pkl 11 siang hingga larut malam. Ia
begitu menikmati bermain gitar bersama teman-teman Ken yang usianya tak jauh
darinya. Sebuah pertemanan yang tercipta karena musik yang telah terbentuk
hampir 7 tahun yang lalu. Dan melalui bar Ken lah ia bisa berkumpul dengan
teman-temannya dan bermain bersama mereka hingga lupa waktu.
Setelah
mengambil segelas air minum, kemudian Ibuki membuka ke dalam lemari
pendinginnya dan mendapati kotak berwarna putih dengan beberapa motif polos
yang manis. Di ambilnya kotak tersebut dan membawanya ke atas meja ruang
makannya. Dengan hati berbunga bak anak kecil yang baru saja diberikan kue ia
membuka kotak itu. 2 slice cake
strawberry dengan strawberry
merah di atasnya menyambutnya. Betapa ia sangat merindukan memakan makanan
manis itu. Sudah hampir 2 minggu ia tak merasakan rasa manis serta lembut cake itu. Semuanya karena kesibukannya
dan kesibukan Kouki yang biasanya mereka berdua pergi bersama kesana.
Ah iya, ia
jadi merasa sangat bersalah kepada Kouki. Ia benar-benar tak mencoba
menghubungi bahkan memberi kabar kepadanya sama sekali. Setelah menaruh 1 slice cake strawberry di atas piring kecil kemudian ia mengambil iPhone
hitamnya yang masih berada di dalam kamarnya. Kemudian ia mencari kontak e-mail Kouki. Ia menyentuh layar
iPhonenya, menyentuh beberapa alphabeth
yang ada disana hingga menyusun kata-kata dan mengirimkannya ke alamat e-mail Kouki.
Ibuki
meletakkan kembali iPhonenya di atas meja makan dan mulai memakan cake itu tanpa tersisa sedikitpun sambil
menunggu e-mail balasan dari orang
yang sudah berbagi perasaan dengannya hampir 2 tahun ini.
*****
Kouki masih
tertidur di atas kasurnya yang nyaman ketika dering dari iPhone dengan chase Kyojin dari anime yang sedang trend
beberapa bulan ini. Mau tak mau ia harus bangun dan tangannya meraih iPhone
yang terletak tak jauh dari ranjangnya. Sebuah e-mail dan itu dari seseorang yang baru semalam ia temui. Ibuki
From : Ibuki
Subjek : Ohayou
Gomen, aku membuatmu khawatir. Aku sedang
memakan cake darimu, rasanya enak sekali seperti biasanya. Aku ingin berbicara
denganmu tapi aku tahu kau pasti sibuk kan hari ini, jadi mungkin nanti malam
saja aku akan ke apatomu setelah aku ke tempat Ken. Eh jangan lupa jaga
kesehatanmu baka.
Kouki
tersenyum sendiri. Meskipun ada yang ganjil di akhir kalimat Ibuki dengan
menyebutnya baka tapi itu yang sangat
Kouki rindukan. Ia merasa sudah lama Ibuki tidak memanggilnya demikian.
Sekarang moodnya telah terisi dengan baik. Ia
bangun dan bersiap mandi kemudian berangkat ke kantor sekaligus studio musik
itu. Tapi ia melupakan sesuatu, besok 16 Januari, 2 peristiwa yang sangat
berkebalikan bagi Ibuki.
*****
Setelah
membereskan apatonya Ibuki segera beranjak ke dalam kamar mandi, membersihkan
badannya. Berendam dengan air hangat tidaklah buruk juga. Cukup lama ia
menikmati air hangat yang hampir saja membuatnya tertidur. Namun ia segera
teringat bahwa hari ini ia harus ke tempat Ken lagi.
Sekitar 15
menit bersiap-siap kini Ibuki telah siap untuk berangkat. Celana jeans biru, kaos lengan panjang yang ia
tekuk, mantel coklatnya, syal berwarna kuning gading, boots berwarna coklat tua senada dengan mantel hangatnya, sebuah
tas samping dan tak lupa kacamata yang selalu ia pakai jika keluar.
“Yoosh, ittekimasu ! “ Ibuki berjalan ke depan
pintu, hingga kedua bola matanya tak sengaja melihat kalender duduk yang berada
di sebelah sofa. 16 Januari.
“Besok ya..”
ia berhenti dan terdiam. Sebuah senyum yang tak terbaca entah itu sedih atau
bahagia tergambar. Hatinya masih ragu akankah ia harus tersenyum atau menangis.
