Senin, 25 Februari 2013

[Fanfic] FLAME (Chapter 1)


Title               : FLAME

Author           : Lycoris

Language      : Bahasa Indonesia 

Fandom         : the GazettE, SuG, Alice Nine, D=OUT, ViViD, Vistlip, ScReW (masih itu buat sekarang)

Genre             : Double F (Fantasy, Friendship), General, Supernatural *mungkin*

Chapter          : 1 

Rate               :  Semi M (selalu tidak bisa kalau suruh kasih rate)

Declaimers    : hanya fic ini punya saya, tokoh-tokohnya pinjam

Warning         : typos, abal, melenceng, aneh, membingungkan, OOC




Chapter 1 “THE GATE” 

Kelopak demi kelopak bunga sakura masih berguguran pagi itu, angin yang terasa sejuk  masih berhembus dengan rutinnya menerbangkan kelopak sakura yang jatuh dari rantingnya. Masih pagi yang hampir sama dengan kemarin, terlihat sebuah gedung megah yang tak terlihat seperti sekolah kalau bukan banyak orang berkeliaran memakai seragam dan beragam alat musik telah menantang di ujung jalan yang tak terlalu lebar. Dari ujung jalan yang lainnya terlihat gerombolan siswa yang merupakan penghuni baru yang siap untuk menjadi penghuni selama 4 tahun di sekolah musik terbesar di Jepang itu.

Benar, tahun ajaran baru telah dimulai dan sekarang tepat 300 siswa baru telah siap memasuki gerbang megah di Shirayumi Music Gakuen. Sekolah khusus musik yang telah terdengar dimana-mana karena prestasinya yang setiap tahun selalu mengeluarkan musisi hebat dipenjuru Jepang bahkan dunia. 

Tak heran bila sekolah yang sudah berumur 50 tahun itu menduduki peringkat pertama di Jepang dan menjadi nomer 3 terbaik dunia.

Gerbang yang megah telah terbuka, siap menerima setiap karakter dan rupa-rupa baru untuk belajar di dalamnya. Angkuh. Yaah itulah ciri khas siswa SMG, angkuh karena dari 10.000 lebih pendaftar hanya 300 yang diterima. Namun wajah angkuh itu akan berubah menjadi sebuah wajah penakut bila sudah berhadapan dengan mereka penghuni lama di SMG. Kita lihat nanti.

“Tunggu aku Ru...” seorang pemuda dengan rambut blond berlari mengejar teman yg berjalan tak terlalu jauh darinya.

Pemuda yang dipanggil itu menoleh “Kau ini, selalu saja Mpon tak berbeda dengan Takeru, meskipun lebih parah Takeru sih” 

Yang merasa mempunyai Takeru pun menatap tajam “Kenapa aku lagi hei Matsumoto Takanori...”

“Kau setiap hari selalu terlambat, ingat kita sekarang sudah di Shirayumi Music Gakuen jadi rubah kebiasaanmu itu..” kelekar Matsumoto Takanori atau yang lebih dikenal dengan Ruki itu lalu berjalan kembali, tak menghiraukan Takeru yang sekarang sedang memanyunkan bibirnya dan Hiroto yang dari tadi berlari-lari mengejarnya.

“Heii heeii sudah sudah, kalian daridulu sama saja..” seorang pemuda lain yang berambut soft pink mencoba melerai.

Hiroto yang sekarang berada tepat disebelah Takeru mulai mengatur nafasnya “Entahlah setiap hari selalu bertengkar rubahlah sifat dan sikap kalian mulai sekarang wahai para peraih peringkat tertinggi...”

Ruki tak memperhatikan Hiroto dan Takeru, “ayoo Hikaru jangan sampai kita terlambat di hari pertama kita sekolah disini gara-gara Takeru dan Mpon...” Ruki menoleh ke pemuda yang bernama Hikaru itu.

“Hei heii...” belum sempat Takeru dan Hiroto membalas bel tanda gerbang akan segera ditutup pun berbunyi.


