Tampilkan postingan dengan label Visual-Kei Fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visual-Kei Fanfic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2014

[FANFIC] Cake, Candle, Smile, Hope, and Tears (D=OUT)



(Rencananya) bikin fanfic dan bakal dipubblish tepat tanggal 16 Januari kemarin *udah lama woii* tapi berhubung laptop waktu itu udah rusak sekitar 10 hari sebelumnya jadi si Kuro (nama laptop author) *gak penting* gak bisa dipake dan baru masuk bengkel(?) tgl 14. Udah bikin ff di laptop adek tapi laptopnya dipinjem temennya sampe lama banget *mewek* ya udah nyerah deh sama ff yg ada disana. Terus si kuro ternyata hampir 1 minggu di tempat servisan *banting abang2nya* /plak. Ya udah akhirnya bikin ini ff waktu Kuro balik deh, dan baru selesai hari ini (10 hari setelah ulang tahun Ibuki :’ ) Ah authornya kebanyakan curhat yaak,
                Saa happy reading minna-sama, semoga ini menjadi awal yg baik setelah saya vakum 2 bulan bikin ff hakhakhak dan TANJOUBI OMEDETOU IBUKI YG KE-30 ~~ 

*****

Title                 : Cake, Candle, Smile, Hope, and Tears

Cast                 : Ibuki D=OUT, Kouki D=OUT

Genre               : Shounen-Ai, Romance, Angst

Rate                 : T
 
Author             : Lycoris

Warning         : Boys Love (MxM) bagi yang tidak suka harap jangan membacanya, OOC, typo(s), dan sekali lagi merasa kurang mendapatkan feel T_T
                          



“Hhhhh...salju lagi.” Ia mendongakkan kepalanya yang tanpa memakai apa-apa. Merasakan tiap butiran putih yang dingin itu. Ia memejamkan mata, merasakan setiap butiran kenangan yang mengalir seperti butiran salju yang turun malam itu. Semuanya mengalir begitu saja, setiap atom kenangan yang tak pernah ia lupakan meskipun toh sekarang sudah ada kenangan baru yang telah ia ciptakan. Tumpukan album lama itu tak akan pernah berdebu dan memudar, malahan ia semakin kuat dengan adanya album yang baru. Namun ia sadar posisinya sekarang, ia tak boleh mencoretkan tinta hitam di albumnya yang baru, memberikan noda sedikit saja pun ia tak menginginkannya. Album yang baru ini yang telah menariknya kembali ke dunia dimana ia seharusnya berada. Tak menangisi album lamanya yang kini sudah tak ada.
Tak terasa mata indah yang terbingkai kaca mata berframe hitam itu meneteskan bening asin yang jatuh menuruni pipi putihnya yang mendingin. 

Tes

Bening asin itu berhasil jatuh ke trotoar tempatnya berdiri sekarang. Ia tak menghiraukan udara yang semakin mendingin dan jalanan yang semakin sepi oleh kendaraan. Hanya pohon bunga sakura yang kini hanya tinggal ranting dan dipenuhi kerlipan cahaya warna warni lampu mainan yang menemaninya. Tak banyak orang berlalu lalang disana.

“.....”
Pemuda manis itu kemudian menundukkan kepalanya. Kedua tangan yang tak memakai sarung tangan itu segera meraih hoodie dan memakainya di kepalanya yang semakin mendingin. Dan ia pun tersenyum miris.

“Dulu...kau yang sering memakaikan hoodie ini ketika salju turun.” Ia berkata lirih.
Dan pada detik berikutnya ia berjalan menjauhi tempat itu menuju tempat hangat yang telah menyambutnya di ujung jalan.

****

Setelah ia memutar kunci pintu apatonya, direbahkannya badan yang letih di sofa berwarna coklat tua setelah seharian berada di bar milik adiknya. Tak lupa kacamata yang setiap hari ia pakai ketika berada di luar ia lepas. Meskipun kerjanya hanya duduk sambil memangku gitar akustik coklat mudanya tapi tentu saja itu melelahkan. Setiap lagu yang berhasil ia bawakan bersama beberapa temannya selalu mendapatkan tepuk tangan yang meriah, dan itu yang membuat ia tak bisa berhenti. Apalagi awal tahun seperti ini, tentu saja bar milik adiknya sedang ramai-ramainya. Ia tak pernah mengeluh sebenarnya. Namun sang adik yang berbeda usia 6 tahun darinya bukannya tak peduli dengan kakaknya yang hampir setiap hari kesana dan memberikan hiburan. Sudah tak terhitung Ken, begitu nama adiknya menyuruhnya untuk istirahat saja di apatonya. Mengingat kesehatannya yang sebenarnya semakin menurun akibat terlalu seringnya ia pulang larut malam di musim dingin seperti ini.

Tapi selalu saja alasan “Aku mencintai gitar Ken kau tau itu kan” menjadi ucapan wajibnya ketika ia harus menghadapi nasehat Ken.

“Hhkk—“ ia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Hari ini sangat melelahkan, hingga kedua matanya sudah berat dan menginginkan untuk dipejamkan. Dan detik berikutnya ia sudah tidak sadar dan sebagian nyawanya sudah ke alam mimpi. Hingga ia tak menyadari keitai hitam yang masih berada di saku celananya bergetar. Membuat seseorang di seberang sana khawatir.
*****
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak bisa menerima panggilan. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi—“ bukan suara itu yang ia inginkan. Dengan setengah kesal dan setengah khawatir ia memencet tombol merah dan memasukkan keitainya kembali ke saku mantelnya.

“Ck, kau kemana saja Ibuki ?” katanya khawatir. Dengan segera ia mempecepat langkah kakinya untuk segera ke tempat yang menjadi satu-satunya tujuan Ibuki, apatonya.

Ibuki, nama pemuda yang telah membuatnya khawatir selama hampir 1 minggu ini. Betapa tidak, s
 Selama itu ia sangat jarang sekali bisa dihubungi. Bukan berarti ia tak pernah mencoba menghampirinya ke apato yang berjarak sekitar 15 km dari apato miliknya. Tapi selalu keadaan kosong yang ia dapatkan. Dan memang hanya malam hari lah pemuda dengan tinggi 182 cm itu bisa menemui Ibuki. Karena pagi hingga malam ia harus bekerja di studio miliknya, mengontrol band-band naungannya untuk recording dan berlatih setiap hari.

“Hari ini akan aku coba lagi, semoga kau disana.” Ucapnya lirih dan dengan membawa sekotak sedang cake strawberry.

Tak membutuhkan waktu yang lama pergi ke tempat Ibuki dengan menggunakan bus malam. Kouki segera turun dari bus yang berhenti tepat di depan apato Ibuki. Dengan udara dingin yang semakin menusuk hingga ke tulang, ia merapatkan mantel dan syal biru tua pemberian Ibuki sebagai kado natal kemarin. Dan bisa dipastikan syal itu selalu Kouki pakai setiap hari. Karena menurutnya semua benda yang Ibuki berikan kepadanya adalah benda-benda yang berharga dan akan terus ia pakai.

Kamar Ibuki berada di lantai 10, tepat berada di sebelah lift. Kouki sudah memegang kenop pintunya dan sudah bersiap memasukkan kunci duplikat. Bukan berarti Kouki tak mendapatkan ijin dari sang empunya apato, justru Ibuki yang dengan tulus memberikannya kepada Kouki. Berharap kalau ada apa-apa Kouki bisa langsung masuk ke dalam apatonya. Dan itu yang membuat Kouki semakin menyanyangi Ibuki, Ibuki memberikan kepercayaannya kepada Kouki.

Tapi ternyata kunci itu tidak bisa dimasukkan. Aneh, apa mungkin Ibuki sudah di dalam ? pikirnya. Kemudian dengan perasaan penasaran Kouki menekan memutar kenop pintu dan mendorongnya. Terang. Berarti benar Ibuki di rumah. Karena beberapa hari ini ketika Kouki ke tempat Ibuki ruangan itu selalu gelap. Menandakan sang pemilik belum pulang. Sedikit perasaan lega terpancar dari senyumannya. Namun ia juga masih sedikit ragu apakah Ibuki di ruangannya.

Kouki mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terdapat 2 sofa untuk satu orang dan sebuah sofa panjang yang membelakanginya. Kouki mulai masuk dengan tak lupa menutup pintu itu pelan.

Ia mulai memanggil nama Ibuki, “Ibu—“ belum sempat ia meneruskan. Kedua mata tajamnya menatap sesosok tubuh lemah yang terlihat sangat kelelahan tertidur pulas. Sosok yang sangat ia rindukan, sosok yang telah membuatnya selama 1 minggu terakhir ini khawatir sekaligus kesal. Namun semua itu hilang setelah ia melihatnya yang sedang menjelajahi alam mimpi. Kouki tersenyum, dihampirinya sosok yang lebih kecil darinya. Ia berjongkok di depan sofa tempat Ibuki tidur. Dengan seksama ia melihat wajah Ibuki serta setiap tarikan serta hembusan nafasnya. Disibakkannya rambut Ibuki yang menutupi sebagian muka Ibuki. Manis, itu yang selalu Kouki lihat darinya. Perlahan ia mengelus pipi Ibuki dengan jari tangan kanannya.

“Kau kemana saja baka ?” ucapnya lirih namun penuh dengan perhatian.

Selama beberapa saat ia masih memandang wajah pulas itu tanpa berani membangunkannya. Kouki tau Ibuki pasti melakukan kegiatan yang telah menyita tenaganya selama satu minggu ini. Tapi yang ia heran, kenapa Ibuki tak pernah memberikannya kabar ? meskipun itu hanya sebuah e-mail yang menunjukkan dimana ia berada.

Baka, kau tau tak tahu ya aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau ini tetap tak berubah, melakukan sesuatu tanpa pernah bilang kepada orang lain.”

