Rabu, 29 Mei 2013

[Lyric] TRAUMA - Song Riders (Romaji + English)

ROMAJI

You don't know
Kono itami
`Douse sono-nai ni wasureteshimau mo no' to shite
Who bother me?
Kanarazu jama o shite
Shikō kairo ga shut down
Mō te ni tsukanai
Understand?

Trauma
Everything you get
Stop that
So, why do you want more?
You're my greatest enemy
Inside myself, we fight
Kantan ni omaeha kesenai
Mata dokoka kara jitto
Kotchi o ukagatteru ndarou
Kamawanai
Tsugini au toki
It's the last time

Itami dashita ano hi no kizuguchi ga
Fusagarazu ni zutto kese wa shinakute
Kikazatte nige mawaru Every day
Ori yamanu Rainy day
Douse kuchiru made
Kono kesenai kioku to ikiru dake
Retsutōkan mo ikiru katenara
Agaite mogaite kō tte Go my way
Nageitatte kotae wa dase nakute
Kesshite owaranu itami

Trauma
Everything you get
Nando furiharatte mo
Yomigaeru kono itami
Inside myself, we fight
Kantan ni omaeha kesenai
Mata dokoka kara jitto
Kotchi o ukagatteru ndarou
Kamawanai
Tsugini au toki
It's the last time

Every time I think when I lost Why didn' t I use up energy
Mou ichido Let me try again
`Tsugi koso omoidōri ni'
Amaete ita wake janai
Akirameta wakede mo nai
Kono shigunaru
Omoi yo So Fly Higher.

Can feel it
Nigedashitai
Kurakute
Mune ga sake-sōda
Nugue kirenai Trauma
But I realized
Itsuka fusshoku shiyou to
Mune ni himeta omoi ga
Chikara ni kawatte iku
Understand?

Trauma
Everything you get
Stop that
So, why do you want more?
You're my greatest enemy
Inside myself, we fight
Kantan ni omaeha kesenai
Mata dokoka kara jitto
Kotchi o ukagatteru ndarou
Kamawanai
Tsugini au toki
It's the last time

Trauma
Everything you get
Nando furiharatte mo
Yomigaeru kono itami
Inside myself, we fight
Kantan ni omaeha kesenai
Mata dokoka kara jitto
Kotchi o ukagatteru ndarou
Kamawanai
Tsugini au toki
It's the last time 


ENGLISH

You don't understand
This pain
"Anyway, one of these days you're going to end up forgetting" You say that
Who are you trying to worry?
You definitely get in my way
And stop my train of thoughts
And I can't focus anymore
Understand?

Trauma
You take everything away
Stop
What else do you want from me?
You're my strongest enemy
You and I are fighting inside of me
And again, someone is motionlessly
Peeping from somewhere I'm sure
I don't care
The next time we meet,
It'll be the end

The wounds from that day that emitted pain
Unable to prevent them, they're here, not gotten rid of
I hide as to conceal them and run from place to place Every day
A Rainy day, where the rain doesn't stop

At any rate until I rot away
I'll just live with these unerasable memories
Be it provisions that live through an inferiority complex
I'll struggle and squirm and, Go my way
I sighed but my colors won't fade


source lyric : http://www.languagebymusic.com
http://www.liriklagu.asia/


Ok, saya mulai menyukai Song Riders sejak mereka mengisi Soundtrack Anime Devil Survivor 2 dengan lagu BE
Musik, vocal, pelafatan English mereka sangat tidak terlihat kalau mereka orang Jepang, dan inilah saya sangat menyukai TRAUMA
karena ini sedang malas untuk mentranslate ya sudah englishnya saja, lebih terasa(?)

Minggu, 26 Mei 2013

[Fanfic] WHITE LILY (the GazettE)


WHITE LILY
Genre                         : Angst, Friendship

Language                   : Indonesian

Author                        : Lycoris

Rate                            : T

Fandom                      : the GazettE

Character                   : Reita (main chara), Uruha, Kai, Aoi, OC 

Warning                     : OOC, typo(s), berantakan.

“Heeee ? Ada bunga itu lagi.” Telingaku secara tak sengaja mendengar seorang siswi yang bisa ditebak dia masih SMA dilihat dari seragamnya berbicara dengan temannya.