“Rei......”
dan akhirnya ia pergi meninggalkan apato setelah menguncinya.
*****
Ken menyambut
kakaknya dari balik meja bar. Tumben ia berada disana, pikirnya.
“Ohayou Ibuki-Nii.” Sapanya seperti biasanya.
“Ohayou Ken-chan.” Balasnya seperti biasa.
Meskipun Ibuki
tersenyum seperti biasanya, tapi matanya tidak. Ken bisa membaca jelas. Dan ia
pun mengerti kenapa kakaknya seperti itu. Besok 16 Januari.
“Hei Ken, doushite ?” Ibuki melambai-lambaikan tangan
kanannya ke depan muka Ken yang bengong.
Ken segera
sadar, “Kau tidak apa-apa hmm ?” ucap Ken langsung. Ibuki yang tidak menyangka
akan pertanyaan adiknya hanya bisa tersentak kaget dan terdiam.
“...”
“Aku tidak
tahu.” Jawabnya singkat.
Dan Ken sepertinya
merasa bersalah karena sudah menanyakan hal yang sangat ‘peka’ kepada
kakakknya.
“Gomen Ibuki-Nii.” Katanya lemah.
“Ah daijoubu.” Ibuki (memaksakan) tersenyum
dan mengacak-ngacak rambut Ken yang mulai panjang itu.
Untuk
mencairkan suasanan yang tegang itu pun Ken segera memberikan gitar akustik
Ibuki yang sengaja ia tinggal disana. Dan Ibuki dengan senang hati menerimanya.
Ia duduk di sofa berwarna merah di pojok ruangan, dengan khusyuk ia memetik
setiap senar sehingga menciptakan harmonisasi yang bisa membuat orang
menikmatinya.
.
.
.
Masih sore,
namun Ibuki sudah tak ada di panggung bersama Ken, Takeru, Iv, dan Ko-Ki. Tak
seperti biasanya ia pulang lebih awal dan meninggalkan gitar akustiknya
bersender di pojok panggung. Ken mengerti bagaimana perasaan kakaknya sekarang.
Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena itu masalah hatinya. Yang bisa Ken lakukan
hanyalah selalu memberikan dukungan untuk sang kakak.
Ibuki berjalan
menyusuri trotoar yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Tokyo memang
seperti ini, selalu ramai oleh rutinitas. Dulu, ia memang masih bisa merasakan
apa itu keramaian. Namun semenjak peristiwa itu ia tak pernah lagi bisa
merasakannya. Terlalu sepi.
Walau pun ia
juga telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu ada untuk ada Kouki
tapi sepertinya ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Reika masih mengisi
ruang yang tak bisa Kouki masuki.
Cukup jauh ia
berjalan tapi ia tak merasakan kelelahan sedikit pun. Ibuki tak tau akan
kemana, ia hanya membawa kedua kakinya menjauhi keramaian.
Dan akhirnya
sampailah ia di tempat itu. Sebuah taman bermain di pinggir kota. Tak luas
memang dan tak banyak pengunjungnya. Tapi disitulah dulu ia dan Reika
menghabiskan masa kecil mereka hingga menginjak sekolah menengah atas. Reika
dan Ibuki selalu bersama. Hingga muncul sebuah perasaan lain di hati keduanya.
Perasaan yang sebenarnya tak diperbolehkan. Namun apa yang bisa mereka perbuat
? mereka hanyalah 2 orang anak muda yang bisa saling berbagi dan mengisi. Dan
mereka tak bisa menampik perasaan yang dinamakan ‘cinta’ itu.
Hubungan yang
berlangsung sudah lebih dari 7 tahun. Meskipun pada akhirnya mereka tak berada
di kota yang sama dan sering menghabiskan waktu bersama, tapi setiap akhir
pekan Reika akan menghampiri Ibuki dan mangajaknya jalan-jalan atau hanya
sekedar menghabiskan waktu berdua. Dan tempat ini adalah tempat wajib bagi
mereka berdua.
Angin dingin
sore itu tak Ibuki hiraukan. Ia duduk di ayunan yang kakinya kini bisa
menyentuh tanah. Dulu Reika akan mendorong Ibuki, dan begitu sebaliknya. Kalau
tidak begitu mereka akan berlomba siapa yang paling tinggi berayun, dan Reika
selalu jadi pemenangnya.
