Rabu, 08 Februari 2012

URASHIMA TARO

 
Urashima Taro adalah legenda Jepang tentang seorang nelayan bernama Urashima Taro. Ia diundang ke Istana Laut (Istana Ryugu) setelah menyelamatkan seekor penyu. Dalam catatan sejarah Provinsi Tango (Tango no kuni fudoki) terdapat cerita berjudul Urashima no ko, tapi menceritakan tentang delapan bidadari yang turun dari langit. Selain itu, kisah Urashima Taro disebut dalam Nihon Shoki dan Man'yoshu. Cerita yang sekarang dikenal orang adalah versi Otogizōshi asal zaman Muromachi. Seperti lazimnya cerita rakyat, berbagai daerah di Jepang masing-masing memiliki cerita versi sendiri tentang Urashima Taro.

Seorang nelayan bernama Urashima Taro menolong seekor penyu yang sedang disiksa sekawanan anak-anak. Sebagai rasa terima kasih telah ditolong, penyu mengajak Taro berkunjung ke Istana Laut.


Dengan menunggang penyu, Taro pergi ke Istana Laut yang ada di dasar laut. Di sana, Taro bertemu putri jelita di Istana Laut yang bernama Putri Oto. Bagaikan mimpi, Taro ditemani Putri Oto selama beberapa hari. Hingga akhirnya Taro ingin pulang. Putri Oto mencegahnya, tapi tahu usahanya akan sia-sia. Putri Oto memberinya sebuah kotak perhiasan (tamatebako), dan berpesan agar kotak tidak dibuka.

Dengan menunggang seekor penyu, Taro tiba kembali di kampung halamannya. Namun semua orang yang dikenalnya sudah tidak ada. Taro merasa heran, lalu membuka kotak hadiah dari Putri Oto. Asap keluar dari dalam kotak, dan seketika Taro berubah menjadi seorang laki-laki yang sangat tua. Menurut perhitungan waktu di dasar samudra, Taro hanya tinggal selama beberapa hari saja. Namun menurut waktu di daratan, Taro pergi selama 700 tahun.

 

PUTRI KAGUYA






Putri Kaguya (Kisah Putri Kaguya) atau Taketori monogatari (Kisah Pengambil Bambu) adalah cerita rakyat Jepang yang tertua. Kisah seorang anak perempuan yang ditemukan kakek pengambil bambu dari dalam batang bambu yang bercahaya.

Di zaman dulu hiduplah seorang kakek bersama istrinya yang juga sudah tua. Kakek bekerja dengan mengambil bambu di hutan. Bambu dibuatnya menjadi berbagai barang, dan orang-orang menyebutnya Kakek Pengambil Bambu. Pada suatu hari, ketika kakek masuk ke hutan bambu, terlihat sebatang bambu yang pangkalnya bercahaya. Kakek merasa heran dan memotong batang bambu tersebut. Keluar dari dalam batang bambu, seorang anak perempuan yang mungil, tingginya cuma sekitar 9 cm tapi manis dan lucu. Anak perempuan tersebut dibawanya pulang dan dibesarkannya seperti anak sendiri. Sejak itu, setiap hari kakek selalu menemukan emas dari dalam batang bambu. Kakek dan nenek menjadi kaya. Dalam 3 bulan, anak perempuan yang dibesarkan tumbuh menjadi seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan putri ini sulit ditandingi, begitu cantiknya sehingga perlu diberi nama. Orang-orang menyebutnya Putri Kaguya (Nayotake no kaguya hime).