Para siswa baru itu pun segera memasuki SMG dan berbaris rapi di lapangan terbuka tepat berada di depan gedung yang super megah dan klasik itu.
Seorang pemuda dengan wajah datar namun terlihat sangat berwibawa berjalan menuju depan podium yang telah disediakan.

Kedua tangannya dimasukkan di saku celananya. Kemeja putih yang dilapisi blazer biru dongker dengan garis-garis putih yang vertikal (mirip seperti seragam di Vampire Knight kelas pagi) tampak kontras dengan sebuah handband merah yang melingkar di lengan kirinya  menandakan bahwa ia adalah Senior di SMG.

Terlihat beberapa siswa siswi berbisik-bisik dengan kawan di sampingnya ataupun di depannya.

“Itu...wakil ketua Amano-san kan” seorang siswi tengah berbisik kepada kawan didepannya.

“Iya menurut kabar yang kudengar memang selalu dia yang memimpin hampir semua acara yang ada di SMG ini.” Siswa di depannya menjawab.

“Lalu memang ketuanya dimana ??”

“Entahlah, dia sangat jarang terlihat di depan umum.”Siswi yang lain menimpali.

Dan tak jauh dari barisan siswi-siswi tersebut terlihat keempat pemuda yang berbaris rapi.

“Hwaaaahh dia berwibawa sekali..” pandangan Takeru tak lepas dari sosok yang berdiri di atas podium itu.

“Heeeii sadar sadar dia laki-laki.” Sewot salah satu temannya, Hikaru.

“Aku tahuu..” jawab Takeru dengan pipi yang digembungkan.

“Hanya saja dia lebih berwibawa daripada di foto yang aku dapatkan di majalah SMG...”

“Kupikir kita juga akan seperti dia lama-lama...berwibawa” Hiroto menyaut.

“Heeeiii sudah diam apa kalian akan berbicara terus. Seperti anak SD saja..” Ruki yang dari tadi diam pun menyela percakapan ketiga temannya sambil memandang kesal kepada mereka.

“Dasar kau chibi...” Takeru menjulurkan lidahnya.

“Kau juga chibi. Chibi kok ngatain chibi” Ruki mengalihkan pandangan ke depan.

“Huusst diamlah kalian ini !! “ Hikaru yang jengkel memberi pandangan deathglare kearah Ruki dan Takeru. Dan mereka pun terdiam seketika.


“Ekhm...”

Semuanya terdiam begitu Amano Shinji atau yang lebih di kenal dengan nama Tora berdehem.
Pandangan mereka lantas menuju pemuda yang lumayan tinggi itu.

“Saya mewakili semua senior disini mengucapkan selamat atas keberhasilan kalian bisa masuk di SMG.”

“..........”

“Tapi seperti yang kalian tahu sendiri bahwa disini bukanlah tempat untuk bermain-main. Jadi yang hanya berniat untuk bermain-main saja gerbang itu masih terbuka lebar untuk kalian.” Perkataan dingin Tora kontan saja membuat beku suasana yang tadinya berisik itu.

“Tak banyak yang bisa saya sampaikan, semoga kalian siap akan apa yang akan kalian hadapi di Shirayumi Music Gakuen ini”

“....”

“Dan selamat datang”

“......”

Setelah mengucapkan pidato yang singkat atau yang lebih tepatnya ancaman itu ia pun turun dari podium. Dan para siswa baru itu pun masih terdiam.
Sampai ada seorang pemuda lain yang berwajah baby face dan pipi chubby naik ke podium.

“Heii heeeiii kenapa wajah kalian tegang begitu, santai saja memang dia seperti itu.” Ia pun berusaha mencairkan suasana dengan senyumnya yg memperlihatkan gigi-giginya tapi membuat matanya seperti terpejam.

“....”

“Baiklah selamat datang di keluarga besar Shirayumi Music Gakuen”

Prok prok prok prok 

Suara tepuk tangan langsung membahana begitu ia selesai berkata.
Suasana yang semula tegang pun berhasil ia cairkan.

“Eeemm...itu Naoyuki-san kan” Hikaru yang pandangannya tak lepas dari depan itu berkata pada ketiga teman dibelakangnya.

Hiroto yang berada tepat ddepannya berbisik pelan “Un dia adalah wakil ketua 2 Senior disini.