Kemudian dengan lembut ia meraih tangan Ibuki dan menariknya dengan pelan. Kouki memposisikan tubuhnya setengah berjongkok di depan Ibuki dan kemudian membopong Ibuki menuju kamar yang tak jauh dari ruang tamu itu. Dengan pelan Kouki membaringkan Ibuki ke ranjang berbeludru pastel polos. Kouki tak lupa mencopot mantel Ibuki dan segera menyelimuti Ibuki agar tak kedinginan.

Oyasumi.” Ucapnya lembut dan disertai kecupan di kening Ibuki. Dengan pelan Kouki berjalan menjauhi kamar tidur Ibuki dengan tak lupa mematikan lampunya dan menutup pintu. Pemuda dengan tindikan di bawah bibirnya itu pun teringat kepada sekotak cake strawberry yang ia beli di toko cake favorit mereka berdua. Diambilnya kotak itu yang berada di atas meja depan sofa Ibuki tadi tertidur.

“Akhirnya, bukan aku lagi yang harus memakannya.” Kouki berjalan membawa sekotak cake itu ke dapur kecil milik Ibuki dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin.

Setelah di rasa cukup, Kouki merapikan pakaiannya. Di lihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul 00:17 dari jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Sudah larut, aku harus pulang. Lagi pula kurasa ia akan baik-baik saja besok.” Ia berkata sendiri dan sesuatu hampir terlupa. Segera ia mengambil kertas yang memang sengaja Ibuki sediakan di atas meja ruang tamunya. Kouki menuliskan sesuatu disana dan menempelkannya di pintu lemari pendingin dengan magnet berbentuk bebek kuning pemberian Kouki. Setelah dirasa pekerjaannya selesai ia segera beranjak dari tempat itu. Tak lupa ia mengunci pintunya kembali. Dengan perasaan lega ia berjalan menuju lift.

Ternyata di luar salju telah reda. Namun meninggalkan udara dingin yang lebih dingin dari tadi. Dengan segera ia berjalan atau lebih tepatnya setengah berlari menuju halte yang tak jauh dari sana. Tak memerlukan waktu lama, bus terakhir malam itu tiba dan Kouki segera naik ke atasnya menuju apatonya sendiri.

*****

Sinar matahari yang hangat mengintip dari celah-celah korden berwarna putih tipis di kamar berukuran sedang yang di dalamnya terdapat seorang pemuda yang masih tertidur dengan pulas sambil memeluk gulingnya. Namun rupanya sinar matahari itu cukup bisa membuatnya terbangun. Dengan malas ia mengucek kedua bola matanya yang masih lengket. Dalam keadaan yang nyawanya baru setengah Ibuki menatap langit-langit kamarnya. Tunggu, kamar ? sejak kapan ia berada di dalam kamarnya ? bukankah terakhir kali ia ingat kalau dia sedang tertidur di sofa ruang tamu ? Lalu bagaimana ceritanya ia bisa berada di dalam kamarnya yang hangat ini ? Toh tidak mungkin ia berjalan sendiri ketika ia tidur. Mengingat ia tak pernah melakukannya selama ini.

Daripada ambil pusing lebih lama lagi, ia segera duduk di tepi ranjangnya yang empuk. Dilihatnya pula mantel coklat tuanya tergantung rapi di tempatnya. Berarti ia tak mungkin berjalan sendiri semalam. Ah, bodoh biarkan saja, pikirnya. Di tengoknya jam digital berbentuk persegi panjang yang berada di atas meja sebelah tempat tidurnya.

07.15

Dengan langkah sedikit berat, ia berjalan keluar kamarnya dan berniat mengambil sebotol air mineral dingin di dapurnya. Letak dispenser yang bersebelahan dengan lemari pendingin telah membuat kedua mata Ibuki terbuka lebar, nyawanya terkumpul semua sekarang. Ia menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sangat ia kenal menempel di pintu lemari pendinginnya.

“Aku yang membawamu ke kamar. Kau sudah membuatku khawatir seminggu ini. Ah iya aku membawakanmu cake strawberry kesukaanmu, makanlah. Dan jangan lupa hubungi aku setelah kau membaca Ini.”
Kouki

Ibuki tersenyum. Ternyata Kouki semalam ke apatonya dan dengan susah payah membawanya ke dalam kamar dan tak lupa juga ia mampir ke toko cake langganan Ibuki dan membelikannya. Kouki sangat perhatian, pikirnya. Sangat berbeda dengannya yang hampir satu minggu ini melupakannya. Bukan melupakan sebenarnya, namun ia tak mau menganggu Kouki yang sekarang tengah di sibukkan dengan tugasnya sebagai kepala record label yang cukup terkenal. Meskipun usianya tergolong muda untuk mencapai ‘titel’ kepala, tapi tak mudah ia bisa mencapai kesana. Dan Ibuki tau seberapa keras usahanya untuk bisa menjabat sebagai kepala. Oleh karenanya Ibuki tak ingin terlalu tergantung dengan Kouki dan membuatnya khawatir. Lagi pula sejak dulu Ibuki sudah bisa sendiri tanpa merepotkan siapa pun. Dan untuk urusan kenapa sekarang ia hampir setiap hari ke bar milik Ken karena ia sedang libur dari pekerjaannya sebagai kepala cabang sebuah perusahaan alat musik, pekerjaan yang sangat ia harapkan sejak dulu. Sesuatu yang berkutat dengan musik. Meskipun ia bukan musisi atau apa. Tapi sejak remaja ia sudah mencintai gitar dan belajar memainkannya secara autodidak. Makanya untuk mengisi waktu luang ia sekarang hampir setiap hari ke tempat Ken, adik tirinya untuk sekedar memainkan beberapa lagu.

Namun sepertinya ia memilih tempat yang salah. Karena ia semakin kecanduan untuk pergi ke sana setiap hari. Dimulai dari pkl 11 siang hingga larut malam. Ia begitu menikmati bermain gitar bersama teman-teman Ken yang usianya tak jauh darinya. Sebuah pertemanan yang tercipta karena musik yang telah terbentuk hampir 7 tahun yang lalu. Dan melalui bar Ken lah ia bisa berkumpul dengan teman-temannya dan bermain bersama mereka hingga lupa waktu.

Setelah mengambil segelas air minum, kemudian Ibuki membuka ke dalam lemari pendinginnya dan mendapati kotak berwarna putih dengan beberapa motif polos yang manis. Di ambilnya kotak tersebut dan membawanya ke atas meja ruang makannya. Dengan hati berbunga bak anak kecil yang baru saja diberikan kue ia membuka kotak itu. 2 slice cake strawberry dengan strawberry merah di atasnya menyambutnya. Betapa ia sangat merindukan memakan makanan manis itu. Sudah hampir 2 minggu ia tak merasakan rasa manis serta lembut cake itu. Semuanya karena kesibukannya dan kesibukan Kouki yang biasanya mereka berdua pergi bersama kesana.

Ah iya, ia jadi merasa sangat bersalah kepada Kouki. Ia benar-benar tak mencoba menghubungi bahkan memberi kabar kepadanya sama sekali. Setelah menaruh 1 slice cake strawberry di atas piring kecil kemudian ia mengambil iPhone hitamnya yang masih berada di dalam kamarnya. Kemudian ia mencari kontak e-mail Kouki. Ia menyentuh layar iPhonenya, menyentuh beberapa alphabeth yang ada disana hingga menyusun kata-kata dan mengirimkannya ke alamat e-mail Kouki.

Ibuki meletakkan kembali iPhonenya di atas meja makan dan mulai memakan cake itu tanpa tersisa sedikitpun sambil menunggu e-mail balasan dari orang yang sudah berbagi perasaan dengannya hampir 2 tahun ini.

*****

Kouki masih tertidur di atas kasurnya yang nyaman ketika dering dari iPhone dengan chase Kyojin dari anime yang sedang trend beberapa bulan ini. Mau tak mau ia harus bangun dan tangannya meraih iPhone yang terletak tak jauh dari ranjangnya. Sebuah e-mail dan itu dari seseorang yang baru semalam ia temui. Ibuki

From : Ibuki
Subjek : Ohayou
Gomen, aku membuatmu khawatir. Aku sedang memakan cake darimu, rasanya enak sekali seperti biasanya. Aku ingin berbicara denganmu tapi aku tahu kau pasti sibuk kan hari ini, jadi mungkin nanti malam saja aku akan ke apatomu setelah aku ke tempat Ken. Eh jangan lupa jaga kesehatanmu baka.

Kouki tersenyum sendiri. Meskipun ada yang ganjil di akhir kalimat Ibuki dengan menyebutnya baka tapi itu yang sangat Kouki rindukan. Ia merasa sudah lama Ibuki tidak memanggilnya demikian.

Sekarang moodnya telah terisi dengan baik. Ia bangun dan bersiap mandi kemudian berangkat ke kantor sekaligus studio musik itu. Tapi ia melupakan sesuatu, besok 16 Januari, 2 peristiwa yang sangat berkebalikan bagi Ibuki.

*****

Setelah membereskan apatonya Ibuki segera beranjak ke dalam kamar mandi, membersihkan badannya. Berendam dengan air hangat tidaklah buruk juga. Cukup lama ia menikmati air hangat yang hampir saja membuatnya tertidur. Namun ia segera teringat bahwa hari ini ia harus ke tempat Ken lagi.

Sekitar 15 menit bersiap-siap kini Ibuki telah siap untuk berangkat. Celana jeans biru, kaos lengan panjang yang ia tekuk, mantel coklatnya, syal berwarna kuning gading, boots berwarna coklat tua senada dengan mantel hangatnya, sebuah tas samping dan tak lupa kacamata yang selalu ia pakai jika keluar.

“Yoosh, ittekimasu ! “ Ibuki berjalan ke depan pintu, hingga kedua bola matanya tak sengaja melihat kalender duduk yang berada di sebelah sofa. 16 Januari.