Ibuki hanya
tersenyum pahit mengingatnya. Jika saja malam itu—
Ah apa yang ia
pikirkan, batinnya. Bukannya itu sudah terjadi dan sekarang sudah ada Kouki
yang menjadi dunia barunya. Kouki yang harus ia jaga dan Kouki yang tak ingin
ia sakiti perasaannya.
Kouki, seorang
teman terdekat Reika ketika mereka kuliah. Kouki yang selalu menjadi pendengar
baik Reika ketika pemuda dengan lesung pipi itu menceritakan bagaimana Ibuki
(dulu Ibuki dan Reika memang tak berkuliah di tempat yang sama). Bagaimana
Ibuki yang tak mau dibantu oleh orang lain, bagaimana Ibuki yang selalu
berusaha menang dengan Reika dari dulu, bagaimana Ibuki yang dengan malu-malu memberinya
sebuah hadiah, dan bagaimana Ibuki mencintainya. Semua Kouki dengarkan dengan
benar-benar, karena ia tau kalau Reika juga sangat mencintai Ibuki sejak mereka
kecil. Hingga Kouki bertatap muka dengan Ibuki ketika mereka berdua ke Tokyo
untuk menemuinya. Bisa Kouki lihat mata yang hanya terfokus kepada Reika, mata
yang hanya terpancar sosoknya. Dan Kouki sedikit iri dengan Reika karena
mendapatkan seseorang seperti Ibuki.
Setiap Reika
tak ada dulu Kouki yang akan menemani Ibuki. Reika sangat mempercayakan Ibuki
kepadanya. Begitu juga Kouki yang telah mendapat kepercayaan Reika untuk
menjaga Ibuki.
Hingga malam
itu, Kouki mendapatkan kabar yang membuatnya tak bisa percaya. Seakan itu semua
hanyalah kekonyolan yang Reika buat seperti biasanya. Tapi sepertinya ia harus
menerimanya, karena yang paling pahit bahwa apa yang didengarnya adalah
kenyataan, semuanya nyata.
Reika
meninggal karena kecelakaan beruntun tepat di malam ulang tahun Ibuki.
Segera setelah
mendapat kabar dari rumah sakit yang membawa tubuh kaku Reika, Kouki segera
pergi ke tempat Ibuki dengan mobilnya. Karena seperti yang dikatakan oleh rumah
sakit bahwa hanya Kouki yang baru diberi tahu. Oleh karena itu Kouki dengan
perasaan dan bibir yang berusaha ia susun segera pergi ke Ibuki yang tengah
menunggu Reika di taman bermain.
3 hari sebelumnya
Ibuki memang sudah diberi tahu oleh Reika agar menunggunya di taman bermain itu. Ia ingin merayakan tanggal lahir
Ibuki dan memberikannya kejutan. Tapi sepertinya sudah lewat 2 jam ia berada di
taman itu sendirian. Reika tak kunjung datang dan Ibuki semakin kedinginan. Sebenarnya
ia sangat ingin menghubungi Reika, tapi pemuda itu sudah memberikan ‘tantangan’
agar tak menghubunginya sama sekali selama 3 hari. Awalnya Ibuki menerima
dengan senang hati tantangan itu, tapi tidak untuk malam itu. Perasaan Ibuki
sudah tidak enak sejak pagi hari. Ia sudah berkali-kali mengetik e-mail dan
ingin mengirimnya kepada Reika, tapi niat itu selalu terhalang oleh tantangan
yang mereka berdua sepakati.
Ibuki masih
duduk di ayunan ketika ia melihat sebuah sorot lampu mobil yang semakin
mendekat. Itu pasti Reika, pikirnya dengan senang. Namun setelah mobil itu
berhenti dan menampakkan seseorang yang turun Ibuki menjadi kecewa dan semakin khawatir.
Kouki berjalan
dengan kaku menuju Ibuki yang telah memasang tampang tak mengerti. Ia hampir
meneteskan air mata ketika ia melihat Ibuki dari jarak dekat. Sekarang jarak
mereka hanya 1 meter. Dengan bibir yang bergetar ia menceritakan semuanya kepada
Ibuki dari awal. Reika yang sudah menyiapkan kado sebuah gitar akustik, Reika
yang sudah menyiapkan sekotak cake strawberry yang penuh dengan strawberry di
atasnya, Reika sudah menyiapkan sebuah sebuah lagu yang akan ia bawakan di
depan Ibuki, dan Reika yang sudah menyiapkan sebuah cincin untuk melamar Ibuki
malam itu juga. Tapi semuanya hancur, rencana itu hanyalah tinggal rencana
belaka. Reika sudah terlebih dulu di panggil oleh Tuhan dalam perjalanannya
menuju ke tempat Ibuki.