“Kelihatannya di yang paling ramah dibanding semua Senior..”Ruki yang juga memperhatikan percakapan kedua temannya itu berkata seraya matanya menjelajahi para Senior yang berjejer rapi di belakang podium.

“Kelihatannya begitu..lihatlah semua wajah Senior-Senior itu. Tidak ada yang bersahabat sama sekali..”Lagi-lagi Takeru yang berbaris paling belakang diantara mereka berempat itu memanyunkan bibirnya.

“Tapi kurasa belajar musik disini akan semakin menyenangkan” Hiroto berkata sambil menatap ketiga teman dibelakangnya.

Dengan senyuman yang mantap ketiga temannya itu mengangguk “ Um !! “


Naoyuki Murai atau yang lebih dikenal dengan nama Nao memang Senior yang paling ramah diantara jejeran Senior SMG.
Wajahnya yang selalu menyunggingkan senyuman itu yang membuat Nao disukai oleh semua orang. Ia hampir tak mempunyai musuh di SMG.

“Baiklah aku akan menjelaskan siapa-siapa saja yang berada di depan itu” ujar Hiroto kepada ketiga temannya.

“Jajaran para senior yang ada didepan adalah sebagai ketua Shiroyama Yuu atau yang lebih dikenal dengan Aoi. Aoi sendiri sangat jarang menampakkan diri di depan umum biasanya ia diwakili oleh Wakil Ketua 1 yaitu Amano Shinji atau Tora yang tadi berpidato di depan. Lalu itu Naoyuki Murai dia adalah Wakil Ketua 2, dia adalah mood maker para Senior.” 

“Lalu kau lihat yang berdiri paling kiri itu, itu adalah Masahito Kojima atau yg biasa dipanggil dengan Byou dia adalah Sekretaris 1 di sini tapi jangan kalian bayangkan Sekretaris disini seperti sekretaris-sekretaris organisasi kebanyakan. Bisa dibilang ia adalah tangan kanan Senior SMG. Lalu yang disamping Byou-sama itu adalah Ibuki, tak ada yang tahu nama aslinya sampai sekarang, dia cukup terkenal di SMG ini. Ibuki menjabat sebagai Bendhahara di Senior, dia menjadi orang yang paling bertanggung jawab jika terjadi apa-apa di antara Senior SMG. Dia yang merencanakan hampir semua kegiatan musik di SMG. Jangan kau lihat dia terkenal karena termasuk jajaran Senior atau pun karena ketampannannya.” 

“Asal kalian tahu dia pemenang guitarist berbakat selama 2 tahun berturut-turut yang diadakan di Eropa. Lagi pula ia juga cukup ramah dengan semua orang.”

“Dan ketiga laki-laki yang berdiri agak belakang itu adalah Reika, seorang bassist dari kelas A-2.”

“Haaa ?? kelas A-2 ?? itukan...” Hikaru langsung kaget mendengar kata kelas A yang baru saja disebutkan oleh Hiroto ditengah penjelasannya panjang lebarnya.

“Iya dia adalah kelas A-2. Pertama kali masuk di SMG dia langsung diterima di kelas A-2 lho” Hiroto  menjawab.

“Sudah sudah, aku akan melanjutkannya..” 

Hiroto pun mulai menjelaskan lagi dan Ruki, Hikaru, serta Takeru memperhatikan.

“Dia termasuk bassist muda paling berbakat di Jepang. Lalu disebelah kirinya itu Kazuki, dia guitarist dan kalian sendiri tau kan bahwa para Senior itu bukan orang-orang sembarangan di bidang musik termasuk Kazuki-senpai.” 

“ Dan yang paling kiri adalah Yuh. Dia termasuk pemuda yang ramah disini. Dia itu guitarist juga. Prestasinya~~ kalian lihat majalah Ray minggu kemarin kan, dia menjadi topik utamanya di majalah tersebut. Dia menjadi wakil dari SMG di kontes guitarist dan bassist di Asia 3 minggu yang lalu dan memenangkan tempat pertama. Di usianya yang ke-10 tahun dia bahkan menjadi anak berbakat di bidang musik di Jepang dan Korea.” Hiroto menjelaskan dengan matanya yang tetap fokus melihat ke depan.