“Um, hampir setiap 1 minggu sekali selalu saja ada sebuket bunga lily putih itu di sini.” Ku dengar pula temannya tadi mengomentari.

Aku masih belum beranjak dari tempatku duduk di sebuah halte bus tak jauh dari mereka. Bisa kulihat kedua siswi itu yang masih bertanya-tanya sebenarnya siapa yang sengaja meletakkan sebuket bunga lily itu di tepi jalan raya. Aku tak pernah heran ketika hampir semua orang yang berjalan di sepanjang trotoar itu melihat bunga lily putih dan bereaksi sama seperti kedua siswi SMA itu. Yaa, bisa ditebak siapa yang memang sengaja meletakkan sebuket bunga lily putih itu, aku. Benar, aku. Seorang pemuda berumur 32 tahun yang dengan rutin setiap 1 minggu sekali selalu meletakkan sebuket bunga lily di trotoar, tempat yang sama, hari yang sama, dan jam yang sama. Ada alasan kenapa aku sengaja melakukannya. Alasan yang sama semenjak 2 bulan terakhir ini. Meskipun sebenarnya alasan itu sudah tersimpan selama 2 tahun. Baru 2 bulan belakangan ini aku sengaja meletakkannya, bunga lily putih yang berarti persahabatan, persahabatan yang tak pernah luntur. Bahkan ketika kematian sekalipun.

“Sahabat, 2 tahun yang lalu....” gumamku dalam hati.

Haaah...” Kuhembuskan nafasku pelan. Ku rapatkan jaket bulu abu-abuku ketika sebuah bis sudah berhenti di depanku. Dengan langkah yang kupaksakan aku beranjak dari tempat itu, kupandang sejenak buket bunga lily putih itu,  dan beberapa detik berikutnya aku telah berada di dalam bis. Kuambil tempat duduk paling belakang yang dekat dengan jendela. Tak terlalu banyak penumpang di dalam bis karena hari ini adalah hari kamis dan masih jam kerja. 

Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kananku. “Sudah jam 11 siang, sepertinya manager akan memarahiku lagi,” gumamku pelan sambil menyenderkan kepala di kursi yang berwarna hitam, pandanganku kualihkan ke luar jendela. Menikmati pemandangan Perfektur Kanagawa yang membutuhkan sekitar 1 setengah jam untuk tiba di Tokyo. Sebenarnya kota ini adalah kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, namun karena pekerjaanku sebagai musisi mengharuskanku untuk pindah ke Tokyo. Asal diketahui saja, hampir 2 tahun aku membenci kota ini karena kejadian buruk di masa lalu.

Sudahlah, itu sudah berlalu. Cukup 2 tahun aku mengalami masa suram itu. Meskipun aku sangat ingin melupakannya, tetapi otakku selalu memutar memori kelam itu. Sekuat apapun keinginanku untuk melupakannya, tetapi sekuat itu pula ia mencengkeram ingatannku untuk terus mengingatnya.
Ah biarlah, aku sudah lelah berusaha untuk melupakannya, biarkan saja ia mengalir bersama dengan waktu. Kemudian, kupejamkan mataku perlahan, berusaha untuk tidur meskipun sebentar saja.

Drrrttt drrrtt

iPhone putihku bergetar, segera mataku terbuka dan tangan kananku mencarinya di saku jaket. Sebuah e-mail dari gitarisku, Uruha. 

“Kau dimana ? masih di Kanagawa ? aku harap kau cepat, Masashi-san hampir marah karena keterlambatanmu latihan.” 

Sudah kuduga isi e-mail dari temanku sejak SMP itu seperti itu. Dengan tenang aku membalasnya.
“Tunggu aku beberapa saat lagi, sekitar 15 menit aku akan sampai di studio.”

Setelah kutekan tombol send kuletakkan iPhone putihku di saku jaket lagi. Kembali kupandangi jendela bis yang kini sudah memasuki Tokyo.

********

“Kau terlambat lagi Suzuki Akira !” sebuah suara berat dan terdengar jengkel langsung menyambutku begitu aku memasuki studio. Aku yang langsung menyadari suara siapa itu langsung membungkukkan badan atas keterlambatanku.

“Ah maaf Masashi-san, tadi bis yang ku tunggu tidak sesuai jadwal. Jadi aku harus menunggu lebih lama di halte,” ucapku jujur dengan badan setengah membungkuk dan kepala tertunduk.