Malam itu
Kouki masih mengingat benar ekspresi apa yang Ibuki keluarkan. Ia hanya tertawa
namun tawa itu lama-lama di sertai air mata yang mengalir dengan deras. Tawa
Ibuki tak berhenti malah terdengar sangat menyedihkan dan memilukan. Ibuki
terduduk di depan Kouki yang tak bisa menahan air matanya juga. Malam itu
mereka harus kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup. Seorang
sahabat yang tak akan tergantikan serta seorang kekasih yang tak akan pernah
tergantikan.
.
.
.
.
Ibuki menangis
dalam diam. Semuanya baru seperti kemarin, padahal kejadian itu sudah 3 tahun
yang lalu. Tapi nyatanya selama 3 tahun ini ia tak bisa berbohong kalau ia
masih belum bisa melupakan semua yang berkaitan dengan Reika. Meskipun ada
sosok Kouki yang akhirnya menjadi tempatnya bersandar sekarang. Dulu ia mengira
bahwa Kouki hanyalah pelarian, namun ia salah. Semua yang Kouki lakukan
untuknya sangat berarti untuknya. Perhatian dan pengertian Kouki kepadanya
telah memberikan semangat hidup yang baru untuk Ibuki. Dan yang paling tidak
bisa Ibuki lupakan adalah perkataan Kouki kala itu,
“Aku tau Reika tak akan pernah tergantikan
oleh siapa pun. Tapi aku hanya ingin kau memberiku ruangan agar aku bisa
mengisa hati yang telah Reika tinggalkan untukmu.”
Itu yang
membuat Ibuki membuka hatinya kembali kepada Kouki, seorang sahabat Reika yang
kini menjadi kekasihnya, penyelamatnya.
Sebuah e-mail membawa Ibuki kembali ke dunianya.
E-mail itu dari Kouki,
From : Kouki
Subjek : Oi
Kau tak perlu ke tempatku malam ini. Aku
tahu dimana kau sekarang dan apa yang kau lakukan. Besok pagi aku akan
menjemputmu pagi-pagi sekali dan kita akan merayakan ulang tahunmu ‘bersama’.
Jadi jangan pulang larut malam.
Ibuki hanya
tersenyum melihat isi e-mail itu.
Kemudian ia pun berdiri dari atas ayunan dan berjalan mencari taksi untuk
membawanya pulang.
*****
Kouki sudah
bersiap.
16 Januari
pkl. 05.05
Dilihatnya
kembali album kenangan yang berisikan fotonya dengan sahabatnya Reika. Semuanya
masih jelas, kejadian yang mereka berdua alami bersama. Sahabat yang dulunya
adalah teman pertama Kouki ketika menginjak bangku kuliah. Oleh karenanya Kouki
tak akan pernah bisa melupakannya begitu saja.
Jika ia tak
bisa melupakannya lantas bagaimana dengan Ibuki yang sudah mengenal Reika sejak
kecil dan pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih ?
Meskipun
rasanya sakit tapi Kouki tau dimana posisinya sejak awal. Ia hanya orang luar
di dalam kisah mereka berdua. Bahkan sebenarnya ia juga tak pernah mencegah
Ibuki untuk menyinggung Reika. Tapi sepertinya Ibuki tau, jika ia melakukan itu
maka ia hanya akan menyakiti Kouki. Maka dari itu Kouki sangat tak ingin
menyakiti Ibuki sedikit pun, karena pada awalnya Ibuki hanyalah kekasih
sahabatnya yang harusnya ia jaga.
Dengan pelan
ia menutup album foto itu dan mengembalikan ke tempatnya. Setelah mengambil
mantel tebal abu-abu tuanya Kouki mengambil kunci mobil dan sekotak cake strawberry yang kini bertuliskan “Tanjoubi Omedetou Ibuki” dari dalam
lemari pendingin. Ia bergegas turun dari lantai 8 apatonya dan menuju basement tempat mobilnya terparkir.
.
.
.
Ibuki masih
diam di atas tempat tidurnya. Ia hanya tinggal mengambil mantelnya dan
berangkat. Tapi sepertinya mimpi semalam masih membuatnya malas untuk beranjak.