Dan ketiga temannya hanya mengangguk kagum.

“Mereka bertiga itu di kelas A-2 dan menjadi “pengawal” Ketua. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku jelaskan tapi sepertinya tidak asyik kalau kita tidak melihat orang-orangnya secara langsung kan.”  

“Masih ada lagi ? “ Takeru yang berbaris paling belakang membelakkan matanya.

Ruki yang ada didepannya pun menjitak kepalanya “Tentu saja, baka !! kau pikir hanya itu kehebatan SMG ini”

“Itte—“ Takeru mengelus kepala yang menjadi sasaran jitakan Ruki.

“Masih ada kelas A-1 atau yang disebut kelas spesial.” Hikaru yang daritadi diam pun berkata sambil menunjukkan sebuah robekan majalah SMG yang ia bawa.

“Huuwaaa...” lagi-lagi mata Takeru membelalak.

Merasa jengkel dengan Takeru Ruki pun berkata degan sewot. “apa kau tidak membaca buku panduan SMG dan majalah yang kau pinjam dariku kemarin ??”

“Tidak..”Takeru menyengir.

“Dasar !! “Ruki hampir menjitak kembali temannya itu sebelum Takeru menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Sudahlah kalian berdua, setelah ini kalian berdua akan dipanggil.” Hiroto dengan malas melerai kedua temannya.

“Ehh ? kenapa ? “ lagi-lagi Takeru membuat kesal ketiga temannya.

“Lihatlah saja nanti !! “ jawab Ruki ketus.

Dan benar saja setelah daritadi Nao berpidato untuk mencairkan suasana tadi, Ia memanggil nama-nama anak yang meraih nilai tertinggi di ujian masuk SMG.

Para siswa baru yang lain pun cukup penasaran, ingin melihat wajah-wajah peraih nilai tertinggi  secara langsung. Karena yang mereka tahu hanyalah nama-nama mereka sendiri tanpa mengetahui siapa-siapa saja yang masuk beserta peringkatnya.

“Baiklah, untuk peraih peringkat tertinggi ujian masuk SMG adalah...”

Bukan hanya para siswa baru yang penasaran tetapi juga jajaran Senior yang ada disitu.
Karena dengan meraih peringkat tertinggi tentu saja ia berpeluang besar menjadi Senior serta yang lebih istimewa masuk ke kelas A-1. 

“.....”

“Matsumoto Takanori” suara Nao memecah rasa penasaran.

Ruki yang mengetahui namanya akan disebut itu pun maju dengan jantung yang mau copot saja, meskipun ia tahu ia adalah peraih nilai tertinggi tapi tentu saja berjalan dengan semua mata yang mengawasimu itu tentu saja berbeda, apalagi Senior juga memperhatikan.
Dan sudah pasti bisa ditebak semua mata langsung menuju kepadanya, dan si empunya nama berusaha bersikap tenang.



Tak jauh dari tempat Ruki berada, seorang pemuda yang berada di lantai 3 itu pun tak luput memandang Ruki yang berada di lapangan terbuka SMG.

“Kau tertarik dengannya ? “ sebuah suara terdengar, menunjukkan ia tak sendiri disitu.

“Sepertinya..aku tertarik dengannya karena suara dan tentu saja “bakat”nya.” Pemuda itu menjawab dengan tangan yang memegang beberapa lembar kertas putih yang disitu berisi biodata seorang Matsumoto Takanori.

“Jadi kau akan memasukkannya ke jajaran Senior ? “ suara pemuda lagi, kali ini terdengar lebih berat.

“.....akan kupikirkan...” pemuda berambut hitam itu menjawab.

Seorang pemuda lain yang daritadi membaca sebuah komik itu menutup komiknya dan berjalan mendekati jendela untuk melihat Ruki. “Aku lebih senang ia masuk ke kelas A-1, di kelas spesial karena jelas bakatnya telah menakdirkannya untuk disana”  

“....”

“Mungkin juga bisa, aku masih bingung..” timpal pemuda yang dari tadi memperhatikan Ruki.