Masashi Yuma, manager bandku memang tak pernah menyukai keterlambatan. Aku sudah 3 kali terlambat datang ke studio sejak saat pertama aku memulai ‘aktifitas’ rutin setiap minggu di Kanagawa.

“Haaah, baiklah, aku tahu. Memang tak mudah untuk selalu tepat waktu bila kau harus ke Kanagawa kemudian kembali ke Tokyo hanya dalam waktu 5 jam.” Kulihat raut wajahnya berubah, dari yang tadi jelas sekali marah kini menjadi sendu.

Aku hanya bisa terdiam di tempat. “Aku tahu apa yang kau rasakan, meskipun perasaan kehilangan ini tak sedalam dengan apa yang kau rasakan tapi kau tahu kan band ini harus terus berjalan meskipun tanpa dia sekalipun.” Ia bicara pelan dengan nada lemah. Pria berumur 40 tahun itu menghampiriku yang masih diam di depan pintu. 

“2 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk membangun kembali the GazettE setelah kepergiannya, tapi aku tahu kalian bisa dengan kehadiran Kano.” Kurasakan tangannya menepuk bahu kanannku dan ia pun mulai berjalan menghampiri pintu.

“Hai Masashi-san.” Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibirku. Ia pun meninggalkan studio. Sedangakn aku segera memasuki ruang latihan. Begitu pintu kubuka sebuah suara menyambutku. “Ah Konnichiwa Reita-san.” Kano, vokalis baru kami menyambutku dengan senyum khasnya. “Konnichiwa Kano, minna..” dan ku dengar Kai, Uruha, dan Aoi membalasnya “Konnichiwa Rei.”

Kano, vokalis baru kami. Perawakannya tak berbeda dengannya hanya terlihat sedikit lebih tinggi, dia terbilang masih muda karena masih berusia 26 tahun, berbeda dengan kami yang sudah memasuki kepala 3, dan suaranya juga hampir sama dengannya meskipun tentu saja dia tak tergantikan sampai kapan pun.

“Ayoo Rei, sampai kapan kau diam di situ ?! Kau sudah terlambat hampir satu jam.” Kai, leader kami membuyarkan lamunanku tentang Kano dan dia dari balik drumsetnya. 

Gomen, gomen.” Kulihat dengan sudut mataku Uruha dan Aoi memandangku sendu, sama seperti Masashi-san tadi. Segera aku berjalan ke tempat bass ESP RF-00 ku dan kami pun mulai latihan.

*******

Otsukare~ “ 

Latihan selama hampir 8 jam itu pun selesai, aku keluar dari studio. Hari sudah malam, hawa dingin langsung menusuk tulang begitu aku keluar dari gedung PS Company.

“Yo Reita ! “ sebuah suara mengagetkanku. Reflek aku menoleh ke belakang dan kudapati Kai, Uruha, dan Aoi berjalan ke arahku.

“Ah, rupanya kalian.” Aku berhenti sambil menunggu mereka berjalan sejajar denganku.
Kami pun berjalan bersama karena memang kami tinggal di apartemen yang sama. Memang beginilah rutinitas kami setiap hari ketika sehabis latihan, dari dulu sampai sekarang. 

Iya...dulu.

Udara dingin Tokyo menjadikan kami harus merapatkan jaket masing-masing. Lalu entah dimulai dari siapa kami semua berjalan dalam diam.

“Jadi....bagaimana Kanagawa ? “ pertanyaan tiba-tiba sekaligus membuat jantungku seakan berhenti sesaat dilontarkan Uruha.

Aku berhenti berjalan. Mereka bertiga yang kini 2 langkah di depanku ikut berhenti dan menoleh ke arahku. “Sama seperti terakhir kali aku kesana, tak ada yang berubah.” Kucoba berbicara se-normal mungkin yang jelas saja bertentangan dengan hatiku.

Gomen Rei, aku menanyakan hal itu kepadamu.” Kudengar nada penyesalan dari Uruha. 

“Sudahlah, sekarang aku sudah mulai bisa sedikit melangkah. Sebenarnya, bukan aku saja yang harus melangkah, tetapi kita semua.” Kulihat mereka tersenyum simpul meskipun aku bisa melihat di mata mereka terbersit kerinduan dan perasaan yang sama denganku.
Kami pun mulai berjalan kembali, seakan melupakan percakapan yang barusan terjadi.  