“Besok ya..” ia berhenti dan terdiam. Sebuah senyum yang tak terbaca entah itu sedih atau bahagia tergambar. Hatinya masih ragu akankah ia harus tersenyum atau menangis.

“Rei......” dan akhirnya ia pergi meninggalkan apato setelah menguncinya.

*****

Ken menyambut kakaknya dari balik meja bar. Tumben ia berada disana, pikirnya.

Ohayou Ibuki-Nii.” Sapanya seperti biasanya.

Ohayou Ken-chan.” Balasnya seperti biasa.

Meskipun Ibuki tersenyum seperti biasanya, tapi matanya tidak. Ken bisa membaca jelas. Dan ia pun mengerti kenapa kakaknya seperti itu. Besok 16 Januari.

“Hei Ken, doushite ?” Ibuki melambai-lambaikan tangan kanannya ke depan muka Ken yang bengong.

Ken segera sadar, “Kau tidak apa-apa hmm ?” ucap Ken langsung. Ibuki yang tidak menyangka akan pertanyaan adiknya hanya bisa tersentak kaget dan terdiam.

“...”

“Aku tidak tahu.” Jawabnya singkat.

Dan Ken sepertinya merasa bersalah karena sudah menanyakan hal yang sangat ‘peka’ kepada kakakknya.

Gomen Ibuki-Nii.” Katanya lemah.
 
“Ah daijoubu.” Ibuki (memaksakan) tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Ken yang mulai panjang itu.

Untuk mencairkan suasanan yang tegang itu pun Ken segera memberikan gitar akustik Ibuki yang sengaja ia tinggal disana. Dan Ibuki dengan senang hati menerimanya. Ia duduk di sofa berwarna merah di pojok ruangan, dengan khusyuk ia memetik setiap senar sehingga menciptakan harmonisasi yang bisa membuat orang menikmatinya.
.
.
.
Masih sore, namun Ibuki sudah tak ada di panggung bersama Ken, Takeru, Iv, dan Ko-Ki. Tak seperti biasanya ia pulang lebih awal dan meninggalkan gitar akustiknya bersender di pojok panggung. Ken mengerti bagaimana perasaan kakaknya sekarang. Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena itu masalah hatinya. Yang bisa Ken lakukan hanyalah selalu memberikan dukungan untuk sang kakak.

Ibuki berjalan menyusuri trotoar yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Tokyo memang seperti ini, selalu ramai oleh rutinitas. Dulu, ia memang masih bisa merasakan apa itu keramaian. Namun semenjak peristiwa itu ia tak pernah lagi bisa merasakannya. Terlalu sepi.

Walau pun ia juga telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu ada untuk ada Kouki tapi sepertinya ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Reika masih mengisi ruang yang tak bisa Kouki masuki.

Cukup jauh ia berjalan tapi ia tak merasakan kelelahan sedikit pun. Ibuki tak tau akan kemana, ia hanya membawa kedua kakinya menjauhi keramaian.

Dan akhirnya sampailah ia di tempat itu. Sebuah taman bermain di pinggir kota. Tak luas memang dan tak banyak pengunjungnya. Tapi disitulah dulu ia dan Reika menghabiskan masa kecil mereka hingga menginjak sekolah menengah atas. Reika dan Ibuki selalu bersama. Hingga muncul sebuah perasaan lain di hati keduanya. Perasaan yang sebenarnya tak diperbolehkan. Namun apa yang bisa mereka perbuat ? mereka hanyalah 2 orang anak muda yang bisa saling berbagi dan mengisi. Dan mereka tak bisa menampik perasaan yang dinamakan ‘cinta’ itu.

Hubungan yang berlangsung sudah lebih dari 7 tahun. Meskipun pada akhirnya mereka tak berada di kota yang sama dan sering menghabiskan waktu bersama, tapi setiap akhir pekan Reika akan menghampiri Ibuki dan mangajaknya jalan-jalan atau hanya sekedar menghabiskan waktu berdua. Dan tempat ini adalah tempat wajib bagi mereka berdua.

Angin dingin sore itu tak Ibuki hiraukan. Ia duduk di ayunan yang kakinya kini bisa menyentuh tanah. Dulu Reika akan mendorong Ibuki, dan begitu sebaliknya. Kalau tidak begitu mereka akan berlomba siapa yang paling tinggi berayun, dan Reika selalu jadi pemenangnya.

Ibuki hanya tersenyum pahit mengingatnya. Jika saja malam itu—
Ah apa yang ia pikirkan, batinnya. Bukannya itu sudah terjadi dan sekarang sudah ada Kouki yang menjadi dunia barunya. Kouki yang harus ia jaga dan Kouki yang tak ingin ia sakiti perasaannya.

Kouki, seorang teman terdekat Reika ketika mereka kuliah. Kouki yang selalu menjadi pendengar baik Reika ketika pemuda dengan lesung pipi itu menceritakan bagaimana Ibuki (dulu Ibuki dan Reika memang tak berkuliah di tempat yang sama). Bagaimana Ibuki yang tak mau dibantu oleh orang lain, bagaimana Ibuki yang selalu berusaha menang dengan Reika dari dulu, bagaimana Ibuki yang dengan malu-malu memberinya sebuah hadiah, dan bagaimana Ibuki mencintainya. Semua Kouki dengarkan dengan benar-benar, karena ia tau kalau Reika juga sangat mencintai Ibuki sejak mereka kecil. Hingga Kouki bertatap muka dengan Ibuki ketika mereka berdua ke Tokyo untuk menemuinya. Bisa Kouki lihat mata yang hanya terfokus kepada Reika, mata yang hanya terpancar sosoknya. Dan Kouki sedikit iri dengan Reika karena mendapatkan seseorang seperti Ibuki.

Setiap Reika tak ada dulu Kouki yang akan menemani Ibuki. Reika sangat mempercayakan Ibuki kepadanya. Begitu juga Kouki yang telah mendapat kepercayaan Reika untuk menjaga Ibuki.

Hingga malam itu, Kouki mendapatkan kabar yang membuatnya tak bisa percaya. Seakan itu semua hanyalah kekonyolan yang Reika buat seperti biasanya. Tapi sepertinya ia harus menerimanya, karena yang paling pahit bahwa apa yang didengarnya adalah kenyataan, semuanya nyata.

Reika meninggal karena kecelakaan beruntun tepat di malam ulang tahun Ibuki.

Segera setelah mendapat kabar dari rumah sakit yang membawa tubuh kaku Reika, Kouki segera pergi ke tempat Ibuki dengan mobilnya. Karena seperti yang dikatakan oleh rumah sakit bahwa hanya Kouki yang baru diberi tahu. Oleh karena itu Kouki dengan perasaan dan bibir yang berusaha ia susun segera pergi ke Ibuki yang tengah menunggu Reika di taman bermain.

3 hari sebelumnya Ibuki memang sudah diberi tahu oleh Reika agar menunggunya di taman  bermain itu. Ia ingin merayakan tanggal lahir Ibuki dan memberikannya kejutan. Tapi sepertinya sudah lewat 2 jam ia berada di taman itu sendirian. Reika tak kunjung datang dan Ibuki semakin kedinginan. Sebenarnya ia sangat ingin menghubungi Reika, tapi pemuda itu sudah memberikan ‘tantangan’ agar tak menghubunginya sama sekali selama 3 hari. Awalnya Ibuki menerima dengan senang hati tantangan itu, tapi tidak untuk malam itu. Perasaan Ibuki sudah tidak enak sejak pagi hari. Ia sudah berkali-kali mengetik e-mail dan ingin mengirimnya kepada Reika, tapi niat itu selalu terhalang oleh tantangan yang mereka berdua sepakati.

Ibuki masih duduk di ayunan ketika ia melihat sebuah sorot lampu mobil yang semakin mendekat. Itu pasti Reika, pikirnya dengan senang. Namun setelah mobil itu berhenti dan menampakkan seseorang yang turun Ibuki menjadi kecewa dan semakin khawatir.

Kouki berjalan dengan kaku menuju Ibuki yang telah memasang tampang tak mengerti. Ia hampir meneteskan air mata ketika ia melihat Ibuki dari jarak dekat. Sekarang jarak mereka hanya 1 meter. Dengan bibir yang bergetar ia menceritakan semuanya kepada Ibuki dari awal. Reika yang sudah menyiapkan kado sebuah gitar akustik, Reika yang sudah menyiapkan sekotak cake strawberry yang penuh dengan strawberry di atasnya, Reika sudah menyiapkan sebuah sebuah lagu yang akan ia bawakan di depan Ibuki, dan Reika yang sudah menyiapkan sebuah cincin untuk melamar Ibuki malam itu juga. Tapi semuanya hancur, rencana itu hanyalah tinggal rencana belaka. Reika sudah terlebih dulu di panggil oleh Tuhan dalam perjalanannya menuju ke tempat Ibuki.

Malam itu Kouki masih mengingat benar ekspresi apa yang Ibuki keluarkan. Ia hanya tertawa namun tawa itu lama-lama di sertai air mata yang mengalir dengan deras. Tawa Ibuki tak berhenti malah terdengar sangat menyedihkan dan memilukan. Ibuki terduduk di depan Kouki yang tak bisa menahan air matanya juga. Malam itu mereka harus kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup. Seorang sahabat yang tak akan tergantikan serta seorang kekasih yang tak akan pernah tergantikan.
.
.
.
.
Ibuki menangis dalam diam. Semuanya baru seperti kemarin, padahal kejadian itu sudah 3 tahun yang lalu. Tapi nyatanya selama 3 tahun ini ia tak bisa berbohong kalau ia masih belum bisa melupakan semua yang berkaitan dengan Reika. Meskipun ada sosok Kouki yang akhirnya menjadi tempatnya bersandar sekarang. Dulu ia mengira bahwa Kouki hanyalah pelarian, namun ia salah. Semua yang Kouki lakukan untuknya sangat berarti untuknya. Perhatian dan pengertian Kouki kepadanya telah memberikan semangat hidup yang baru untuk Ibuki. Dan yang paling tidak bisa Ibuki lupakan adalah perkataan Kouki kala itu,

“Aku tau Reika tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Tapi aku hanya ingin kau memberiku ruangan agar aku bisa mengisa hati yang telah Reika tinggalkan untukmu.”

