WHITE
LILY
Genre :
Angst, Friendship
Language : Indonesian
Author : Lycoris
Rate :
T
Fandom :
the GazettE
Character :
Reita (main chara), Uruha, Kai, Aoi, OC
Warning : OOC, typo(s), berantakan.
“Heeee ? Ada bunga itu lagi.” Telingaku secara tak sengaja mendengar
seorang siswi yang bisa ditebak dia masih SMA dilihat dari seragamnya berbicara
dengan temannya.
“Um, hampir setiap 1 minggu sekali selalu saja ada sebuket bunga lily
putih itu di sini.” Ku dengar pula temannya tadi mengomentari.
Aku masih belum beranjak dari tempatku duduk
di sebuah halte bus tak jauh dari mereka. Bisa kulihat kedua siswi itu yang
masih bertanya-tanya sebenarnya siapa yang sengaja meletakkan sebuket bunga
lily itu di tepi jalan raya. Aku tak pernah heran ketika hampir semua orang
yang berjalan di sepanjang trotoar itu melihat bunga lily putih dan bereaksi
sama seperti kedua siswi SMA itu. Yaa, bisa ditebak siapa yang memang sengaja
meletakkan sebuket bunga lily putih itu, aku. Benar, aku. Seorang pemuda
berumur 32 tahun yang dengan rutin setiap 1 minggu sekali selalu meletakkan
sebuket bunga lily di trotoar, tempat yang sama, hari yang sama, dan jam yang
sama. Ada alasan kenapa aku sengaja melakukannya. Alasan yang sama semenjak 2
bulan terakhir ini. Meskipun sebenarnya alasan itu sudah tersimpan selama 2
tahun. Baru 2 bulan belakangan ini aku sengaja meletakkannya, bunga lily putih
yang berarti persahabatan, persahabatan yang tak pernah luntur. Bahkan ketika
kematian sekalipun.
“Sahabat, 2 tahun yang lalu....” gumamku
dalam hati.
“Haaah...” Kuhembuskan nafasku pelan. Ku
rapatkan jaket bulu abu-abuku ketika sebuah bis sudah berhenti di depanku.
Dengan langkah yang kupaksakan aku beranjak dari tempat itu, kupandang sejenak
buket bunga lily putih itu, dan beberapa
detik berikutnya aku telah berada di dalam bis. Kuambil tempat duduk paling
belakang yang dekat dengan jendela. Tak terlalu banyak penumpang di dalam bis
karena hari ini adalah hari kamis dan masih jam kerja.
Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kananku. “Sudah jam 11
siang, sepertinya manager akan memarahiku lagi,” gumamku pelan sambil
menyenderkan kepala di kursi yang berwarna hitam, pandanganku kualihkan ke luar
jendela. Menikmati pemandangan Perfektur Kanagawa yang membutuhkan sekitar 1
setengah jam untuk tiba di Tokyo. Sebenarnya kota ini adalah kota dimana aku
dilahirkan dan dibesarkan, namun karena pekerjaanku sebagai musisi
mengharuskanku untuk pindah ke Tokyo. Asal diketahui saja, hampir 2 tahun aku
membenci kota ini karena kejadian buruk di masa lalu.
Sudahlah, itu sudah berlalu. Cukup 2 tahun aku mengalami masa suram itu.
Meskipun aku sangat ingin melupakannya, tetapi otakku selalu memutar memori
kelam itu. Sekuat apapun keinginanku untuk melupakannya, tetapi sekuat itu pula
ia mencengkeram ingatannku untuk terus mengingatnya.
Ah biarlah, aku sudah lelah berusaha untuk melupakannya, biarkan saja ia
mengalir bersama dengan waktu. Kemudian, kupejamkan mataku perlahan, berusaha
untuk tidur meskipun sebentar saja.
Drrrttt drrrtt
iPhone putihku bergetar, segera mataku terbuka dan tangan kananku
mencarinya di saku jaket. Sebuah e-mail dari gitarisku, Uruha.
“Kau dimana ? masih di
Kanagawa ? aku harap kau cepat, Masashi-san hampir marah karena keterlambatanmu
latihan.”
Sudah kuduga isi e-mail dari temanku sejak SMP itu seperti itu. Dengan
tenang aku membalasnya.
“Tunggu aku beberapa saat
lagi, sekitar 15 menit aku akan sampai di studio.”
Setelah kutekan tombol send kuletakkan
iPhone putihku di saku jaket lagi. Kembali kupandangi jendela bis yang kini
sudah memasuki Tokyo.