“.....besok adalah 2 tahun kematian Ruki.” Aku mulai berani menyebut namanya. Nama yang sebenarnya tak ingin kusebut. Mereka yang sebenarnya tahu bahwa aku paling tak bisa menyebutkan nama itu spontan kaget dan menoleh ke arahku. 

“Seperti yang aku bilang tadi, kita harus bisa melangkah kembali. Meskipun sebenarnya ini sangat berat tanpa sosoknya.” Nada bicaraku melemah dan pandanganku menjadi kosong.

“.....”

“Kalau begitu kita harus ke Kanagawa besok, mengunjungi sahabat kita.” Kai berbicara dan memberikan senyum hangat hingga memperlihatkan dimplenya. “Nee...” seakan ia memberi kami asupan kekuatan untuk bisa tersenyum, dan kami pun membalas senyumannya sebagai tanda bahwa kami menyutujuinya.

******

Mobil yang kami tumpangi hampir sampai di tempat itu. Makam Ruki. Kai yang menyetir, di sampingnya terdapat Aoi yang menopang dagu sembari melihat ke jendela. Aku berada di jok belakang bersama dengan Uruha. Sebenarnya kami juga mengajak Kano, tapi karena dia harus menjalani cek kesehatan, dia tidak bisa ikut dengan kami. Kutatap sebuket bunga lily putih di sampingku. Bunga yang selalu sama dengan yang kubawa untuk Ruki. Kulihat Uruha melirikku, kemudian kurasakan tangannya mengelus pundakku. Aku hanya bisa tersenyum dengan sedikit keterpaksaan.

Sekitar 5 menit kami pun sampai di pemakaman, tempat yang hampir 2 tahun tak ingin aku datangi. Karena ketika aku harus mendatanginya, aku hanya akan semakin sesak. Namun 2 bulan yang lalu aku mulai memberanikan diri pergi ke tempat ini sendirian. Dan hari itu--hari yang paling tak kuinginkan--aku mulai meletakkan sebuket bunga lily putih di pinggir jalan.

Kai menghentikan mobil hitamnya, Aoi keluar terlebih dulu, kemudian disusul oleh  Kai, Uruha dan aku yang paling terakhir. Kutarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Mataku melihat sekeliling makam yang berderet rapi yang berada di atas bukit sambil tanganku menggenggam sebuket bunga lily yang aku bawa dari Tokyo tadi. 

“Ayo Rei !” Seru Aoi mengajakku berjalan menuju batu nisan Ruki. Aku mengangguk pelan. Kami kembali berjalan dalam diam, jantungku seakan berdetak lebih cepat dari biasanya. Bisa kurasakan kedua mata hazelku memanas. Kumohon jangan keluar, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri agar tak meneteskan air mata. Aku terus menundukkan kepala. Entahlah, rasanya berat ketika aku harus melihat ke depan, apalagi jika harus melihat batu nisan hitam bertuliskan Matsumoto Takanori untuk yang ketiga kalinya. Uruha yang berjalan tepat di sampingku kurasa bisa mengerti keadaanku. Kurasakan kembali tangannya memegang bahuku, seakan ingin aku membagi beban ini dengannya. Aku menoleh pelan, dan senyum Uruha seakan berkata “kita ada disini untukmu Reita”.

Kai yang tadinya berjalan di depan bersama Aoi kini telah menghentikan langkahnya. Sudah pasti kami telah sampai di depan makam Ruki. Kudongakkan kepalaku, kami terdiam, mataku berusaha untuk melihat batu nisan hitam yang bertuliskan Matsumoto Takanori dengan huruf Kanji itu. Selama beberapa saat hanya kesunyian yang kami ciptakan, perasaan itu kembali menyeruak, kerinduan akan kehilangan seorang sahabat. Mataku telah memanas, tapi aku masih tak bisa meneteskan bulir asin ini. Yang kurasakan masih kosong. Kuletakkan sebuket bunga lily putih itu di depan makamnya, kami pun berjongkok dan merapatkan kedua tangan. Memejamkan mata perlahan dan mulai berdoa untuk Ruki. Seketika itu ingatanku kembali ke 2 tahun yang lalu.