Itu yang membuat Ibuki membuka hatinya kembali kepada Kouki, seorang sahabat Reika yang kini menjadi kekasihnya, penyelamatnya.

Sebuah e-mail membawa Ibuki kembali ke dunianya. E-mail itu dari Kouki,

From : Kouki
Subjek : Oi
Kau tak perlu ke tempatku malam ini. Aku tahu dimana kau sekarang dan apa yang kau lakukan. Besok pagi aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali dan kita akan merayakan ulang tahunmu ‘bersama’. Jadi jangan pulang larut malam.

Ibuki hanya tersenyum melihat isi e-mail itu. Kemudian ia pun berdiri dari atas ayunan dan berjalan mencari taksi untuk membawanya pulang.

*****

Kouki sudah bersiap.

16 Januari pkl. 05.05

Dilihatnya kembali album kenangan yang berisikan fotonya dengan sahabatnya Reika. Semuanya masih jelas, kejadian yang mereka berdua alami bersama. Sahabat yang dulunya adalah teman pertama Kouki ketika menginjak bangku kuliah. Oleh karenanya Kouki tak akan pernah bisa melupakannya begitu saja.

Jika ia tak bisa melupakannya lantas bagaimana dengan Ibuki yang sudah mengenal Reika sejak kecil dan pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih ?

Meskipun rasanya sakit tapi Kouki tau dimana posisinya sejak awal. Ia hanya orang luar di dalam kisah mereka berdua. Bahkan sebenarnya ia juga tak pernah mencegah Ibuki untuk menyinggung Reika. Tapi sepertinya Ibuki tau, jika ia melakukan itu maka ia hanya akan menyakiti Kouki. Maka dari itu Kouki sangat tak ingin menyakiti Ibuki sedikit pun, karena pada awalnya Ibuki hanyalah kekasih sahabatnya yang harusnya ia jaga.

Dengan pelan ia menutup album foto itu dan mengembalikan ke tempatnya. Setelah mengambil mantel tebal abu-abu tuanya Kouki mengambil kunci mobil dan sekotak cake strawberry yang kini bertuliskan “Tanjoubi Omedetou Ibuki” dari dalam lemari pendingin. Ia bergegas turun dari lantai 8 apatonya dan menuju basement tempat mobilnya terparkir.
.
.
.
Ibuki masih diam di atas tempat tidurnya. Ia hanya tinggal mengambil mantelnya dan berangkat. Tapi sepertinya mimpi semalam masih membuatnya malas untuk beranjak.

Di dalam mimpinya ia melihat Reika kecil yang mengajaknya bermain ayunan seperti dulu namun yang berbeda ada seorang anak kecil lagi yang mengajaknya bermain. Ia tak mengenalnya tapi ia yakin wajah anak kecil itu sangat mirip dengan seseorang. Reika kecil pun hanya tersenyum dan memberikan tempat di ayunan itu untuknya. Kemudian ia pergi dengan membawa kotak kecil yang Ibuki tak tahu isinya apa. Hingga Ibuki terbangun dengan air mata yang menetes tanpa ia sadari.

Ibuki kemudian beranjak dari ranjangnya dan mengambil mantel yang menggantung. Ia tak mau membuat Kouki harus naik ke lantai 10. Setelah mengunci pintu dan turun dengan lift, Ibuki berdiri diam di pinggir jalan di depan apatonya.

“Hooamm.” Ia menguap, rupanya ia masih mengantuk karena semalam ia tidur jam 1 karena keitainya tak berhenti berdering akibat e-mail ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, mobil hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya. Kaca hitam mobil itu pun terbuka, menampakkan Ibuki yang tersenyum ke arah Ibuki.

“Ohayou, kau siap kan ?” ucap Kouki dengan suara serta senyum khasnya.

Ibuki hanya mengangguk dan tersenyum. Kouki pun membuka pintu mobilnya dan membiarkan Ibuki masuk dan duduk tepat di sebelahnya. Dan Kouki pun mengemudikan mobilnya menjauhi keramaian kota Tokyo.

“Kita akan kemana ?” tanya Ibuki di tengah perjalanan setelah cukup lama mereka terdiam.
Kouki tersenyum dan pandangannya masih terfokus pada jalanan yang mereka lalui.

“Kau akan tau, bukankah kemarin sore aku sudah bilang bahwa kita akan merayakan ulang tahunmu ‘bersama’ hmm ?”

Ibuki hanya mendengus pelan, dan menyenderkan kepalanya ke jok mobilnya. Dengan sesekali melihat pemandangan di pinggir jalan. Ini—sangat familiar, jalan yang mereka lalui. Segera Ibuki menoleh ke Kouki dan Kouki hanya tersenyum penuh arti.
.
.
.
Setelah perjalanan yang cukup lama, hampir 3 jam tanpa berhenti mereka sampai di tempat yang dituju. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk orang-orang sibuk. Ibuki keluar dari mobil lebih dulu. Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka pintu mobil. Tempat ini masih tak berubah. Sebuah bukit yang merupakan area pemakaman. Dari atas sana bisa dilihat pemandangan kota Aoimori, tempat kelahiran Reika.

Ibuki mendongak ke atas, makam Reika masih di atas. Ia hanya bisa terdiam dan menggigit bibir bawahnya sendiri. Kouki yang berada di belakang Ibuki sambil membawa sekotak cake strawberry dan sebuket bunga lily putih hanya bisa melihat Ibuki terdiam sebelum akhirnya ia menepuk pelan bahu Ibuki dan mengajaknya berjalan ke atas.

“Kau merindukannya bukan ? Aku juga. Oleh karena itu kita kesini.” Kouki berkata tanpa menoleh ke arah Ibuki yang kini masih berada di belakangnya.

Saa ku rasa Reika sudah menunggu kita di atas.” Dengan langkah yang semakin berat Kouki mengajak Ibuki berjalan, meskipun ia tahu sekarang Ibuki tengah menahan air matanya.

Selangkah demi selangkah Ibuki berjalan di belakang Kouki, ini deretan terakhir sebelum deretan makam Reika. Ibuki masih mengingat persis karena ia sering kesini sendirian dulu tanpa sepengetahuan Kouki.

Kouki masih tak mengatakan apa pun ketika mereka sudah sampai di depan makam Reika. Ibuki masih menunduk dan menyembunyikan raut mukanya. Kouki berbalik dan melihat Ibuki.

“Perlihatkan wajahmu baka, atau Reika akan sedih melihatmu seperti itu.”

Ibuki masih terdiam, namun perlahan ia mengangkat wajahnya dan mendapati Kouki yang sudah meneteskan air mata.

“Ada rasa bersalah ketika aku yang harusnya menjagamu malah jatuh cinta denganmu. Seakan aku mengkhianati kepercayaan sahabatku.” Kouki berjongkok ke depan makam dengan nisan hitam bertuliskan “Yamazaki Reika” itu. Ia meletakkan sebuket bunga lily putih ke depan makam Reika sambil terus berkata.

“Dulu ia pernah berkata padaku, jika terjadi apa-apa dengannya ia ingin aku menjagamu dan menggantikan perannya. Aku tak pernah menanggapi serius omongannya itu, tapi sekarang aku tahu ini adalah maksudnya. Tapi aku tak tahu apa jalan yang aku ambil ini benar atau tidak.”

Ibuki masih berdiri tapi kini setetes air mata jatuh. “Baka ! tentu saja ini adalah jalan yang benar. Aku percaya Reika menginginkan ini jika seandainya ia tak ada....seperti sekarang.” Tetes demi tetes air mata turun perlahan dari pipinya.

“Dan aku, aku sangat merindukannya.” Ibuki jatuh terduduk dan menangis. Kouki segera meraih Ibuki dan memeluknya sambil mengelus kepalanya. Membiarkan Ibuki menangis seperti sekarang.

Ne kalau begitu kita harus mendoakannya terus kan ?” Kouki mengangkat wajah Ibuki dengan tangan kanannya. Dan Ibuki hanya mengangguk dengan air mata yang masih mengalir tapi tak sederas tadi.

Ibuki menatap nisan Reika. Kouki membuka kotak cake strawberry dan menyalakan lilin-lilin kecil berwarna warni di atasnya.

“Tanjoubi omedetou Ibuki.” Kouki membawa kue itu ke depan Ibuki.

“Arigatou Kou.” Balasnya dengan senyuman.

“Buat permintaan dan tiup sebelum ada angin yang meniupnya lebih dulu.”

Ibuki menelungkupkan kedua tangannya dan menutup kedua matanya.
“Aku hanya ingin ini semua tak berakhir begitu cepat.” Ucapnya dala hati. Kemudian Ibuki membuka kedua matanya dan meniup lilin-lilin itu.

Setelah itu angin berhembus dan kedua mata mereka melihat sebuah bunga liar berwarna kuning yang tumbuh tepat di samping makam Reika. Bukankah tadi bunga itu tidak ada, pikir mereka berdua. Tapi sepertinya itu adalah hadiah Reika untuk ulang tahun Ibuki dan hubungannya dengan Kouki sahabatnya.

Mereka berdua berjongkok kembali. Kouki kemudian menyalakan beberapa dupa yang ia bawa di saku mantelnya dan menaruhnya di depan makam Reika, Ibuki juga melakukan hal yang sama. Mereka berdoa dan memejamkan mata. Mendoakan agar Reika selalu bahagia di sana.