Di dalam mimpinya
ia melihat Reika kecil yang mengajaknya bermain ayunan seperti dulu namun yang
berbeda ada seorang anak kecil lagi yang mengajaknya bermain. Ia tak
mengenalnya tapi ia yakin wajah anak kecil itu sangat mirip dengan seseorang. Reika
kecil pun hanya tersenyum dan memberikan tempat di ayunan itu untuknya.
Kemudian ia pergi dengan membawa kotak kecil yang Ibuki tak tahu isinya apa. Hingga
Ibuki terbangun dengan air mata yang menetes tanpa ia sadari.
Ibuki kemudian
beranjak dari ranjangnya dan mengambil mantel yang menggantung. Ia tak mau
membuat Kouki harus naik ke lantai 10. Setelah mengunci pintu dan turun dengan
lift, Ibuki berdiri diam di pinggir jalan di depan apatonya.
“Hooamm.” Ia
menguap, rupanya ia masih mengantuk karena semalam ia tidur jam 1 karena keitainya tak berhenti berdering akibat e-mail ucapan selamat ulang tahun dari
teman-temannya.
Tak
membutuhkan waktu yang lama, mobil hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat
di depannya. Kaca hitam mobil itu pun terbuka, menampakkan Ibuki yang tersenyum
ke arah Ibuki.
“Ohayou, kau
siap kan ?” ucap Kouki dengan suara serta senyum khasnya.
Ibuki hanya
mengangguk dan tersenyum. Kouki pun membuka pintu mobilnya dan membiarkan Ibuki
masuk dan duduk tepat di sebelahnya. Dan Kouki pun mengemudikan mobilnya
menjauhi keramaian kota Tokyo.
“Kita akan
kemana ?” tanya Ibuki di tengah perjalanan setelah cukup lama mereka terdiam.
Kouki
tersenyum dan pandangannya masih terfokus pada jalanan yang mereka lalui.
“Kau akan tau,
bukankah kemarin sore aku sudah bilang bahwa kita akan merayakan ulang tahunmu
‘bersama’ hmm ?”
Ibuki hanya
mendengus pelan, dan menyenderkan kepalanya ke jok mobilnya. Dengan sesekali
melihat pemandangan di pinggir jalan. Ini—sangat familiar, jalan yang mereka
lalui. Segera Ibuki menoleh ke Kouki dan Kouki hanya tersenyum penuh arti.
.
.
.
Setelah
perjalanan yang cukup lama, hampir 3 jam tanpa berhenti mereka sampai di tempat
yang dituju. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk orang-orang sibuk. Ibuki
keluar dari mobil lebih dulu. Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka pintu
mobil. Tempat ini masih tak berubah. Sebuah bukit yang merupakan area
pemakaman. Dari atas sana bisa dilihat pemandangan kota Aoimori, tempat
kelahiran Reika.
Ibuki mendongak
ke atas, makam Reika masih di atas. Ia hanya bisa terdiam dan menggigit bibir
bawahnya sendiri. Kouki yang berada di belakang Ibuki sambil membawa sekotak cake strawberry dan sebuket bunga lily
putih hanya bisa melihat Ibuki terdiam sebelum akhirnya ia menepuk pelan bahu
Ibuki dan mengajaknya berjalan ke atas.
“Kau
merindukannya bukan ? Aku juga. Oleh karena itu kita kesini.” Kouki berkata
tanpa menoleh ke arah Ibuki yang kini masih berada di belakangnya.
“Saa ku rasa Reika sudah menunggu kita di
atas.” Dengan langkah yang semakin berat Kouki mengajak Ibuki berjalan,
meskipun ia tahu sekarang Ibuki tengah menahan air matanya.
Selangkah demi
selangkah Ibuki berjalan di belakang Kouki, ini deretan terakhir sebelum
deretan makam Reika. Ibuki masih mengingat persis karena ia sering kesini
sendirian dulu tanpa sepengetahuan Kouki.
Kouki masih
tak mengatakan apa pun ketika mereka sudah sampai di depan makam Reika. Ibuki
masih menunduk dan menyembunyikan raut mukanya. Kouki berbalik dan melihat
Ibuki.
“Perlihatkan
wajahmu baka, atau Reika akan sedih
melihatmu seperti itu.”
Ibuki masih
terdiam, namun perlahan ia mengangkat wajahnya dan mendapati Kouki yang sudah
meneteskan air mata.
“Ada rasa
bersalah ketika aku yang harusnya menjagamu malah jatuh cinta denganmu. Seakan
aku mengkhianati kepercayaan sahabatku.” Kouki berjongkok ke depan makam dengan
nisan hitam bertuliskan “Yamazaki Reika” itu. Ia meletakkan sebuket bunga lily
putih ke depan makam Reika sambil terus berkata.