********
“Kau terlambat lagi Suzuki Akira !” sebuah suara berat dan terdengar
jengkel langsung menyambutku begitu aku memasuki studio. Aku yang langsung
menyadari suara siapa itu langsung membungkukkan badan atas keterlambatanku.
“Ah maaf Masashi-san, tadi bis yang ku tunggu tidak sesuai jadwal. Jadi
aku harus menunggu lebih lama di halte,” ucapku jujur dengan badan setengah
membungkuk dan kepala tertunduk.
Masashi Yuma, manager bandku
memang tak pernah menyukai keterlambatan. Aku sudah 3 kali terlambat datang ke
studio sejak saat pertama aku memulai ‘aktifitas’ rutin setiap minggu di
Kanagawa.
“Haaah, baiklah, aku tahu. Memang tak mudah untuk selalu tepat waktu
bila kau harus ke Kanagawa kemudian kembali ke Tokyo hanya dalam waktu 5 jam.”
Kulihat raut wajahnya berubah, dari yang tadi jelas sekali marah kini menjadi
sendu.
Aku hanya bisa terdiam di tempat. “Aku tahu apa yang kau rasakan,
meskipun perasaan kehilangan ini tak sedalam dengan apa yang kau rasakan tapi
kau tahu kan band ini harus terus berjalan meskipun tanpa dia sekalipun.” Ia bicara pelan dengan nada lemah. Pria berumur 40
tahun itu menghampiriku yang masih diam di depan pintu.
“2 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk membangun kembali the
GazettE setelah kepergiannya, tapi
aku tahu kalian bisa dengan kehadiran Kano.” Kurasakan tangannya menepuk bahu
kanannku dan ia pun mulai berjalan menghampiri pintu.
“Hai Masashi-san.” Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibirku.
Ia pun meninggalkan studio. Sedangakn aku segera memasuki ruang latihan. Begitu
pintu kubuka sebuah suara menyambutku. “Ah Konnichiwa
Reita-san.” Kano, vokalis baru kami menyambutku dengan senyum khasnya. “Konnichiwa Kano, minna..” dan ku dengar Kai, Uruha, dan Aoi membalasnya “Konnichiwa Rei.”
Kano, vokalis baru kami. Perawakannya tak berbeda dengannya hanya terlihat sedikit lebih tinggi,
dia terbilang masih muda karena masih berusia 26 tahun, berbeda dengan kami
yang sudah memasuki kepala 3, dan suaranya juga hampir sama dengannya meskipun tentu saja dia tak tergantikan sampai kapan pun.
“Ayoo Rei, sampai kapan kau diam di situ ?! Kau sudah terlambat hampir
satu jam.” Kai, leader kami membuyarkan lamunanku tentang Kano dan dia dari balik drumsetnya.
“Gomen, gomen.” Kulihat dengan sudut mataku Uruha dan Aoi memandangku
sendu, sama seperti Masashi-san tadi. Segera aku berjalan ke tempat bass ESP
RF-00 ku dan kami pun mulai latihan.
*******
“Otsukare~ “
Latihan selama hampir 8 jam itu pun selesai, aku keluar dari studio.
Hari sudah malam, hawa dingin langsung menusuk tulang begitu aku keluar dari
gedung PS Company.
“Yo Reita ! “ sebuah suara mengagetkanku. Reflek aku menoleh ke belakang
dan kudapati Kai, Uruha, dan Aoi berjalan ke arahku.
“Ah, rupanya kalian.” Aku berhenti sambil menunggu mereka berjalan
sejajar denganku.
Kami pun berjalan bersama karena memang kami tinggal di apartemen yang
sama. Memang beginilah rutinitas kami setiap hari ketika sehabis latihan, dari
dulu sampai sekarang.
Iya...dulu.
Udara dingin Tokyo menjadikan kami harus merapatkan jaket masing-masing.
Lalu entah dimulai dari siapa kami semua berjalan dalam diam.
“Jadi....bagaimana Kanagawa ? “ pertanyaan tiba-tiba sekaligus membuat
jantungku seakan berhenti sesaat dilontarkan Uruha.
Aku berhenti berjalan. Mereka bertiga yang kini 2 langkah di depanku
ikut berhenti dan menoleh ke arahku. “Sama seperti terakhir kali aku kesana,
tak ada yang berubah.” Kucoba berbicara se-normal mungkin yang jelas saja bertentangan
dengan hatiku.
“Gomen Rei, aku menanyakan hal
itu kepadamu.” Kudengar nada penyesalan dari Uruha.