Setelah dirasa cukup mereka berdua meninggalkan tempat itu dan meninggalkan cake strawberrynya disana. Rasanya begitu lepas. Kerinduan yang selalu menghinggapi mereka berdua terutama Ibuki seakan terobati sedikit demi sedikit. Sampai kapan pun Reika tak akan pernah terganti, Kouki memang kekasihnya sekarang. Tapi tempat untuk Reika selalu ada dan tak bisa di huni oleh orang lain.
.
.
.
.
Malam itu setelah mereka bersama-sama merayakan ulang tahun Ibuki di tempat Ken, Ibuki kembali ke apatonya dengan diantar oleh Kouki.

Oyasumi dan sekali lagi tanjoubi omedetou.” Kouki mengecup bibir Ibuki pelan dan pamit pergi.

Ibuki mengangguk dan menutup pintu apatonya. Tangan kanannya masih meraba kalung dengan dua cincin yang menjadi liontinnya pemberian Kouki sebagai hadiah ulang tahunnya. Kouki selalu mempunyai cara untuk membuatnya bahagia, dan itu yang membuat Ibuki berjanji tidak akan menyakitinya.

Setelah melepaskan mantelnya dan menaruh tasnya di tempat biasanya ia berjalan ke tempat tidurnya. Namun betapa terkejut dia, sebuah foto dirinya bersama Reika sewaktu kecil berada di atas tempat tidurnya. Seingatnya ia tak pernah memiliki foto ini. Kemudian ia tersadar, Reika memberikan foto itu untuknya dan seakan mengatakan bahwa Ibuki juga tak pernah terganti. Ibuki kembali meneteskan air mata dan bibirnya mengucapkan “Arigatou” tanpa suara.

**OWARI**




Jumat, 18 Oktober 2013

[FANFIC] PAPER CRANES (BORN)



Title                 : PAPER CRANES
Author             : Lycoris
Fandom           : BORN
Cast                 : Ray, K, Tomo
Genre              : AU, Romance, Angst, Shounen-Ai
Rate                 : PG-13
Warning !        : OOC, typo(s), feel gak dapet 



“Aku memang bodoh, hanya menanti sebuah bayang-bayang semu”

Tahun pertama, 14 tahun
Aku masih duduk dengan kaki yang terlipat. Terkadang untuk mengusir kebosanan ku lempar beberapa batu kecil ke sungai itu, meninggalkan beberapa riak dan kemudian bunyi plung. Kuulangi terus menerus sampai aku bisa menemukan seseorang yang ku tunggu muncul di depannku. 
Namun ketika senja sudah datang tak kunjung ku temukan sosoknya. Apakah dia lupa, pikirku dengan masih berfikiran jernih. Karena tak mungkin dia melupakan janji ini begitu saja. Mengingat 2 tahun yang lalu kami membuatnya dan berjanji akan kembali lagi, disini, di tanggal ini, dan tahun ini.

Tapi..

Sepertinya dia melupakan begitu saja. Sebenarnya aku ingin memarahinya, itu jika ia benar-benar datang sekarang.Tapi nyatanya ia tak datang. Lalu aku mengambil sesuatu dari dalam tas punggung yang dari tadi pagi ku geletakkan begitu saja di sampingku. Sebuah kertas persegi berukuran 15cm x 15cm berwarna kuning. Segera ku tulis sesuatu di sana, setelah ku rasa cukup aku segera melipat kertas persegi itu menjadi sebuah bentuk yang sangat kami berdua sukai. Burung bangau.
Ku letakkan origami bangau kuning itu tepat di bawah pohon momiji yang kini berdaun orange itu. Ku lihat untuk yang terakhir kali sebelum aku pulang ke rumah.

“Hhh...” aku mendesah pelan.

“Kau benar-benar tak datang ya, padahal ini pertemuan pertama kita.”

Kemudian dengan langkah berat aku meninggalkan tempat itu, meninggalkan origami bangau kuning kecil itu sendirian.

Tahun kedua, 15 tahun
Aku terduduk kembali bersenderkan pohon momiji. Memandang ke arah sungai yang luas itu. Untuk membuang waktu ku kerjakan PR yang harus di kumpulkan lusa.

“Ah, aku memang bodoh dalam pelajaran matematika.” Dengusku kelas melihat berderet-deret angka yang membuat pusing otakku.
“Anak itu pasti dengan cepat menyelesaikan ini.” Aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Kembali aku membayangkan saat-saat dulu, ketika aku dan dia berada di satu sekolah dasar yang sama. Setiap hari selalu datang berdua dan pulang berdua pula. Rumah kami pun memang berdekatan. Jadi tak heran bila kami selalu kemana-mana berdua.

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Meskipun harus menguras otak akhirnya PR ku selesai. Meskipun aku tak yakin akan bisa meraih nilai 60.

Ku pandangi langit biru dengan awan yang berarak-arak. Angin sejuk berhembus dengan pelan, membuatku terkantuk-kantuk.

“Hoam..” aku menguap, memang di musim ini membuatku gampang sekali mengantuk. Apalagi aku yang dalam keadaan sedang berada di luar rumah dari pagi hingga sekarang.

‘Kau.....akan datang kan ?’

Ku rebahkan punggung ke rerumputan sekitar pohon momiji, mata coklatku masih memandang langit luas. Semakin lama mataku ini semakin berat, hingga aku pun terlelap.

Ketika ku terbangun, langit yang tadi kuingat masih biru telah berunah warna menjadi orange. Kuusap mataku beberapa kali, memandang sekeliling.

Dia.....tidak datang juga di tahun ini. Aku hanya bisa tersenyum.
Kembali, ku ambil kertas persegi dari dalam tasku. Kali ini berwarna biru cerah. Seperti tahun yang lalu aku menuliskan sesuatu disana, melipatnya menjadi origami bangau dan meninggalkannya di tempat biasanya.

Jaa na....”

Tahun ketiga, 16 tahun
Hampir saja aku ketinggalan kereta pagi ini karena semalam aku tidur telat. Tugas sebagai siswa baru memang sangat merepotkan. Apalagi hari ini aku (sengaja) bolos. Dengan mata yang masih berat aku turun dari kereta.
Ah, udara ini, suasana ini aku sangat merindukannya. Tak terasa tepat satu tahun yang lalu aku terakhir kesini. Dan sekarang aku kesini lagi, menunggunya di tempat itu.
Kubawa kedua kakiku melangkah ke tempat itu. Tempat dimana pohon momiji perkasa itu berada, di tepi sebuah sungai besar yang tak terlalu dalam –aku tahu karena dulu aku sangat sering bermain di sungai itu. Sekarang, aku yang sudah memasuki tahun pertama sekolah tingkat atas tak mungkin lagi bermain-main disana, padahal aku sangat merindukannya.

Tak memerlukan waktu yang lama, hanya memerlukan sekitar 15 menit sampai akhirnya aku sampai kembali di tempat itu.

Ohisashiburi....” aku berkata lirih dan tersenyum. Berjalan menuju pohon momiji yang kini daunnya berwarna orange keemasan.


Lagi. Aku hanya duduk-duduk dan melemparkan kerikil-kerikil ke arah sungai. Menikmati beberapa lembar daun pohon momiji yang jatuh karena tertiup angin.

Aku sudah duduk disini lebih dari 3 jam. Aku terlalu menikmati kesendirian yang telah kau ciptakan ini. Mendengarkan alunan musik yang alam ciptakan. Aaah, coba saja dia ada di sampingku sekarang.
Aku tertegun. Apa...yang barusan aku katakan.


14.26. itu yang jamku perlihatkan. Sepertinya ia tak datang lagi. Dan aku hanya bisa tersenyum. Kubaca kembali komik yang sedari tadi menemanimu mengusir kejenuhan hingga tak terasa aku sudah membaca 6 komik dan 1 novel berukuran sedang.

17.28
“Kau tak datang lagi ya.”

Ku tinggalkan origami bangau berwarna merah itu di tempat biasanya.

Tahun keempat, 17 tahun
Tahun keduaku di SMA. Dan tahun keempatku mengunjungi tempat ini. Masih pohon yang sama dan sungai yang sama. Bahkan ukiran inisial nama itu pun masih ada.
Ku letakkan tas sembarangan, ku keluarkan selembar foto yang selalu diam di samping tempat tidurku. Namun entah kenapa hari ini aku ingin membawanya. Dia yang selalu tersenyum dengan segala kediamannya, dan aku yang tersenyum dengan segala keceriannku. Kita memang dua orang anak yang berbeda yang di pertemukan oleh takdir.

Aku masih menunggunya. Masih berharap ia akan muncul dan menepati janji kita. Tapi, sepertinya dia tak datang lagi. Aku hanya bisa tersenyum.

Matahari mulai tenggelam, beristirahat setelah menjalankan tugasnya. ‘Pekerjaan’ rutinku tiap tahun sebelum aku pulang pun telah aku kerjakan. Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau tua itu di bawah pohon momiji.

Aku tak pernah lelah menunggumu, aku pun tak tahu alasannya.’

Tahun kelima, 18 tahun
Aku kesini lagi, ke tempat dengan pohon momiji yang sedang berdaun orange. Di musim gugur seperti ini sungai di depanku serasa kristal, membiaskan sinar matahari. Aku masih berandai-andai apakah ia akan datang atau tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Tentang masa sekolahku yang sudah berakhir. Dan aku juga ingin mendengar ceritanya tentang masa-masa sekolahnya. Tapi sepertinya bukan itu saja, aku ingin mendengar semua ceritanya ketika aku dan dia tak bersama. Aku sangat ingin.

Tapi.....

Seperti biasa aku hanya duduk bersender pohon momiji dan kini sambil memandangi foto-foto teman SMAku. Jika saja kau satu sekolah denganku.