Berita kecantikan Putri Kaguya tersebar ke seluruh negeri. Pria dari berbagai kalangan, mulai dari bangsawan hingga rakyat biasa, semuanya ingin menikahi Putri Kaguya. Mereka datang berturut-turut ke rumah Putri Kaguya untuk meminangnya, namun terus menerus ditolak oleh Putri Kaguya. Walaupun tahu usaha mereka sia-sia, para pria yang ingin menikahi Putri Kaguya terus bertahan di sekeliling rumah Putri Kaguya. Satu per satu dari mereka akhirnya menyerah, dan tinggal 5 orang pria yang tersisa, yang semuanya pangeran dan pejabat tinggi. Mereka tetap bersikeras ingin menikahi Putri Kaguya, sehingga Kakek Pengambil Bambu membujuk Putri Kaguya, "Perempuan itu menikah dengan laki-laki. Tolong pilihlah dari mereka yang ada." Dijawab Putri Kaguya dengan, "Aku hanya mau menikah dengan pria yang membawakan barang yang aku sebutkan, dan sampaikan ini kepada mereka yang menunggu di luar."

Ketika malam tiba, pesan Putri Kaguya disampaikan kepada kelima pria yang menunggu. Pelamar masing-masing diminta untuk membawakan barang yang mustahil didapat, mangkuk suci Buddha, dahan pohon emas berbuah berkilauan, kulit tikus putih asal kawah gunung berapi, mutiara naga, dan kulit kerang bercahaya milik burung walet. Pelamar pertama kembali membawa mangkuk biasa, pelamar kedua membawa barang palsu buatan pengrajin, dan pelamar ketiga membawa kulit tikus biasa yang mudah terbakar. Semuanya ditolak Putri Kaguya karena tidak membawa barang yang asli. Pelamar keempat menyerah akibat dihantam badai di perjalanan, sedangkan pelamar kelima tewas akibat patah pinggang. Berita kegagalan ini terdengar sampai ke kaisar yang menjadi ingin bertemu dengan Putri Kaguya. Kakek Pengambil Bambu membujuk Putri Kaguya agar mau menikah dengan kaisar, tapi Putri Kaguya tetap menolak dengan berbagai alasan. Putri Kaguya bahkan tidak mau memperlihatkan dirinya di depan kaisar. Kaisar akhirnya memutuskan untuk menyerah setelah saling bertukar puisi dengan Putri Kaguya.

Musim gugur pun tiba. Putri Kaguya menghabiskan malam demi malam dengan memandangi bulan sambil menangis. Kalau ditanya kenapa menangis, Putri Kaguya tidak mau menjawab. Namun ketika bulan 9 tanggal 15 (bulan September) semakin dekat, tangis Putri Kaguya makin menjadi. Putri Kaguya akhirnya mengaku, "Aku bukan manusia bumi, tanggal 15 ini di saat bulan purnama, aku harus kembali ke bulan." Identitas sebenarnya Putri Kaguya disampaikan kepada kaisar. Prajurit-prajurit gagah berani diutus kaisar untuk melindungi Putri Kaguya dari jemputan orang bulan. Malam bulan purnama itu pun tiba, sekitar jam 2 malam, dari langit turun orang-orang bulan. Para prajurit dan Kakek Pengambil Bambu tidak mampu mencegah mereka membawa Putri Kaguya kembali ke bulan. Putri Kaguya adalah penduduk ibu kota bulan yang sedang menjalani hukuman buang ke bumi. Sebagai tanda mata, Putri Kaguya memberikan obat hidup kekal (tidak pernah mati) kepada kaisar. Namun tanpa Putri Kaguya, kaisar tidak merasa perlu hidup selama-lamanya. Diperintahkannya obat tersebut untuk dibakar di Suruga, di atas puncak gunung tertinggi di Jepang. Gunung tersebut kemudian disebut "Fushi no Yama," dan akhirnya disebut "Fujiyama" (Gunung Fuji). Obat yang dibakar di atas gunung kabarnya membuat Gunung Fuji selalu mengeluarkan asap hingga sekarang.

KECEBONG

Memulai cerita..

Di kawasan hutan yang jaraaaaang sekali ada manusia mendatanginya. Hiduplah seekor kecebong dan ulat bulu. Kecebong itu bernama Kemalabong, dan ulat tersebut bernama Kemalut. Kehidupan mereka jelas berbeda. Kecebong itu  berenang di rawa, dan si Ulat pun masih hinggap di daun-daun hijau yang lebat, batang-batang yang tinggiiiiiiii sekali. Namun, takdir memberlakukan mereka dengan penyatuan kasih. Mungkin sepertinya tidak mungkin, namun itulah yang terjadi. Mereka saling menyayangi, memiliki cinta yang sama tumbuh di diri.