“Dulu ia
pernah berkata padaku, jika terjadi apa-apa dengannya ia ingin aku menjagamu
dan menggantikan perannya. Aku tak pernah menanggapi serius omongannya itu,
tapi sekarang aku tahu ini adalah maksudnya. Tapi aku tak tahu apa jalan yang
aku ambil ini benar atau tidak.”
Ibuki masih
berdiri tapi kini setetes air mata jatuh. “Baka
! tentu saja ini adalah jalan yang benar. Aku percaya Reika menginginkan
ini jika seandainya ia tak ada....seperti sekarang.” Tetes demi tetes air mata
turun perlahan dari pipinya.
“Dan aku, aku
sangat merindukannya.” Ibuki jatuh terduduk dan menangis. Kouki segera meraih
Ibuki dan memeluknya sambil mengelus kepalanya. Membiarkan Ibuki menangis
seperti sekarang.
“Ne kalau begitu kita harus mendoakannya
terus kan ?” Kouki mengangkat wajah Ibuki dengan tangan kanannya. Dan Ibuki
hanya mengangguk dengan air mata yang masih mengalir tapi tak sederas tadi.
Ibuki menatap
nisan Reika. Kouki membuka kotak cake strawberry dan menyalakan lilin-lilin
kecil berwarna warni di atasnya.
“Tanjoubi
omedetou Ibuki.” Kouki membawa kue itu ke depan Ibuki.
“Arigatou
Kou.” Balasnya dengan senyuman.
“Buat
permintaan dan tiup sebelum ada angin yang meniupnya lebih dulu.”
Ibuki
menelungkupkan kedua tangannya dan menutup kedua matanya.
“Aku hanya ingin ini semua tak berakhir
begitu cepat.” Ucapnya dala hati. Kemudian Ibuki membuka kedua matanya dan
meniup lilin-lilin itu.
Setelah itu
angin berhembus dan kedua mata mereka melihat sebuah bunga liar berwarna kuning
yang tumbuh tepat di samping makam Reika. Bukankah tadi bunga itu tidak ada,
pikir mereka berdua. Tapi sepertinya itu adalah hadiah Reika untuk ulang tahun
Ibuki dan hubungannya dengan Kouki sahabatnya.
Mereka berdua
berjongkok kembali. Kouki kemudian menyalakan beberapa dupa yang ia bawa di
saku mantelnya dan menaruhnya di depan makam Reika, Ibuki juga melakukan hal
yang sama. Mereka berdoa dan memejamkan mata. Mendoakan agar Reika selalu
bahagia di sana.
Setelah dirasa
cukup mereka berdua meninggalkan tempat itu dan meninggalkan cake strawberrynya disana. Rasanya
begitu lepas. Kerinduan yang selalu menghinggapi mereka berdua terutama Ibuki
seakan terobati sedikit demi sedikit. Sampai kapan pun Reika tak akan pernah
terganti, Kouki memang kekasihnya sekarang. Tapi tempat untuk Reika selalu ada
dan tak bisa di huni oleh orang lain.
.
.
.
.
Malam itu
setelah mereka bersama-sama merayakan ulang tahun Ibuki di tempat Ken, Ibuki
kembali ke apatonya dengan diantar oleh Kouki.
“Oyasumi dan sekali lagi tanjoubi omedetou.” Kouki mengecup bibir
Ibuki pelan dan pamit pergi.
Ibuki
mengangguk dan menutup pintu apatonya. Tangan kanannya masih meraba kalung
dengan dua cincin yang menjadi liontinnya pemberian Kouki sebagai hadiah ulang
tahunnya. Kouki selalu mempunyai cara untuk membuatnya bahagia, dan itu yang
membuat Ibuki berjanji tidak akan menyakitinya.
Setelah
melepaskan mantelnya dan menaruh tasnya di tempat biasanya ia berjalan ke
tempat tidurnya. Namun betapa terkejut dia, sebuah foto dirinya bersama Reika
sewaktu kecil berada di atas tempat tidurnya. Seingatnya ia tak pernah memiliki
foto ini. Kemudian ia tersadar, Reika memberikan foto itu untuknya dan seakan
mengatakan bahwa Ibuki juga tak pernah terganti. Ibuki kembali meneteskan air
mata dan bibirnya mengucapkan “Arigatou” tanpa suara.
**OWARI**