“Sudahlah, sekarang aku sudah mulai bisa sedikit melangkah. Sebenarnya,
bukan aku saja yang harus melangkah, tetapi kita semua.” Kulihat mereka tersenyum
simpul meskipun aku bisa melihat di mata mereka terbersit kerinduan dan
perasaan yang sama denganku.
Kami pun mulai berjalan kembali, seakan melupakan percakapan yang
barusan terjadi.
“.....besok adalah 2 tahun kematian Ruki.” Aku mulai berani menyebut
namanya. Nama yang sebenarnya tak
ingin kusebut. Mereka yang sebenarnya tahu bahwa aku paling tak bisa
menyebutkan nama itu spontan kaget dan menoleh ke arahku.
“Seperti yang aku bilang tadi, kita harus bisa melangkah kembali.
Meskipun sebenarnya ini sangat berat tanpa sosoknya.” Nada bicaraku melemah dan pandanganku menjadi kosong.
“.....”
“Kalau begitu kita harus ke Kanagawa besok, mengunjungi sahabat kita.”
Kai berbicara dan memberikan senyum hangat hingga memperlihatkan dimplenya. “Nee...” seakan ia memberi kami asupan kekuatan untuk bisa
tersenyum, dan kami pun membalas senyumannya sebagai tanda bahwa kami
menyutujuinya.
******
Mobil yang kami tumpangi hampir sampai di tempat itu. Makam Ruki. Kai
yang menyetir, di sampingnya terdapat Aoi yang menopang dagu sembari melihat ke
jendela. Aku berada di jok belakang bersama dengan Uruha. Sebenarnya kami juga
mengajak Kano, tapi karena dia harus menjalani cek kesehatan, dia tidak bisa ikut dengan kami. Kutatap sebuket bunga
lily putih di sampingku. Bunga yang selalu sama dengan yang kubawa untuk Ruki.
Kulihat Uruha melirikku, kemudian kurasakan tangannya mengelus pundakku. Aku
hanya bisa tersenyum dengan sedikit keterpaksaan.
Sekitar 5 menit kami pun sampai di pemakaman, tempat yang hampir 2 tahun
tak ingin aku datangi. Karena ketika aku harus mendatanginya, aku hanya akan
semakin sesak. Namun 2 bulan yang lalu aku mulai memberanikan diri pergi ke
tempat ini sendirian. Dan hari itu--hari yang paling tak kuinginkan--aku mulai
meletakkan sebuket bunga lily putih di pinggir jalan.
Kai menghentikan mobil hitamnya, Aoi keluar terlebih dulu, kemudian
disusul oleh Kai, Uruha dan aku yang
paling terakhir. Kutarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Mataku melihat
sekeliling makam yang berderet rapi yang berada di atas bukit sambil tanganku
menggenggam sebuket bunga lily yang aku bawa dari Tokyo tadi.
“Ayo Rei !” Seru Aoi mengajakku berjalan menuju batu nisan Ruki. Aku
mengangguk pelan. Kami kembali berjalan dalam diam, jantungku seakan berdetak
lebih cepat dari biasanya. Bisa kurasakan kedua mata hazelku memanas. Kumohon
jangan keluar, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri agar tak meneteskan air
mata. Aku terus menundukkan kepala. Entahlah, rasanya berat ketika aku harus
melihat ke depan, apalagi jika harus melihat batu nisan hitam bertuliskan
Matsumoto Takanori untuk yang ketiga kalinya. Uruha yang berjalan tepat di
sampingku kurasa bisa mengerti keadaanku. Kurasakan kembali tangannya memegang
bahuku, seakan ingin aku membagi beban ini dengannya. Aku menoleh pelan, dan
senyum Uruha seakan berkata “kita ada
disini untukmu Reita”.
Kai yang tadinya berjalan di depan bersama Aoi kini telah menghentikan
langkahnya. Sudah pasti kami telah sampai di depan makam Ruki. Kudongakkan
kepalaku, kami terdiam, mataku berusaha untuk melihat batu nisan hitam yang
bertuliskan Matsumoto Takanori dengan huruf Kanji itu. Selama beberapa saat
hanya kesunyian yang kami ciptakan, perasaan itu kembali menyeruak, kerinduan
akan kehilangan seorang sahabat. Mataku telah memanas, tapi aku masih tak bisa
meneteskan bulir asin ini. Yang kurasakan masih kosong. Kuletakkan sebuket
bunga lily putih itu di depan makamnya, kami pun berjongkok dan merapatkan
kedua tangan. Memejamkan mata perlahan dan mulai berdoa untuk Ruki. Seketika
itu ingatanku kembali ke 2 tahun yang lalu.