“Jika kau memasukkannya di jajaran Senior, jangan kau masukkan anak itu di kelasku. Kau tahu kan bahwa kelasku tak pernah tertarik dengan posisi Senior, kecuali dia..” timpal yang berambut blond yang tengah duduk di sofa merah tua itu berkata sambil memainkan bass berwarna putih hitam kesayangannya.

Pemuda yang pandangannya tak lepas dari sosok Ruki hanya bisa diam.



“Jadi dia peraih peringkat tertinggi..” terdengar bisikan dari barisan pemuda di lain barisan Ruki cs tadi.

“Ia tak terlihat hebat sedikitpun...” seorang pemuda lagi berbisik.

Mendengar pembicaraan yang membuat panas telinga itu, Takeru hampir saja marah jika saja Hikaru dan Hiroto menahannya dengan sebuah isyarat tangan menggelengkan kepala ke arah Takeru.
Ruki telah berada di tengah lapangan, tepat disamping podium tempat Nao berdiri, kedua matanya tak berani menjelajah sekitar. Manik hazelnya hanya memandang ke depan jauh dengan ekspresi yang berusaha ia bangun.

“Lalu berikutnya, dan ini hanya terjadi 2 kali selama sekolah ini berdiri. Peraih peringkat tertinggi bukan hanya 1 orang melainkan 2 orang...”

Tentu saja bisikan kembali terjadi.
Sangat jarang SMG mempunyai 2 orang peraih peringkat tertinggi. Dan lebih mngejutkan lagi tahun lalulah dimana terjadi fenomena itu terjadi untuk yang pertama kali.

“Takeshi Miyamoto..” ucap Nao singkat.

Dan sang Takeshi Miyamoto sang tak lain adalah Takeru itu pun dengan langkah ringan berjalan ke depan. Sama seperti Ruki semua mata memandangnya, tapi bedanya pribadi Takeru yang santai membuat langkahnya menjadi tenang.
Perlahan ia pun menghampiri Ruki, sebuat toss dilakukan keduanya.


“...mereka berdua” Ibuki yang berada di jajaran Senior itu pun mulai angkat bicara.

Byou yang daritadi juga memperhatikan kedua pemuda itu ikut berbicara “Ini hanya kebetulan atau apa ya, 2 tahun belakangan ini ada 2 orang yang menyandang peringkat tertinggi ujian masuk SMG. Sungguh menarik..”

“Tapi sekarang yang menjadi pertanyaan akan ditaruh mana anak itu oleh Ketua. Kelas A-1 itu atau jajaran Seni--“ Ibuki yang belum menyelesaikan perkataannya itu dipotong oleh Tora “Lagipula anak yang bernama Matsumoto Takanori itu mempunyai bakat yang hampir sama seperti anak-anak kelas spesial.” 

“Jadi menurutku dia akan masuk ke kelas itu, tapi pastinya kita tak akan melepaskannya begitu saja. Aoi pasti akan berat untuk menentukan karena dia jelas tak menginginkan kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali, tapi kita juga tidak boleh berdiam diri saja tanpa mengambil resiko. ” Tora menyelesaikan perkataannya sambil membetulkan letak kaca matanya.

“........”

Byou dan Ibuki hanya bisa terdiam mendengar perkataan Wakil Ketua 1 itu. Mereka yang mendengarkan Tora tadi tentu saja tahu maksudnya dan tak menginginkan kejadian itu terulang kembali. Tapi semua keputusan memang berada pada sang Ketua Aoi, jika ia sudah berkehendak maka tak akan ada yang bisa melawannya.

Dan seperti sudah menjadi tradisi SMG bahwa siswa peraih peringkat tertinggi itu otomatis akan direkrut oleh Senior untuk dijadikan anggotanya.
Tapi ada satu lagi yaitu masuk kelas spesial. Kelas A-1.Dan  yang masuk kelas spesial adalah mereka yang tak hanya menjadi peraih peringkat 1 ujian masuk SMG melainkan mereka yangn mempunyai “bakat”. Tadi bila sang peraih peringkat tertinggi tidak mempunyai bakat maka hampir mustahil ia bisa merasakan tinggal di kelas itu.