Flashback

Aku tersadar ketika mobil yang kami berlima tumpangi sudah menabrak trotoar. Bisa kulihat meskipun dengan pandangan yang kabur bahwa seseorang yang berada di sampingku berlumuran darah dan terluka parah. “Ruuuki....” kataku pelan dan berat. Beberapa saat kemudian semuanya menjadi hitam.

Ketika kedua mataku mulai bisa kubuka, aku tersadar bahwa aku sekarang sudah berada di dalam sebuah kamar yang sudah jelas adalah kamar rumah sakit. Bisa kulihat Aoi, Uruha, dan Kai dengan perban di kepala dan tangan mereka duduk tak jauh dari ranjangku. Aku pun terbangun, mereka menghampiriku dengan raut wajah yang terlihat sendu dan muram. 

“Ap-apa yang terjadi ? Di mana Ruki ? Dia tak apa-apa kan?” ku coba mencari tahu jawaban dari raut wajah mereka, tapi mereka hanya diam dan sebuah sebuah tetes air mata mulai jatuh dari kelopak mata mereka bertiga.

“Ru-Ruki sudah tidak ada Rei, dia...sudah tenang di alam sana.” Aoi menjawabku dengan nada lemah dan parau. 

Deg.
 
Jantungku berhenti untuk beberapa saat. Kepalaku terasa berat, badanku tak bisa kugerakkan, seakan semuanya hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa, bahkan bernafas pun seakan aku tak bisa.

“Kalian pasti bergurau, dan aku tak suka dengan gurauan kalian ini !” Aku setengah berteriak dan langsung terduduk di ranjangku. Tapi ketika aku menatap ke mata mereka, di sana jelas tak terlihat mereka sedang bercanda. 

“RUKI !!” teriakku semakin menjadi dan kini tubuhku tak bisa ku kontrol, mereka bertiga mencoba menenangkanku dengan memegangi pergelangan tanganku. Kedua tanganku mencengkeram kepalaku, badanku benar-benar tak bisa ku kontrol, seakan semua suara tak bisa ku dengar, hanya teriakanku yang menggema.

“Rei, tenanglah! Bukan kau saja yang tak bisa menerima ini semua, tapi kami juga !!” Kai berkata tegas dengan air mata yang kini membanjiri pelupuknya. Aku pun terdiam selama beberapa saat dan mencoba menenangkan diri. Mereka bertiga lantas melepaskan tangan mereka.

“Ini semua salahku Rei, jika saja waktu itu aku berhati-hati pasti ini semua tidak akan pernah terjadi.” Kai menundukkan kepala, kulihat tangannya mengenggam erat, badannya bergetar. “Jika saja malam itu aku lebih memilih menginap di rumahmu, Ruki masih bisa disini bersama kita.” Yaaa Kai menangis, sebuah tangisan yang memilukan yang tak pernah aku lihat selama kami bersama.

 “.....”

Hanya hembusan angin, tirai putih yang setia menutup jendela dari penglihatan luar itu bergerak-gerak mengikuti angin yang berhembus pelan di ruangan ini. Kami masih terdiam atau lebih tepatnya kami menangis, menangisi kepergian vocalist sekaligus sahabat kami itu.

“Tak ada yang perlu disalahkan atas kejadian ini Kai.” Uruha berkata tiba-tiba, nada bicaranya pelan.

“Ini sudah takdir yang tak dapat kita rubah atau kita hindari. Kematian sudah menunggu kita dengan berbagai cara yang kita tidak tahu kapan dan bagaimana caranya.” Lanjutnya, Uruha pun memegang bahu kiri Kai sambil tersenyum pahit ke arahnya.

Masih dapat kulihat Kai menangis tapi sudah tak separah dulu. Dan aku ? aku hanya terdiam sambil meremas erat selimut putihku. Aku tak berani memandang mereka, kepalaku sangat berat untuk kuangkat.

“.....”

Sunyi kembali. Kemudian dengan berat aku mencoba berbicara. “Tolong, ceritakan semuanya, semuanya....tanpa ada satu pun yang terlewat.” Kucoba menahan sesak begitu mengucapkannya.
Ekspresi mereka tak terbaca, antara kaget dan mungkin berat. Tapi aku ingin mendengarkannya, semuanya. 