Flashback
Aku tersadar ketika mobil yang kami berlima tumpangi sudah menabrak
trotoar. Bisa kulihat meskipun dengan pandangan yang kabur bahwa seseorang yang
berada di sampingku berlumuran darah dan terluka parah. “Ruuuki....” kataku
pelan dan berat. Beberapa saat kemudian semuanya menjadi hitam.
Ketika kedua mataku mulai bisa kubuka, aku tersadar bahwa aku sekarang
sudah berada di dalam sebuah kamar yang sudah jelas adalah kamar rumah sakit.
Bisa kulihat Aoi, Uruha, dan Kai dengan perban di kepala dan tangan mereka
duduk tak jauh dari ranjangku. Aku pun terbangun, mereka menghampiriku dengan
raut wajah yang terlihat sendu dan muram.
“Ap-apa yang terjadi ? Di mana Ruki ? Dia tak apa-apa kan?” ku coba
mencari tahu jawaban dari raut wajah mereka, tapi mereka hanya diam dan sebuah
sebuah tetes air mata mulai jatuh dari kelopak mata mereka bertiga.
“Ru-Ruki sudah tidak ada Rei, dia...sudah tenang di alam sana.” Aoi
menjawabku dengan nada lemah dan parau.
Deg.
Jantungku berhenti untuk beberapa saat. Kepalaku terasa berat, badanku
tak bisa kugerakkan, seakan semuanya hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa,
bahkan bernafas pun seakan aku tak bisa.
“Kalian pasti bergurau, dan aku tak suka dengan gurauan kalian ini !”
Aku setengah berteriak dan langsung terduduk di ranjangku. Tapi ketika aku
menatap ke mata mereka, di sana jelas tak terlihat mereka sedang bercanda.
“RUKI !!” teriakku semakin menjadi dan kini tubuhku tak bisa ku kontrol,
mereka bertiga mencoba menenangkanku dengan memegangi pergelangan tanganku. Kedua
tanganku mencengkeram kepalaku, badanku benar-benar tak bisa ku kontrol, seakan
semua suara tak bisa ku dengar, hanya teriakanku yang menggema.
“Rei, tenanglah! Bukan kau saja yang tak bisa menerima ini semua, tapi
kami juga !!” Kai berkata tegas dengan air mata yang kini membanjiri
pelupuknya. Aku pun terdiam selama beberapa saat dan mencoba menenangkan diri.
Mereka bertiga lantas melepaskan tangan mereka.
“Ini semua salahku Rei, jika saja waktu itu aku berhati-hati pasti ini
semua tidak akan pernah terjadi.” Kai menundukkan kepala, kulihat tangannya
mengenggam erat, badannya bergetar. “Jika saja malam itu aku lebih memilih
menginap di rumahmu, Ruki masih bisa disini bersama kita.” Yaaa Kai menangis,
sebuah tangisan yang memilukan yang tak pernah aku lihat selama kami bersama.
“.....”
Hanya hembusan angin, tirai putih yang setia menutup jendela dari
penglihatan luar itu bergerak-gerak mengikuti angin yang berhembus pelan di
ruangan ini. Kami masih terdiam atau lebih tepatnya kami menangis, menangisi
kepergian vocalist sekaligus sahabat
kami itu.
“Tak ada yang perlu disalahkan atas kejadian ini Kai.” Uruha berkata tiba-tiba,
nada bicaranya pelan.
“Ini sudah takdir yang tak dapat kita rubah atau kita
hindari. Kematian sudah menunggu kita dengan berbagai cara yang kita tidak tahu
kapan dan bagaimana caranya.” Lanjutnya, Uruha pun memegang bahu kiri Kai
sambil tersenyum pahit ke arahnya.
Masih dapat kulihat Kai menangis tapi sudah tak separah dulu. Dan aku ? aku
hanya terdiam sambil meremas erat selimut putihku. Aku tak berani memandang
mereka, kepalaku sangat berat untuk kuangkat.
“.....”
Sunyi kembali. Kemudian dengan berat aku mencoba berbicara. “Tolong,
ceritakan semuanya, semuanya....tanpa ada satu pun yang terlewat.” Kucoba
menahan sesak begitu mengucapkannya.
Ekspresi mereka tak terbaca, antara kaget dan mungkin berat. Tapi aku
ingin mendengarkannya, semuanya.