Dan sudah dirasakan oleh para Senior bahwa Ruki adalah anak yang mempunyai “bakat”. Jadi sangat mungkin ia akan segera dimasukkan ke kelas spesial.

Kejadian 2 orang peraih peringkat tertinggi ini sangat persisi dengan kejadian tahun lalu. 2 orang pemuda meraih peringkat tertinggi ujian masuk SMG dan salah satunya mempunyai “bakat”, kala itu ia diberi 2 pilihan, menjadi Senior atau masuk ke kelas A-1. Karena pemuda itu tak tertarik sama sekali menjadi Senior maka ia memilih A-1. Dan tak hanya itu sang ketua yaitu Aoi juga menempatkan pemuda itu ke A-1. Para jajaran Senior yang lain tak menyerah sampai disitu mereka pun merekrut seorang pemuda lain yang menduduki peringkat pertama ujian masuk SMG. Dan untungnya ia mau masuk ke jajaran Senior.

Karena seperti yang diketahui bahwa jajaran Senior adalah posisi yang paling tinggi di SMG. Jadi tak heran bahwa hampir semua siswa baru sangat menginginkan menjadi salah satu anggotanya.

Setelah cukup “memperlihatkan” wajah para peraih peringkat ujian masuk SMG, Nao mempersilahkan Ruki dan Takeru kembali ke barisan dan membubarkannya.
Dan sekarang saatnya mereka menuju kelas reguler yang telah ditentukan. Penentuan kelas yang sebenarnya akan diumumkan 1 minggu lagi.
 
--------------------------


Di sebuah ruangan yang berada di lantai 2.

“Apa kau sudah mendengarnya, anak peraih peringkat tertinggi dan “bakat”nya..” seorang pemuda memecah keheningan dengan tangan yang masih sibuk memainkan gitar akustik berwarna coklat.

Pemuda lain yang tengah duduk didepannya sambil memainkan tongkat baseball menyaut dengan enteng namun serius “Kelas A-1 lagi huuh...”

“Aku rasa akan semakin menarik saja anak-anak di kelas Karasu itu...” sebuah senyum tersungging dari bibirnya. “Meskipun kita hanya dikelas A-2 tapi kurasa kita bisa merasakan bahwa Karasu sedang mencari anak sepertinya, iya kan Saga” ia menoleh pada seorang pemuda yang bernama Saga yang tengah sibuk membersihkan bassnya.

Sadar dia diajak dalam pembicaraan Saga pun menyaut dengan sekenanya “Uhum, dan aku rasa Reita akan memperjuangkan anak itu meskipun ia harus berhadapan lagi dengan Byou.” Ia berkata tanpa menoleh ke lawan bicaranya.

“....”

“Hei Kouki bagaimana dengan Shou ? “pemuda yang tengah asyik memainkan jemarinya di atas senar gitar itu bertanya kepada pemuda yang sedari tadi sibuk dengan tongkat baseball bernama Kouki itu.

“Shou ? dia masih belum terlalu terlatih untuk menjadi pion Reita dan Kai. Lagipula aku lebih memilih Tomo jika suatu saat Reita membutuhkan pion lebih banyak...”

“Lalu bagaimana dengan kau sendiri Reno ? “Kouki membalikkan pertanyaan dan menatap pemuda yg bermain gitar yang bernama Reno itu.
 Tangannya yang daritadi tengah asyik menari di atas string-string gitar itu pun berhenti. Tak menyangka kalau ia akan ditanyai oleh ketua A-2 itu.

“Aku ? Huuft.......” ia menghembuskan nafas pelan.

“Sudah kalian ketahui kan tidak mungkin aku bisa bisa menjadi pion untuk Reita dan Kai. Aku sudah memutusakan untuk masuk jajaran Senior tahun lalu. “

“..........”

Saga dan Kouki segera terdiam mendengar penjelasan Reno.

“Lagi pula aku yakin dengan munculnya anak baru itu akan semakin menambah kekuatan Karasu.” Mata Reno menatap kedua temannya yang tengah duduk di atas meja.