Kembali ku letakkan origami burung bangau berwarna biru tua itu di tempat biasanya.

Tahun keenam, 19 tahun
Menjadi mahasiswa tak semudah yang ku bayangkan. Tugas disana sini hingga aku hampir saja lupa dengan hari ini. Gomennasai. Tapi aku telah disini sekarang, seperti enam tahun yang lalu.
Sepertinya sekarang aku lebih rajin dari dulu. Kubuka kembali buku tugas yang harus aku selesaikan. Di bawah kanopi pohon momiji dengan khusyuk aku mengerjakan tugasku.

“Heii...tunggu aku !.”

Ku dongakkan kepalaku. Ah aku melihat dua orang anak kecil sedang berlarian berdua. Itu mengingatkanku pada kita. Aku hanya bisa tersenyum.


Matahari telah beranjak turun, dan awan telah berubah menjadi orange. Senja telah datang. Ternyata di tahun keenam ini kau tak datang lagi.

 Sudah selesai, origami bangau berwarna merah muda kini telah diam di bawah pohon momiji.

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Iya bu, nanti akan ku bawakan. Tapi seperti biasa aku akan pulang telat.”

Jaa na..”
Klik

Kutaruh kembali keitaiku ke saku jaketku. Tak biasanya ibu menelfonku ketika aku sedang disini. Sekarang ia menjadi terbiasa, di tanggal ini aku pasti berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.
Aku kembali lagi kesini, di tahun ketujuh di umurku yang sudah menginjak kepala 2. Tak terasa sudah selama ini mengenalnya. Kenangan yang tersimpan dalam dan terbungkus dengan manis. Aku tersenyum mengingatnya.
Kureggangkan badanku, ku lemparkan beberapa kerikil ke sungai yang membentang di depanku. Suasana ini tak pernah berubah, masih sama ketika pertama kali aku kesini.

Kulihat jam yang melingkar di tangan kananku. “Saatnya untuk pulang, kau tak kesini lagi.” Ucapku dengan nada datar. Kuambil kertas persegi berwarna putih dari dalam tasku. Segera ku tulis sesuatu disana.

Origami burung bangau putih itu diam di bawah pohon momiji.

Tahun kedelapan, 21 tahun
Kutulis sesuatu di tepian sungai itu. Ranting kayu yang ku temukan beberapa menit yang lalu rupanya telah menarik perhatianku. Untuk membunuh waktu, ku putuskan untuk mengambilnya dan ku putuskan untuk menulis sesuatu.

Ruisai no hana

Aku kembali lagi ke tempat ini. Tapi sepertinya sekarang aku merasakan apa itu ‘sakit’. Ternyata begitu menyesakkan menunggu seseorang yang kau tak tahu apakah ia akan datang atau tidak. Dan yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu, menunggu, dan menunggu.

Burung dari kertas berwarna orange duduk sendirian di atas batu di bawah pohon momiji.

Tahun kesembilan, 22 tahun
Ternyata aku masih saja setia datang kesini setiap tahun. Mungkin sekarang sudah menjadi ‘tradisi’ setiap tahun. Bangun pagi-pagi sekali, ke stasiun, naik kereta paling pagi, lalu berhenti di tempat ini.

Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut coklat tuaku. Ku rapatkan jaket biru tua yang selalu setia menemaniku selama di musim gugur ini. Angin musim gugur mulai mendingin memang. Kulihat beberapa daun momiji berjatuhan dan ada beberapa yang tertiup angin pergi entah kemana. Jika saja aku bisa seperti mereka.

Masih bisa ku lihat guratan hasil ‘pekerjaan’ kami berdua waktu itu.

RK

Guratan itu akan terus ada selama pohon momiji perkasa ini berdiri dengan gagah di sini. 

‘Sepertinya waktu yang memang tak pernah memihakku.’

Kali ini origami burung bangau berwarna coklat muda yang ku buat. Tak pernah lupa aku selalu menuliskan sesuatu di dalamnya.

“Sampai jumpa tahun depan.” Kataku lirih dan berjalan menjauh.

Tahun kesepuluh, 23 tahun
Aku sengaja ijin dari tempat kerjaku. Beberapa bulan yang lalu aku lulus kuliah dan sekitar 2 minggu yang lalu aku mulai bekerja di sebuah perusahaan game. Kakiku menginjak tanah ini lagi. Musim gugur kesepuluh yang ku habiskan di tempat ini.

Badanku ku tidurkan di rerumputan di bawah pohon momiji. Rasanya nikmat sekali, memandang langit luas. Hanya saja masih ada yang kurang.

‘Ne Ray, ingatlah ini adalah tempat kita. Dan 2 tahun dari sekarang kita akan bertemu lagi disini. Jangan lupa.’

Aku tersenyum getir mengingat perkataannya yang terakhir sebelum kami berdua berpisah.
“Aku tak pernah lupa, tapi kau yang lupa.” Aku bangun terduduk. Kemudian tanganku merogoh sesuatu dari dalam tas. Sebuah kertas persegi berwarna ungu.

Segera tanganku bergerak menulis sesuatu, “Aku mulai terbiasa menunggu sosokmu yang aku tak tahu akan muncul atau tidak.”

Aku berjalan menjauhi origami burung bangau ungu yang kini bersenderkan pohon momiji.

Tahun kesebelas, 24 tahun
Masih di tanggal yang sama seperti sebelas tahun yang lalu. Aku berdiri bersenderkan pohon momiji sambil melihat ke hamparan sungai yang mengalir dengan tenang. Bisa ku lihat beberapa ikan berenang bebas dan beberapa lagi bersembunyi di bebatuan hitam.
Ku rasakan hembusan angin musim gugur yang menerpa wajahku. Aku selalu menikmati kesendirian ini. Mungkin sekarang aku sudah terbiasa bertemankan kesepian dan beberapa kesunyian.

“Kau tak sadar telah mengajariku apa arti kesepian..” aku berkata lirih sambil melihat sebuah perahu kertas yang sedari tadi aku pegang.
“Aku tak pernah meminta lebih kepadamu, aku hanya ingin melihat wajahmu yang sekarang. Itu saja.”

Kemudian aku berjalan ke tepian sungai dan berjongkok. Ku taruh perahu kertas itu di atas air sungai dan melihatnya hanyut terbawa arus yang pelan.

“Jika kau tahu kalau aku masih menunggumu di sini.” Ku tinggalkan bangau berwarna emas itu di tempat biasanya dan kedua kakiku sudah ku perintah untuk berjalan menjauhi tempat itu.

Tahun kedua belas, 25 tahun
Tahun ini aku sengaja datang sangat pagi. Pukul 06.16 aku telah sampai disini. Ternyata anginnya lebih segar jam segini. Entah kenapa aku sangat tak berniat memakai jaket hari ini. Aku hanya memakai kaos panjang berwarna hitam dan celana jeans biru serta sebuah boots coklat yang baru aku beli seminggu yang lalu dari hasil kerjaku.
Aku jadi ingat kau dari dulu kau sangat menginginkan sepatu boots berwarna coklat. Jadi, apakah kau sudah mengabulkan keinginanmu itu ? Aku tertsenyum sendiri jadinya. Banyak hal yang sekarang tak ku ketahui tentangmu.

Ku renggangkan kedua tanganku sejauh-jauhnya, merasakan angin pagi yang menyejukkan. Ku tutup kedua mataku dan aku tak tahu kenapa aku tersenyum.  

Ku pasang headset berwarna putih di telingaku. Sambil duduk bersenderkan pohon momiji dan melihat ke arah sungai aku sesekali menyanyikan sebuah lagu lama. Rasanya damai sekali. Tapi tetap perasaan ini tak pernah damai. Selalu ada yang kurang. Dan kekurangan ini yang sedang aku cari-cari selama 12 tahun aku menunggunya disini.

Doshaburi demo kamawanai to
Subunure demo kamawanai to
Shibuki ageru kimi ga kieteku
Rojiura de wa asa ga hayai kara
Ima no uchi ni kimi wo tsukamae
Ikanai de   ikanai de
Sou iu yo

Dan lagu itu pun masih terus aku ulang-ulang. Rasanya...menyakitkan.

Ku tinggalkan origami burung bangau berwarna hijau muda itu sendirian.

Tahun ketiga belas, 26 tahun
Sesaat aku berpikir jika kau dan aku memang tak pernah di takdirkan untuk saling bertemu. Lalu apa arti dari pertemanan kita selama ini ? Apa arti dari janji yang kita sematkan dengan jari kelingking itu ?
Apakah reinkarnasi itu benar-benar ada ? Dan kalau memang kita tak pernah di takdirkan untuk bertemu di kehidupan ini apakah di kehidupan yang lalu atau di kehidupan yang akan datang kita selalu bersama ?

Ku tatap akar pohon momiji itu.
“Kau kuat ya menopang pohon besar ini selama berpuluh-puluh tahun. Dan kau kuat terhadap musim yang silih berganti.”
“.....”
“Apakah aku juga sekuat dirimu ?”

Aku tak pernah lelah menunggunya dan membuat origami burung bangau ini. Kali ini ku tinggalkan burung bangau berwarna ungu muda.

Tahun keempat belas, 27 tahun
Aku lelah.



Daun orange momiji jatuh dan menutupi origami burung bangau biru tua yang duduk bersenderkan akar pohon.

Tahun kelima belas, 28 tahun
Lagi. Aku kesini lagi. Bukankah tepat setahun yang lalu aku sudah memutuskan untuk tidak kesini lagi ? Perasaan ini terlalu sakit. Hanya menunggu seseorang yang 17 tahun yang lalu memberikan janji akan datang setiap tahun kesini. Tapi apa yang aku dapat ? Aku sama sekali tak pernah mendapati sosoknya berdiri di tepi sungai ini dan tersenyum ke arahku. Hanya pohon momiji dan sungai yang mengalir tepat di depanku berdiri sekarang.