“Kau...kau Rei, kau tak sadarkan diri selama 2 hari,dan Ruki...” Aoi
mengambil jeda, ia membuang nafasnya. “Ruki meninggal tak beberapa lama setelah
kecelakaan itu akibat benturan keras di kepalanya.” Suara Aoi melemah, aku tahu
dengan berat hati ia menceritakannya padaku.
Kembali dada ini sesak, tapi aku mencoba mengaturnya. Air mataku
benar-benar tak bisa keluar sekarang, sudah mengering.
“Kami menunggumu siuman untuk upacara pemakaman Ruki, tapi tak ada
tanda-tanda kau akan sadar, jadi diputuskan bahwa Ruki dimakamkan tanpamu Rei.”
Lanjutnya.
“Maaf Reita, maafkan kami, maafkan kami.” Suara Aoi semakin parau, jelas
air matanya kini pasti menetes dengan deras kembali. Ku dongkkan kepalaku
dengan berat, kulihat wajah-wajah penuh kepedihan dari teman-teman yang telah
lama bersamaku ini.
Masih kudengar Aoi menceritakan pemakaman Ruki pada keesokan harinya
tanpaku yang jelas-jelas masih tak sadarkan diri. Semua yang Aoi ceritakan
seakan-akan hanyalah mimpi buruk yang ingin segera kuakhiri. Tetapi mimpi buruk
itu adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Sahabat terbaikku telah pergi untuk
selamanya.
Esok harinya kupaksakan pergi ke makam Ruki bersama dengan Aoi, Uruha,
Kai, dan Masashi-san. Kakiku seakan tak bertulang, aku jatuh tertuduk di depan
makamnya, air mataku tak bisa jatuh. Setelah kejadian itu, aku tak ingin
kembali ke Kanagawa, apalagi ke makam dan jalan itu. Selama hampir 2 tahun aku
depresi dan tak ingin melakukan apa-apa. the GazettE pun dinyatakan hiatus.
Hingga 2 bulan yang lalu kuberanikan diri untuk kembali, ku tata hidupku sekali
lagi yang sempat terpuruk secara perlahan dan tanganku mulai memainkan bass
kembali.
Flasback end
Ku buka kedua kelopak mataku, tak terasa bulir bening asin itu menetes
tanpa henti. Air mata yang selalu berusaha tak pernah kukeluarkan ketika
mengingatnya kini tertumpah semuanya.
Seakan batu besar telah hancur, beban terberatku telah aku jatuhkan disini, di
depan makam Ruki. Aoi, Kai, dan Uruha pun membiarkanku menangis.
“Kita akan baik-baik saja Rei, dan Ruki pasti akan baik-baik saja di
sana. Jadi sekarang kita harus tetap berjalan menjalani takdir kita ini.” Uruha
berkata lirih. Aku hanya bisa mengangguk pelan dengan air mata yang masih
mengalir.
*****
Kami pun meninggalkan makam Ruki, aku sudah lebih tenang sekarang. Aku
yang mulai bisa menerima kepergiannya menatap makamnya dari kejauhan. Kemudian
ketika aku membalikkan badan untuk berjalan kembali ke mobil Kai, sebuah angin
yang lembut tiba-tiba berhembus, menghembuskan bunga-bunga dandelion yang
tumbuh liar di sekitar pemakaman itu. Seakan Ruki memberi tahu kami bahwa ia
akan selalu mengawasi kami dan ia ingin kami baik-baik saja. Aku, Kai, Uruha,
dan Aoi tersenyum simpul dan saling berpandangan.
“Jaa, sayonara Ruki” ucapku dalam hati dan melanjutkan langkah kami.
-------OWARI------
HAPPY 32th BIRTHDAY my lovely bassist REITA
Hanya ini yang bisa aku buatkan untukmu, meskipun sudah pasti kau tidak akan membacanya.
Oke, maafkan saya karena fanfic saya (kembali) mematikan salah satu personilnya, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur hehehe
dan sebenarnya ini fanfic, fanfic buat lomba sekitar 3 minggu yg lalu yang diselenggrakan JFest di kampus, tapi kemaren gak sepanjang ini, jadi dari kemarin saya panjangin supaya tidak terlalu memaksa (bukannya sekarang tetap memaksa ya)
ya udah itu saja yang penting saya sudah melaksanakan project fanfic one shot spesial untuk bias saya si Noseband REITA
Thanks yg udah baca, meskipun kurang memuaskan(pasti)
once again
お誕生日おめでとう れいたさん !!!