“Kau...kau Rei, kau tak sadarkan diri selama 2 hari,dan Ruki...” Aoi mengambil jeda, ia membuang nafasnya. “Ruki meninggal tak beberapa lama setelah kecelakaan itu akibat benturan keras di kepalanya.” Suara Aoi melemah, aku tahu dengan berat hati ia menceritakannya padaku.

Kembali dada ini sesak, tapi aku mencoba mengaturnya. Air mataku benar-benar tak bisa keluar sekarang, sudah mengering.

“Kami menunggumu siuman untuk upacara pemakaman Ruki, tapi tak ada tanda-tanda kau akan sadar, jadi diputuskan bahwa Ruki dimakamkan tanpamu Rei.” Lanjutnya.

“Maaf Reita, maafkan kami, maafkan kami.” Suara Aoi semakin parau, jelas air matanya kini pasti menetes dengan deras kembali. Ku dongkkan kepalaku dengan berat, kulihat wajah-wajah penuh kepedihan dari teman-teman yang telah lama bersamaku ini.

Masih kudengar Aoi menceritakan pemakaman Ruki pada keesokan harinya tanpaku yang jelas-jelas masih tak sadarkan diri. Semua yang Aoi ceritakan seakan-akan hanyalah mimpi buruk yang ingin segera kuakhiri. Tetapi mimpi buruk itu adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Sahabat terbaikku telah pergi untuk selamanya. 

Esok harinya kupaksakan pergi ke makam Ruki bersama dengan Aoi, Uruha, Kai, dan Masashi-san. Kakiku seakan tak bertulang, aku jatuh tertuduk di depan makamnya, air mataku tak bisa jatuh. Setelah kejadian itu, aku tak ingin kembali ke Kanagawa, apalagi ke makam dan jalan itu. Selama hampir 2 tahun aku depresi dan tak ingin melakukan apa-apa. the GazettE pun dinyatakan hiatus. Hingga 2 bulan yang lalu kuberanikan diri untuk kembali, ku tata hidupku sekali lagi yang sempat terpuruk secara perlahan dan tanganku mulai memainkan bass kembali. 

Flasback end


Ku buka kedua kelopak mataku, tak terasa bulir bening asin itu menetes tanpa henti. Air mata yang selalu berusaha tak pernah kukeluarkan ketika mengingatnya kini tertumpah semuanya. Seakan batu besar telah hancur, beban terberatku telah aku jatuhkan disini, di depan makam Ruki. Aoi, Kai, dan Uruha pun membiarkanku menangis.

“Kita akan baik-baik saja Rei, dan Ruki pasti akan baik-baik saja di sana. Jadi sekarang kita harus tetap berjalan menjalani takdir kita ini.” Uruha berkata lirih. Aku hanya bisa mengangguk pelan dengan air mata yang masih mengalir.

*****

Kami pun meninggalkan makam Ruki, aku sudah lebih tenang sekarang. Aku yang mulai bisa menerima kepergiannya menatap makamnya dari kejauhan. Kemudian ketika aku membalikkan badan untuk berjalan kembali ke mobil Kai, sebuah angin yang lembut tiba-tiba berhembus, menghembuskan bunga-bunga dandelion yang tumbuh liar di sekitar pemakaman itu. Seakan Ruki memberi tahu kami bahwa ia akan selalu mengawasi kami dan ia ingin kami baik-baik saja. Aku, Kai, Uruha, dan Aoi tersenyum simpul dan saling berpandangan. 

Jaa, sayonara Ruki” ucapku dalam hati dan melanjutkan langkah kami.

-------OWARI------

HAPPY 32th BIRTHDAY my lovely bassist REITA
Hanya ini yang bisa aku buatkan untukmu, meskipun sudah pasti kau tidak akan membacanya.
Oke, maafkan saya karena fanfic saya (kembali) mematikan salah satu personilnya, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur hehehe
dan sebenarnya ini fanfic, fanfic buat lomba sekitar 3 minggu yg lalu yang diselenggrakan JFest di kampus, tapi kemaren gak sepanjang ini, jadi dari kemarin saya panjangin supaya tidak terlalu memaksa (bukannya sekarang tetap memaksa ya)
ya udah itu saja yang penting saya sudah melaksanakan project fanfic one shot spesial untuk bias saya si Noseband REITA 
Thanks yg udah baca, meskipun kurang memuaskan(pasti) 
once again
お誕生日おめでとう  れいたさん !!!
 

About