Aku ingin menangis tapi aku tak tahu kenapa aku tak pernah bisa. Yang ku lakukan malah sebaliknya. Aku selalu tersenyum ketika tahu bahwa penantianku selalu sia-sia. Aku hanya tersenyum ketika aku menaruh sebuah pesan yang aku sampai sekarang tak tahu siapa yang membacanya. Aku hanya tersenyum ketika mengingat masa kecil kami dan mengingat janji yang kami buat.

Kekuatan untuk menangis itu tak pernah ada, bahkan hanya untuk meneteskan air mata pun tak pernah ada.
“Ternyata aku sudah sangat bahagia hanya dengan menunggu bayang-bayang semumu. Dan aku tak tahu seberapa kuatnya aku untuk terus menunggumu.”

Kutempatkan origami burung bangau berwarna coklat tua itu di tempat biasanya.

Tahun keenam belas, 29 tahun
“Kau tak akan pernah datang kan ?gumamku lirih sambil meraba guratan inisial nama yang terpatri di pohon momiji.

“Jadi...yang ku lakukan selama ini adalah hal yang bodoh.” Entah datangnya dari mana perasaan sesak ini yang seakan meremat hatiku.  

Tes

Air mata ? kuusap dengan punggung tanganku air mata itu. Ini adalah air mata pertama yang menetes sejak 16 tahun aku menunggunya disini. Aku tersenyum getir tapi sekaligus aku merasa lega. Akhirnya selama 19 tahun ini aku bisa menangisinya.
.
.
.
Ini adalah origami terakhirku. Burung bangau berwarna abu-abu.
“K.....selamat tinggal.” Aku melangkah pergi meskipun dengan berat hati.

Dari awal sebenarnya aku telah merasa kalau ini akan sia-sia. Penantian tanpa ujung yang hanya akan menggoreskan luka lebih dalam. Tapi meskipun begitu aku tetap saja pergi ke tempat ini setiap tahun. Duduk di bawah pohon momiji, melemparkan beberapa kerikil ke sungai, merebahkan punggung di rerumputan, menulis sesuatu di kertas persegi warna-warni, melipatnya menjadi origami burung bangau dan meninggalkannya begitu saja.

Kegiatan yang kuulang-ulang. Tak ada warna lain, hanya monoton. Tapi entah mengapa setiap aku kesini perasaan ini menjadi hangat dan terasa manis. Sesuatu yang sebenarnya menyakitkan tapi aku begitu menikmatinya.

Jadi ini yang di namakan ‘cinta’.





08.13
Aku telah sampai di stasiun. Harus berjalan lagi sekitar 15 menit baru aku sampai ke tempat itu. Aku tak mengerti kenapa aku kesini lagi. Padahal baru semalam aku sampai rumah dan mengistirahatkan badan serta pikiranku.

Tapi pagi-pagi sekali aku telah berpamitan kepada orang rumah dan sekarang aku telah turun dari kereta.
Aku...disini lagi.


Hampir sampai. Bisa ku lihat sekitar 30 m dari tempatku sekarang dedaunan pohon momiji yang masih sama seperti kemarin. Aku semakin mendekat. Hingga—ku lihat sebuah sosok yang kini membelakangiku, berjongkok mengambil origami bangau abu-abuku.
Apakah itu K ?
Aku tak yakin tapi aku tak tahu kenapa detak jantung ini semakin cepat. Kakiku meminta berlari. Segera aku menghampiri sosok yang mungkin itu K. Tapi kenapa baru sekarang ? Kenapa baru sekarang ia muncul di depanku ? Kenapa di saat aku telah memutuskan untuk tak menunggunya lagi ?
Jarak kami semakin dekat. Aku terdiam menatap punggungnya. Tapi apakah sosok itu adalah K ? apakah itu memang punggungnya ? Aku terdiam di tempatku, jarak kami hanya sekitar 5 langkah. Hingga ia menyadari keberadaanku dan berbalik.

Dia—

Sosok itu— memiliki mata berwarna coklat tua dan rambut yang berwarna hitam. Ia lebih tinggi dariku, sosok yang sangat familiar.

Tapi—ia bukan K.

Aku jatuh terduduk, kepalaku tertunduk memandang kosong tanah coklat.

“Ray...” ku dengar ia memanggil namaku dengan nada keterkejutan. Punggungku bergetar pelan.
“Memang bukan, ku kira kau adalah dia, Tomo.” Aku masih menunduk, suaraku parau. Aku ingin menangis tapi air mata ini tak keluar. Hanya dada yang semakin sesak, jauh lebih sesak dari kemarin.

Tomo, sepupu K. Aku mengenalnya karena dulu ia sering berkunjung ke rumah K. Dan kami sering bermain bersama.
Jadi memang bukan K yang datang. Dan aku rasa ia memang tak akan pernah datang.” aku berkata dalam hati dan meremas pelan dadaku. Sakit.

Aku dan Tomo duduk di atas rerumputan di tepi sungai. Bisa ku rasakan ia tahu semuanya. Tentang aku, K dan janji kami. Tapi Tomo tak berkata sepatah kata pun. Ia hanya memandang sendu hamparan sungai. Hingga aku yang pada akhirnya membuka suara.

“K...dimana dia ?” kataku lirih.
Bisa ku lihat dari sudut mataku ia semakin menunduk.
“Aku mengerti bila ia tak mau menemuiku. Tapi, yang tak aku mengerti, kenapa ia membuat janji yang bahkan ia sendiri tak bisa menepatinya ?” suaraku parau. “Aku—sakit Tomo, benar-benar sakit.” Ku paksakan senyum ini dan memandang jauh ke seberang sungai.

“Ray..” ku dengar ia mulai berbicara. Aku menoleh dan ku dapati kedua bola matanya menggambarkan kesedihan.
“Ini...punyamu kan ?” ku lihat ia menyodorkan sebuah kotak dari kayu berwarna hitam dengan ukiran yang indah. Aku ambil kotak berukuran sedang itu.
“Bukalah.” Perintahnya dengan nada rendah.

Perlahan ku buka kotak kayu hitam itu. Betapa terkejutnya aku mendapati isi dari kotak itu adalah kertas-kertas bekas origami burung bangau yang ku buat. Semuanya sudah tak berbentuk origami, hanya berupa lembaran kertas persegi yang berwarna-warni.


Tahun pertama, 14 tahun
“K, apa kau tak ingat janji kita ? Kau tahu, aku rela bangun pagi-pagi dan menanti kereta sendirian di stasiun hanya untuk ingin bertemu denganmu setelah kita berpisah 2 tahun. Tapi yang ku dapati kau tak ada K. Kau kemana K ? Aku merindukannmu.”

Tahun kedua, 15 tahun
“Kau tak datang lagi. Tapi entah mengapa aku tetap setia menunggumu disini. Karena aku yakin kau tak pernah melupakan janji kita hari itu. Aku merindukanmu.”

Tahun ketiga, 16 tahun
“Hooe, K no baka ! sekarang aku telah masuk ke SMA. Dan aku heran kenapa aku masih saja menunggumu seperti orang gila disini. Awas kau K jika kita bertemu aku akan menghajarmu lalu aku minta kau untuk membelikanku komik yang banyak :p. Hei, aku merindukanmu.”

Tahun keempat, 17 tahun
“Kau tahu K, aku masih saja mengingat masa kecil kita berdua. Dan terkadang aku masih berpikir kenapa kita beranjak dewasa dan harus berpisah seperti ini. Aku merindukanmu.”

Tahun kelima, 18 tahun
“Lagi. Ini tahun kelima aku menunggumu seharian disini, dan seperti tahun-tahun lalu kau tidak datang. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan K ? Aku merindukanmu.”

Tahun keenam, 19 tahun
“Aku telah menjadi mahasiswa sekarang K. Letak universitasku juga cukup jauh dari rumah. Dan itu berarti semakin jauh pula jarakku ke sini. Kau tak datang lagi ya ? Aku merindukanmu.”

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Ini tahun ke tujuh aku menunggumu disini. Aku juga tidak tahu kenapa aku masih saja setia menunggumu di tempat ini dan berharap kau akan muncul di depanku. Sepertinya aku masih saja percaya pada janji kita 9 tahun yang lalu. Dan kepercayaanku itu yang membuatku terus dan terus menunggumu. Aku merindukanmu.”

Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika saja aku tak pernah datang ke tempat ini, apakah rasanya tetap akan sesakit ini ketika menunggumu selama lebih dari 10 tahun ? Aku merindukanmu.”

Tahun kesembilan, 22 tahun
“Rasanya begitu menyenangkan bisa kesini. Namun...sekaligus menyakitkan. Tak pernah mendapatimu berdiri bersenderkan pohon momiji di tepi sungai ini sambil menungguku. Aku merindukanmu.”

Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Aku telah bekerja sekarang K. Setiap syaraf otakku berisikan pekerjannku. Tapi.....kenapa masih ada kau ? Aku merindukanmu.”

Tahun kesebelas, 24 tahun
“Apakah kau masih mengingatku K ? Aku merindukanmu.”

Tahun kedua belas, 25 tahun
“Sudah berapa banyak musim yang terlewat tanpamu ? bahkan aku lelah untuk menghitungnya. Apakah aku boleh memintamu untuk datang dan menepati janji kita ? Aku merindukanmu.”

Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya air sungai dan daun orange dari pohon momiji yang selama ini setia menemaniku. Aku merindukanmu.”

Tahun keempat belas, 27 tahun
“Rasanya kepercayaanku ini perlahan luntur, menantimu dalam bayangan kehampaan. Kau jalan yang tak berujung K. Aku mencoba untuk mengikuti jalanmu, selalu terjatuh di lubang yang sama, sakit. Tapi kenapa aku masih tetap berjalan ? bahkan berlari. Kau tak bisa ku kejar lagi, maaf. Aku sangat merindukanmu.”