“Apa kau menyesal masuk ke jajaran Senior ? “ Saga bertanya dan balas menatapa ke dua mata Reno.
Reno yang seakan tahu kemana arah pembicaraan ini pun hanya bisa menarik nafas lagi dan turun dari meja. Ia berjalan mendekati jendela kaca yang membuatnya bisa melihat ke bagian selatan SMG itu. “Kalau boleh jujur, sebenarnya iya. Mungkin aku akan lebih berguna bila menjadi pion Reita dan Kai dengan masuk di kelas kalian. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa yang masuk ke jajaran Senior hampir tak mungkin ikut “bermain” bersama Karasu dan Naraku.


Saga dan Kouki yang merupakan pemimpin Naraku itu mengerti tentang posisi Reno.
Reno, adalah anak peraih peringkat tertinggi tahun lalu bersama dengan Reita. Reita yang memiliki bakat dan tahu sebenarnya sekolah macam apa SMG itu memilih Karasu karena memang niat awal ia masuk ke SMG adalah untuk bermain bersama mereka. Dan karena hanya Karasu dan Naraku lah yang menjadi pilar SMG.

jajaran Senior atau yang disini disebut dengan Akai merupakan “penjaga gerbang”  SMG. Para Akai tak diperbolehkan untuk bermain seperti layaknya Karasu dan Naraku.
Karasu yang merupakan bagian terpenting dari SMG itu telah terbentuk sejak belum adanya SMG. Dan tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya SMG adalah sebuah kedok diantara kebenaran yang disembunyikan dari masyarakat biasa, hanya para petinggi dan beberapa pengajar yang mengetahuinya, serta mereka para Karasu, Naraku, Akai dan Alumina.

Karasu : sebutan  khusus untuk kelas A-1 dibawah pimpinan Kai dan Reita
Naraku : sebutan khusus untuk kelas A-2 dibawah pimpinan Kouki dan Saga
Alumina : pengawal Ketua disini yang menjadi alumina adalah Yuh, Kazuki, dan Reika


Sedangkan Naraku layaknya para pengawal setia bagi Karasu. 1 tingkat dibawah Karasu namun tak akan ada Karasu tanpa Naraku.
Reno yang baru menyadari sebenarnya apa itu SMG dan segala sejarahnya yang disembunyikan para petinggi SMG, merasa pilihannya masuk ke dalam Akai termasuk kesalahan besar. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah tidak bisa dicabut. 

Mereka adalah tiga orang dengan perbedaan “tempat”. Kouki dan Saga yang betempat di Naraku sedangkan Reno di Akai. Tapi meskipun begitu Reno menganggap mereka berdua adalah sahabat terbaiknya dan begitu pula Saga dan Kouki,

Saga melihat jam tangannya “Seperinya waktu bercakap-cakap sudah usai kawan, sekarang saatnya kita kembali  ke kelas masing-masing. “ Saga beranjak dari meja yang didudukinya sambil membawa bass kesayangannya keluar dari ruangan yang menjadi basecamp mereka itu.

Dengan malas Kouki pun ikut beranjak dari tempatnya, diikuti Reno bersama gitar akustiknya.

“Kita lihat saja apa yang kan dilakukan Aoi setelah ini..” ucap Reno sambil mengambil langkah yang berlawanan dengan Saga dan Kouki.


----Chapter 1 END----


Finally, fic ini saya post. 
sebenarnya fic ini saya buat untuk ulang tahunnya Aoi, dan maunya cuma fic yang biasa-biasa saja, tapi entah kenapa sekitar 2 minggu yang lalu berubah pikiran dan mengganti jadi fiksi dan fantasi banget. saya pun sebenarnya masih bingung mau dibawa kemana ini cerita karena saya sendiri tidak punya pandangan *sigh*
dan soal tokoh-tokohnya ini masih sedikit yang saya tampilkan, mungkin di chapter 3 atau 4 baru bermunculan*sebenarnya udah bikin 4 chapter tapi masih mau diedit lagi*
mohon maaf atas keanehan fic ini _ _)a
dan terima kasih untuk yang sudah membaca ^ ^)

mata ne

About