Memulai cerita..
Di kawasan hutan yang jaraaaaang sekali ada manusia mendatanginya. Hiduplah seekor kecebong dan ulat bulu. Kecebong itu bernama Kemalabong, dan ulat tersebut bernama Kemalut. Kehidupan mereka jelas berbeda. Kecebong itu berenang di rawa, dan si Ulat pun masih hinggap di daun-daun hijau yang lebat, batang-batang yang tinggiiiiiiii sekali. Namun, takdir memberlakukan mereka dengan penyatuan kasih. Mungkin sepertinya tidak mungkin, namun itulah yang terjadi. Mereka saling menyayangi, memiliki cinta yang sama tumbuh di diri.
Kemalabong, selalu menanti, si Kemalut datang sesaat Senja memboyong keindahan arakan mega. Selalu ada cerita yang dibagi mereka. “Kau tahu Kemalut?” “Apa?” “Senja ini adalah kamu. Membawa keindahan sebelum malam tampilkan dingin di rawa ini..” “Tapi, Senja sementara, Bong.. aku takut kesementaraan itu lebih cepat..” “Janganlah takut, Lut. Aku kan selalu menjadi semua itu untukmu.” ”Kamu tahu, Bong? Aku pasti akan sedih, jika waktu itu tiba. Aku tidak ingin jadi kepompong!” “Semua kepastian pasti akan terjadi, Lut..” “Aku juga pasti cepat atau lambat aku akan dapat meloncat-loncat menyusulmu..” “Tapi…” “Tapi kenapa, Lut?” “Aku takut terbang, aku ingin sama melompat sepertimu..!”
Dua minggu kemudian, si Kemalut menjadi kepompong. Kemabong sangat kesepian, kini ditiap sore hari, ia sendiri. Kaki kecil mulainya mulai tumbuh. Kemudian ia menulis surat untuk Kemalut..
Untuk Kemalut di Senja nanti
Lut, Aku sangat kesepian merapalkan kedinginan ini tanpamu.. Aku hilang diri, dan hilang hari.. tanpamu.
Lut, Aku takut nanti kau akan lupa segala hal, yang sebelumnya. Termasuk aku, si Kecebong.. yang kini menjadi seekor katak kecil. Tapi aku menunggumu, Lut.. Aku ingin menjadi binatang pertama, yang melihat mekar sayapmu yang indah..
Kau akan berjanji bukan? Kau akan mengajakku terbang, mengelilingi awan. Dan aku akan mengajakmu meloncat, mengelilingi daratan.
Tapi, aku tahu.. hukum alam. Tentang perdaan kita. Meski selama ini cinta yang menyatukan kita. Aku akan membawa bulu-bulu yang jatuh di tepi rawa. Aku akan merangkai rumah daun untukmu, dan setelah itu janganlah kau mencariku, Lut. Kita terlalu berbeda untuk disamakan. Ingatlah aku, atau lupakan semua. Bahwa masih ada cinta untukmu. Bahwa aku kini pergi jauh, untuk melihatmu dari dekat. Jangan menangis Lut… Aku akan tetap mengenangmu, kau kekasihku.. Kupu-kupu cantik yang sebentar lagi akan menjadi kupu-kupu terindah..
Aku akan pergi, dan kau tak akan mengenaliku. Karena aku telah menjadi katak, ketika kau membaca surat ini. Tapi aku tahu, ketika sayapmu kelak akan mekar, aku ada melihat dan menghapal kupu-kupuku.. Selamat tinggal Kemelut… jangan mencari aku, karena aku dekat denganmu. Kau tidak akan sendiri, percayalah..
si Kecebong yang mencintaimu
Kemabong
Setelah sekian lama kemudian, akhirnya Kemelut bangun dari tidurnya yang lelap. Kini kemelut telah menjadi kupu-kupu yang sangaaaat indah. Ketika itu Kemabong setia, di sudut yang tidak diketahui Kemelut. Kemelut langsung terbang dengan tergesa-gesa ingin lekas menemui Kemabong. Namun tidak ada jejak kemabong sama sekali, Kemelut berteriak-teriak berulang-ulang kali. Akhirnya dia menemukan surat, di sebuat rumah daun yang indah sekali. Ya, Kupu-kupu masih itu langsung terkapar tak berdaya, terbang dengan sempoyongan, setelah membaca surat dari Kemabong.
“Kau tahu, Kemabong… selama lima tahun, aku masih menggenggam suratmu ini.”