Kemalabong, selalu menanti, si Kemalut datang sesaat Senja memboyong keindahan arakan mega. Selalu ada cerita yang dibagi mereka. “Kau tahu Kemalut?” “Apa?” “Senja ini adalah kamu. Membawa keindahan sebelum malam tampilkan dingin di rawa ini..” “Tapi, Senja sementara, Bong.. aku takut kesementaraan itu lebih cepat..” “Janganlah takut, Lut. Aku kan selalu menjadi semua itu untukmu.”  ”Kamu tahu, Bong? Aku pasti akan sedih, jika waktu itu tiba. Aku tidak ingin jadi kepompong!” “Semua kepastian pasti akan terjadi, Lut..” “Aku juga pasti cepat atau lambat aku akan dapat meloncat-loncat menyusulmu..” “Tapi…” “Tapi kenapa, Lut?” “Aku takut terbang, aku ingin sama melompat sepertimu..!”

Dua minggu kemudian, si Kemalut menjadi kepompong. Kemabong sangat kesepian, kini ditiap sore hari, ia sendiri. Kaki kecil mulainya mulai tumbuh. Kemudian ia menulis surat untuk Kemalut..

Untuk Kemalut di Senja nanti
Lut, Aku sangat kesepian merapalkan kedinginan ini tanpamu.. Aku hilang diri, dan hilang hari.. tanpamu.
Lut, Aku takut nanti kau akan lupa segala hal, yang sebelumnya. Termasuk aku, si Kecebong.. yang kini menjadi seekor katak kecil. Tapi aku menunggumu, Lut.. Aku ingin menjadi binatang pertama, yang melihat mekar sayapmu yang indah..
Kau akan berjanji bukan? Kau akan mengajakku terbang, mengelilingi awan. Dan aku akan mengajakmu meloncat, mengelilingi daratan.
Tapi, aku tahu.. hukum alam. Tentang perdaan kita. Meski selama ini cinta yang menyatukan kita. Aku akan membawa bulu-bulu yang jatuh di tepi rawa. Aku akan merangkai rumah daun untukmu, dan setelah itu janganlah kau mencariku, Lut. Kita terlalu berbeda untuk disamakan. Ingatlah aku, atau lupakan semua. Bahwa masih ada cinta untukmu. Bahwa aku kini pergi jauh, untuk melihatmu dari dekat. Jangan menangis Lut… Aku akan tetap mengenangmu, kau kekasihku.. Kupu-kupu cantik yang sebentar lagi akan menjadi kupu-kupu terindah..
Aku akan pergi, dan kau tak akan mengenaliku. Karena aku telah menjadi katak, ketika kau membaca surat ini. Tapi aku tahu, ketika sayapmu kelak akan mekar, aku ada melihat dan menghapal kupu-kupuku.. Selamat tinggal Kemelut… jangan mencari aku, karena aku dekat denganmu. Kau tidak akan sendiri, percayalah..
si Kecebong yang mencintaimu
Kemabong

Setelah sekian lama kemudian, akhirnya Kemelut bangun dari tidurnya yang lelap. Kini kemelut telah menjadi kupu-kupu yang sangaaaat indah. Ketika itu Kemabong setia, di sudut yang tidak diketahui Kemelut. Kemelut langsung terbang dengan tergesa-gesa ingin lekas menemui Kemabong. Namun tidak ada jejak kemabong sama sekali, Kemelut berteriak-teriak berulang-ulang kali. Akhirnya dia menemukan surat, di sebuat rumah daun yang indah sekali. Ya, Kupu-kupu masih itu langsung terkapar tak berdaya, terbang dengan sempoyongan, setelah membaca surat dari Kemabong.

“Kau tahu, Kemabong… selama lima tahun, aku masih menggenggam suratmu ini.”


About