Tahun kelima belas, 28 tahun
“Ku tertawakan diriku sendiri hari ini K. Tahun lalu aku berkata bahwa aku sudah tak bisa mengejarmu lagi. Tapi mengapa aku masih tetap ke tempat ini ? Aku sangat sangat merindukanmu.”

Kubaca satu persatu. Ini memang milikku. Dan origami yang kemarin baru aku buat pun masih rapi. Tomo menyodorkan origami abu-abuku dan ku buka sendiri.

Tahun keenam belas, 29 tahun
“16 tahun. Tidak ! 19 tahun aku menunggumu. Aku benar-benar menyerah sekarang K. Kau yang menang. Sudah tak terhitung berapa banyak aku memanggil namamu di musim gugur ini. Sudah tak terhitung berapa banyak riak air yang menemaniku selama ini. Sudah tak terhitung berapa banyak daun momiji yang berguguran. Sudah tak terhitung berapa banyak musim gugur yang ku lewati tanpa pernah absen untuk mengunjungi tempat ini hanya untuk ingin menemukan sosokmu yang duduk sambil tersenyum ke arahku. Dan sudah tak terhitung berapa banyak aku merindukanmu. Sekarang, aku yang akan pergi K. Terima kasih untuk penantian panjang tanpa ujung ini.”

 Jadi selama ini—
Masih dengan perasaan yang bercampur aduk, Tomo kemudian memberikanku kotak yang lain. Kali ini berwarna coklat tua dengan motif yang sama dan ukuran yang sama.

“Bukalah Ray, itu...milik K.” Ucap Tomo dengan lesu. Bisa ku rasakan ada nada berat di balik perkataannya.

‘Milik K ?’

Dengan berat hati ku buka kotak kayu berukuran sedang itu.
Mataku membulat sempuna. Origami bangau berbagai warna. Bagaimana bisa bukankah K tak pernah datang, bagaimana ia bisa membuat origami burung yang jumlahnya pun sama seperti tahun dimana aku terus menunggunya, 16 tahun.
“Ja-jangan katakan kalau K—“ suaraku bergetar.
Tomo berkata dengan berat, “Bacalah..”
Ku buka satu persatu lipatan origami burung bangau itu. Ini semua tulisan K. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi buru-buru ku baca tulisan yang tersembunyi di balik lipatan origami itu.


Tahun pertama, 14 tahun
Aku membaca ‘surat’ kecilmu ini Ray. Aku ingat, sangat ingat malah. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedua, 15 tahun
“Aku datang Ray, tapi sepertinya kita memang tak bisa bertemu. Aku...aku bahagia kau masih menungguku untuk datang. Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketiga, 16 tahun
“Hei Ray, selamat ya kau sudah SMA sekarang. Bagaimana, apakah semakin menyenangkan ? Kau bukan orang yang satu-satunya gila Ray, tapi aku juga sama gilanya denganmu. Tapi..kita tak bisa bertemu kan Ray, jadi aku tak bisa membelikanmu komik. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keempat, 17 tahun
“Bukan hanya kau yang mengingatnya, aku juga. Aku selalu mengingatnya, mengingat kita. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kelima, 18 tahun
Aku tahu kau selalu menungguku setiap tahun. Aku ? yang sedang ku lakukan adalah selalu memikirkanmu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keenam, 19 tahun
“Akhirnya mimpimu menjadi kenyataan Ray, selamat ya. Tapi meskipun jauh, kau tetap datang kesini setiap tahun kan ? Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketujuh, 20 tahun
“Jika bisa akan kulakukan itu. Aku juga ingin berdiri di depanmu lalu...memelukmu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedelapan, 21 tahun
“Jika kita tak pernah bertemu, apakah perasaan sakit ini masih sama ? Aku bahagia memiliki kesempatan bertemu denganmu Ray. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesembilan, 22 tahun
“Aku sudah tak bisa lagi bersender di pohon momiji itu Ray. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesepuluh, 23 tahun
“Selamat, akhirnya kau bisa bekerja sekarang. Aku harap kau nyaman di sana. Seluruh syaraf tubuhku hanya berisikan kau, seluruh nafas yang tersisa hanya ingin memanggil namamu. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kesebelas, 24 tahun
“Aku tak pernah melupakanmu, tak akan pernah. Aku juga merindukanmu.”

Tahun kedua belas, 25 tahun
Tak terhitung kerinduan ini, bahkan semua musim selama aku hidup pun tak akan cukup untuk menghitungnya. Sampai detak jantung ini berhenti pun aku tak akan pernah bisa melupakanmu dan melupakan janji kita. Maaf Ray kau tak boleh mengharapkanku untuk bisa menepati janji kita. Aku juga merindukanmu.”

Tahun ketiga belas, 26 tahun
“Hanya menatap origami bangau beserta tulisan tanganmu lah yang membuatku terus hidup sampai sekarang. Aku juga merindukanmu.”

Tahun keempat belas, 27 tahun
“Aku hanya jalan yang tak bisa kau lalui Ray. Meskipun sebenarnya aku ingin menjadi jalan yang bisa membawamu kepada harapanmu, tapi aku tak di takdirkan untuk itu. Aku hanya bisa menjadi bayangan di bawah sinarmu yang terang. Maafkan aku Ray, maafkan aku. Aku juga sangat merindukanmu.”

Tahun kelima belas, 28 tahun
“Aku...aku bahagia kau masih tetap menungguku di tempat itu. Terima kasih Ray. Aku juga sangat sangat merindukanmu.”.

Kedua bola mataku memanas dan satu persatu bening asin itu meluncur tanpa bisa di hentikan. Aku memeluk erat kotak itu dengan erat. Hingga Tomo menepuk punggungku pelan dan memberikanku sebuah origami berwarna putih.

“Ini adalah yang terakhir sebelum ia meninggal Ray, ia tak menunggu origami darimu karena ia tahu ajalnya telah dekat, maka ini adalah tulisan tangannya yang terakhir.”
“Meninggal ??” aku tertegun dengan ucapan Tomo. Seketika dadaku semakin nyeri, seperti ada ribuan pedang yang menusuk tepat di dadamu kemudian meremasnya sampai hancur.

Jadi ini kenyataan yang harus ku hadapi setelah lebih dari 19 tahun aku menunggunya. Ini semua tidak adil.

“Maafkan aku Ray. Maafkan aku.” Ku lihat Tomo mulai meneteskan air mata.

Dengan sangat berat ku buka lipatan demi lipatan origami itu dan ku baca tulisan terakhir K sebelum ia benar-benar menghilang dari dunia ini.


Tahun keenam belas, 29 tahun
“Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk muncul di depanmu selama 17 tahun ini. Aku hanyalah siput yang hanya bisa bersembunyi, dan muncul ketika kau sudah tak ada. Mungkin aku akan menjadi lega ketika kau membaca ini, karena ketika kau sudah membacanya kau tak akan perlu ke tempat itu lagi. Ray, terima kasih telah menjadi alasanku untuk hidup selama ini.  Semoga kau selalu bahagia Ray.”
.
.
.
.
.
.
.
.
K, dia tenyata selalu datang. Setiap tahun ia datang, namun ia selalu datang di hari setelah aku ke sana.
‘K tak ingin muncul di depanmu bukan karena ia ingin. Tapi—ia hanya tak ingin membuatmu sedih ketika ia sudah menghilang Ray. Oleh karena itu ia selalu datang setelah kau datang. Dan soal origamimu itu, pada awalnya ia kaget karena lewat origami burung itulah kau bercerita tentang apa yang kau rasakan. Tapi pada akhirnya ia membalas ‘surat’ origami bangaumu, walaupun ia tak pernah berani meletakkan origami ‘balasan’ itu di bawah pohon momiji. Ia sebenarnya menginginkan kau untuk melupakannya, tapi setelah membaca setiap ‘surat’ origamimu ia menjadi lebih bersemangat untuk hidup.’

‘Sejak kecil ia telah menderita radang selaput otak. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pindah bersama orang tuanya, ia menjalani pengobatan. Sudah tak bisa ku bayangkan betapa ia sangat menderita ketika menjalani pengobatan demi pengobatan. Kau adalah seseorang yang sangat berharga untuknya Ray, seseorang yang harus ia lindungi. Tapi sepertinya takdir tak memperbolehkan K untuk bisa melindungimu.’

‘Tahun pertama sampai dengan tahun kedelapan ia kesini, sendirian. Namun sehari sebelum ia kesini di tahun kesembilan ia sudah tak bisa berjalan. Dengan susah payah ia membujuk dokter dan kedua orang tuanya untuk bisa ke tempat ini. Hingga ia kesini bersamaku dan ia harus memakai kursi roda. Di tahun-tahun berikutnya berjalan seperti itu. K kesini bersamaku dan kursi rodanya, datang sehari setelah kau datang, memandang pohon momiji ini, mengambil origami milikmu dan membalasnya.’

‘Ia ‘mati’ di tahun keempat belas. Ia tak bisa apa-apa. Hanya tergolek lemah tak berdaya di ranjangnya. Jadi aku yang kesini untuk menggantikan K. Mengambil origami suratmu dan membawanya ke K. Lalu aku yang membacakan ‘surat’ itu kepadanya. Mungkin ini yang di namakan dengan keajaiban, K yang tak bisa apa-apa kemudian bisa menulis origami balasan untukmu. Hingga ia benar-benar meninggal di tahun keenam belas, 2 bulan yang lalu.’
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tahun ketujuh belas, 30 tahun
“Aku sudah menikah K, 3 bulan yang lalu dengan seorang gadis. Ia sangat baik, dan sifatnya sangat mirip denganmu. Dia....yang sekarang akan kulindungi. K, selamat jalan. Aku akan terus  merindukanmu.”
---OWARI---



*song : RAIN Ost. Kotonoha no Miwa

About